Daftar Isi

 

 

Kata Pengantar …………………………………………..  iii Sekapur Sirih ………………………………………………   vi Daftar Isi ………………………………………………….. viii Legenda Putri Pucuk Bukit Kelumpang………………    1

Biodata Penulis……………………………………………  69

 

Bidata Penyunting ……………………………………….  71

 

Biodata Ilustrator………………………………………..  72

 

Legenda Putri

Pucuk Bukit Kelumpang

 

 

 

 

Negeri Bangka adalah negeri damai, indah, dan makmur yang dikelilingi  hutan belantara dengan keanekaragaman flora dan faunanya. Negeri ini dipimpin oleh seorang raja yang bijaksana dan dicintai oleh rakyatnya.  Sultan Mahmud Malim Demawan namanya. Beliau mempunyai seorang permaisuri yang cantik jelita, yaitu  Ratu  Malika  Seri  Purnama.  Selama bertahun- tahun memegang kekuasaan dan memerintah rakyatnya di   Negeri   Bangka,  sang  raja   berhasil   menjadikan negeri yang dipimpinnya menjadi negeri yang damai, sejahtera, dan penuh dengan kekayaan alam yang berlimpah. Rakyat di Negeri Bangka hidup sangat rukun dan makmur. Jika terjadi perselisihan antarwarga desa, Sultan Mahmud Malim Demawan selalu memperlakukan rakyatnya dengan adil dan mengambil keputusan dengan bijaksana.    Ia    sangat   memperhatikan    kepentingan

 

rakyatnya sehingga semua rakyatnya sangat hormat dan patuh  kepada sosok Sultan Mahmud Malim Demawan. Dalam pemerintahannya, sang raja selalu didampingi oleh Cik Abdilah, seorang juru nasihat kepercayaan kerajaan  yang membantu beliau mengambil keputusan dan  menyelesaikan  masalah  yang  terjadi  di  negeri yang dipimpinnya.  Cik abdillah telah bertahun-tahun mengabdi kepada Sultan Mahmud Malim Demawan dan sangat  patuh  kepada  sang raja.  Cik Abdillah  adalah orang kepercayaan sang raja dan selalu setia menemani ke mana pun sang raja pergi untuk mengurus masalah pemerintahan.

Sang raja  mempunyai hobi.  Pada waktu  senggang untuk  mengusir rasa bosan yang kadang melanda, sang raja berburu di hutan.

Negeri Bangka adalah sebuah negeri yang dikelilingi oleh hutan belantara yang sangat lebat. Di sana terdapat berbagai   jenis   tumbuhan   dan  hewan.  Hutan   yang menjadi tempat favorit raja untuk berburu ini disebut Kelekak Antu yang terletak di Bukit Kelumpang. Kelekak Antu  ditumbuhi   pohon-pohon  besar  yang  menjulang

 

tinggi. Sebagian besar rakyat yang dipimpin oleh Sultan Mahmud   Malim   Demawan  sangat   menggantungkan hidup  mereka  dari  kekayaan  hutan  ini.  Masyarakat negeri Bangka banyak yang  berprofesi sebagai tukang kayu.  Mereka memanfaatkan batang kayu  tersebut untuk  membuat  peralatan  rumah  tangga,  untuk dijadikan  kayu  bakar,  dan  untuk  membangun rumah yang mereka tempati.  Selain itu,  di Kelekak Antu  juga terdapat berbagai jenis buah-buahan. Buah-buahan ini biasanya dimanfaatkan oleh rakyat negeri Bangka untuk makanan sehari-hari dan juga untuk  diperdagangkan. Selain   menanam   sendiri   pohon   buah-buahan   dan sayuran di rumah mereka, rakyat jelata yang berprofesi sebagai pedagang juga memanfaatkan buah-buahan segar yang terdapat di hutan ini untuk dijual kembali di pasar untuk menambah penghasilan mereka.

Untuk   urusan   berburu,    Kelekak   Antu   menjadi tempat  favorit  Sultan Mahmud Malim  Demawan.  Di pelosok Kelekak Antu  terdapat bermacam-macam hewan  buruan,  seperti   rusa  dan  babi  hutan.   Salah satu hal yang disukai Sultan Mahmud Malim Demawan

 

ketika berburu adalah saat ia dan rombongan memasuki Kelekak Antu,  akan terdengar  kicauan burung-burung yang seakan menyambut kedatangan mereka di hutan. Terdapat  berbagai macam jenis burung yang bersuara merdu yang hidup di Kelekak Antu dan menambah kekayaan fauna hutan ini. Biasanya sang raja mengajak Cik  Abdilah  dan  beberapa  orang  panglima  kerajaan untuk menemaninya menginap di hutan untuk berburu rusa. Mereka berangkat pada pagi hari karena akan menempuh perjalanan yang cukup jauh. Mereka akan menyusuri jalan setapak yang cukup panjang dan menyeberangi sebuah sungai kecil sebelum sampai ke Kelekak Antu.

Sang raja beserta rombongan harus berangkat pada pagi hari karena akan menempuh perjalanan yang cukup jauh.  Mereka  harus  menyusuri  jalan  setapak  menuju bukit yang cukup panjang. Rombongan juga akan melewati jalan bebatuan dan menyeberangi sebuah sungai kecil sebelum sampai ke Kelekak Antu.

Lokasi Kelekak Antu tempat favorit sang raja berburu

 

ditandai   dengan  kawasan  hutan  yang penuh  dengan

 

pohon-pohon besar dengan dedaunan hijau. Akar-akar pohon nya pun sangat besar menancap di dalam tanah dan pohon-pohon ini hanya dapat ditemui di kawasan hutan Bukit Kelumpang. Jika rombongan telah melewati pohon-pohon besar itu dan sudah terdengar kicauan burung-burung yang sangat merdu, maka artinya mereka telah sampai di Kelekak Antu.

Sultan  Mahmud  Malim  Demawan  di  mata  rakyat dan para punggawanya adalah sosok yang tegas, berwibawa,  dan merupakan sosok pemimpin yang sempurna bagi mereka. Sorot matanya tajam, berbadan tegap, serta memiliki suara yang lantang dan tegas. Setiap  sang raja  berbicara,  semua orang  pasti  akan patuh dan memperhatikan apa yang dibicarakannya dengan saksama. Namun, di balik sikap sang raja yang memerintah  Negeri Bangka dengan bijak dan sangat dihormati rakyatnya,  sang raja ternyata menyimpan kesedihan yang amat mendalam. Setiap hari sang raja tidak henti-hentinya merenungi keadaannya.

Sampai sekarang di usianya yang telah  menginjak usia  yang  tergolong   matang,   sang  raja   dan  ratu

 

belum dikaruniai keturunan.  Bertahun-tahun sejak pernikahan  mereka, sang permaisuri  Ratu Malika Seri Punama sampai sekarang belum menampakkan tanda- tanda akan mengandung seorang anak. Hal ini tentu sangat menggelisahkan sang raja terlebih lagi ia sangat mendambakan kehadiran seorang anak laki-laki  yang tampan dan gagah yang nanti akan menggantikan posisinya sebagai seorang raja.

Sang permaisuri  Ratu Malika  Seri Purnama kerap memperhatikan raut wajah sedih dan gundah yang tidak pernah sang raja tampakkan kepada rakyatnya.  Sang permaisuri pun sebenarnya turut sedih merenungi nasib mereka,  tetapi  ia  selalu  menguatkan  dan  menghibur sang raja di saat ia sedang sedih. Seperti malam ini ketika  melihat  Baginda  Raja termenung  sendirian  di ruang pribadinya, ia datang menghampiri suaminya dan menghiburnya.

“Wahai   Kakanda,  aku  sering  memperhatikan wajahmu  yang setiap  malam selalu murung  dan bersedih,”  ujar sang ratu. “Sesungguhnya aku tahu apa yang sedang engkau pikirkan  dan aku pun memikirkan

 

hal yang sama. Aku mengerti keinginanmu yang sangat ingin  segera  mendapatkan  keturunan.   Aku  meminta maaf  jika selama ini aku belum  dapat menjadi istri  yang sempurna yang dapat memberikanmu keturunan,” ucap sang permaisuri dengan terisak.

Ketika melihat sang permaisuri  yang ikut bersedih, Sultan Mahmud Malim Demawan pun menjadi merasa bersalah dan berkata  kepada sang permaisuri.  “Wahai istriku, jangan salahkan dirimu atas keadaan ini. Memang benar aku sangat mendambakan untuk memiliki seorang anak. Terlebih lagi aku sangat menantikan kehadiran seorang anak laki-laki  yang kelak akan meneruskan kekuasaanku  jika  aku  telah  tiada,” kata  sang  raja. Sang raja pun menatap wajah sang permaisuri seraya berkata:  “Wahai  permaisuriku, kita harus menghadapi cobaan  ini   bersama-sama.   Ini  adalah   cara   Tuhan menguji kesabaran kita. Kita harus yakin dan berusaha bahwa suatu saat nanti  Tuhan Yang Mahakuasa akan mengabulkan doa kita.” Ratu Malika Seri Purnama pun mengangguk pelan dan mulai tersenyum.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

8

 

Setiap malam mereka selalu berdoa kepada Sang Mahakuasa agar segera diberikan keturunan.  “Ya, Tuhanku  Yang  Mahaadil   dan  Bijaksana,  berikanlah kami kesabaran dalam menghadapi cobaan-Mu. Tunjukkanlah kepada kami tanda kekuasaan-Mu. Berikanlah kami berdua kesempatan untuk memiliki keturunan.  Berikanlah kami anugerah terindah-Mu bagi keluarga kami untuk  memiliki seorang anak yang akan menjadi  pelengkap bagi keluarga  dan kerajaan  kami.” Itu adalah doa yang selalu dipanjatkan sang raja  dan pemaisuri setiap malam.

Berbagai cara pun telah mereka coba untuk mendapatkan  keturunan.  Pernah suatu ketika  Cik Abdilah menghadap sang raja dan permaisuri  bersama dengan tabib  istana  untuk  memberikan  ramuan  yang telah diracik secara khusus oleh sang tabib untuk sang permaisuri.

Sang tabib  berkata  “Yang mulia, hamba tidak bermaksud lancang, tetapi  hamba mencoba meracik ramuan dari rempah-rempah untuk diminum permaisuri

dengan harapan  dapat  membantu  beliau  untuk  cepat

 

 

 

 

 

9

 

mengandung. Hamba juga tidak bermaksud untuk melawan  takdir   Yang  Mahakuasa,  tetapi   ini  adalah bentuk  usaha kita  agar  tidak  menyerah  dengan keadaan,” lanjutnya. Mendengar perkataan sang tabib, Sultan Mahmud Malim Demawan dan permaisuri  pun mengangguk setuju.

Permaisuri pun meminum ramuan tersebut rutin selama beberapa bulan, tetapi tampaknya usaha mereka belum membuahkan hasil.

Untuk  mengusir  rasa  gundah  di  hatinya  ini,  sang raja kerap melakukan hobi yang telah lama ditekuninya sejak dulu, yaitu berburu. Dengan berburu sang raja dapat melupakan sejenak rasa gundah yang selalu menghantuinya  setiap  malam.  Bertahun-tahun menekuni hobi berburu pun membantu sang raja untuk mengasah keterampilannya. Sang raja terkenal  sangat mahir menggunakan busur dan panah sebagai senjata untuk   berburu   rusa.  Beliau  pun  tidak   segan  untuk berbagi  ilmunya  kepada sang penasihat,  Cik Abdilah, dan panglima  perangnya.  Sang raja  sering  mengajari

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

11

 

penasihat dan para panglimanya ketika mereka sedang berburu bersama.

Selain berburu rusa, sang raja juga hobi mengoleksi burung-burung cantik yang didapatkannya  dari hasil berburu   di  Kelekak  Antu.   Hutan  di  Negeri  Bangka sangat kaya akan bermacam-macam jenis burung yang cantik dan berbulu indah. Sang raja juga sangat mahir menggunakan perangkap yang biasa digunakan untuk menangkap burung. Ketika pulang berburu mereka biasanya  membawa hasil  buruan  berupa  daging  rusa atau  beberapa  ekor  burung  yang  masih  hidup  dan berbulu indah untuk dijadikan koleksi dan tambahan hiasan di taman istana.

Seperti pada kesempatan kali ini sang raja akan kembali berburu di hutan. Ia memanggil penasihat kepercayaannya untuk melakukan persiapan sebelum berangkat berburu.  Mereka akan menuju Kelekak Antu yang terletak di Bukit Kelumpang. Semua persiapan pun telah dilakukan untuk keberangkatan mereka.

Sebelum rombongan berangkat,  Cik Abdillah menghadap Sultan Mahmud Malim Demawan. ”Hamba

 

ingin melapor kepada Baginda bahwa semua persiapan telah selesai dilakukan. Pasukan telah siap dengan kuda dan peralatan berburu, dan menunggu perintah Baginda untuk berangkat,” kata Cik Abdillah.

Sang raja mengangguk dan menjawab, “Pastikan kembali semua perlengkapan  dan bekal makanan kita sudah siap. Kita akan segera berangkat.” Cik Abdillah mengangguk  dan  memeriksa  perlengkapan  untuk terakhir kali.

Ia pun berpamitan  kepada sang permaisuri  Ratu Malika Seri Purnama untuk meninggalkan istana. “Duhai, istriku, aku akan pergi berburu  selama beberapa hari dan menginap di hutan, jaga dirimu baik-baik di sini!”

Sang ratu  pun mengangguk pelan dan berkata, “Baiklah,  suamiku, berhati-hatilah selama di jalan! Aku doakan semoga engkau dan rombongan selalu dilindungi Yang Mahakuasa.”

Sang raja  menaiki kuda kesayangannya di barisan paling depan dan memberi perintah kepada punggawanya “Pasukan,  mari  kita  berangkat!” Perlahan rombongan

 

sang  raja   melewati   pintu   gerbang  istana   bergerak meninggalkan istana menuju hutan di Bukit Kelumpang.

Sang ratu  tersenyum  melepas kepergian suaminya beserta rombongan dengan hati yang sedikit tersayat. Dia  merelakan  sang  raja  untuk  menekuni  hobi berburunya  dengan harapan  dapat  sedikit  mengobati rasa sedih sang raja dan rasa kesepiannya karena belum mempunyai keturunan.  Dalam hatinya, sang permaisuri

merasa bersalah kepada sang suami dan dirinya sendiri

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

14

 

karena sampai saat ini dirinya belum juga mengandung dan memberikan keturunan  kepada sang raja.

Pada malam harinya sang permaisuri berdoa kepada Yang Mahakuasa agar Tuhan selalu memberikan keselamatan kepada rombongan raja. Ia juga terus memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa segera memberikan momongan kepadanya.

Dengan berlinang air mata, permaisuri mengucapkan doa “Ya, Tuhanku Yang Mahaadil dan Bijaksana, berikanlah hamba-Mu ini kesabaran dalam menghadapi cobaan-Mu!  Berikanlah  hamba kesempatan  untuk segera    mendapatkan     keturunan!    Hamba    hanya ingin membahagiakan suami hamba dan melengkapi kesempurnaan keluarga kami dengan menimang buah hati.”

Sementara   itu,    setelah    menempuh   perjalanan yang cukup jauh pada malam harinya  sang raja  telah mendekati   lokasi   berburu,   yaitu   Kelekak   Antu   di Bukit Kelumpang. Sebelumnya Sultan Mahmud Malim Demawan beserta rombongannya telah melewati  jalan setapak  menuju  bukit  dan  melewati  jalan  bebatuan

 

dan sebuah sungai kecil untuk mencapai tempat ini. Kelekak Antu merupakan wilayah hutan yang tersebar luas mengelilingi bukit besar yang bernama Bukit Kelumpang, mulai dari kaki bukit sampai puncak paling atas. Lokasi favorit raja untuk berburu letaknya masih cukup jauh masuk ke dalam hutan.  Lokasi ini ditandai oleh kawasan penuh pohon-pohon besar, berakar besar dengan dedaunan hijau yang lebat dan hanya dapat ditemui di kawasan hutan Bukit Kelumpang.

Tidak terasa hari sudah semakin larut.  Matahari perlahan   mulai   tenggelam   dan  cahayanya  semakin redup. Hal ini membuat kawasan hutan menjadi mulai gelap. Raja beserta rombongan mulai kelelahan dan merasa kelaparan  karena telah  menempuh perjalanan yang cukup jauh untuk sampai ke Kelekak Antu.

Cik Abdillah  berkata  kepada  sang raja,  “Baginda Raja, hutan ini sudah semakin gelap dan kita sudah kelelahan. Ada baiknya kita  beristirahat di sini malam ini dan melanjutkan perjalanan dan mulai berburu besok pagi, Baginda.”

 

Sang raja setuju dan berkata,  “Baiklah,  pasukanku. Malam  ini  kita  akan  beristirahat di  sini.  Bangunlah tenda dan persiapkan diri kalian untuk berburu besok.” Atas   saran               Cik          Abdilah         kepada     raja,           mereka memutuskan untuk beristirahat terlebih  dahulu malam ini dan akan mulai berburu  keesokan paginya. Kondisi Kelekak Antu yang gelap pada malam hari pun membuat Cik  Abdilah   dan  panglima  yang  mendampingi  sang raja  sedikit  khawatir karena jika  mereka melanjutkan perjalanan   atau   mulai   berburu   pada   waktu   larut malam,  banyak  ancaman  dari   binatang   buas  yang banyak terdapat di hutan  ini.  Mereka pun mendirikan tenda  peristirahatan di  kaki  Bukit  Kelumpang  untuk beristirahat dan memulihkan tenaga. Setelah pengawal menyalakan  api  unggun  dekat  tenda  peristirahatan, Sultan Mahmud Malim Demawan menyantap makanan yang dibawa  dari  istana  dan segera masuk ke dalam tendanya untuk beristirahat. Kondisi badan yang cukup letih  karena  menempuh  perjalanan  yang  cukup  jauh

membuatnya terlelap  lebih cepat.

 

Di dalam tidurnya Sultan Mahmud Malim Demawan mengalami mimpi yang cukup aneh. Dalam mimpinya itu ia didatangi oleh sosok seorang kakek tua yang memakai jubah berwarna putih.  Tubuh kakek itu disinari  cahaya yang sangat terang dan menyilaukan mata.

Kakek tersebut  berkata  “Wahai  kau pemburu,  aku adalah penjaga Bukit Kelumpang dan mendatangimu untuk menyampaikan sebuah pesan. Aku ingin memperingatkanmu. Jika berburu di wilayah bukit ini, janganlah kau dan rombonganmu merusak hutan dan menebangi pohon yang ada di dalam hutan ini dengan seenaknya! Jangan pula kau memburu hewan-hewan dalam hutan ini hanya untuk kesenangan saja!”  Sang kakek  pun  menambahkan,  “Kau  harus  ingat  mereka juga adalah makhluk hidup dan engkau harus menjaga keberlangsungan hidup mereka yang tinggal di dalam hutan  ini.  Jika  kau  mengindahkan  peringatanku ini, niscaya kebaikan dan rezeki akan selalui menyertai dalam kehidupanmu dan ingatlah kau harus selalu bersyukur dengan segala kenikmatan yang diberikan kepadamu!”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

19

 

Dalam mimpinya sang raja tidak dapat berkata sepatah kata pun melihat sosok yang datang menghampirinya.   Ia   sangat   terkejut  melihat   sang kakek yang berdiri  di hadapannya hingga tubuhnya menjadi   sangat   kaku  dan  tidak   dapat   digerakkan. Belum hilang rasa terkejutnya, tiba-tiba sang kakek tersebut  menjelma menjadi seekor burung yang sangat besar.  Burung  tersebut   memiliki   bulu  yang  sangat lebat dan berwarna-warni. Bulu-bulunya  sangat indah dan memancarkan cahaya. Burung tersebut kemudian mengepakkan sayapnya yang berwarna-warni, terbang, dan perlahan menghilang tanpa jejak.

***

 

Seketika Sultan Mahmud Malim Demawan pun terbangun     dari    tidurnya.   Ternyata     hari    sudah pagi, matahari  telah terbit dan menyinari tenda peristirahatannya. Ia masih seakan tidak percaya dengan mimpi yang dialaminya.  Sang raja berkata kepada dirinya  sendiri,  “Siapakah  gerangan kakek tua itu? Mengapa mimpi itu terasa seperti nyata?”  Sang raja bertanya-tanya dalam hatinya  apa maksud dari mimpi

 

tersebut. Sang raja masih belum tersadar  sepenuhnya dari mimpi yang dialaminya dan masih terlihat seperti orang yang sangat kebingungan. Namun, ia menganggap mimpi tersebut hanya bunga tidur  saja meski masih ada sedikit rasa penasaran atas peristiwa  yang dialaminya semalam. Sang raja pun bergumam, “Hhmm, mimpi yang sangat aneh. Sepertinya kakek itu ingin menyampaikan pesan kepadaku. Aku harus lebih berhati-hati dalam berburu hari ini.”

Setelah   membereskan  tenda   dan   peralatannya, sang  raja  beserta  Cik  Abdilah  dan  rombongan  pagi itu segera melanjutkan perjalanan memasuki hutan Kelekak Antu. Mereka masuk lebih jauh ke dalam Bukit Kelumpang dan mulai berburu. Sultan Mahmud Malim Demawan dan pasukannya telah melanjutkan perjalanan memasuki kawasan hutan selama beberapa jam. Mulai terdengar  kicauan burung-burung yang sangat merdu yang menandakan mereka sudah melewati kaki Bukit Kelumpang dan mulai memasuki bagian hutan lebih dalam. Untuk sampai ke lokasi perburuan,  rombongan harus melewati jalan yang cukup berat.  Jalan ke hutan

 

sudah mulai menanjak ke atas bukit. Mereka harus melewati bebatuan besar serta batang pohon yang dengan akar-akar  pohon yang kuat menancap ke dalam tanah yang menghalangi perjalanan mereka.

Hutan  Kelekak  Antu  yang  mereka  lewati   adalah hutan yang ditumbuhi  pohon-pohon yang sangat lebat. Untuk dapat masuk lebih jauh ke dalam hutan, mereka harus  terlebih   dahulu   menebangi  beberapa  batang pohon yang menghalangi jalan mereka dan membuat jalan sendiri untuk masuk ke dalam hutan.

Melihat banyak pohon-pohon yang menghalangi perjalanan mereka, seketika Sultan Mahmud Malim Demawan teringat akan mimpinya semalam dan langsung memperingatkan penasihat dan para panglimanya. “Wahai penasihatku, tebanglah beberapa batang pohon saja yang menghalangi perjalanan kita untuk membuat jalur  baru ke dalam hutan!” Ia pun menambahkan,  “Tancapkan   beberapa  dahan  pohon yang telah kautebangi ke tanah sebagai petunjuk  jalan pulang kita nanti. Jadi, kita tidak perlu menebangi pohon lagi untuk membuat jalan baru untuk pulang ke istana.”

 

Sang penasihat pun mengangguk dan menjawab, “Baik yang mulia, segera kami laksanakan.”

Setelah melewati beberapa jalur  yang mereka buat sendiri, sang raja pun memulai perburuan.  Dengan mengandalkan pendengaran dan penglihatannya yang tajam, sang raja dengan mudah dapat menemukan sekawanan rusa di balik semak-semak yang sedang mencari    makan.   Dengan   memegang   busur    yang telah dipersiapkan Sultan Mahmud Salim Demawan mengendap-endap dan terus memperhatikan kawanan rusa tersebut. Setelah mendapatkan posisi yang tepat, ia mengambil anak panah dan mulai membidik seekor rusa   bertubuh    gemuk  yang   sedang  asyik   makan. Dengan sigap sang raja kemudian melepaskan anak panah tersebut. Dengan secepat kilat anak panah itu melesat tepat mengenai badan rusa tersebut. Sultan Mahmud Malim Demawan pun tersenyum puas melihat rusa buruannya  langsung roboh ke tanah.  Cik Abdilah memberikan pujian kepada sang raja atas keberhasilan sang raja melumpuhkan buruannya.

 

“Wahai, Paduka, hamba tidak meragukan kemampuan Paduka menggunakan busur dan panah dalam berburu.  Hamba yakin dengan pengalaman Paduka yang telah lama menekuni hobi ini pasti Paduka dapat dengan mudah melumpuhkan rusa tersebut dengan bidikan yang sangat akurat,” kata Cik Abdilah. Sang raja pun hanya tersenyum mendengar perkataan Cik Abdilah. Ia kemudian memerintahkan  pengawalnya untuk mengangkat rusa yang sedang sekarat tersebut.

“Jangan biarkan rusa itu tersiksa lebih lama. Segera ambil daging rusa itu  untuk  makan malam kita,  ambil kulitnya   untuk  diberikan  kepada  perajin  kulit  istana dan segera kuburkan  sisa tulangnya  di dalam tanah!” Para pengawal dengan cekatan segera melaksanakan perintah  raja mereka yang bijak tersebut.

Sang raja kemudian berkata  lagi, “Hari  sudah beranjak malam. Aku sudah cukup puas dengan hasil buruan hari ini. Besok pagi kita akan kembali ke istana melewati jalur yang telah kita tandai kemarin.”  Sang penasihat  dan panglima  yang mendampingi  sang raja

 

pun mengangguk mematuhi  perintah  Sultan  Mahmud

 

Malim Demawan.

 

Sementara itu, di istana, sehari setelah kepergian sang suami ke Kelekak Antu untuk berburu, Ratu Malika Seri  Purnama   sering  merasa  tidak  enak badan  dan mual. Ia merasakan ada perubahan di dalam dirinya. Pada awalnya sang permaisuri  hanya menganggap ini adalah penyakit  biasa yang sering ia alami jika terlalu letih. Namun, setelah dua hari sakitnya tidak kunjung sembuh. Ia pun segera memanggil tabib istana untuk memastikan penyakit apa yang dideritanya.

Setelah diperiksa oleh tabib istana, sang tabib dengan wajah sumringah berkata,  “Permaisuri, hamba hendak menyampaikan kabar gembira. Dari hasil pemeriksaan hamba kepada permaisuri,  hamba yakin permaisuri menunjukkan tanda-tanda bahwa permaisuri  sedang mengandung.”

Ketika mendengar perkataan sang tabib, Ratu Malika Seri Purnama pun melonjak kegirangan dan menangis bahagia. “Benarkah yang kaukatakan ini, wahai tabib istana?   Setelah  penantian   panjang  akhirnya   doaku

 

dikabulkan oleh Yang Mahakuasa,” ucapnya dengan linangan  air  mata  bahagia.  Ia   pun  mengucap  rasa syukur atas kehamilannya ini. “Ya,  Tuhan Yang Maha Mendengar,  aku  sangat  bersyukur   atas  karunia-Mu yang telah kami nantikan sejak lama. Aku akan menjaga kandunganku ini dengan baik sampai nanti anak yang kami nantikan  ini lahir.” Ia pun tidak sabar menunggu kepulangan Sultan Mahmud Malim Demawan untuk segera memberi tahu kabar gembira ini.

Selepas   tiga    hari    kepergian    Sultan    Mahmud Malim  Demawan untuk  berburu,  akhirnya  rombongan raja  kembali  ke  istana   dengan  selamat.  Sang  ratu pun menyambut kedatangan Sultan Mahmud Malim Demawan beserta rombongan dengan wajah berseri- seri. Ia segera memberi tahu kabar gembira tersebut yang membuat Sultan Mahmud Malim Demawan terharu. “Kakanda, selama engkau dan rombongan berburu, sebuah  keajaiban  Tuhan  telah  terjadi dan  sekarang aku punya kabar baik untukmu,” ujar  sang permaisuri dengan wajah yang sangat berseri-seri.

 

Sang raja  pun tidak  dapat  menyembunyikan  rasa ingin tahunya dan bertanya, “Ada apakah gerangan, wahai  permaisuriku?   Engkau terlihat sangat  senang hari ini.”

Sambil menangis haru sang permaisuri  berkata, “Suamiku,  usaha dan doa selama bertahun-tahun kita telah dikabulkan Tuhan Yang Mahakuasa. Aku sekarang telah  mengandung seorang anak yang telah  kita nantikan sejak lama.”

Setelah mendengar ucapan sang permaisuri,  Sultan Mahmud Malim Demawan sontak melonjak kegirangan. Ia tidak henti-hentinya mengucap syukur kepada Yang Mahakuasa atas karunia yang diberikan kepada mereka. Sambil terharu sang raja berkata,  “Permaisuriku, akhirnya  kesabaran kita  membuahkan hasil, kita  akan segera memiliki seorang anak.” Sang raja menambahkan, “Semoga Tuhan senantiasa memberikan kita kesehatan dan kesabaran hingga proses persalinanmu kelak.”

Hari  pun  tidak  terasa  berganti.  Permasuri  setiap hari dengan hati-hati menjaga kandungannya yang semakin  lama  semakin  membesar.  Sultan   Mahmud

 

Malin Demawan pun telah melakukan segala macam persiapan  untuk  menyambut  kelahiran  buah hati pertama mereka yang nanti akan meneruskan takhtanya sebagai seorang raja. Sultan Mahmud Malim Demawan sangat yakin bahwa ia akan mendapatkan seorang anak laki-laki.  Ia  sudah mempersiapkan semua pakaian dan peralatan  untuk seorang anak laki-laki, putra  mahkota yang telah  ia nantikan  sejak lama.  Jauh-jauh  hari  ia telah merencanakan berbagai macam agenda kerajaan setelah  kelahiran  anaknya  kelak  untuk  mendidik anaknya menjadi putra  mahkota kerajaan. Ambisi sang raja untuk memiliki seorang anak laki-laki  perlahan membuatnya menjadi sedikit takabur dan terlalu memaksakan kehendak.

Tidak terasa hari pun sudah berganti  bulan. Perut Ratu  Malika  Seri Purnama sudah semakin membesar dan mendekati masa persalinan.  Akhirnya,  waktu yang dinantikan  pun tiba.

Pada suatu pagi sang raja sedang bersiap-siap berangkat   untuk  meninjau  salah satu desa di Negeri Bangka   yang   dilanda    wabah   penyakit,    tiba-tiba

 

terdengar   jeritan  keras  Ratu  Malika   Seri  Purnama dari  dalam kamar.  Rasa sakit  terasa  di perutnya  dan menjalar ke seluruh tubuhnya.  Dukun beranak pun didatangkan untuk membantu proses persalinan Ratu Malika Seri Purnama. Suasana seisi istana pun menjadi riuh menyambut kelahiran  anak pertama  raja dan ratu yang mereka cintai. Setelah beberapa lama akhirnya terdengarlah suara tangisan  sang bayi untuk  pertama kalinya yang disambut haru oleh Ratu Malika Seri Purnama dan Sultan Mahmud Malim Demawan. Proses persalinan berjalan dengan lancar. Ratu Malika Seri Purnama terlihat sangat lemah setelah melewati proses persalinan yang cukup melelahkan. Ratu Malika Seri Purnama Menangis terharu ketika melihat anak yang dilahirkannya untuk  pertama  kali. Sang Permaisuri mendekap  erat   bayi  yang  baru   saja  dilahirkannya dengan penuh kasih sayang. Ia merasa sangat bahagia dapat menimang anak yang telah dinantikannya setelah penantian bertahun-tahun. Setelah menyelimuti sang bayi agar tidak kedinginan, ia kemudian memerintahkan sang  dukun  untuk   membawa  buah  hati   mereka  ke

 

hadapan  Sultan  Mahmud  Malim  Demawan.  Sang dukun beranak menggendong seorang bayi mungil dan membawanya ke hadapan sang raja.

***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

30

 

Sang raja yang sangat gembira menyambut kelahiran anaknya tidak sabar untuk menggendong sang buah hatinya.  “Akhirnya, saat yang sangat kunantikan  tiba. Kemarikan anakku. Aku ingin menggendong putra mahkota kesayanganku.”

Sang dukun berjalan perlahan sambil menggendong bayi tersebut, tetapi  ia tidak  dapat  menyembunyikan raut wajah takut  ketika memandang Sultan Mahmud Malim Demawan yang sudah tidak sabar ingin segera menggendong   buah   hatinya.    Dengan   terbata-bata ia berkata, “Ampuni hamba, Baginda Raja, bayi ini bukanlah  seorang  putra! Ratu  Malika  Seri  Purnama telah melahirkan  seorang bayi perempuan yang cantik dan sehat.”  Sang dukun pun menunjukkan  rupa  sang bayi perempuan yang sangat cantik dan berambut lebat. Pada pergelangan kakinya terdapat tanda lahir  unik berupa bulatan berwarna abu-abu. Sang dukun dengan perlahan berupaya untuk memindahkan bayi mungil itu ke pangkuan sang raja.

Setelah  mendengar  perkataan  sang dukun,  wajah

 

Sultan Mahmud Malim Demawan yang tadinya sumringah

 

berubah  seketika.   Ia   berusaha  menahan  emosinya, tetapi    ia   tidak    dapat    menahan   kekecewaannya. Ia tidak menyangka akan dikaruniai seorang anak perempan bukan anak laki-laki  seperti  yang selama ini diharapkannya untuk meneruskan takhta kerajaannya di kemudian hari. Wajah Sultan Mahmud Malim Demawan berubah  menjadi  merah  padam.  Ia   terlihat  sangat murka.   Dengan  bibir   bergetar   ia  berteriak  kepada sang dukun, “Aku tidak percaya dengan apa yang baru saja kaukatakan kepadaku! Mengapa anakku bukanlah seorang laki-laki?”

Sang raja masih tidak  mau menerima kenyataan bahwa sang permaisuri  baru saja melahirkan  seorang anak perempuan. Sang permaisuri  yang masih terlihat lemah dan kelelahan berusaha meyakinkan sang raja. “Wahai  suamiku, benar apa yang dikatakan  oleh Sang Dukun.  Lihatlah,   aku  baru  saja  melahirkan  seorang bayi perempuan yang cantik. Dia adalah buah hati kita. Penantian kita selama bertahun-tahun.”

Sang Dukun pun menunjukkan rupa sang bayi perempuan  yang  sangat  cantik  dan  berambut  lebat.

 

Pada pergelangan kakinya terdapat tanda lahir  unik berupa  bulatan   berwarna   abu-abu.  Sultan  Mahmud Malim Demawan pun melihat rupa anak perempuannya untuk pertama kalinya. Ia menatap wajah sang bayi yang sedang tertidur pulas dalam selimut.   Mata sang buah hati yang bulat persis seperti dirinya, bulu matanya yang lentik  dan wajahnya  yang sangat cantik  seperti  sosok ibu yang melahirkannya, Ratu Malika Seri Purnama. Dalam hatinya  ia sangat sayang kepada anaknya yang baru saja lahir ke dunia. Namun, rasa ego yang sangat besar dalam dirinya mengalahkan segalanya. Sultan Mahmud Malim Demawan tetap  tidak  dapat menerima kenyataan bahwa anaknya adalah seorang perempuan.

Penasihat kerajaan Cik Abdilah yang menyaksikan kejadian   itu   akhirnya   angkat   bicara.   “Sebelumnya, ampuni  hamba,  Baginda  Raja!  Hamba  tidak  berniat ikut  campur.  Namun,  bukankah  dikaruniai anak laki- laki  atau  perempuan  sama saja,  Tuanku? Tuan Putri juga dapat kita ajarkan banyak hal dan tidak  menutup kemungkinan ia nantinya  akan memimpin kerajaan kita ini menggantikan Baginda Raja di kemudian hari. Yang

 

paling penting adalah kita harus tetap  mensyukuri apa pun karunia yang diberikan Tuhan kepada kita”.

Mendengar pernyataan Cik Abdilah, Sultan Mahmud Malim Demawan yang masih menyimpan kekecewaan mendalam menjadi semakin murka. ”Aku tidak mau mempunyai anak ini. Bagaimanapun juga ia  tidak akan dapat  menggantikanku  menjadi  seorang  raja  kelak.” Rasa amarah dan kemurkaan yang sangat besar telah menyelimuti   diri   Sultan   Mahmud  Malim   Demawan. Sambil berteriak ia pun menambahkan, “Cik Abdilah, kuperintahkan kau untuk  membuang bayi ini ke hutan Kelekak Antu sekarang. Aku tidak sudi melihat anak ini lagi. Biarkan anak ini dimakan hewan buas di hutan!” Semua orang yang mendengar perkataan  sang raja sangat terkejut. Mereka tidak  menyangka raja mereka yang  bijak dan  arif  tega mengeluarkan keputusan yang sangat mengerikan.

Cik  Abdilah  sangat  terkejut mendengar  perintah yang diberikan  kepadaya. Namun, ia tidak kuasa untuk menolak perintah dari Sultan Mahmud Malim Demawan. Dengan hati-hati ia memindahkan sang bayi yang sedang

 

digendong sang dukun ke pelukannya.  Dengan sangat terpaksa   ia  mengangguk  pelan  mengikuti   kemauan sang raja  dan bergegas pergi.  Jauh di lubuk hatinya, Cik Abdillah merasa tidak tega untuk melaksanakan perintah sang raja untuk membuang bayi tidak bersalah ini ke hutan.

Ratu Malika Seri Purnama yang mendengar perintah Sultan Mahmud Malim Demawan itu terkulai lemas. Sang ratu  berteriak kepada sang raja. Ia berharap Sultan Mahmud Malim Demawan mengubah keputusannya. “Suamiku, jangan lakukan itu. Bagaimanapun juga ia adalah anakmu, anak kita! Jangan lakukan itu!” Namun, perkataan  sang ratu  tidak  mengubah pendirian  sang raja. Kondisi badan sang permaisuri  yang masih lemah membuatnya tidak dapat melakukan apa-apa. Akhirnya, Ratu Malika Seri Purnama hanya dapat pasrah dan menangis tersedu-sedu  ketika melihat Cik Abdilah menggendong putri  cantik yang baru saja dilahirkannya keluar dari dalam istana.

Dengan menggunakan kereta kuda istana dan beberapa   orang   pengawal   yang   menjaga   dengan

 

ketat,  Cik Abdilah  berangkat  menuju Kelekak Antu  di Bukit Kelumpang untuk melaksanakan perintah Sultan Mahmud Malim Demawan, yaitu meninggalkan putri mahkota  yang baru  saja dilahirkan oleh Ratu  Malika Seri Purnama sendirian di hutan agar dimakan binatang buas.

Hujan turun sangat lebat dan petir menggelegar dahsyat  ketika  Cik Abdillah  dengan kereta  kuda melewati pintu  gerbang kerajaan menuju Kelekak Antu yang terletak di Bukit Kelumpang. Di dalam kereta,  ia menyelimuti  sang bayi  mungil  putri  kerajaan  dengan kain tebal dan mendekapnya erat. Ia memandangi wajah mungil  sang bayi yang tidak  bersalah  tersebut. Sang bayi sedang tertidur pulas dalam pelukan Cik Abdillah. Dalam hatinya Cik Abdilah memohon ampun kepada Yang Mahakuasa  atas  perbuatan  yang dilakukannya. Ia melakukan perbuatan ini semata-mata hanya karena ingin mematuhi perintah sang raja yang sangat disegani dan dihormatinya.

Hari  sudah  malam  ketika  Cik Abdillah  sampai  di

 

Kelekak Antu.  Hujan turun  sangat deras disertai  petir

 

menggelegar ketika Cik Abdillah menggendong sang bayi mungil putri  kerajaan masuk ke dalam hutan. Di bawah sebuah pohon yang besar di dalam hutan, dengan hati- hati Cik Abdillah meletakkan bayi mungil itu dengan diselimuti  sehelai kain yang tebal. Tangan Cik Abdillah bergetar  ketika meletakkan sang bayi di bawah pohon. Ia tidak kuasa menahan perasaannya yang berkecamuk karena melakukan hal ini. Angin bertiup semakin kencang malam itu.  Ia pun bergegas meninggalkan sang bayi di hutan tersebut  untuk mencari tempat berteduh.

Di istana, sambil menangis terisak Ratu Malika Seri Purnama menghampiri Sultan Mahmud Malim Demawan yang duduk termenung.

Sambil  terisak   ia   berkata,   “Suamiku,   mengapa kau begitu tega menyuruh Cik Abdilah meninggalkan anak kita di hutan? Tidakkah kau menyadari betapa lamanya kita  menunggu kehadiran seorang buah hati? Sekarang penantian bertahun-tahun kita sia-sia begitu saja. Entah berapa lama lagi kita harus menunggu agar kembali diberikan keturunan.”

 

Sang raja pun tertegun  mendengar ucapan Ratu Malika Seri Purnama. Ia hanya dapat menangis sambil memeluk erat Ratu Malika Seri Purnama.

“Maafkan  aku,   istriku,  pikiranku sangat   kacau. Dari dulu aku sangat mendambakan kehadiran seorang anak laki-laki  yang akan kudidik menjadi pemuda yang gagah dan calon raja yang tangguh. Aku sangat kecewa karena kenyataannya sama sekali berbeda dengan yang aku harapkan. Aku sama sekali tidak mengharapkan kehadiran anak perempuan di kerajaan kita.”

Sang  istri   pun  menjawab,   “Suamiku,   bukankah kita harus selalu bersyukur atas segala rezeki yang diberikan  Tuhan Yang Maha Esa kepada kita?  Setiap malam kita berdoa agar Tuhan mendengar doa kita, agar memberikan keturunan  kepada kita. Sekarang Tuhan sudah menjawab dan mengabulkan doa kita, tetapi sekarang usaha kita  selama ini menjadi sia-sia karena keegoisanmu dan terlalu  mudah terpancing emosi.”

Setelah mendengar hal tersebut, Sultan Mahmud Malim Demawan tersadar bahwa apa yang dilakukannya adalah  perbuatan   yang  salah.  Ia  menyadari  dirinya

 

terlalu cepat emosi sehingga memutuskan sesuatu tanpa berpikir   panjang  akibat  yang  akan  ditimbulkan dari perbuatannya.   Ia  menyesali  perbuatannya  menyuruh Cik Abdilah  meninggalkan  buah hati  mereka di hutan agar dimakan binatang buas. Namun, sepertinya penyesalannya kini sudah terlambat.

Keesokan harinya  Cik Abdilah dan rombongan kembali ke istana. Ia langsung menghadap Sultan Mahmud Malim Demawan sambil membawa sebuah bungkusan   di   tangannya.   Dengan  wajah   sedih   ia berkata,  “Wahai, Paduka, hamba telah  melaksanakan perintah paduka dengan baik. Ini merupakan bukti yang barangkali  paduka ingin lihat,” ujar Cik Abdilah sambil menyerahkan bungkusan yang dibawanya ke tangan sang raja. Sultan Mahmud Malim Demawan mengernyitkan kening sejenak sebelum membuka bungkusan yang berada di tangannya.  Dengan hati-hati ia membuka bungkusan tersebut dan seketika tangannya gemetar setelah tahu isi bungkusan tersebut adalah sisa-sisa tulang  bayi yang telah hancur dimakan binatang  buas. Ratu Malika Seri Purnama menjerit  histeris dan terkulai

 

lemas setelah melihat isi bungkusan tersebut. Sang penasihat meminta maaf  kepada Sultan Mahmud Malim Demawan atas perbuatan yang dilakukannya.

”Maafkan hamba, Yang  Mulia.  Apa yang  hamba lakukan ini semata-mata hanya mematuhi apa yang Baginda Raja perintahkan. Hamba telah meninggalkan Tuan  Putri  di  Kelekak Antu  di  Bukit  Kelumpang dan ketika   hamba  kembali  keesokan  paginya  hanya  ini yang dapat hamba temukan,”  ujar Cik Abdilah dengan bibir bergetar.  Sultan Mahmud Malim Demawan hanya mengangguk pasrah mendengar ucapan sang penasihat.

Ia    pun    berkata,     ”Wahai     penasihatku     yang setia, sesungguhnya yang engkau lakukan bukanlah kesalahanmu. Semua ini adalah tanggung  jawabku karena akulah yang memerintahkanmu untuk meninggalkan anakku di hutan.” Sultan Mahmud Malim Demawan pun menyuruh sang penasihat untuk pergi.

Setelah peristiwa  itu, sang raja sangat menyesali keputusannya.   Ia   berdoa  memohon  ampun  kepada Yang Mahakuasa atas kekhilafannya. Ia memohon agar Tuhan mengampuni dosa-dosanya dan kembali berdoa

 

agar sang permaisuri  diberi kesempatan lagi untuk memberikannya  keturunan.  Dalam hatinya  ia berjanji jika mereka mendapatkan buah hati lagi, apa pun jenis kelamin  buah  hatinya   kelak  ia  akan  membesarkan anak mereka dengan setulus hati. Setiap malam ia mengucapkan doa yang sama terus-menerus  dengan harapan Tuhan akan mengabulkan doanya.

Hari berganti  hari, bulan berganti  bulan, dan tahun pun berganti. Sepertinya Ratu Malik Seri Purnama belum diberi   kepercayaan  oleh  Tuhan  untuk   mengandung lagi. Bertahun-tahun raja dan ratu  menunggu kembali kehadiran  sang buah  hati,  tetapi   sepertinya  doanya tidak  membuahkan hasil. Keadaan ini membuat Sultan Mahmud Malim Demawan dan Ratu Malika Seri Purnama serta seluruh kerajaan menjadi semakin muram saja.

Tidak terasa delapan belas tahun sudah berlalu sejak kejadian memilukan itu.  Setiap teringat akan kejadian itu Sultan Mahmud Malim Demawan menjadi sedih dan gundah gulana.

Untuk menghabiskan waktu luang dan melupakan kejadian memilukan itu, Sultan Mahmud Malim Demawan

 

kerap  melakukan  aktivitas  kegemarannya,  yaitu berburu.  Seperti biasa tempat  yang menjadi tujuannya adalah Kelekak Antu yang terdapat di Bukit Kelumpang. Sang raja  selalu  ditemani  penasihat  kepercayaannya Cik Abdilah yang setia menemani sang raja ke mana pun ia pergi.

Hari itu sang raja kembali melakukan aktivitas berburu. Ia beserta rombongan telah tiba di dalam hutan Kelekak Antu lengkap dengan seluruh peralatannya. Sejak pagi mereka telah memulai perburuan  dengan mengintai kawanan rusa yang biasa berkeliaran.  Hari sudah beranjak siang dan matahari  pun sudah semakin tinggi,  tetapi  belum seekor pun hewan buruan berhasil mereka tangkap. Selama pencarian dan pengintaian sejak pagi hari, Sultan Mahmud Malim Demawan belum menemukan seekor hewan pun. Ia merasa cukup heran atas kejadian ini. Ia kemudian mengajak Cik Abdilah beserta pengawalnya untuk masuk lebih jauh lagi ke dalam hutan  Kelekak Antu.  Setelah masuk lebih  jauh ke dalam hutan, Sultan Mahmud Malim Demawan memerintahkan Cik Abdilah dan pengawalnya berpencar

 

ke lima arah mata angin agar titik perburuan  mereka lebih luas. Hari mulai beranjak sore ketika tiba-tiba terdengar kicauan burung yang terdengar sangat merdu. Kicauan burung itu sangat keras hingga terdengar ke berbagai  penjuru  hutan.  Bahkan,  semua rombongan raja  yang berpencar  ke berbagai  arah  dapat  dengan jelas mendengar kicauannya. Sultan Mahmud Malim Demawan dan seluruh pasukannya sangat terkesima mendengar suara kicauan burung misterius tersebut. Mereka sangat yakin ini merupakan jenis burung yang sangat  berbeda dari  burung  lain  yang sering  mereka temui selama berburu di Bukit Kelumpang ini. Raja menjadi sangat takjub tertarik dengan kicauan itu dan memutuskan untuk menangkap burung tersebut. Ia kemudian segera mengikuti sumber suara tersebut. Cik Abdilah dan para pengawal raja pun takjub mendengar kicauan burung tersebut. Keinginan awal sang raja untuk berburu  rusa  seketika  sirna.  Sekarang  yang  terpikir di benaknya hanya ingin menangkap burung misterius bersuara merdu ini. Ia kemudian berkata,  “Pasukanku, tidakkah kalian mendengar suara kicauan burung yang

 

sangat merdu? Sekarang aku perintahkan  kalian untuk mencari  keberadaan  burung  tersebut.” Pasukan sang raja yang berpencar kemudian bergerak lebih jauh lagi untuk mencari dari mana arah asal sumber kicauan tersebut. Sang raja terus  menelusuri hutan untuk menemukan  burung  yang  memiliki  suara  merdu  itu, tetapi ia tidak dapat menemukannya. Pasukan sang raja beserta penasihatnya pun terlihat kebingungan mencari sumber suara merdu tersebut. Mereka dapat dengan jelas mendengar kicauan seekor burung, tetapi tidak dapat  menemukan sosok burung  pemilik  suara merdu itu karena suara kicauan itu seakan-akan berasal dari seluruh penjuru hutan.

Sultan Mahmud Malim Demawan akhirnya berpapasan dengan salah seorang pengawal yang mengaku melihat  burung tersebut. “Baginda  Raja, hamba telah melihat seekor burung besar yang mempunyai kicauan yang sangat merdu. Suaranya keras dan menyejukkan telinga. Tidak hanya itu, Baginda, burung itu  juga berbulu panjang dan berwarna-warni.

 

Hamba berani bersumpah belum pernah melihat burung secantik itu sebelumnya.”

Setelah mendengar penjelasan sang pengawal, Sultan Mahmud Malim Demawan merasa semakin penasaran  untuk  dapat  menangkap  burung  tersebut dan membawanya ke istana. Tidak terasa hari sudah semakin malam. Sultan Mahmud Malim Demawan memutuskan  untuk  menghentikan  perburuan  hari  itu. Ia ingin cepat kembali ke istana untuk mempersiapkan bekal dan pengawal lebih banyak untuk menangkap burung yang berbulu dan bersuara indah tersebut.

“Wahai  Cik Abdilah dan seluruh pasukanku, aku sangat   ingin   menangkap   burung   bersuara   merdu itu.  Sekarang kita  harus  bergegas kembali ke istana. Kita akan melanjutkan  perburuan  esok hari dengan persiapan yang lebih besar.”  Malam itu  juga Raja, Cik Abdilah, beserta rombongan segera kembali ke istana.

Keesokan harinya, Sultan Mahmud Malim Demawan beserta  rombongan  sudah  bersiap-siap  kembali berburu.  Namun, kali ini mereka melakukan persiapan yang  berbeda  dari  biasanya.  Rombongan  membawa

 

bekal yang lebih banyak dari biasanya karena mereka akan memperluas wilayah perburuan  mereka hingga ke atas Bukit Kelumpang. Sultan Mahmud Malim Demawan pun kali  ini  membawa rombongan  yang lebih  banyak dari biasanya. Ia membawa lebih banyak pengawal dan panglima terbaiknya. Tentu saja ia masih tetap ditemani penasihat  setianya,  yaitu  Cik Abdilah.  Kali ini ia tidak ingin kehilangan kesempatan untuk menangkap burung yang membuatnya sangat penasaran. Suaranya yang merdu dan bulunya yang indah seperti yang diceritakan oleh pengawal itu membuatnya sangat bersemangat untuk menangkap burung tersebut  dan menjadikannya hiasan di taman istana.

Setelah semua persiapan selesai, Sultan Mahmud Malim Demawan berpamitan  kepada Ratu Malika  Seri Purnama untuk berangkat ke Kelekak Antu di Bukit Kelumpang. Ketika melihat persiapan khusus dan rombongan yang lebih banyak dari biasanya, sang ratu merasakan firasat yang  tidak enak  ketika akan melepas kepergian Sultan Mahmud Malim Demawan. Sang ratu berpesan  kepada  suaminya,  “Suamiku  yang kucintai,

 

aku hanya ingin mengingatkan engkau untuk selalu berhati-hati dalam perjalananmu.  Ada baiknya juga engkau jangan terlalu  memaksakan kehendakmu dalam mendapatkan hal yang engkau inginkan. Terkadang terlalu   menuruti   ego  pribadi   akan  berdampak  tidak baik bagi kehidupanmu nanti dan kerajaan yang sedang engkau pimpin sekarang.”

Sultan Mahmud Malim Demawan hanya mengangguk dan tersenyum mendengar perkataan  sang permaisuri. “Jangan  khawatir  permaisuriku.   Aku  akan  baik-baik saja. Saat aku kembali nanti, aku akan membawa burung bersuara merdu dan berbulu cantik untuk koleksi taman kerajaan kita,” jawab sang raja dengan optimis.

Setelah berpamitan  rombongan pun segera berangkat.   Sang permaisuri   memandang  rombongan raja yang beriringan  pergi dengan perasaan tersayat. Semakin  lama    ia   semakin  merasakan  firasat   akan terjadi sesuatu dengan suaminya. Namun, ia berusaha membuang  jauh-jauh   pikiran   buruk  itu   dan  berdoa agar Tuhan melindungi suaminya karena ia tidak mau kehilangan orang yang sangat dicintainya.

 

Sultan   Mahmud  Malim   Demawan  kali   ini   pergi berburu   dengan  sangat  bersemangat.   Dengan membawa rombongan yang lebih banyak dan peralatan yang lebih lengkap ia merasa lebih percaya diri. Ia akan berhasil menangkap burung bersuara merdu yang telah membuatnya  sangat  penasaran.  Sesampainya mereka di  Kelekak Antu  di  Bukit  Kelumpang, sang raja  tidak ingin membuang-buang waktu lagi. Setelah melewati jalan setapak dengan tanah yang berbatu, mereka harus melewati  sebuah sungai kecil untuk  sampai di Kelekak Antu. Setelah sampai di tempat perburuan, ia segera memerintahkan  semua rombongan memasuki Kelekak Antu yang sangat lebat hingga jauh ke dalam hutan. Setelah masuk jauh ke dalam hutan sesuai dengan perintah   sang  raja,   rombongan  berpencar   ke  lima penjuru mata angin dengan tujuan  mengepung burung yang diyakini berada di wilayah Kelekak Antu tersebut. Ketika berpencar Sultan Mahmud Malim Demawan meminta Cik Abdilah untuk ikut bersamanya memantau burung tersebut. Setelah menempati posisi masing masing,  para mengawal dan panglima mulai memasang

 

perangkap burung di sepanjang jalur pemantauan mereka. Dengan banyaknya pasukan dan perangkap yang  bertebaran di  mana-mana,  baginda  raja  yakin salah satu perangkap pasti akan mengenai burung yang telah menjadi incarannya.

Cukup lama Sultan Mahmud Malim Demawan dan para pengawalnya menunggu kemunculan burung tersebut. Menjelang magrib, sayup-sayup terdengar kicauan burung yang sangat merdu. Sang raja langsung menajamkan  pendengaran  dan  penglihatannya untuk mengamati  dengan saksama dari  mana sumber suara itu berasal. Semakin lama suara kicauan itu terdengar semakin keras. Seluruh  pasukan raja  yang berpencar di berbagai arah telah siap siaga dengan perangkap mereka masing-masing. Suara kicauan terdengar semakin  keras.   Perlahan   angin   di   sekitar   Kelekak Antu  bertiup   lebih  kencang  dari  biasanya.  Tiba-tiba dari  balik pepohonan sesosok burung besar muncul menerobos pepohonan lebat di Kelekak Antu. Burung tersebut   mengepak-ngepakkan  sayapnya  yang  lebar dan   berwarna-warni,   kemudian   terbang   berputar-

 

putar  mengitari  Sultan Mahmud Malim Demawan dan pasukannya yang menyebar di penjuru hutan. Burung tersebut terbang ke sana kemari sambil berkicau seakan menunjukkan bahwa ia terusik dengan kedatangan sang raja dan rombongan yang hendak memburunya.

Sesaat Sultan Mahmud Malim Demawan tercengang melihat  keindahan  bulu  burung  yang berwarna-warni dan bersuara merdu. Baru kali ini dalam hidupnya ia melihat  burung  yang  begitu  cantik.  Sultan  Mahmud Malim Demawan tidak tinggal diam. Dengan berteriak ia memerintahkan seluruh pasukannya untuk melemparkan perangkap ke arah burung tersebut.

“Pasukanku, tangkap burung itu dengan perangkap kalian!” Seluruh pasukan sang raja kemudian melempar perangkap yang sudah dipersiapkan ke arah burung itu. Burung tersebut kemudian dengan lincahnya terbang berputar-putar   menghindari     sergapan    perangkap yang dilemparkan ke arahnya. Burung tersebut  seakan tahu arah lemparan perangkap-perangkap tersebut sehingga tidak satu pun perangkap mengenai tubuhnya. Sang burung  kemudian  mengepakkan  sayapnya  dan

 

terbang  lebih tinggi  ke arah puncak Bukit Kelumpang. Sultan Mahmud Malim Demawan sangat kesal karena tidak  satu pun perangkap mengenai tubuh  burung itu. Dengan penuh amarah ia memerintahkan  Cik Abdilah menemaninya mengejar burung itu ke atas bukit.

“Cik Abdilah, ikuti  aku mengejar burung itu ke atas bukit!” seru sang raja. Dengan cepat sang raja dan penasihatnya menuju ke atas Bukit Kelumpang yang jalannya menanjak diikuti  oleh para pasukannya di belakang.

Sang burung melesat dengan cepat menerobos pepohonan menuju ke atas Bukit  Kelumpang. Ekornya yang panjang dan berwarna-warni bergoyang dengan indah mengikuti gerakan tubuhnya. Mendekati puncak Bukit Kelumpang, burung itu kemudian bertengger di sebuah dahan pohon yang besar dan tidak terlalu  tinggi dari tanah. Sang burung kembali berkicau dengan merdu sambil bertengger di atas dahan pohon.

Sultan  Mahmud  Malim  Demawan  yang  telah sampai dekat atas Bukit Kelumpang mengendap-endap mengikuti  gerak-gerik  sang burung.  Dengan saksama

 

dan hati-hati ia perlahan semakin mendekati burung itu dan menunggu saat yang tepat  untuk  menangkapnya. Sambil mengendap-endap Sultan Mahmud Malim Demawan  mengeluarkan  sebuah  sumpit   emas  yang telah  dilumuri   oleh  racun  dari  kantung  pakaiannya. Niat  awal  untuk  membawa  pulang  burung  tersebut dan  menambah  koleksi  taman  istana  menjadi  sirna. Ia sekarang hanya ingin memuaskan egonya untuk mengalahkan burung tersebut. Perasaannya dipenuhi rasa amarah karena ia tidak berhasil menangkap burung itu hidup-hidup. Sekarang yang ada di pikiran sang raja adalah  hanya  melumpuhkan  burung  itu,  sekalipun  ia harus membunuhnya.

Melihat hal itu Cik Abdilah yang mengikuti sang raja di belakang merasa heran dan bertanya-tanya, mengapa sumpit  emas itu  harus dibubuhi  racun.  Bukankah raja ingin  menangkap  burung   tersebut   hidup-hidup   dan bukan membunuhnya dengan sumpit beracun? Cik Abdilah sangat terkejut, mengapa sang raja bisa berubah pikiran  secepat itu? Penasihat ingin mengingatkannya,

 

tetapi   ia  tidak  sempat  untuk  menghentikan  langkah sang raja.

Dengan napas memburu, Sultan Mahmud Malim Demawan   membidik   sang   burung   dengan   sumpit emas   dan   dengan   sekuat    tenaga    menembakkan sumpit  emasnya ke arah burung itu.  Bidikannya tepat mengenai pangkal kaki sang burung.  Sang burung pun terkulai  lemas dan jatuh ke tanah. Terdengar suara berdebam yang cukup keras di bawah pohon tempat burung tersebut bertengger. Sultan Mahmud Malim Demawan merasa sangat kegirangan karena ia berhasil melumpuhkan burung itu hanya dengan sekali sumpitan. Ia bersama Cik Abdilah bergegas menuju arah suara itu untuk melihat burung yang telah berhasil ia lumpuhkan. Namun,  betapa  terkejutnya sang raja  ketika  sampai di bawah pohon tempat burung itu jatuh, ia dan Cik Abdilah tidak menemukan seekor burung yang terluka, tetapi ia melihat seorang gadis cantik jelita yang terluka di bagian kakinya.

Sultan Mahmud Malim Demawan merasa keheranan. Bukankan   ia   menyumpit    seekor   burung?    Lantas

 

mengapa mereka justru  menemukan seorang gadis cantik  yang  terluka  di  pangkal  kakinya?  Cik Abdilah mulai merasa ada yang tidak beres dengan kejadian ini. Sang gadis terkulai  lemas di tanah dan terlihat sangat lemah dengan luka di kakinya. Terlihat  pula di kaki sang gadis terdapat tanda  lahir  berupa  bulatan  berwarna abu-abu.  Tanda lahir  itu  terlihat sangat  jelas karena warnanya sangat kontras dengan kulit sang gadis yang kuning langsat. Cik Abdilah yang melihat tanda lahir itu kemudian teringat akan sesuatu. Sebuah tanda lahir yang mengingatkannya akan sebuah kisah delapan belas tahun yang lalu.

CikAbdilahseakantidakmempercayaipenglihatannya sendiri. Tanda lahir itu sama persis dengan tanda yang dimiliki putri  mahkota Sultan Mahmud Malim Demawan yang lahir delapan belas tahun yang lalu. Tanda lahir itu kemudian menguatkan kepercayaan Cik Abdilah bahwa burung berbulu panjang dan indah serta bersuara merdu yang akan dijadikan  koleksi taman kerajaan  ini adalah memang putri  mahkota kerajaan yang ditinggalkannya

 

sendirian di hutan belantara  Bukit Kelumpang delapan belas tahun yang lalu.

Dengan terbata-bata ia berkata kepada Sultan Mahmud Malim Demawan yang terlihat sangat kebingungan dengan sosok gadis cantik yang terbaring lemah   di   hapadannya.   “Ampuni    hamba,

Baginda     Raja,     hamba    yakin     gadis cantik  ini  adalah  putri   mahkota  raja dan permaisuri  yang hamba tinggalkan di hutan  ini  delapan belas tahun  yang lalu.”   Cik Abdilah  pun  menambahkan, “Ingatkah                        Baginda          bahwa      bayi perempuan  yang  dilahirkan   Ratu Malika   Seri  Purnama  delapan

belas    tahun    yang     lalu

 

memiliki  tanda

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

55

 

lahir  di kakinya? Tanda lahir  yang sama persis dimiliki gadis cantik  ini  membuat hamba sangat  yakin bahwa gadis ini adalah memang benar putri mahkota kerajaan.” Sultan   Mahmud   Malim   Demawan  seakan  tidak percaya   apa  yang  baru   saja  didengarnya.   Pikiran dan  akal  sehatnya  tidak  dapat  menerima  perkataan sang penasihat  begitu  saja. Bagaimana mungkin putri yang  diyakininya   telah  meninggal  dimakan  binatang buas delapan belas tahun  yang lalu  tiba-tiba muncul di  hadapannya  secara  mengejutkan.  Sultan  Mahmud Malim Demawan bersikukuh untuk  tidak  mempercayai

bahwa gadis cantik ini adalah buah hatinya.

 

Tidak terasa hari sudah beranjak malam. Matahari telah  tenggelam di  ufuk  barat dan   berganti  dengan bulan purnama yang bersinar sangat terang  menyinari seluruh penjuru Bukit Kelumpang. Di tengah perdebatan antara  sang raja dan penasihatnya,  sosok gadis cantik yang terbaring lemah itu mencoba menggerak-gerakkan bibirnya mencoba mengatakan sesuatu. Sinar bulan yang menerpa  wajahnya   semakin  mempejelas  kecantikan yang terpancar dari wajahnya.

 

Dengan napas yang terengah-engah  sang gadis berkata,  “Ayahanda,  be… benar  apa yang dikatakan oleh penasihat  itu.  A… a…  aku adalah  putrimu  yang telah  engkau buang ke hutan  du…  dulu…. Pada saat aku dibuang ke hutan, a… ku dirawat oleh penjaga bukit ini sampai aku dewasa. Aku merindukanmu Ayahanda, ju…   juga  Ibunda.  Maafkan anakmu ini  karena  belum sempat  berbakti  kepada engkau Baginda  Raja!  Ma… aaf.” Seketika suara sang gadis melemah dan  akhirnya kedua kelopak matanya menutup perlahan. Gadis cantik itu kemudian tidak sadarkan diri.

Belum hilang rasa terkejut Sang Raja dan juga penasihatnya tiba-tiba dari balik pepohonan kembali muncul seekor burung yang mempunyai bulu tidak kalah indah dan berwarna-warni. Seketika itu juga Sultan Mahmud Malim Demawan teringat akan sosok burung ini. Burung yang berwarna-warni ini pernah hadir dalam mimpinya dengan sosok kakek tua pada saat ia berburu di hutan  ini dan sebelum sang permaisuri  Ratu Malika Seri Purnama mengandung anak pertama mereka.

 

Tiba-tiba  burung  tersebut   menjelma  menjadi seorang kakek tua berjubah putih yang sekujur tubuhnya memancarkan cahaya. Ia berdiri tepat di hadapan putri mahkota kerajaan yang tidak sadarkan diri tersebut. Dengan suara bergema kakek tersebut berkata, “Wahai, Sultan Mahmud Malim Demawan, benar apa yang dikatakan gadis ini. Ia adalah anak perempuanmu yang karena keegoisanmu engkau tega menyuruh utusanmu meninggalkannya sendirian.”

Sultan Mahmud Malim Demawan dengan marah menjawab perkataan  sang kakek, “Aku tidak percaya dengan apa yang kaukatakan.  Putriku  telah meninggal dimakan binatang  buas delapan belas tahun yang lalu. Aku  telah   melihat   sendiri   sisa-sisa  tulangnya   yang hancur dimakan binatang buas.”

Sang kakek pun berkata, “Dengan terpaksa aku telah membohongi penasihatmu.  Pada malam itu  aku telah menukar anakmu yang telah kautinggalkan  dengan tulang bayi kera. Aku melakukannya karena jika engkau masih  mengetahui  bahwa  anakmu  masih  hidup,  kau pasti akan kembali mencari anakmu dan selalu berusaha

 

untuk  membuangnya dari  kerajaan.  Kuputuskan untuk merawatnya hingga dewasa dan dengan izin Tuhan Yang Maha Esa, anakmu memiliki  kesaktian  untuk  berubah wujud menjadi seekor burung sama sepertiku  dan aku menjadikannya sebagai Putri Pucuk Bukit Kelumpang.”

Sang kakek kemudian memandang putri  makhota kerajaan  di  hadapannya  yang sedang tergolek  lemah tidak berdaya. Dengan suara bergema ia memanggil gadis tersebut, “Wahai  Putri  Pucuk Bukit  Kelumpang, sekarang adalah saatnya  untuk  mengucapkan perpisahan  kepada ayahmu.”  Tiba-tiba tangan  kakek itu  memancarkan sinar terang  yang menyinari  seluruh tubuh   gadis  itu.   Perlahan  tubuh   sang  gadis  yang terbaring terangkat  dan melayang di udara. Luka yang ada di kakinya kemudian perlahan mengering dan sembuh seketika.  Pelan-pelan kedua kelopak matanya mulai  terbuka.   Kemudian,  tubuhnya   yang  terbaring dan melayang di udara kini mulai tegak dan akhirnya berpijak  di  bumi.  Akhirnya,  sang gadis  berdiri  tegak tepat  di hadapan ayahandanya, Sultan Mahmud Malim Demawan.

 

Sang  raja   akhirnya   dapat   melihat   dengan  jelas wajah gadis yang cantik jelita  yang menatap matanya. Sultan Mahmud Malim Demawan lambat laun mulai percaya  bahwa  yang  berada  di  hadapannya  adalah benar putrinya. Wajahnya yang sangat mirip dengan Ratu Malika Seri Purnama serta  tanda  lahir  yang ada di  kakinya  membuatnya  percaya  sepenuhnya  bahwa ia adalah benar putri  yang dilahirkan sang permaisuri delapan belas tahun yang lalu. Ia tidak sanggup berkata apa-apa selain menangis.

“Jadi,  kau memang benar putriku,” ucap sang raja sambil  terisak. “Maafkan aku wahai putriku, aku sangat menyesali perbuatan yang telah kulakukan terhadapmu. Aku akan melakukan apa pun untuk menebus dosaku dan mengajak kau kembali ke istana untuk bertemu ibumu. Kau akan kujadikan putri  mahkota kerajaan.”

Sang putri  pun tersenyum dan berkata,  “Ayahanda yang  kucinta,   sejujurnya   aku  sangat  merindukanmu serta Ibunda. Namun, percayalah aku tidak menyalahkan Ayahanda atas semua kejadian ini. Semuanya telah terjadi dan  ini  adalah  takdir   Yang Mahakuasa.  Aku

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

61

 

meminta maaf jika  aku  belum  dapat berbakti kepada engkau Baginda Raja. Sudah menjadi takdirku  untuk menjadi penjaga hutan Bukit Kelumpang ini selamanya. Sampaikan salam sayangku kepada Ibunda tercinta, sekarang sudah tiba saatnya aku harus pergi.”

Belum  sempat  sang  raja   berkata   apa-apa,   tiba tiba   tubuh   sang  putri   memancarkan   cahaya  yang sangat terang. Perlahan mulai melayang dan berubah wujud  menjadi  seekor burung  besar berekor  panjang yang berwarna-warni. Sang burung  mulai  mengepak- ngepakkan sayapnya yang lebar ke udara dan terbang meninggi. Sang burung mengeluarkan kicauan merdunya sebelum terbang pergi seakan-akan kicauan tersebut adalah salam perpisahannya kepada sang ayahanda. Sultan Mahmud Malim Demawan hanya dapat pasrah meratapi  kepergian sang burung yang merupakan jelmaan dari  putrinya. Sang burung  berbulu  indah itu perlahan  terbang  menjauh ke pucuk Bukit  Kelumpang dan akhirnya menghilang di balik kegelapan.

 

Sang kakek berjubah  putih  yang dari  tadi  berdiri di hadapan sang raja  dan penasihatnya  pun tiba  tiba menghilang. Yang ada hanya terdengar  suara bergema tidak berwujud.

”Wahai Sultan Mahmud Malim Demawan, kuharap engkau   dapat   mengambil   pelajaran    dari   kejadian yang menimpamu ini. Ingatlah untuk  selalu bersyukur kepada Tuhan atas rezeki yang diberikan dan janganlah engkau selalu egois dalam mendapatkan apa yang engkau inginkan!” Suara itu terdengar  begitu jelas dan terngiang-ngiang di telinga sang raja.

Setelah sang burung jelmaan putrinya serta  suara yang menggema itu benar-benar hilang, Sultan Mahmud Malim Demawan pun tidak kuasa menahan sedihnya. Ia merasakan  penyesalan  yang  amat  sangat  mendalam atas  semua peristiwa  yang dialaminya.  Ia  menyadari kejadian tragis yang menimpanya ini adalah akibat perbuatannya sendiri. Sebenarnya ia adalah orang yang baik dan  bijak,  tetapi akibat sifat egoisnya yang  terlalu besar, ia kembali kehilangan untuk kedua kalinya. Tidak kuat  merasakan  dirinya   bersalah  yang  amat  besar,

 

tubuh Sultan Mahmud Malim Demawan roboh ke tanah. Semuanya tampak begitu gelap dan akhirnya sang raja kehilangan kesadarannya.

Ketika   sadar   dari   pingsannya,   Sultan   Mahmud Malim   Demawan  terkejut  karena   ia  telah   kembali berada di dalam istana. Ketika sang raja kehilangan kesadarannya,  Cik Abdilah dan para pengawalnya segera membawa sang raja  kembali ke istana  dengan selamat.  Ketika pertama kali membuka mata, ia dapat langsung melihat  wajah  sang permaisuri  Ratu Malika Seri   Purnama   tersenyum   menatapnya.   Di   sebelah sang ratu  ada penasihatnya  Cik Abdilah dan beberapa pengawal yang selalu menjaga sang raja sampai raja itu siuman.

Melihat  wajah  sang istri  tercinta, sang raja  tidak dapat  menahan  rasa  penyesalannya  yang  amat mendalam. Ia  langsung meminta maaf   kepada sang ratu, “Istriku tercinta, aku meminta maaf  yang setulus- tulusnya kepadamu. Aku merasakan penyesalan yang amat besar atas apa yang kulakukan kepada putri  kita delapan  belas  tahun  yang  lalu.  Ternyata   putri   kita

 

yang ditinggalkan  di hutan tidak dimakan hewan buas. Dia  tumbuh  menjadi  gadis  yang  sangat  cantik   dan dapat menjelma menjadi seekor burung berbulu indah yang  menjaga hutan Bukit  Kelumpang. Maafkan atas keegoisanku tidak mau mengakui dia sebagai anak kita, tetapi  sekarang semuanya telah terlambat.” Sang raja bercerita dengan bibir bergetar dan menahan tangis.

Ratu Malika Seri Purnama langsung memeluk sang suami dan berkata, “Suamiku, aku telah mengetahui semua   kejadian   yang   menimpamu   di   hutan    itu. Ketika engkau tidak sadarkan diri Cik Abdilah telah menceritakan  semua kejadiannya  kepadaku. Sekarang semuanya telah  terjadi dan  tidak  dapat  diubah  lagi. Mari kita ambil pelajaran berharga dari semua kejadian ini.  Aku pun telah  merelakan kepergian putri  tercinta kita yang ditakdirkan menjadi penjaga Bukit Kelumpang. Kuharap engkau dapat menghilangkan semua sifat buruk yang  ada pada dirimu. Aku yakin di balik sifat burukmu, engkau adalah seorang suami, ayah, dan pemimpin baik bagi keluarga maupun bagi rakyatmu.”

 

Mendengar perkataan  sang istri, Sultan Mahmud Malim Demawan merasa sedikit lega. Ia langsung memeluk sang permaisuri  dan berkata,  “Terima  kasih, Adinda, atas kesetiaanmu selalu mendampingiku dan selalu mendukungku di saat susah dan senang. Maafkan aku belum dapat menjadi pendamping hidup yang baik bagimu dan pemimpin bagi rakyatku.  Aku berjanji  akan menjaga kepercayaanmu dan rakyatku untuk berubah menjadi orang yang lebih baik lagi.”

Perlahan-lahan   ia  bangkit   dari   keterpurukannya dan mulai memperbaiki diri. Ia berusaha untuk menghilangkan semua sifat buruk yang  ada dalam dirinya.  Dengan dukungan dari sang istri  tercinta yang selalu memberi semangat sang raja kembali menjadi seorang raja yang bijak, adil, dan suami yang baik bagi sang permaisuri.

Cik Abdillah pun masih setia menjadi penasihat kepercayaan sang raja dalam menyelesaikan urusan pemerintahan     kerajaan.    Sang   raja    pun    dengan sabar senantiasa berdoa kepada Tuhan agar diberi kepercayaan    kembali   menimang   buah   hati.    Dari

 

pengalaman  hidupnya   ia  belajar   untuk   mensyukuri segala bentuk rezeki yang diberikan Tuhan. Sampai akhirnya kesabaran dan doa mereka pun terjawab. Ratu Malika Seri Purnama akhirnya kembali mengandung dan melahirkan seorang bayi laki-laki  yang sangat tampan. Mereka tidak  henti-hentinya mengucap syukur kepada Tuhan atas  rezeki  yang diberikan.  Sang raja  berjanji akan merawat  dan membesarkan anak mereka dengan sepenuh hati sampai dewasa kelak.

Sampai sekarang jika terdengar  suara kicauan burung yang merdu di sekitar Bukit Kelumpang, banyak yang percaya  bahwa  itu  adalah  suara  jelmaan  putri yang menjaga Bukit Kelumpang yang diberi nama Putri Pucuk Bukit Kelumpang.

 

 

* * *

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *