Daftar Isi

 

  1. Menuju Bukit Siguntang ……………………………. 1
  2. Pendekar Mata Empat ………………………………. 4
  3. Klinik Tabib Sentani …………………………………. 8
  4. 4. Si Pahit Lidah …………………………………………. 11
  5. Perguruan Silat Mata Empat ………………………. 17
  6. Pulang Kampung …………………………………….. 22
  7. 7. Nasib Harimau Menjadi Batu ……………………… 28
  8. Pertemuan Pertama Dua Pendekar ………………. 31

 

 

 

 

 

MENUJU BUKIT SIGUNTANG

 

 

 

 

 

 

Menjadi pendekar tanpa pertarungan berarti tamat!

 

Pendekar    yang tengah terluka itu rebah dan menatap langit. Pandangan matanya selalu tidak sengaja bertemu dengan awan-awan putih yang terlihat seperti sedang duduk bersila, dengan  latar  biru  benhur  yang  membentang  luas.  Tidak  ada angin  yang  berani  memindahkan  posisi  benda  seputih  kapas itu. Alam hening.  Antara pandangan yang kabur dan kesadaran yang belum penuh benar, mata Serunting melihat awan-awan tersebut menyerupai tubuh manusia yang sedang melakukan semedi. Semakin lama Serunting menatap awan-awan tersebut, ia semakin merasakan jiwanya terbang di antaranya, lalu duduk bersila bersama mereka di angkasa, menenangkan batin yang sedang terluka sangat dalam atas pengkhianatan istri dan adik iparnya.

 

“Rie Tabing bodoh!” teriak laki-laki itu.

 

“Ia tidak punya apa-apa. Membunuhku atau mengusirku dari Semidang, itu akan membuat dia sendirian menghadapi lawan-lawannya. Berapa banyak orang yang tidak menyukai Rie Tabing dan keluarganya? Aku sangat disegani di Semidang. Ya, aku  memegang  pusaka  Jurai  Semidang,  Tata  Renjune,  hadiah dari Majapahit maka aku pemimpin yang sah di Jurai Semidang! Membunuhku tidak akan membuat Rie Tabing diangkat sebagai kepala jurai. Benar-benar manusia tidak tahu diri! Seorang kepala jurai harus sedarah dengan kepala jurai sebelumnya!”

 

Ketika Serunting memaki, awan-awan bergerak menjauh sehigga sinar matahari langsung menyengat tubuhnya. Serunting mengejap-ngejapkan mata. Ia mencoba memiringkan tubuh supaya matanya tidak silau. Sayangnya, semakin banyak ia bergerak, rasa sakit di tubuhnya semakin terasa.

 

“Aku kini dikhianati oleh penggawaku, adik iparku sendiri! Istriku juga! Ia terlalu lemah, mudah dihasut adiknya. Pantangan ilmuku, dia, bersama si jahanam itu!”

 

Serunting memejamkan matanya. Darah di lengan dan dada kirinya mulai mengering. Namun, ada yang sangat sakit di perut sebelah kirinya.

 

Awan-awan putih yang telah menjauh masih terlihat seperti  sedang  bersemedi.  Serunting  mencoba  menirukan semedi ala awan tersebut. Ia menenangkan pikirannya. Akan tetapi, bayangan perkelahian itu sangat memenuhi pikirannya. Perkelahian yang bermula dari perselisihan soal ladang.

 

“Kakak, ladangku penuh emas! Hahahaha … bagaimana ladangmu? Rumput belukar? Ciehhh, alangkah tidak bergunanya! Hahhaha …!” Serunting tidak pernah berniat melukai adik iparnya meskipun ia sedang sangat kesal dengan olok-olok itu setiap hari, setiap saat. Olok-olok itu tidak mempan di hadapan Serunting, Rie Tabing memanas-manasi Melur, kakaknya yang diperistri Serunting.

 

Perkelahian itu seharusnya dimenangkan Serunting. Tidak sampai sepuluh pukulan, pendekar yang menguasai Semidang itu pasti sanggup menjatuhkan Rie Tabing.

 

“Serunting, sebentar lagi tamat riwayatmu! Aku akan menggantikanmu menjadi pendekar tak tertandingi di Semidang!”

 

Tombak Rie Tabing melayang cepat, terarah pada tumbuhan ilalang, peliharaan Serunting yang selalu bergoyang meskipun tidak sedang ditiup angin. Bersamaan dengan tertancapnya tombak tersebut di tengah ilalang, robohlah Serunting dengan luka-luka di dada dan lambung. Sebelum Rie Tabing menghunuskan tombaknya ke dada Serunting, pendekar malang itu segera melarikan diri.

 

“Tak kusangka istriku sendiri membeberkan rahasiaku.” Pendekar malang itu terisak. Ia tidak dapat melakukan semedi. Ia terus terisak sambil memandangi awan-awan putih di langit dengan begitu nelangsa sampai akhirnya ia terlalu lelah dan tertidur dengan satu mimpi: ia melihat dirinya sendiri berjalan menuju Bukit Siguntang.

 

PENDEKAR MATA EMPAT

 

 

 

 

 

 

 

Pemilik alam semesta telah menarik garis-garis sungai yang panjang, berkelok, mengalir ke muara menuju laut. Kelak dari cerita-cerita, semua orang akan tahu bahwa rupanya kehidupan bermula di sekitar sungai-sungai tersebut.

 

Sungai yang lebarnya mencapai lebih dari dua ratus meter itu mengundang kapal-kapal besar dari seberang lautan untuk mengangkut lada, kapur barus, eboni, dan kayu gaharu, serta menurunkan pasokan beras, garam, dan benang-benang bahan tenunan. Pelabuhannya berantai besi. Kapal-kapal terbuat dari kayu-kayu kuat yang diikat. Tonjolan-tonjolan segi empat mengikat papan-papan dengan pengikat dari ijuk yang dimasukkan ke dalam lubang tonjolan tersebut. Konon tradisi ini sama seperti perahu-perahu se-Asia Tenggara yang disebut dengan perahu teknik papan-ikat dan kupingan-pengikat. Kapal-kapal dari lautan lepas itu ada yang bercadik tunggal, ada juga yang bercadik ganda. Di lautan lepas mereka mengembangkan layar-layar segitiga yang megah tergelebar ditiup angin.

 

Tidak ada yang tahu siapa nama asli laki-laki yang disebut sebagai Pendekar Mata Empat ini. Pun tidak ada yang tahu dari mana asal-usulnya.

 

Ia sering bertandang di tepi Sungai Musi, Dusun Kalubar, mengamati air mengalir, perahu-perahu kecil nelayan setempat, kapal-kapal besar dari Jawa, Celebes milik orang Bugis, dan orang-

 

 

 

 

 

orang dari negeri Cina, Siam, Kamboja, Semenanjung, dan Patani, yang semuanya pergi dan singgah di dermaga, sambil duduk di warung menikmati suguhan kopi atau sesekali di warung-warung terapung. Orang-orang pelabuhan sangat segan kepada laki-laki yang senang berdandan necis menyerupai pedagang-pedagang India itu. Sama sekali ia tidak terlihat sebagai pendekar sakti yang sangar. Mata di wajahnya tidak berjumlah empat yang akan terasa ganjil dan menakutkan bagi orang-orang yang melihatnya. Akan tetapi, orang-orang sangat penasaran mengapa ia dijuluki Mata Empat. Pernah terdengar desas-desus, sepasang Mata Empat yang lain terletak di kepala belakang.

 

Pendekar  Mata  Empat  adalah  seorang  laki-laki  biasa yang  tinggal  agak  di  pedalaman,  tetapi  tidak  seberapa  jauh dari pelabuhan di Sungai Musi. Ia mempunyai anak dan istri. Pekerjaannya sehari-hari bertani serta beternak ayam dan kambing. Ia juga mempunyai perguruan kanuragan dengan jumlah murid yang tidak sedikit. Mata Empat tidak hanya melatih murid- muridnya ilmu olah tubuh, tetapi juga ilmu batin untuk kebajikan, dan mengajari mereka mencari penghidupan dari pertanian dan peternakan.

 

Mata Empat sekilas tidak sama seperti masyarakat lain yang juga tinggal di tepi Sungai Musi, yang bekerja sebagai nelayan ikan. Kulitnya lebih hitam meskipun para nelayan sungai juga hitam karena limpahan sengatan matahari. Ukuran tubuh Mata Empat lebih besar dan tinggi dengan rambut panjang sebahu, hitam   dan   lebat.   Perawakannya   tampak   seperti  pendatang-

 

pendatang dari Gujarat, bermata hitam dan lebar serta berhidung mancung. Orang-orang memang hanya bisa menduga bahwa Mata Empat berasal dari seberang laut barat yang entah sejak kapan datang ke wilayah Swarnadwipa bagian selatan. Meskipun bukan nelayan, Mata Empat terlihat luar biasa lebih gesit mengendalikan perahunya dibandingkan dengan para nelayan tepian Musi.

 

Sebuah kapal nelayan yang berlabuh tampak lebih sibuk dari kapal lain yang sedang bongkar-bongkar. Mata Empat menajamkan penglihatannya untuk mengetahui sesuatu yang menarik perhatiannya. Beberapa warga mendekati perahu yang sibuk tersebut. Tak lama kemudian, mereka tampak sedang membantu pemilik kapal mengangkat sesuatu dari dalam kapal. Mata Empat segera mafhum bahwa nelayan itu menemukan orang tenggelam atau hanyut di sungai. Selanjutnya, ia tidak tergerak mengikuti warga yang mendekat ke perahu. Ia duduk saja, menunggu berita apa yang telah terjadi, siapa yang ditemukan, masih hidup atau sudah mati.

 

“Siapa? Orang kita?” tanya pemilik warung kopi kepada nelayan yang baru singgah yang mampir di warungnya.

 

“Bukan. Dia terluka ketika bertemu dengan Bahrun di Lematang. Dia ikut perahu Bahrun, katanya mau ke Siguntang. Akan tetapi, dia tidak kuat di perjalanan karena luka-lukanya terlalu parah. Ia sudah berjalan jauh dari Semidang, katanya. Ia pingsan di perahu Bahrun.”

 

“Oh, orang Semidang …,” kata pemilik warung itu sambil manggut-manggut.

 

“Bawa saja kepada Tabib Sentani. Kalau tabib-tabib lain

dekat sini, bayarannya sudah mahal,” kata Mata Empat, ikut bicara.

 

“Sepertinya begitu,” kata si nelayan sambil tak lepas matanya memandang ke arah kepala belakang Mata Empat yang rambutnya  tertiup-tiup  angin.  Nelayan  itu  sangat  penasaran ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri desas-desus warga tentang sepasang mata di kepala belakang Mata Empat yang tertutup rambut.

 

“Pendekar tidak ingin melihat keadaannya?” tanya pemilik warung kopi itu.

 

Mata Empat tampak berpikir, kemudian ia menjawab, “Laki-laki ini sedang terluka dalam, sangat parah. Kalau nanti ternyata ia berumur panjang, aku akan bertemu dengannya.” Mata Empat berdiri, lalu membayar kopinya dan pamit kepada pemilik warung kopi di tepi Sungai Musi itu.

 

KLINIK TABIB SENTANI

 

 

 

 

 

 

“Sudah  berapa  lama  saya  tidak  sadarkan  diri,  Bapak

Tabib?” tanya laki-laki yang masih berwajah kuning pucat itu.

 

“Satu purnama lebih,” jawab sang tabib dengan sangat tenang sambil melihat perkembangan kesadaran Serunting. Sebelumnya, ia sudah mengerahkan seluruh tenaga dalamnya untuk memberi kekuatan pada tubuh Serunting, kemudian memberinya rebusan daun sadingin untuk menurunkan demam akibat infeksi tubuh yang terluka di bagian dalam itu.

 

“Satu purnama? Ya, Gusti … terima kasih, saya masih hidup. Terima kasih, Bapak Tabib telah mengobati saya. Siapa yang membawa saya kepada Bapak?”

 

“Nelayan.  Katanya,  engkau  hendak  ke  Bukit  Siguntang dan ingin menebeng perahu Bahrun yang pulang bepergian lewat Sungai Lematang menuju Sungai Musi.”

 

“Ah, ya, ya, saya ingat sekarang, Bapak. Saya sedang terluka saat itu.”

 

“Lukamu sangat parah, Nak. Lambungmu nyaris pecah seperti dihancurkan, tetapi bukan karena tusukan atau menderita penyakit. Engkau habis bertarung?” kata Tabib Sentani.

 

Serunting mengangguk.

 

“Kalau engkau bukan seseorang yang sudah sangat lama terlatih dengan ilmu kanuragan, engkau sudah mati. Obat-obatku hanya membantu menyembuhkan, selebihnya kekuatan tubuhmu sendiri, selebihnya lagi kehendak Yang Kuasa.”

 

Serunting mengangguk takzim.

 

“Terima  kasih  sekali  lagi  yang  setulus-tulusnya,  Bapak

Tabib sudah merawat saya.”

 

 

 

 

mana?”

“Tidak  usah  dipikirkan,  Nak.  Namamu  siapa  dan  dari

 

 

“Serunting,  Bapak  …,”  jawab  laki-laki  itu.  Kemudian,  ia pun   menceritakan   mula   perselisihannya  dengan  Rie  Tabing yang berakhir dengan pertarungan hingga Rie Tabing berusaha membunuhnya. Serunting merasakan anak-anak sungai mengalir dari hulu matanya yang masih kuyu.

 

“Iya, sabarlah, Serunting. Cobaanmu memang berat karena istri dan adik iparmu telah mengkhianatimu. Perilaku manusia tak selamanya baik seperti yang diharapkan. Di dalam diri manusia itu juga tertanam hawa nafsu yang sewaktu-waktu bisa tak terkendali dan mendatangkan angkara murka. Sebenarnya, musuh terberat dalam hidup kita adalah diri kita sendiri, Nak, dalam mengendalikan hawa nafsu kita.”

 

Serunting mendengarkan wejangan Tabib Sentani dengan masih bertetesan air mata.

 

“Sekarang istirahatlah barang seminggu lagi di gubuk saya ini, Nak. Nanti setelah sembuh benar, engkau boleh melanjutkan perjalanan ke Bukit Siguntang.”

 

“Baik, Bapak Tabib. Pisang emas dibawa berlayar, masak sebiji di atas peti, utang emas boleh dibayar, utang budi dibawa mati. Bapak Tabib, betapa besar rasa sayang yang Bapak berikan kepada saya meski Bapak belum mengenal saya, dan saya pun belum sempat mengenal nama Bapak.”

 

“Owh, jangan khawatir, Serunting. Balas budi tidak harus kepada saya. Berbuat baiklah kepada orang lain, tetapi janganlah mengharap juga orang lain akan membalas kebaikanmu. Teruskan pesan ini supaya kita termasuk orang yang menyebarkan kebaikan.”

 

“Iya, Bapak Tabib. Bolehkah saya tahu siapa nama Bapak? Saya hanya bisa mengenang budi baik Bapak.”

 

“Namaku … oh … Sentani.”

 

SI PAHIT LIDAH

 

 

 

 

 

 

Bukit Siguntang hanya berjarak tiga kilometer dari tepian utara Sungai Musi, sebelah barat Palembang. Bukit kecil itu setinggi kurang dari lima puluh meter dari permukaan laut. Hawa sejuk menyusup ke pori-pori Serunting begitu ia mulai mendaki lereng bukit itu. Orang mengatakan Bukit Siguntang keramat karena banyaknya makam orang-orang penting yang pernah digdaya di Negeri Palembang. Sudah sering Serunting mendengar cerita pendekar-pendekar menimba ilmu dengan bersemedi di bukit itu. Banyak di antara mereka turun dengan membawa hasil, tetapi tak sedikit pula yang kembali hanya dengan isi pikiran yang hampa, bahkan gila.

 

Bagi Serunting yang menguasai ilmu meringankan tubuh lebih dari sekadar baik, mendaki ketinggian kurang dari lima puluh meter hanya membutuhkan waktu kurang dari lima belas menit. Namun, laki-laki itu ingin bersantai, berjalan seperti masyarakat umumnya tatkala mendaki bukit sambil mengamati pohon-pohon yang rimbun.

 

Ia tidak tahu persis jika harus menyebut nama-nama semua pohon. Ia hanya tahu bahwa ia sangat menyukai bambu dengan bunyi denyitnya yang terasa magis jika tertiup angin.

 

Ia pernah melihat tangan manusia yang terampil memilih batang bambu, membuat beberapa lubang di bagian atas, dan meniup  lubang  bagian  bawah,  lalu  terdengarlah  suara  paling

 

merdu di dunia ini yang pernah Serunting dengar, suara seruling atau serdam. Konon bila seorang pemuda meniupnya sepenuh hati, suara merdu sendu seruling itu dapat menggerakkan hati bidadari untuk turun ke bumi. Ia juga pernah melihat orang-orang menulis huruf-huruf di permukaan bilah bambu yang merupakan mantra-mantra. Mantra tersebut berguna untuk apa pun dalam kehidupan sehari-hari. Serunting juga pernah diajarkan menulis huruf yang disebut Surat Ulu di permukaan bilah-bilah bambu tentang suatu ilmu bela diri berikut mantranya.

 

Bukit Siguntang yang rimbun tentu tidak hanya ditumbuhi bambu, tetapi juga pohon nibung, sejenis palem, yang memiliki batang tinggi, tegak, dan ramping kira-kira mencapai dua puluh lima meter. Hidup pohon ini berkelompok seperti juga bambu. Kayunya bertekstur keras yang oleh penduduk kampung digunakan juga sebagai campuran penyangga rumah untuk daerah berawa. Bunganya dapat dimanfaatkan sebagai pengharum beras. Daunnya dipakai sebagai atap rumah, juga bisa dianyam menjadi perabot rumah tangga. Kayu nibung lebih kuat daripada bambu, tetapi kelenturan bambu tak terkalahkan oleh kayu keras apa pun, bahkan saat diterjang angin langkisau. Kelenturan tubuh pohon bambu itu menginspirasi Serunting dalam mengolah ilmu bela diri.

 

Pohon  tinggi  yang  lain  adalah  kemuning,  yang  warna kulit kayunya sangat terang dan mulus. Serunting mengelus kulit kayu itu, yang mengingatkannya pada warna kulit istrinya yang meskipun cantik, tetapi rasanya sudah tidak berarti lagi. Dalam dunia pendekar, kayu kemuning dibuat menjadi warangka keris.

 

Angin     silir-semilir    menjatuhkan     bunga     kemuning dari ketinggian yang mencapai enam meteran. Serunting memungutnya, mendekatkan bunga itu ke lubang hidungnya, dan mendapatkan wangi yang menentramkan.

 

Sambil memperhatikan pepohonan, Serunting mencari tempat bersemedi yang paling aman dan tersembunyi. Ia memperhatikan semak belukar yang berbunga wangi. Ada daun pandan yang paling sering dipakai para wanita untuk digosok- gosokkan pada baju mereka. Selain rumput-rumput biasa, Serunting juga melihat tumbuhan semak yang daunnya sangat keras dan bunganya wangi.

 

“Oh, ini rupanya tumbuhan yang dipakai untuk memoles senjata dari gading dan keris,” kata Serunting sambil mengingat- ingat nama daun itu, yang pernah didengarnya dari Ki Tapak Sakti, gurunya pada masa lalu dari tanah Banten.

 

Serunting tak ingin terlena dalam kerimbunan Bukit Siguntang yang menyimpan kekayaan pepohonan. Ia berniat untuk meminta izin kepada para leluhur yang dimakamkan di bukit keramat itu. Ia merasa tidak berhak menikmati kelimpahan alam bukit itu, apalagi langsung melakukan semedi tanpa menghormati para leluhur.

 

Leluhur tersebut adalah Dapunta Hyang atau Jyestha Dapunta Hyang, sang pendiri Kerajaan Sriwjaya, yang dimakamkan di  Bukit  Siguntang.  Penduduk  Palembang  menamainya  si Gentar Alam. Ia dimakamkan bersandingan dengan dua makam pengawalnya,   Panglima Bagus Kuning dan Panglima Bagus Karang.

 

Serunting mulai duduk bersila dengan kepala menunduk takzim. Telapak tangannya terasa dingin. Suasana di sekitar makam keramat itu membuatnya merasa sebagai manusia yang kecil.

 

“Ya,  penguasa  Bukit  Siguntang  dan  yang  pernah  jaya di Swarnadwipa sampai ke sebarang lautan … duhai, Dapunta Hyang Rajasa Jayanaksa, hamba berterima kasih atas jerih payah Paduka pada masa lalu, membesarkan nama tanah kita …,” seru Serunting.

 

Air mata Serunting mulai berurai. Serunting membayangkan Dapunta Hyang berjuang mendirikan Sriwijaya dan meluaskan wilayahnya. Demi tujuan itu, Dapunta Hyang beserta dua puluh ribu bala tentara melakukan siddhayatra atau perjalanan suci dari Minanga menuju Matajap dengan naik perahu.

 

“Paduka, berilah hamba keberanian dan kekuatan seperti Tuan … izinkan hamba mengambil kekuatan di Bukit Siguntang ini. Izinkan hamba belajar ….”

 

Sebagai pendekar, Serunting tidak hanya mengandalkan kekuatan fisik. Meskipun termasuk rakyat biasa, ia mempelajari juga sejarah negerinya.

 

Setelah mendatangi makam Dapunta Hyang, Serunting bersembahyang di  hadapan  patung  sang  Buddha  di  bukit  itu. Ia melakukannya sekejap, tetapi khusyuk. Kemudian, ia pun mendapatkan tempat yang terlindungi untuk bersemedi. Pohon meranti itu menarik perhatiannya. Dengan sekali lompatan ia telah berada di atas pohon meranti setingi tiga puluh meter (ada kayu

 

meranti yang tingginya mencapai enam puluh meter). Ia duduk bersila di atas persimpangan cabang pohon itu. Ketika ia melesat, burung-burung yang sedang bersarang terkejut dan terbang. Saat pendekar itu hanya duduk diam mematung, burung-burung itu kembali ke sarangnya. Serunting hanya sekali-sekali saja turun untuk makan. Karena sedang bersemedi, ia hanya makan daun- daunan dan buah-buahan di sekitar bukit itu. Ketika turun dari persemediannya, ia  meniru gerak  buah  meranti  yang  terlepas dari pohon induk, terbang melayang seperti menari berputar- putar dan jatuh di mana pun sesuai tiupan angin. Saat jatuh, kaki Serunting tepat menjejak tanah dengan tegak. Di tangannya sudah menggenggam cempedak, buah kelapa muda, pisang, dan daun- daun pakis yang ia sambar saat melayang turun dari persemedian.

 

Sudah sebulan lebih Serunting bertapa. Ia merasa tidak mendapatkan sesuatu yang baru. Berlanting naik dan turun di atas ketinggian bukan ilmu baru baginya. Ia sudah menguasai ilmu meringankan tubuh sejak lama. Meskipun tenaga dalamnya telah pulih, Serunting merasa belum mendapatkan kesaktian yang baru. Ia mencoba bersemedi lagi, tetapi kali ini tidak naik-turun untuk mencari makan sama sekali. Tepat hari ketiga, ia mendengar bisikan dari alam semesta.

 

“Serunting, kalau engkau ingin mendapatkan kesaktian, bertapalah di bawah pohon bambu hingga tubuhmu tertutupi kerimbunannya.”

 

Setelah suara tersebut menghilang, Serunting langsung melompat turun ke bawah pohon bambu. Tanpa makan dan minum  sama  sekali,  Serunting  bertapa  sekian  lama.  Tanpa  ia

 

sadari, anak-anak bambu di sekelilingnya pun telah merimbun, meninggi, dan menutupi tubuhnya. Serunting sendiri sudah terlihat hampir seperti anak-anak bambu andaikan ada orang lain yang melihatnya.

 

Genap tiga puluh enam purnama Serunting merasakan sesuatu yang sangat sakit di lidahnya. Ia biasanya dapat menguatkan  diri  ketika  sedang  dalam  pertapaan.  Akan  tetapi, kali ini lidahnya sangat kelu, pahit tiada terkira. Saking kelunya, tubuh Serunting pun menjadi kaku, lalu mengejang. Ia hampir ambruk. Langit menghitam. Angin yang bertiup sangat kencang menghempas tubuh Serunting dari rumpun bambu. Serunting jatuh terpelanting dalam keadaan bersila. Gerisik bambu berdenyit-denyit. Serunting merasa mendengar suara siut angin, tetapi seperti suara manusia.

 

“Serunting … Serunting …!”

 

Pendekar itu tidak saja merinding, tetapi juga merasakan suhu tubuhnya sangat dingin.

 

“Serunting … lidahmu berbahaya … berhati-hatilah …!”

 

Serunting semakin menggigil. Ia menangkap suara itu, lalu jatuh pingsan.

 

PERGURUAN SILAT MATA EMPAT

 

 

 

 

 

Seperti rumah penduduk lain, rumah pendekar Mata Empat juga merupakan rumah panggung. Namun, rumah panggung Mata Empat tidak terbuat dari kayu, tetapi dari bambu, sedangkan atapnya terbuat dari ijuk. Di sekitar rumah utamanya itu, terdapat bangunan-bangunan lain yang lebih kecil dan terbuat dari bahan yang sama. Rumah utama itu menghadap ke timur. Dinding-dindingnya adalah kelongsong bambu hitam halus yang disusun  vertikal  rapat  seperti  pagar.    Lantainya  terbuat  dari kayu yang halus. Rumah-rumah panggung kecil di sekelilingnya merupakan rumah murid-murid dan tetangga Mata Empat . Salah satu bangunan di belakang rumah utama dijadikan lumbung untuk menyimpan berbagai hasil panen. Tidak jauh dari lumbung, terdapat kandang ternak. Di bagian tengah pekarangan terdapat bangunan panggung yang tidak bersekat yang digunakan sebagai balai pertemuan. Pekarangan luas di sekitar rumah-rumah itu ditumbuhi berbagai tanaman, seperti rumpun bambu, pohon petai, pohon kelapa, pohon duku, dan pohon durian.

 

Perkampungan yang hanya dihuni delapan belas kepala keluarga itu dekat dengan sungai yang kemungkinan besar adalah anak dari anak Sungai Musi. Di sungai tersebut warga kampung mencuci perabotan, mencuci pakaian, mandi, dan melakukan aktivitas lain.

 

Perguruan Mata Empat tidak pernah sepi. Berlatih olah tubuh secara disiplin yang dilakukan setiap sore ditangani oleh lima  murid  senior.  Lima  orang  murid  senior  itu  mempunyai

 

jadwal masing-masing untuk melatih olah tubuh secara bergiliran. Mereka, yang tidak sedang melatih, melakukan pekerjaan harian mengurusi transaksi jual-beli hasil pertanian yang mereka olah bersama. Meskipun demikian, pada malam hari murid-murid senior tersebut tetap berlatih sendiri menggunakan senjata sesuai dengan  ketertarikan  masing-masing.  Di  antara  semua  murid Mata Empat, ada satu orang murid yang diizinkan keluar untuk menimba ilmu dari guru lain atau magang. selain itu, ada juga satu orang murid yang sedang diharuskan melakukan pertapaan.

 

Sang guru, Mata Empat, baru saja mengantarkan tamu. Kali ini sang tamu bukanlah pedagang yang biasa beraktivitas mengambil hasil pertanian dan peternakan keluarga besar itu, melainkan orang yang tak dikenal, sebanyak empat orang. Mereka datang dengan berkuda. Mata Empat dan keempat tamu itu berbincang di rumah utama, bukan di balai pertemuan.  Hal itu menandakan bahwa mereka tidak ingin orang lain mendengarkan pembicaraan mereka.   Dari pakaiannya, salah seorang tamu terlihat lebih disegani daripada ketiga tamu yang lain, yang berbaju seragam, tetapi belum jelas dari kesatuan apa dan dari mana. Meskipun demikian, tamu tersebut bersikap sangat hormat kepada Pendekar Mata Empat yang tak pernah berpakaian seresmi pakaian sang tamu, tetapi begitu necis di mata penduduk dibandingkan dengan pendekar lain. Salah satu ciri khas Mata Empat adalah gaya berpakaiannya.

 

Kebanyakan laki-laki Melayu menggunakan sarung berwarna  cerah  yang  diselempangkan  di  bahu  atau  dililitkan di pinggang dengan penahan sabuk keris. Namun, Mata Empat tidak pernah menggunakan kain sarung, tetapi selendang yang

 

ia selempangkan di kedua bahunya. Laki-laki Melayu suka menggunakan rompi tanpa lengan. Akan tetapi, Mata Empat tidak demikian. Ia menyukai baju-baju yang digunakan oleh orang India.

 

Setelah kedatangan tamu yang tak biasa tersebut, pada malam harinya Mata Empat memanggil murid-murid seniornya. Mereka berkumpul di rumah utama, duduk di balai-balai teras rumah panggung itu.

 

“Siapa di antara kalian bertiga yang pernah mendengar Rie Tabing, tamu kita sore tadi? Kalian ada yang sempat melihatnya?” tanya Mata Empat.

 

Ketiga murid senior yang masih ditempa di perguruan tersebut saling memandang.

 

“Ia mengaku orang Semidang,” kata Mata Empat membuka kemungkinan ketiga muridnya ada yang pernah mendengar kabar tentang tamu tersebut.

 

“Ada  apakah  gerangan,  jauh-jauh  ia  datang  ke  tempat kita, Guru?” tanya Pucung, murid senior Mata Empat yang berperawakan paling tinggi.

 

“Akan aku ceritakan kalau di antara kalian ada yang pernah mendapat berita tentangnya.”

 

Reka, murid yang sore tadi bertugas melatih adik-adik perguruannya seperti ingin memberi tahu sesuatu, tetapi terlihat ragu.

 

“Reka …? Apa yang ingin kaukatakan?” tanya Mata Empat.

 

“Saya, Guru. Saya tidak tahu pasti apakah ia orang yang sama dengan orang yang pernah diceritakan kakak seperguruan kita, Batara, yang sekarang sedang mengembara. Kakak Batara pernah mengirim surat kepada saya, bercerita tentang perjalanannya.”

 

“Hmm … apa isi suratnya itu? Mana surat itu? Boleh saya

baca? Apa ada hubungannya dengan tamu yang datang tadi sore?”

 

“Sudah dua tahun yang lalu, Guru. Kakak Batara mengunjungi orang tuanya di Rejang ketika diizinkan Guru untuk mengembara. Saat itu, ia mendengar berita tentang pendekar sakti dari Semidang yang nyaris terbunuh oleh adik iparnya sendiri. Pendekar Serunting yang terluka kemudian hilang entah ke mana. Padahal, saat Serunting menikahi kakak Rie Tabing, laki-laki itu mendapat perkerjaan sebagai penggawa di Semidang.”

 

“Hmm … hmm … pendekar bayaran, kemudian menjadi penggawa, sekarang berpangkat kepala jurai, padahal hampir membunuh orang yang telah mengangkat derajatnya. Kepala jurai itu ada trah-nya … hahahaha. Lalu, sekarang ia ingin meningkatkan kesaktiannya dengan berguru kepadaku agar dapat menjadi … panglima, kurasa hehehe … manusia tidak tahu diri rupanya dia.”

 

“Siapa, Guru?” tanya ketiganya serentak.

 

“Aku tidak mau begitu saja mengangkatnya sebagai muridku   seperti   kalian.   Akan   tetapi,   dia   sudah   mengemis- ngemis kemarin sore dan tampaknya akan datang lagi dalam beberapa hari ini. Aku akan mempersilakannya menjadi murid tamu sebagaimana Batara sedang menjadi murid tamu dalam pengembaraannya saat ini. Rie Tabing akan tinggal bersama kita dengan mendirikan satu pondok di pekarangan mulai dua minggu ke depan.”

 

 

PULANG KAMPUNG

 

 

 

 

 

 

Selama dua tahun lebih Serunting berada di Bukit Siguntang. Keadaan Semidang mengalami beberapa perubahan. Pasar tidak seramai dulu. Orang-orang tampak tidak begitu bergairah berhadapan dengan pembeli. Para pembeli pun tampak putus asa dengan harga-harga yang mahal. Serunting sudah menduga adik iparnya, Rie Tabing, mengambil alih jabatan kerie darinya di Semidang. Serunting merasa bersalah kepada rakyatnya jika rakyat Semidang menjadi korban karena masalah itu. Sang pendekar menduga pasar menjadi sepi disebabkan tingginya pajak dan mahalnya harga barang-barang karena hasil pertanian kemungkinan besar dibeli oleh pihak tertentu, lalu dijual lagi di pasar dengan harga sesukanya.

 

Serunting mengurungkan niat membuka pagar bambu rumahnya ketika sampai di jalan di depan halaman rumahnya. Ia  memikirkan  perubahan-perubahan  lain  yang  terjadi semenjak kepergiannya. Ia tidak tahu lagi apakah rumah yang dibangun bersama istrinya pada masa lalu itu akan tetap ramah menyambutnya. Di depan rumah itu tampak satu pengawal berjaga, tetapi bukan pengawal yang Serunting kenal. Kebahagiaan Serunting, kerinduan akan kampung halaman, tiba-tiba berubah menjadi rasa getir. Keningnya berkernyit. Sesuatu yang berat menindih di dadanya. Ia merasa tidak berhak lagi, jangankan untuk kembali tinggal, bahkan untuk bertamu ke rumah itu.

 

“Mungkin Rie Tabing dan Melur sudah menganggap aku hilang atau mati. Mungkin Melur sudah menikah lagi dengan prajurit berpangkat. Laki-laki yang tampak langsing dan menunjukkan kesigapan gerak itu memilih untuk tinggal saja di penginapan beberapa hari tanpa memberi tahu siapa pun bahwa ia adalah Serunting, pendekar sakti dari Semidang. Bahkan, Serunting tidak mau mengabarkan keadaan dirinya kepada anak- anak dan keluarga besarnya.

 

Sejak pagi hingga petang ia mengenakan pakaian penyamaran supaya penduduk tidak menyadari keberadaan dirinya. Penyamaran itu menguntungkan bagi Serunting karena dengan begitu, ia bisa mendapat informasi mengenai keadaan keluarganya. Ia memutuskan untuk menjual saja kain-kain dari Palembang, kain yang semula dibelinya di Pelabuhan Musi sebagai hadiah untuk istrinya dan kerabatnya.

 

Pagi hingga petang Serunting membuka lapak di pojok jalan dekat dengan alun-alun yang bersisian dengan rumahnya. Serunting berdagang di bawah rindangnya pohon angsana. Rambutnya yang panjang sepinggang telah dipotong setengkuk dan kepalanya mengenakan kain sorban seperti pedagang Gujarat. Kumis dan cambang telah bersih dicukurnya. Badannya menjadi lebih kurus setelah bertapa selama dua tahun. Kulitnya pun lebih terang. Kini Serunting dapat memastikan tak akan ada lagi orang yang bisa mengenali sosoknya.

 

“Pedagang baru?” tanya pengawal yang siap ganti berjaga di rumah, yang melihat gerak-gerik Serunting.

 

“Iya, Tuan. Saya baru datang dari Palembang. Ah, ini oleh-

oleh buat Tuan Muda yang gagah dan tampan!”

 

Pengawal muda itu tersenyum girang. Tangannya langsung menerima kain bagus pemberian sang pedagang.

 

“Hendak  berjaga  atau  sudah  selesai  hari  ini?”  tanya

Serunting. “Berjaga. “

“Oh, saya orang baru di sini, musafir yang akan berjalan ke selatan lewat pantai barat sambil membawa kain ini dari Palembang. Boleh tanya? Ini rumah siapa?”

 

“Rumah Putri Melur, istri Penggawa Setangkai, orang kaya dari Rejang yang pindah ke Semidang dan dapat jabatan penggawa karena bersahabat dengan Pangeran Muda.” Serunting manggut- manggut, benar dugaannya bahwa istrinya telah menikah lagi atas restu adik ipar Serunting yang sekarang menjadi kepala jurai.

 

“Mungkin  memang  mereka  telah  menganggapku  mati.”

Serunting berusaha memaklumi keputusan adiknya.

 

“Bagaimana? Aman kampung ini? Saya lihat penduduknya tenang ….”

 

“Amanlah. Tak ada perampok yang berani lagi datang ke sini. Rie Tabing sebagai kerie sangat tegas menghukum siapa saja yang berani melawan.”

 

“Rie Tabing? Siapakah beliau?”

 

“Adik Putri Melur.”

 

Serunting kembali manggut-manggut. Dalam waktu dua tahun alangkah cepat perubahan Semidang tanpa Serunting.

 

“Syukurlah kalau Semidang ini aman. Banyak pedagang akan suka singgah di sini. Kampung ini akan ramai, itu bagus untuk kemajuan Semidang.”

 

Serunting benar-benar dapat meyakinkan prajurit jaga itu bahwa dirinya pedagang. Tidak berapa lama orang-orang mulai tertarik pada lapak Serunting. Mereka mulai menawar kain-kain sarung yang dibawa Serunting dari Kota Palembang. Serunting sengaja tidak menghabiskan kain-kainnya hari itu. Ia menyimpan untuk persediaan Putri Melur yang siapa tahu esok mendengar tentang lapak baru di pojok rumahnya itu, lalu ia akan membeli.

 

Langit sore masih berpendar merah kekuningan ketika serombongan perempuan diiringi tiga prajurit tampak akan memasuki rumah Putri Melur. Dari kejauhan Serunting sudah dapat mengenali satu di antara mereka.

 

“Ayo … ayo! Dijual kain Palembang … akan segera habis!” teriak Serunting, sengaja mencari perhatian. Para perempuan tersebut segera menuju lapak Serunting. Mereka sangat sukacita membeli kain-kain itu.

 

“Ini berapa?” tanya Melur.

 

“Perempuan ini tidak berubah parasnya, tetap cantik dengan dandanan yang lebih mencolok,” pikir Serunting.

 

“Tidak usah beli, Tuan Putri, istri Tuan Setangkai yang kaya raya. Saya punya yang paling bagus untuk Putri,“ jawab Serunting.

 

Serunting mengeluarkan sarung yang paling indah, berwarna merah dan bersulam benang emas. Orang menyebutnya kain songket. Wajah Melur berbinar-binar setengah tak percaya.

 

Perempuan yang lain  berteriak histeris dan memandang  Putri

Melur dengan wajah iri.

 

“Sungguhkah ini buat saya?”

 

“Dengan segenap hati saya, Putri. Saya sengaja membeli ini sebagai oleh-oleh untuk Putri.”

 

Para perempuan itu berpandangan.

 

“Ini ambillah! Sampaikan salam saya kepada Adik Rie Tabing,” kata Serunting sambil memberikan kain itu dengan tersenyum. Di kedalaman hatinya sudah genap kerelaan berpisah dengan Melur.

 

Wajah Melur mendadak pucat pasi. Tangannya menerima

kain sarung itu dengan gemetar.

 

“Kakak Serunting … Kakak masih ….”

 

“Iya, saya masih hidup. Sudahlah, yang sudah lampau kita ikhlaskan saja. Titip anak-anak dan jaga mereka baik-baik. Saya akan datang untuk bertemu mereka pada saat-saat tertentu.”

 

Serunting  mengemasi  lapaknya.  Semua  kain  telah terjual  habis.  Ia  akan  kembali  ke  penginapan  terlebih  dahulu, lalu memikirkan ke mana dirinya akan menuju. Melur masih mematung.  Seluruh tubuhnya terasa dingin.

 

“Uang dan harta milik Kakak …?” kata Putri Melur dengan

suara bergetar.

 

“Sudah ada sedikit. Ambil saja untuk anak-anak,” jawab

Serunting dengan tenang dan tersenyum.

 

“Masuklah … aku akan segera pamit.”

 

“Kakak hendak ke mana? Akan tinggal di mana?”

 

“Terima kasih atas perhatianmu … jangan pikirkan itu. Aku seorang pendekar. Aku tahu apa yang harus aku lakukan. Masuklah ke dalam rumahmu,” bujuk Serunting dengan hati yang mulai terharu. Melur menundukkan kepalanya, lalu berjalan memasuki pagar bambu rumah miliknya dan milik Serunting pada masa lalu.

 

NASIB HARIMAU MENJADI BATU

 

 

 

 

 

 

Di Penginapan Serunting melakukan semedi. Tak ada yang tak sedih menghadapi perpisahan dengan keluarga yang sangat dicintai. Namun, Serunting masa kini adalah sosok yang berbeda dengan Serunting dua tahun lalu. Pertapaan di Bukit Siguntang dalam waktu yang lama telah membekalinya ilmu kedigdayaan yang baru, yaitu kesaktian lidah. Akan tetapi, kesaktian tentu mempunyai kelemahan atau pantangan yang menyebabkan kesaktian itu hilang. Pengalaman pertama, kelemahannya diketahui oleh lawan sehingga kalah bertarung dengan Rie Tabing. Kini ia tidak  takut kehilangan kesaktian lagi. Serunting justru takut jika lidah saktinya dapat terlalu mudah mencelakai banyak makhluk hanya karena ketidaksabarannya ketika melihat sesuatu yang bertentangan dengan kata hatinya.

 

Esok harinya Serunting meninggalkan Semidang. Ia berjalan ke arah timur laut dengan menumpang pedati milik petani yang sedang melakukan perjalanan ke Pasemah. Sepanjang perjalanan   Serunting   mendengar   pemilik   pedati   berbicara tak henti-henti tentang perkembangan Semidang, termasuk pengangkatan Rie Tabing yang banyak tidak disukai oleh masyarakat. Namun, Serunting hanya terdiam.

 

“Rie Tabing itu setelah membunuh kakak iparnya, ia menduduki jabatan kepala jurai sekarang. Kakaknya yang janda itu kemudian dinikahkannya dengan orang Rejang yang dulunya bekerja di tambang emas. Ia teman dekat Pangeran Muda.”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

28

Serunting menanggapi cerita yang sudah pernah didengarnya dari prajurit jaga itu hanya dengan menghela napas. Ia menahan diri untuk berkata bahwa dirinyalah Pendekar Serunting yang sudah dianggap mati itu.

 

Perjalanan sudah memakan waktu setengah hari. Pedati mulai memasuki hutan belantara. Tiba-tiba sapi yang membawa pedati itu berhenti dan melenguh tak henti-henti. Petani itu segera turun memeriksa keadaan sapinya. Serunting berjaga dengan waspada. Telinganya sekilas mendengar napas binatang

 

buas  berkaki  empat.  Pendengaran Serunting  benar,  hanya sekian detik setelah petani itu turun memeriksa sapi, sambil mengaum  seekor  harimau  melompat  dari  semak  menyerang sapi dan petani. Secepat kilat Serunting menghalangi sapi dan petani dari terkaman binatang buas itu. Perkelahian Serunting dan harimau itu berlangsung sengit. Harimau itu terlihat tak begitu tertarik mengoyak Serunting. Harimau itu berkali-kali mencari kesempatan untuk menerkam sapi. Dengan gerakan yang sangat cepat harimau itu berpindah menyerbu sapi dan berhasil menyobek kaki sapi tersebut. Serunting sangat marah.

 

“Kuajak Tuan berkelahi baik-baik, lain lagi yang engkau incar. Tuan memilih yang tidak berdaya. Mati saja Tuan sebagai batu!”   teriak   Serunting   dengan   tenaga   dalam   yang   tinggi. Langit menjadi mendung tiba-tiba. Angin kencang menggoyang pepohonan. Tanah di tempat mereka berpijak pun bergetar seperti terjadi gempa.  Harimau itu mengaum keras. Tubuhnya mengejang. Serunting dan petani hampir tidak memercayai penglihatan mereka sendiri. Harimau itu terbakar, tetapi tidak sampai menjadi abu. Ia mematung dengan kulit hangus dan mati menjadi batu.

 

PERTEMUAN PERTAMA DUA PENDEKAR SAKTI

 

 

 

 

 

 

 

Serunting sedang membangun kehidupannya yang baru di Pasemah, di sebuah lembah di tepi Sungai Enim. Ia membangun rumah panggung kecil dari bambu yang dinding-dindingnya dianyam sendiri. Agar berseni ia mengecat dan menghaluskan anyaman bambu itu dengan menggunakan pernis. Bambu pernisan tidak hanya ia gunakan untuk dinding rumahnya, tetapi juga untuk penyangga, bingkai jendela dan pintu, lantai, langit- langit, dan kerangka atap.

 

Ketika tinggal di Semidang, Serunting pernah belajar menganyam dan membuat kerajinan dari bambu, termasuk melubangi seruling. Pekerjaan sehari-hari Serunting di Pasemah adalah membuat kursi, dinding, dan kerajinan lain, kemudian ia jual. Bambu-bambu dipilihnya dari jenis bambu apa pun, kecuali bambu berwarna kuning. Meskipun sangat menyukai warna kuning, ia tidak boleh memilihnya karena saat pertapaan di Bukit Siguntang, ia dianugerahi kesaktian lidah dengan satu pantangan, yaitu bambu kuning jangan sampai mengenai tubuhnya.

 

Meskipun rumah itu kecil, Serunting menyediakan beranda yang luas sebagai ruang tamu untuk orang-orang yang bertandang ke rumahnya. Orang-orang yang berniat baik dan ingin belajar dengan sungguh-sungguh ilmu bela diri diterimanya sebagai murid.

 

Namun, ia tidak berniat mendirikan perguruan silat, ia hanya melatih orang-orang itu di halaman rumahnya. Setelah berlatih, Serunting membebaskan mereka untuk tinggal di mana pun, tidak harus di sekitar rumahnya.

 

Berita tentang kesaktian seorang pendekar bernama Serunting yang dapat mengutuk makhluk hidup menjadi batu dengan cepat tersiar di mana-mana, termasuk di Semidang, tempat Serunting berasal. Berita perkelahian Serunting dengan harimau di hutan menuju Pasemah itu mendatangkan rasa penasaran orang yang menyukai berita-berita yang aneh dan menghebohkan, juga para pendekar yang baru mendengar senjata berupa lidah. Dalam  dunia  kependekaran  dikenal  dua  kelompok  pendekar, yaitu pendekar golongan putih dan pendekar golongan hitam. Pendekar golongan putih adalah pendekar yang memanfaatkan ilmu kesaktian mereka untuk kebajikan dan menumpas kejahatan, termasuk kejahatan yang dilakukan pendekar golongan hitam ataupun para penguasa yang bertindak sewenang-wenang. Pendekar golongan hitam adalah pendekar yang menetapkan dirinya sebagai perampok atau pendekar bayaran yang membantu kesewenang-wenangan pemerintah di sebuah kedatuan, dari tingkat yang paling elit sampai tingkat kampung.

 

Serunting adalah salah satu pendekar yang tidak memedulikan pembagian golongan ini. Pengalamannya dalam dunia pemerintahan sebagai seorang kepala jurai di Semidang memperlihatkan kepada Serunting bahwa pendekar golongan hitam dan golongan putih tidak jauh berbeda, menjadi abu-abu ketika berhadapan dengan kekuasaan.

 

Pendekar yang semula baik, ketika diangkat sebagai pejabat di keprajuritan, menjadi sewenang-wenang dan mementingkan kekayaan diri sendiri dan keluarganya. Mereka menjadi takut kehilangan jabatan dan hartanya. Sebaliknya, ada beberapa pendekar  dari  golongan  hitam,  yang  pernah  Serunting  temui, yang sangat baik kepada rakyat dan menolong sesama. Pendekar yang seperti itu termasuk golongan hitam karena mengikuti aliran gurunya, tetapi sebenarnya tidak sependapat dengan gurunya mengenai beberapa keputusan. Namun, ia telanjur dididik oleh gurunya sejak kecil dan dianggap sebagai anak sendiri.

 

Serunting makin banyak dicari oleh para pendekar sejak mempunyai kesaktian baru dan dijuluki si Pahit Lidah. Mereka sekadar ingin berbincang dengannya atau menjajal kesaktiannya. Akan tetapi, Serunting bukanlah pendekar yang senang mengunjukkan kekuatannya. Jika ia tahu lawan hanya ingin menjajal kesaktiannya dan lawan itu tidak sebanding dengannya, dengan sikap rendah hati ia memilih tidak meladeni tantangan tersebut. Serunting menggunakan kesaktian lidahnya hanya pada saat hatinya tersentuh.

 

Para pendekar, baik dari golongan hitam maupun golongan putih, tak bisa lagi menahan penasaran mendengar nama Serunting yang dijuluki Pahit Lidah. Secara diam-diam maupun terang-terangan mereka sering mengajak Pahit Lidah bertarung dengan mengirim pesan maupun mencegat Serunting saat dalam perjalanan menuju Semidang untuk menjenguk putra-putranya sepurnama sekali. Untuk menarik perhatian Serunting, para pendekar golongan hitam sering membuat keonaran di kampung- kampung tempat Serunting singgah.

 

Siapa menabur badai, akan menuai angin, begitulah pepatah yang tepat untuk menggambarkan mereka yang sering mencari keributan dengan mengorbankan orang-orang tak berdaya di kampung, mereka akhirnya bertemu dengan kematian dan menjadi batu karena kutukan Pahit Lidah.

 

Para pendekar dari golongan putih mempunyai cara yang berbeda untuk menjajal kesaktian Serunting. Mereka tidak mau mendapat amuk Serunting dengan kutukannya maka mereka mencoba mengajak bertarung di jalur aman. Mereka hanya sering mengajak adu ketangkasan, tetapi diam-diam sering mencari kelemahan Serunting agar dapat mengalahkannya suatu saat sehingga akan dianggap sebagai pendekar papan atas dalam dunia persilatan.

 

Batara sudah kembali dari pengembaraannya dan tinggal di  perguruan  Mata  Empat.  Sementara  itu,  Rie  Tabing  yang sudah enam bulan belajar bela diri dengan jeda per dua bulan kembali ke Semidang untuk menunaikan tugasnya sebagai kerie menggantikan Serunting. Saat Batara kembali, Rie Tabing sedang berada di Semidang.

 

Kedatangan  Batara  disambut  dengan  pesta  kecil  oleh adik-adik perguruannya. Reka yang paling sibuk di antara yang lain menyambut sahabat sekaligus kakak seperguruannya itu. Malam itu Batara menghadap sang guru dan menceritakan pengalamannya selama dalam pengembaraan.

 

“Kabar apa saja yang kaubawa, Batara?” tanya Mata Empat

kepada murid seniornya itu.

 

“Kabar saya seperti yang Guru dan teman-teman lihat, baik, atas doa semuanya. Pengalaman paling menarik yang saya perhatikan dalam dunia persilatan selama saya mengembara adalah bertemu dengan berbagai macam karakter pendekar dan hidup berbaur di tengah masyarakat. Saya juga berguru kepada pendekar lain, tetapi saya tidak berani berguru kepada pendekar dari golongan hitam. Meskipun seperti yang Guru Mata Empat ajarkan, bertarung dengan lawan, baik dari golongan hitam maupun golongan putih, juga bagian dari belajar kanuragan, belajar dari lawan!”

 

“Siapa pendekar yang paling mumpuni yang pernah kauhadapi, atau engkau hanya mendengar kabar beritanya saja?” tanya Mata Empat langsung pada inti yang ingin ia ketahui.

 

“Saya dengar Guru mengangkat Rie Tabing menjadi murid di sini?”

 

“Hei, Anak Muda! Engkau ini … aku tanya, kenapa malah balik bertanya? Urusan Rie Tabing itu urusanku, sekarang urusanmu berceritalah kepadaku siapa pendekar-pendekar di luar sana!”

 

“Baik, Guru. Saya pernah bertempur dengan Rie Tabing, tidak sengaja. Saya tidak tahu kalau Rie Tabing sudah diangkat Guru sebagai kawan seperguruan di sini.”

 

“Tak usah minta maaf. Terus?”

 

“Boleh saya berkata yang sesungguhnya, Guru?”

 

Batara tampak ragu-ragu dan penuh ketidakmengertian mengapa Rie Tabing diangkat sebagai murid di perguruan Mata Empat yang disegani dalam dunia kependekaran itu.

 

“Iya. Jangan takut salah ….”

 

“Saya sedang tinggal di kampung Batuputih di tepi Sungai Ogan ketika tiba-tiba Rie Tabing dan prajuritnya berdatangan meminta uang dan hasil panen. Saya tidak tahu apakah wilayah kampung itu di bawah kekuasaannya sehingga ia merasa berhak. Pertemuan pertama itu saya memilih diam. Setelah saya selidiki, ternyata kampung itu bukan di bawah kekuasaan Rie Tabing, melainkan sudah masuk wilayah Pasemah, tepatnya memang di perbatasan. Ketika Rie Tabing datang untuk kedua kali, saya tidak bisa diam. Saya membela warga kampung yang tak bisa berbuat apa-apa. Saya terlibat pertarungan dengan prajurit Rie Tabing dan melukai dua di antara mereka. Rie Tabing marah dan mengancam saya, suatu saat kalau bertemu akan membunuh saya.”

 

Mata Empat menghela napas.

 

“Dia juga pernah hampir membunuh secara licik pendekar sakti dari Semidang yang kabarnya kakak iparnya sendiri,” kata Mata Empat sambil mengernyitkan alisnya.

 

“Ya. Terakhir saya dengar rupanya Pendekar Serunting menambah  ilmu  baru  di  Bukit  Siguntang.  Ia  sempat  kembali ke Semidang dan bahkan sekarang ia memiliki kesaktian yang ditakuti para pendekar papan atas.”

 

“Kesaktian apa itu?”

 

“Lidahnya  dapat  membunuh  lawan  dalam  sekali  sebut

‘menjadi batu’.” “Wahhh!” “Hahhh!”

“Saya baru dengar kesaktian ini,” kata adik-adik sepeguruan Batara menjadi ribut. Mereka duduk mendekat, semakin ingin tahu lebih lanjut tentang Serunting yang sakti itu. Mata Empat terdiam, duduk bersila, dan memusatkan pikirannya. Tak dihiraukannya lanjutan cerita dari Batara tentang pendekar yang dijuluki si Pahit Lidah serta siapa saja pendekar yang sudah bertarung dan akhirnya kalah menjadi batu.

 

“Kakak  pernah bertemu  dengan  si  Pahit  Lidah?”  tanya

Reka dan yang lain sangat antusias. Batara menggeleng.

 

“Apakah menurutmu si Pahit Lidah akan menghukum dan membalas perlakuan Rie Tabing?” tanya Reka yang sangat tidak menyukai keberadaan Rie Tabing di perguruan mereka karena dapat mencemarkan nama baik perguruan.

 

“Semoga saja ….”

 

“Hmmm … diam dulu semua!” perintah Mata Empat.

 

“Dia yang memperoleh ilmunya dengan bertapa di Bukit Siguntang. Aku berada tak jauh darinya ketika dia sedang sangat lemah dan nyaris mati akibat terluka. Ia ditolong Tabib Sentani

 

sebelum kembali sehat dan bertapa di Bukit Siguntang. Itu pendekar yang kaumaksud, Batara. Serunting, yang nyaris tewas dipecundangi Rie Tabing.”

 

Batara terkejut sang guru telah mendapat informasi lebih

banyak lagi.

 

“Aku ingin berkenalan dengannya. Tuliskan pesanku dan

kirimkan kepadanya di Pasemah, Batara!” Batara membungkukkan badannya. “Saya laksanakan, Guru.”

Batara merasa sangat beruntung diberi tugas mengantar surat kepada Serunting oleh gurunya. Matanya yang bulat jernih berbinar-binar. Dengan demikian, surat itu menjadi alasan baginya  untuk  dapat  bertemu  langsung  dengan si  Pahit  Lidah yang tersohor. Ia mendengar konon para pendekar sangat sulit bertemu dengan Serunting. Sejak kabar kesaktian Serunting tersiar di mana-mana banyak pendekar sengaja mencari gara-gara untuk dapat bertemu dan bertarung dengan si Pahit Lidah. Kini Serunting hidup lebih sering dengan perkelahian yang akhirnya memunculkan banyak dendam dan rasa penasaran di kalangan pendekar golongan putih dan golongan hitam jika salah satu kawan atau saudara seperguruan mereka dikalahkan, apalagi jika sampai dikutuk menjadi batu.

 

Batara kini sudah berhadapan langsung dengan Serunting tanpa harus bersusah payah. Jantungnya berdegub kencang. Ia lebih banyak menundukkan wajah meskipun sangat ingin mengamati

 

sebaik mungkin mimik si Pahit Lidah dan gerak tubuhnya. Hanya itu keinginan Batara. Tidak ada sama sekali keinginan hatinya untuk menjajal kesaktian Serunting. Tentu ia merasa sama sekali bukan lawan tanding Serunting. Namun, ia berharap si Pahit Lidah mau  melakukan  adu  kesaktian  dengan  gurunya,  Mata  Empat, dan ia ingin menyaksikan kehebatan keduanya. Menurut Batara, pertandingan itu tidak saja akan menjadi sangat seru, tetapi sekaligus indah.

 

Dalam penilaian Batara, Serunting adalah sosok pendekar yang tampan, jauh lebih tampan daripada gurunya, Mata Empat. Serunting berwajah lonjong dengan tulang pipi yang tinggi, bermata bulat, dan berhidung mancung dengan ujung yang meruncing. Serunting berperawakan tinggi, tidak gempal seperti umumnya para pendekar, cenderung langsing, tetapi terlihat gesit. Kulitnya terang meskipun sebagai pendekar ia banyak melakukan perjalanan di bawah sengatan matahari. Serunting berpenampilan biasa dengan hiasan ikat kepala di rambutnya yang ikal sepundak, rompi tanpa kancing, dan kalung bermata batu warna hitam.

 

Serunting tersenyum membaca surat berisi tantangan pertandingan mengayuh perahu di Sungai Musi. Pembawa surat itu, pemuda yang cakap, sudah beristirahat di bilik yang disediakan Serunting untuk para tamu jauh.

 

Saya, Pendekar Mata Empat dari Perguruan Mata Empat di tepi Sungai Musi, Palembang, mengundang Yang Terhormat Tuan Pendekar Serunting atau si Pahit Lidah untuk sudi kiranya bermain-main sampan di anak Sungai Musi terdekat di Palembang.

 

Demikianlah, saya sangat senang apabila Tuan Serunting berkenan hadir pada dua purnama setelah surat ini saya kirimkan. Terima kasih yang tak terhingga.

 

Tabik,Mata Empat

 

Surat di atas kulit kayu berhuruf Ulu itu disimpannya. Sebelum matahari terbit, ia merasa harus segera menulis surat balasan. Serunting pernah mendengar nama Mata Empat, pendekar yang mempunyai kelebihan melihat segala hal lebih cepat, karena ia bermata empat. Mata Empat juga terkenal dengan Perguruan Silat Mata Empat yang tersohor dengan ketekunan beternak dan bertani. Mata Empat termasuk pendekar golongan putih. Namun, kehidupan masa lalu pendekar ini bergelimang dengan pertarungan yang brutal, tidak memandang bulu. Mata Empat sangat kejam membunuh lawan-lawannya dalam rangka mencari siapa pendekar paling sakti di seantero Swarnadwipa. Serunting melihat tujuan pendekar Mata Empat di masa lalu adalah untuk menguasai ilmu silat yang mumpuni dan menjadi raja diraja para pendekar. Tujuan yang sangat ambisius itu menyebabkan sebagian besar hidupnya habis untuk bertarung, tetapi entah mengapa Mata Empat kemudian berubah.

 

Serunting tidak pernah mendengar lagi kabar tentang pendekar yang membabi buta dalam bertarung itu. Perubahan itu membuat Serunting kagum. Dari cerita Batara, Serunting menyimpulkan Mata Empat kini telah menjadi salah satu pendekar yang bijaksana.

 

Kebijaksanaan itulah yang kini sedang Serunting cari sehingga malas meladeni tantangan-tantangan pertarungan dari para pendekar. Ia menghitung dalam beberapa purnama terakhir ia sudah menghabisi banyak nyawa dengan mengutuknya menjadi batu. Setiap ia melakukan perjalanan, selalu saja ada peristiwa yang menyentuh perasaannya, yang membuatnya marah dan akhirnya keluarlah kutukan lidah saktinya. Serunting menghela napas sangat dalam. Ia teringat suatu kejadian yang disesalinya mungkin sampai mati. Ia berharap tantangan perkelahian Mata Empat ini tidak membuat Serunting naik darah dan terpaksa kembali mengeluarkan kutukannya.

 

Serunting mulai menulis surat balasan di atas sebilah bambu. Huruf-huruf Ulu yang diukirnya di atas bambu itu membuktikan keluwesan tangan Serunting. Kekuatan pergelangan tangannya telah ia latih dengan baik untuk memainkan senjata, seperti pedang dan golok. Kekuatan hatinya ia latih untuk memutuskan sesuatu. Bahu dan lengannya yang kokoh dan stabil dapat menyangga pergelangan tangannya sehingga tulisan itu tidak pernah salah ukir dalam sekali tulis. Pada hari ketiga bulan Caitra, pada saat deras-derasnya musim penghujan dan arus yang akan mengalir, Serunting menentukan kapan pertandingan itu akan berlangsung.

 

Selama menginap di bilik yang disediakan Serunting, Batara telah berniat tidak akan memejamkan matanya. Ia ingin melihat apa yang dilakukan pendekar sakti itu setelah membaca surat dari Mata Empat. Meskipun pada batas kesopanan supaya tidak   dianggap   bekerja   seperti   seorang   mata-mata,   Batara

 

mengamati Serunting sesekali sambil membaca kitab-kitab mantra sehari-hari yang ditulis di kulit kayu yang diberikan Serunting kepadanya.

 

“Siapa orang tuamu, Batara?” tanya Serunting dari ruang tamu setelah selesai menulis surat balasan untuk Mata Empat. Meskipun bilik itu tertutup, Serunting dapat mengetahui bahwa pemuda itu belum beranjak tidur. Batara tercekat. Ia buru-buru membuka pintu dan menghadap Serunting di beranda depan.

 

“Rie Kencana dari Rejang,” jawab Batara sambil memberi anggukan, kemudian duduk di samping Serunting.

 

“Owh, anak Rejang engkau ini. Pintar engkau menulis Ulu.” Batara mengangguk.

“Ini surat balasanku. Besok segera kaukembali bertemu gurumu.”

 

Batara mengangguk lagi dan sedikit membungkukkan punggung.

 

Sebelum matahari terbit, Serunting pun ikut berkemas dengan keperluan seadanya.

 

Kitab dari kulit kayu yang berisi mantra-mantra harian itu  diberikan  Serunting  sebagai  hadiah  kepada  pemuda  itu. Batara tidak mendapat sepatah kata pun perhatian dari sang pendekar sakti, si Pahit Lidah, meskipun secara sekilas kitab itu tak istimewa.  Batara memacu kuda pinjaman sang guru dengan sangat cepat. Ia menuju ke arah timur laut, kemudian menyusuri

 

Sungai Enim, Sungai Lematang, sampai nanti ia bertemu Sungai Musi. Meskipun berkuda, ia memilih jalur yang searah dengan aliran sungai. Tantangan yang ditemuinya adalah jalanan bertebing, naik dan turun. Kepandaiannya yang biasa saja dalam mengendarai kuda sebenarnya membuat perjalanan Batara jauh lebih lambat dibanding jika ia memilih menumpang nelayan sungai. Namun, Mata Empat mempunyai pertimbangan lain ketika meminjamkan kuda kepada muridnya itu. Ia tidak ingin Batara bertemu dengan banyak orang di jalanan yang akan menyiarkan rencana pertemuan Mata Empat dan Serunting. Mata Empat tidak ingin pendekar yang lain tahu lebih awal dan menghalangi hajat istimewa ini.

 

Batara tidak memaksakan diri untuk terus memacu kudanya saat malam mulai tiba. Ia segera mencari kampung untuk bermalam. Perkiraan Batara, ia akan mencapai kampung terdekat, yaitu Kampung Tanjungraja tepat saat matahari terbenam.

 

Baru saja ia masuk kampung dan meminta tolong salah satu warga untuk memberinya penginapan, Batara merasa sudah diamati oleh beberapa orang asing. Ia segera masuk ke dalam rumah warga kampung tersebut, berbincang-bincang sebentar dan menerima jamuan ala kadarnya, lalu segera pamit untuk istirahat. Batara menghela napas.

 

tiba-tiba  pintu  biliknya  diketuk.  Tangannya  segera meraih gagang pintu dan belum sempat melihat wajah siapa yang mengetuk pintu, tangan Batara telah ditarik dengan keras, dipukul beberapa kali, dan dipaksa keluar rumah. Warga kampung yang diinapi Batara pun ketakutan, tak bisa berbuat apa-apa.

 

“Siapa kalian ini? Aku tidak punya harta apa-apa,” teriak Batara yang diseret beberapa orang dan entah akan dibawa ke mana. Batara memberontak dengan menendang tangan kekar yang mengunci tangannya.

 

“Diam! Jangan melawan! Aku akan membawamu kepada

seseorang.” “Siapa?”

Batara mengeluarkan jurus-jurusnya. Dua lelaki bertubuh kekar itu terjerembap.

 

“Ayo, kita berkelahi secara jantan dan jangan main culik!

Kalian disuruh siapa?”

 

Dua laki-laki kekar itu sepakat mengeroyok Batara. Perkelahian itu tak berlangsung lama karena salah seorang pengeroyok terluka oleh keris Batara.

 

“Ayo! Sekarang tinggal engkau seorang. Katakan saja, siapa yang berniat menculikku dan untuk apa? Katakan atau aku akan mencederaimu juga dengan kerisku.”

 

Laki-laki yang sudah terluka membunyikan siulan. Segerombol orang bersenjata pisau kemudian berdatangan, mengeroyok Batara. Pemuda itu melawan dengan tanpa rasa takut. Ia, salah seorang murid senior Pendekar Mata Empat, tidak pernah takut dengan pengeroyokan bersenjata.

 

Ilmu bela diri Batara sudah cukup tinggi. Perkelahian berjalan lebih lama dengan tidak ada satu pun pengeroyok yang menyebut  siapa  pemimpin mereka.  Tampaknya  mereka  hanya

 

diperintah untuk menangkap Batara, entah dengan tujuan apa. Satu lawan sepuluh bagi Batara, paling tidak, tiga yang akan terluka. Namun, setelah dua orang terkena kerisnya, sebuah anak panah melesat. Sang pembidik yang bersembunyi memastikan bahwa  anak  panah  itu  akan  mengenai  punggung  pemuda  itu. Akan tetapi, anak panah itu ternyata dapat ditangkap oleh tangan seseorang sebelum mengenai tubuh Batara yang tidak sempat menghindar.

 

“Pengecut kalian! Ini kukembalikan anak panahmu!”

 

Pendekar itu dengan kekuatan tenaga dalamnya, tanpa menggunakan busur, melesatkan anak panah ke arah rerimbunan pohon dengan sekali mengayunkan tangan,.

 

“Awhhh! Bukkkk!” terdengar suara jeritan dan gedebuk

tubuh yang jatuh dari atas pohon.

 

“Pendekar  si  Pahit  Lidah!”  seru  Batara  dengan  wajah

terkejut. Para pengeroyok pun terkejut dan mundur.

 

“Siapa yang menyuruh kalian mengeroyok pemuda ini? Ia

tamuku!”

 

Semua terdiam.

 

“Kalian pendekar bayaran. Baiklah, kita tidak usah bertarung, tetapi kalau kalian tak ada yang mau mengatakan siapa yang membayar kalian, nasib temanmu yang mungkin sudah mati di bawah pohon itu akan menjadi ….”

 

“Rie  Tabing!”  seru  orang-orang  itu.  Mereka  akhirnya

mengaku karena ketakutan.

 

“Siapa?”

 

“Jadilah batu temanmu di bawah pohon itu!” kata si Pahit Lidah dengan suara menggelegar. Tanah tempat mereka berpijak bergoyang seperti terjadi gempa. Tubuh pemanah yang telah jatuh dari pohon itu mengepul. Ia pun menjadi batu.

 

Batara ternganga dengan wajah seputih mayat. Para pengeroyok itu terpaku dengan kaki yang lemas.

 

“Ini  hadiah  untuk  Rie  Tabing  yang  tidak  bosan-bosan

membuat perkara!”

 

Saat satu purnama menjelang pertandingan mengayuh sampan itu, Serunting maupun Mata Empat sudah menyiapkan perahu yang terbaik dan terkuat menurut mereka.

 

Mata Empat memesan perahu yang terbuat dari balok kayu rengas yang dilubangi bagian tengahnya, lalu diberi balok-balok kecil dari kayu jenis slumer yang dinamai buayan yang berguna sebagai tempat dudukan. Seminggu saja perahu Mata Empat sudah jadi dengan ukuran panjang tiga puluh depa dan tebal tiga jengkal. Dayung yang dipesannya sepanjang tiga depa dan daunnya lima hasta terbuat dari kayu merawan. Ia membuat dayung dua buah. Mata Empat sangat yakin perahu itu akan sangat kuat diduduki oleh dua pendayung yang akan mendayung satu perahu, tetapi berlawanan arah.

 

Perahu pancalang yang digunakan Serunting untuk berlatih ia sewa dari pemilik perahu yang sering digunakan sebagai transportasi  yang  membawa  pedagang  dan  barang-barangnya

 

dari pedalaman menuju ke hilir Sungai Musi. Ia menyewa perahu tersebut dengan ketentuan, jika perahu itu rusak, Serunting akan menggantinya.

 

Dengan perahu masing-masing Serunting dan Mata Empat kini lebih sering dan rutin berada di sungai, mendayung, berenang, dan berendam di bawah arus yang deras, bahkan berlatih menghanyutkan diri terbawa arus. Serunting tinggal di daerah perbukitan di tepi Sungai Enim yang bermata air di Pegunungan Barisan yang masuk wilayah Bengkulu. Kesehariannya berada di sungai tersebut membuatnya terbiasa dengan sungai yang curam, berbatu, dan berarus deras. Serunting terbiasa menghadapi pusaran-pusaran air dan jeram, aliran air yang deras dan menurun, yang tak terduga dan sangat berbahaya.

 

Ia sangat kenal perubahan tekanan angin yang kuat dan suhu yang mendingin yang menandakan akan hujan. Ia paham jika lereng bukit sudah berkabut tebal, dingin, dan awan di udara di atas pegunungan menggelap, hujan akan turun yang mengakibatkan volume air di sungai bertambah dan arus akan semakin deras.

 

Mata Empat tinggal di dekat muara Sungai Musi. Sungai- sungai di muara bertubuh lebar, landai, berarus lambat, dan tenang. Bahkan, dari pengamatan Mata Empat dan nelayan sungai setempat, mereka sangat paham Sungai Musi berarus menuju hulu dan hilir secara bergantian pada waktu-waktu tertentu. Ketenangan Sungai Musi menunjukkan kedalamannya. Seperti Sungai Musi, karakter penduduk sekitar sungai itu yang lahir dan dibesarkan di sana memiliki keanggunan tersendiri. Orang-orang terlihat tenang, tetapi mempunyai kekuatan yang menghanyutkan.

 

Arusnya yang bolak-balik menuju hulu dan hilir menunjukkan watak yang berlawanan, terlihat lemah lembut di permukaan, tetapi dapat bereaksi keras di luar dugaan.

 

Kebiasaan berinteraksi dengan alam sekitar akan membuat dua pendekar ini mempunyai kelebihan dan kelemahan masing-masing dalam mendayung. Sungai Musi yang besar dapat dilayari oleh banyak kapal. Ketika di jalur darat kendaraan, seperti pedati, padat, orang mesti berhati-hati. Mendayung di sungai yang ramai oleh kapal-kapal lain juga membutuhkan kecermatan dalam melihat arah kapal-kapal lain. Selain itu, Orang harus cermat mengendalikan perahu sendiri agar tidak menabrak dan ditabrak kapal lain, juga tidak tergulung gelombang yang diakibatkan oleh perjalanan cepat kapal-kapal besar.

 

Pertandingan mendayung diadakan di anak Sungai Musi di sekitar Palembang. Pendekar Mata Empat lebih terbiasa mengarungi sungai tersebut dibandingkan dengan Serunting. Pada pertengahan bulan sebelum pertandingan diadakan, Serunting bersama dua nelayan pemilik perahu pancalang tersebut  segera menuju Palembang dengan mengarungi Sungai Enim, bertemu Sungai Lematang, hingga sampai di Musi. Ia selama dua pekan masih mempunyai waktu untuk berlatih di anak-anak Sungai Musi di sekitar Palembang.

 

Purnama kedua dari janji yang telah disepakati membawa Serunting dan Mata Empat berjalan ke anak Sungai Musi yang melewati Kampung Gumay. Air sungai sedang pasang, mereka bertemu sebelum  purnama naik di atas kepala. Dua pendekar itu untuk pertama kalinya saling berhadapan muka. Keduanya saling membungkukkan punggung.

 

“Namaku    Serunting.    Senang    bisa    bertemu    dengan

pendekar hebat seperti Anda, Mata Empat!” Pendekar Mata Empat tersenyum lebar.

“Saya berterima kasih kepada Anda, Serunting, mau bertemu dengan pendekar tua ini. Hahahhaha … saya sungguh tidak menyangka bisa bertemu dengan Pendekar si Pahit Lidah yang sangat ditakuti karena kutukannya itu. Kabarnya banyak pendekar baik dari golongan putih maupun hitam mencari-cari Anda untuk menjajal kutukan hahahhahaa … dan mereka tidak pernah bisa bertemu Anda. Kalau bertemu pun, tak bisa bercerita apa-apa lagi pada teman-temannya karena telah menjadi batu! Hahahhahah ….”

 

“Sejak saya tinggal di Semidang, saya sudah mendengar kemasyhuran Mata Empat. Sekali-kali pernah terlintas dalam pikiranku, ingin berguru kepada Anda. Ahai, rupanya kesempatan itu datang juga. Hahahah ….”

 

“Hahahhahahhahahahahahha ….”

 

Dua pendekar itu tertawa. Suara mereka, yang berniat akan melakukan adu kesaktian sambil mendayung perahu itu, dapat dirasakan oleh berbagai binatang air yang segera tahu diri dan menyingkir.

 

“Mari kita mulai,” ajak Mata Empat dengan semangat yang

bertambah.

 

Kedua pendekar itu pun turun ke sungai.

 

 

 

 

Empat.

“Kita  mendayung  dalam  satu  perahu  saja,”  kata  Mata

 

Dua orang di tepi sungai yang dibawa oleh pendekar masing-masing menjadi saksi pertandingan itu.

 

“Nah,   sekarang   boleh   pilih   ke   mana   engkau   akan

mendayung, Mata Empat? Ke hilir atau ke hulu?”

 

“Engkau bisa lihat sendiri, Serunting, arus sungai ini deras sekali. Untuk kemudahan engkau mendayung, dayung saja ke arah hilir mengikuti arus, sedangkan aku memilih ke hulu, melawan arus,” kata Serunting sambil tersenyum kecil. Mata Empat mungkin pura-pura tidak tahu, bahkan Serunting terbiasa melawan arus sungai berjeram yang airnya deras sekali.

 

“Baiklah kalau begitu. Bagiku ke hulu maupun ke hilir sama saja, tak menjadi persoalan,” kata Serunting.

 

Mata Empat duduk di atas perahu bagian hulu, sementara Serunting  duduk  di  atas  perahu  bagian  sebaliknya.  Sebelum aba-aba dimulai, keduanya terdiam sejenak. Mata Empat menundukkan kepala melihat ke dasar sungai yang jernih airnya. Serunting menengadah ke angkasa melihat bulan purnama yang bulat sempurna, langit yang begitu jernih, dan bintang-bintang yang cemerlang. Setelah itu, pertandingan pun dimulai.

 

Secara bersamaan dayung mereka jatuh ke air. Sudah diduga sebelumnya oleh penonton, dua nelayan yang dibawa Serunting dan dua murid Mata Empat, Batara dan Reka, bahwa suara dayung mereka yang menyibak air akan menimbulkan bunyi yang sangat memekakkan telinga. Air yang tersibak pun melambung setinggi pohon rengas. Empat penonton itu segera menyelamatkan diri, naik ke tempat yang paling tinggi. Tak lama

 

kemudian seluruh pinggiran sungai digenangi air yang menjulang seperti air bah berwarna kuning lumpur. Reka dan Batara, yang naik sampai ke tebing sungai yang paling atas, tak dapat berkata apa-apa lagi. Baru kali ini dalam hidup mereka bertemu dengan air setinggi itu yang diakibatkan oleh tenaga dua manusia perkasa.

 

“Aku tidak akan melupakan pertandingan ini seumur hidupku, Reka.”

 

“Aku juga, Kakak. Pertandingan ini akan kuceritakan kelak kepada anak cucuku. Dua pendekar itu sungguh tangguh, luar biasa. Aku tidak berani bertaruh seandainya engkau mengajakku bertaruh menebak siapa yang menang di antara mereka. “

 

“Ya, benar, Reka. Aku kira sebentar lagi banyak penduduk kampung berbondong-bondong menyaksikan apa yang terjadi. Kalau mereka muncul, kita harus mengingatkan mereka, jangan dekat-dekat sampai di pinggir sungai.”

 

“Betul, Kakak.”

 

Keempat   penonton   itu   tidak   dapat   melihat   perahu mereka lagi yang sudah bersatu dengan gelombang. Mereka ingin mendekat, tetapi takut sewaktu-waktu air bah kembali mengguyur ke darat. Sentuhan dayung dengan perahu sambung-menyambung menimbulkan bunyi bergemuruh yang terus menerus seperti suara gelombang raksasa yang turun dari gunung atau dari laut naik ke darat. Di dalam air perahu itu sama sekali tidak bergerak, baik ke hulu maupun ke hilir, seperti terpaku di dasar sungai.

 

Mata  Empat  dengan  kelebihan  indra  sepasang  mata  di

bagian belakang kepalanya mengamati kapan kiranya Serunting

 

lengah. Namun, Mata Empat menyadari Serunting memang bukan sembarang pendekar yang mudah lengah. Tidak saja ilmu tenaga dalamnya yang besar, tetapi ketenangannya menghadapi lawan sudah demikian matang.

 

Pertandingan yang imbang itu tidak akan pernah selesai. Akan tetapi, semua yang hadir di situ tiba-tiba mendengar gemuruh suara  halilintar terdengar dari arah hulu dan hilir. Anak Sungai Musi kelihatan terbelah ketika sebuah benda meluncur  dengan kencang menyibak air di kiri dan kanan perahu serta semua arah arus air. Benda yang tampak hanya cahaya itu membelah perahu supaya terbelah dua.

 

Bagian perahu yang mengarah ke hulu terlempar ke hulu dan bagian yang mengarah ke hilir hanyut terbawa ke laut. Air sungai kemudian menjadi tenang.

 

Terlalu cepat kejadian itu sehingga tidak dapat ditangkap oleh mata biasa, bahkan oleh Batara yang terbiasa dengan kecepatan. Seharusnya kedua pendekar itu sama-sama ikut terpental bersama perahu yang pecah atau hanyut ke dalam sungai. Namun, keduanya masih terlihat berenang menuju ke pinggir sungai dengan wajah sama-sama menang. Di dalam pikiran mereka menyimpan pertanyaan yang sama, benda apa yang telah dilempar dari langit dan membelah perahu mereka. Siapa yang mempunyai tenaga sebesar itu menghentikan pertandingan dua pendekar yang tidak akan bisa berakhir jika tidak ada kekuatan yang lebih besar yang menghentikan pertandingan itu.

 

Serunting  dan  Mata  Empat  kembali  saling  berhadapan

wajah di bawah purnama dengan baju yang basah kuyup.

 

“Pendekar Mata Empat yang tangguh, kalau Anda belum puas, saya tunggu setiap waktu untuk bertanding lagi. Apa pun yang akan dipertandingkan, saya terima dengan segala hormat.”

 

“Itulah kehendak hati, surut pantang, mundur pun pantang. Takdir kita seperti sudah digariskan untuk terus bertemu lagi. Saya percaya itu, Pendekar si Pahit Lidah.”

 

Keduanya saling membungkukkan punggung sebelum sama-sama meninggalkan arena. Mata Empat menuju ke timur, kembali ke padepokannya atau entah ke mana. Serunting menuju ke barat.

 

Biodata Penulis

 

 

 

Nama                 : Dina Amalia

Pos-el                : dina.susamto@gmail.com

Bidang Keahlian : Bahasa dan Sastra

 

 

Riwayat Pekerjaan

  1. Peneliti di Yayasan Interseki (2008–2009)
  2. Pengajar Bahasa Inggris  dan Jerman   Lembaga Bahasa Di Lembaga Dakwah Islam, Pusdai, Bandung (2000–2003)
  3. Pengajar Privat Pelajar SD-SMA  di yayasan Ceria, Bandung (2003–2006)

 

 

Judul Buku dan Tahun Terbit

  1. Sang Adventurer (1999)
  2. Rumah Pasir (2000)
  3. Tentang Lelaki Yang Pergi (2001)
  4. Reffrain Yang Terkubur (2003)
  5. Tak Sebatas Lorong (2003)
  6. Sepasang Rembulan (2007)
  7. Sang Bocah Perempuan dan Malaikat Buta (2013)
  8. ”Hari Merdeka Buat Kasih”
  9. ”Menjelang penangkapan”

 

Biodata Penyunting

 

 

Nama                     : Sulastri

Pos-el                     : sulastri.az@gmail.com

Bidang Keahlian : Penyuntingan

 

 

Riwayat Pekerjaan

  1. Staf Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2005— Sekarang)
  2. Riwayat Pendidikan
  3. S-1 di Fakultas Sastra, Universitas Padjadjaran, Bandung

 

 

Informasi Lain

Aktivitas penyuntingan yang pernah diikuti selama sepuluh tahun terakhir, antara lain penyuntingan naskah pedoman, peraturan kerja, dan notula sidang pilkada.

 

Biodata Ilustrator

 

 

 

Nama                 : Pandu Dharma W

Pos-el                : pandudharma1980@gmail.com

Bidang Keahlian :Ilustrator

 

 

Judul Buku

  1. Seri Aku Senang (ZikrulKids)
  2. Seri Fabel Islami (Anak Kita)
  3. Seri Kisah 25 Nabi (ZikrulBestari)

 

 

Informasi Lain

Lahir di Bogor pada tanggal 25 Agustus. Mengawali kariernya  sebagai animator dan beralih menjadi ilus- trator lepas pada tahun 2005. Hingga sekarang kurang lebih sudah terbit sekitar lima puluh buku yang diilus- trator ioleh Pandu Dharma.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *