Daftar Isi

 

 

 

Kata Pengantar ………………………………………….     iii Sekapur Sirih ……………………………………………..    vii Daftar Isi ………………………………………………….      ix Legenda Rawa Pening ………………………………….       1

Biodata Penulis…………………………………………..     49

Biodata Penyunting……………………………………..     51

Biodata Ilustrator……………………………………….     52

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ix

 

 

 

LEGENDA RAWA PENING

 

 

 

Rawa Pening  merupakan  daerah  rawa  yang menjadi  objek wisata  yang menarik  di  Jawa Tengah. Area tersebut  merupakan ekosistem enceng gondok. Tumbuhan enceng gondok tampak subur membentuk hamparan permadani hijau di atas rawa tersebut. Objek wisata itu menawarkan keindahan berbalut mitos dan cerita mistis yang kental.

Ada cerita tentang  Bukit Cinta yang diyakini dapat membuat hubungan pasangan yang datang  ke tempat tersebut terputus hubungannya. Ada lagi cerita tentang penampakan perempuan tua yang sedang menaiki sebuah perahu berbentuk  lesung. Tidak dimungkiri  hal tersebut  menjadi daya tarik  tersendiri bagi wisatawan untuk berkunjung ke Rawa Pening.

Objek  wisata   Rawa  Pening  berada   di   wilayah antara Kecamatan Ambarawa, Kecamatan Bawen, Kecamatan Tuntang, dan Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang. Rawa nan elok tersebut  terletak di daerah cekungan terendah lereng Gunung Merbabu, Gunung  Telomoyo,   dan   Gunung  Ungaran.   Tempat yang  memang  menghadirkan   nuansa  keindahan  ini

menawarkan keindahan alam yang menyegarkan mata

 

 

 

 

1

 

yang memandang. Di balik  keelokan yang terbentang itu tersimpan sebuah cerita yang melatarbelakangi terjadinya rawa tersebut.

Pada zaman  dahulu  terdapat sebuah  desa yang asri  di  tanah   kekuasaan  Kerajaan   Mataram,   yakni Desa Ngasem. Desa tersebut  dipimpin  oleh seorang kepala desa yang  arif  dan  bijaksana yang  bernama Ki Sela Gondang. Desa Ngasem terletak di kaki Gunung Telomoyo. Rakyat di desa tersebut  hidup rukun dan damai. Sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani. Hamparan sawah dan ladang terlihat bak permadani dari kejauhan. Setiap pagi para petani berangkat  ke sawah dan ladang menggarap tanah dan tanaman yang tumbuh di bumi Desa Ngasem yang subur. Semboyan gemah ripah loh jinawi menjadi penyemangat tersendiri bagi penduduk  desa untuk  senantiasa  giat dan rajin bekerja.

Selain menggarap sawah dan ladang, rakyat  Desa Ngasem pun bermata  pencaharian  sebagai nelayan di sungai-sungai yang mengalir di desa itu. Hasil tangkapan ikan di sungai-sungai cukup untuk memenuhi kebutuhan penduduk desa. Para penduduk membawa hasil bumi dan hasil tangkapan  ke pasar untuk  ditukarkan kebutuhan sehari-hari. Hasil bumi Desa Ngasem memang melimpah

ruah. Sebagian dinikmati  oleh rakyat desa tersebut  dan

 

 

 

 

2

 

sebagian dijadikan sebagai upeti yang dipersembahkan ke kadipaten.

Di bawah kepemimpinan Ki Sela Gondang, Desa Ngasem terkenal  sebagai desa yang  makmur,  aman, dan sejahtera.  Kebijaksanaan Ki Sela Gondang telah membuat rakyat Desa Ngasem mencintainya.  Ia adalah sosok pemimpin harapan rakyat.  Sikapnya yang santun dan adil menjadikan rakyat  Desa Ngasem segan dan menaruh hormat kepadanya. Ki Sela Gondang merupakan sosok  pemimpin  yang  baik.  Ia   tidak   menempatkan dirinya   sebagai  pejabat  yang  minta  dilayani,   justru ia  menempatkan  diri   sebagai  pelayan  rakyat.   Tidak jarang Ki Sela Gondang bersama-sama penduduk desa membangun jembatan  atau membangun balai desa. Ia memiliki seorang istri dan seorang putri cantik bernama Endang Sawitri.

Pada suatu ketika di Desa Ngasem akan diselenggarakan acara merti desa1 dan sedekah bumi sebagai wujud rasa syukur penduduk Desa Ngasem atas limpahan hasil bumi dan keadaan yang aman sentosa. Untuk  itu,  lima  belas hari  sebelum penyelenggaraan pesta rakyat itu para penduduk sibuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut dan memeriahkan

penyelenggaraan  acara  tersebut.  Biasanya,  sedekah

 

1  Peringatan hari jadi desa

 

 

 

3

 

bumi tersebut  dilakukan selama tujuh hari tujuh malam sebelum acara puncak merti  desa. Para gadis di desa tersebut  sibuk mempersiapkan diri  berlatih  tari-tarian yang elok yang akan ditampilkan pada malam merti desa. Para pemuda dan para kepala keluarga bahu-membahu menghias tanah lapang dengan beraneka hiasan dari janur dan bambu. Para ibu sibuk menyiapkan segala sesuatu untuk menyajikan hidangan lezat selama acara pesta rakyat.  Semua persiapan tersebut  dipusatkan  di sekitar  kediaman Ki Sela Gondang. Tidak heran rumah Ki Sela Gondang menjadi sangat ramai oleh kesibukan para  penduduk mempersiapkan hajat  besar Desa Ngasem tersebut.

Suatu malam, Ki Sela Gondang mengumpulkan semua perangkat desa di pendapa rumahnya. Sebagaimana kebiasaan dalam rangka merti desa, dibutuhkan  sarana tolak bala berupa sesaji dan pusaka sakti milik seorang resi   terkenal   saat   itu.   Untuk   keperluan   tersebut, Kepala Desa mengutus sang putri  untuk meminjam pusaka sakti  milik  sahabatnya,  seorang resi bernama Ki Hajar Salokantara.  Pusaka tersebut  sedianya digunakan sebagai tolak bala atau salah satu syarat penyelenggaraan   pesta  rakyat   agar  acara  berjalan

lancar tanpa halangan.

 

 

 

 

 

 

4

 

Ki Sela Gondang juga memerintahkan para perangkat desa untuk menyiapkan segala sesuatunya termasuk para demang, adipati,  dan pejabat kadipaten yang akan diundang. Nyi Mentik Bestari atau lebih dikenal dengan sebutan Nyai Sela Gondang dan Endang Sawitri tampak duduk di sudut pendapa menyimak rapat yang dipimpin Ki Sela Gondang pada malam itu.  Namun, sang Nyai tampak agak gelisah. Akhirnya,  ketika ada kesempatan beliau mengajukan pertanyaan kepada suaminya selaku pemimpin rapat pada malam itu.

“Maaf, Kakang  Sela.  Apa  tidak  sebaiknya  Kakang mengutus  satu  orang  perangkat  untuk  mendampingi putri  kita?” tanya Nyai Sela Gondang kepada suaminya. “Jangan khawatir, Nimas. Aku yakin Endang Sawitri mampu  melakukan  perjalanan   sendiri  ke  padepokan sahabatku,  Ki  Hajar  Salokantar.  Olah  kanuragannya sudah  cukup  lumayan.  Ki  Sanu  Amerta,   guru  olah kanuragan Endang Sawitri telah mengabarkan kepadaku bahwa   putri   kita   sudah  mengusai  beberapa   jurus andalannya,” jawab Ki Sela Gondang dengan bijaksana. “Bukan   begitu,   Nak?”   tanya   Ki  Sela  Gondang mengalihkan    pandangannya    kepada    putri    semata

wayangnya, Endang Sawitri.

Dengan tersenyum  dan mengangguk tanda  setuju

Endang Sawitri membalas pertanyaan  ayahnya.

 

 

 

 

5

 

“Kaulihat sendiri, ‘kan, Nimas? Putri kita sudah sanggup menerima perintah dari ayahandanya,”  kata Ki Sela Gondang seraya tersenyum kepada istrinya.

“Baiklah,  Kakang. Nimas Ayu Endang Sawitri anakku, Ibu hanya dapat mendoakanmu dan memberi restu semoga Dewata Agung melindungimu,” kata Nyai Sela Gondang seraya  memeluk  putri   kesayangannya itu.  Ada seberkas ragu dan gundah di matanya. Naluri keibuannya menyiratkan  sebuah kekhawatiran yang teramat sangat. Namun, demi kepatuhannya kepada sang suami dan rasa sayangnya kepada sang putri, akhirnya ia merelakan putrinya pergi menunaikan perintah  Ki Sela Gondang.

Singkat cerita,  Endang Sawitri  menjalankan titah sang ayah untuk  meminjam pusaka kepada sang Resi, sahabat ayahnya. Ia pergi menuju lereng Gunung Telomoyo tempat  resi tersebut  tinggal.  Endang Sawitri menunggang   seekor   kuda   yang   terlatih   melintasi jalan  terjal  berbatu  dan ngarai  yang elok. Sesekali ia mampir di sebuah sungai untuk melepas dahaga dan penat. Gejolak remajanya terkadang menggelegak menguasai dirinya.  Keriangan  alami yang tak  dibuat- buat membuatnya begitu bahagia. Ia bermain riak-riak air sungai, sesekali berlarian di pinggir sungai mengejar

kupu-kupu bersayap cantik, menangkap ikan dan katak

 

 

 

 

6

 

yang ada di sungai, kemudian melepasnya kembali. Ia sangat   menikmati   perjalannya   tersebut.  Diam-diam ia sangat mengagumi pesona alam di desanya yang sungguh  indah.  Terselip  rasa  bangga  dan  kagum  di dalam benaknya akan kepemimpinan ayahnya, Ki Sela Gondang yang telah memimpin Desa Ngasem yang elok itu. Terbesit di hatinya seuntai doa agar keadaan seperti itu akan terus berlangsung sehingga kebahagiaan akan terus melingkupi desa yang ia cintai.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan,   tibalah   Endang  Sawitri   di   padepokan Ki Hajar Salokantara.

Sampurasun, … permisi, Ki,” Endang Sawitri mengucap salam penuh takzim seraya mengetuk depan pintu gerbang padepokan. Belum ada jawaban dari dalam padepokan. Beberapa kali Endang Sawitri  mengulangi ketukan dan salamnya. Belum juga ada jawaban. Untuk keenam kalinya Endang Sawitri  mengulangi salam dan ketukan ke pintu  gerbang padepokan, kali ini suaranya agak  nyaring.   Akhirnya,   Endang  Sawitri   mendengar suara langkah dan jawaban dari dalam padepokan.

Rampes, … tunggu sebentar, Ki Sanak,” sahut seorang laki-laki  menjawab salam Endang Sawitri.

Pintu    gerbang    berderit    dan    terbuka.    Dengan

mengulas   senyum   penuh   hormat,    Endang   Sawitri

 

 

 

 

7

 

membungkuk memberi hormat kepada lelaki yang membuka pintu gerbang padepokan itu. Tanpa menunggu lama, Endang Sawitri  segera memperkenalkan diri  dan menjelaskan maksud kedatangannya ke padepokan Ki Hajar Salokantara. Lelaki bertubuh gempal dan berkulit hitam  yang  membuka pintu  gerbang  ternyata  murid Ki Hajar Salokantara. Dengan sopan, lelaki tersebut mempersilakan Endang Sawitri masuk padepokan. Lelaki itu mempersilakan Endang Sawitri  duduk di pendapa padepokan, sementara ia menuntun dan menambatkan kuda Endang Sawitri  di tempat penambatan kuda tamu di padepokan itu.  Endang Sawitri  duduk dengan sopan di pendapa padepokan itu. Lelaki bertubuh  gempal tadi berlari  ke dalam sepertinya hendak memberitahukan kepada sang resi ada seorang tamu yang datang.

Endang  Sawitri   memandang  sekeliling   pendapa yang terlihat cukup luas dan bersih tersebut. Terlihat gebyok kayu jati yang dihias ukiran menawan. Di sudut- sudut pendapa terlihat bokor-bokor  yang terbuat dari kuningan dengan beberapa tombak yang runcing.  Ada pula seperangkat gamelan tertata rapi di salah satu bagian pendapa itu.  Endang Sawitri  meyakini bahwa si pemilik padepokan pastilah  orang sakti yang halus dan mencintai budaya. Bola mata cantiknya berputar-putar

menjelajah  seluruh  isi di pendapa padepokan dengan

 

 

 

 

8

 

senyum tipis tersungging di bibirnya.  Dengan manggut- manggut ia bergumam.

“Hmmmmm, pasti resi sahabat ayahanda ini adalah orang yang berbudaya tinggi dan bijaksana. Kalau tidak, mana mungkin pendapa padepokan serapi dan sebagus ini,”  gumamnya sambil masih manggut-manggut  dan menelisik semua sudut di pendapa itu.

Belum selesai Endang Sawitri  mengagumi pendapa padepokan  milik  Ki  Hajar  Salokantara,  ia  dikejutkan oleh kedatangan seorang lelaki bertubuh kurus dan berpakaian sorjan Jawa lengkap dengan ikat kepala berwarna hitam.

“Silakan dinikmati teh dan makanannya, Kisanak. Mohon ditunggu  sebentar.  Eyang Guru baru dipanggil oleh Driya, teman saya,” kata lelaki itu sopan. Endang Sawitri  terlihat kikuk  karena  kesopanan lelaki  kurus yang merupakan juru masak di padepokan itu.

“Iya, terima kasih, Kisanak,” jawab Endang Sawitri seraya  duduk  kembali  di  lantai   pendapa.  Sang juru masak menghidangkan seteko teh hangat dan makanan kepada Endang Sawitri.

“Silakan,  Kisanak,”  kata sang juru  masak sembari pamit hendak melanjutkan pekerjaannya di dapur.

Beberapa  saat  kemudian,  dari  dalam  padepokan

muncullah seorang lelaki setengah baya yang bertubuh

 

 

 

 

9

 

tinggi   tegap,  berjubah  hitam,  dan  mengenakan  ikat kepala berwarna  hitam.  Senyum penuh karisma  milik lelaki berjenggot panjang yang berwarna putih itu membuat Endang Sawitri terkesiap dan bangkit memberi hormat.

Sampurasun, Ki. Perkenalkan, saya Endang Sawitri, putri dari Kepala Desa Ngasem,” hormat Endang Sawitri memberi salam.

Rampes,  putri   ayu.  Rupanya  putri   Kakang  Sela Gondang ini telah menjelma menjadi gadis yang cantik,” sambut lelaki yang tak lain adalah Ki Hajar Salokantara. “Ada angin apa Kakang Sela Gondang mengutusmu

kemari, cah ayu?” tanya sang Resi penuh wibawa. “Tidak biasanya Kakang Sela Gondhang mengutus

putrinya. Biasanya Kakang Sela mengutus perangkatnya ke sini,”  lanjut  sang resi sambil mengelus-elus jenggot putihnya.

“Begini,  Ki. Di Desa Ngasem akan diadakan merti desa. Ayahanda sebagai kepala desa memiliki niat mengadakan pesta  rakyat.  Sebagai salah satu  syarat tolak   bala,   dibutuhkan   sesaji  dan  ubarampe  merti desa. Salah satunya adalah pusaka sakti milik Ki Hajar Salokantara.  Untuk  itu,  ayahanda mengutus saya datang kemari untuk meminjam pusaka sakti tersebut,”

jelas  Endang  Sawitri.   Sang  Resi  manggut-manggut

 

 

 

 

10

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

11

mendengarkan penjelasan gadis berkulit kuning langsat, berkemben biru, dan bersanggul kecil nan anggun di hadapannya itu.

Setelah beberapa lama terdiam,  sang resi masuk ke padepokan,  sementara  Endang Sawitri  menunggu di pendapa sambil menikmati  hidangan yang disajikan juru   masak  padepokan.   Beberapa   saat   kemudian, sang Resi keluar  lagi dengan membawa sebuah benda yang dibungkus dengan sarung berwarna  cokelat yang

 

sudah terlihat usang. Sang Resi menimang-nimang benda  tersebut   dengan  saksama. Sejurus  kemudian, ia membuka selubung kain usang tersebut. Ternyata, benda yang dibawanya adalah sebilah keris yang masih berwarangka.  Dengan hati-hati sang Resi mencabut keris dari warangkanya.

“Pusaka ini merupakan keris sakti yang memiliki nilai yang tinggi,  Ni Ayu,”  kata Ki Hajar sembari memegang dan mengamati keris pusakanya tersebut. Bola mata Endang  Sawitri   yang  bulat   keabu-abuan  terbelalak takjub  melihat  keris yang dibawa  sang Resi. Sungguh ia tidak  mampu menyembunyikan ketakjubannya  akan pusaka sakti yang terlihat kokoh tersebut.

“Ni  Ayu, keris ini bukanlah pusaka sembarangan. Kalau ayahandamu bukanlah sahabat baikku, tentu aku tidak  akan pernah meminjamkan keris ini kepadanya,” lanjut  sang Resi. Endang Sawitri masih terpana.

“Bawalah  pusaka ini kepada ayahandamu, Ni Ayu. Namun,  ada  hal  penting  yang  harus  kau  perhatikan ketika membawa pusaka sakti ini,” kata sang Resi seraya memasukkan  kembali  keris  ke  dalam  warangkanya. Keris     itu  kemudian diselubungi  dengan kain cokelat yang usang.

“Mohon maaf, apakah Ni Ayu, dalam keadaan suci?”

tanya Ki Hajar Salokantara menyelidik.

 

 

 

 

12

 

“Maksud  Ki Hajar?”  tanya Endang Sawitri  terlihat kebingungan dengan pertanyaan  sang Resi.

“Apakah kau sedang datang bulan?” jelas Ki Hajar lagi.

“Tidak,   Ki.  Saya masih  dalam  keadaan  jiwa  dan raga yang bersih,”  jawab Endang Sawitri  sembari menyungging senyum manisnya.

“Syukurlah, kalau demikian. Bawalah pusaka ini dengan hati-hati. Ingatlah satu hal. Jangan sekali-kali meletakkan pusaka sakti ini di atas pangkuanmu,” kata sang Resi berpetuah seraya menyerahkan pusaka sakti kepada Endang Sawitri.

“Baik,  Ki. Amanat Ki Hajar Salokantara  akan saya ingat  dengan baik,”  jawab Endang Sawitri  berjongkok dan menunduk sambil mengulurkan kedua tangan menerima pusaka sakti itu.

Setelah menerima pusaka sakti yang dibutuhkan ayahandanya, Endang Sawitri  berpamitan  kepada Ki Hajar Salokantara. Dengan gesit ia menunggangi kuda, menarik  tali  kekangnya, dan memacu si kuda dengan sangat hati-hati.

Dalam perjalanan pulang ke Desa Ngasem, Endang Sawitri  merasa sangat lelah dan mengantuk. Setibanya di kaki gunung, ia memutuskan berhenti  dan mencari

tempat yang sejuk untuk melepas lelah dan kantuknya.

 

 

 

 

13

 

Ia  beristirahat di bawah sebuah pohon yang rindang. Angin semilir membuai Endang Sawitri hingga ia tertidur pulas. Karena merasa kelelahan,  Endang Sawitri  lupa akan pesan sang Resi. Ia meletakkan pusaka sakti itu di atas pangkuannya.

Di dalam tidurnya, ia bermimpi  datang  ke sebuah istana   yang  sangat  megah.  Tidak  seperti   lazimnya istana yang dijaga ketat,  pintu  gerbang istana terbuka sendiri seolah mempersilakannya masuk. Tidak ada penjaga  berpakaian  baja  dan  menghunus  tombak  di pintu  gerbang, tidak ada sepasukan penjaga yang siap menginterogasi penyelundup yang masuk, bahkan tidak ada  prajurit  yang  lalu-lalang  melakukan  penjagaan ketat  di istana  nan megah itu.  Endang Sawitri  sangat takjub melihat pemandangan di dalam istana itu. Ada kolam ikan yang dihiasi air mancur dan bunga warna- warni, ada sebuah taman dengan beraneka macam permainan,  bahkan di sudut istana ada beberapa ekor kuda bersayap yang berwarna putih bersih.

“Tempat   apa  ini?”   gumamnya  dalam   hati.   Ia sangat  terpukau   tatkala   langkah  kakinya  menuju  ke arah  dalam  istana  itu.  Terdapat  sebuah  singgasana besar bertatahkan emas dan permata.  Balairung  luas berkilauan dihiasi kristal-kristal mutu manikam, sebuah

permadani   tebal,   bersih,   empuk   berwarna    merah

 

 

 

 

14

 

terhampar di sepanjang jalan menuju singgasana tersebut. Namun,  anehnya,  mengapa tidak  ada  satu pun orang di tempat  itu.  Hanya gemericik air di kolam dan cicit  burung  bersahut-sahutan diiringi syahdunya suasana di istana itu. Tidak beberapa lama, ia dikejutkan oleh  tepukan  lembut  di  pundak  kirinya.   Ia  menoleh pelan dengan sedikit  gemetar.  Alangkah terpukaunya ia melihat seorang lelaki berparas tampan di depannya. Tanpa bicara,  lelaki tampan tersebut  memberikan sebilah keris kepada Endang Sawitri.  Tiba-tiba sosok lelaki  tampan  itu  hilang  bagai  ditelan  bumi.  Endang Sawitri  masih  sangat  bingung  dengan  kejadian  yang baru saja dialaminya.  Ia mencari-cari sosok pemuda tampan yang memberinya sebilah keris itu di seluruh sudut balairung istana, tetapi sosok tersebut tidak ada. Endang Sawitri memandangi keris yang kini dipegangnya dengan perasaan gundah dan tangan bergetar.  Belum hilang keterkejutannya, Endang Sawitri  terbangun  dari tidurnya.

“Aduhai, ternyata aku hanya bermimpi,” gumamnya sambil tersenyum. Gemeresik dedaunan di kaki Gunung Telomoyo bagai alunan harmoni indah yang mampu membangkitkan semangatnya melanjutkan kembali perjalanan  pulang ke Desa Ngasem. Namun, alangkah

terkejut ia ketika mendapati pusaka sakti yang dipinjam

 

 

 

 

15

 

dari   Ki  Hajar   Salokantara   raib.   Ia   cari   di  sekitar tempatnya beristirahat bahkan di balik pelana kudanya, tetapi  pusaka itu tidak ada. Ia baru teringat bahwa ia telah melanggar amanah dari sang Resi. Ia meletakkan pusaka sakti  itu  di atas pangkuannya. Endang Sawitri dilanda rasa gundah dan dilema. Ia merasa sangat bingung apa yang harus dilakukan. Kalau ia kembali ke padepokan, tentu sang Resi akan sangat marah karena ia melalaikan pesan sang Resi. Kalau memutuskan kembali ke Desa Ngasem, ia tidak tahu bagaimana dengan acara merti desanya dan sedekah bumi itu.

“Ya,  Dewata, Sang Hyang Widi  Wasa, alangkah cerobohnya aku. Aku lalai, ya, Dewata,”  rutuknya menyesali kelalaiannya  sembari menangis tersedu- sedu.

“Mungkin inilah jawaban dari keraguan Ibunda kepadaku,” katanya lagi merutuki nasibnya.

“Namun,  aku harus  bertanggung  jawab  atas  apa yang aku lakukan. Aku harus menyampaikan hal ini kepada Ayahanda. Apa pun yang terjadi aku harus pulang,”  lanjutnya  sambil menuntun kudanya melewati tegalan. Dengan hati gundah dan langkah gontai ia akhirnya memutuskan pulang ke Desa Ngasem. Ia akan

menceritakan pengalamannya tersebut dan siap dengan

 

 

 

 

 

 

16

 

segala kemungkinan yang akan dihadapinya,  termasuk kemarahan ayahandanya.

Sesampainya  di  Desa  Ngasem,  Endang  Sawitri disambut oleh warga desa dan kedua orang tuanya,  Ki Sela Gondhang dan Nyi Mentik Bestari. Betapa bingung kedua  orang  tua  Endang  Sawitri   tatkala   mendapati sang putri   bersimpuh  seraya  menangis tersedu-sedu di kaki mereka. Mereka berdua memapah sang putri  ke serambi balai Desa Ngasem dibantu warga desa. Endang Sawitri masih terus menangis. Dengan sabar Nyi Mentik Bestari  memeluk dan  mengelus rambut  putri  semata wayangnya itu.  Setelah tangis Endang Sawitri  reda, Ki Sela Gondhang menanyai putrinya itu dengan hati-hati. “Nduk,  cah ayu,  apa gerangan  yang membuatmu seperti ini? Bagaimana perjalananmu meminjam pusaka dari sahabat ayah, Ki Hajar Salokantara?” tanya Ki Sela Gondhang seraya mengelus pipi sang putri  penuh kasih

sayang.

“Am  …  ampun,  Ayah. Sa …  sa …  saya …  lalai,”

jawab Endang terbata-bata.

Sang   ibu    kembali    memeluk   Endang   Sawitri. Hal   ini    membuat   Endang   Sawitri    menjadi    lebih tenang.  “Sudahlah,  Nduk. Semua ini kehendak Sang Dewata.   Pantas  saja  ibu  merasa  khawatir  dengan

 

 

 

 

 

 

17

 

keberangkatanmu ini,”  kata sang ibu sembari membelai rambut sang putri.

Setelah   merasa   lebih   tenang,   Endang  Sawitri mulai  menceritakan  semua peristiwa  yang dialaminya termasuk mimpinya kepada sang ayah.   Kekecewan Ki Sela Gondhang tidak dapat disembunyikan. Akan tetapi, rasa sayang terhadap  sang putri  mengalahkan rasa kecewa yang berkecamuk itu. Dengan bijaksana Ki Sela Gondhang berkata untuk menenangkan sang putri.

“Sudahlah,  anakku. Semua sudah takdir  dari Sang Hyang Widi Wasa. Sekarang beristirahatlah, ayah akan menemui  Ki  Hajar  Salokantara   untuk  mencari  jalan keluar dari masalah ini,”  kata Ki Sela Gondhang dengan tatapan  sayang kepada sang putri.

“Lalu, bagaimana dengan merti desa, Ayah?” tanya

Endang Sawitri gundah.

“Kau  tidak  usah  risau  memikirkan  hal  itu,  Nak. Biarkan  ayah  yang  menjelaskan  kepada  warga  desa untuk menunda pesta rakyat  desa kita ini,”  tukas sang ayah  seraya  membelai  rambut   Endang Sawitri   yang masih memeluk erat sang ibu.

Hari itu  juga Ki Sela Gondhang berangkat  menuju padepokan Ki Hajar Salokantara untuk mendapatkan jalan  keluar.  Singkat cerita,  sang Resi hanya terdiam

sejenak mendengar penuturan  ayah Endang Sawitri itu.

 

 

 

 

18

 

Ia  berkata  bahwa sebentar  lagi Endang Sawitri  akan akan mengandung.

“Sahabatku,  adhi Sela Gondang. Aku sudah mengingatkan    putrimu     untuk    menjaga    baik-baik keris  itu.  Namun, mungkin ini  memanglah takdir  dari Sang Dewata,”  dengus Ki Hajar  Salokantara  sembari mengelus-elus jenggotnya yang sudah  memutih.

“Iya, Kakang Salokantara.  Aku tahu  putriku  lalai akan pesanmu. Aku mohon maafkanlah ia,  Kakang,” sergah Ki Sela Gondang.

Adhi Sela   Gondang,  aku  sudah  memaafkan putrimu. Sebenarnya …,” kata sang Resi terputus sambil menghela napasnya panjang.

“Sebenarnya apa, Kakang?” tanya Ki Sela Gondang seolah tidak  sabar  mengetahui  kelanjutan  ucapan  Ki Hajar Salokantara.

“Sebenarnya, pusaka itu tidak hilang, tetapi  masuk ke dalam rahim putrimu. Sebentar lagi putrimu  akan mengandung, Adhi,”  jawab Ki Hajar Salokantara.

Bagai disambar  petir  di siang hari,  Ki Sela Gondhang terkejut luar biasa mendengar ucapan Ki Hajar Salokantara tersebut. Dengan panik ia memohon sahabatnya  tersebut   untuk  mencarikan  jalan  keluar

agar keluarganya terhindar dari aib.

 

 

 

 

 

 

19

 

“Ya, Dewata, dosa apa hamba ini sampai harus menanggung malu semacam ini?” jerit  Ki Sela Gondang sambil memegangi kepalanya.

“Kakang Salokantara, apakah ada cara agar putriku lepas dari  kutukan  ini?”  tanya Ki Sela Gondang panik. “Kakang, tolonglah, Kakang. Apa yang harus aku lakukan untuk menyelamatkan putri dan keluargaku dari aib, Kakang?” kata Ki Sela Gondang setengah merengek. Ki Hajar  Salokantara  hanya  menggelengkan  kepalanya. Ia merasa iba kepada sahabatnya itu.  Namun, ia tidak dapat membantu apa pun.

Kedua lelaki yang bersahabat lama itu sama-sama terdiam.  Tenggelam dengan pikiran mereka masing- masing. Tiba-tiba Ki Sela Gondang berkata,  ”Kakang, bagaimana jikalau engkau menikahi putriku, Endang Sawitri? Siapa tahu kutuk yang bersemayam di tubuhnya akan hilang,”  kata Ki Sela Gondang menatap Ki Hajar Salokantara penuh harap.

Ki Hajar Salokantara diam sejenak. Ki Sela Gondang terus membujuk sang sahabat agar mau mengiyakan gagasannya untuk menikahi Endang Sawitri.  Karena melihat   kepanikan   Ki  Sela  Gondang  yang  teramat sangat, akhirnya Ki Hajar Salokantara bersedia menikahi Endang Sawitri.   Pernikahan  mereka  sengaja  ditutupi

dari penduduk desa. “Baiklah,  adhi Sela Gondang. Aku

 

 

 

 

20

 

bersedia menikahi putrimu. Akan tetapi,  pernikahan ini hanyalah untuk menutupi aib saja. Setelah janin di dalam kandungan putrimu lahir, pernikahan ini berakhir,” kata Ki Hajar Salokantara.

“Terserah kau saja, Kakang,” tukas Ki Sela Gondang. “Terima  kasih, kau sudah mau membantuku, Kakang,” lanjut  Ki Sela lagi.

Singkat cerita, pernikahan Ki Hajar Salokantara dan Endang Sawitri  sengaja ditutupi dari  penduduk desa. Tidak ada meriahnya pesta dan beraneka macam tarian serta hiburan. Pernikahan itu berlangsung khidmat dan mengharukan. Nyai Sela Gondang menangis tidak kuasa menahan sedih dan haru. Ia peluk putrinya yang telah sah menjadi istri  Ki Hajar Salokantara.  Endang Sawitri pun menangis tersedu-sedu  di hadapan penghulu dan kedua orang tuanya.

“Maafkan saya, Ayahanda dan  Ibu,” isak  Endang

Sawitri.

“Sudahlah, Nak. Sekarang kau telah menjadi istri Ki Hajar Salokantara.  Kau harus mengikuti  suamimu dan menaati perintahnya,” belai sang ibu dengan berjuta kasih sayang yang membuncah.

Sementara  itu,  Ki Hajar  Salokantara  dan Ki Sela

Gondang terlibat pembicaraan  di sudut  lain rumah Ki

Sela Gondang.

 

 

 

 

21

 

Adhi,  kau  jangan  khawatir.  Meskipun  putrimu telah menjadi istriku, aku tidak akan menyentuhnya. Namun, aku akan tetap menyayanginya,”  kata Ki Hajar Salokantara.

“Aku pasrahkan putriku  kepadamu, Kakang,” jawab Ki Sela Gondang menepuk pundak Ki Hajar Salokantara. “Maafkan  aku,   Adhi.  Mungkin  setelah  kuboyong

ke tempat tinggal yang sudah kusiapkan, aku akan meninggalkan putrimu  dan janin yang di kandungnya untuk   bertapa.    Aku   akan   memohon   Sang  Hyang Widi  Wasa  melepaskan kutukan  itu,” tukas  Ki Hajar Salokantara.

“Sudahlah, Kakang. Aku tidak tahu harus berterima kasih seperti apa kepadamu atas segala kebaikanmu padaku   dan   keluargaku,”  jawab   Ki  Sela  Gondang sambil memeluk sahabat lama yang kini harus menjadi menantunya  tersebut. Setelah acara pernikahan  usai, Ki Hajar  Salokantara  berniat  memboyong Endang Sawitri  ke sebuah tempat yang sudah dipersiapkan sebagai tempat  tinggal.   Dengan perasaan hancur, Nyi Mentik Bestari melepas kepergian putri  kesayangannya diboyong oleh Ki Hajar Salokantara.

Tidak  seperti  pasangan lain  yang baru  saja menikah,   Ki  Hajar   Salokantara   memutuskan   untuk

pergi bertapa mencoba melepaskan Endang Sawitri dari

 

 

 

 

22

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

23

 

kutukan pusaka sakti miliknya. Sebelum pergi, Ki Hajar

Salokantara berpesan kepada istrinya.

“Ni Ayu Endang Sawitri,  aku menikahimu hanya sebagai  syarat   saja,  aku  tidak   akan  menyentuhmu. Aku    harus    pergi    bertapa    untuk    melepaskanmu dari  kutuk  pusaka  sakti  milikku  itu.   Jagalah  dirimu dan kandunganmu. Apabila kelak kau melahirkan, kalungkanlah   klinthingan  ini   sebagai   bukti   bahwa anak itu  adalah anakmu. Suruhlah ia mencariku untuk melepaskan kutukannya,” pesan Ki Hajar  Salokantara kepada Endang Sawitri.

“Iya, Ki. Semoga Dewata melindungi Ki Hajar, saya, dan jabang bayi dalam kandungan saya ini.  Hati-hati, Ki,”  jawab Endang Sawitri mencium tangan  suaminya dan melepas kepergiannya untuk bertapa.

 

 

***

 

 

Hari demi hari berlalu dengan cepat, kandungan Endang Sawitri pun bertambah besar. Ia sangat berhati- hati menjaga kandungannya itu. Ia menggantungkan hidupnya dari hasil mencari ikan di sungai dan bertanam sayur-mayur di pekarangan gubuknya. Dekat dengan gubuk  tempat   tinggalnya   itu   terdapat  sebuah  desa kecil yang jumlah penduduknya tidak  seberapa. Untuk

 

 

 

 

24

 

memenuhi  kebutuhan  hidupnya,  tidak  jarang  Endang

Sawitri pergi ke desa tersebut.

Tidak ada satu pun penduduk desa kecil itu mengetahui bahwa Endang Sawitri  memiliki seorang suami  karena  pernikahan  mereka  ditutup-tutupi. Namun, ada salah seorang penduduk desa yang mengenali Endang Sawitri yang sedang hamil tua itu.

Akhirnya,  sampailah  kabar  kehamilan  Endang Sawitri  tersebut  ke Desa Ngasem. Penduduk Desa Ngasem pun geger karena mendengar kabar tersebut. Mereka menganggap Endang Sawitri  telah mengotori Desa Ngasem dengan perbuatan  yang tidak  senonoh. Namun,  Endang Sawitri   bergeming  dengan  umpatan para penduduk yang penuh kata-kata kasar. Ia  tetap merawat kandungannya meskipun pada akhirnya ia dikucilkan  oleh  warga  Desa Ngasem dan  desa  kecil di  dekat  tempat   tinggalnya.   Ia   berkeyakinan   tidak pernah melakukan perbuatan yang tidak baik. Yang membuatnya  risau   adalah  nama  baik  kedua  orang tuanya yang merupakan tetua di Desa Ngasem. Namun, persoalan itu tidak berlangsung lama karena Ki Sela Gondhang berhasil menjelaskan kepada penduduk tentang keadaan yang sebenarnya.

Kemudian,  setelah  sembilan  bulan  mengandung,

Endang  Sawitri   pun  melahirkan.   Tidak  ada  seorang

 

 

 

 

25

 

pun di desa kecil di dekat tempat  tinggalnya  yang sudi menolongnya. Para penduduk desa masih menganggap Endang Sawitri  merupakan perempuan yang tidak baik karena  hamil  tanpa  didampingi  suami. Mereka  masih tidak memercayai penjelasan Ki Sela Gondhang, Kepala Desa  Ngasem  yang  tak   lain  adalah  ayah  kandung Endang Sawitri.  Tidak ada satu pun warga desa yang mengabarkan berita  melahirkannya  Endang Sawitri kepada warga Desa Ngasem, terlebih  kepada keluarga Ki Sela Gondhang. Endang Sawitri pun melahirkan tanpa bantuan siapa pun.

Namun, alangkah terkejut ia karena yang dilahirkannya bukanlah bayi, melainkan seekor ular naga.  Anehnya  lagi,  ular  naga  itu   dapat  berbicara seperti halnya manusia. “Aaah, siapa kau? Mengapa aku melahirkan seekor ular naga?” teriak Endang Sawitri.

“Ibu, ibu jangan takut.  Aku adalah anak yang kaulahirkan. Ini kehendak Dewata, Ibu. Saya mohon Ibu jangan takut,” jawab ular naga itu sembari menyurukkan tubuhya kepada Endang Sawitri.  Meskipun terkejut dan hatinya  remuk  redam,  dengan  belai  lembut  seorang ibu, Endang Sawitri  menimang anaknya yang berwujud ular naga itu.  Bayi ular naga itu pun diberi  nama Baro

Klinting.

 

 

 

 

 

 

26

 

“Iya, engkau benar. Mungkin ini adalah ketentuan sang Dewata karena kelalaian ibu.  Maafkan, ibu,  Nak. Ibu teringat pesan ayahandamu yang menitipkan klinthingan ada ibu. Untuk itu,  ibu namakan kau Baro Klinting,” kata Endang Sawitri penuh kasih.

Peristiwa  lahirnya  anak Endang Sawitri  diketahui oleh beberapa penduduk desa yang kebetulan lewat di gubuk Endang Sawitri ketika hendak pergi ke sawah dan ladang. Ketika mendapati anak yang dilahirkan Endang Sawitri adalah seekor naga, sontak saja beberapa orang penduduk itu berlarian  karena takut.

“Tolooong,  ada  naga.  Perempuan itu  melahirkan naga.  Tolooong,”   teriak   orang-orang   itu   berlarian menuju ke desa. Teriakan orang-orang itu didengar oleh seluruh penduduk di desa dekat gubuk Endang Sawitri. “Hati-hati,                    perempuan    itu    pasti    penyihir.    Ia melahirkan seekor naga. Desa kita dalam bahaya,” kata

salah seorang penduduk.

“Iya, ini genting. Kita usir saja perempuan itu dari desa ini.  Saya takut  kalau desa ini  akan dihancurkan oleh perempuan penyihir  dan naga yang dilahirkannya itu,” sahut yang lain.

“Iya, kita  usir saja perempuan itu,  usiiirr,” teriak

penduduk desa yang lain bersahutan.

 

 

 

 

 

 

27

 

Peristiwa itu dianggap peristiwa  aneh yang menjadi ancaman  bagi  penduduk  desa.  Para  penduduk  desa kecil di dekat tempat tinggalnya makin mencibir Endang Sawitri.   Mereka  makin  yakin  kalau  Endang  Sawitri adalah perempuan yang tidak baik. Mereka bersepakat hendak mengusir Endang Sawitri  dan anaknya yang berwujud ular naga itu karena khawatir keberadaan mereka akan mengundang murka Dewata.

Namun,  untungnya  hal  tersebut  berhasil  dicegah oleh salah seorang penduduk desa yang mengenal Ki Sela Gondhang. Orang itu meyakini bahwa keberadaan Endang Sawitri dan anaknya tidak akan membahayakan. Ia  akan menjamin  jika  terjadi apa-apa,  ia yang akan melapor kepada Ki Sela Gondhang, ayah Endang Sawitri.

Demikianlah, akhirnya Endang Sawitri membesarkan anaknya dengan penuh kasih sayang meskipun sendirian tanpa ada orang yang sudi membantu. Hari berganti bulan, bulan berganti tahun. Waktu terus berjalan, Baro Klinting  yang sudah menginjak masa remaja bertanya kepada ibunya, apakah ia mempunyai ayah.

“Ibu,  apakah  aku  memiliki   ayah?”   tanya   Baro Klinting penuh tanya. Endang Sawitri menjawab dengan deraian air mata.

“Tentu, Nak,” jawabnya sembari menyeka pipi yang

dibanjiri oleh air mata yang mulai menganak sungai.

 

 

 

 

28

 

“Lalu, di mana ayah sekarang? Mengapa ayah tidak tinggal dengan kita, Bu?” cecar Baro Klinting.

“Baro Klinting, Anakku. Dengarlah, Nak. Ayahmu adalah seorang lelaki hebat dan sakti. Kini ayahmu sedang bertapa di Gunung Telomoyo untuk melepaskan kita  dari  kutuk  pusaka,  Nak,”  jelas  Endang  Sawitri seraya  menunjuk  arah  Gunung  Telomoyo  tempat   Ki Hajar Salokantara bertapa.

Baro Klinting mengernyitkan sepasang alisnya yang tebal.  Dengan  didorong  rasa  penasaran  yang  amat sangat dan jutaan tanya berjejal di kepalanya, ia melata melingkari tubuh ibunya.

“Kutuk   pusaka?  Maksud  Ibu  apa?”  selidik  Baro

Klinting.

“Nanti, kau akan mengerti jika waktunya telah tiba, Anakku,” jawab sang ibu seraya memeluk anaknya yang berwujud ular naga tersebut.

Baro Klinting tidak melanjutkan pertanyaannya pada sang ibu. Ia  tidak  ingin membuat ibunya makin sedih. Namun,  rasa  penasaran  di  dalam  benaknya  sungguh kuat sehingga akhirnya ia menyatakan keinginannya untuk mencari sosok sang ayah. Dengan hati-hati ia berkata kepada ibunya.

“Ibu, bolehkah  Baro  memohon  izin  kepada  Ibu

untuk mencari ayahanda?” tanya Baro Klinting.

 

 

 

 

29

 

Endang Sawitri memandang lekat-lekat mata naga di hadapannya. Ia terdiam sesaat, lalu menunduk.

“Ibu tidak mengizinkan Baro?” tanya Baro Klinting lagi dengan hati-hati. Ia sangat takut melukai perasaan perempuan   yang  telah   melahirkannya   itu.   Endang Sawitri mendengus panjang dan berucap dengan lembut. “Pergilah,   Nak.  Ibu   mengizinkanmu.  Kau  sudah cukup   besar   untuk   melakukan   perjalanan   mencari ayahmu.  Akan tetapi,  ingatlah  untuk  selalu  waspada dan  berhati-hati. Di luar  sana banyak  sekali  bahaya yang bisa saja mencelakaimu,  Anakku,”  kata  Endang

Sawitri sembari mengelus kepala naga itu.

“Terima  kasih, Ibu. Baro akan selalu mengingat pesan Ibu,” sahut Baro Klinting  gembira.

“Baro,    berangkatlah    ketika   hari   sudah   gelap agar keberadaanmu tidak membuat warga desa itu ketakutan.  Pakailah klinthingan ini sebagai bekalmu, Nak,”  kata Endang Sawitri  sembari mengalungkan kalung berliontin lonceng kecil yang berbunyi  nyaring apabila digoyang-goyangkan.

“Ampun,  Ibu.  Untuk  apa  klinthingan ini?”  tanya

Baro Klinting  penasaran.

Klinthingan   ini   adalah   amanat   dari   ayahmu, Nak. Beliau berpesan agar mengalungkan benda ini di

 

 

 

 

 

 

30

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

31

lehermu sebagai penanda bahwa kau benar-benar anak ibu,” tukas Endang Sawitri.

“Semoga Sang Hyang Widi  Wasa senantiasa menyertai  perjalananmu,  Nak. Ingat  pesan ibu,” lanjutnya  lagi.

 

“Baik,  Ibu.  Pesan Ibu  akan Baro laksanakan. Doakan Baro dapat bertemu dengan ayahanda,”  ujar Baro Klinting  berpamitan.

Sesungguhnya Baro Klinting tidak tega meninggalkan sang ibu sendirian di gubuk itu. Namun, rasa penasaran akan  sosok  sang  ayah  membuatnya  bertekad   bulat untuk  pergi  mencari  ayahnya  tersebut. Dengan  hati sedih Baro Klinting berangkat meninggalkan ibunya menuju   ke  pertapaan   Ki  Hajar   Salokantara,   yaitu sebuah gua di lereng Gunung Telomoyo. Ia  berangkat ketika hari sudah gelap. Dengan penuh semangat Baro Klinting  melata  melewati  jalan  terjal  yang penuh aral dan rintangan.

Dalam perjalanannya Baro Klinting sempat bertemu beberapa   halangan.   Banyak  sekali   makhluk   astral yang mengganggunya. Suara klintingan di leher Baro Klinting rupanya menarik perhatian para makhluk untuk mengganggunya. Para makhluk itu berusaha merebut klinthingan tersebut. Namun,  dengan kesaktian  yang menitis  padanya, Baro Klinting  sanggup mengusir dan mengalahkan para makhluk yang mencoba menghambat perjalanannya.  Ia  selalu teringat pesan ibunya  untuk selalu  ingat  pada  Dewata,  pemilik  alam  semesta.  Ia yakin  doa  sang Ibu  adalah  senjata  terampuh  untuk

keselamatannya.

 

 

 

 

32

 

Setelah melalui perjalanan yang melelahkan, sampailah Baro Klinting  di tempat  yang dimaksud oleh ibunya. Ia melihat sebuah gua yang mulutnya  tertutup rimbunan tanaman menjalar. Dengan hati-hati Baro Klinting  menerobos  masuk ke dalam  gua yang gelap dan lembap itu.  Dengan sorot  matanya  yang tajam  ia selusuri semua relung yang ada di dalam gua tersebut. Tetesan air yang mengalir dari dinding gua mencipta sebuah  denting   yang  indah.   Ornamen  gua  berupa stalaktit dan stalakmit  menambah kemegahan isi gua. Baro Klinting  terus menerobos masuk ke dalam gua dan akhirnya ia mendapati sebuah ruang yang agak luas. Di tengahnya terdapat sebuah batu besar yang dikelilingi genangan air. Samar-samar ia melihat sesosok manusia yang  sedang  duduk   bertapa   dengan  sikap  semadi yang sempurna di atas batu besar itu.  Ia terus melata mengamati sosok tersebut  dengan saksama. Setelah beberapa lama mengamati, Baro Klinting yakin sosok tersebut  adalah Ki Hajar Salokantara, ayahnya.

Dengan santun dan penuh hormat, Baro Klinting mengucapkan salam.

“Permisi, sampurasun, apakah benar ini tempat pertapaan  Ki Hajar Salokantara?” tanya Baro Klinting dengan   sangat    hati-hati.   Lama   tidak    terdengar

jawaban.  Baro Klinting  mengulangi  kembali salamnya

 

 

 

 

33

 

dengan hati-hati. Tidak lama kemudian sosok tersebut menjawab, “Ya, benar, akulah Ki Hajar Salokantara. Siapa Ki Sanak ini? Ada perlu apa Ki Sanak datang ke tempat ini dan mengganggu semadiku?” tanya Ki Hajar Salokantara dengan suara berat penuh kewibawaan..

Betapa girang hati Baro Klinting mendapati sosok yang selama ini dirindukannya. Dengan sembah sujud di hadapan Ki Hajar Salokantara, Baro Klinting berkata, “Ampun, Tuan, saya Baro Klinting,  anak Endang Sawitri dari Desa Ngasem” jawab Baro Klinting.

“Desa Ngasem? Endang Sawitri? Mungkinkah ia ini anakku?” gumam Ki Hajar Salokantara.

Perlahan Ki Hajar  Salokantara  membuka matanya dan  menatap  Baro  Klinting.   Alangkah  terkejutnya  Ki Hajar karena yang sedang berada di hadapannya adalah seekor ular  naga. Belum hilang  keterkejutan Ki Hajar Salokantara, Baro Klinting berujar bahwa ia sedang mencari ayah kandungnya yang sedang bertapa.

Awalnya, Ki Hajar ragu. Akan tetapi,  dengan bukti klinthingan yang dipakai Baro Klinting,  Ki Hajar dapat mengenali bahwa ular naga itu mungkin benar anaknya. Namun, dia masih menaruh curiga terhadap  ular naga yang mengaku sebagai anak Endang Sawitri,  jelmaan

pusaka sakti miliknya. Ki Hajar menghendaki bukti satu

 

 

 

 

 

 

34

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

35

lagi  kalau  memang ular  itu  benar-benar  anaknya.  Ia menyuruh Baro Klinting  melingkari Gunung Telomoyo.

“Baik,  aku mengenali klinthingan yang ada di lehermu itu.  Mungkin kau memang benar anak Endang Sawitri.  Namun, aku menghendaki satu bukti  lagi agar aku yakin bahwa kau tidak berbohong,”  tukas Ki Hajar Salokantara kepada Baro Klinting.

 

“Bukti  apa yang harus saya tunjukkan  agar Ayah yakin bahwa saya ini adalah anak Ayah?”  tanya  Baro Klinting  heran.

“Aku ingin engkau melingkari Gunung Telomoyo ini dengan tubuhmu. Apabila engkau sanggup melingkarinya berarti engkau memanglah  anakku.  Akan tetapi,   jika kau gagal melingkari  Gunung Telomoyo ini berarti kau adalah pendusta,”  lanjut  Ki Hajar Salokantara lagi.

“Baik,  titah   Ayah  akan  saya laksanakan,”  jawab

Baro Klinting  tegas.

Singkat cerita,  demi membuktikan bahwa apa yang dikatakannya benar, Baro Klinting bergegas menuju kaki Gunung Telomoyo. Ia berusaha sekeras mungkin untuk dapat melilit kaki gunung dengan tubuhnya. Namun, hampir  saja ekor dan kepalanya tidak  dapat menyatu. Baro  Klinting  mulai  panik,  tetapi  ia  tidak  kehilangan akal. Ia  menjulurkan  lidahnya  hingga menyentuh ekornya. Dengan izin sang Dewata, Baro Klinting  dapat melingkari   Gunung  Telomoyo  sesuai  permintaan   Ki Hajar Salokantara. Akhirnya, Ki Hajar mengakui Baro Klinting  sebagai anak kandungnya yang selama ini ditinggalkannya bertapa.

Ki  Hajar   Salokantara   kemudian  memerintahkan

Baro Klinting  untuk bertapa dengan cara melingkarkan tubuhnya  pada  Gunung Telomoyo.  Hal  itu  dilakukan

 

 

 

 

36

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

37

 

agar kutuk ular naga yang disandang anaknya dapat segera hilang dan Baro Klinting  dapat  berubah wujud menjadi manusia seutuhnya. Dengan penuh kepatuhan, Baro  Klinting   menuruti   perintah  ayah  kandung  yang telah lama dirindukannya.

 

 

***

 

 

Di belahan lain lereng Gunung Telomoyo terdapat sebuah desa yang bernama Desa Pathok. Suatu hari penduduk Desa Pathok, desa di kaki Gunung Telomoyo, akan mengadakan pesta sedekah bumi setelah panen usai. Mereka akan mengadakan pertunjukkan berbagai macam tarian.  Untuk memeriahkan pesta itu, para pemuda desa beramai-ramai  mencari daging binatang di hutan. Daging itu nantinya dimasak dan dijadikan santapan pesta. Namun, mereka tidak mendapatkan seekor binatang pun di hutan. Karena merasa kesal dan putus asa, mereka memutuskan untuk kembali ke desa. Dalam perjalanan  pulang,  mereka beristirahat di kaki Gunung Telomoyo itu.  Salah seorang dari  rombongan pemuda desa itu  menancapkan golok ke tanah  tebing di sekitar tempat  mereka melepas lelah. Alangkah terkejutnya pemuda itu  karena  dari  tanah  yang ditancapi  golok  itu  keluar  darah  segar.  Kejadian  itu

 

 

 

38

 

sontak membuat rombongan itu panik. Namun, karena penasaran, mereka juga menancapkan golok masing- masing ke tanah yang mengeluarkan darah tersebut.

Ternyata,  tanah tebing yang mereka tancapi  golok adalah tubuh seekor ular naga yang sedang melilit kaki Gunung Telomoyo. Pucuk dicinta  ulam pun tiba,  para pemuda  merasa  gembira   karena  telah   menemukan daging binatang untuk dijadikan santapan pesta rakyat di Desa Pathok.

Singkat cerita, pesta panen rakyat pun digelar. Daging ular  yang dibawa para pemuda sudah menjadi aneka hidangan di pesta itu.  Penduduk desa bersorak- sorai, berdendang, dan menari diiringi musik tradisional yang gegap gempita.

Di  tengah-tengah   acara  pesta  itu,  tiba-tiba datanglah seorang anak laki-laki  yang tidak lain merupakan jelmaan Baro Klinting. Anak laki-laki itu berumur sekitar sepuluh tahun. Ia tampak kumal dan memiliki luka di sekujur tubuh dengan bau yang sangat tajam dan amis. Anak itu meminta makanan kepada penduduk desa. Namun, tak  seorang pun memberinya makanan atau air minum. Mereka malah mengusirnya dan  mencaci-maki   anak  tersebut.  Namun,  anak  itu

bergeming dan tetap  memaksa meminta makanan dan

 

 

 

 

 

 

39

 

minuman pada penduduk desa yang sedang berpesta itu.

Akhirnya,  anak itu disuruh keluar dari arena pesta itu.   Dengan  menangis  dan  sakit  hati  yang  teramat sangat, anak itu pergi meninggalkan pesta. Ia berjalan tanpa tujuan sambil terus menangis. Akhirnya ia tiba di sebuah gubuk yang ternyata rumah seorang janda tua bernama Nyai Latung. Di depan rumah reyot itu Nyai Latung sedang menumbuk padi dengan lesung.

“Nenek!” panggil anak itu. “Saya haus. Boleh minta air, Nek?”

Nyai Latung memandang anak laki-laki  kumal yang berdiri di hadapannya. Ketika Nyai Latung melihat keadaan  anak  yang  menangis  dengan  tubuh   penuh kudis dan berbau amis, hati Nyai Latung merasa iba. Segera Nyai Latung masuk ke dalam rumahnya seraya mengambil air untuk anak itu.

“Ini, Nak, airnya.  Minumlah!” kata Nyai Latung lembut.  Dengan cepat  anak itu  meneguk air  minum. Nyai Latung terus memandangi anak itu dengan iba.

“Mau   air  lagi?  Apakah  kau  lapar,  Nak?  Tetapi, Nenek hanya punya nasi, tidak  ada lauk,”  tanya  Nyai Latung.

“Mau,  Nek. Nasi saja sudah cukup.  Saya lapar,”

sahut anak itu.

 

 

 

 

40

 

Nyai Latung bergegas masuk lagi ke dalam rumah dan mengambilkan nasi disertai sisa sayur yang ada. Ia juga mengambilkan air lagi untuk  anak itu.  Anak kecil itu  makan dengan lahap hingga tidak  sebutir  nasi pun tersisa.

“Siapa namamu, Nak? Di mana ayah ibumu?” tanya

Nyai Latung sembari duduk mendekati anak itu. “Namaku Baro Klinting, Nek. Aku tidak tahu di mana

ayah dan ibuku berada,”  jawab Baro Klinting.

“Ya, Dewata. Kalau begitu, kau tinggal  saja di sini menemani nenek,” ajak Nyai Latung lagi.

“Terima kasih, Nek. Saya pergi saja. Orang-orang di sini jahat, Nek. Hanya Nenek saja yang baik hati kepada saya.”

Baro  Klinting  kemudian  bercerita tentang  warga desa yang tidak ramah kepadanya. Setelah menceritakan semua pengalaman yang tidak  mengenakkan tersebut, Baro Klinting  pun pamit.  Sebelum pergi,  ia berpesan kepada Nyai Latung agar ketika mendengar bunyi kentongan, Nyai Latung naik ke atas lesung.

“Nek, nanti jika nenek mendengar suara kentongan, nenek naiklah ke atas lesung itu. Nenek akan selamat,” kata  Baro Klinting  sambil menunjuk  lesung yang ada di depan rumah Nyai Latung. Meskipun tidak mengerti

maksud Baro Klinting,  Nyai Latung mengiyakan saja.

 

 

 

 

41

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

42

 

Sesaat kemudian, Baro Klinting  berlari  dari rumah Nyai Latung dan kembali ke keramaian pesta. Ia mencoba  lagi  untuk  meminta  hidangan  dalam  pesta yang diadakan oleh penduduk Desa Pathok. Namun, penduduk tetap menolak kehadiran anak itu.

Baro   Klinting    yang   marah   berlari   ke  tengah- tengah arena pesta. Ia berdiri berkacak pinggang dan mengadakan sayembara. Ia menancapkan sebatang lidi ke tanah. Ia menantang barang siapa dapat mencabut lidi itu, ia adalah orang hebat.

“Ayo, … siapa yang bisa mencabut lidi ini?” tantang

Baro Klinthing.

Semua orang menertawakan Baro Klinting.  Mereka mengejek dan menganggap anak kecil itu sudah gila.

“Ayo, … siapa yang bisa mencabut lidi ini?” kembali

Baro Klinting  menantang penduduk desa.

Penduduk desa makin marah dengan kelakuan Baro Klinting.  Mereka hanya ingin  Baro Klinting  pergi  dari desa mereka. Seorang lelaki tinggi  besar maju menjadi orang pertama yang menerima tantangan Baro Klinting. Dengan badan besar yang kuat ia berusaha mencabut lidi yang tertancap. Namun, lidi itu tidak dapat tercabut. Justru  lelaki  itu  terlempar hingga  keluar  dari  arena pesta tempat lidi itu tertancap.

 

 

 

 

 

 

43

 

Semua orang yang berkerumun  di tempat  Baro Klinting menancapkan lidi terperangah dengan kejadian tersebut. Mereka tidak habis pikir, bagaimana mungkin lelaki bertubuh tinggi besar itu tidak sanggup mencabut lidi  yang ringkih  itu.  Ajaib  sekali lidi  itu,  pikir  orang- orang tersebut.

“Hai, kalian semua, lihatlah, kalian itu orang-orang yang sombong, tetapi  tidak punya tenaga!” teriak Baro Klinting  setelah  melihat  lelaki  berbadan  tinggi  besar tidak mampu mencabut lidi yang ditancapkannya.

Para penduduk desa merasa diremehkan. Mereka makin gusar pada anak kecil bertubuh  kurus dan kumal itu. Seorang lelaki tinggi dan berkulit  hitam legam maju ke arena dan berteriak garang.

“Jangan  meremehkan kami, anak dekil!  Lihat  ini, akan  kucabut  lidi  itu  dan  kupatahkan  di  depanmu,” sentak lelaki itu  sembari membelalakkan matanya kepada Baro Klinting  yang berdiri  berkacak pinggang.

“Tidak usah banyak bicara. Lakukan saja kalau kau mampu,” tantang  Baro Kinting tak kalah garang.

Ternyata,    kejadian   yang   sama   pun   menimpa lelaki tersebut. Tubuh kurusnya  terpental jauh keluar dari arena penancapan batang lidi itu. Satu per satu penduduk desa mencoba mencabut lidi yang ditancapkan

oleh  Baro  Klinting.   Makin  mereka  berusaha,  lidi  itu

 

 

 

 

44

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

45

 

makin kuat tertancap di tanah.  Tak ada yang berhasil mencabutnya. Mereka pun mengumpulkan penduduk yang berbadan lebih besar. Bersama-sama mereka mencoba mencabut. Akan tetapi,  usaha mereka tetap tidak berhasil.

“Kemampuan kalian tidak sebanding dengan kesombongan kalian!” ujar  Baro Klinting  menyaksikan kejadian itu.

“Kalian  akan  membayar  mahal  kesombongan kalian!” lanjutnya dengan geram. “Perhatikan baik-baik ini!”

Akhirnya,  Baro Klinting  berjalan  mendekat ke batang  lidi  yang  ia  tancapkan  tadi.   Para  penduduk desa mendekat. Mereka penasaran dengan apa yang akan terjadi. Mata  Baro Klinting  mengamati  satu per satu penduduk yang mengerumuninya. Kemudian, ia memegang perlahan  lidi  yang tertancap kuat di tanah tersebut. Alangkah herannya penduduk desa. Hanya dengan menggunakan satu tangan, Baro Klinting perlahan dapat mencabut lidi, lalu keajaiban pun terjadi. Lubang bekas tancapan  lidi  tersebut    menyemburkan air yang sangat deras. Semburan air makin lama makin deras dan menjadi air bah yang besar. Sontak kejadian itu  membuat  penduduk  desa panik.  Beberapa  orang

memukul kentongan sebagai tengara bahaya.

 

 

 

 

46

 

Air bah mulai menggenangi Desa Pathok. Semua penduduk berlarian  menyelamatkan diri. Di tempat lain Nyai Latung mendengar bunyi kentongan dari kejauhan. Ia merasa heran dengan datangnya air bah yang besar. Belum juga terjawab  penasarannya,  ia teringat pesan Baro Klinting  untuk segera naik ke atas lesung. Dalam kungkungan rasa bingung, Nyai Latung menyaksikan air bah itu  terus  datang dan semakin tinggi  menggenangi gubuk dan sekitarnya.  Lesung yang dinaiki Nyai Latung terapung-apung. Air makin membesar dan dalam sekejap menggenangi Desa Pathok.  Nyai  Latung  menyaksikan para tetangganya tenggelam.

Kejadian itu terasa begitu cepat. Nyai Latung hanya tertegun  dalam kebingungan yang teramat sangat. Setelah beberapa lama, lesung yang ditumpangi Nyai Latung terbawa menepi sehingga ia dapat naik ke darat. Mata tuanya masih tidak percaya dengan kejadian yang baru saja dialaminya.  Desa Pathok tempatnya  tinggal selama ini  tenggelam  bersama seluruh  penduduknya. Ia  baru menyadari  hanya ia yang selamat dari banjir bandang itu. Penduduk desa yang lain tewas tertelan air bah yang ia sendiri pun tidak tahu dari mana asalnya.

Ia mulai mengingat-ingat kejadian sebelum bencana

itu terjadi. Ia ingat sosok Baro Klinting.

 

 

 

 

 

 

47

 

“Siapa Baro Klinting sebenarnya? Apakah ia adalah jelmaan Dewata yang murka dengan penduduk desa?” gumam Nyai Latung penuh tanya bergejolak.

Dalam termangu ia memandangi air bah di hadapannya menjelma menjadi genangan luas berbentuk rawa-rawa. Mata tua Nyai Latung menyaksikan desanya tenggelam tidak bersisa dan berubah menjadi hamparan rawa yang luas.

“Ah,  betapa  luas  hamparan  air  rawa  ini.  Airnya bening sekali. Rawa berair bening, ya, itulah nama yang cocok untuk tempat ini,”  gumam Nyai Latung lagi.

Akhirnya, Nyai Latung memutuskan tinggal di pinggir rawa tersebut. Ia menamakan desa yang tenggelam itu dengan nama Rawa Pening yang berasal dari genangan air bening yang membentuk rawa-rawa. Makin lama tempat itu makin ramai karena banyak pendatang yang menetap di daerah itu.

Di sisi lain, Ki Hajar Salokantara telah percaya bahwa Baro Klinting adalah anaknya sebagai jelmaan dari pusaka sakti yang dimilikinya. Baro Klinting yang berubah wujud menjadi anak manusia itu telah terbebas dari kutukan. Ia menemui ayahnya di lereng Gunung Telomoyo. Mereka berdua pun pulang menemui Endang Sawitri.

 

 

***

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *