DINASTI UMAYAH

SEJARAH BERDIRINYA

1.     Pengertian kata Bani, Dinasti dan Daulah.

Yang dimaksud Bani Umayah adalah anak, anak cucu atau keturunan Umayah bin Abdu Syams. Kata Dinasti berarti keturunan raja-raja yang memerintah dan semuanya berasal dari keluarga. Kata Daulah berarti kekuasaan, pemerintahan, atau negara. Dengan kata lain, Daulah Umayah adalah negara yang diperintah oleh  Dinasti Umayah yang raja-rajanya dari Bani Umayah

Muawiyah bin Abi Sufyan adalah putra dari Abu Sufyan bin Harb, seorang tokoh berpengaruh dari Bani Umayah. Ia masuk Islam bersama ayahnya pada saat terjadi Fathu Makkah. Pada masa Nabi Muhammad saw, ia menjadi salah satu perawi hadits yang baik. Pada masa Kholifah Abu Bakar as Shiddiq, Muawiyah bin Abu Sufyan memimpin tentara Islam dalam perang Riddah untuk menumpas kaum murtad. Peran Muawiyah bin Abu Sufyan bertambah besar pada masa Kholifah Usman bin Affan. Salah satu sebabnya adalah Usman bin Affan juga anggota Bani UmayahPada waktu itu , Muawiyah bin Abu Sufyan menjabat sebagai Gubernur di Damaskus ( Suriah ).
Wafatnya Khalifah Usman bin Affan menjadi momentum perpecahan dikalangan umat Islam , yaitu :

a.     Kelompok Mu’awiyah menuntut bela atas terbunuhnya Khalifah Usman bin Affan dan Khalifah Ali bin Abi Thalib juga ikut bertanggung jawab.

b.     Kelompok Aisyah, Zubair dan Talhah menyatkan tidak setuju atas tuntutan bela wafatnya Usman bin Affan, begitu pula tidak setuju atas pengangkatan Ali bin Abi Thalib sebagai Khalifah

c.     Kelompok pendukung Khalifah Ali bin Abi Thalib

     Peristiwa terbunuhnya Khalifah Usman bin Affan menyebabkan perpecahan antara Muawiayh bin Abu Sufyan dengan Ali bin Abi Thalib yang menggantikan Usman bin Affan sebagai Khalifah. Kelompok Bani Umayah merasa tidak puas terhadap kebijakan Khalifah Ali bin Abi Thalib dalam menangani kasus terbunuhnya Usman bi Affan. Perselisihan antara Ali bin Abi Tahlib dan Muawiyah bin Abi Sufyan akhirnya pecah menjadi Perang ShiffinPerang diakhiri dengan peristiwa Tahkim yang menyebabkan munculnya 2 kelompok

  1. Kelompok Syi’ah , yaitu kelompok yang setuju dan mendukung keputusan Khalifah Ali bin Abi Thalib
  2. Khawarij, yaitu kelompok di pihak Ali bin Abi Thalib yang tidak mau menerima hasil Tahkim. Perselisihan tersebut berakhir dengan terbunuhnya Ali bin Abi Thalib oleh Ibnu Muljam dari kelompok Khawarij.

     Sepeninggal Ali bin Abi Thalib pemerintahan  dilanjutkan oleh Putranya Hasan bin Ali, akan tetapi Hasan hanya bertahan beberapa bulan. Posisinya yang makin lemah dan keinginannya untuk mempersatukan umat islam membuat Hasan bin Ali menyerahkan pemerintahan kepada Muawiyah bin Abu Sufyan. Hasan bin Ali tidak menginginkan peperangan berkepanjangan yang menyebabkan banyak korban jiwa dikalangan umat Islam. Penyerahan Dari Hasan bin Ali kepada Muawiyah bin Abi Sufyan dengan 3 perjanjian yaitu :

  1. Mu’awiyah harus memberi jaminan akan keselamatan Hasan dan keluarganya.
  2. Mu’awiyah harus menjaga nama baik Khalifah Ali bin Abi Thalib termasuk menghentikan caci maki didalam kutbah maupun dalam pidato-pidatonya
  3. Setelah Mu’awiyah wafat jabatan khalifah harus diserahkan kepada musyawarah kaum muslimin

     Peristiwa penyerahan kekuasaan dari Hasan bin Ali kepada Muawiyah bin Abu Sufyan itu terkenal dengan sebutan Amul Jama’ah atau tahun penyatuanPeristiwa itu terjadi pada tahun 661 M. Sejak itu, secara resmi pemerintahan Islam dipegang oleh Muawiyah bin Abu Sufyan. Ia kemudian memindahkan pusat kekuasaan dari Madinah ke Damaskus ( Suriah ). Keturunan Umayah memegang kekuasaan Islam selama 90 tahun, kemudian dikenal dengan Dinasti Umayah. Selama kurun waktu tersebut pemerintahan dipegang oleh 14 orang. Khalifah-Khalifah itu adalah sebagai berikut :

1.     Muawiyah bin Abu Sufyan ( Muawiyah I )        661-680 M

2.     Yazid bin Muawiyah ( Yazid II )                        680-683 M

3.     Muawiyah bin Yazid                                         683-684 M

4.     Marwan bin Hakam (Marwan I)                       684-685 M

5.     Abdul Malik bin Marwan                                  685-705 M

6.     Al Walid bin Abdul Malik ( Al Walid II )             705-715 M

7.     Sulaiman bin Abdul Malik                                 715-717 M

8.          Umar bin Abdul Aziz ( Umar II )                      717-720 M

9.          Yazid bin Abdul Malik ( Yazid II )                    720-724 M

10.       Hisyam bin Abdul Malik                                   724-743 M

11.       Al-Walid bi Yazid ( Al Walid II )                      743-744 M

12.       Yazid bin al Walid ( Yazid III )                         744 M

13.       Ibrahim bin al Walid                                          744 M

14.       Marwan bin Muhammad ( Marwan III              744-750 M

Pada masa awal , kebijakan pemerintah Dinasti Umayah lebih banyak ditujukan untuk memperluas wilayah Islam dengan kekuatan militer. Namun pada periode berikutnya, dinasti ini berhasil menata pemerintahannya diberbagai bidang. Hal ini  tercapai berkat jasa dari empat orang Khalifah , yaitu :

  1. Abdul Malik bin Marwan
  2. Walid bin Abdul Malik
  3. Umar bin Abdul Aziz
  4. Hisyam bin Abdul Malik

Pada masa pemerintahan merekalah tercapai kemakmuran dan kemajuan yang tidak hanya dinikmati oleh rakyat yang beragama Islam saja, namun kemajuan dan kemakmuran tersebut dapat dinikmati oleh kalangan non muslim. karena pada saat itu kas negara sangat banyak dan melimpah bahkan sulit untuk mencari seseorang yang mau menerima zakat.

PERKEMBANGAN  ISLAM PADA MASA  DINASTI UMAYYAH

Islam pada masa Dinasti Umayyah  banyak  mencapai  kemajuan, perkembangan serta mampu memperluas  wilayah  kekuasaan, Ini  berlangsung  pada masa pemerintahan khalifah  Walid bin Abdul Malik. Pada awal pemerintahan Muawiyah bin  Abi Sufyan telah mengadakan  perluasan  wilayah  kekuasaan  hingga daerah  sebelah  timur  India  dengan  mengutus  Mushallab  bin Abu  Sufrah dan wilayah  barat  hingga  Byzantium,  di bawah  pimpinan  Yazid  bin Muawiyyah. Selain  itu juga  berhasil menguasai  Afrika Utara.

Dalam usaha perluasan wilayah ke Byzantium ada tiga motivasi bagi Muawiyyah untuk menguasainya, yaitu:

1.    Byzantium merupakan basis agama Kristen Ortodok,  yang  sangat berbahaya bagi perkembangan agama Islam.

2.    Orang-orang Byzantium sering mengadakan perampokan sampai ke daerah Islam.  

3.    Byzantium merupakan wilayah yang mempunyai kekeyan yang melimpah.        

Pada masa pemerintahan berikutnya dibawah kekuasaan Walid bin Abdul Malik, berhasil memperluas wilayah kekuasaannya sampai Afrika Utara yaitu ke Magrib al-Aqsho dan Andalusia (Spanyol). Atas kegigihan dan keberanian Musa bin Nushair dalam menguasai wilayah tersebut maka beliau diangkat oleh Walid sebagai gubernur untuk wilayah Afrika Utara. Dan ia terus melanjutkan usahanya dalam memperluas wilayah Islam sampai tepi lautan Atlantik dengan di pimpin Thariq bin ziad yang di bantu oleh Gran Julian. mereka juga diutus  untuk merebut wilayah Andalusia dan tepatnya pada tahun 711 M Thariq mendarat di sebuah Selat yang sekarang di sebut sebagai Selat Jabal Thariq atau Selat Gibraltar. 

Selain dalam memperluas wilayah kekuasaan, Dinasti Umayyah juga mengalami perkembangan dalam bidang kebudayaan di bandingkan dengan perkembangan pada masa sebelumnya, yaitu pada masa Khulafaur Rasyidin. Demikian pula perkembangan ilmu pengetahuan mengalami perkembangan dengan baik. Diantara kebudayaan Islam yang mengalami perkembngn pada masa ini adalah seni sastra, seni rupa, seni suara, seni bangunan, seni ukir, dan sebagainya. Pada masa ini telah banyak bangunan hasil rekayasa umat Islam dengan mengambil pola Romawi, Persia, dan Arab. Salah satu dari bangunan itu adalah masjid Damaskus yang di bangun pada masa pemerintahan Walid bin Abdul Malik dengan hiasan dinding dan ukiran yang sangat indah. Contoh lain adalah bangunan masjid-masjid di Cordova yang terbuat dari batu pualam.[3]

Dalam perkembangan ilmu pengetahuan, tidak hanya meliputi ilmu pengetahuan agama saja, tetapi juga ilmu pengetahuan umum, seperti ilmu kedokteran, filsafat, astronomi, ilmu pasti, ilmu bumi, ilmu sejarah, dan sebagainya. Kota yang menjadi pusat pusat kajian ilmu pengetahuan antara lain adalah Damaskus, Kufah, Mekkah, Madinah, Mesir, Cordova, Granada, dan lainnya. Dengan Masjid sebagai pusat pengajarannya, selain madrasah atau lembaga pendidikan yang ada.

3.    Sistem pemerintahan pada masa Daulah Umayyah

Pemindahan kekuasaan kepada Muawiyah mengakhiri bentuk demokrasi, kekhalifahan menjadi monarchi heridetis (kerajaan turun temurun), yang diperoleh tidak dengan pemilihan atau suara terbanyak. Penggantian khalifah secara turun  temurun dimulai dari sikap Mu’awiyah yang mengangkat anaknya, Yazid, sebagai putera mahkota. Sikap Mu’awiyah seperti ini dipengaruhi oleh keadaan Syiria selama dia menjadi gubernur disana. Dia memang bermaksud mencontoh monarchi heridetis di Persia dan kekaisaran Byzantium.

Pada masa Abdul Malik ibn Marwan, jalannya pemerintahan di tentukan oleh empat  departemen pokok (diwan). Keempat departemen (kementrian) itu adalah:

1.    Kementrian Pajak Tanah (diwan al-kharraj) yang tugasnya mengawasi departemen keuanagan

2.    Kementrian Khatam (diwan al-Khatam) yang bertugas merancang dan mengesahkan ordonasi pemerin pemerintah.

3.    Kementrian Surat Menyurat (diwan al-Rasail), di percayakan untuk mengontrol permasalahan di daerah–daerah dan semua komunikasi dari gubernur –gunernur.

4.    Kementrian urusan perpajakan(diwan al-mustagallat).

Pembidangan ilmu

menurut ahli sejarah jarji Zaidan bahwa ilmu pengetahuan pada zaman Daulah Umayah terbagi dalam dua bidang besar, yaitu :

1.     Al-Adaabul Hadisah (ilmu-ilmu baru), yang terpecah menjadi 2 bagian, yaitu :

a.          Al-Ulumul Islamiyah, yaitu ilmu-ilmu al-Qur’an, al-hadits, fiqh, al-ulumul lisaniyah, at tarikh dan al-jughrafi

b.          Al-Ulumud Dakhiliyah, yaitu ilmu-ilmu yang diperlukan oleh kemajuan islam, seperti ilmu-ilmu thib, filsafat, ilmu pasti dan ilmu-ilmu eksak dll yang disalin dari bahasa Persia dan Romawi

2.     Al-Adaabul Qadimah (ilmu-ilmu lama), yaitu ilmu-ilmu yang telah ada ada di zaman jahiliyah dan di zaman khulafaur rasyidin seperti limu-ilmu lughah, syair, khitabah dll.

a.   Ilmu Qiraat

adalah ilmu cara membaca al-Qur’an. ilmu ini mempunyai kedudukan sangat penting pada permulaan islam, sehingga orang-orang yang pandai baca Qur’an dinamakan qurra. Setelah naskah Qur’an yang sah dikirim ke berbagai kota-kota islam, maka lahirlah dialek bacaan tertentu bagi tiap-tiap penduduk kota, yang mana mereka mengikuti bacaan seorang qari yang dianggap sah bacaannya. Akhirnya masyhurlah tujuh macam bacaan al-Qur’an yang terkenal dengan Qira’ah Sab’ah. adapun kebanyakan pelopor Qira’ah sab’ah yang kebanyakan dari kaum mawaly antara lain : Abdullah bin Katsir, Ashim bin Abi Nujud, Abdullah bin Amir Al-jahshaby, Ali bin Hamzah Abu Hasan al-Kisai, Hamzah bin Habib az-Zaiyaat, Abu Amr bin al-A’la, dan Nafi bin Abi Na’im

b.   Ilmu Tafsir

Ali tafsir  yang pertama pada masa ini yaitu Ibnu Abbas, seorang sahabat yang terkenal yang wafat thn 68 H. Beliau menafsirkan al-Qur’an dengan riwayat dan isnad. Setelah Ibnu Abbas, ahli tafsir lainnya adalah Mujahid yang wafat thn 104 H.  Pada masa ini ilmu tafsir belum berkembang pesat seperti halnya zaman dinasti abasiyah.

c.   Ilmu hadits

Di antara muhaddisin yang termasyhur pada zaman ini yaitu :

Abu Bakar Muhammad bin Muslim bin Ubaidillah bin abdullah bin Syihab az-Zuhri (w. thn 123 H), Ibnu abi Malik (w. 119 H), al-Auza’i (w.159 H), hasan Basri (w.110 H), As-sya’by (w.104 H). Pada masa khalifah Umar bin Abdul Aziz, barulah kaum muslimin membukukan hadits. Dan orang yang mula-mula  membukukan hadits adalah Ibnu syihab az-Zuhri.

d.   Ilmu nahwu

Pembuat ilmu nahwu pertama dan membukukannya seperti halnya sekarang yaitu Abu Aswad Ad-Dualy (w. 69 H), beliau belajar dari khalifah Ali bin Abi Thalib.

e.   Tarikh dan Jughrafia

Pembukuan sejarah dimulai pada zaman Bani Umayah dan pada masa Dinasti Abasiyah ilmu tarikh menjadi berkembang pesat. Sehingga kaum muslimin telah mengarang kitab-kitab sejarah yang banyak sekali bahkan dalam kitab Kasyfud Dhunun ada lebih 1300 judul. Ilmu jughrafi di zaman ini baru dalam taraf merintis jalan. Menurut ahli sejarah bnu Mas’ud bahwa khalifah Abdul Malik sangat gemar kepada ilmu bintang, sehingga tiap hendak ke medan perang selalu dibawanya ahi ilmu bintang.

f.    Al-Ulumud Dakhilah

yaitu ilmu-ilmu yang disalin dari bahasa asing ke dalam bahasa arab dan disempurnakan. Pada masa ini gerakan penerjemahan baru dalam taraf perintisan jalan. Orang yang pertama kali menerjemahkan ilmu-ilmu thib dan kimia ke dalam bahasa arab yaitu Khalid bin Yazid bin Muawiyah (W.86 H).

Keberhasilan Yang Dicapai
Dalam hal ini terbagi menjadi dua, yaitu material dan immaterial

1.     Bidang Material :

a)     Muawiyah mendirikan Dinas pos dan tempat-tempat tertentu dengan menyediakan kuda dengan peralatannya disepanjang jalan. Dia juga berusaha menertibkan angkatan bersenjata.

b)     Mu’awiyah merupakan khalifah yang mula-mula menyuruh agar dibuatkan ”anjung” dalam masjid tempat is sembahyang. Ia sangat khwatir akan keselamatan dirinya, karena khalifah Umar dan Ali, terbunuh ketika sedang melaksanakan shalat.

c)     Lambang kerajaan sebelumnya Al-Khulafaur Rasyidin, tidak pernah membuat lambang Negara baru pada masa Umayyah, menetapkan bendera merah sebagai lambang negaranya. Lambang itu menjadi ciri khas kerajaan Umayyah.

d)     Mu’awiyah sudah merancang pola pengiriman surat (post), kemudian dimatangkan lagi pada masa Malik bin Marwan. Proyek al-Barid (pos) ini, semakin ditata dengan baik, sehingga menjadi alat pengiriman yang baik pada waktu itu.

e)     Arsitektur semacam seni yang permanent pada tahun 691H, Khalifah Abd Al-Malik membangun sebuah kubah yang megah dengan arsitektur barat yang dikenal dengan “The Dame Of The Rock” (Gubah As-Sakharah).

f)      Pembuatan mata uang dijaman khalifah Abd Al Malik yang kemudian diedarkan keseluruh penjuru negeri islam.

g)     Pembuatan panti Asuhan untuk anak-anak yatim, panti jompo, juga tempat-tempat untuk orang-orang yang infalid, segala fasilitas disediakan oleh Umayyah.

h)     Pengembangan angkatan laut muawiyah yang terkenal sejak masa Uthman sebagai Amir Al-Bahri, tentu akan mengembangkan idenya dimasa dia berkuasa, sehingga kapal perang waktu itu berjumlah 1700 buah.

i)       Khalifah Abd Al-Malik juga berhasil melakukan pembenahan-pembenahan administrasi pemerintahan dan memberlakukan bahasa arab sebagai bahasa resmi administrasi pemerintahan Islam yang tadinya berbahasa Yunani dan Pahlawi sehingga sampai berdampak pada orang-orang non Arab menjadi pandai berbahasa Arab dan untuk menyempurnakan pengetahuan tata bahasa Arab orang-orang non Arab, disusun buku tata bahasa Arab oleh Sibawaih dalam al-Kitab.

j)       Merubah mata uang yang dipakai di daerah-daerah yang dikuasai Islam. Sebelumnya mata uang Bizantium dan Persia seperti dinar dan dirham. Penggantinya uang dirham terbuat dari mas dan dirham dari perak dengan memakai kata-kata dan tulisan Arab.

k)     Perluasaan wilayah kekuasaan dari Afrika menuju wilayah Barat daya, benua Eropa, bahkan perluasaan ini juga sampai ke Andalusia (Spanyol) di bawah kepemimpinan panglima Thariq bin Ziad, yang berhasil menaklukkan Kordova, Granada, dan Toledo.

l)       Dibangun mesjid-mesjid dan istana. Katedral St. Jhon di Damaskus dirubah menjadi mesjid, sedang Katedral yang ada di Hims dipakai sebagai mesjid dan gereja. Di al-Quds (Jerussalem) Abdul Malik membangun mesjid al-Aqsha. Monumen terbaik yang ditinggalkan zaman ini adalah Qubah al-Sakhr di al-Quds. Di mesjid al-Aqsha yang menurut riwayatnya tempat Nabi Ibrahim hendak menyembelih Ismail dan Nabi Muhammad mulai dengan mi’raj ke langit, mesjid Cordova di Spanyol dibangun, mesjid Mekah dan Madinah diperbaiki dan diperbesar oleh Abdul Malik dan Walid.

m)   Bahkan pada masa, Sulaiman ibn Malik, telah dibangun pembangunan mega raksasa yang terkenal dengan Jami’ul Umawi.

2.     Bidang Immaterial

a)     Mendirikan pusat kegiatan ilmiah di Kufah dan Bashrah yang akhirnya memunculkan nama- nama besar seperti Hasan al-Basri, Ibn Shihab al-Zuhri dan Washil bin Atha. Bidang yang menjadi perhatian adalah tafsir, hadits, fikih, dan kalam.

b)     Penyair-penyair Arab baru bermunculan setelah perhatian mereka terhadap syair Arab Jahiliyah dibangkitkan. Mereka itu adalah Umar Ibn Abi Rabiah (w. 719 m.), Jamil al-Udhri (w. 701 M.), Qays Ibn al-Mulawwah (w. 699 M.) yang lebih dikenal dengan nama Majnun Laila, al-Farazdaq (w 732M.), Jarir (w. 792 M) dan al-Akhtal (w. 710 M.).

3.     Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Sastra-Seni

Waktu dinasti ini telah mulai dirintis jalan ilmu naqli ; berupa filsafat dan eksakta. Dan ilmu pengetahun berkembang dalam tiga bidang, yaitu bidang diniyah, tarikh, dan filsafat. Kota-kota yang menjadi pusat ilmu pengetahuan selama pemerintahan dinasti Umayah, antara lain kota Kairawan, Kordoba, Granda dan lain sebagainya.

Sehingga secara perlahan ilmu pengetahuan terbagi menjadi dua macam, yaitu :

1.      Al-Adaabul Hadits (ilmu-ilmu baru), yang meliputi :

a.          Al-ulumul Islamiyah (ilmu al-Qur’an, Hadist, Fiqh, al-Ulumul Lisaniyah, At-Tarikh dan al-Jughrafi),

b.Al-Ulumul Dkhiliyah (ilmu yang diperlukan untuk kemajuan Islam), yang meliputi : ilmu thib, filsafat, ilmu pasti, dan ilmu eksakta lainnya yang disalin dari Persia dan Romawi.

2.     Al-Adaabul Qadamah (ilmu lama), yaitu ilmu yang telah ada pasa zaman Jahiliyah dan ilmu di zaman khalifah yang empat, seperti ilmu lughah, syair, khitabah dan amtsal.

Pada masa ini pula sudah mulai dirancang tentang undang-undang yang bersumber dari al-Qur’an, sehingga menuntut masyarakat mempelajari tentang tafsir al-Qur’an. Salah seorang ahli tafsir pertama dan termashur pada masa tersebut adalah Ibnu Abbas. Pada waktu itu beliau telah menafsirkan al-Qur’an dengan riwayat dan isnad, kemudian kesulitan-kesulitan dalam mengartikan al-Qur’an dicari dalam al-hadist, yang pada gilirannya melahirkan ilmu hadist. Dan akhirnya kitab tentang ilmu hadist sudah mulai dikarang oleh para ulama muslim.

Beberapa ulama hadist yang terkenal pada masa itu, antara lain :

3.                                                          Abu Bakar Muhammad bin Muslim bin Ubaidilah bin Abdullah bin Syihab az-Zuhri,

4.                                                          Ibnu Abi Malikah (Abdullah bin Abi Malikah at-Tayammami al-Makky,

5.                                                          Al-Auza’i Abdurrahman bin Amr,

6.                                                          Hasan Basri as-Sya’bi.

Dalam bidang hadist ini, Umar bin Abd Aziz secara khusus memerintahkan Ibn Syihab az-Zuhri untuk mengumpulkan hadist. Oeh karena itu, Ibnu Syihab telah dianggap sanat berjasa dalam menyebarkan hadist hingga menembus berbagai zaman. Sejak saat itulah perkembangan kitab-kitab hadist mulai dilakukan.[7]

4.     Gerakan Penerjemahan dan Arabisasi
Gerakan penerjemahan ke dalam bahasa Arab (Arabisasi buku), juga dilakukan, terutama pada masa khalifah Marwan. Pada saat itu, ia memerintahkan penerjemahan sebuah buku kedokteran karya Aaron, seorang dokter dari iskandariyah, ke dalam bahasa Siriani, kemudian diterjemahkan lagi ke dalam bahasa Arab. Demikian pula, Khalifah memerintahkan menerjemahkan buku dongeng dalam bahasa sansakerta yang dikenal dengan Kalilah wa Dimnah, karya Bidpai. Buku ini diterjemahkan oleh Abdullah ibnu Al-Muqaffa. Ia juga telah banyak menerjemahkan banyak buku lain, seperti filsafat dan logika, termasuk karya Aristoteles :Categoris, Hermeneutica, Analityca Posterior serta karya Porphyrius :Isagoge.

Dinasti Abbasiyah

Kelompok-kelompok yang merasa tidak puas terhadap Dinasti Umayyah yang menyebabkan runtuhnya dinasti tersebut :

1.     Kelompok muslim non Arab (Mawali) yang memprotes kedudukan mereka sebagai warga kelas dua dibawah warga muslim Arab.

2.     Kelompok Syiah dan Khawarij yang menganggap Dinasti Umayyah telah merampas kekhalifahan.

3.     Kelompok muslim Arab di Mekah, Madinah, dan Irak yang merasa sakit hati atas perlakuan istimewa terhadap penududuk Suriah

4.     Kelompok muslim yang saleh, baik Arab maupun non Arab yang menganggap keluarga Dinasti Umayyah bergaya hidup mewah jauh dari ajaran Islam.

ž Kelompok-kelompok tersebut membentuk suatu kekuatan gabungan yang dikoordinasi dan dipimpin oleh keturunan Al-Abbas, Paman Nabi Muhammad.

ž Untuk mencari dukungan masyarakat luas, kelompok Dinasti Abbasiyah melakukan propaganda yang mereka sebut sebagai Gerakan Dakwah.

ž Mereka  mempropagandakan  bahwa “menggulingkan kekuasaan pemerintah Dinasti Umayyah merupakan perintah agama”.

ž Di samping itu untuk meraih simpati umat dan dukungan kaum Syiah mereka tidak mengusung nama Bani Abbas tetapi mengusung nama Bani Hasyim. Mereka mengatakan bahwa jabatan khalifah merupakan hak keluarga Nabi.

ž Gerakan mereka didukung oleh kaum Syiah, Khawarij dan Mawali di kota Khurasan yang sebelumnya selalu ditindas oleh Dinasti Umayyah.

ž Persamaan nasib sebagai kelompok yang tertindas inilah yang membuat ketiga kelompok itu mendukung propaganda ini.

ž Jadi latar belakang lahirnya Dinasti Abbasiyah, yaitu kekecewaan yang menumpuk dan bersatu akibat dari kekeliruan dan kesalahan para penguasa Dinasti Umayyah dalam mengambil kebijakan.

ž Gerakan menentang Dinasti Umayyah semakin membesar saat Dinasti Umayyah dijabat khalifah yang terkahir yaitu Marwan bin Muhammad (Marwan II).

A.      Proses Pembentukan Dinasti Abbasiyah

Dinasti ini didirikan oleh Abu Abbas As Saffah (As Saffah berarti penumpah darah, Ia diberi gelar ini karena ia memiliki kemauan yang keras dan tidak segan-segan untuk menumpahkan darah guna mewujudkan keinginannya).

ž  Langkah-langkah Bani Abbas untuk mendirikan Daulat Abbasiyah :

1.          Membentuk gerakan di bawah tanah dengan melakukan propaganda (menyusun kekuatan  secara diam-diam) dengan tokohnya antara lain : Muhammad Al-Abbas, Ibrahim Al Imam, Abu Muslim Al-Khurasani

Dari ketiga tokoh propaganda tesebut Abu Muslim Al Khurasani merupakan propagandis yang paling sukses dan terkenal.

2.          Menerapkan politik bersahabat, artinya keturunan Bani Abbas tidak memperlihatkan sikap bermusuhan dengan Bani Umayyah atau siapapun.

3.          Menggunakan nama Bani Hasyim (Ahlul Bait). Hal ini dimaksudkan agar mendapat simpati umat dan dukungan dari kelompok pendukung Ali (Syiah).

4.          Menjadikan Khurasan sebagai pusat kegiatan gerakan Bani Abbas yang dipimpin oleh Abu Muslim Al-Khurasani.

              Strategi ini ternyata berhasil menghimpun kekuatan besar dan dahsyat yang tidak bisa dibendung lagi oleh golongan manapun juga. Dalam perjuangannya untuk mendirikan Dinasti Abbasiyah, para tokoh pendiri Dinasti ini menerapkan cara kepemimpinan yang bersifat kolektif (kolegial leadership),namun tertutup dengan gerakan bawah tanah. Para tokoh pendiri Dinasti Abbasiyah menetapkan tiga kota sebagai pusat kegiatan, yaitu : Humaymah sebagai pusat perencanaan organisasi, Kufah sebagai kota penghubung dan Khurasan sebagai pusat gerakan praktis

ž  Proses berdirinya Dinasti Abbasiyah dimulai dari tahap persiapan dan perencanaan  yang dilakukan oleh Ali bin Abdulloh bin Abbas. Gerakan bawah tanah dan propaganda untuk mendirikan Dinasti Abbasiyah ini dimulai ketika Dinasti Umayyah berada di bawah kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz (717-720 M). Pada waktu itu Umar bin Abdul Aziz memimpin dengan adil. Negara dalam keadaan aman, tentram dan stabil. Ia juga menerapkan  persamaan hak kepada seluruh warga negara. Kondisi ini memberi peluang pada Bani Abbas untuk menyusun kekuatan dengan melakukan gerakan bawah tanah dan propaganda di kota Al Humaymah

Peluang emas yang dimiliki Bani Abbas untuk merebut kekuasaan Bani Umayyah itu terjadi pada masa Kholifah Marwan Bin Muhammad (127 – 132 H = 745 – 750 M) yakni kholifah Bani Umayyah terakhir, di mana waktu itu pemerintahan Dinasti Umayyah mencapai puncak kekacauan yang sulit diatasi. Pemimpin gerakan Bani Abbasiyah pada waktu itu adalah Muhammad bin Ali (wafat tahun 743 M) kemudian diteruskan anaknya Ibrahim Al Imam dengan mengangkat Abu Muslim Al Khurasani sebagai panglima perang

ž  Abu Muslim Al-Khurasani merupakan seorang pemuda yang pemberani, pada usia 19 tahun ia diangkat sebagai panglima perang oleh Ibrahim Al Imam. Ia banyak memperoleh dukungan di kota Khurasan. Pernah dalam sehari ia berhasil menarik simpati penduduk dari sekitar 60 desa di sekitar Merv. Abu Muslim Al Khurasani  mengajak golongan Syiah, golongan Alawiyyin (Bani Ali) untuk menentang Bani Umayyah yang telah menindas mereka.

ž  Sebelum Abu Muslim Al Khurasani diangkat sebagai panglima perang, gerakan dakwah dan propaganda dilakukan secara diam-diam. Hal itu dilakukan karena belum berani melawan Dinasti Umayyah secara terang-terangan. Pada tahun 747 M setelah Abu Muslim Al Khurasani diangkat menjadi panglima perang, Ibrahim Al Imam menyuruhnya untuk merebut kota Khurasan dan menyingkirkan orang-orang Arab yang mendukung Dinasti Umayyah. Namun rencana ini tercium oleh khalifah Marwan II dan akhirnya Ibrahim Al Imam ditangkap dan dipenjara hingga meninggal. Selanjutnya komando perlawanan diambil alih keponakan Ibrahim Al Imam yang bernama Abdulloh bin Muhammad yang dikenal sebagai Abu Abbas As Saffah. Ia tetap menunjuk Abu Muslim Al Khurasani untuk menjadi panglima dan melakukan perlawanan di Khurasan.

ž  Tokoh-tokoh pendiri Bani Abbasiyah

1.          Muhammad bin Ali bin Abdullah,

2.           Ibrahim al Imam,

3.           Abu Muslim Al Khurasani,

4.           Abul Abbas as-Shaffah

5.           Abu Ja’far al Mansyur.

Kemajuan peradaban dinasti abbasiyah

Bidang Imaterial :
Kemajuan yang dicapai dinasti Abbasiyah mencakup ilmu agama, filsafat dan sain (Harun Nasution, 2001:65-69). Ilmu agama yang dikembangkan pada masa ini mencakup:

I.          Ilmu Hadits, Tokohnya:

1.     Al-Bukhori dengan kitabnya al-Jam’i al-Shahih dan Tarikh al-Kabir,

2.     Muslim dengan kitabnya Shahih Muslim,

3.     Ibnu Majjah,

4.     Abu Dawud,

5.     al-Tirmidzi, dan

6.     al-Nasa’i.

II.          Ilmu Tafsir, Tokohnya:

1.     Ibnu Jarir Ath Thabari dengan karyanya Jami al-Bayan fi Tafsir al- Qur’an sebagai pegangan pokok bagi mufassir hingga sekarang,

2.     Abu Muslim Muhammad Ibn Bahar al-Ashfahani dengan tafsirnya Jami’ut Ta’wil,

3.     Ar-Razy dengan tafsirnya Al-Muqthathaf.

III.          Ilmu Fiqih, Tokohnya:

1.        Abu Hanifah dengan kitabnya Musnad al-Imam al-A’dhom atau Fiqh al-Akbar,

2.        Malik dengan kitabnya al-Muwatha’,

3.        Syafi’i dengan kitabnya al-Um dan al-Fiqh al-Akbar fi al-Tauhid, dan

4.        Ibn Hambal dengan kitabnya al-Musnad.

IV.          Ilmu Tasawuf atau Mistisisme Islam Tokohnya:

1.        Abu Bakr Muhammad al-Kalabadi dengan karyanya al-Ta’arruf li Mazhab Ahl al-Tasawuf,

2.        Abu Nasr as-Sarraj al-Tusi dengan karyanya al-Luma’,

3.        Abu Hamid al-Ghazali dengan karyanya Ihya ‘Ulum al-Din, dan

4.        Abu Qasim Abd al-Karim al- Qusyairi dengan karyanya Maqamat.

5.        Tokoh lainnya, Zunnun al-Misri, Abu Yazid al-Bustami, Husain Ibn Mansur al-Hallaj, dsb.

V.          Ilmu Kalam atau Theologi, Tokohnya seperti

1.        Washil bin Atha’,

2.        Ibn al-Huzail,

3.        al-Allaf, dll dari golongan Mu’tazilah,

4.        Abu al-Hasan al-Asy’ari dan al-Maturidi dari ahli sunnah.

VI.          Ilmu Tarikh atau Sejarah, Tokohnya: Ibn Hisyam (abad VIII), Ibn Sa’d (abad IX), dll.

VII.          Ilmu Sastra Tokohnya:

1.        Abu al-Farraj al-Isfahani dengan karyanya Kitab al-Aghani,

2.        al-Jasyiari dengan karyanya Alfu Lailah wa Lailah di pertengahan abad X.

VIII.          Ilmu agama lainnya seperti ilmu al-Qori’ah, ilmu Bahasa, dan Tata Bahasa.

Di antara ilmu yang menarik pada masa dinasti Abbasiyah adalah Filsafat. Ilmu ini berasal dari Yunani kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, bahkan juga buku-buku yang berasal dari Persia maupun Spanyol. Dari gerakan ini muncul para filosof Islam, seperti:

  1. Al-Kindi (185-260 H/801-873 M), Al-Kindi lahir di Kufah, karyanya sekitar 270 buah yang dikelompokkan oleh ibn Nadim dan al-Qifti menjadi 17, yaitu: filsafat, logika, ilmu hitung, globular, musik, astronomi, geometri, sperikal, medis, astrologi, dialektika, psikologi, politik,240 meteorology, dimensi, benda-benda pertama, dan spesies tertentu logam dan kimia.
  2. Al-Razi (251-313 H/865-925 M)
    Nama latinnya adalah Rhazes, lahir di Rayy dekat Teheran. Buku-buku filsafatnya antara lain: Al-Tibb al-Ruhani, Al-shirat al-Falsafiyyah, Amarat Iqbal al-Daulah, Kitab al-Ladzdzah, Kitab al-Ilm al-Ilahi, dll.
  3. Al-Farabi (258-339 H/870-950 M)
    Di Barat dikenal dengan nama Alpharbiu, lahir di Wasij (suatu desa di Farab/ Transoxania). Selain seorang filosof, ia juga ahli dalam bidang logika, matematika, dan pengobatan. Dalam bidang fisika, ia menulis kitab al-Musiqa. Di antara karyanya adalah: al-Tanbih ‘ala Sabil al-Sa’adat, Ihsha al-Ulum, al-Jam’ bayn Ra’y al-Hakimayn, Fushush al-Hikam, dll.
  4. Ibn Sina (370-428 H/980-1037 M)
    Nama latin Ibn Sina adalah Avicenna, lahir di Afsyana (dekat Bukhara). Selain ahli filsafat dan kedokteran, beliau juga memiliki karya dalam bidang logika, matematika, astronomi, fisika, mineralogy, ekonomi, dan politik. Karyanya antara lain: Kitab al-Syifa, Kitab al-Nadjat, Al-Isyarat wat-Tanbihat, Al-Hikmat al-Masyriqiyyah, dll.
  5. Al-Ghazali (455-507H/1059-1111 M)
    Beliau bergelar hujjatul Islam, lahir di Ghazaleh dekat Tus di Khurasan. Karyanya antara lain: Al-Munqidz min ad-Dlalal, Tahafut al-Falasifah, Ihya Ulumuddin, Qawaid al-‘Aqaid, Misykat al-Anwar, dll.
  6. Ibn Rusyd (520-595 H/1126-1198 M)
    Di Barat namanya Averroes, lahir di Cordova. Bukunya yang terpenting ada empat: Bidayatul Mujtahid, Faslul Maqal fi ma baina al-Hikmati was Syari’at min al- Ittisal, Manahij al-Adillah fi Aqaidi Ahl al-Millah, dan Tahafut at-Tahafut.
  7. Ibn Bajjah (w. 533 H/1138 M)
    Beliau lahir di Saragossa dan karyanya berupa risalah antara lain: Al-Ittisal, al- Wada’, Tadbir al-Mutawahhid, dll.
  8. Ibn Tufail (506-581 H/1110-1185 M)
    Beliau lahir di Granada. Karangannya tentang filsafat, fisika, metafisika, kejiwaan dan sebagainya tidak sampai kepada kita kecuali satu yaitu risalah Hay bin Yaqzhan.

Kemajuan sains pada masa dinasti Abbasiyah didukung oleh Science Policy, yakni antara lain dengan didirikannya akademi, sekolah dan observatorium (lembaga ilmiah yang melakukan penelitian dan pengajarannya sekaligus) di samping perpustakaan. Dengan kebijakan tersebut menimbulkan kemajuan-kemajuan dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan, seperti:

  1. Kedokteran, Tokohnya: Al-Razi dengan karyanya al-Hawi, Ibn Sina dengan karyanya al-Qanun fi al-Tibb (Canon of Medicine) dan Materia Medica yang memuat 760 obat-obatan.
  2. Ilmu Kimia, Tokohnya: Jabir Ibn Hayyan yang berpendapat bahwa logam seperti timah, besi dan tembaga dapat diubah menjadi emas atau perak dengan menggunakan obat rahasia. Ia mengetahui cara membuat asam belerang, asam sendawa, dan aqua regia yang dapat menghancurkan emas dan perak.Ia juga memperbaiki teori aristoteles mengenai campuran logam.241
  3. Astronomi, Tokohnya: Al-Biruni dengan kitabnya al-Hind dan al-Qanun al-Mas’udi fi al-Hai’a wa al-Nujum, Nasiruddin Tusi menyusun tabel astronomi Ilkanian, Ibn Yunus membuat perbaikan tabel astronomi dan Hakemite Tables, Moh. Targai Ulugh Begh (cucu Timur Lenk) menyusun kitab al-Zij al-Sulthani al-Jadid yang berisi 1018 bintang.
  4. Matematika, Tokohnya yang populer adalah al-Khawarizmi yang menemukan angka 0 (aljabar) pada abad IX. Angka 1-9 berasal dari angka-angka Hindu di India.
  5. Optik, Tokohnya adalah Ali al-Hasan ibnul Haitsam yang dikenal Alhazen, menulis sebuah buku besar tentang optic “Optical Thesaurus”, mengoreksi teori Euclid dan Ptolemy. Ia juga mengembangkan teori pemfokusan, pembesaran, dan inversi dari bayangan.
  6. Fisika, Tokohnya Abdul Rahman al-Khazini, menulis kitab Mizanul Hikmah (The Scale of Wisdom) tahun 1121 M.
  7. Geografi, Tokohnya: Zamakhsyari (w.1144) seorang Persia, menulis kitabul Amkina wal Jibal wal Miyah (The Book of Places, Mountains and Waters), Yaqut menulis Mu’jamul Buldan (The Persian Book of Places) tahun 1228, Al-Qazwini menulis Aja’ib al-Buldan (The Wonders of Lands), dll.
  8. Sains lainnya, Seperti Botani (Abd Latif), Antidote/penawar racun (Ibn Sarabi), Trigonometri (Jabir ibn Aflah), dan Musik (Nasiruddin Tusi, Qutubuddin, Asy- Syirazi, dan Safiuddin).

KISAH KESEDERHANAAN DAN KESHALEHAN KHALIFAH UMAR BIN ABDUL AZIZ

A.   Biografi Khalifah Umar Bin Abdul Aziz

Nama lengkap             : Umar bin Abdul Aziz (Khalifah Bani Umayyah)

Lahir                                : kairo, tahun 63 H.

Nama Bapak                : Abdul Aziz

Nama Ibu                      : Ummu ’Ashim binti ’Ashim bin Umar bin Al-Khattab.

Nasab/ keturunan     : masih ada keturunan dengan Umar bin Khattab

Kelebihan                     : Dibidang ilmu Hadits dan al-Qur’an

B.    Jasa Umar bin Abdul aziz dalam Kepemimpinannya

1.    Dalam BIdang Kesejahteraan Umat:

a.    Menghapuska kelas-kelas sosial antara muslim Arab dan Muslim non Arab

b.    Mengembalikan uang pensiunan anak-anak yatim para pejuang Islam

c.     Menghidupkan kerukunan dan toleransi beragama

d.    Mengurangi beban pajak atas penganut Kristen Najran dari 2000 keping menjadi 200 keping

e.    Melarang pembelian tanah non-muslim kepada umat Islam

f.     Mewajibkan pembayaran kharraj kepada umat Islam dan jizyah (pajak jiwa)kepada non-muslim

2.    Dalam Bidang pengembangan Islam :

a.    Mengirim para Muballigh ke berbagai penjuru wilayah Islam

b.    Meminta para gubernur menyebarkan agama Islam

c.     Membukukan hadits

C.    Keteladanan yang dapat diambil dari sikap dan sifat yang dimiliki oleh Umar bin Abdu aziz

1.       Sikap rendah hati.

2.       Kesalehan,

3.       Kedermawanan,

4.       Kejujuran,

5.       Tidak rakus, tidak ambisi terhadap kekuasaan,

6.       Dekat dengan rakyat kecil,

7.       Toleransi, demokratis

8.       Cinta ilmu agama dan

9.       dekat dengan Allah SWT.

MEMAHAMI PERKEMBANGAN MASYARAKAT ISLAM PADA MASA BANI ABBASIYAH

A.   Tokoh Ilmuwan Muslim Pada Masa Dinasti Abbasiyah

1.    Dalam Bidang Filsafat

a.    Al-Kindi

b.    Al-Farabi

  1. Ar-Razi
  2. Ibnu Sina
e.    Ibnu Miskawaih             g.    Jabir Bin Hayyan

f.     Al-Gazali

2.      Dalam Bidang Imu Hadis

a.    Ishaq bin Rahawaih

b.    Imam Bukhari

c.    Imam Muslim

d.    Abu Dawud

e.    At-Tarmidzi

f.     An-Nasa’i

g.    Ibnu Majjah

3.      Dalam Bidang Ilmu Tafsir

a.    Abu Ja’far Muhammad bin Jarir at-Tabari

b.    Fakhruddin ar-Razi

c.    Az-Zamaksyari

4.      Dalam Bidang Imu Fiqih

a.    Imam Hanafi                                     c.    Imam Syafi’i

b.    Imam Malik                                       d.    Imam Hambali

5.      Dalam Bidang Ilmu Tasawuf

a.    Al-Haris bin Asad al-Muhasibi

b.    Zunnun Al-Misri

c.    Abu Yazid Al-Bistami

d.    Abu Qasyim Al-Qusyairi

e.    Abu Hamid Al-Ghazali

6.      Dalam Bidang Seni Bahasa

a.    SIbawaih

b.    Al-Kisa’i

c.    Abu Zakaria Al-Farra

d.    Abu Nuwas

e.    Abdul athiya

f.     Ismail Ibnu Qasyim

g.    Ahmad Ibnu Husain

h.    Omar Kayam

B.   Nilai Positif dan Negatif dari Perkembangan Kebudayaan pada Masa Bani Abbasiyah Untuk Masa Kini

Nilai Positif Nilai Negatif
1.   Tidak adanya perbedaan antar suku

2.   Tumbuhnya toleransi antar berbagai agama maupun suku/etnis

3.    Kebebasan dalam pengkajian berbagai ilmu

4.    Adanya pengakuan dalam kebebasan berfikir

5.    Kebebasan dalam pemerintahan

1.  Adanya kebebasan mengakibatkan adanya perebutan kekuasaan

2.  Kebebasan dalam berfikir mengakibatkan lahirnya faham-faham rasional yang radikal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *