1. B. Pemberangkatan
  2. Kegiatan Sebelum Berangkat

Sebelum berangkat ke Tanah Suci, setiap jemaah

hendaknya:

  1. Menjaga kondisi     kesehatan    dengan mengonsumsi makanan bergizi;
  2. b. Merawat kebugaran/kesehatan fisik dengan berolahraga secara teratur;
  3. c. Menyelesaikan urusan pribadi, dinas, dan sosial kemasyarakatan;
  4. d. Menyiapkan bekal untuk keluarga yang ditinggalkan;
  5. e. Menyiapkan barang-barang bawaan, mulai dari dokumen (Surat Panggilan Masuk Asrama/SPMA, bukti setor lunas Bipih berwar-

 

 

na biru, buku dan atau kartu kesehatan), perbekalan, pakaian, sampai obat-obatan yang diperlukan;

  1. f. Melaksanakan shalat sunat safar dua rakaat dan berdoa untuk keselamatan diri  dan keluarga yang ditinggalk

 

  1. Selama perjalanan  dari  rumah  hingga  ke  asrama haji embarkasi

Sebelum berangkat dari rumah menuju asrama

haji embarkasi, setiap jemaah hendaknya:

  1. Mengikuti arahan yang tertulis dalam surat panggilan dari kementerian agama kabupaten/ kota saat berangkat ke asrama haji;
  2. b. Memperbanyak dzikir dan doa;

 

  1. c. Membaca

talbiyah   untuk     memantapkan

 

diri  berangkat haji tanpa disertai niat ihram semata-mata sebagai dzikir dan syi’ar;

  1. d. Men-jama’ dan meng-qashar shalat karena selama dalam perjalanan sudah berlaku hukum shalat untuk musafir.

 

  1. Di asrama haji embarkasi
  2. Saat datang di asrama haji embarkasi, setiap jemaah diwajibkan:

1)  Mengikuti  upacara penerimaan dan serah terima  jemaah  dari                           panitia

 

 

kabupaten/kota       kepada       PPIH

embarkasi;

2) Mengikuti  pemeriksaan kesehatan tahap akhir;

3) Menempati akomodasi yang telah disediakan dan hanya menerima konsumsi yang disediakan panitia penyelenggara  haji   selama  di asrama haji.

  1. b. Selama tinggal di asrama haji embarkasi setiap jemaah diwajibkan:

1) Menempati kamar yang telah dise- diakan;

2) Mengonsumsi katering yang telah disediakan oleh PPIH Embarkasi;

3)  Mengikuti pendalaman manasik haji;

4)  Menerima paspor, visa, gelang identi- tas,  dan living cost (biaya hidup  se- lama  di  Arab  Saudi)  sebesar 1.500

Riyal Saudi;

5)  Mengecek kelengkapan dan kesesuaian dokumen paspor dan visa sesuai nama dan foto  yang tertera dalam paspor dan visa serta memastikan dokumen itu    tidak    tertukar   dengan   milik orang lain;

 

uang,      handphone,      emas     dan dokumen;

7)  Menjaga ketertiban  dan  kebersihan diri dan lingkungan;

8) Menerapkan sikap toleran, saling bantu kepada sesama dan   bersabar jika mendapatkan sesuatu yang kurang berkenan di hati;

9)  Memakai pakaian ihram bagi jemaah haji gelombang II ketika hendak berangkat dari  asrama haji  menuju bandara;  niat  ihram  haji/umrah dapat dilakukan di asrama embarkasi atau di dalam pesawat sebelum pesawat melintas di  atas Yalamlam/ Qarnul Manazil setelah kru pesawat menyampaikan informasi miqat.

 

  1. c. Selama  menetap

jemaah dilarang:

di  asrama haji  embarkasi

 

1)  Membuat kegaduhan dengan keluar masuk asrama haji sembarangan demi menjaga ketertiban, keselamatan dan kesehatan jemaah haji sendiri;

2)  Meninggalkan alat perlindungan diri (APD) yang dibagikan di asrama haji, seperti masker dan botol  semprot/ minum;

 

 

  1. Berangkat Menuju Bandara Embarkasi:

Saat   berangkat  menuju  bandara  embarkasi,

setiap jemaah hendaknya:

  1. Menaiki bus dengan tertib dan teratur sesuai dengan regu dan rombongan;
  2. b. Memperhatikan tas tentengan dan tas paspor agar tidak sampai tertinggal;
  3. c. Membaca doa atau mengaminkan  doa pembimbing                          ibadah     saat     berangkat menuju bandar

Setiap jemaah haji dilarang:

  1. Membawa majalah atau rekaman porno, tulisan-tulisan yang bersifat provokatif, nar- koba, rokok lebih dari 200 batang, dan jamu yang berle bihan;
  2. b. Menerima titipan barang dari siapa pun karena dikhawatirkan barang itu bersifat terlarang seperti narkoba, dokumen yang bersifat melawan negara, dan lain-lain yang membahayakan jemaah

 

  1. Di Bandara Embarkasi:

Selama  di  bandara embarkasi, setiap jemaah

hendaknya:

  1. Turun dari bus dengan tertib dan teratur;
  2. b. Memperhatikan tas tentengan dan tas paspor agar tidak tertinggal dalam bus;

 

menunjukkan boarding pass.

 

  1. Di Pesawat Terbang:

Selama    di     dalam    pesawat,    jemaah   haji

hendaknya:

  1. Mematuhi petunjuk yang disampaikan awak kabin (pramugara/i) atau petugas kloter;
  2. b. Menyimpan tas tentengan di tempat yang telah disediakan di kabin;
  3. c. Menggunakan sabuk pengaman,  duduk dengan tenang;
  4. d. Memperbanyak dzikir dan doa serta membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an sebagai bentuk berserah diri dan tawakkal kepada Allah;
  5. e. Memperhatikan tata   cara   menggunakan WC, berhati-hati  dalam menggunakan air agar tidak tercecer di lantai WC pesawat karena ceceran air bisa membahayakan keselamatan penerbangan;
  6. f. Melihat petunjuk bila hendak buang air kecil/besar, misalnya duduk di atas kloset, menggunakan tisu yang tersedia untuk menyucikan diri, membasahi  tisu  dengan air kr Bila masih ragu jangan segan meminta tolong kepada awak kabin atau petugas kloter;
  7. g. Bersuci dengan cara tayamum

 

 

  1. Membersihkan kloset dengan   menekan tombol yang bertuliskan FLUSH setelah selesai buang air kecil/ besar;
  2. Menjaga pakaian yang dikenakan tetap bersih dan suci selama buang air kecil/besar;
  3. j. Memperhatikan ceramah pembimbing dan menonton film manasik haji yang dipertun- jukkan selama dalam penerbangan;
  4. k. Menghubungi petugas kesehatan bila jemaah haji sakit.

 

Selama    dalam   penerbangan,   jemaah   haji dilarang:

  1. Membuat kegaduhan, berjalan hilir mudik kecuali ada keperluan;
  2. b. Merokok dan mengaktifkan handphone;
  3. c. Berwudhu di toilet pesawat.

 

  1. Shalat di Perjalanan

Shalat   di     perjalanan   dapat    dilaksanakan

dengan cara jama’ dan qashar. Shalat ini merupakan rukhs}ah  (kemudahan) dari Allah SWT  sejak jemaah haji meninggalkan rumah sampai kembali lagi ke tanah air:

 

  1. Pengertian Salat Jama’-Qashar

Shalat  jama’ adalah mengum pulkan dua shalat wajib untuk dikerjakan dalam satu waktu yang sama.

 

 

Shalat yang dapat di-jama’ adalah Dzuhur dengan

Ashar, Maghrib dengan Isya.

Shalat qashar adalah meringkas shalat dari empat rakaat menjadi dua rakaat (Dzuhur, Ashar, dan Isya).

Shalat jama’-qashar adalah praktek menggabungkan dua shalat wajib dan secara bersamaan  memendekkan  rakaat  kedua   shalat dari   empat   menjadi   dua   rakaat.   Shalat  jama’- qashar dilakukan antara Dzuhur dengan Ashar atau sebaliknya, dan antara Maghrib  dengan Isya atau sebaliknya. Shalat jama’-qashar dapat dilakukan dengan cara taqdim atau ta’khir.

Shalat jama’ terbagi menjadi dua cara:

  1. Jama’ taqdim; ini adalah cara menggabungkan dua shalat yang dilaksanakan pada waktu shalat yang pertama, misalnya shalat Dzuhur dijama’ dengan shalat Ashar dikerjakan pada waktu shalat Dzuhur; atau shalat Maghrib digabungkan dengan shalat Isya dikerjakan pada waktu shalat Maghrib;
  2. Jama’ ta’khir; ini adalah menggabungkan dua shalat yang dilaksanakan pada waktu shalat yang belakangan, misalnya shalat Dzuhur digabung dengan shalat Ashar dikerjakan pada waktu shalat Ashar dan shalat Maghrib digabung dengan shalat Isya’ dikerjakan pada waktu shalat Isya.

 

 

  1. b. Tata Cara Melaksanakan Shalat Jama’-Qashar
  2. Jama’-qashar taqdim:
  3. a) Jika jama’-qashar dilakukan antara Dzuhur dan Ashar, shalat dimulai dengan shalat Dzuhur lebih dulu kemudian shalat Ashar. Jika jama’-qashar dilakukan antara Maghrib dan Isya, shalat Maghrib didahulukan ke- mudian shalat Isya;

 

  1. b) Niat

jama’ dilaksanakan ketika takbiratul

 

ihram shalat pertama dilakukan;

  1. c) Dilaksanakan dengan bergabung  tanpa diselingi dengan waktu dan amalan lain kecuali iqamat.
  2. d) Jika jama’-qashar dilakukan antara Dzuhur dan Ashar, shalat dimulai dengan shalat Dzuhur lebih dulu kemudian shalat Ashar. Jika jama’-qAshar dilakukan antara Maghrib dan Isya, shalat Maghrib didahulukan ke- mudian shalat Isya;
  3. e) Dilaksanakan dengan bergabung  tanpa diselingi dengan waktu dan amalan lain kecuali iqamat.
  4. Jama’-qashar ta’khir:
  5. a) Berniat jama’ takhir saat waktu Zuhur atau

Maghrib (shalat pertama) tiba.

  1. b) Pelaksanan salat tidak harus berurutan di antara kedua shalat. Misalnya, jama’-qashar

 

dapat dilaksanakan shalat Dzuhur terlebih dahulu kemudian Ashar atau sebaliknya.

  1. c) Tidak perlu  niat  jama’ pada  saat akan melaksanakan shalat yang kedua (menurut

 

pendapat yang sa}

hi} h)} .

 

 

  1. c. Tata Cara Tayammum di Pesawat

Tayammum di pesawat dapat dilakukan dengan

memilih salah satu cara sebagai berikut:

  1. Cara pertama

Tayammum dengan satu kali tepukan, yaitu menepukkan kedua telapak tangan ke dinding pesawat atau sandaran kursi, lalu kedua telapak tangan diusapkan ke muka langsung diusapkan ke kedua tangan mulai dari ujung jari sampai ke pergelangan tangan (punggung dan telapak tangan) secara merata, dan tidak terputus antara usapan muka dengan usapan kedua tangan.

  1. Cara kedua

Tayammum  dengan dua kali tepukan, yaitu menepukkan kedua telapak tangan ke dinding pesawat atau sandaran kursi, lalu kedua telapak tangan disapukan ke muka kemudian tangan ditepukkan kembali ke tempat yang lain dari tepukan pertama lalu mengusapkan

 

 

kedua telapak tangan kepada kedua tangan dari ujung jari sampai siku (luar dan dalam).

 

  1. d. Shalat di Pesawat

Ulama fiqih  terbagi  dalam dua  mazhab saat

menentukan hukum shalat di pesawat.

  1. Pendapat pertama mengatakan tidak sah shalat di pesawat yang sedang terbang, dengan alasan:
  2. a) Sulit mendapatkan (tidak tersedia) air untuk wudlu serta debu yang tidak memenuhi syarat untuk tayammum (ابيط اديعص).
  3. b) Shalatnya tidak   menapak  bumi   karena pesawat terbang tidak menyentuh (ضرلأا يف رارقتسا  ريغ).

Ulama yang berpendapat tidak sah shalat di pesawat adalah Imam Hanafi dan Imam Malik. Sebagai solusinya, Imam Hanafi berpendapat shalat yang luput dikerjakan selama seseorang berada di pesawat itu di-qad}a setelah dia sam- pai di darat. Seseorang yang berpendapat seperti ini lalu sama sekali tidak melaksanakan shalat di pesawat dianjurkan untuk berzikir. Menurut Imam Maliki, bagi seseorang yang tidak mendapatkan air dan debu kewajiban shalatnya gugur sama sekali. Dengan demikian ia tidak dituntut untuk melakukan qadha atas shalat yang ditinggalkan.

 

 

  1. Pendapat kedua menyatakan sah hukumnya jika seseorang shalat ketika ia sedang berada dalam pesawat yang sedang terbang dengan alasan:
  2. a) Kewajiban  shalat   dibebankan    sesuai dengan  ketentuan  waktu  dan  di  mana saja berdasarkan Al-Qur’an dan hadis sebagai berikut:

 

 

 

 

Artinya:

ﮩﮨﮧ ﮦ ﮥﮤﮣ

 

Sungguh, shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman (QS.  an- Nisa’ [4]:103).

 

ًََ

ََْْ

َََْْ

ََْ     ُ

َة َ

َ   ْ                                                                                                                                                                                                      َ

 

ةدلِق ءامسأ نمِ

تراعتسا اهنع للها ضَ  ِ                                                                                                                                                ر َ                                                                                                                       شِ ئع نع

 

َ           َ                         َ                                                                                                                                       ْ                                                                                                                                َ                                                                                                      َ  ْ      َ

 

هِ ِباحَ

ْأ نْ مِ

ُ        َ            َ                                                                                                                                                                                                            َ  َ

اسان  ﷺ للها      وسر    سرأف  ت    ه

 

ص

ُّ    َ

ََُّ

لْ ُ                                                                                                                                           َ

ُُْ

ل

ََََْ

كل  ف

َََ

 

ْ   َ

…ءٍ وْ ضُ  وُ

َْ

يِ  غِب  اولصف

ةلصلا

مهتكردأف  اهبِ لط  فْ

 

 

 

Artinya:

ِ

 

.)ىراخلبا  هاور(

 

Dari Aisyah ra., bahwa dia meminjam kepada Asma’ ra. sebuah kalung,  lalu kalung itu  rusak (hilang). Rasulullah  SAW  memerintahkan orang-orang dari para sahabat beliau untuk mencarinya. Kemudian waktu shalat tiba dan akhirnya mereka shalat tanpa berwudu. 1 (HR. Bukhari dari ‘Aisyah RA).

 

1  Al-Bukhari, S{ah{ih{ al-Bukhārī, nomor hadits: 5164.

 

  1. b) Keadaan darurat  tidak   menghilangkan kewajiban shalat sesuai

Ulama yang mengatakan sah shalat seseorang dengan kedua alasan tersebut adalah Imam Ahmad dan Imam Syafi’i, walaupun Imam Syafi’i mewajibkan i’adah shalat (mengulang shalat) setiba orang  itu di darat.  Menurut Imam Syafii, shalat seseorang di kendaraan hanya untuk menghormati waktu shalat (lihurmatil waqti). Mengulang shalat yang dianjurkan Imam Syafi’i dilakukan sebagai berikut:

  1. Ia segera shalat lagi setibanya di tempat tujuan.
  2. b. Ia melakukan shalat seperti biasa dengan gerakan shalat sempurna (kāmilah) bukan isyarat (ima’ah).

Jika hendak melakukan shalat di pesawat terbang, seorang jemaah haji hendaknya melakukan hal-hal berikut ini:

  1. Tetap duduk di kursi pesawat dengan posisi kaki menjulur ke lantai pesawat atau dengan melipat kedua kaki dalam posisi miring atau tawaruk (duduk tah} iyat).
  2. Menjadikan arah terbang pesawat ke mana saja sebagai arah kiblat.
  3. Melaksanakan seluruh gerakan rukun shalat semampu dia lakukan dengan ima’ah (isyarat).

 

 

  1. e. Tata-Cara Berihram di Pesawat

Ketika  pesawat  mendekati  Yalamlam/Qarnul

Manazil lalu kru pesawat mengumumkan bahwa beberapa saat lagi pesawat akan melintas di  atas Yalamlam/ Qarnul Manazil, jemaah haji gelombang II yang mengambil miqat di pesawat dianjurkan:

  1. Membuka kaos kaki dan celana dalam dengan segera bagi jemaah laki-laki yang masih mengenakannya;
  2. Melaksanakan niat ihram haji/umrah dengan niat di  dalam hati  dan  mengucapkan dengan lisan;

Apabila jemaah belum niat ihram ketika pesawat melewati Yalamlam/Qarnul Manazil, maka ia melaksanakan niat ihram di Bandara KAIA Jeddah. 2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *