DAFTAR ISI

 

 

 

 

 

 

 

Kata Pengantar ……………………………………………… iii Sekapur Sirih …………………………………………………    v Daftar Isi ……………………………………………………… vi

 

 

Legenda Naya Sentika ………………………………………  1

 

 

 

Biodata Penulis………………………………………………  51

 

Biodata Penyunting………………………………………… 53

 

Biodata Ilustrator………………………………………….. 54

 

 

 

 

 

 

 

LEGENDA NAYA SENTIKA

 

 

 

 

 

 

 

Bagi Belanda atau  VOC atau  Kompeni, Perang Diponegoro merupakan perang yang paling merugikan. Meski hanya berlangsung singkat, yaitu lima tahun (1825–1830),  kerugian Belanda yang  diakibatkan Perang Diponegoro sangat besar, baik kerugian biaya maupun pasukan. Itu merupakan kerugian terbesar dalam sejarah pendudukan Belanda di Nusantara.

Perang  Diponegoro  mengakibatkan  tewasnya sekitar   200.000  penduduk  Jawa,  sementara  korban tewas di pihak Belanda mencapai 8.000 tentara Belanda dan 7.000 serdadu Belanda dari golongan pribumi.

Semboyan “Sadumuk bathuk sanyari bumi ditohi pati” merupakan slogan yang sangat ditakuti para Kompeni. Semboyan itu bermakna walau hanya seruas jari, kalau itu tanah atau bumi, harus dipertahankan sampai mati. Begitu pula meski hanya sejumput,  kalau itu dahi, berarti simbol harga diri yang harus dijunjung tinggi, harus pula dibela hingga raga tumbang sejajar bumi.  Itulah semboyan laskar  Pangeran  Diponegoro

 

dalam  perjuangannya   mengusir  Kompeni  dari   bumi pertiwi.

Segala  cara  dilakukan  Kompeni  agar  tetap bercokol di bumi Nusantara.  Dengan kelicikannya, Kompeni memecah belah rakyat  hingga sebagian terpaksa berhadapan dengan saudaranya sendiri di medan perang. Kompeni memperdayai para pejuang hingga terpaksa kehilangan harta benda juga sanak saudara demi kepentingannya.  Penjajahan Kompeni di bumi Nusantara memiliki banyak kepentingan. Bumi Nusantara   menempati  posisi  yang  strategis   sebagai basis kekuatan Kompeni di daerah timur  jauh untuk mempertahankan  kekuasaan Belanda dalam perebutan daerah-daerah  jajahan.

Tak  hanya  mengejar  kepentingan   dalam  politik dan kekuasaan, kepentingan Kompeni yang jauh lebih besar adalah mengeruk kekayaan bumi Nusantara sebesar-besarnya.  Sebagian hasil bumi Nusantara dikirim ke negeri Belanda untuk menambah pundi-pundi kerajaan dan sebagian besar lainnya untuk  membiayai peperangan.

Untuk menghadapi perlawanan-perlawanan para pejuang tersebut, Belanda berusaha mengadu domba

 

dan memecah belah kekuatan.  Belanda menempatkan orang-orang yang dapat dibujuk dan mudah dipengaruhi Belanda sebagai penguasa-penguasa kadipaten atau karesidenan. Para penguasa tersebut  akhirnya menjadi antek-antek Belanda dan mendukung penjajah untuk menumpas perlawanan rakyat.

Wilayah Jawa Tengah dan sebagian Jawa Timur dijaga oleh puluhan ribu serdadu Kompeni. Belanda sangat serius menghadapi serangan pasukan Diponegoro karena siasat gerilya yang dipilih Pangeran Diponegoro sangat merepotkan pertahanan  Belanda.

Untuk menghadapi perang gerilya dengan pasukan Diponegoro, Belanda mulai menerapkan siasat benteng stelsel. Belanda membangun benteng di setiap wilayah pendudukan dan menghubungkan benteng yang satu dengan  yang  lain   dengan  jalan   yang  bagus.  Saat sebuah benteng diserang,  pasukan dan peralatan perang dari benteng lain di dekatnya dapat segera membantunya. Strategi  ini  cukup   efektif sehingga  di mana-mana   perlawanan   pasukan  Diponegoro   mulai dapat dikendalikan.  Bahkan, pasukan Diponegoro mulai terjepit dan kekuatannya melemah.

 

Pada tahun 1829, Kyai Maja,  pemimpin spiritual perlawanan  rakyat,  ditangkap.  Beberapa  waktu kemudian Pangeran Mangkubumi dan panglima utamanya Sentot Alibasyah dipaksa menyerah kepada Belanda. Akhirnya pada tanggal 28 Maret 1830, Jenderal De Kock berhasil mendesak pasukan Diponegoro di Magelang. Pasukan Diponegoro benar-benar  terjepit sehingga demi keselamatan sisa pasukannya, Pangeran Diponegoro akhirnya  bersedia mengadakan perjanjian. Perjanjian  yang pertama  gagal karena tidak  mencapai kesepakatan.  Kemudian, diadakan  perjanjian  yang kedua.   Pada  perjanjian    yang  kedua   kata   sepakat juga   sulit    dicapai   karena   Kompeni   memiliki   akal licik.  Mereka  tidak   mau  melakukan  perjanjian   yang saling menguntungkan. Mereka hanya ingin agar Pangeran Diponegoro menghentikan perlawanan dan menyerahkan diri. Tentu saja hal itu ditentang  oleh Pangeran Diponegoro. Akhirnya,  mereka menjebak dan menangkap Pangeran Diponegoro.

Setelah menyadari kelicikan Kompeni tersebut, Pangeran Diponegoro meminta kepada sisa-sisa pasukannya agar bersembunyi dan menyelamatkan diri dari  kejaran  Kompeni. Ia  berharap  agar  pasukannya

 

tetap   selamat  dan  bisa  melanjutkan   perjuangannya kelak.

Penangkapan Pangeran Diponegoro tersebut sejenak  menghentikan   perang  besar  di  Pulau  Jawa antara Belanda dan rakyat yang dijajahnya. Setelah penangkapan, Pangeran Diponegoro diasingkan ke Manado, kemudian diasingkan lagi ke Makassar hingga akhir hayatnya. Namun, penangkapan tersebut tidak membuat perlawanan rakyat benar-benar terhenti. Semangat untuk mengusir penjajah dari bumi pertiwi terus berkobar di hati para pejuang. Perlawanan rakyat terus berlanjut.

Sisa-sisa pasukan Diponegoro yang lolos dari kejaran  kompeni  berpencar  ke  pelosok  daerah. Mereka  bersembunyi  dari   satu  desa  ke  desa  yang lain.  Ada  yang  menyamar  menjadi  rakyat  biasa  dan mulai bertani.  Sebagian ada pula yang mengobarkan kembali   perlawanan   rakyat    pada   penjajah.   Meski skala perlawanannya  tidak  sebesar perlawanan  rakyat sewaktu dipimpin Pangeran Diponegoro, Belanda tetap dibuat repot dan merasa terancam.

Diponegoro memang tertangkap dan terpenjara sehingga tidak  dapat  memimpin  kembali pasukannya.

 

Akan tetapi,  para punggawa dan pimpinan pasukannya tetap  meneruskan perjuangannya.  Di berbagai daerah di Jawa timbul  perlawanan  rakyat  yang dipimpin  oleh petinggi  pasukan Diponegoro. Beberapa pasukan yang berdekatan kemudian bergabung sehingga kekuatannya bertambah besar. Beberapa pemimpin perlawanan memiliki kharisma yang melegenda di daerah-daerah yang menjadi basis perlawanannya.  Salah satunya adalah kisah perjuangan Naya Sentika yang melegenda.

Legenda Naya  Sentika  merupakan  cerita  rakyat yang berasal dari daerah Blora, Jawa Tengah. Cerita mengenai Naya Sentika ini diawali ketika berakhirnya Perang Diponegoro pada 1830. Peristiwa tertangkapnya Pangeran  Diponegoro  oleh  tentara  Belanda  dengan cara   tipu   muslihat   tidak   menyurutkan   perlawanan dari   para   pengikutnya.   Di  berbagai   daerah   masih ada  sisa-sisa  prajurit Diponegoro  yang  tetap   patuh dan setia meneruskan perjuangan sampai titik darah penghabisan. Sisa-sisa prajurit pengikut setia Pangeran Diponegoro    melarikan    diri    ke   berbagai    daerah. Mereka tetap bergerilya meneruskan perjuangan Pangeran Diponegoro melawan Belanda. Sebagian lagi menyembunyikan diri sambil mengumpulkan kekuatan.

 

Salah satu  prajurit yang meneruskan perjuangan Pangeran Diponegoro itu adalah Naya Sentika. Naya Sentika  merupakan  seorang  wiratama  kenamaan. Nama sebenarnya adalah Sentika, sedangkan Naya adalah nama induk pasukan dalam laskar Diponegoro. Sebagaimana diketahui,  laskar prajurit pengikut Pangeran Diponegoro dibagi menjadi satuan-satuan induk yang diberi nama sendiri-sendiri. Ada Laskar Naya, Laskar Dipo, dan lain-lain. Sentika adalah pemimpin Laskar Naya. Oleh karena itu, ia terkenal dengan nama Naya Sentika.

Alkisah, Naya Sentika telah berulang kali memimpin pasukannya menghadapi Belanda di bawah komando Pangeran Diponegoro. Keberanian Naya Sentika dan kesetiaannya kepada Pangeran Diponegoro tak diragu- kan lagi. Tanpa rasa takut  dan ragu, ia gigih berjuang menghalau musuh. Bara semangat melawan penjajah menyala-nyala  di hatinya.  Ke mana pun Pangeran Diponegoro membawa pasukannya berperang, Ia selalu berada di barisan terdepan. Namun sayang, perjuangan rakyat bersama Pangeran Diponegoro harus berakhir dengan getir. Tertangkapnya Pangeran Diponegoro oleh tipu  daya  penjajah  menghentikan  perjuangan  rakyat

 

kala itu. Seperti halnya dalam perang besar Nusantara di masa itu,  keberadaan pemimpin karismatik  sangat diperlukan. Keberadaan Pangeran Diponegoro di tengah pasukan sangat menentukan semangat dan keberanian anggota  pasukannya.  Hilangnya  pemimpin  karismatik dari  tengah  pasukan,  ibarat  hancurnya  gairah perjuangan. Perlu waktu lama untuk mengembalikan semangat perlawanan,  perlu pemimpin karismatik  baru untuk menyatukan kembali pasukan yang tercerai-berai seakan tanpa  panutan.  Itu pula  yang terjadi  dengan pasukan Pangeran Diponegoro, termasuk Naya Sentika dan kawan-kawan seperjuangan.

Dengan    tertangkapnya    Pangeran    Diponegoro di Magelang, perang besar itu pun berhenti dengan kemenangan di pihak Belanda. Sisa-sisa pasukan Pangeran Diponegoro terus dikejar-kejar. Naya Sentika melarikan diri ke wilayah utara.  Dalam pelariannya tersebut  sampailah ia di Desa Bangsri. Di desa Bangsri ini   ia  bertemu   dengan  lurahnya   yang  bernama  Ki Toinah. Naya Sentika memperkenalkan dirinya dan mengungkapkan gagasan-gagasannya sehubungan dengan perjuangan yang pernah dan akan terus dilakukannya.   Ternyata,   Ki  Lurah   Toinah   memiliki

 

pendapat yang sama dengan Naya Sentika, yaitu bahwa rakyat harus melawan agar terbebas dari belenggu penjajahan.

“Aku setuju dengan pendapatmu, Sentika. Penjajah memang harus diusir  dari  bumi pertiwi karena sudah membuat rakyat kita sengsara,” tandas Ki Toinah.

 

 

 

 

 

“Mereka mengambil apa saja yang mereka mau, sementara  rakyat  kelaparan.  Padahal, kita  sudah bekerja keras, kemudian mereka mengambilnya begitu saja. Mereka sudah menginjak-injak bumi kita.  Rakyat makin miskin dan kelaparan,” kata  Ki Toinah  berapi- api menahan kemarahan kepada penjajah yang sudah dianggapnya membuat rakyatnya  menderita.

“Betul, Ki. Kita harus bersatu untuk memperjuang- kan  nasib  rakyat kita,”  tegas  Naya  Sentika.  Senang hatinya   mendapat   dukungan   penuh  dari   Ki  Lurah Toinah. Makin mantap ia meneruskan perjuangannya mengusir penjajah.

“Mari, kita kumpulkan kekuatan untuk berperang,” ujar  Ki  Toinah  bersemangat  mendukung  perjuangan Naya Sentika melawan penjajah.

“Ya, Ki. Akan tetapi,  kita harus memikirkan hal ini dengan matang agar perjuangan kita bisa berhasil.”

Saat ini Naya Sentika merasa belum siap untuk langsung memulai perlawanan karena bala tentaranya tinggal sedikit dan peralatan perang yang terbatas. Persiapan untuk perjuangan membutuhkan waktu, pikiran,  tenaga,  dan biaya yang tidak  sedikit.  Hal itu

 

harus dipikirkan dan dipersiapkan  secara matang agar perjuangan dapat berhasil.

“Baiklah,  Ki. Terima kasih atas dukunganmu. Saya yakin perjuangan kita akan berhasil jika kita bersungguh- sungguh dan bersatu.”

“Untuk   sementara,  saya meminta  bantuan  agar Ki Toinah mengumpulkan orang-orang  yang bersedia berperang  melawan penjajah.  Kemudian, saya melatih keterampilan  mereka dalam menggunakan senjata, termasuk  juga  olah  tubuh  dan olah  kanuragan.  Olah tubuh dan olah kanuragan ini sangat diperlukan agar mereka memiliki  kekuatan fisik sebab perjuangan kita nantinya sangat membutuhkan fisik yang  kuat. Dengan demikian, ketika saat perjuangannya tiba, pasukan kita sudah makin kuat dan siap untuk berperang melawan penjajah.”

Namun, pelarian  Naya Sentika tidak  bisa berhenti sampai di Desa Bangsri. Agar tidak terlacak oleh musuh, ia harus terus berlari dan bersembunyi dari kejaran pasukan Kompeni serta antek-anteknya sebelum perjuangannya  siap dimulai.  Ia  berpindah-pindah dari satu desa ke desa lain dengan cara sembunyi-sembunyi dan menyamar untuk  menghilangkan jejak. Terkadang

 

ia menyamar dengan membawa sayuran dan hasil bumi lainnya  sehingga ia  dikira  petani  yang akan menjual hasil buminya ke pasar.

“Ki,  saya harus pergi dari  desa ini karena musuh pasti masih mengejar saya. Nanti kalau saatnya tiba, saya pasti akan kembali dan meminta dukungan Ki Toinah.”

“Tentu, berhati-hatilah. Selagi kau pergi aku akan berusaha mengumpulkan masyarakat untuk berjuang melawan penjajah. Semoga berhasil.”

“Terima  kasih, Ki.”

 

Selagi Ki Toinah berusaha mengajak orang-orang di desanya untuk ikut berjuang, Naya Sentika meneruskan pengembaraan.  Ia   berusaha  tidak   lama  berdiam  di suatu tempat karena musuh masih mengejarnya. Ia berpindah-pindah tempat untuk mengelabui musuh. Pengembaraan Sentika tidak hanya untuk bersembunyi, tetapi     juga    untuk     mengamat-amati   gerak-gerik musuh dan menyusun strategi. Selain itu, ia juga berusaha untuk  membangun kekuatan kembali setelah pasukannya kocar-kacir karena banyak yang gugur dalam peperangan yang lalu.

 

Berbagai tempat dan pedesaan telah ditemui Naya Sentika dalam perjalanannya.  Sebagian disinggahi, sebagian lagi hanya dia lewati.  Ia mengedepankan kewaspadaan diri, jangan sampai memasuki wilayah tempat    musuh   telah   siap   menanti.   Bukan   hanya Belanda yang ia waspadai, tetapi  juga warga pribumi. Saat itu kawan dan lawan sulit  untuk dibedakan, yang menentang dan yang mendukung sepenuh hati juga susah  teramati.  Naya  Sentika  tak  mau  ambil  risiko terlalu  tinggi. Sebelum maksudnya tercapai, ia tak ingin keberadaannya diketahui.  Oleh karena itu,  berpindah- pindah  tempat   dalam  waktu  singkat  terus  ia  jalani dalam pengembaraannya.

Sampailah pengembaraannya di Desa Kembang. Namun,  Naya  Sentika  merasa  kurang  aman  di  desa ini. Memang kadang-kadang Naya Sentika sekadar mengandalkan perasaan dan nalurinya, tetapi itu sudah terbukti berulang kali mampu menyelamatkan dirinya. Kali ini pun ia mengikuti  apa kata hati  dan nalurinya. Rasa tak aman dan tak nyaman itu  pasti bukan tanpa alasan. Ia  lalu meninggalkan desa tersebut  dan pergi mengembara lagi hingga ke sebuah desa di lereng Gunung  Butak.  Tak  berapa  lama,  ia  merasa  cocok

 

dengan lurah  desa tersebut  karena memiliki pendapat dan tujuan yang sama juga dengan dirinya. Oleh karena itu, ia merasa tenang tinggal di desa itu. Desa itu berada di lereng gunung yang jauh dari keramaian sehingga ia merasa aman.

Sentika mendapatkan teman hidup seorang gadis anak petani yang bernama Tomiyah. Sentika dapat menyembunyikan   diri   sambil   menyamar   di   ladang milik mertuanya. Ia rajin membantu mengurus ladang mertuanya tersebut.

Selagi dalam persembunyian, Sentika menyamar sebagai seorang guru atau orang bijak. Keberadaannya sebagai guru makin hari makin dikenal oleh masyarakat sekitar.  Naya Sentika  dikenal  sangat  pandai  dan bijaksana. Hal ini menyebabkan banyak penduduk sekitar datang berguru kepadanya dan meminta nasihat. Lambat laun makin banyak murid yang berguru kepadanya.

Selain menjadi guru, Naya Sentika bekerja di sawah dan ladang milik mertuanya.  Ia juga membeli beberapa kerbau untuk diternakkan. Karena dipelihara dan diberi makan dengan baik, kerbau-kerbau  tersebut  tumbuh besar dan berkembang biak. Naya Sentika bekerja keras mengumpulkan uang dengan tujuan  sebagai persiapan

 

biaya jika sewaktu-waktu dibutuhkan dalam perjuangan. Ternak-ternak piaraan Sentika dikumpulkan dan dipelihara   di  Dusun  Ngingser  bersama  pengikutnya yang bernama Beja.

Di  balik  kerja  keras  dan  samarannya  tersebut, Naya Sentika merasa belum tenang. Sebagai pejuang sejati, semangatnya masih berkobar untuk  melanjutkan cita-citanya mengusir penjajah Belanda dari bumi pertiwi.

Pada suatu hari ia bermimpi  seolah-olah bertemu dengan seorang pertapa yang bernama Ki Moro. Dalam mimpi itu ia diperintahkan untuk bertapa atau bersemadi di suatu tempat agar kelak bisa mencapai cita-citanya.

Berkatalah Ki Moro dalam mimpinya tersebut, “Sentika,  sebelum kau melanjutkan perjuanganmu, carilah suatu tempat yang sepi dan bertapalah  di sana. Sendiri saja, jangan mengajak siapa pun!”

“Mengapa aku harus bertapa dahulu sebelum berjuang, Ki?” tanya Naya Sentika dalam keheranan.

“Kamu  harus  bertapa  dulu  di Bukit  Gempol untuk mengetahui waktu perjuangan yang tepat,” tegas Ki Moro. “Mengapa harus menunggu lagi? Bukankah rakyat sudah  lama  menunggu dan  makin  menderita?”   Naya

Sentika bertanya.

 

“Itu betul.  Namun,  sekarang  belum waktu  yang tepat untuk berjuang. Kamu harus bersabar agar perjuanganmu berhasil.”

“Baiklah,  Ki. Bagaimana nantinya  aku mengetahui waktu perjuangan yang tepat,  Ki?” tanya Naya Sentika

lagi.

 

“Kuberi kau sebuah genuk (gentong atau jambangan besar). Genuk ini sebagai penanda waktu. Letakkanlah genuk ini dengan cara tertelungkup. Jika genuk itu sudah terbalik atau tengadah sendiri, waktu perjuanganmu sudah tiba.”

“Selain itu, kuberi kau beberapa peralatan  lainnya sebagai bekal perjuanganmu kelak. Ini kuberikan padamu sebuah payung dan sehelai saputangan”

“Payung dan sehelai saputangan? Benda-benda ini untuk apa, Ki?” tanya Sentika kebingungan. Ia merasa bingung dan bertanya-tanya apa gunanya sebuah payung dan sehelai saputangan dalam perjuangan. Payung dan saputangan itu sepertinya lebih cocok diberikan  pada kaum perempuan karena menunjukkan ketidakmampuan menahan panas dan hujan serta kekhawatiran pada keringat yang jatuh bercucuran.

 

“Oh, payung dan saputangan ini dapat kaugunakan sebagai senjata. Kelak kau akan tahu kegunaannya. Simpanlah baik-baik. Jangan sampai hilang!” pesan Ki Moro dalam mimpi tersebut.

Naya Sentika merasa mimpi tersebut  seperti nyata adanya. Bahkan, ia tidak bisa membedakan apakah yang baru saja dialaminya adalah mimpi atau kejadian nyata. Akhirnya,   ia  terbangun   karena  mimpinya   tersebut. Ketika terbangun, ia merasa heran karena benda-benda yang didapatkannya dalam mimpi ternyata benar-benar ada di hadapannya. Ia yakin bahwa mimpinya tersebut bukanlah   mimpi   biasa,   melainkan   semacam  wasiat atau amanah yang harus dilaksanakan. Mimpi yang dialaminya bukan sembarang mimpi. Bukan titiyoni atau mimpi yang terjadi sebelum tengah malam dan tak ada maknanya sama sekali. Bukan pula gondoyoni atau mimpi antara tengah malam hingga dini hari yang sekadar refleksi alam  bawah sadar  cerminan kekuatan rohani pribadi.  Mimpinya  itu  merupakan puspa tajem karena terjadi antara dini  hari  hingga menjelang fajar. Mimpi puspa tajem dipercaya sebagai mimpi yang bersumber dari  penguasa alam yang mahagaib.  Seaneh apa pun perintah  yang diterimanya dalam mimpi tersebut, Naya

 

Sentika meyakini kebenarannya. Oleh karena itu, ia lalu berniat untuk bertapa di tempat sebagaimana yang ditunjukkan dalam mimpinya.

Sebelum pergi  bertapa,  Naya Sentika menitipkan segala miliknya  kepada istri  dan seorang pengikutnya yang bernama Beja. Ia meminta Beja memelihara segala apa  yang  ia  kumpulkan  itu   dengan  sebaik-baiknya karena pada kemudian hari  akan sangat bermanfaat. Selanjutnya,   ia  berpamitan   kepada  murid-muridnya akan berangkat ke Bukit Gempol untuk bertapa. Namun, Naya Sentika tidak mengungkapkan tujuannya  bertapa. Ia hanya mengatakan bahwa semadi akan dilakukan dengan menghadap sebuah genuk yang diletakkan menelungkup. Apabila posisi genuk tersebut sudah menengadah, berarti permohonannya terkabul. Ia pergi bertapa dengan membawa tiga barang pusaka tersebut. Meski dihinggapi rasa penasaran tentang rencana Naya Sentika,  para  muridnya   tak  berani   menanyakannya lebih lanjut.  Mereka hanya mengamati saja saat Naya Sentika membawa serta genuk, payung, dan saputangan bersamanya. Sebagian di antara mereka saling berbisik mengira-ngira maksud Naya Sentika yang sesungguhnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

19

 

Sebagian lagi sekadar patuh kepada Naya Sentika guru mereka tanpa mempertimbangkan lebih jauh.

Sepeninggal Sentika bertapa,  kedua adik Tomiyah yang bernama Budi dan Gluntang sangat gembira. Keduanya memiliki sifat yang kurang terpuji, tamak, dan terlalu  mementingkan diri sendiri. Tak heran rencana mereka pun keji. Mereka pikir  dengan kepergian Naya Sentika,  mereka  akan  dengan  mudah  mendapatkan harta tinggalan  yang cukup banyak dari kakak iparnya. Sementara itu, berhari-hari, berbulan-bulan, Naya Sentika melakukan pertapaan sambil menunggu saat yang  tepat.   Seperti  yang  sudah  dipesankan  oleh  Ki Moro, ia harus bersabar menunggu hingga genuk-nya membalik sebagai pertanda saatnya perjuangan dimulai.

Kesempatan tersebut akan dimanfaatkan Budi dan Gluntang untuk menikmati kekayaan kakak iparnya. Hingga pada suatu hari,  hasil panen Sentika di ladang yang ditunggu Beja diambil paksa oleh Budi dan Gluntang. Walaupun Beja sudah melarangnya, Budi dan Gluntang tidak menghiraukannya. Budi dan Gluntang membuat Beja tidak berdaya. Ketika Beja tidak berdaya, Budi dan Gluntang dapat dengan mudah memanen seluruh tanaman Naya Sentika. Padahal, hasil tanaman

 

itu  akan digunakan  untuk  keperluan  perjuangan  pada kemudian hari.

Akibat pengeroyokan itu Beja terkapar  pingsan beberapa saat lamanya. Saat siuman, Beja merasa sakit di sekujur tubuhnya. Ia butuh waktu untuk memulihkan tenaganya. Setelah agak bertenaga, Beja tertatih-tatih datang ke rumah Tomiyah dengan masih berlumuran darah akibat luka di sekujur badan. Melihat hal itu, istri Naya Sentika sangat terkejut. Ia pun segera menanya- kan apa yang sebenarnya terjadi. Begitu mengetahui duduk persoalannya, Tomiyah sangat marah kepada kedua adiknya yang sudah keterlaluan dan tidak  tahu diri. Keduanya tidak pernah mau membantu bekerja, hanya bermalas-malasan. Malah ternyata sepeninggal Naya Sentika bertapa,  Budi dan Gluntang memiliki niat licik untuk menguasai hasil panennya.

Tomiyah mendatangi kedua adiknya. Ia meminta keduanya mengembalikan panenan tersebut. Namun, ternyata panenan tersebut  sudah dijual dan hasil penjualannya  sudah habis mereka gunakan untuk berfoya-foya. Tomiyah  makin marah karena kerja keras dirinya,  suaminya, dan Beja habis sia-sia.

 

Kemarahan   Tomiyah   membuat   kedua   adiknya sakit hati. Mereka berdua bermaksud melaporkan Naya Sentika kepada penguasa setempat. Selama ini mereka berdua sering mendengar berita  bahwa para penguasa sedang mencari  keberadaan kakak iparnya  itu  karena dianggap sebagai pemberontak dan pembuat onar. Dengan laporannya itu, mereka berharap mendapat kepercayaan dari penguasa. Selanjutnya, mereka berharap diberi hadiah dan jabatan.

Mereka pun mencari  tahu  tempat  pertapaan Sentika. Dengan pura-pura peduli pada Naya Sentika, Budi  dan   Gluntang  mengorek  informasi  dari   murid- murid   Naya  Sentika.   Setelah   mendapat   gambaran tempat pertapaan Naya Sentika, Budi dan Gluntang segera melakukan pencarian secara sembuyi-sembunyi.

Pencarian mereka berhasil. Mereka mengetahui keberadaan kakak iparnya itu. Mereka juga mendengar bahwa permohonan Naya Sentika akan terkabul jika genuk tersebut sudah membalik. Mereka hendak menipu Sentika dengan membalik genuk tersebut.

Dengan cara sembunyi-sembunyi pada malam hari, mereka berhasil menggulingkan genuk pusaka Sentika. Sentika yang sedang asyik masyuk dengan pertapaannya

 

tidak menyadari kedatangan Budi dan Gluntang. Karena kekhusyukannya itu, ia tidak terusik dengan ulah kedua adik iparnya dan tetap berkonsentrasi. Tipu muslihat Budi dan Gluntang pun berjalan sesuai dengan rencana.

Pada pagi harinya Naya Sentika melihat  genuk pusakanya sudah membalik. Menurut  perkiraannya  tak bisa tidak,  tentu  Yang Mahagaib-lah  yang memberinya pertanda.   Tak  mungkin  manusia  biasa.  Ia   berpikir bahwa waktu untuk memulai perjuangan sudah tiba. Mulailah ia menyusun strategi. Ia segera menghubungi murid-muridnya yang sudah menunggu lama dan ingin mengetahui hasil semadinya. Setelah mendengar kabar bahwa genuk pusaka sang Guru sudah membalik, murid- muridnya  sangat  gembira.  Artinya, permohonan  sang Guru sudah berhasil.

Kemudian, mereka berduyun-duyun menuju tempat Naya Sentika. Sementara itu, Naya Sentika juga sedang menuju  ke tempat  mereka  dengan membawa payung dan sapu tangan sebagai bekal perjuangan  pemberian Ki Moro.

Berpapasanlah mereka di suatu tempat. Naya Sentika disambut para pengikutnya dengan sorak sorai, riang gembira, dan penuh harapan.

 

“Guru, bagaimana hasil semadinya? Apakah Tuhan Yang Maha Esa mengabulkan permohonan guru?” tanya salah seorang pengikutnya.

“Ya, Guru, bagaimana hasilnya, Guru?” para murid pun bertanya kepada sang Guru atas hasil semadinya.

“Kami  sudah  tidak  sabar  ingin  mengetahui hasilnya,” seru yang lainnya tak kalah riuhnya.

Rasa penasaran  sebagian dari  para  murid  Naya Sentika menuntut  segera diakhiri. Mereka ingin segera mengetahui cerita sebenarnya dari sang Guru. Bahkan, yang semula sekadar patuh  tanpa  berpikir  lebih  jauh pun  tak  terhindarkan dari  rasa  penasaran  dan  ingin tahu. Makin ramailah para murid mengerubungi Naya Sentika yang baru saja pulang dari bertapa. Mereka berebut mendengar kabar pertama dari guru mereka, kabar yang pastinya penting untuk diberitakan pada kawan-kawan mereka yang lain.

“Sabar, sabar. Tenang dulu!  Akan  aku  jelaskan semuanya!”

Suasana menjadi hening. Murid-murid yang tadinya bersorak-sorai, diam menunggu sang Guru menjelaskan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

25

 

“Sebenarnya, tujuanku bertapa adalah menunggu sasmita atau pertanda  dari Yang Mahakuasa untuk memulai perjuangan melawan penjajah Kompeni.”

“Tuhan memberikan petunjuk bahwa waktu perjuangan tiba jika posisi genuk yang ada di hadapanku saat  bertapa  telah  terguling. Nah, semalam genuk itu telah  terguling. Aku pun mengartikan  bahwa pertanda telah datang. Setelah sekian tahun menahan diri, akhirnya Tuhan Yang Maha Esa mengabulkan permohonanku dan memberikan  petunjuk  bahwa  waktu  perjuangan  telah tiba.” Demikian Naya Sentika menjelaskan panjang lebar tujuan dan hasil pertapaannya.

“Kini,   saatnya   kita   mengangkat   senjata   untuk

 

melawan penjajah!” seru Sentika penuh semangat.

 

Kepada murid-muridnya, Naya Sentika menanyakan kesediaan mereka menjadi prajurit dalam barisan menentang penjajah Kompeni. Akhirnya, mereka semua menyetujui  permintaan  sang Guru untuk  menjadi prajurit. Tempat murid-murid Naya Sentika mendengar permintaan  sang Guru dan menyatakan kesediaan mereka untuk  menjadi  prajurit kemudian disebut Gunung Prajurit.

“Hore, hore!” sambut para pengikutnya.

 

“Setelah bertahun-tahun menahan diri, sekarang saatnya kita berjuang mengusir penjajah dari bumi pertiwi!”

Untuk mengenang peristiwa  itu, mereka menyebut tempat  semadi itu  Gunung Genuk dan tempat  mereka bersorak  sorai  menyambut  Naya Sentika  disebut Gunung Sorak.

Karena sang Guru sudah terlalu lama bertapa, kondisi fisiknya  Naya  Sentika, sang Guru  itu,  pun  sudah banyak berubah.  Badannya menjadi  kurus  kering.  Rambutnya pun  tak  pernah  dicukur,  dibiarkannya   tumbuh  lebat dan kusut masai hingga menggimbal. Semua itu  bukan tanpa alasan, ia biarkan rambutnya menggimbal karena terikat dengan sumpahnya.

Naya Sentika pernah bersumpah dalam pertapaannya,  “Aku tidak akan mencukur rambutku sampai para penjajah  pergi dari  bumi Nusantara  ini.” Oleh karena itu, ia biarkan rambut dan jenggotnya tumbuh lebat memenuhi wajahnya.

Ketika  melihat fisik sang Guru,  para pengikutnya lalu memberikan gelar kepadanya, Naya Gimbal.  Sejak saat itu Naya Sentika lebih tersohor dengan nama Naya Gimbal.

 

Segeralah mereka turun  gunung untuk mengumpulkan  orang-orang   yang dahulu  mendukung dan sepaham dengan mereka untuk memulai lagi perjuangan melawan penjajah. Tak lupa payung dan saputangan pemberian Ki Moro dibawanya serta. Tidak berapa lama ia sudah mendapatkan pengikut dalam jumlah yang cukup banyak. Para pengikut Naya Sentika alias Naya Gimbal ini, selain dahulu merupakan anak buahnya yang tersebar di berbagai daerah dan tidak terorganisasi. Anak buah Sentika ini juga merupakan para warga antipenjajah.

Dalam  perjalanan  selanjutnya,   Naya  Gimbal beserta  para  muridnya  beralih  ke tempat  yang lebih aman daripada  Gunung Prajurit. Di tempat  yang baru ini, Naya Gimbal mengeluarkan maklumat. Maklumat tersebut, antara  lain, berbunyi,  “Barang  siapa menjadi punggawa Kompeni harus kita  lawan!”

Tempat dikeluarkannya maklumat itu sekarang terkenal  dengan nama Desa Woro. Mereka bertolak menuju ke timur.  Di suatu desa mereka menyerang serikat desa yang memihak Kompeni. Naya Gimbal tidak mau mengambil risiko terlalu tinggi dengan membiarkan rakyat    bersekutu    dengan   Kompeni.   Meski   sama-

 

sama pribumi,  jika memihak Kompeni, terpaksa  harus dimusuhi. Dalam suasana perang memang kadang hanya tersedia satu di antara dua pilihan, menang atau kalah, hidup atau mati, jaya atau hancur, tega atau dikhianati.

Kehidupan rakyat  terjajah yang miskin dan bodoh menjadikan Kompeni lebih leluasa menanamkan pengaruhnya, lebih leluasa membujuk rakyat untuk memihak mereka dengan imbalan harta dan kemakmuran yang sebenarnya tak seberapa, seperti rakyat  di desa- desa yang diserang pasukan Naya Sentika. Kemiskinan dan kelaparan  menjadikan  orang-orang  mau memihak Kompeni hanya untuk mendapatkan uang dan makanan. Mereka   pun   tak   ragu   menyerang   dan   berperang dengan pihak mana pun sesuai dengan perintah Kompeni. Apalagi, Kompeni pun memberikan bantuan persenjataan  untuk mempertahankan diri.

Sebelum bergerak lebih jauh, Naya Gimbal kembali ke Desa Bangsri untuk bertemu dan meminta dukungan Ki Gede Toinah. Ki Gede Toinah sudah mendengar bahwa Naya Sentika akan datang.  Ki Toinah langsung mengumpulkan rakyatnya  yang sudah terlatih dan siap untuk ikut berjuang. Akhirnya, jumlah pasukan yang terkumpul  di bawah kepemimpinan Naya Gimbal sudah

 

semakin besar. Ketika melihat  hal itu,  semangat para pejuang semakin berkobar.

Kali ini serangan pasukan Naya Gimbal berlangsung agak lama dan dahsyat sehingga menimbulkan banyak korban luka, baik berat maupun ringan. Bahkan, ada seorang penduduk desa yang terbunuh  oleh prajurit Naya Gimbal. Mayatnya disandarkan seolah-olah masih hidup pada batang pohon bogor, yaitu pohon siwalan yang disadap untuk diambil air niranya.

Ketika melihat kejadian seperti itu, Naya Gimbal bersabda bahwa mayat itu benar-benar masih hidup. Sungguh menakjubkan, badan mayat itu benar-benar hidup seperti semula. Penduduk desa yang menyaksikan kesaktian Naya Gimbal itu kemudian berbalik memihak kepadanya  dengan  penuh  kesetiaan.  Demikian  pula, bagi  Naya  Gimbal  sendiri,   rasa  cintanya   terhadap rakyat menjadi lebih tebal. Untuk mengenang kisah itu, desa tersebut  diberi nama Desa Bogorejo.

Setelah pertempuran di Desa Bogorejo, Naya Gimbal dan para pengikutnya bergerak menuju ke arah selatan. Di suatu tempat mereka mendapat serangan dari pihak lawan.  Pertempuran  berlangsung  amat  hebatnya. Banyak korban  berguguran  pada pihak  Naya Gimbal.

 

Mereka gugur di medan bakti  dalam mempertahankan tanah  air  dengan  mengorbankan  jiwa  dan  raganya. Meski sedih karena pengikutnya  berkurang,  Naya Gimbal bangga pada aksi heroik pasukannya itu. Untuk mengenang pengorbanan mereka, Naya Gimbal memberi nama tempat  itu  Desa Sedan. Sedan berasal dari kata seda yang berarti ‘meninggal’.

Sementara itu, kabar pergerakan pasukan Naya Gimbal telah  tersebar  luas  di  kalangan  orang-orang yang memihak Kompeni. Para penguasa pun merasa terancam  dengan  perlawanan  Naya  Gimbal.  Mereka takut  kekuasaannya terenggut oleh Naya Gimbal. Banyak penguasa negeri yang tunduk dan patuh kepada penjajah. Para penguasa tersebut  menjadi kaki tangan penjajah dan menjual kemerdekaan negerinya demi kekuasaan. Mereka membenci, mengutuk, dan menyebut Naya Gimbal sebagai pemberontak. Penguasa dan pihak- pihak yang membenci Naya Gimbal tersebut  berusaha menyebarkan desas-desus bahwa Naya Gimbal adalah seorang berandal dan komplotannya adalah perampok yang meresahkan.

Setelah mendengar desas-desus seperti itu, banyak warga yang terpengaruh  dan takut terhadap gerombol-

 

an Naya Gimbal. Untuk mencegah meluasnya berita tersebut, Naya Sentika atau Naya Gimbal berusaha meninggalkan tempat  itu. Ia dan pasukannya bergerak ke hutan, naik dan turun  gunung. Demikian jauhnya mereka  melakukan  perjalanan,   sampailah  mereka  di salah satu desa. Namun, di desa tersebut mereka sudah dihadang oleh pasukan pribumi yang menjadi antek penjajah. Pertempuran tak bisa dihindarkan lagi. Ketika pertempuran sedang berkecamuk hebat, tiba-tiba Naya Gimbal dikejutkan oleh menyemburnya darah dari tubuh salah satu prajuritnya. Prajurit tersebut tertusuk senja- ta musuh. Naya Gimbal berusaha menutup luka sejadi- jadinya. Mujurlah semburan darah itu dapat segera berhenti  dan nyawa si prajurit dapat diselamatkan. Melihat  pertempuran masih berlangsung, Naya Gimbal kembali ke medan pertempuran. Dengan gagah berani pasukan Naya Gimbal berhasil menekuk pasukan lawan. Pertempuran pun terhenti dengan kemenangan di pihak Naya Gimbal. Pasukan musuh berlari  pontang-panting menyelamatkan diri.  Pasukan Naya Gimbal bersorak gembira.  Sembari  beristirahat untuk  memulihkan tenaga,   Naya  Gimbal  teringat  kejadian   di  tengah- tengah pertempuran tadi.  Saat salah satu prajuritnya

 

terluka  dan  lukanya  memancurkan  darah.  Atas kejadian itu,  Naya Gimbal berpesan agar kelak apabila negara telah aman, makmur, dan sentosa, tempat itu hendaknya  dinamakan  Desa Pancur.  Pancur  berasal dari kata mancur yang berarti ‘menyembur’. Akhirnya, pertempuran berakhir  dengan kemenangan pada pihak Naya Gimbal.

Pergerakan  Naya  Gimbal  dilanjutkan  ke  barat. Di  suatu  desa  mereka  beristirahat.  Mereka  merasa aman di tempat itu. Naya Gimbal memutuskan untuk bermalam sambil memikirkan dan merencanakan tujuan selanjutnya.  Rencana berjalan lancar dan baik. Seperti halnya dengan tempat lain yang disinggahi oleh Naya Sentika beserta  prajuritnya, desa tempat  beristirahat ini pun menjadi ramai. Naya Sentika menyebutnya dengan nama Desa Tuyuan.

Untuk menambah kesigapan para prajuritnya, Naya Gimbal  memberikan  pelajaran   pencak  silat  di  dekat Desa Tuyuan. Pelajaran pencak silat  yang diberikan segera dapat dikuasai oleh para prajuritnya. Tempat dilakukannya latihan pencak silat itu diberi nama dengan Pesanggrahan.  Kata  pesanggrahan  berarti tempat  di luar  istana  untuk  menyepi dan beristirahat bagi para

 

raja. Bagi rakyat, pesanggrahan dapat dimaknai sebagai tempat  untuk menimba ilmu, baik ilmu kehidupan maupun ilmu kanuragan. Kenyataannya, sekarang Desa Pesanggrahan terkenal akan ahli-ahli pencak silatnya.

Pergerakan Naya Gimbal dan para prajurit pengikutnya   makin  lama  makin  tersiar   ke  seluruh pelosok di daerah Kabupaten Blora yang dipimpin Raden Mas Tumenggung Cakranegara.

 

Raden Mas Tumenggung Cakranegara merasa terancam  dengan semakin tersohor  dan kuatnya pasukan Naya Gimbal tersebut. Ia takut  seluruh rakyat Blora bersatu dan ikut berjuang. Perjuangan rakyat melawan penjajah sama halnya melawan kekuasaannya karena ia mendapatkan kekuasaannya atas dukungan para  penjajah.  Demi mempertahankan  jabatannya,  ia rela menggadaikan kemerdekaan negerinya. Ia pun mengerahkan  seluruh  kekuatannya  untuk  menumpas apa pun bentuk perlawanan rakyat terhadap kekuasaannya maupun terhadap kekuasaan Kompeni. Setelah mendengar laporan bahwa Naya Gimbal sudah menguasai sebagian besar wilayah  Blora,  sang Bupati segera mengirim pasukan yang dipimpin oleh Ki Demang Waru untuk menumpas pergerakan yang dipimpin oleh Naya Gimbal tersebut. Seperti  orang yang kebakaran jenggot,  ia segera memanggil Ki Demang Waru  untuk mempersiapkan pasukannya. Sebelum berangkat,  ia berpesan kepada Ki Demang Waru.

“Ki Demang Waru, kuperintahkan kau untuk menghentikan  pemberontakan  Naya Gimbal. Kalau perlu,  tumpas habis seluruh  anak buahnya hingga tak

bersisa.”

 

 

35

 

Sang Bupati belum akan merasa tenang jika belum menumpas perlawanan  tersebut  hingga ke akar-akar- nya. Raden Mas Tumenggung Cakranegara sudah mendengar kesaktian Naya Gimbal. Oleh karena itu,  ia memilih Ki Demang Waru. Sang Bupati berpikir bahwa Ki Demang Waru adalah lawan yang sepadan untuk Naya Gimbal. Ki Demang Waru  adalah teman seperjuangan Naya Gimbal. Mereka dahulu adalah murid dan anggota laskar Pangeran Diponegoro. Bersama Pangeran Diponegoro,  mereka  berjuang  melawan  penjajah Belanda.  Keduanya  prajurit yang  gagah  berani  dan gigih dalam setiap pertempuran. Selain itu, mereka memiliki ketangkasan dan kesaktian yang setara dalam berperang.

Namun, tertangkapnya Pangeran Diponegoro membuat keyakinan Ki Demang Waru  goyah. Apalagi, pergerakan pasukannya makin tersudut dan banyak prajurit yang gugur.  Kekuatan  pasukannya berangsur melemah. Banyak di antara  anggota pasukannya yang menyerah dan melarikan diri, kemudian beralih menjadi warga biasa. Sementara itu,  dengan berbagai bujukan dan tekanan, Ki Demang Waru akhirnya mau menyerah dan  mendukung  Kompeni.  Ia  bersedia  menghentikan

 

perlawanannya dengan syarat seluruh anggota pasukannya dibebaskan dan tidak dikejar-kejar lagi. Ia bertekuk lutut pada Kompeni demi menyelamatkan sisa- sisa anak buahnya yang sudah tidak berdaya beserta keluarganya.

Ketika mendengar kabar bahwa Bupati Blora telah mengirimkan   pasukannya   di   bawah   kepemimpinan Ki Demang Waru,  pihak Naya Gimbal sebenarnya menyayangkan, tetapi ia tiada merasa takut dan gentar. Bahkan, pantang mundur setapak pun. Kedudukan mereka telah bergeser ke arah barat dari Desa Tuyuan dan Desa Pesanggrahan.

Ketika tengah bergerak, pasukan Naya Gimbal bertemu dengan pasukan Ki Demang Waru.  Terjadilah pertempuran sengit yang memakan waktu agak lama dan memakan banyak korban dari kedua belah pihak. Dalam pertempuran kali ini Naya Gimbal dapat berhadapan langsung dengan Ki Demang Waru.  Pada saat mereka berhadapan muka, Naya Gimbal berkata seperti ini.

“Kami tidak memusuhi kalian, tetapi memerangi Kompeni. Akan tetapi,  kalian bertempur berhadapan dengan kami? Bukankah engkau sendiri masih ingat bahwa Pangeran Diponegoro adalah guru kita?”

 

Ketika mendengar perkataan  tersebut, Ki Demang Waru   menjadi   teringat  bahwa  sebenarnya   mereka masih satu perguruan.

Kemudian Ki Demang Waru menjawab, “Benar katamu itu, sebenarnya kami pun tidak memusuhimu. Kami hanya memperingatkan dirimu saja. Bukankah engkau bergerak seorang diri? Kekuatan Kompeni lebih besar. Oleh karena itu,  urungkan saja niatmu itu!”

“Tidak,  kami tidak akan mundur setapak pun. Kami hendak meneruskan perjuangan Pangeran Diponegoro, guru  kita!”

Tak  dapat  dipungkiri, perang  tanding  antara  Ki

 

Demang Waru  dan  Naya  Gimbal  berlangsung  sengit

 

karena keduanya sama-sama sakti  dan tidak  mempan senjata. Terkenang akan perjuangan mereka dahulu bersama Pangeran Diponegoro, KI Demang Waru menghentikan perlawanan.

Kemudian, Ki Demang Waru menyambung lagi, “Sudahlah,  janganlah  marah.  Aku memang menyalahi kesetiaan terhadap  guru. Oleh karena itu, ambillah senjata gadaku ini sebagai taruhan  nyawaku. Bunuhlah diriku  dengan gadaku ini!”

Ki Demang Waru  menyadari kesalahannya. Untuk menebus kesalahannya itu,  ia meminta Naya Gimbal untuk   mengambil  senjata  kesaktiannya,   yaitu   gada. Selain itu, tak ada senjata yang mempan melukainya. Gada itulah yang dapat mengakhiri perang tanding dua saudara seperguruan itu.

Terperanjatlah Naya Gimbal. Tak sampai hati ia membunuh temannya sendiri. Permintaan Ki Demang Waru  itu  tentu  sangat  berat  bagi Naya Gimbal mengingat mereka adalah saudara seperguruan. Ki Demang Waru membujuk lagi, “Naya Gimbal, sekarang belum waktunya untuk mengusir Kompeni dari bumi kita ini. Apabila tak mau mengerti,  berarti kamu menyiksa temanmu sendiri. Kembalilah ke tempatmu!”

 

Ketika mendengar bujukan itu,  Naya Gimbal agak marah berkata,  “Tidak,  aku tidak  sudi, Demang Waru. Engkaulah satu-satunya orang yang menghalang- halangi.  Itu berarti engkau  sendiri  berpihak  kepada Kompeni.”

Ki Demang Waru  lalu  menyanggah tuduhan tersebut, “Seperti  halnya kamu, aku pun tidak berpihak kepada Kompeni. Hanya lain caraku dengan caramu.”

“Bohong, mana buktinya kalau memang demikian?” Ki Demang Waru menyakinkan lagi, “Kalau kamu tak percaya kepadaku, bunuh saja aku!”

Karena geram dan marah, Naya Gimbal mengayunkan senjata gada ke arah Ki Demang Waru. Akan   tetapi,    Naya   Gimbal   menjadi   heran   karena ternyata senjata gada itu lenyap, tiada berbekas. Kemudian ia mengundurkan diri dari tempat tersebut. Sementara itu,  Ki Demang Waru  berdiri  terpaku  saja, tiada bergerak sedikit pun.

Peristiwa  hilangnya gada Ki Demang Waru membekas menjadi sebuah desa yang disebut Desa Gada. Habis rasa kagumnya, Ki Demang Waru kembali ke Kabupaten Rembang untuk melaporkan kejadian itu kepada sang Bupati. Dalam laporannya  kepada bupati,

 

ia menyatakan bahwa Naya Gimbal telah melarikan diri dari daerah Rembang sehingga tak berhasil ditangkap. Namun, ternyata tanpa sepengetahuan Ki Demang Waru, ada orang lain yang melaporkan bahwa sebenarnya Ki Demang Waru sepakat dan setuju dengan Naya Gimbal.

Karena  mendapat  laporan  yang  sebaliknya tersebut, Bupati  Rembang menjadi marah. Ki Demang Waru merasa malu karena tidak bisa bersikap patriotis. Sebenarnya hati nuraninya ingin berjuang melawan penjajah,  tetapi  ia merasa tidak  mampu. Oleh karena itu, semampunya ia melindungi Naya Gimbal. Perasaan malu yang menghinggapinya membuatnya tidak pulang ke rumahnya,  tetapi  pergi tanpa  meninggalkan bekas. Bekas kademangannya sekarang menjadi Desa Waru.

Sementara  itu,  pasukan  Naya  Gimbal  terus bergerak. Peperangan hebat dengan pasukan Ki Demang Waru sama sekali tidak menyurutkan niat mereka untuk menggempur dan mengusir penjajah yang mereka sebut Kompeni. Selanjutnya,  pasukan Naya Gimbal berjalan ke arah selatan dari Desa Gada. Mereka beristirahat di suatu tempat  yang dianggap aman untuk mengembali- kan  semangat  dan  tenaga.   Tiada  lagi  rasa  samar atau  ragu  akan  kekuatan  mereka.  Karena  hilangnya

 

perasaan samar di tempat itu, desa tempat beristirahat itu   kemudian  disebut  dengan  nama  Desa  Samaran. Dari sini mereka terus  bergeser dan makin bertambah semangat juang mereka. Sulang berarti tanaman yang baru tumbuh bertunas atau berkecambah yang akan makin tinggi dan membesar. Ibarat sulang yang sedang bertumbuh dan membesar, semangat mereka kembali tumbuh membara.

Pergerakan pasukan Naya Gimbal pun dilanjutkan ke selatan. Dalam perjalanan Naya Gimbal berhenti sejenak dan berpesan, “Kalian  tidak  perlu mengetahui arah  kita  bergerak,  tetapi   ikut  sajalah  kehendakku. Apabila tidak suka, kembalilah ke tempatmu masing- masing.”

Para  prajurit  menjawab   bahwa   mereka  masih akan tetap setia mengikuti jejaknya. Ucapan janji setia itu dikenang dengan memberi nama tempat itu Desa Pragen. Setelah Desa Pragen ditinggalkan, akhirnya mereka sampai di suatu desa yang agak besar.

Naya Gimbal berkata,  “Berhentilah di tempat  ini.

 

Kita bertahan di daerah ini!”

 

Perintah   itu   kemudian  dikenang  sebagai  nama desa,  yaitu  Desa Gunem. Gunem artinya   ‘perkataan

 

atau sabda’. Di sekitar Desa Gunem mereka bertempur mengalahkan musuh. Tempat kemenangan itu dikenal orang dengan nama Desa Andang-Andang.  Andang- andang artinya  ‘cepat-cepat, secepatnya, hampir tiba’. Dengan kemenangan itu, kegembiraan dan kebanggaan menyelimuti hati mereka. Mereka berpikir bahwa perjuangan mereka sebentar lagi akan berhasil dan secepatnya penjajah dapat terusir dari bumi Nusantara.

Kisah selanjutnya  pergerakan  Naya Gimbal makin tersebar luas hingga ke luar daerah Blora. Pihak musuh makin khawatir karena kekuatan pasukan Naya Gimbal tidak bisa diremehkan. Bahkan, bisa jadi lebih kuat dari pasukan kerajaan.

Pasukan Naya  Gimbal  tidak  pernah  berhenti   di suatu desa dalam kurun waktu yang lama. Mereka bergerak dari satu desa ke desa lain. Pergerakan itu selain menambah pengikut,  juga menyulitkan  pasukan Kompeni untuk  melacak keberadaan mereka. Di setiap desa yang mereka singgahi pasukan Naya Gimbal juga menyerang pemimpin-pemimpin  desa atau lurah-lurah yang mendukung Kompeni.

Pada waktu  itu,  pasukan Naya Gimbal sampailah di    Desa    Sambeng.    Mereka    beristirahat    untuk

 

mengumpulkan tenaga lagi. Namun sayang, selagi mereka  beristirahat ada  salah  satu  warga  Sambeng yang berkhianat. Ia melaporkan keberadaan pasukan Naya Gimbal itu kepada Bupati Blora.

Bupati Blora pun berpikir cepat menyusun siasat. Karena sulitnya mengalahkan pergerakan Naya Gimbal, Bupati  Rembang membuat  suatu  tipu  muslihat  untuk melumpuhkannya.  Kepada  putrinya  diperintahkan untuk   menari  Jangglungan,  semacam  tarian   tayub, yang telah direncanakan.  Sementara itu,  pasukan dari Rembang diam-diam  menyamar menjadi  penabuh dan penari Jangglungan.

Tepat pada waktunya, berlangsunglah sebuah pertunjukan tari.  Tontonan itu sangat ramai dikunjungi orang.  Tidak  ketinggalan   pula  Naya  Gimbal  dengan para pengikutnya terlihat asyik menonton pertunjukan tersebut. Mereka tidak menyadari bahwa bahaya mengintai mereka. Ibarat ikan, mereka sudah berada di dalam bubu yang sengaja dipasang, sudah terperangkap dan tinggal menunggu nasib untuk dihancurkan. Kurangnya kewaspadaan menjadi kelemahan utama Naya Gimbal dan pasukan kali ini. Meski semua orang butuh  hiburan,  meninggalkan  kewaspadaan  bisa  jadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

45

 

merupakan hal  fatal yang  membahayakan. Jika  bahaya sudah datang, penyesalan atas ketidakwaspadaan tidak lagi berguna.

Pada saat ramai-ramainya permainan berlangsung, tiba-tiba Naya Gimbal dengan pasukannya disergap pasukan  yang  menyamar  tersebut.  Demikianlah, riwayat Naya Gimbal berakhir.  Sama dengan gurunya, Pangeran Diponegoro, Naya Gimbal dapat dikalahkan Kompeni dengan tipu muslihat. Demikian juga, Naya Gimbal akhirnya tertangkap dengan tipu muslihat. Perlawanan   pasukannya   yang   sedang   tidak    siap hanya  sia-sia.  Malang  sekali,  banyak  prajurit   yang gugur dalam pertempuran tidak  seimbang itu.  Secara pribadi,  jika mau bisa saja Naya Gimbal memberikan perlawanan  atau  lari  menyelamatkan  diri.  Namun, ia lebih  mengutamakan  keselamatan  para  pasukannya. Ia merasa hina jika hanya memikirkan dirinya sendiri sementara orang-orang  yang setia kepadanya harus menjadi korban. Naya Gimbal memilih menyerah. Ia meminta syarat agar pasukannya dibebaskan.

Kemudian, ia menamakan tempat kekalahan itu dengan  nama  Desa  Besah,  yang  berasal  dari   kata blasah ‘bergeletakan,  bergelimpangan’  karena banyak

 

prajurit yang mati bergelimpangan. Ia mengutuk warga Desa Sambeng yang telah berkhianat  agar kelak tidak menikah dengan warga Desa Besah.

Setelah ditangkap,  Naya Gimbal kemudian dibawa ke Rembang untuk diserahkan kepada Residen Rembang. Ajaib, Naya Gimbal ternyata memiliki ilmu kekebalan yang mengagumkan. Tubuhnya tidak  mempan dihujani peluru.   Bahkan,  ketika  dilukai   dengan  benda-benda tajam, tubuhnya tidak terluka sedikit pun. Residen Rembang dan pasukannya kebingungan  mencari  cara untuk   melumpuhkan  Naya  Gimbal.  Setelah  berpikir lama,  akhirnya  Residen Rembang mendapat  akal.  Ia memerintahkan agar Naya Sentika alias Naya Gimbal dimasukkan  ke dalam tong  besar,  kemudian  dilarung atau dihanyutkan  ke laut.

Mereka mengikat tubuh Naya Gimbal, kemudian memasukkannya ke dalam tong. Selanjutnya, mereka menceburkan  tong  tersebut   ke laut.  Tak  ada  orang yang tahu  pasti  nasib Naya Gimbal yang dimasukkan tong dan dilarung ke laut saat itu: apakah Naya Gimbal mati atau bisa meloloskan diri dengan kesaktiannya. Yang jelas, sejak saat itu perlawanan pasukan Naya Gimbal berhenti.  Peristiwa itu meninggalkan kesedihan

 

mendalam di hati para anak negeri yang sedang bersemangat untuk membebaskan diri dari penjajahan. Sebaliknya, berhentinya perlawanan pasukan Naya Gimbal  menjadikan   Kompeni  lega  karena  satu  lagi musuh berhasil dilenyapkan.

Peperangan yang dipimpin  oleh  Naya Gimbal ini tercatat dalam sejarah dengan nama Perang Bangsri.

 

Peperangan yang hebat dan tragis,  tak hanya melawan

 

Kompeni juga saudara sendiri.

 

Demikianlah akhir kisah Naya Sentika atau Naya Gimbal. Penampilannya memang urakan seperti berandal, tetapi ia memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi dan andal. Ia berjuang untuk kemerdekaan negeri dan membela kaum yang lemah. Oleh karena itu,  namanya melekat di hati warga Rembang, Blora, dan sekitarnya. Kisahnya melegenda  dan menjadi simbol perlawanan rakyat  kecil terhadap  kaum penjajah, simbol keinginan yang kuat dalam membela dan menegakkan harga diri negerinya.

Naya Gimbal adalah satu di antara  sekian banyak tokoh  perjuangan  rakyat   Nusantara.   Meski  tak  ada bintang jasa yang tersemat  di dada, nama dan jasanya tetap harum dikenang, cerita heroik tentangnya tetap menjadi tuturan yang membanggakan.

Untuk mengenang keberanian dan semangat Naya Sentika dalam berjuang mengusir penjajah dari bumi Nusantara,  rakyat  Blora membangun patung Naya Sentika. Patung tersebut  dibangun pada tahun 1991. Hingga kini  patung  Naya Sentika  masih tegak  berdiri di pertigaan  Desa Bangsri, Kecamatan Jepon. Sebagai

 

pengingat    bahwa    kemerdekaan    tidak                    serta      merta didapatkan,  ia butuh perjuangan panjang.

Tak sia-sia  darah berderai,  air mata berurai,  dan peluh tertumpah, kini kemerdekaan telah diraih. Saatnya pewaris bangsa mengambil tongkat estafet melanjutkan perjuangan   membangun  negeri   dan  mengharumkan bumi pertiwi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *