Melontar jamrah adalah melontar batu kerikil ke

arah jamrah Sughra, Wustha dan Kubra dengan niat mengenai objek jamrah (marma) dan kerikil masuk ke dalam lubang marma. Melontar jamrah dilakukan pada hari nahar dan hari tasyrik.

 

  1. Hukum Melontar

Hukum  melontar  jamrah  adalah  wajib;  bila

seseorang   tidak      melaksanakannya   dikenakan dam/ fidyah

 

 

 

21   Menurut  Syaikh  Bin Baz “Jemaah haji  yang tidak mendapatkan tenda di kemah Mina, hendaknya dia keluar ke Muzdalifah dan Aziziyah atau selain keduanya untuk melaksanakan mabit,”.Bin  Baz, Majmu’ Fatawa  wa Maqalat Mutanawwi’ah, juz

17 hal 359-364. Sedangkan  menurut  Syaikh  ‘Utsaimin, “Tidak ada masalah melakukan mabit  di  wilayah Muzdalifah karena alasan kepadatan jamaah di Mina, selama kemah di Muzdalifah tersambung dengan Mina.” Al-‘Utsaimin, Majmu’ Fatawa, juz 23 hal.241.

 

  1. Tata Cara Melontar
  2. Kerikil mengenai marma dan masuk lubang;
  3. b. Melontar dengan kerikil satu per satu. Melontar dengan tujuh kerikil sekaligus dihitung satu lontaran;
  4. c. Melontar jamarat dengan urutan yang benar,

mulai jamrah Sughra, Wustha dan Kubra.

  1. Waktu Melontar
  2. Melontar Jamrah Aqabah dilakukan pada 10

Dzulhijjah dimulai sejak lewat tengah malam dan lebih afdhol dilakukan setelah Matahari terbit.  Namun, mengingat padatnya jemaah haji yang melontar pada waktu itu, dianjurkan melontar dilakukan mulai siang hari.

  1. b. Waktu melontar pada hari Tasyriq tanggal

11, 12, 13 Dzulhijjah menurut jumhur ulama dimulai setelah tergelincir Matahari. Namun, Imam Rafi’i dan Imam Isnawi dalam mazhab Syafi’i membolehkan melontar sebelum Matahari tergelincir (qabla zawāl), yang dimulai sejak terbit  fajar.  Pendapat  tersebut dapat diamalkan meskipun sebagian ulama menilai d}a’īf/lemah (Keputusan Muktamar ke-

29 NU 4 Desember 1994).

  1. c. Untuk keamanan, keselamatan, kenyamanan dan ketertiban   dalam   melontar   jamrah, pemerintah   Arab   Saudi   telah   mengatur jadwal  waktu  melontar  bagi  jamaah  haji

 

setiap negara. Jemaah haji harus mengikuti ketentuan jadwal tersebut dan menghindari waktu-waktu larangan.

  1. d. Jemaah haji yang mengalami  udzur  syar’i diperbolehkan mengakhirkan melontar jamrah dengan cara melontar Jamrah Sughra, Wustha dan Kubra secara sempurna sebagai qadha lontaran untuk hari per Setelah itu jemaah berbalik lagi menuju posisi Jamrah Ula kemudian memulai lagi melontar tiga jamrah yang sama secara berturut-turut sebagai qadha hari kedua. Setelah itu, jemaah menuntaskan

lontaran hari terakhir bagi nafar tsani.

 

  1. Mewakilkan Melontar

Orang yang użur syar’i disebabkan sakit atau

hal lain22  boleh mewakilkan kewajibannya melontar jamrah kepada orang lain dengan salah satu cara sebagai berikut:

  1. Orang yang mewakilkan orang lain melontar jamrah terlebih dulu untuk dirinya sendiri sampai sempurna  masing-masing   tujuh kali lontaran, mulai dari Sughra, Wust}a,  dan Kubra. Kemudian ia kembali melontar untuk

 

 

22  Kategori udzur syar’i yang boleh mewakilkan lontar jamrah adalah jemaah haji usia lanjut yang mengalami kesulitan, jemaah sakit yang menyebabkan kesulitan dan keadaan lain yang menghalangi. Majlis Ulama Indonesia, Keputusan Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa Se-Indonesia VI 2018, hal. 43

 

yang diwakilinya mulai dari Sughra, Wust}a, dan Kubra.

  1. b. Orang yang mewakilkan orang lain melontar Jamrah Ula terlebih dulu untuk dirinya sendiri sampai sempurna masing-masing tujuh kali lontaran, kemudian dia melontar  lagi  tujuh kali lontaran untuk yang diwakili tanpa harus terlebih  dulu  menyelesaikan jamrah Wust} a dan Kubra.  Demikian seterusnya tindakan yang sama ia lakukan di Jamrah Wustha dan

Jamrah Kubra.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *