DINASTI AYYUBIYAH

SEJARAH DINASTI AYYUBIYAH

1.     Dinasti Ayyubiyah didirikan oleh Salahuddin Yusuf al-ayyubi di Mesir pada masa khalifah al-Mustadi dan berkuasa selama kurang lebih 75 tahun.

2.     Ekspedisi militer pertama yang dilakukan Salahuddin adalah mengikuti pamannya ( Asadudin Syirkuh) untuk menyelesaikan persoalan perebutan kekuasaan di istana Bani Fatimiah di Mesir,

3.     kemudian Salahudin mulai mendapat kekuasaan di Mesir ketika membantu Bani Fatimiah mengusir Amauri yang memimpin tentara salib untuk menguasai mesir, yang pada akhirnya dia juga menjadi penguasa mesir ketika Khalifah Al-adid meninggal dunia, dan Salahudin diberi gelar al-mu’izz li amiril Mu’minin.

Berbagai usaha yang dilakukan Salahudin dalam masa pemerintahannya adalah:

1.     Menggembalikan madzhab suni di mesir

2.     Membangun Madrasah – madrasah

3.     Mengganti kadi – kadi syiah dengan kadi – kadi Suni

4.     Mengganti pegawai – pegawai yang korupsi.

Dalam perjalanan pemerintahannya, ada berbagai pihak yang memusuhinya antara lain:

1.     Hajib ( kepala rumah tangga khalifah al-adid ,

2.     Syekh sinan dan kelompok assasin, Kelompok zanki.

3.     Ada juga beberapa raja Eropa yang terlibat perang Salib melawan Salahudin yaitu: Philip II ( Raja Prancis ), Richard I ( Raja Inggris ), William ( Raja Sisilia ), Frederick Barbarosa ( kaisar Jerman ).

LATAR BELAKANG  BERDIRINYA DINASTI AYYUBIYAH

Ayyubiyah adalah sebuah dinasti sunni yang berkuasa dimesir, suriah, sebagian yaman, irak, mekah, hejaz dan dyarbakir. Dinasti ini didirikan oleh salahuddin alayyubi pada tahun 1174M. nama lengkapnya adalah salahuddin yusuf ibn ayyub ia berasal dari suku kerdi hadzbani, ia adalah putra najmudin ayyub dan keponakan asaddudin syirkuh. Najmudin ayub dan asadudin syirkuh hijrah dari kampung halamanya didekat danau fan ke takrit, irak. Salahuddin lahir dibenteng takrit pada tahun 532H atau 1137M. ketika ayahnya menjadi penguasa seljuk di takrit, pada saat itu ayah dan pamannya mengabdi kepada imaddudin zanky, seorang gubernur seljuk untuk kota mousul, irak. Ketika imaduddin berhasil merebut wilayah balbek, libanon pada tahun 534H (1139M). najmudin ayub diangkat menjadi gubernur balbek dan menjadi abdi raja suryah, yakni nuruddin mahmud. Selama dibalbek inilah salahudin menekuni teknik dan strategi perang serta politik. Selanjutnya dia mempelajari teologi sunni selama sepuluh tahun didamaskus, dalam lingkungan istana nuruddin.

 

2.

     Biografi Tokoh Salahuddin Al-Ayyubi

 Shalahuddin Al-Ayyubi berasal dari bangsa Kurdi Ayahnya Najmuddin Ayyub dan pamannya Asaduddin Syirkuh hijrah (migrasi) meninggalkan kampung halamannya dekat Danau Fan dan pindah ke daerah Tikrit (Irak). Shalahuddin lahir di benteng Tikrit, Irak tahun 532 H/1137 M, ketika ayahnya menjadi penguasa Seljuk di Tikrit. Saat itu, baik ayah maupun pamannya mengabdi kepada Imaduddin Zanky, gubernur Seljuk untuk kota Mousul, Irak. Ketika Imaduddin berhasil merebut wilayah BalbekLebanon tahun 534 H/1139 M, Najmuddin Ayyub (ayah Shalahuddin) diangkat menjadi gubernur Balbek dan menjadi pembantu dekat Raja Suriah Nuruddin Mahmud. Selama di Balbek inilah, Shalahuddin mengisi masa mudanya dengan menekuni teknik perang, strategi, maupun politik. Setelah itu, Shalahuddin melanjutkan pendidikannya di Damaskus untuk mempelajari teologi Sunni selama sepuluh tahun, dalam lingkungan istana Nuruddin. Pada tahun 1169, Shalahudin diangkat menjadi seorang wazir (konselor).

Bersama dengan pamannya, salahuddin melawan tentara perang salib pada tahun 559-564H (1164-1168M). mereka berhasil mengusirnya dari mesir sejak saat itu asaduddin syirkuh diangkat menjadi perdana menteri khilafah fathimiyah. Setelah pamannya meninggal jabatan perdana menteri dipercayakan kepada salahuddin al ayyubi pada tahun 1169M. disana, ia mewarisi peranan sulit yaitu mempertahankan mesir dan melawan penyerbuan dari kerajaan latin jerrussalem. Pada saat itu tidak ada seorangpun yang menyangka dia dapat bertahan lama dimesir namun keberhasilan salahuddin dalam mematahkan serangan tentara dan pasukan romawi bzantium yang melancarkan perang salib kedua terhadap mesir membuat para tentara mengakuinya sebagai penggganti pamannya.

3.    Masa pemerintahan dinasti ayyubiyah

Pada awal kedudukannya sebagai perdana menteri, ia masih menghormati simbol-simbol syiaha pada pemerintahan al adid lidinillah. Namun setelah al adid meninggal pada tahun 1171M, salahuddin menyatakan loyalitasnya kepada khalifah abbasiyah (al mustadi) di bagdad dan secara formal menandai berakhirnya rezim fathimiyah di kairo. Ia tetap mempertahankan lembaga-lembaga ilmiah yang didirikan oleh dinasti fathimiyah tetapi mengubah orientasi keagamaannya dari syiah menjadi sunni. Hal ini sesuai dengan perintah sultan nuruddin dia memerintahkan salahuddin untuk mengambil kekuasaan dari tangan khilafah fathimiyah dan mengembalikannya kepada khilafah abbasiyah di bagdad.

Penaklukan mesir oleh salahuddin pada tahun 1171M tersebut membuka jalan bagi pembentukan mazhab-mazhab hukum sunni dimesir. Salahuddin memberlakukan mazhab hanafi, sebelumnya mazhab syafiiyah yang berlaku di dinasti fatimiyah. Keberhasilan tersebut mendorongnya untuk menjadi penguasa otonom dimesir. Dalam mengsolidasikan kekuatannya, ia memanfaatkan keluarganya untuk melakukan ekspansi kewilayah lain. Saudaranya dikirim untuk menguasai yaman pada tahun 1173M. taqiyuddin, keponakannya diperintahkan untuk melawan tentara salib di dimyat. Adapun syihabuddin, pamannya diberi kekuasaan untuk menduduki mesir hulu. Dari mesir, salahuddin juga dapat menyatukan syiria dan mesofotamiya menjadi sebuah kesatuan negara muslim. Pada tahun 1174 ia menrebut damaskus kemudian alippo tahun 1185 dan merebut mousul pada 1186. 

Pada masa pemerintahan salhudidin kekuatan militernya terkenal sangat tangguh pasukannya diperkuat oleh pasukan Barbar turki, dan afrika ia juga membangun tembok kota diakiro dan bukit muqattam sebagai benteng pertahanan. Dalam hal perekonomian, ia bekerja sama dengan penguasa muslim diwilayah lain. Disamping itu, ia juga menggalakan perdaganggan dengan kota-kota dilaut tengah, lautan hindia dan menyempurnakan sistem perpajakan atas dasar inilah ia melancarkan gerakan offensif (penyerangan dengan membabibuta) untuk merebut al quds (jerussalem) dari tangan tentara salib yang dipimpin oleh guy de lusignan di hittin. Akhirnya pasukannya berhasil menguasai jerussalem pada tahun 1187M. ini berarti jerussalem dapat dikuasai oleh orang muslim untuk kedua kalinya setelah delapan puluh tahun dikuasai oleh kaum kristiani. Setelah kejadian itu orang-orang frank tersingkirkan, meskipun hanya untuk sementara. Usaha besar-besaran telah dilakukan pasukan salib dari inggris, prancis dan jerman pada tahun 1189-1192M namun tidak berhasil mengubah kedudukan salahuddin. Setelah perang berakhir salahuddin memindahkan pusat pemerintahan ke damaskus.

Perjuangan salahuddin dalam merealisasikan tujuan-tujuan utamanya yaitu mengeluarkan kaum salib dari baitul makdis dan mengembalikan pada persatuan umat islam, telah menghabiskan kekuatannya dan mengganggu kesehatannya. Ia meninggal dan dimakamkan di damaskus pada tahun 1193M, setelah dua puluh lima tahun memerintah sebelum meninggal ia membagikan kekaisaran ayyubiyah kepada para anggota keluarga. Oleh karena itu, pengendalian dari pusat tetap berada dibawah kekuasaan almalik al adil (saudaranya) dan keponakannya al kamil mereka membagi imperiumnya menjadi sejumlah kerajaan kecil mesir, damaskus, alleppo dan kerajaan mousul sesuai dengan gagasan saljuk bahwa negara merupakan warisan keluarga raja. Meskipun demikian ayyubiyah tidak mengalami perpecahan, karena dengan loyalitas kekeluargaan mesir di integrasikan dalam berbagai imperium. Mereka menata pemerintahan dengan sistem birokrasi masa lampau yang telah berkembang dinegara-negara mesir dan siriya melalui distribusi iqta kepada pejabat-pejabat militer yang berpengaruh.

Ayyubiyah secara khusus enggan melanjutkan pertempuran melawan sisa-sisa kekuatan pasukan salib. Mereka lebih memprioritaskan untuk mempertahankan mesir, karena kesatuan mulai melemah akhirnya pada masa pemerintahan al kamil, dinasti ayyubiyah yang bertempat di Diyar bakr dan al jazirah mendapat tekanan dari dinasti seljuk rum dan dinasti khiwarazim syah. Selanjutnya, al kamil mengembalikan jerussalem kepada kaisar fredrick II yang membawa kedamaian dan kestabilan ekonomi bagi mesir dan syiria. Oleh karena itu, pada masa tersebut perdagangan kembali dikuasai oleh kekuatan kristen mediterrania. Setelah al kamil meninggal yakni pada tahun 1238M, dinasti ayyubiyah dirongrong oleh pertentangan-pertentangan intern pemerintah.

4.     Berakhirnya Dinasti Ayyubiyah

Runtuhnya dinasti ayyubiyah dimulai pada masa pemrintahan sultan ash shalih. Pada masa pemerintahan ash shalih terjadi serangan pasukan budak (mamluk) dari turki yang berhasil merebut kekuasaan dimesir. Walupun sebelumnya pasukannya berhasil menaklukan perang salib ke enam yang dipimpin ranja perancis ST Louis,  Setelah ash shalih meninggal pada tahun 1249M, kaum mamluk mengangkat istri ash shalih, syajarat ad durr sebagai sultan. Dengan demikian berakhirlah pemerintahan dinasti ayyubiyah dimesir. Meskipun demikian dinasti ayyubiyah masih berkuasa disuryah. Pada tahun 1260M tentara mongol hendak menyerbu mesir. Komando tentara islam dipegang oleh qutuz, panglima perang mamluk. Dalam pertempuran diain jalut, qutuz berhasil mengalahkan tentara mongol dengan gemilang. Selanjutnya, qutuz mengambil alih kekuasaan dinasti ayyubiyah. Sejak itu, berakhirlah kekuasaan dinasti ayyubiyah.

6.     Sebab-Sebab Terjadinya Perang Salib

Perang Salib (491 H – 692 H/ 1097 M – 1292 M) ialah suatu peperangan yang dilakukan oleh umat Kristen Eropa terhadap umat Islam dengan tujuan untuk membebaskan Palestina, khususnya kota suci Yerusalam dan kekuasaan umaat Islam. Perang Salib ini berlangsung selama kurang ± 200 tahun, terdiri atas tujuh gelombang yang menyebabkan berjuta-juta orang gugur baik dari pihak Islam maupun pihak Kristen.

Peperangan tersebut dinamakan Perang Salib karena tentara Kristen memakai lambang Salib dalam rangka mempersatukan umat Kristen untuk menghadapi umat Islam. Sebenarnya Perang Salib ini bukanlah semata-mata perang agama tetapi ada latar belakang lain yang mempengaruhinya, antara lain 

Pertama, Perebutan kekuasaan antara Timur dan Barat yang berlangsung sejak zaman Rumawi di Barat, dan Persia (Sekarang Iran) di Timur, padahal Persia dahulu dikenal beragama Majusi.

Kedua, Agama Kristen berkembang pesat di Eropa setelah Paus Paulus mengalihkan kiblatnya ke Roma dan menjauhkan dari ajaran aslinya di tempat kelahirannya di Timur. Kemudian datang agama Islam menghancurkan penjajahan Eropa yang bertopeng agama Kristen di Syiria, Mesir dan Afrika Utara. Islam masuk ke daratan Eropa yaitu dengan menguasai Andalusia (Spanyol) di Barat dan Konstantinopel di Timur. Dengan masuknya Islam ke Eropa maka orang Kristen di Eropa menggalang persatuan untuk menghadapi kekuasaan Islam.

Ketiga, Di bidang perdagangan Eropa ingin sekali menguasai kembali pelabuhan-pelabuhandi laut Tengah, sehingga mereka dapat menguasai perdagangan antara Timur dan Barat.

Keempat, Sebagian pembesar Eropa ingin menguasai tanah-tanah yang subur di negara Timur, untuk itu mereka memberikan peluang kepada budak-budak untuk memerdekakan diri dengan jalan ikut Perang Salib.

Kelima, Para peziarah dari Eropa sering menbuat kekacauan selama berada di Palestina. Mereka membawa obor dan pedang serta pasukan pengawal yang bersenjata lengkap, sering menimbulkan kerusuhan di antara mereka. Untuk lebih menganmankan suasana, penguasa Islam melarang peziarah membawa senjata serta obor, tetapi larangan itu mereka anggap sebagai suatu penghinaan terhadap ajaran Kristen, apa lagi sebagian dari peziarah itu terdiri dari penjahat-penjahat yang ingin menghapus dosanya. Para pemimpin agama Kristen mengeluarkan  pernyataan yang mengatakan bahwa para penjahat tidak akan diampuni dosanya kecuali bila mereka melakukan ziarah ke Baitul Maqdis.

PERKEMBANGAN ISLAM PADA MASA DINASTI AL AYYUBIYAH

A.  Sejarah Berdirinya Dinasti Al-Ayyubiyah

Pendiri Dinasti Ayyubiyah (567 – 648 H / 1171 – 1250 M) adalah Shalahudin Yusuf al-Ayyubi putra dari Najamuddin bin Ayyub lahir di Takriet 532 H/1137 M meninggal 589 H/ 1193 M dimasyurkan oleh bangsa Eropa dengan nama Saladin pahlawan perang salib dari keluarga Ayyubiyah suku kurdi. Dinasti ini berdiri di atas sisa-sisa Dinasti Fatimiyah di Mesir yang bercorak Syi’i dan ia ingin mengembalikannya ke faham sunni-Ahlu Sunnah wal Jama’ah. Pada masa Nuruddin Zanki (gubernur Suriah dari bani Abbasiyah), Shalahuddin diangkat sebagai panglim tentara di Balbek, kehidupannya penuh dengan perjuangan dan peperangan karena ditugaskan untuk menghadapi tentara salib dalam merebut kembali Baitul Maqdis (kota Yerussalem) yang sudah dikuasai selama 92 tahun (perhitungan tahun hijriyah) atau selama 88 tahun (perhitungan tahun masehi) oleh tentara salib.

Di saat Mesir mengalami krisis di segala bidang maka orang-orang Nasrani memproklamirkan perang Salib melawan Islam, yang mana Mesir adalah salah satu Negara Islam yang diintai oleh Tentara Salib. Shalahudin al-Ayyubi seorang panglima tentara Islam tidak menghendaki Mesir jatuh ke tangan tentara Salib, maka dengan sigapnya Shalahudin mengadakan serangan ke Mesir untuk segera mengambil alih Mesir dari kekuasaan Fatimiyah yang jelas tidak akan mampu mempertahankan diri dari serangan Tentara Salib. Menyadari kelemahannya Dinasti Fatimiyah tidak banyak memberikan perlawanan, mereka lebih rela kekuasaannya diserahkan kepada Shalahudin dari pada diperbudak tentara salib yang kafir. Maka sejak saat itu selesailah kekuasaan Dinasti Fatimiyah di Mesir, berpindah tangan ke Shalahudin al-Ayyubi. Shalahuddin al Ayyubi yang telah menguasai Halb dan Maushil, menjadikan pasukan salib terkepung di Baitul Maqdis oleh pasukan Shalahuddin al Ayyubi. Di utara oleh pasukan Shalahuddin al Ayyubi di Suriah, dari selatan oleh pasukan di  Mesir, dan dari timur pasukan di Yordania. Jadi berdirilah negara Ayyubiyah dengan kepala pemerintahan Shalahuddin al Ayyubi yang wilayahnya mencakup Mesir, Suriah, sebagian wilayah Irak dan Yaman.

B.  Perkembangan Kebudayaan/Peradaban Islam pada Masa Dinasti Al-Ayyubiyah

Di era keemasannya, dinasti ini menguasai wilayah Mesir, Damaskus, Aleppo, Diyarbakr, serta Yaman. Masa dinasti ini pula perkembangan wakaf sangat menggembirakan, wakaf tidak hanya terbatas pada benda tidak bergerak, tapi juga benda bergerak semisal wakaf tunai. Tahun 1178 M/572 H, dalam rangka menyejahterakan ulama dan kepentingan misi mazhab Sunni, Salahuddin Al-Ayyubi menetapkan kebijakan bahwa orang Kristen yang datang dari Iskandar untuk berdagang wajib membayar bea cukai. Tidak ada penjelasan, orang Kristen yang datang dari Iskandar itu membayar bea cukai dalam bentuk barang atau uang, namun lazimnya bea cukai dibayar dengan menggunakan uang. Uang hasil pembayaran bea cukai itu dikumpulkan dan diwakafkan kepada para fuqaha’ dan para keturunannya.

Sebagaimana dinasti-dinasti sebelumnya, Dinasti Ayyubiyah pun mencapai kemajuan yang gemilang dan mempunyai beberapa peninggalan bersejarah. Kemajuan-kemajuan itu mencakup berbagai bidang, diantaranya adalah :

1.    Bidang Arsitektur dan Pendidikan : Penguasa Ayyubiyah telah berhasil menjadikan Damaskus sebagai kota pendidikan. Ini ditandai dengan dibangunnya Madrasah al–Shauhiyyah tahun 1239 M sebagai pusat pengajaran empat madzhab hukum dalam sebuah lembaga Madrasah. Dibangunnya Dar al Hadist al-Kamillah juga dibangun (1222 M) untuk mengajarkan pokok-pokok hukum yang secara umum terdapat diberbagai madzhab hukum sunni. Sedangkan dalam bidang arsitek dapat dilihat pada monumen Bangsa Arab, bangunan masjid di Beirut yang mirip gereja, serta istana-istana yang dibangun menyerupai gereja. Shalahuddin juga membangun benteng setelah menyadari bahwa ancaman pasukan salib akan terus menghantui, maka tugas utama dia adalah mengamankan Kairo dan sekitarnya (Fustat). Penasihat militernya saat itu mengatakan bahwa Kairo dan Fustat masing-masing membutuhkan benteng pertahanan, tapi Shalahuddin memiliki ide brilian, bahwa dia akan membangun benteng strategis yang melindungi secara total kotanya. Selanjutnya, dia memerintahkan untuk membangun benteng kokoh dan besar diatas bukit Muqattam yang melindungi dua kota sekaligus Kairo dan Fustat.

Proyek besar Citadel dimulai pada 1176 M dibawah Amir Bahauddin Qaraqush. Shalahuddin juga membangun dinding yang memagari Kairo sebagai kota residen bani Fatimiyyah, sekaligus juga memagari benteng kebesarannya serta Qata’i-al Fustat yang saat itu merupakan pusat ekonomi Kairo terbesar. Selain itu, juga berdiri masjid agung di Sulaiman yang dimulai pembangunannya sejak dinasti Umayyah pada 717 M, masjid agung Aleppo hingga kini masih menjadi salah satu karya besar arsitektur di dunia muslim. Di masjid agung Aleppo terdapat makam Nabi Zakaria dan di Damaskus terdapat makam Nabi Yahya. Bentuk dan konstruksi masjid agung Damaskus dari dulu hingga kini masih terjaga, sementara masjid Aleppo sudah banyak mengalami perubahan dari bentuk aslinya karena sempat diguncang gempa bumi dan dihancurkan oleh serangan Bizantium dan tentara Mongol. Meski tak lagi mewarisi struktur masjid peninggalan bani umayyah, namun masjid agung Aleppo sangat dikenal sebagai masterpiece dalam dunia islam, karena mewarisi sentuhan beragam dinasti islam yang pernah Berjaya.

2.    Bidang Filsafat dan Keilmuan : Bukti konkritnya adalah Adelas d of Bath yang telah diterjemahkan, karya-karya orang Arab tentang astronomi dan geometri, penerjemahan bidang kedokteran. Di bidang kedokteran ini telah didirikan sebuah rumah sakit bagi orang yang cacat pikiran.

3.    Bidang Industri : Kemajuan di bidang ini dibuktikan dengan dibuatnya kincir oleh seorang Syiria yang lebih canggih dibanding buatan orang Barat. Terdapat pabrik karpet, pabrik kain dan pabrik gelas.

4.    Bidang arsitektur : Kemajuan dalam bidang arsitektur dapat dilihat pada monumen bangsa arab, bangunan masjid dibeirut yang mirip gereja dan istana-istana yang menyerupai gereja.

5.   Bidang Perdagangan : Bidang ini membawa pengaruh bagi Eropa dan negara–negara yang dikuasai Ayyubiyah. Di Eropa terdapat perdagangan agriculture dan industri. Hal ini menimbulkan perdagangan internasional melalui jalur laut, sejak saat itu Dunia ekonomi dan perdagangan sudah menggunakan sistem kredit, bank, termasuk Letter of Credit (LC), bahkan ketika itu sudah ada uang yang terbuat dari emas.

6.  Bidang Militer : Selain memiliki alat-alat perang seperti kuda, pedang, panah, dan sebagainya, ia juga memiliki burung elang sebagai kepala burung-burung dalam peperangan. Disamping itu, adanya perang Salib telah membawa dampak positif, keuntungan di bidang industri, perdagangan, dan intelektual, misalnya dengan adanya irigasi.

7.    Bidang kebudayaan : Salahuddin al ayyubi menjadi tokoh yang meneladankan satu konsep dan budaya, yaitu perayaan hari lahir nabi Muhammad SAW yang kita kenal dengan sebutan maulud atau  maulid. Maulud atau maulid ini berasal dari kata milad yang berarti tahun dan bermakna seperti pada istilah ulang tahun.

C.  Tokoh Ilmuwan Muslim dan Perannya dalam Kemajuan Kebudayaan/Peradaban Islam pada Masa Dinasti Al Ayyubiyah

Pada masa dinasti Ayyubiyah, Shalahuddin al Ayyubi beserta keluarga dan pendiri-pendiri dinasti sangat memperhatikan kelangsungan berbagai bidang termasuk bidang pendidikan dan pengetahuan. Sehingga bermunculan tokoh-tokoh ilmuwan yang sangat berpengaruh pada perkembangan kebudayaan atau peradaban Islam, mereka di antaranya adalah:

1.      Abdul Latif al Bagdadi dan Al – Hufi, ahli ilmu mantiq dan bayan (bahasa)

2.      Syekh Abul Qasim al Manfalubi, ahli Fiqih

3.      Syamsudin Khalikan, ahli sejarah

4.       Abu Abdullah al Quda’i, ahli Fiqih, Hadits dan Sejarah

5.      Abu Abdullah Muhammad bin Barakat, ahli nahwu

6.      Hasan bin Khatir al Farisi, ahli Fiqih dan Tafsir

7.      Maimoonides, ahli ilmu astronomi, ilmu ke-Tuhanan, tabib, dan terutama sebagai ahli filsafat.

8.      Ibn al Baytar (1246 M), dokter hewan dan medikal. Beberapa karyanya yang sampai saat ini masih terkenal di wilayah Eropa tentang buku ramuan obat Islam “ Management Of The Drug Store”

9.      Sejumlah penulis, sastarawan, dan ilmuwan termuka, seperti Abu Firas Al Hamadani dan Thayib al Mutanabbi.

D.  Ibrah Perkembangan Kebudayaan/Peradaban Islam pada Masa Dinasti Al-Ayyubiyah untuk Masa Kini dan Yang Akan Datang

Shalahuddin al Ayyubi sangat berusaha keras dalam menghadapi perang salib, dan dalam membentengi umat Islam dari kristenisasi. Misalnya memberi sumber untuk pembangunan masjid, pembuatan sekolah gratis kepada siswa muslim yang tidak mampu, dan pemberian sandang pangan bekas namun masih layak pakai. Sikap seorang negarawan yang tegas dan berani sepertinya patut dicontoh apalagi pada saat sekarang ini yang lebih mementingkan kepentingan pribadi daripada kepentingan bersama. Seperti sikap tegas Shalahuddin yang langsung mencopot jabatan para amir yang lemah di mana keberadaan mereka justru mengganggu gerakan jihad yang mulai digelar olehnya, para aparatur yang melakukan korupsi, dan yang bersekongkol dengan penjahat dan perampok. Rasa yang sangat mengutamakan pendidikan dan pengetahuan juga penting untuk dilanjutkan pada setiap generasi. Karena ilmu dan pendidikan merupakan modal utama untuk menjaga dan mempertahankan kebudayaan atau peradaban Islam. Ilmu juga mendapat tempat yang sama pentingnya dengan agama, yaitu untuk mengetahui ajaran-ajaran agama dan hukum-hukum Islam.

E.  Meneladani Sikap Keperwiraan Shalahuddin al-Ayyubi

Shalahudin al Ayyubi adalah seorang muslim yang tahu akan agamanya dan kosekuen dengannya. Ia tahu hak tanah airnya kemudian mempertahankannya. Ia tahu hak-hak saudaranya kaum Muslimin kemudian menunaikan hak-hak tersebut dengan sebaik-baiknya. Shalahudin al Ayyubi juga merupakan panglima perang Muslim yang dihormati kawan dan dikagumi lawan karena akhlaknya dan tindakannya yang tangguh tetapi tetap mengakui hak asasi manusia dalam setiap peperangan yang dilakukannya. Sikap keperwiraan Shalahudin al Ayyubi lainnya yang baik dicontoh adalah:

1.      Membela agama dan rakyat

2.      Memadamkan pemberontakan

3.      Menghadapi tentara salib

4.      Mempertahankan agama dan negara

Beliau juga sosok yang memiliki toleransi tinggi terhadap umat beragama, seperti contohnya:

1.      Ketika beliau menguasai Iskandariyah, ia tetap mengunjungi orang-orang kristen

2.      Ketika perdamaian dengan tentara salib tercapai, beliau masih mengizinkan orang-orang kristen berziarah ke Baitul Maqdis.

Kesimpulan

1. Shalahudin Yusuf al-Ayyubi adalah Pendiri Dinasti Ayyubiyah (567 – 648 H / 1171 – 1250 M)berdiri di atas sisa-sisa Dinasti Fatimiyah di Mesir yang bercorak Syi’i dan ia ingin mengembalikannya ke faham sunni Ahlu Sunnah wal Jama’ah. Shalahudin mengadakan serangan ke Mesir untuk segera mengambil alih Mesir dari kekuasaan Fatimiyah yang jelas tidak akan mampu mempertahankan diri dari serangan Tentara Salib.

2.  Dinasti Ayyubiyah mencapai kemajuan yang gemilang mencakup di berbagai bidang, yaitu: bidang arsitektur dan pendidikan, bidang filsafat dan keilmuan, bidang industri, perdagangan, dan militer.

3.  Shalahudin al-Ayyubi sangat memperhatikan pendidikan dan pengetahuan. Sehingga bermunculan tokoh-tokoh ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu seperti ilmu Fiqih, kedokteran, filsafat, bahasa, sejarah, dan lain-lain.

4.  Sikap tegas Shalahuddin yang langsung mencopot jabatan para amir yang lemah di mana keberadaan mereka justru mengganggu gerakan jihad yang mulai digelar olehnya, para aparatur yang melakukan korupsi, dan yang bersekongkol dengan penjahat dan perampok.

5.  Shalahudin al Ayyubi adalah seorang muslim yang tahu akan agamanya dan kosekuen dengannya, tahu hak-hak saudaranya kaum Muslimin kemudian menunaikannya, dan  hak tanah airnya kemudian mempertahankannya.

PERKEMBANGAN ISLAM DI INDONESIA

A.  Proses Masuknya Agama Islam ke Indonesia Masuknya agama Islam ke Indonesia hingga kini dengan pasti. Tetapi ada 2 pendapat yang umumnya diterima.

  I.     Abad ke- 7 M

  1. Catatan sejarah kerajaan Cina : Menurut catatan ini, Pada zaman Dinasti Tang terdapat orang-orang ta-shih* untuk menyerang kerajaan Holing.
  2. Berita Chou Ku-Fei : Menurut berita ini, di daerah Indonesia saat itu terdapat dua tempat yang menjadi komunitas orang ta-shih*, yaitu fo-lo-an dan sumatera.
  3. Berita Jepang : Berita ini menceritakan perjalanan pendeta Kanshin ke Indonesia. Dalam berita tersebut dikemukakan bahwa pada masa itu di Kanton terdapat kapal-kapal Po-sse* dan Ta-shih K-uo**.
    (cat: *orang-orang Arab dan **bangsa melayu)

 II.     Abad ke- 13M

  1. Catatan perjalanan Marco Polo : Catatan ini mengisahkan perjalanan Marco Polo ke Sumatera bagian utara. Pada saat itu, Marco Polo sempat singgah ke Kerajaan Islam Samudera Pasai dalam pelayarannya kembali ke Eropa dari Cina.
  2. Berita Ibn Battutah : Pendapat ini mendukung serta batu nisan Sultan Malik as-salih ditemukan di Sumatera Utara barangka tahun Ramadan 676H. Sultan Malik as-salih dikenal sebagai seorang pengajar taswuf.

Golongan pembawa agama Islam di Indonesia adalah kaum pedagang. Hal itu sangat efisien karena pada masa itu pelayaran dan perdagangan Internasional snagat berkembang. Sehingga daerah yang terlebih dahulu memeluk agama islam adalah daerah pesisir. Selain itu, kaum mubalig atau guru agama juga dating untuk mengajarkan dan menyebarkan agama islam. Mereka mendirikan banyak pesantren yang mencetak kader-kader ulama atau gur agama local. Golongan lain yang juga disebut sebagai pembawa agama islam adalah penganut tasawuf (kaum sufi).

Di Indonesian terdapat dua kelompok besar masyarakat penerima agama islam, yaitu golongan elite (para, bangasawan, dan penguasa) dan golongan wong cilik (golongan lapisan bawah). Disamping sebagi penguasa politik, golongan elite juga mempunyai peranan dalam menentukan kebijakan-kebijakan perdagangan dan pelayaran. Di antara golongan elite tersebut terdapat pula para pemilik saham dan pemegang monopoli dagang atau pelayaran.
B.  Cara-Cara Masuknya Islam ke Indonesia Masuknya islam di Indonesia pada umumnya berjalan damai. Secara umum, Islam masuk ke Indonesia dengan cara-cara berikut ini.

  1. Perdagangan : Masuknya islam ke Indonesia terjadi pada tahap awal, yaitu sejalan dengan ramainya lalu lintas perdagangan laut pada abad ke-7M hingga abad ke-16M. pedagang muslim yang berdagang ke Indonesia makin banyak sehingga akhirnya membentuk pemukiman yang disebut pekojan.
  2. Perkawinan
    Para pedagang Islam yang dating ke Indonesia banyak yang menikah dengan wanita pribumi. Wanita-wanita pribumu yang beragama islam diminta mengucapkan syahadat  sebagai tanda menerima Islam sebagai agamanya. Melalui proses seperti ini, kelompok mereka makin besar dan lambat laun berkembang dari komunitas kecil menjadi kerajaan-kerajaan Islam.
  3. Pendidikan
    Penyebaran Islam melalui pendidikan, dilakukan melalui pesantren-pesantren, khususnya oleh para kiai. Disamping mengajar di pesantren-pesantren, para kiai sering kali menjadi penasihat para raja atau bangsawan.
  4. Tasawuf
    Tasawuf adalah ajaran atau cara untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Bebrapa tokoh tasawuf yang terkenal adalah Hamzah fansuru, syamsudin, Syekh abdul shamad, dan Nuruddin ar-Raniri.
  5. Kesenian
    Penyebaran agama islam di Indonesia terlihat pula dalm kesenian Islam. Hasil-hasil ini dapat pula dilihat pada bangunan masjid-masjid kuno di Demak, Cirebon, Banten, dan aceh.

SECARA UMUM, masuknya Islam ke Indonesia melalui 3 cara yaitu Perdagangan, social (perkawinan), dan pengajaran.

C.  Perkembangan Islam di Indonesia Kerjaan Samudera Pasai adalah kerajaan islam pertama di Indonesia. Saat itu, Pasai menjadi pusat perdagangan yang banyak disinggahi para pedagang dari berbagi Negara, namu perananan malaka dapat membuat turun Samudera Pasai. Pada abad ke-14, Malaka telah tumbuh menjadi pusat perdagangan terbesar di Asia Tenggara.
Perkembangan Islam di Pulau Jawa relative cepat seiring dengan semakin lemahnya Kerajaan Majapahit. Factor yang menyebabkan agama islam dapat cepat berkembang dengan cepat di Indonesia. Diantaranya sebagai berikut.

  • Syarat untuk masuk agama islam sangatlah udah. Sesorang hanya butuh mengucapkan kalimat syahadat. Dengan begitu secara resmi orang tersebut sudah masuk agama Islam.
  • Agama Islam tidak mengenal system kasta. Setiap anggota masyarakat mempunyai kedudukan yang sama di mata Allah SWT.
  • Penyebaran agama Islam dilakukan dengan jalan yang relative damai(tanpa melalui kekerasan).
  • Sifat bangsa Indonesia yang ramah tamah member peluang untuk bergaul lebih erat dengan bangsa lain.
  • Upacara-upacara keagamaan dalam Islam lebih sederhana.

Perkembangan Islam di bebrapa wilayah di Indonesia sekitar abad ke-12 hingga abad ke-16 adalah sebagai berikut.

1.     Pulau Sumatera
Pada abad ke-7M daerah Sumatera bagian utara adalah pusat perdagang rempah-rempah yanmg sangat ramai. Letak pelabuhanyang strategis untuk menunggu datangnya angin musim dari timur Laut yang menuju ke barat. Dalam selang waktu tersebut, para pedagang Arab kemudian ikut menyebarkan agama islam.
Di Sumatera bagian selatan, kemunduran kerajaan Budha Sriwijaya pada abad ke-13M, dimanfaatkan oleh Kerajaan Samudera Pasai untuk muncul sebagai kekuatan ekonomi baru. Jalur perdagangan di Selat Malaka semakin ramai dan berkembang dari kerajaan Samudera Pasai kea rah Malaka dan Pulau Jawa.

2.     Pulau Jawa
Penyebaran agama Islam di Pulau Jawa diperkirakan dari malaka. Namun, kapan tepatnya tidak diketahui dengan pasti. Bukti tertua tentang agama Islam di Pulau jawa dari batu nisan Fatimah binti Maimun di Leran, Gresik, yang berangka tahun 1082M. Namun, hal ini  belum berarti bahwa saat itu Islam ssudah masuk di daerah Jawa Timur. Setelah akhir abad ke-13M bukti-bukti islamisasi sudah banyak ditemukan di Pulau Jawa seperti, beberapa batu nisan di Troloyo, Trowulan, dan Gresik.
Pada saat kerajaan Majapahit mengalami masa kemunduran, di awal abad ke-15M, kota-kota pelabuhan seperti Tuban dan Gresik muncul sebgai pusat penyebaran agama Islam. Dari kedua kota ini pengaruh agama Islam menyebar hingga ke kota-kota pelabuhan bagian Timur Indonesia sepertii, Maluku. Dan menyebar ke daerah pesisir utara Jawa Barat seperti Cirebon, Sunda Kelapa, dan Banten sangat potensial sebagai daerah pemasarn hasil bumi.

3.     Pulau Kalimantan, Maluku, dan Sulawesi
Penyebaran Islam di Pulau Kalimantan dapat diketahui dari Hikayat Banjar milik Kerajaan Banjar. Islamisasi di daerah ini dilatarbelakangi oleh adanya kepentingan politik Kerajaan Demak dalam konflik antara Kerajaan Banjar dan Kerajaan Daha.
Sementara itu, penyebaran agama islam di daerah Maluku dan Sulawesi berjalan damai. Proses ini tidak dapat dipisahkan dari terjalinnya hubungan dan pelayaran internasional Malaka-Jawa-Maluku. Pengaruh agama Islam diperkirakan masuk ke Maluku pada abad ke-14M. adapun di Sulawesi, terutama bagian selatan, agama islam diperkirakan masuk pada abad ke-16M. di daerah ini islamisasi terjadi melalui konversi pusat kekuasaan (istana/keratin). Konversi agama dijalankan dengan pust kekuasaan yang telah ada.

KERAJAAN- KERAJAAN ISLAM DI INDONESIA

A.    Kerajaan Samudra Pasai
Kerajaan Samudra Pasai didirikan pada abad ke-11 M oleh Meurah Khair. Kerajaan ini terletak di pesisir timur laut Aceh. Dalam catatan sejarah, kerajaan ini merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia. Penguasa kerajaan Samudra Pasaio terdiri atas dua dinasti. Dinasti pertama adalah dinasti Meurah Khair dan dinasti kedua adalah Dinasti Meurah Silu. Perhatikan uraian berikut.

1.     Dinasti Meurah Khair adalah Pendiri dan raja pertama Krajaan Samudra Pasai bergelar maharaja Muhmud Syah (1042-1078 M). Pengganti Meurah Khair adalah Mansyur Syah yang berkuasa dari tahun 1078-1133 M. kemudian Giyasuddin Syah tahun 1133-1155 M. berikutnya adalah Meurah Noe yang bergelar Nurudin tahun 1155-1210 M. Raja ini dikenal juga dengan sebutan tengku Samudra atau Sultan Nazimuddin al-Kamil. Sultan ini sebenarnya berasal dari Mesir yang ditugaskan sebagai laksmana untuk merebut pelabuhan di Gujarat. Raja ini tdak memiliki keturunan sehingga pada saat ia wafat, Kerajaan Samudra Pasai dilanda kekacauan karena perebutan kekuasaan.

2.     Dinasti Meurah Silu bergelar Sultan Maiik as-Saleh (1286-1297 M). Ia keturunan Raja Perlak (sekarang Malaysia) yang mendirikan dinasti kedua di Kerajaan Samudra Pasai. Sistem pemerintahan kerajaan dan angkatan perang laut serta darat sudah terstruktur rapi. Kerajaan mengalami kemakmuran terutama setelah pelabuhan Pasai di buka. Hubungan Kerajaan Samudra Pasai dan Perlak berjalan harmonis. Meurah Silu memperkukuh hubungan ini dengan menikahi puteri Ganggang Sari, anak Raja Perlak. Meurah Silu berhasil memperkuat pengaruh kerajaan Samudra Pasai di Pantai timur Aceh dan berkembang menjadi kerajaan perdagangan yang kuat di Selat Malaka.
Selengkapnya, raja-raja yang memerintah di Kerajaan Samudra Pasai adalah sebagai berikut.

1. Sultan Malik as-Shaleh1285-1297 M                                      4. Sultan Mansur Malik Zahir1345-1346 M
2. Sultan Muhammad Malik Zahir1297-1326 M                          5. Sultan Ahmad Malik Zahir1346- 1383 M
3. Sultan Mahmud Malik Zahir1326-1345 M                               6. Sultan Zainal Abidin1383-1403

3.     Sultan Zainal Abidin (1383-1405 M), kekuasaan meliputi daerah Kedah di Semenanjung Malaya (buktinya terdapat pada sebuah batu nisan di Menyetujuh Pasai, Kedah). Sultan Zainal Abidin sangat aktif menyebarkan pengaruh Islam ke Pulau jawa dan Sulawesi dengan mengirim ahli-ahli dakwah seperti Maulana Malik Ibrahim dan Maulana Ishak.

Kehidupan perekonomian Samudra Pasai didasarkan pada perdangan nasional dan internasional. Letak kerajaan yang sangat setrategis di Selat Malaka menyebabkan pelabuhan Samudra Pasai ramai dikunjungi pedagang. Pada perkembangannya, Kerajaan Samudra Pasai bahkan menyaingi kebesaran Kerajaan Sriwijaya yang saat itu mengalami kemunduran.
Bukti kemakmuran kerajaan Samudra Pasai adalah adanya cerita dari Tome Pires, seorang pelancong Portugis. Pires menyatakan bahwa pada saat itu Samudra Pasai terdapat mata uang drama (dirham) yang bentuknya kecil. Ia juga menyatakan bahwa setiap kapal yang membawa barang dari barat dikenakan pajak 6%.

Perkembangan Kerajaan Samudra Pasai sebagai kerajaan Islam yang besar ditunjang dengan diberlakukannya hokum atau syariah Islam dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Kehudupan masyarakat selain bernapaskan Islam juga memperlihatkan kemiripan dengan masyarakat Timur Tengah yang berdagang di samudra Pasai menularkan cara hidup khas Timur Tengah.
Walaupun kehidupan sosial masyarakat Samudra Pasai diwarnai oleh ajaran Islam, tetapi tidak banyak ditemuka peninggalan budaya Islam. Kalaupun ada, peniggalan tersebut bukan berasal dari Kerajaan Samudra Pasai sendiri. Silsilah raja-raja Pasai misalnya, ditemukan pada silsilah Tawarikh Raja Aceh atau batu nisan Ratu pasai dari Gujarat.

B.    Kerajaan Malaka
Kerajaan Malaka merupakan sebuah kerajaanIslam yang menguasai wilayah Semenanjung Malaka dan Riau. Raja-raja yang memerintah kerajaan malaka adalah sebagai berikut.

1.     Iskandar Syah (1396-1414) : merupakan raja pertama, Kerajaan Malaka berkembang sebagai salah satu kerajaan Islam terbesar yang disegani kerajaan lain disekitarnya.

2.     Muhammad Iskandar Syah : merupakan putra mahkota Kerajaan Malaka yang naik tahta mengantikan ayahnya, Iskandar Syah. Begitu berkuasa, ia melanjutka cita-cita ayahnya untuk memperluas wilayah kekuasaan kerajaan malaka. Ia berhasil menguasai wilayah semenanjung Malaya.
Selama memerintah Malaka, Muhammad Iskandar Syah berhsil memajukan bidang perdagangan dan pelayaran. Ia juga berhasil menguasaijalur perdagangan di kawasan Selat Malaka dengan taktik perkawinan putrid raja Kerajaan Samudra Pasai dengan tujuan menundukkan Kerajaan Samudra Pasai secara politis. Setelah mendapatkan kekuasan poitik Kerajaan Samudra Pasai, ia baru menguasai wilayah perdagangan di sekitarnya. Muhammad Iskandar Syah berkuasa dari tahun 1414 hingga 1424 M.

3.     Sultan Muzafar Syah memerintah Kerajaan Malaka dari tahun 1424 hinga 1458 M. Ia menggantikan Muhammad Iskandar Syah setelah menyingkirkan dari tahta Kerajaan Malaka melalui sebuah kemelut politik. Setelah menguasai tahta kerajaan, Muzafar Syah mempergunakan gelar Sultan yang merupakan gelar raja-raja dalam kerajaan Islam.
Sumber sejarah tentang Sultan Muzafar Syah menyebutkan bahwa pada masa kekuasaannya, Kerajaan Malaka mendapat serangan dari kerajaan Siam. Namun, serangan ini berhasil digagalkan oleh Kerajaan malaka. Keberhasilan menghadapi serangan Kerajaan Siam ini selanjutnya makin mengukuhkan kebesaran kerajaan Malaka sebagai penguasa jalur pelayaran Selat Malaka. Pada kurun pemerintahannya, Sultan Muzafar Syah juga berhasil memperluas daerah kekuasaannya hingga kePahan, Indragiri, dan Kampar.

4.     Sultan Mansyur Syah
Setelah Sultan Muzafar Syah wafat, ia digantikan oleh putranya Sultan mansyur Syah. Pada maa pemerintahannya, Kerajaan Malaka berhasil menguasai Kerajaan Siam sebagaibagian taktik memperluas wilayah kekuasaa dan mengukuhkankebesarannya diantara kerajaan-kerajaan lain disekitarnya.
Namun demikian, sultan mansyur Syah tidak menyerang Kerajaan samudra Pasai yang merupakan kerajaan Islam. Hal ini merupakan salah satu kebijakan politik Sultan mansyur Syah untuk menjalin hubungan baik dengan kerajaan-kerajaan Islam yang ada di sekitarnya. Sultan Mansyur Syah berkuasa dari tahun 1458 hingga 1477 M.

5.     Sultan Alahusin Syah
Setelah Sultan Mansyur Syah wafat, ia digantikan oleh putranya yang bernama Sultan Alahudin Syah. Pada masa pemerintahannya, perekonomian Kerajaan malaka dalam kondisi cukup stabil. Arus perdagangan dan pelayaran disekitar Pelabuhan Malaka masih cukup ramai. Sebagai pusat perdagangan di wilayah Asia Tenggara, Kerajaan malaka masih menduduki peran yang strategis.
Namun secara politis, selama masa pemerintahan Sultan Alaudin Syah Kerajaan Malaka bias dikatakan mengalami kemunduran. Banyak daerah takhlukan Kerajaan Malaka yang melepaskan diri. Perang dan pemberontakan terjadi di benyak kerajaan di bawah kekuasaan Kerajaan Malaka. Sultan Alaudin Syah berkuasa dari tahun 1477 hingga 1488 M.

6.     Sultan Mahmud Syah : mengantikan ayahnya, Sultan Alaudin Syah yang meninggal pada tahu 1488 M.

a.Kerajaan Malaka mengalami kemunduran baik secara politik maupun ekonomi.
Secara politik, kekuasaan Kerajaan Malaka hanya tinggal mencakup wilayah utama Semenanjung Malaka. Daerah-daerah lain telah memisahkan diri dan enjadi kerajaan-kerajaan yang berdiri sendiri. Dalam kondisi yang makin lemah pada tahun 1511 M,

b.armada perang bangsa portugis yang dipimpin oleh Afonso d’Alburquerque akhirnya berhasil menguasai dan menakhlukan Kerajaan Malaka.

c. Secara ekonomi, peran malaka slanjunya diambil alih oleh Kerajaan banten yang memiliki pelabuhan di tepi Selat Sunda. Atifitas perdagangan dan pelayaran berpindah ke banten karena armada Portugis telah menguasai wilayah Kerajaan Malaka dan menegakkan pajak yang sangat timggi bagi setiap kapal yang melewati selat Malaka.

d.Kehidupan ekonomi kerajaan Malaka sangat bertumpu pada sector perdagangan dan pelayaran. Kedua sector ini berkembang pesat karena didukung oleh letak Kerajaan Malaka yang strategis, yaitu tepat di tepi Selat Malaka. Untuk mendukung aktivitas perdagangan dan pelayaran, dibangunlah Pelabuhan Malaka yang menjadi pintu masuk kapal-kapal dagang asing menuju kewilayah Indonesia.

e.Kerajaan Malaka merupakan kerajaan maritim yang mengandalkan pemasukan Negara dari sector kelautan. Wilayah strategis dan struktur masyarakat yang kebanyakan bekerja sebagai pedagang dan nelayan menyebabkan kehidupan sosial masyarakat sangat dipengaruhi oleh pola hidup maritime.

f.  Dalam pola hidup seperti ini, pedagang dan nelayan Kerajaan Malaka memiliki status sosial dan ekonomi yang lebih tinggi dibandingkan petani. Namun demikian, strata sosial ekonomi tetap didukung oleh kaum bangsawan, yaitu keluarga raja serta bawahannya, disusul pemimpin pelabuhan dan para ulama.

g.Kehidupan sosial masyarakat Kerajaan Malaka diatur oleh undang-undang kerajaan yang harus ditaati oleh semua golongan. Bahkan untuk para pedagang, terdapat undang-undang yang juga harus dipatuhi dan dilaksanakan. Aturan mengenai hokum pelayaran, masuk dan keluar pelabuhan internasional misalnya, sudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Malaka.

h.Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Kerajaan Malaka mempergunakan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar dan bahasa pergaulan (lingua franca). Karena fungsinya yang sangat penting, bahasa Melayu dengan cepat berkembang sebagi bahasa Internasional dalam hubungan niaga di wilayah Asia Tenggara.

i.  Kerajaan Malaka sangat dipengaruhi oleh budaya Melayu dan budaya Islam. Hal ini wajar terutama karena dua alas an. Pertama, letak Kerajaan Malaka berada di Semenanjung Malaya tempat asal rumpun bangsa Melayu. Kedua, adanya pengaruh agama Islam yang dibawa oleh para pedagang Islam dari Gujarat dan Persia.

j.  Dengan pengaruh dua budaya ini, Kerajaan Malaka memiliki corak kebudayaan egaliter, terbuka, demokratis, dan menghargai kebudayaan lain. Salah satu kisah dalam budaya masyarakat Kerajaan Malaka yang sangat terkenal adalah hikayat kepahlawanan Laksamana Hang Tuah. Laksamana Hang Tuah merupakan salah seorang laksamana Kerajaan Malaka yang begitu bersajapada masa pemerintahan Sultan Mansyur Syah.

k. Adapun agama yang dianut sebagian besar rakyat Krajaan Malaka adalah agama Islam. Agama Islam bahkan dijadikan agama Negara oleh pendiri kerajaan ini, yaitu Iskandar Syah. Dalam kehidupan sehari-hari, pengaruh ajaran agama Islam tampak menonjol dalam perilaku masyarakat Kerajaan Malaka.

C.    Kerajaan Aceh Darussalam

Munculnya Kerajaan aceh Darussalam tidak lepas darikeberadaan Kerajaan Samudra Pasai. Sebagai pusat penyebaran agama Islam, berdirinya Kerajaan Samudra Pasai mengilhaminyaberdirinya Kerajaan Aceh Darussalam pada tahun 1511 M. Kerajaan Aceh Darussalam berlokasi di daerah hulu Pulau Sumatra, atau ujung pantai Aceh yang disebut sebagai Aceh Besar.
Raja pertama Kerajaan aceh Darussalam adalah Sultan Ali Mugayat Syah. Setelah Sultan Ali Mugayat Syah wafat, takhta Kerajaan Aceh Darussalam beralih pada putranya yang kemudian bergelar Sultan Salahudin. Sayangnya, keadaan pemerintahan kurang mendapat perhatian raja sehingga selama masa pemerintahannya Aceh Darussalam mengalami kemunduran drastis.

1.     Sultan Alauddin Ri’ayat Syah al-Qahar (1537-1568)
Sultan Alauddin adalah saudara Sultan Salahuddin. Ia merebut kekuasaan karena lemahnya pemerintah Sultan Salahuddin. Selama memerintah, Sultan Alaudin mengadakan perbaikan kondisi kerajaan dan perluasan wilayah, antara lain ke Kerajaan Aru. Usahanya merebut Malaka dari Portugis mengalami kegagalan.
Sultan Alaudin juga aktif menyebarkan pengaruh Islam dengan mengirim banyak ahli dakwah ke Pulau Jawa. Salah satunya adalah Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Ia adalah seorang ulama Aceh keturunan raja Samudra Pasai yang dikirim ke Gresik, Jawa Timur.
Sayangnya, setelah Sultan Alaudin Meninggal, Kerajaan Aceh Darussalam kembali mengalami kemunduran. Hal ini terjadi akibat pergolakan politik internal dan pemberontakan yang berlangsung cukup lama.

2.     Sultan Iskandar Muda/Darma Wangsa Perkasa Alam Syah (1607-1636)

a.Selama massa pemerintahan Sultan Iskandar Muda, Kerajaan aceh Darussalam kembali mengalami perkembangan pesat dan mencapai masa keemasan. Kerajaan Aceh Darussalam pada masa itu tumbuh menjadi kerajaan besar yang berhasil menguasai jalur perdagangan alternative. Keberhasilan ini mampu menyaingi monopoli perdagangan Portugis di Kerajaan Malaka.Pelabuhan Aceh hanya berdagang dengan bangsa tertentu dan membina hubngan yang sangat baik dengan pedagang-pedagang dari Asia.
Wilayah kekuasaan kerajaan Aceh Darussalam pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda makin Luas. Daerah-daerah di mSemenanjung Malaya yang sekarang dikenal sebagai Malaysia, dahulu adalah bagian wilayah takhlukan Kerajaan Aceh Darussalam. Dengan penguasaan daerah-daerah ini jalur perdagangan alternative yang diciptakan Aceh melalui pantai barat Sumatra menjadi Sangat Ramai.

b.Struktur pemerintah Kerajaan Aceh Darussalam dibentuk oleh Sultan Iskandar Muda. Pada dasarnya struktur kekuasaan Kerajaan aceh Darussalam terbagi menjadi dua wilayah, yaitu kekuasaan oleh kaum bangsawan dan alim ulama. Dalam kekuasaan kebangsawanan, wilayah Kerajaan aceh Darussalam terbagi dalam daerah-daerah kehulubalangan yang dikepalai oleh uleebalang.
Sultan Iskandar Muda adalah seorang penguasa yang taat beragama. Oleh karena itu, perkembangan agama Islam di Kerajaan Aceh Darussalam sangat pesat. Sayangnya, perkembangan perkembangan pesat ini tidak berlanjut setelah wafatnyaIskandar Muda. Kerajaan Aceh Darussalam bahkan mengalami kemunduran.

c. Setelah Sultan Iskandar Muda
Menantu Iskandar Muda yang bergelar Sultan Iskandar Sani, naik tahta pada tahun 1636. pada massa itu, Sultan Iskandar Sani menerapkan kebijakan yang lebih lunak dari pada Sultan Iskandar Muda. Hal ini menyebabkan daerah-daerah takhlukan melepaskan diri satu persatu. Pemerintahan Iskandar Sani tidak berlangsung lama karena wafat pada tahun 1641. pemerintahan Kerajaan Aceh Darussalam akhirnya dilanjutkan oleh Putri Sri Alam Permaisuri, putri Sultan Iskandar Muda, yang bergelar Sultanah Tajul Alam Safaituddin Syah (1641-1675 M). Sultanah adalah gelar untuk ratu Kerajaan Aceh Darussalam. Selama 59 tahun berikutnya Kerajaan Aceh Darussalam dipimpin oleh para ratu.

d.Setelah wafatnya Sultan Iskandar Muda, secara perlahan Kerajaan Aceh Darussalam mengalami kemunduran. Hal ini karena raja-raja setelah Sultan Iskandar MUda tidak mampu mempertahankan wilayah Aceh yang sangat luas. Terjadi perpecahan antar kelompok dalam masyarakat Aceh yaitu antara golongan ulama (tengku) dan golongan bangsawan (teuku). Perpecahan nini dipacu oleh golongan bangsawan yang lebih dekat dengan penjajah colonial Belanda lemahnya control pemerintah pusat menyebabkan banyak daerah yang ditakhlukan pada masa pemerintahan Iskandar Muda melepaskan diri. Daerah-daerah tersebut antara lain adalah Johor, Pahang, Perlak, Minangkabu, dan Siak, yang kemudian berkembang menjadi kerajaan-kerajaan kecil yang otonom.

e.Setelah mengalami pemberontakan dan kekacauan besar pada abad ke -16M, perekonomian Kerajaan Aceh Darussalam berangsur-angsur membaik. Selama pemerintahan Sultan Iskandar Muda, kegiatan perdagangan rempah-remoah sangat berkembang. Apalagi, Aceh Darussalam kemudian melakukan ekspansi ke Semananjung Malaya yang kaya akan barang tambang timah dan hasil perkebunan lada. Aceh Darussalam menjadi produsen rempah-rempah yang sangat terkenal dikalangan pedagang. Selain lada dan timah, kegiatan ekspor-impor Aceh juga meliputi perdagangan beras, emas, perak, tekstil, porselen, dan minyak wangi.

f.  Masyarakat Kerajaan Aceh Darussalam hidup dengan perpaduan dua dasar aturan bermasyarakat, yaitu istiadat tradisional dan ajaran agama Islam. Ajaran Islam berhasil meresap dalam kehidupan masyarakat Kerajaan Aceh Darussalam dan memengaruhi hubugan antar individu atau kelompok. Kedua dasar peraturan bermasyarakat Aceh Darussalam ini bahkan tidak dapat dipisahkan.
Walaupun ajaran agama Islam berkembang luas di Kerajaan Aceh Darussalam, system kemasyarakatan yang terbentuk mtetap bersifat feodalistis. Masyarakat Kerajaan Aceh Darussalam memiliki kaum bangsawan yang memiliki gelar teuku. Karena pesatnya perkembangan Islam di Kerajaan Aceh Darussalam, dalam masyarakan Kerajaan Aceh Darussalam juga berkembang kaum ulama yang diberi gelar tengku. Kedua anatr kelompok ini selalu terlibat persaingan pengaruh dalam masyarakat. Akibatnya, Kerajaan Aceh Darussalam makin lemah. Perkembangan bermacam-macam aliran Islam yang masuk ke Kerajaan Aceh Darussalam juga menimbulkan pertentangan. Pertentangan ini terutama terjadi antara aliran Syiah dan aliran Ahlus-Sunnah Wal-Jamaah.

g.Kaum perempuan dalam masyarakat Aceh Darussalam dihormati dan diperlakukan sederajat dengan kaum laki-laki. Kaum perempuan berpartisipasi aktif dalam pertahanan kerajaan dan dihormati dalam masyarakat Aceh Darussalam. Dalam pernikahan, kaum perempuan tetap memiliki hartanya sendiri yang ia bawa sebelum menikah. Kaum laki-laki juga harus meminta persetujuan istri untuk bercerai. Para putri raja seperti Sultanah Tajul Alam tetap mendapat pendidikan ketatanegaraan seperti layaknya putra saja. Sekolahan-sekolahan dan angkatan perang untuk perempuan dibentuk dan disempurnakan pada massa pemerintahan Sultanah Tajul Alam.
Sebagai akibat berkembangnya pengaruh ajaran Islm di Kerajaan Aceh Darussalam, kebudayaan setempat juga mendapat pengaruh kebudayan Islam. Pada nassa pemerintahan Sultan Iskandar sani, terdapat dua orang sastrawan terkanal, yaitu Nurrudin ar-Raniri dan Hamzah fansurin. Kesusastraan Aceh Darussalam eperti Bustanussalatin dan hkayat Putrou Gumbok Meuh menunjukkan besarnya pengaruh agama Islm dalam sanjak khas Aceh Darussalam.

D.    Kerajaan Demak

1.     Berdirinya Kerajaan Demak dilator belakangi oleh melemahnya penerintah Kerajaan Majapahit atas daerah-daerah pesisir utara Jawa. Daerah-daerah pesisir seperti Tuban dan Cirebon sudah mendapat pengaruh Islam. Dukungan daerah perdagangan yang kuat ini sangat berpengaruh bagi pendirian Demak sebagai kerajaan Islam yang merdeka dari Majapahit.

2.     Raja pertama Kerajaan Demak adalah Raden Patah. Ia memerintah dari tahun 1500-1518 M. Pada masa pemerintahannya, agama Islam mengalami perkembangan pesat. Hal ini dimungkinkan karena gencarnya kegiatan dakwah yang dilakukan oleh para wali dan bantuan dari daerah-daerah pesisir seperti Tuban dan Cirebon.

3.     Raden Patah bergelar senopati Jimbun Ngabdurrahman Panembahan Sayidin Panatagama. Pangkat Raden Patah sebagai raja Demak dipimpin langsung oleh Sunan ampel Denta dan didukung oleh anggota wali lainnya. Pada masa pemerintahannyawilayah Kerajaan demak meliputi daerah Jepara, Tuban, Sedayu, Palembang, Jambi dan beberapa daerah di Kalimantan. Pada masa pemerintahannya juga, dibangun Masjid Agung Demak yang dibantu oleh para wali dan sunan sahabat Demak.

4.     Pada waktu Kerajaan Malaka jatuh ke tangan Portugis tahun 1511 M, Raden Patah merasa berkewajiban untuk membantu. Jatuhnya Kerajaan Malaka berarti putusnya jalur perdagangan nasional. Untuk itu, ia mengirimkan putranya, Pati Unus untuk menyerang Portugis di Malaka. Namun usaha itu tidak berhasil Setelah Raden Patah meninggal pada tahun 1518, ia digantikan oleh putranya Pati Unus. Namun, Pati Unus hanya memerintah tidak lebih tiga tahun. Ia meninggal dunia tahun 1522 dalam usaha mengusir Portugis dari Kerajaan Malaka. Saudaranya Sultan Trenggono, akhirnya menjadi Raja Demak ketiga dan merupakan raja Demak terbesar. Sultan Trenggonodilantik menjadi raja demak oleh Sunan Gnung Jati. Ia memereintah Demak dengan gelar Sultan Ahmad Abdul Arifin.

5.     Pada masa pemerintahan Sultan Trenggono, Kerajaan Demak mencapai puncak kejayaannya, agama Islam berkembang lebih luas lagi. Sultan Trenggono mengirim fatahillah ke Banten. Dalam perjalanan ke Banten, Fatahillah singgah di Cirebon untuk menemui Syarif Hidayatullah. Bersama-sama dengan pasukan Kesultanan cirebon Fatahillah kemudian dapat menakhlukan Banten dan Pajajaran.
Sultan Trenggono juga berusaha memperluas daerah kekuasaannya sampai ke Jawa Tengah bagian selatan dan Jawa Timur. Namun, dalam usahanya menguasai pasuruan pada tahun 1546, Sultan Trenggono akhirnya gugursebelum sempat menguasai Pasuruan dan Blambangan.

6.     Setelah wafatnya Sultan Trenggono, Kerajaan Demak mulai mengalami kemunduran karena terjadi perebutan kekuasaan. Perebutan takhta Kerajaan Demak ini terjadi antara Sunan Prawoto dan Arya Penangsang. Arya Penangsang adalah Bupati Jipang (sekarang Bojonegoro) yang merasa lebih berhak atas takhta Kerajaan Demak. Perebutan kekuasaan ini berkembang menjadi konflik berdarah dengan terbunuhnya Sunan Prawoto oleh Aryo Penabgsang. Aryo Penangsang juga membunuh adik Sunan Prawoto yaitu Pangeran Hadiri.
Namun usaha Arya Penangsang menjadi Sultan Demak dihalangi oleh Jaka Tingkir, menantu Sultan Trenggono. Jaka Tingkir mendapat dukungan dari para tetua Demak, yaitu ki Gede Pemanahan dan ki Penjawi. Konflik berdarah ini akhirnya berkembang menjadi perang saudara. Dalam pertempuran itu, Arya Pengsang terbunuh sehingga takhta Kerajaan Demak jatuh ketangan Jaka Tingkir.

7.     Setelah terjadi perang saudara, Jaka Tingkir menjadi raja Kerajaan Demak dengan gelar Sultan Hadiwijaya. Ia kemudian memindahkan pusat Kerajaan Demak ke daerah Pajang. Walaupun sebenarnya sudah menjadi kerajaan baru, Kerajaan Pajang masih mengakui sebagai penerus Kerajaan Demak. Bentuk keratin Kerajaan Pajang pun mencontoh bentuk keratin Kerajaan Demak. Di dalam keratin Kerajaan Pajang juga disimpan pusaka Kerajaan Demak sebagai lambing keturunan langsung raja-raja demak.
Sebagai tanda terimakasih kepada Ki Gede Pemanahan yang telah mendukungnya, Sultan Hadiwijaya memberikan sebauah daerah Perdikan (otonom) yang disebut Mataram. Ki Gede Pemanahan kemudian menjadi penguasa Mataram dan disebut Ki Gede Mataram.
Selama masa pemerintahannya, Sultan hadiwijaya memperluas bekas wilayan Kerajaan Demak. Daerah-daerah baru yang dikuasainya adalah Blora, Kediri, dan Madiun. Sultan Hadiwijaya wafat pada tahun 1587 M.

8.     Penganti Sultan Hadiwijaya bukanlah putranya yakni, Pangeran Benawa melainkan putra Sunan Prawoto, Aria Pangiri. Pangeran benawa sendiri diangkat sebagai penguasa daerah Jipang. Pangeran Benawa kurang puas dengan keputusan ini. Apalagi pemerintahan Aria Pangir I di Pajang juga dikelilingi oleh para bekas kerajaan Demak. Pangeran Benawa kemudian meminta bantuan kepada Sutawijaya, putra Ki Ageng Mataram untuk merebut kembali takhta Kerajaan Pajang.
Pada tahun 1588, Sutawijaya dan Pangeran Benawa berhasil merebut kembaki takhta Kerajaan Pajang. Benawa kemudian menyerahkan hak kuasanya pada Sutawijaya secara simbolis melalui penyerahan pusaka pajang pada Sutawijaya. Dengan demikian, pajang menjadi bagian kekuasaan Kerajaan Mataram.

9.     Kerajaan Demak membangun basis perekonomiannya dari pertanian yang menghasilkan bahan pangan pokok seperti beras. Basis perekonomian ini kemudian berkembang setelah Kerajaan Demak memperluas wilayahnya dengan menakhlukan banyak pelabuhan penting di pantai utara jawa seperti Jepara, Tuban, Sedayu, dan Gresik. Dengan menguasai pelabuhan-pelabuhan ini Kerajaan Demak memulai perannya sebagai pelabuhan penghubung (transit). Jalur perdagangan pun terbentuk, dengan proses Pelabuhan Malaka, Demak, Makasar. Setelah Malaka dikuasai Portugis, arus jalur perdagangan yang salami ini ramai melewati Demak menjadi sepi, karena pelayaran harus menyusuri pantai barat Sumatra. Usaha Demak untuk merebut Malaka pada tahun 1513 M mengalami kegagalan.

10.  Pengruh budaya dan agama Islam terbesar luas di Kerajaan Demak berkat bantuan para wali. Para wali sangat aktif menyebarkan pengaruh Islam tidak hanya di Pulau Jawa tetapi juga daerah lain seperti Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan maluku. Salah satu paninggalan v adalah Masjid Demak yang salah satu tiang utamanya dalah terbuat dari pecahan kayu-kayu dan disebut Soko Tatal. Selain itu, tradisi Demak yang masih berkembang hingga saat ini khususnya di Yogyakarta dan Cirebon adalah Sekaten. Tradisi ini diciptakan oleh Sunan Kalijaga untuk menarik sebanyak mungkin masyarakat Demak agar memeluk agama Islam.

E.     Kerajaan Banten

1.     Kerajaan Banten meliputi wilayah sebelah barat pantai Jawa sampai ke Lampung. Daerah ini sebelumnya merupakan daerah tetangga Kerajaan Pajajaran yang dalam Crita Parahyangan dikenal dengan nama Wahanten Girang. Peletak dasar Kerajaan Banten adalah Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Pada tahun 1526 M, Syarif Hidayatullah menguasai bagian barat pantai utara Jawa tersebut untuk menundukkan Kerajaan Pajajaran. Daerah Kerajaan Banten menjadi batu loncatan untuk menguasai Pajajaran dari barat dan timur.

2.     Kerajaan Banten dijadikan sebagai basis penyerangan kerajaan Demak dan Cirebon untuk menguasai Kerajaan Pajajaran dan pelabuhan Sunda Kelapa. Penyerangan ke Kerajaan Pajajaran dikarenkan penolakan Kerajaan Pajajaran atas usaha penyebaran agama Islam. Selain itu, kerajan Pajajaran juga menolak mengakui kekuasan Kerajaan Demak atas Pajajaran.

3.     Meskipun pelabuhan Sunda Kelapa berhasil dikuasai pada tahun 1527, namun Kerajaan Banten masih tetap menjadi daerah kekuasan Kerajaan demak. Ketika Sultan hadiwijaya berkuasa di Demak, Kerajaan Banten baru menjadi kesultanan yang merdeka dari Kerajaan Demak. Raja pertamanya adalah putra syarif Hidayatullah, Maulana hasanudin.

4.     Pada masa pemerintahannya (1552-1570), penyiaran agama Islam dan hubungan perdagangan berkembang luas. Penguasaan v Kerajaan Banten atas Lampung dan Selat Sunda sangat penting bagi kegiatan perdagangan Banten. Dari kegiatan perdagangan ini Kerajaan Banten dan mendapat pajak lintas perairan. Hasanudin juga menjalin persahabatan yang erat dengan Kerajaan Indrapura di Sumatra. Hubungan diplomatik ini diperkuat melalui pernikahan politik antara Hasanuddin dengan putrid raja Indrapura.

5.     Penguasa Kerajaan Banten selanjutnya adalah Maulana Yusuf. Ia memimpin Kerajaan Banten dari tahun 1570-1580 M. selama sembilan tahun dibawah pimpinan Maulana Yusuf, Kerajaan Banten berusaha menakhlukkan Pakuan, ibu kota Kerajaan Pajajaran. Daerah kekuasaan Pajajaran lainnya telah berhasil diduduki kecuali Pakuan. Baru pada tahun 1579, banten berhasil menakhlukkan Pakuan. Para bangsawan Kerajaan Pajajaran yang bersedia masuk Islam dapat memepertahankan jabatan dan gelarnya.

6.     Setelah Maulana Yusuf wafat pada tahun 1580, takhta Kerajaan Banten dipegang oleh Maulana Muhammad, putranya yang masih berumur 9 tahun. Karena masih sangat muda, kekuasaan pemerintahan dijalankan oleh sebuah badan perwakilan yang terdiri dari Kali (Jaksa Agung) dan empat menteri. Badan perwakilan ini berkuasa sampai Maulana Muhammad cukup umur untuk memerintah.
Pada tahun 1596, Banten melancarkan serangan terhadap Kerajaan Palembang, dipimpin langsung oleh Maulana Muhammmad. Penyerangan ini bertujuan untuk melancarkan jalur perdagangan hasil bumi dan rempah-rempah dari Sumatra. Sayangnya, penyerbuan ini tidak berhasil dan Maulana Muahammad gugur.

7.     Gugurnya Maulana Muhammad menyebabkan kosongnya takhta Kerajan Banten. Adapun putra Maulana Muhammad yang bernama Abu Mufakir masih berusia 5 bulan. Pemerintahan Banten untuk sementara dijalankan oleh badan perwakilanyang diketuani Jayanegara (wali Kerajaan) dan Nyai Emban Rangkung (Pengasuh Pangeran). Pada masa inilah, armada dagang Belanda pertama kali tiba di Kerajaan Banten dan di pimpin oleh Cornelis Houtman.

8.     Abu mufakir baru resmi menjalankan kekuasaan pada tahun 1596. tahun 1638, khalifah Mekah memberi gelar Sultan pada Abu Mufakir. Abu Mufakir wafat pada tahun 1651. putranya meneruskan pemerintahan Banten dengan gelar Sultan Abu Ma’ali Ahmad Rahmatullah, tetapi tidak lama keudian ia wafat.

9.     Sultan Ageng Tirtayasa. Di bawah pemerintahanyaKerajaan Banten berhasil mencapai kejayaannya.

10.  Menyadari kekuatan militer Kerajaan Banten yang tidak seimbang dengan Belanda,Sultan Ageng Tirtayasa menghentikan takhtik konfrontasi langsung. Sebagai gantinya, ia memerintahkan perampokan dan perusakan perkebunan tebu Belanda serta berusaha menyaingi perdagangan Belanda.

11.  Pada tahun 1671, Sultan Ageng Tirtayasa mengangkat putra mahkotanya, Sultan Abdul Kahar atau Sultan Haji sebagai Raja Muda. Pemerintahan sehari-hari dijalankan oleh Sultan Haji, sementara Sultan Ageng Tirtayasa tetap mengawasi.
Ternyata selama memerintah, Sultan Haji cenderung bersahabat dengan VOC. VOC memanfaatkan kesempatan ini untuk mempengaruhi kebijakan pemerintahan Sultan Haji. Sultan Ageng Tirtayasa tidak menyetujui hubungan baik Sultan Haji dengan belanda dan berniat mencabut kembali mandate takhta Kerajaan Banten sehingga timbul persengketaan dan perang saudara. Akibat pengkhianatan ini, pada tahun 1683 Sultan Ageng Tirtayasa berhasil di tangkap dan dipenjarakan oleh Belanda di Batavia. Sultan Ageng Tirtayasa akhirnya wafatpada tahun 1692 dan Kerajaan Banten menjadi kerajaan boneka di bawah kendali Belanda.

12.  Kehidupan perekonomian masyarakat Kerajaan Banten berpusat pada pedagangan dan perkebunan. Tanah Jawa Barat yang subur menjamin hasil pertanian berupa padi yang melimpah. Raja pertama banten kemudian memperkenalkan budi daya lada yang harganya sangat mahal jika dijual. Banten juga tidak hanya mengandalkan perdagangan hasil pertanian dan perkebunanBanten sendiri. Banyak hasil perdagangan, pertanian dan perkebunan dari luar Banten yang diimpor melalui Pelabuhan Banten.

13.  Letak Banten sangat strategis karena terbentang dari Jawa Barat samapi Lampung. Banten secara otomatis menguasai jalur perdagangan Selat Sunda. Pelabuhan Banten menjadi tempat transit alternative yang ramai setelah Pelabuhan Malaka dikuasai Portugis. Jalur perdagangan melalui Selat Sunda menjadi sangat ramai. Terutama karena Kerajaan Banten menerapkan system perdagangan bebas. Perlahan-perlahan perdagangan monopoli Portugis di Kerajaan Malaka menjadi sepi.

14.  Ramainya pelabuhan Banten dan Sunda Kelapa menyebabkan tumbunya banyak perkampungan dari suku dan bangsa luar Pualu Jawa. Perkampungan-perkampungan ini hidup sesuai dengan tradisi penduduk yang mendiaminya. Selain berdasr etnis, perkampungan-perkampungan baru berdasrkan profesi tertentu juga tumbuh di Kerajaan Banten.

15.  Perkampungan-perkampungan etnis dan profesi ini dapat berkembang bebas walaupu mayarakat Banten menerapkam hokum dan adapt berdasarkan ajaran Islam. Penduduk Kerajaan Pajajaran yang tidak mau menganut ajaran Islam mengasingkan diri ke pedalaman Jawa Barat. Mereka disebut Suku Baduy. Mereka menerapkan system kepercayaan yang disebut Pasundan kawitan. Pasundan Kawitan atau pasundan yang pertama adalah perpaduan agama Hindu dengan kepercayaan tradisional Suku Sunda.
Dengan banyaknya perkampungan asing di Kerajaan Banten, agama islam bukanlah satu-satunya pengaruh yang memperkaya kehidupan masyarakat Kerajaan Banten. Sayangnya, peninggalan-peninggalan budaya dari Kerajaan Banten tidak banyak ditemukan. Namun demikian, pengaruh agama Islam dalam seni bangunan Banten dapat dilihat pada bangunan Masjid Agung Banten dan kompleks Makam Raja-Raja Banten di Kenari.

F.     Kerajaan Mataram

1.     Pediri Kerajaan Mataram adalah Sutawijaya, memerintah dari tahun 1575-1601 M.

2.     Selanjunya adalah Masjolang atau Panembahan Sedo Krapyak. memerintah dari tahun 1601-1613 M. pada masa pemerintahannya, Kerajaan Mataram terus menakhlukan daerah-daerah pantay disekitarnya. Akan tetapi, ia gugur dalam usaha menyaukan Kerajaan Mataram. Ia dimakamkan di daerah Krapyak, Yogyakarta.

3.     Sultan Agun Hanyokrokusumomemerintah di mataram dari tahun 1613 hingga 1645. Ia merupakan raja terbesar Kerajaan Mataram yang mempunyai cita-cita menyatukan Pulau Jawa. Raja-raja pantai yang ingin melepaskan diri berhasil ditundukkannya. Akan tetapi, semangat bahari Kerajaan Mataram yang dulu begitu besar, pada masa Sultan Agung ini makin lemah sehingga pelayaran dan perdagangan menjadi mundur. Pada tahun 1628 dan 1629, Sultan agung ingin menuasai Batavia. Ia mengirim pasukan yang dipimpin leh baureksa dan dibantu oleh Adipati Ukur serta Suro Agul-Agul. Namun usaha ini gagal. Sultan Agung wafat pada tahun 1645 dan dimakamkan di Imogiri.

4.     Sultan Agung digantikan oleh putranya yang bergelar Amangkurat I memerintah dari tahun 1645-1477 M. Pada massa pemerintahannya, Kerajaan Mataram menjalin hbungan dengan Belanda. Orang-oran Belanda diperkenankan membangun benteng di Kerajaan Mataram.
Namun, pendirian benteng tidak sewenagn-wenang belanda akhirnya menyulutkan rasa tidak puas dari beberapa kalangan di Kerajaan Mataram terhadap pemerintahan Amangkurat I. Diantaranya dari Pangeran Trunajay dari Madura.

5.     Dengan dibantu para bupati didaerah pesisir pantai , Pangeran Trunajaya melakukan pemberontakan. Dalam peperangan di ibu kota Kerajaan Mataram, Amangkurat I menderita luka-luka. Ia dilarikan ke Tegalwangi dan meninggl di sana. Pemberontakan itu sendiri akhirnya dapat dipadamkan oleh Belanda.

6.     Raja Amangkurat I digantikan oleh Amangkurat II. Ia memerintah dari tahun 1677-1703 M. Pada masa pemerintahannya, Belanda menguasai hamper sebagian besar wilayah Kerajaan Mataram. Amangkurat II sendiri menyingkir ke daerah pedesaan dan mendirikan ibu kota Kerajaan Mataram baru di desa Wonokerto yang diberi nama Kartosuro. Amangkurat II meninggal pada tahun 1703.

7.     Setelah wafat Amangkurat II, berdasarkan perjanjian Giyanti, Kerajaan Mataram terbagi dua menjadi daerah kesultanan Yogyakarta atau Ngayogyakarta dan Kasuhunan Surakarta. Kesultanan Yogyakarta diperintah oleh Raja mangkubumi yang bergelar Hamengkubuwono I. Sedangkan kasuhunan Surakarta diperintah oleh Susuhan Pakubuwono III.

8.     Pada tahun 1757, berdasarkan Perjanjian Salatiga, Kerajaan Mataram dipecah lagi mencadi tiga daerah yaitu Kesultanan Yogyakarta, kasuhunan Surakarta dan Mangkunegara. Daerah mangkunegara diperintah oleh Mas Said yang bergelar Pangeran Adipati Arya Mangknegara. Pada tahun 1813 kesultanan Yogyakarta dibagi menjadi dua kerajaan, yaitu Kesultanan Yogyakarta dan Kerajaan Pakualaman. Kerajaan Pakualaman diperintah oleh Paku Alam yang semula adipati Kesultanan Yogyakarta. Dengan demkian, Kerajaan Mataram akhirnya terbagi menjadi empat Kerajaan kecil, yaitu kesultanan Yogyakarta, Kasuhunan Surakarta, Kerajaan Mangkunegara, dan Kerajaan Pakualaman.

9.     Pada zaman Kerajaan Mataram ini, tumbuh pula kebudayaan Kejawen yang merupakan akulturasi kebudayaan Jawa asli, Hindu, Budha, dan Islam. Upacara Grebeg, misalnya, adalah upacara pemujaan roh nenek moyang berupa kenduri gunungan yang merupakan tradisi sejak zaman Kerajaan Mataram. Perayaan ini biasanya jatuh pada hari-hari besar Islam, sehingga timbul istilah Grebeg Syawal pada hari raya Idul fitri dan Grebeg Maulid pada bulan Raiul Awal.

G.    Kerajaan Gowa dan Tallo

1.     Kerajaan Gowa dan Tallo adalah dua kerajaan yang terletak di Sulawesi Selatan dan saling berhubungan baik. Benyak orang kemudian mengenal keduanya sebagai Kerajaan Makassar. Makassar sebenarnya adalah ibu kota Gowa yng juga disebut Ujungpandang  (Makassar).

2.     Karena letaknya yang strategis di perairan timur Indonesia, yaitu didaerah semenanjung barat daya Sulawesi, Kerajaan Makassar merupakan kerajaan maritime yang terkenal. Sebagi penghasil rempah-rempah, Kerajaan Makassar membentuk jalurperdagangan laut Nusantara yang sangat terkenal pada Abad 16 hingga 17 M. Kerajaan Makassar juga memiliki hubungan diplomatis yang baik dengan Kerajaan Ternate di Maluku.

3.     Sebelum abad ke- 16 M, raja-raja Makassar belum memeluk agama islam. Baru setelah kedatangan Dato’ Ri banding, seorang penyiar Islam dari Sumatra, Makassar berkembang menjadi kerajaan Islam.

4.     Sultan Alaudin adalah Raja Makassar pertama yang memeluk agama Islam. Ia berkuasa dari tahun 1591 sampai 1638. Sebelumnya, Sultan Alaudin bernama asli Karaeng Ma’towaja Tumamenenga ri Agamanna. Di bawah kepemimpinannya, Kerajaan Makassar berkembang menjadi kerajaan Maritim. Para pelaut Makassar mengembangkan perahu-perahu layer jenis Pinisi dan Lambo. Dengan majunya perdagangan, kehidupan masyarakat Kerajaan Makassar menjadi sejahtera.

5.     Setelah Sultan Alaudin wafat, Kerajaan Makassar dipimpin oleh Muhammad Said (1639-1653). Sayangnya catatan-catatan sejarah mengenai masa pemerintahan Muhammad Said kurang banyak ditemukan. Setelah Muhammad Said,

6.     Raja Makassar berikutnya adalah Sultan Hasanudin. Sultan Hasanudin berkuasa sejak tahun 1653. Masa pemerintahan Sultan Hasanudin menjadi masa gemilang Kerajaan Makassar. Selain memajukan perdagangan, Sultan Hasanudin juga mengadakan ekspansi wilayah.

7.     Dibawah pemerintahannya, Kerajaan Makassar berhasil menguasai kerajaan-kerajaan kecil di Sulawesi Selatan, yaitu Luwu, Wajo, Soppeng, dan Bone. Setelah keberhasilan tersebut, Sultan Hasanuddin juga berniat menjdikan Kerajaan Makassar sebagai penguasa tunggal di jalur perdagangan Indonesia bagian timur. Unntuk itu, Sultan Hasanudin harus mengahadapi kekuatan armada VOC Belanda sebelum dapat menguasai Maluku. Maluku yang kaya akan lada masih dikuasai oleh Belanda. Pertempuran sering terjadi antara Kerajaan Makassar dan Belanda. Akibatnya kegiatan perdagangan Belanda dengan Batavia terganggu. Keberanian Hasanuddin untuk menantang Belanda menyebabkan ia dijuluki sebagai Ayam Jantan dari Timur.

8.     Belanda bersekutu dengan Raja Bone, yaitu Aru (Tuan) Palaka. Aru Palakabersedia membantu Belanda dengan syarat bahwa Kerajaan Bone diberikan kemerdekaan. Pada tahun 1667, Belanda dengan bantuan Kerajaan Bone berhasil menekan Makassar untuk menyetujui Perjanjian Bongaya. Perjanjian ini berisi tiga buah kesepakatan, yaitu VOC mendapat hak monopoli dagang di Makassar, belanda dapat mendirikan benteng Rotterdam di Makassar, Makassar harus melepaskan daerah yang dikuasainya seperti Bone dan Soppeng serta mengakui Aru Palaka sebagai Raja Bone.
Setelah Sultan Hasanuddin turun takhta pada tahun 1669Mapasomba, putranya berusaha meneruskan perjuangan melawan Belanda. Belanda yang sangat mengharapkan tindakan kooperatif dari Mapasomba, harus mempersiapkan armada perang. Pasukan Kerajaan Makassar akhirnya berhasil dipukul mundur oleh Belanda. Dengan demikian, Makassar dan jalur perdagangannya dikuasai oleh Belanda.
Seperti juga mayoritas kerajaan-kerajaan Islamdi Nusantara. Kerajaan Makassar adalah kerajaan maritime. Sebagai kerajaan dengan banyak kepulauan, para pelaut Makassar terkenal sangat tangguh. Mereka bahkan merajai jalur pelayaran Nusantara.

9.     Hal ini ditunjang juga oleh keahlian masyarakat Makassar mandisain berbagai bentuk kapal yang kuat dan indah. Kapal-kapal seperti Pinisi, lambo, dan Padewalang dapat mengarungi perairan Indonesia bahkan ke erbagai daerah di luar Indonesia, seperti India dan Cina. Demi mengatur kegiatan perdagangan di wilayah kerajaan, Makassar memiliki hokum perdagangan yang disebut Ade Allopiloping Bicaranna Pabbahi’e.

10.  Sementara itu, letaknya yang berdekatan dengan pusat penghasil rempah-rempah, yaitu Maluku, menyebabkan Kerajaan Makassar menjadi pelabuhan penyalur gudang penyimpanan. Kondisi inilah yang menyebabkan Makassar berniat mengusir belanda dari maluku pada permulaan abad ke-17 M.
Serupa dengan kerajaan-kerajaan Islam lainnya di Indonesia, Kerajaan Makassar juga mengadopsi hokum dam ajaran Islam dalam kehidupan bermasyarakat. Pemerintah Kerajaan Makassar juga aktif menjalin hubungan kerjasama antar kerajaan Islam, seperti Demak dan Malaka.

11.  Sebagai bangsa maritime, masyarakat Makassarmemiliki keahlian membuat sarana pelayaran. Kapal-kapal Makassar tidak hanya dibuat untuk berdagang, tetapi juga untuk berperang di laut. Kapal-kapal khas Makassar seperti Pinisi bahkan masih digunakan sampai sekarang. Tekhnologi perkapalan Makassar menunjukkan salah satu sisi yang tampak dari kehidupan budaya Makassar yang cukup tinggi.

H.    Kerajaan Ternate dan Tidore.
Kerajan Ternate dan Tidore terletak di sebelah barat Pulau Halmahera, Maluku Utara. Kedua kerajaan ini masing-masing berpusat di Pulau Ternate dan Pulau Tidore. Wilayah kekuasaan kedua kerajaan ini meliputi Kepulauan Maluku dan sebagian Papua. Dari wilayah kerajaan ini banyak dihasilkan rempah-rempah, terutama cengkeh dan pala yang banyak dicari para pedagang internasional.
Pada abad ke-12 M, permintaan cengkeh dan pala dari Eropa makin meningkat. Hal ini menyebabkan dibutuhkannya perkebunan di daerah Pulau Buru, Seram, dan Ambon. Para pedaga

Mengidentifikasi Para Tokoh dan Perannya dalam Perkembangan Islam di Indonesia

Tokoh yang berperan dalam Perkembangan Islam di Indonesia
1. Syekh Abdur Rauf Singkel
2. Walisongo
3. Muhammad Arsyad al Banjari

Tokoh-tokoh yang berperan dalam perkembangan Islam di Indonesia
Para Tokoh dan Perannya
dalam Perkembangan Islam di Indonesia


1. Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari

Biografi : Lahir Desa Lok Gabang Marta Pura Kalimanatan Selatan, 19 Maret 1710 M wafat 1812 M
Pendidikan : menempuh pendidikan di Mekkah dan Madinah selama 30 tahun
Hasil Karya : Mendirikan sistem pendidikan dengan nama Kampung dalam Pagar yang menjadi cikal bakal berdirinya pondok pesantren
Sistem pendidikan yang dikembangkan oleh Syekh Muhammad Irsyad Al Banjari adalah :

a)Menciptakan pendidikan Islam yang berada dalam satu kompleks,

b) Menyediakan asrama bagi para santri,

c) Membekali ketrampilan bertani bagi para santri disamping ilmu agama.
Mengarang berbagai kitab/buku : Sabilul Muhtadin yang berarti jalan bagi orang yang mendapat petunjuk. Mrpkn kitab yang paling monumental 
2. Abdur Rauf Singkel

Biografi : Nama asli Abdur Rauf bin Ali al Fansuri, Lahir di Singkil tahun 1615 wafat 1693 M
Pendidikan : Pendidikan awal di India kemudian ke Mekkah dan Madinah selama 19 tahun
Hasil Karya : Mendirikan tarekat Syatariyah di Indonesia
Mengarang berbagai kitab/buku : Umdat al-Muhtajin ila Suluk Maslak al-Mufradin (Karya di bidang Tasawuf), Mirat al-Turab fi Tashil Ma‘rifah al-Ahkam al-Syar‘iyyah li al-Malik al-Wahab (Karya di bidang Syariah), Tarjuman al-Mustafid (Karya di bidang tafsir), Syair Makrifat (karya di bidang Sastra), Sirat al-mustaqim (karya di bidang Fiqh)
Tasawuf. Dalam hal ini Ia mengemukakan konsep “hubungan ontologis antara Pencipta (Tuhan) dengan Ciptaannya, antara yang Satu dengan yang banyak, antara wujud dengan al maujudat” . Alam mrpkn wujud yang terikat pada sifat-sifat mumkinat/serba mungki.


Abdur Rauf Singkel : berperan dalam pengembangan Islam di Sumatera terkenal sbg pendiri Tarikat Syatariyah
Muhammad Arsyad Al Banjari : berperan dalam pengembangan Islam di Kalimantan. (Pendiri Lembaga pendidikan : Madrasah / Kampung dalam Pagar)
Wali songo : berperan dalam pengembangan Islam di pulau Jawa.
Dato’ Ri Bandang : berperan dalam mengembangkan Islam di Silawesi.

Wali Songo (Penyebar Islam di Jawa)
1. Maulana Malik Ibrahim

Nama asli/kecil :Makdum Ibrahim As-Samarkandy
Tempat Lahir/asal : Samarkand (Timur Tengah)
Masa Hidup :1368 – 1419 M (abad 14 M)
Wilayah dakwah : daerah Leran Gresik
Metode dakwah : lewat perdagangan dan memberikan pengobatan kepada masyarakat yang membutuhkan secara gratis
Karya/peninggalan: Pemondokan di Leran Gresik
Tempat dimakamkan : Kampung Gapura Gresik, jawa Timur.

2. Sunan Ampel

Nama asli/kecil : Raden Rahmat
Tempat Lahir/Asal : Campa
Masa Hidup : 1401 – 1481 M
Wilayah dakwah : daerah Ampel Denta, Surabaya
Metode dakwah : memberikan pengajaran yang sederhana dan menyerukan untuk meninggalkan “Mo Limo” (moh main, moh ngombe, moh maling, moh madat, moh madon)
Karya/peninggalan: Pesantren Ampel Denta
Tempat dimakamkan : Sebelah barat masjid Ampel Surabaya

3. Sunan Giri

Nama asli/kecil : Raden Paku / Muhammad Ainul Yaqin / Jaka Samudra
Tempat Lahir/Asal :Blambangan / Banyuwangi
Masa Hidup : 1422 M
Wilayah dakwah : desa Sidomukti, selatan Gresik
Metode dakwah : lewat kesenian, gending dan permainan anak
Karya/peninggalan : permainan Jelungan, Jamuran,tembang lir-ilir, cublak suweng, gending Asmarandana dan Pucung.
Tempat dimakamkan : Giri kedaton

4. Sunan Bonang

Nama asli/kecil : Raden Makdum Ibrahim
Tempat Lahir/Asal : Ampel Surabaya
Masa Hidup : 1465 – 1525 M
Wilayah dakwah : Kediri, Bonang, Tuban, lasem Rembang.
Metode dakwah : lewat pemikiran Filsafat, sastra, seni gamelan,
Karya/peninggalan: Suluk Wijil, Gamelan, tembang Tombo Ati.
Tempat dimakamkan : sebelah barat masjid Agung Tuban

5. Sunan Drajat
Nama asli/kecil : Raden Qosim / Raden Syaifuddin
Tempat Lahir/Asal : Ampel Surabaya
Masa Hidup : 1470 M
Wilayah dakwah : Pesisir Gresik, Lamongan
Metode dakwah/usaha Dakwah :
1. Memberi pertolongan pada masyarakat umum.

2. Menyantuni anak yatim
3. Mengajak masyarakat untuk bergotong royong

4. lewat kesenian
Karya/peninggalan : Suluk pituah “berilah tongkat pada si buta/beri makan pada yang lapar/beri pakaian pada yang telanjang’
Tempat dimakamkan : Desa Drajat, Paciran-Lamongan.

6. Sunan kalijaga
Nama asli/kecil : Raden Said / Raden Abdurrahman
Tempat Lahir/Asal : Demak Jawa Tengah
Masa Hidup : 1450 – 1550 M
Wilayah dakwah : Pesisir Utara Jawa Tengah (Demak)
Metode dakwah : Lewat kesenian Wayang kulit, pemikiran filsafat.
Karya/peninggalan: Seni Wayang kulit, Tradisi Sekaten
Tempat dimakamkan : Kadilangu Demak

7. Sunan Kudus
Nama asli/kecil : Ja’far Shadiq
Tempat Lahir/Asal : Kudus
Masa Hidup :
Wilayah dakwah : daerah Kudus, Sragen, Gunung Kidul
Metode dakwah : lewat seni dan budaya (Memadukan Islam dengan budaya lokal)
Karya/peninggalan : ornamen bangunan masjid Kudus sebagai bentuk akulturasi antara Hindu dan Islam
Tempat dimakamkan : di Kudus


8. Sunan Muria
Nama asli/kecil : Raden Prawoto
Tempat Lahir/Asal : Muria
Masa Hidup :
Wilayah dakwah : Jepara, Tayu, Juana hingga sekitar Kudus dan Pati
Metode dakwah : Lewat Seni, pertanian dan perdagangan
Karya/peninggalan : lagu Sinom dan Kinanti.
Tempat dimakamkan : Gunung Muria Kudus

9. Sunan Gunung Jati
Nama asli/kecil : Syarif Hidayatullah
Tempat Lahir/Asal : Cirebon
Masa Hidup : 1448 – 1568 M
Wilayah dakwah : pesisir Cirebon, Pasundan atau Priangan, Banten
Metode dakwah : lewat kekuasaannya sebagai penguasa Pajajaran
Karya/peninggalan : Situs kerajaan Banten
Tempat dimakamkan : di daerah Gunung Sembung, Gunung Jati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *