Menurut    bahasa,  mabit   berarti    bermalam.

Menurut istilah, mabit berarti bermalam di Muzdalifah dan bermalam di Mina untuk memenuhi ketentuan manasik haji.

 

 

 

 

 

19  At-Tirmidzi nomor hadits 889, hadits ini diriwayatkan oleh

Ashhab as-Sunan dan Ahmad.

 

  1. Mabit di Muzdalifah

Mabit  di  Muzdalifah  adalah  bermalam  atau

beristirahat di Muzdalifah pada 10 Dzulhijjah setelah wukuf di Arafah dan hukumnya wajib. Mabit di Muzdalifah dianggap sah bila jemaah berada di Muzdalifah melewati tengah malam, walau ia hanya mabit sesaat. Pada saat mabit hendaknya seseorang banyak membaca talbiyah, dzikir, istighfar, berdoa atau membaca al-Qur’an. Beberapa hal yang terkait hukum mabit di Muzdalifah :

  1. Menurut sebagian besar ulama’, hukum mabit di Muzdalifah adalah wajib.
  2. b. Sebagian ulama’ lain menyatakan sunat.
  3. c. Jemaah haji yang tidak mabit karena uzur syar’i seperti sakit, mengurus orang sakit,  tersesat jalan dan lain sebagainya, tidak diwajibkan membayar
  4. Mabit di Mina

Mabit di Mina adalah bermalam pada malam

hari tanggal 11 sampai 12 Dzulhijjah bagi nafar awal

dan bermalam pada malam hari tanggal 11 sampai

13 Dzulhijjah bagi nafar tsani. Hukum mabit di Mina adalah wajib. Beberapa hal terkait dengan ketentuan mabit di Mina:

  1. Menurut Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad, dan Ibnu Hanbal, hukum mabit di Mina adalah wajib. Jemaah haji yang tidak mabit selama satu malam wajib membayar

 

satu mud. Jemaah yang tidak mabit dua malam wajib membayar dua mud. Sedangkan jemaah yang tidak mabit di Mina selama tiga malam wajib membayar dam dengan menyembelih seekor kambing.

  1. b. Menurut pendapat Imam Abu Hanifah dan pendapat baru (qaul jadid) Imam Syafi’i, hukum mabit di Mina sunat. Bagi jemaah haji yang tidak mabit di Mina tidak diwajibkan membayar
  2. c. Mabit di  Mina dinyatakan sah bila jemaah haji berada di Mina lebih dari separuh Namun, sebagian ulama’ berpendapat bahwa mabit di Mina sah bila jemaah sempat hadir di  Mina  sebelum  terbit  fajar  yang  kedua (fajar shadiq). 20
  3. d. Tempat mabit bagi sebagian besar jamaah haji Indonesa adalah Harratul Sejak 1984 pemerintah Arab Saudi terus memperluas kawasan Mina hingga sejak 2001 sebagian jemaah haji    mendapatkan   perkemahan perluasan mina atau disebut tausi’atu mina. Hal ini dilakukan mengingat wilayah Mina terbatas,   sedangkan  jumlah   jemaah  haji

semakin bertambah.

 

 

 

20  An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarkh al-Muhadzab li Syairazi, juz

8, hlm. 223; lihat juga al-Izz bin Abdl Salam, al-Ghayah fi Ikhtishar an-Nihayah, jilid 3, hlm. 108

 

  1. e. Mabit di perluasan Mina (tausi’atu Mina) adalah Hal ini diputuskan dalam Mudzakarah ulama’ Indonesia tentang ‘’Mabit di Luar Kawasan Mina’’ pada 10 Januari 2001 di Jakarta yang dilaksanakan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia. Selain  itu,  mufti  besar Kerajaan Arab Saudi Syaikh Bin Baz dan Syaikh

‘Utsaimin  juga  memberikan  fatwa  bahwa

mabit di perluasan Mina adalah sah. 21

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *