JAKA DAN NAGA SAKTI

 

 

 

 

“Bagaimana   nasib   pemuda   itu?   Apakah   ia berhasil? Sudah hampir sehari ia pergi. Semoga ia dapat mengalahkannya. Namun, bagaimana bila ia tidak berhasil? Apa yang harus kulakukan? Bagaimana nasib putriku?” batin Prabu Arya Seta cemas.

 

Prabu Arya Seta tampak gelisah. Sudah sejak pagi Prabu Arya Seta hanya berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya. Ia tidak ingin diganggu. Ia telah memerintahkan semua orang di kerajaan untuk tidak mengganggunya seharian ini. Tidak ada yang mempertanyakan perintah Prabu Arya Seta karena mereka memahami perasaannya.

 

Prabu     Arya     Seta     sedang     memikirkan     nasib seorang   pemuda   yang   sedang   bertarung   di   gua   kaki Gunung Arga Dumadi. Apa pun hasil pertarungan itu akan sangat memengaruhi keadaan putrinya, Putri Ayu Rara Kemuning,  dan  dirinya.  Ia  sangat  berharap  pemuda  itu dapat memenangkan pertarungan agar keadaan di kerajaan kembali normal. Sudah berbulan-bulan ini kerajaan tidak dihiasi keceriaan Putri Kemuning. Ia tidak dapat keluar kamar karena kondisinya yang tidak memungkinkan untuk keluar  kamar.  Ia  terkena  penyakit  yang  tidak  biasa  dan

 

membuatnya malu untuk bertemu dengan orang lain. Hanya seorang pelayan yang dapat bertemu dengannya karena harus melayaninya makan dan mandi.

 

Putri Ayu Rara Kemuning adalah seorang putri yang ceria. Ia sangat senang bergaul dengan siapa saja sehingga tak heran semua orang di kerajaan sangat menyayanginya. Ia bahkan pernah berteman sangat akrab dengan seorang anak laki-laki seusianya, cucu salah seorang pelayan kerajaan. Dengan penyakitnya saat ini, ia kehilangan keceriaan dan membuat semua orang di kerajaan bersedih. Ia terkena penyakit bau badan yang tidak sedap. Penyakit ini mungkin tampak tidak terlalu berbahaya, tetapi sangat memengaruhi Putri Kemuning. Ia tidak bisa lagi bebas bergaul dengan orang lain terutama teman-teman seusianya. Beberapa temannya bahkan terkesan menghindarinya. Hal ini membuat Putri Kemuning kehilangan kepercayaan diri hingga memengaruhi keceriaan yang dulu dimilikinya. Tak ada lagi wajah Putri yang berseri-seri. Ia hanya berdiam diri di kamar karena malu akan kondisinya. Prabu Arya Seta tentu sangat sedih melihat perubahan diri putrinya seperti itu.

 

Sejak beberapa bulan yang lalu Prabu Arya Seta telah mendatangkan tabib-tabib dari segala penjuru kerajaan. Namun, tak satu pun berhasil menemukan obat yang dapat menyembuhkan penyakit Putri Kemuning. Kenyataan ini hampir membuatnya putus asa. Suatu hari Prabu Arya Seta akhirnya memutuskan untuk bersemadi. Ia duduk bersila

 

di atas tikar di kamarnya. Matanya terpejam, tetapi selalu terjaga. Ia akan bersemadi hingga mendapatkan petunjuk tentang cara menyembuhkan putrinya.

 

Tiga hari dua malam berlalu. Di malam ketiga, tiba- tiba angin berhembus kencang. Terdengar gemerisik suara daun yang bergoyang-goyang terkena hembusan angin. Api di atas lilin bergoyang ke sana kemari. Cahaya lilin di dalam kamar Prabu Arya Seta pun meredup. Di kejauhan terdengar lolongan serigala dan suara anjing-anjing yang menyalak bersahut-sahutan. Malam ini udara terasa lebih dingin daripada biasanya. Dinginnya udara malam ini mampu membuat bulu kuduk Prabu Arya Seta berdiri. Namun, Prabu Arya Seta tetap dalam posisi duduk bersila dengan mata terpejam. Tiba-tiba terdengar suara halus berbisik di telinga Prabu Arya Seta.

 

“Prabu Arya Seta,” panggil suara halus itu.

 

Suara angin semakin kencang. Udara terasa lebih dingin. Angin berhembus menyentuh tengkuk Prabu Arya Seta hingga membuatnya sedikit menggigil.

 

“Putrimu dapat disembuhkan dengan daun sirna ganda. Daun itu ada di gua kaki Gunung Arga Dumadi. Namun, gua itu dijaga oleh seekor naga sakti. Untuk mendapatkan daun itu, engkau harus mengalahkan naga sakti itu terlebih dahulu.”

 

“Bagaimana  caranya  mengalahkan  naga  sakti  itu?”

batin Prabu Arya Seta.

 

Suara halus itu tampaknya dapat mendengar pertanyaan Prabu Arya Seta karena ia menjawab, “Untuk mengalahkan naga sakti itu, engkau harus mencari orang yang tepat. Adakanlah sayembara. Dalam sayembara itu, engkau akan menemukan orang yang dapat mengalahkan naga sakti dan mengambil daun sirna ganda. Ialah orang yang akan membantumu menyembuhkan putrimu.”

 

“Baik. Terima kasih atas petunjuk yang kau berikan,”

jawab Prabu Arya Seta dalam hati.

 

Tiba-tiba angin tak lagi berhembus kencang. Suara gemerisik daun tak lagi terdengar. Lolongan serigala dan salakan anjing-anjing yang bersahut-sahutan tiba-tiba menghilang. Malam menjadi hening kembali. Udara pun tak sedingin tadi.

 

Prabu Arya Seta perlahan-lahan membuka matanya. Wajahnya   terlihat   lelah,   tetapi   lega.   Akhirnya   ia   tahu obat untuk menyembuhkan putrinya. Kini ia hanya perlu mengadakan sayembara dan menunggu orang yang tepat yang dapat membantunya memperoleh obat bagi putrinya.

 

Keesokan harinya Prabu Arya Seta menceritakan kejadian semalam pada Patih Kebo Rejeng.

 

“Patih, aku sudah bersemadi tiga hari tiga malam untuk mendapatkan petunjuk cara menyembuhkan putriku. Dari semadi semalam, aku mendapatkan petunjuk untuk mengadakan sayembara. Dari sayembara itu aku akan menemukan orang yang bisa mendapatkan obat bagi putriku.”

 

“Apa obat itu, Tuanku?” tanya Patih.

 

 

 

 

Seta.

“Obat itu adalah daun sirna ganda,” jawab Prabu Arya

 

 

“Daun sirna ganda, Tuanku? Hamba belum pernah mendengarnya. Di manakah kita bisa mendapatkan daun itu, Tuanku?”

 

“Daun itu ada di gua kaki Gunung Arga Dumadi.”

 

“Gua kaki Gunung Arga Dumadi, Tuanku?” tanya Patih terkejut.

 

“Betul, Patih.”

 

“Namun, … bukankah gua itu dijaga oleh seekor naga sakti, Tuanku?” tanya Patih.

 

“Iya. Engkau benar. Karena itu jugalah aku harus mengadakan sayembara. Aku harus menemukan orang yang bisa mengalahkan naga sakti itu sebelum ia mengambil daun sirna ganda,” jawab Prabu Arya Seta.

 

“Baik, Tuanku. Lalu, apa imbalan untuk pemenang sayembara itu, Tuanku?” tanya Patih.

 

“Hmmm, siapa pun yang bisa mengalahkan naga sakti dan mendapatkan daun sirna ganda akan mendapatkan imbalan. Jika orang itu laki-laki, aku akan menjadikannya menantu. Jika orang itu perempuan, aku akan memberikan hadiah seribu keping emas.”

 

“Baik, Prabu. Hamba akan segera mengumumkan sayembara itu ke seluruh pelosok kerajaan.”

 

“Terima kasih, Patih.”

 

Prabu Arya Seta tersenyum. Ia sangat berharap dengan adanya sayembara itu, ia akan dapat menemukan seseorang yang bisa mengalahkan naga sakti dan mengambil daun  sirna  ganda  untuk  putrinya.  Putrinya  akan  sembuh dan ceria kembali. Prabu Arya Seta tersenyum lebih lebar membayangkan kesembuhan putrinya. Ia sangat merindukan putrinya yang ceria.

 

Sore itu juga berita tentang akan adanya sayembara terdengar hingga ke seluruh pelosok kerajaan. Pengumuman tentang sayembara itu akan disampaikan langsung oleh Patih Kebo Rejeng di alun-alun kerajaan. Sebagian besar penduduk Kerajaan Ringin Anom berbondong-bondong pergi ke alun- alun kerajaan. Mereka ingin mendengarkan pengumuman itu secara langsung. Alun-alun kerajaan menjadi penuh dengan cepat. Riuh suara orang bercakap-cakap memenuhi

 

alun-alun.   Mereka   menduga-duga   sayembara   apa   yang akan diadakan dan imbalan apa yang akan diterima oleh pemenang sayembara. Ketika orang-orang sibuk bercakap- cakap, tiba-tiba Patih Kebo Rejeng keluar dari istana dan berjalan ke mimbar di bagian depan alun-alun. Melihat Patih Kebo Rejeng, suasana di alun-alun tiba-tiba hening. Mata semua orang tertuju kepada Patih Kebo Rejeng. Mereka menunggu.

 

Sesampainya di mimbar, Patih Kebo Rejeng dengan suara lantang mengumumkan pelaksanaan sayembara. Semua orang di alun-alun mendengarkan dengan saksama.

 

 

 

 

Patih.

“Para  penduduk  Kerajaan  Ringin  Anom,”  panggil

 

 

“Prabu Arya Seta akan mengadakan sayembara untuk mendapatkan obat penyembuh penyakit Putri Ayu Rara Kemuning. Sayembara ini terbuka untuk semua orang. Siapa pun yang bisa mendapatkan obat itu akan diberi imbalan oleh Prabu Arya Seta. Jika orang itu laki-laki, Prabu Arya Seta akan menjadikannya menantu.”

 

Alun-alun menjadi riuh. Terdengar suara teriakan dan percakapan  para pemuda yang senang mendengar imbalan yang akan mereka terima jika mereka bisa mendapatkan obat itu.

 

“Jika orang itu perempuan,” lanjut Patih. Alun-alun kembali hening.

 

 

 

emas.”

“Prabu  Arya  Seta  akan  memberikan  seribu  keping

 

 

Alun-alun kembali ramai dengan tepukan tangan, teriakan, dan percakapan di sana-sini. Semua orang sangat antusias mendengar imbalan yang akan diterima dalam sayembara itu. Beberapa orang bahkan sudah tak sabar untuk mengikuti sayembara itu.

 

“Untuk mendapatkan imbalan itu, sang pemenang sayembara harus bisa mendapatkan obat penyembuh Putri Kemuning.”

 

Alun-alun hening kembali.

 

“Obat itu adalah daun sirna ganda.” Terdengar bisikan di sana-sini.

“Daun itu dapat ditemukan di gua kaki Gunung Arga

Dumadi,” lanjut Patih.

 

Terdengar riuh suara semua orang yang berkumpul di alun-alun kerajaan ketika mendengar kata-kata gua kaki Gunung Arga Dumadi. Semua penduduk Kerajaan Ringin Anom tahu bahwa di gua itu ada seekor naga sakti yang kekuatannya sangat hebat.

 

“Untuk mendapatkan daun itu, peserta sayembara harus mampu mengalahkan naga sakti yang tinggal di dalam gua.  Siapa  pun  yang  dapat  mengalahkan  naga  sakti  dan

 

mendapatkan daun sirna ganda akan mendapatkan imbalan yang tadi disebutkan.”

 

Keriuhan di alun-alun semakin menjadi. Seluruh penduduk    Kerajaan    Ringin    Anom    tumbuh    dewasa dengan cerita-cerita tentang naga sakti itu. Mereka telah mendengar berbagai versi cerita. Menurut cerita-cerita yang beredar, puluhan bahkan ratusan orang pun tak akan bisa mengalahkannya. Saat ini, Prabu Arya Seta mengadakan sayembara untuk mengalahkan naga itu sebelum mendapatkan daun sirna ganda. Semua peserta sayembara harus melawan naga sakti itu terlebih dahulu. Nyali beberapa orang yang tadi sangat antusias ingin mengikuti sayembara seketika menciut. Mereka merasa tidak akan mampu melawan naga sakti itu.

 

“Seluruh peserta diharapkan berkumpul besok pagi di alun-alun ini,” tutup Patih Kebo Rejeng tanpa memedulikan keriuhan di alun-alun.

 

Selesai  mengumumkan  pelaksanaan  sayembara, Patih langsung meninggalkan alun-alun. Semua orang masih tetap berkumpul. Mereka terkejut dengan sayembara yang baru saja diumumkan. Sebagian besar dari mereka juga bertanya-tanya apakah akan ada seseorang yang mampu mengalahkan naga sakti. Alun-alun kerajaan masih ramai hingga matahari hampir tenggelam.

 

Malam hari, pengumuman tentang sayembara itu segera tersebar ke seluruh pelosok kerajaan bahkan hingga ke kerajaan-kerajaan seberang. Patih Kebo Rejeng telah melaksanakan tugasnya dengan baik. Sayembara itu menjadi bahan pembicaraan di mana-mana. Seluruh penduduk Kerajaan Ringin Anom gembira mendengar pengumuman tentang sayembara itu karena telah ditemukan obat untuk Putri Kemuning. Mereka sangat mengharapkan kesembuhan Putri Kemuning. Mereka merindukan kebaikan dan keceriaan Putri Kemuning. Namun, mereka juga merasakan kecemasan. Naga sakti di gua kaki Gunung Arga Dumadi sangat terkenal kekuatannya. Semburan api dari mulutnya sangat mematikan. Mereka berharap akan ada peserta sayembara yang dapat mengalahkan naga sakti itu agar Putri Kemuning dapat sembuh kembali.

 

Keesokan paginya, sebagian besar penduduk Kerajaan Ringin Anom berkumpul kembali di alun-alun. Mereka ingin melihat para peserta sayembara. Di bagian depan alun-alun tampak sekitar lima belas pemuda-pemudi berbadan tegap membawa berbagai senjata seperti pedang, panah, dan tombak. Mereka berdiri dengan gagah. Mereka adalah para peserta sayembara. Beberapa dari mereka adalah peserta dari kerajaan seberang. Mereka semua tampak sangat percaya diri. Mereka yakin dengan kemampuan bertarung mereka.  Semua  peserta  sayembara  telah  berpengalaman

 

bertarung bahkan beberapa dari mereka telah mendapatkan penghargaan dan menjadi pemenang di kompetisi-kompetisi bertarung.

 

Tak berapa lama, Prabu Arya Seta ditemani Patih Kebo Rejeng keluar dari istana menuju alun-alun. Sesampainya di alun-alun, Prabu Arya Seta berjalan menuju mimbar di bagian depan alun-alun. Suasana alun-alun menjadi hening. Pandangan mata semua orang yang ada di alun-alun hanya tertuju pada Prabu Arya Seta.

 

“Para penduduk Kerajaan Ringin Anom,” buka Prabu

Arya Seta dengan suara lantang.

 

“Kita berkumpul hari ini untuk membuka pelaksanaan sayembara dan untuk melepas kepergian para peserta sayembara menuju gua kaki Gunung Arga Dumadi.” Prabu Arya Seta menghela napas.

 

“Kita semua berharap dalam sayembara ini akan ada seorang pemenang yang bisa mengalahkan naga sakti dan mendapatkan daun sirna ganda untuk kesembuhan Putri Ayu Rara Kemuning,” lanjut Prabu Arya Seta.

 

“Bagi para peserta sayembara, aku sangat berharap kalian akan dapat bertarung dengan hebat, mengalahkan naga sakti, dan membawa pulang daun sirna ganda untuk putriku. Semoga kalian berhasil.”

 

Suara tepuk tangan terdengar di alun-alun. Semua yang hadir mengharapkan hal yang sama seperti harapan Prabu Arya Seta. Setelah Prabu Arya Seta turun dari mimbar, para peserta sayembara pun segera berangkat. Mereka berangkat diiringi tepuk tangan semua orang yang ada di alun-alun.

 

Perjalanan ke gua kaki Gunung Arga Dumadi membutuhkan waktu setengah hari. Para peserta sayembara tiba di sana pada siang hari beranjak sore. Setelah perjalanan yang cukup jauh, mereka memutuskan untuk beristirahat sebentar sebelum nantinya harus bertarung menghadapi naga sakti.

 

Setelah   beristirahat sebentar, salah satu peserta berdiri dan mempersiapkan obor serta tombak yang dibawanya. Pemuda itu adalah peserta dari kerajaan seberang.   Ia   tidak   begitu   tahu   soal   naga   sakti   yang tinggal di dalam gua. Ia merasa sangat percaya diri akan kemampuannya bertarung dan ingin membuktikan kepada peserta lain dan semua orang bahwa ia adalah seorang pemberani dan petarung hebat. Setelah obor dan tombak siap, ia masuk ke dalam gua diiringi tatapan dan ucapan “semoga berhasil” dari para peserta yang lain. Di mulut gua, peserta itu menyalakan obor karena keadaan di dalam gua sangat gelap. Perlahan-lahan ia memasuki gua. Sekitar 500 meter dari mulut gua, ia mendengar suara.

 

“Gggggrrrrrrr… Gggggrrrrrrr… Wooooosh! Wooooosh!”

 

Mendengar suara itu, si pemuda berhenti berjalan. Tangannya yang memegang obor dan tombak bergetar. Ia bimbang antara meneruskan berjalan atau kembali ke luar gua. Ia berpikir bahwa ia akan menanggung malu bila kembali ke luar gua. Namanya sebagai seorang petarung tangguh akan tercoreng. Ia pun memutuskan berjalan kembali sambil berusaha memberanikan diri menghadapi sumber suara itu.

 

Beberapa meter kemudian pemuda itu melihat sedikit cahaya dan bayangan disertai suara seperti yang tadi didengarnya. Beberapa saat kemudian cahaya, bayangan, dan suara itu lenyap. Beberapa langkah berjalan, pemuda itu kembali melihat cahaya dan bayangan disertai suara. Tak lama kemudian cahaya, bayangan, dan suara lenyap. Begitu seterusnya. Semakin jauh ia berjalan, cahaya dan bayangan yang tampak semakin besar. Suara yang didengarnya pun semakin keras. Tiba-tiba ia melihat cahaya di hadapannya. Selama beberapa saat dilihatnya pula sesosok makhluk tinggi, besar, dan panjang. Tingginya kurang lebih tiga kali lipat  tinggi  pemuda  itu.  Kepalanya  hampir  menyentuh langit-langit gua. Badannya hampir memenuhi lebar gua. Panjangnya sekitar 200 meter.

 

Melihat makhluk itu sekilas, si pemuda sangat terkejut dan terkesima hingga ia diam tak bergerak. Seluruh badannya bergetar. Matanya hanya tertuju pada makhluk di hadapannya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

15

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

15

 

“Grrrrrrrrrrr… Grrrrrrrrrrrr… Wooooosh! Wooooosh!” Tiba-tiba gua menjadi gelap. Tak ada lagi cahaya obor.

Matahari hampir tenggelam. Para peserta sayembara yang lain sedang menunggu peserta pertama yang masuk ke gua. Sosok pemuda peserta pertama sayembara itu tak muncul-muncul. Mereka mulai bertanya-tanya. Mereka membayangkan apa yang sedang terjadi di dalam gua. Mereka pun bertanya-tanya seperti apakah naga sakti itu. Walaupun mereka sering mendengar cerita dari orang-orang yang lebih tua tentang naga sakti, mereka tetap tidak tahu dengan tepat seperti apakah sosok makhluk yang ditakuti oleh semua orang itu karena versi cerita yang bermacam- macam.

 

Matahari tenggelam. Kesabaran para peserta lain sudah habis. Mereka lelah menunggu peserta pertama keluar gua. Mereka telah menduga berbagai macam kemungkinan hingga kemungkinan terburuk. Ketakutan, kecemasan, dan kelelahan tampak di wajah mereka semua. Namun, mereka telanjur berangkat dengan penuh percaya diri. Kembali ke kerajaan tanpa bertarung terlebih dahulu dengan naga sakti akan memperlihatkan kelemahan mereka dan tentunya memalukan. Tidak ingin menunggu lebih lama, mereka akhirnya berunding untuk menentukan orang kedua yang akan masuk ke dalam gua.

 

Dari hasil perundingan, peserta kedua pun berdiri dan mempersiapkan senjatanya. Kali ini peserta kedua bersenjatakan pedang. Pemuda itu adalah penduduk Kerajaan Ringin Anom. Ia telah mendengar berbagai versi cerita naga sakti. Ia memberanikan diri pergi mengikuti sayembara untuk mendapatkan imbalan yang akan diberikan dan untuk membuktikan pada seluruh penduduk Kerajaan Ringin Anom bahwa ia adalah seorang petarung hebat. Ia pun mempersiapkan obor dan pedangnya. Setelah siap, ia berjalan memasuki gua.

 

Para   peserta   lain   kembali   menunggu   apa   yang akan terjadi dengan peserta kedua. Beberapa dari mereka mempersiapkan senjata yang mereka bawa. Beberapa peserta yang lain saling bercakap-cakap. Umumnya mereka membicarakan  cerita-cerita  yang  beredar  tentang  naga sakti. Tak jarang mereka saling membicarakan kelebihan masing-masing. Mereka membicarakan penghargaan dan kemenangan yang pernah mereka dapatkan. Mereka juga membicarakan imbalan yang akan mereka peroleh bila nanti dapat memenangkan pertarungan melawan naga sakti.

 

Malam kian larut. Peserta lainnya telah lelah menunggu, tetapi peserta kedua tak juga kelihatan batang hidungnya. Sekian lama menunggu, semua peserta merasa lelah dan akhirnya memutuskan untuk beristirahat. Mereka akan kembali bertarung besok pagi.

 

Tujuh hari berlalu. Tak ada kabar menyenangkan datang dari kaki Gunung Arga Dumadi. Belum ada satu pun peserta yang dapat mengalahkan naga sakti. Bahkan, semua peserta yang telah masuk ke dalam gua tidak ada yang keluar kembali. Peserta yang tersisa hanya dua orang. Prabu Arya Seta yang hanya bisa menunggu di istana mulai merasa putus asa. Ia hanya bisa pasrah menunggu.

 

Ketika Prabu Arya Seta masih di kamarnya menunggu kabar baik datang, Patih Kebo Rejeng tiba-tiba datang ingin menghadap. Salah seorang penjaga pun masuk ke kamar Prabu Arya Seta untuk memberitahukan kedatangan Patih.

 

“Maaf, Tuanku. Patih Kebo Rejeng memohon untuk menghadap,” lapor penjaga sambil berlutut.

 

“Patih Kebo Rejeng? Ada persoalan apa ia kemari? Apakah ia akan memberikan kabar baik dari kaki Gunung Arga Dumadi?” batin Prabu Arya Seta sambil tersenyum. Prabu Arya Seta sangat berharap Patih akan memberikan kabar gembira.

 

 

 

 

Seta.

“Baiklah. Persilakan ia masuk,” perintah Prabu Arya

 

 

“Baik, Tuanku,” balas si penjaga.

 

Tak  lama  kemudian  Patih  Kebo  Rejeng  memasuki kamar Prabu Arya Seta dan langsung berlutut di hadapannya.

 

“Tuanku, maafkan hamba karena kedatangan hamba telah mengganggu istirahat Tuan,” kata Patih.

 

“Engkau tidak menggangguku, Patih. Katakan. Katakan berita gembira itu padaku,” kata Prabu Arya Seta dengan gembira.

 

“Maaf, Tuanku. Hamba kemari bukan untuk mengabarkan kabar baik dari kaki Gunung Arga Dumadi,” balas Patih.

 

“Apa? Belum ada kabar baik dari sana?” raut wajah

Prabu Arya Seta kembali muram.

 

“Maafkan hamba, Tuanku. Belum ada kabar apa pun dari sana,” jawab Patih.

 

 

 

 

Seta.

“Lalu, untuk apa engkau kemari?” tanya Prabu Arya

 

 

“Ada seseorang yang ingin bertemu Tuanku. Ia ingin mengikuti sayembara itu,” jawab Patih.

 

“Persilakan saja ia menyusul ke gua itu. Sayembara itu terbuka untuk semua orang.”

 

“Maaf, Tuanku. Orang itu bersikeras ingin bertemu dengan Tuan. Hamba rasa Tuan juga harus bertemu dengannya terlebih dahulu sebelum Tuan memutuskan untuk mengizinkannya ikut sayembara.”

 

“Aku harus bertemu dengannya? Ada apa dengan orang itu?”

 

“Hamba tidak bisa mengatakannya, Tuan. Lebih baik Tuan melihatnya sendiri. Dapatkah hamba panggilkan orang itu sekarang, Tuan?”

 

Prabu Arya Seta penasaran.

 

“Baiklah. Antarkan ia ke ruang pertemuan. Aku akan menemuinya di sana.”

 

“Baik, Tuan.”

 

Prabu Arya Seta diliputi rasa keheranan dan penasaran. Ia bertanya-tanya siapa orang itu, ada apa dengannya, dan mengapa ia harus menemuinya. Untuk menghilangkan rasa keheranan dan penasarannya, Prabu Arya Seta segera meninggalkan kamarnya menuju ruang pertemuan.

 

Sambil menunggu tamunya di ruang pertemuan, pikiran Prabu Arya Seta dipenuhi tanda tanya. Ia tak sabar ingin  segera  bertemu  dengan  tamunya  itu.  Ketika  Prabu Arya Seta sibuk dengan pikiran dan dugaannya, pintu ruang pertemuan terbuka. Seorang penjaga masuk dan berlutut.

 

“Tuanku, Patih Kebo Rejeng memohon menghadap,”

lapor penjaga.

 

“Baik. Persilakan ia masuk,” perintah Prabu Arya Seta. “Baik, Tuanku,” balas penjaga.

Tak lama kemudian Patih memasuki ruang pertemuan. Patih tidak sendiri. Ia ditemani oleh seorang pemuda. Melihat pemuda yang datang bersama Patih, Prabu Arya Seta tampak terkejut dan terkesima. Mata Prabu Arya Seta tak lepas dari sosok di sebelah Patih. Sosok pemuda tinggi semampai dengan badan yang tegap. Sebilah keris terselip di pinggangnya. Ia membawa sebuah gembolan pakaian.  Dari  penampakan  awal,  tidak  terlihat  ada  yang aneh dengan pemuda ini. Namun, ketika dilihat lebih dekat, tampak borok-borok, luka-luka bernanah dan membusuk, di seluruh badan dan wajahnya. Di beberapa bagian tampak borok-borok yang telah mengering berwarna hitam. Borok- borok itu terlihat menjijikkan.

 

Prabu Arya Seta bertanya-tanya dalam hati. “Apakah pemuda ini yang dimaksudkan Patih tadi? Apakah ia yang datang untuk mengikuti sayembara?”

 

 

 

 

Seta.

Patih dan pemuda itu berlutut di hadapan Prabu Arya

 

 

“Tuanku,  hamba  datang  bersama  tamu  yang  tadi hamba bicarakan,” kata Patih.

 

Prabu Arya Seta masih terkesima. Mata Prabu Arya

Seta masih tak lepas dari pemuda itu. “Tuanku,” panggil Patih.

“Oh, ya. Iya, Patih. Aku tahu,” balas Prabu Arya Seta tergagap. Prabu Arya Seta berusaha untuk membiasakan diri melihat pemuda dengan badan penuh borok itu walaupun dirinya merasa jijik.

 

“Tuanku,” kata pemuda itu.

 

“Anak Muda, aku tahu tujuanmu kemari. Kau ingin mengikuti sayembara. Patih telah mengatakannya padaku tadi. Ia juga mengatakan kau ingin bertemu denganku. Coba jelaskan apa maksudmu ingin menemuiku,” kata Prabu Arya Seta.

 

“Maafkan hamba, Tuanku, bila hamba lancang meminta bertemu dengan Tuan. Hamba memang ingin mengikuti sayembara yang Tuan adakan. Namun, hamba ingin meminta izin kepada Tuan secara pribadi agar Tuan dapat melihat keadaan hamba sebelum Tuan memutuskan apakah hamba dapat mengikuti sayembara atau tidak. Setelah Tuan melihat keadaan hamba sekarang, hamba serahkan keputusan kepada Tuan,” jawab pemuda itu.

 

Prabu Arya Seta terdiam. Ia bimbang melihat keadaan si pemuda. Di satu sisi, pemuda itu memiliki penyakit yang

 

belum tentu dapat disembuhkan. Di sisi yang lain, pemuda itu memiliki kesantunan dan tekad yang mengagumkan.

 

“Pemuda ini santun sekali. Ia tidak menunjukkan kesombongan seperti peserta-peserta sebelumnya, tetapi penyakitnya mungkin tidak dapat disembuhkan. Jika ia menang dalam sayembara ini, aku harus menerimanya sebagai menantuku. Bagaimana nasib putriku nanti? Namun, jika aku tidak mengizinkannya, apakah akan ada orang lain yang akan mengikuti sayembara ini? Di kaki gunung itu hanya tersisa dua peserta. Apakah salah satu dari mereka akan berhasil? Jika tidak ada yang berhasil, putriku tidak akan sembuh,” pikir Prabu Arya Seta.

 

“Aku perlu waktu untuk memutuskan, Anak Muda. Bisakah engkau kembali besok?” tanya Prabu Arya Seta.

 

“Baik, Tuanku. Hamba akan datang kembali besok. Terima kasih, Tuan,” jawab pemuda itu.

 

“Oh, maafkan aku. Aku lupa menanyakan namamu. Siapa namamu, Anak Muda?”

 

“Nama hamba Jaka Budug, Tuan.”

 

“Jaka Budug. Baiklah. Aku akan memberi keputusan besok.”

 

“Baik, Tuan. Hamba mohon diri.”

 

Jaka Budug meninggalkan ruang pertemuan ditemani Patih  Kebo  Rejeng.  Sepeninggal  Jaka  Budug  dan  Patih Kebo Rejeng, pikiran Prabu Arya Seta langsung dipenuhi kebimbangan.

 

“Apa yang harus kulakukan? Apakah aku harus mengizinkannya  ikut  sayembara?  Hingga  hari  ini  belum ada berita baik yang datang dari gua kaki Gunung Arga Dumadi. Belum ada peserta yang berhasil. Bagaimana jika Jaka Budug adalah orang yang bisa mengalahkan naga sakti? Bagaimana jika hanya ia yang bisa mendapatkan obat bagi putriku? Namun, jika ia pemenang sayembara ini, aku harus menikahkannya dengan putriku. Bagaimana nasib putriku nanti setelah menikah dengannya? Bagaimana ini?” pikir Prabu Arya Seta.

 

Pikiran dan perasaan Prabu Arya Seta berkecamuk. Hatinya bimbang. Sepanjang hari ia hanya berdiam diri di kamar memikirkan keputusan apa yang harus diambilnya. Hingga matahari tenggelam ia masih belum bisa memutuskan. Hari semakin malam. Prabu Arya Seta akhirnya memutuskan untuk mengutamakan kepentingan putrinya di atas yang lain. Pada tengah malam akhirnya Prabu Arya Seta telah membuat keputusan. Ia berharap keputusan ini tak akan ia sesali.

 

Keesokan harinya, Prabu Arya Seta sudah menunggu Jaka Budug di ruang pertemuan. Ia sudah tak sabar ingin segera  menyampaikan  keputusan  yang  telah  diambilnya

 

semalam. Tak berapa lama seorang penjaga masuk dan menyampaikan kedatangan Patih dan Jaka Budug. Prabu Arya Seta mempersilakan. Patih dan Jaka Budug lalu masuk dan berlutut di hadapan Prabu Arya Seta. Walaupun pertemuan kali ini bukan pertemuan pertamanya dengan Jaka Budug, Prabu Arya Seta tetap saja masih terkesima melihat Jaka Budug.

 

“Tuanku,” kata Patih dan Jaka Budug bersamaan. “Patih, Jaka Budug,” balas Prabu Arya Seta.

“Aku sudah membuat keputusan atas permintaanmu kemarin, Jaka Budug,” lanjut Prabu Arya Seta. Jaka Budug menatap Prabu Arya Seta. Ia menunggu keputusan Prabu Arya Seta.

 

Prabu Arya Seta menarik napas panjang lalu berkata “Kuizinkan kau mengikuti sayembara. Kuharap kau dapat bertarung dengan baik, Jaka Budug. Semoga berhasil.”

 

“Terima kasih, Tuanku,” balas Jaka Budug sambil tersenyum senang.

 

“Namun, sebelum hamba berangkat, bolehkah hamba meminta sesuatu, Tuanku?” lanjut Jaka Budug.

 

“Katakan apa permintaanmu,” balas Prabu Arya Seta. “Izinkan hamba melihat keadaan Tuan Putri, Tuanku.”

 

“Apa? Engkau ingin menemui putriku?”

 

“Benar,   Tuanku.   Bolehkah   hamba   melihat   Tuan

Putri?” tanya Jaka Budug.

“Untuk apa kau ingin melihat keadaan putriku?” “Hamba hanya ingin tahu seberapa parah penyakit

Tuan Putri.”

 

Prabu Arya Seta tak berkata apa-apa. Ia berpikir sebentar lalu berkata “Baiklah. Kuizinkan kau melihat keadaan Tuan Putri.”

 

Prabu Arya Seta, Patih, dan Jaka Budug lalu meninggalkan ruangan pertemuan bersama-sama menuju kamar Putri Kemuning. Mereka bertiga berhenti di depan pintu kamar Putri Kemuning. Salah seorang penjaga memberikan saputangan kepada mereka bertiga. Setelah menerima saputangan itu, mereka masuk ke dalam kamar dan bertemu dengan Putri Kemuning. Ketika mereka masuk, bau  yang  tidak  sedap  menyengat  hidung  mereka.  Bau itu membuat mereka mual. Mereka lantas menggunakan saputangan yang telah diberikan penjaga untuk menutupi hidung mereka. Saputangan itu sangat membantu. Bau yang menyengat berkurang.

 

Kamar Putri Kemuning memiliki dua ruang utama, ruang tamu dan ruang tidur. Prabu Arya Seta langsung masuk ke dalam ruang tidur Putri sementara Patih dan Jaka Budug menunggu di ruang tamu.

 

“Putriku,” panggil Prabu Arya Seta. “Ayah,” balas Putri Kemuning.

“Aku kemari untuk melihat keadaanmu. Aku kemari bersama Patih Kebo Rejeng dan Jaka Budug.”

 

“Jaka Budug? Siapa itu, Ayah?”

 

“Ia salah satu peserta sayembara. Ia ingin melihat keadaanmu sebelum berangkat ke gua kaki Gunung Arga Dumadi.”

 

“Untuk apa ia ingin melihat keadaanku, Ayah?”

 

“Ia hanya ingin tahu seberapa parah penyakitmu.” “Baiklah, Ayah.”

Prabu Arya Seta pun keluar dan mempersilakan Jaka

Budug masuk ke ruang tidur Putri Kemuning.

 

“Tuan Putri,” kata Jaka Budug sambil berlutut.

 

Putri  Kemuning  terkejut  melihat  sosok  yang  baru saja masuk ke ruang tidurnya. Ia melihat seorang pemuda dengan badan penuh borok. Borok-borok itu menjijikkan. Lama ia perhatikan pemuda itu dari atas ke bawah. Ia merasa mual hanya dengan melihatnya. Namun, mata itu. Ia merasa mengenalnya.

 

“Tuan Putri,” ulang Jaka Budug.

 

Putri Kemuning tergagap, “Eh, iya. Iya. Maaf.”

 

“Jadi, engkau yang bernama Jaka Budug?” tanya Putri

Kemuning.

 

 

 

 

Budug.

“Benar, Tuan Putri. Hamba Jaka Budug,” jawab Jaka

 

 

“Ayah mengatakan kau ingin melihat keadaanku.” “Benar, Tuan Putri.”

“Baiklah. Lihatlah aku baik-baik. Beginilah keadaanku. Badanku bau. Tidak ada yang tahan dengan bau badanku. Engkau pun memerlukan saputangan untuk bertemu aku. Aku  tidak  bisa  keluar  berjalan-jalan  seperti  dulu.  Aku malu. Semua orang akan menghindariku. Jadi, aku memilih berdiam diri di kamar saja,” cerita Putri Kemuning dengan sedih.

 

“Maafkan hamba, Tuan Putri. Bukan maksud hamba membuat Tuan Putri bersedih,” kata Jaka Budug.

 

“Aku tahu. Nah, kini kau sudah melihat keadaanku. Ada lagi yang kau inginkan?” balas Putri Kemuning sambil menatap mata Jaka Budug. “Mata itu. Aku mengenal mata itu,” batin Putri Kemuning.

 

“Tidak, Tuan Putri. Terima kasih. Hamba mohon maaf atas kelancangan hamba mengganggu istirahat Tuan Putri. Hamba permisi,” balas Jaka Budug. Ia lalu melangkah keluar ruang tidur Putri Kemuning.

 

“Maaf !” kata Putri Kemuning tiba-tiba.

 

Jaka Budug membalik badan dan berkata “Iya, Tuan

Putri. Ada apa?”

 

“Maafkan aku. Namun, bolehkah aku menanyakan sesuatu?”

 

Jaka Budug tersenyum lalu menjawab “Tuan Putri ingin bertanya soal penyakitku?”

 

“Eh… eh… Iya. Bagaimana kau bisa terkena penyakit itu? Sejak kapan kau terkena penyakit itu?”

 

“Hamba terkena penyakit ini sejak hamba berumur enam  tahun.  Hamba  tidak  tahu  pasti  bagaimana  hamba bisa terkena penyakit ini. Hamba hanya tahu bahwa tiba- tiba suatu malam badan hamba panas tinggi dan keesokan paginya di badan hamba muncul borok-borok seperti ini. Mulanya borok-borok ini hanya muncul di beberapa bagian badan hamba, tetapi lama-kelamaan menyebar hingga ke seluruh tubuh. Tidak ada seorang tabib pun yang tahu obat bagi penyakit hamba ini. Hamba hanya bisa pasrah menerima penyakit hamba ini,” jawab Jaka Budug sambil tersenyum.

 

Putri Kemuning terdiam. Ia sangat mengagumi kepasrahan yang ditunjukkan oleh pemuda di hadapannya ini.

 

“Baiklah. Terima kasih kau telah bersedia menjawab pertanyaanku,” kata Putri Kemuning.

 

“Baik,  Tuan  Putri.  Hamba  mohon  diri,”  balas  Jaka

Budug sambil kembali tersenyum. Ia lalu melangkah keluar. “Mata itu!” desis Putri Kemuning.

Sepeninggal Jaka Budug, Putri Kemuning termenung. Ia memikirkan mata itu. Mata yang teduh. Ia merasa tenang bila memandangi mata itu. Ia mengenalnya. Namun, mata itu milik Jaka Budug. Ia tidak habis pikir. Mata dan penampilan yang sangat berbeda. Badan penuh borok itu. Menjijikkan. Ia memikirkan kemungkinan kemenangan Jaka Budug dalam sayembara itu.

 

“Jaka Budug akan mengikuti sayembara itu. Jika ia dapat mengalahkan naga sakti dan membawa daun sirna ganda, aku harus menikahinya. Tidak! Tidak! Itu tidak mungkin terjadi! Aku tidak mungkin menikah dengannya!” batin Putri Kemuning sambil menggelengkan kepala.

 

Putri Kemuning tidak dapat membayangkan dirinya menikahi  seseorang  berpenyakit  seperti  Jaka  Budug. Namun, keputusan ayahnya tidak akan mungkin diubah. Ia

 

tidak mungkin menolak. Ia hanya bisa pasrah dan berdoa agar Jaka Budug tidak dapat mengalahkan naga sakti. Ia pun menangis.

 

Hari itu juga Jaka Budug pergi menuju gua di kaki Gunung Arga Dumadi disaksikan Prabu Arya Seta dan Patih Kebo Rejeng. Ia berangkat dengan senyum bahagia. Setelah bertemu  Putri  Kemuning,  ia  merasa  lebih  bersemangat. Ia percaya bahwa ia akan mampu mengalahkan naga sakti dan mengambil daun sirna ganda untuk mengobati Putri Kemuning. Jika ia berhasil, ia akan dapat menikah dengan putri itu. Senyumnya melebar. Angin berhembus agak kencang dan menerpa wajah bahagia Jaka Budug. Rambutnya bergoyang-goyang diterpa angin. Jaka Budug menarik napas dalam-dalam dan melangkah meninggalkan istana Ringin Anom.

 

Jaka  Budug  tampak  menikmati  perjalanannya  ke gua kaki Gunung Arga Dumadi. Tak terasa setengah hari berlalu. Ia telah sampai di kaki Gunung Arga Dumadi. Ia berhenti di depan gua yang dituju. Tak terlihat seorang pun peserta sayembara di depan gua. Tampaknya mereka semua telah masuk ke dalam gua dan tidak ada satu pun berhasil keluar. Jaka Budug memilih beristirahat sebentar untuk mempersiapkan diri dan kerisnya. Keris itu adalah senjata keluarga yang diturunkan selama lebih dari seratus tahun. Sambil mengasah kerisnya, Jaka Budug berharap kerisnya itu dapat mengalahkan naga sakti.

 

Setelah beristirahat sebentar dan keris sudah terasah, Jaka Budug menyiapkan obor untuk menerangi jalannya nanti di dalam gua. Setelah obor siap, Jaka Budug pun melangkah memasuki gua. Di mulut gua, Jaka Budug berdoa untuk keselamatannya dan untuk keberhasilannya nanti. Setelah berdoa, ia pun melangkah masuk ke dalam gua. Beberapa meter melangkah, kegelapan gua mulai mengitarinya. Jaka Budug menyalakan obor. Nyala obor mampu memberinya penerangan untuk beberapa meter ke depan. Jaka Budug melangkah kembali.

 

Beberapa ratus meter ke dalam, Jaka Budug mulai melihat cahaya dan bayangan. Ia juga mulai mendengar suara-suara.  Cahaya,  bayangan,  dan  suara  itu  timbul hilang. Makin jauh ia melangkah, makin jelas ia melihat kilasan cahaya dan bayangan besar serta suara besar yang menggema. Cahaya itu sangat terang. Bayangan itu sangat besar. Suara itu sangat keras. Jantung Jaka Budug berdetak cepat. Dag dig dug, dag dig dug. Bulu kuduknya berdiri. Ia menarik napas panjang lalu memejamkan matanya sebentar. Ia berusaha menenangkan jantungnya yang berdetak cepat. Ia berusaha untuk memberanikan diri menghadapi apa pun yang ada di hadapannya nanti. Ia kembali bernapas panjang. Setelah berhasil mengontrol detak jantungnya, Jaka Budug membuka matanya dan mulai berjalan kembali.

 

Setelah berjalan beberapa ratus meter lagi ke dalam, Jaka Budug berhenti. Cahaya obor yang dibawanya mengenai sesuatu berwarna hijau berukuran hampir sebesar kedua

 

tangannya. Sesuatu itu memiliki bagian yang runcing berwarna agak kekuningan. Saat ia sedang mengamati sesuatu itu, tiba-tiba didengarnya suara.

 

“Grrrrrrrrrrrrr… Grrrrrrrrrrrr…”

 

Ketika suara itu terdengar, terlihat sesuatu berwarna hijau yang sedang diamatinya bergerak dan bergesekan dengan pasir di lantai gua.

 

“Wooooosh! Wooooosh!”

 

Tiba-tiba terlihat cahaya yang menyilaukan di atas gua. Pandangan Jaka Budug berpindah ke atas. Matanya terbelalak. Dilihatnya sesosok makhluk hijau tinggi besar sedang menyemburkan api. Cahaya api yang disemburkan makhluk itu hanya bisa menerangi gua sekilas, tetapi cukup terang bagi Jaka Budug sehingga ia dapat melihat makhluk itu dengan jelas. Tinggi dan besarnya makhluk itu hampir memenuhi  tinggi  dan  besarnya  gua.  Badan  yang  tinggi, besar, dan panjang itu dilengkapi dengan kepala yang besar. Di kepalanya ada dua tanduk kecil. Ada dua sungut di dekat hidungnya. Mata makhluk itu besar dan menakutkan.

 

“Na… ga… sak… ti…” kata Jaka Budug sambil terkesima melihat makhluk besar di hadapannya.

 

“Jadi inilah naga sakti yang sering diceritakan orang- orang. Tak heran jika orang-orang mengatakan puluhan bahkan ratusan orang tak bisa mengalahkannya. Naga ini

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

34

 

sangat  besar.  Semburan  apinya  sangat  mematikan.  Aku harus berhati-hati,” kata Jaka Budug dalam hati.

 

Cahaya obor Jaka Budug menarik perhatian naga sakti. Ia lantas menundukkan kepala ke arah Jaka Budug. Jaka Budug melangkah mundur untuk menghindari kepala naga sakti. Sekarang matanya berhadapan dengan mata naga sakti.

 

“Grrrrrrrrrrrrrrr…”  bunyi  naga  sakti.  Tampak  air liur naga sakti menetes di kanan kiri mulutnya yang agak terbuka.

 

Jaka Budug dapat melihat gigi-gigi naga sakti yang bertaring tajam. Tangannya bergetar. Ada sedikit rasa ketakutan yang muncul, tetapi ia telah bertekad untuk membawa obat penyembuh Putri Kemuning. Ia harus mengalahkan makhluk ini. Keberaniannya kembali muncul. Ia pun mulai memikirkan strategi untuk menyerang naga sakti.

 

Sebelum sempat Jaka Budug melakukan serangan pertama,   dilihatnya   kepala   naga   sakti   bergerak   agak ke  belakang.  Naga  sakti  tampak  menarik  napas.  Tiba- tiba    “Woooooosh!!!!”    Naga    sakti    menyemburkan    api dari mulutnya ke arah Jaka Budug. Jaka Budug berusaha menghindar dengan berlari ke bagian kanan gua. Ia berlari dengan sekuat tenaga. Nyaris. Hampir saja api itu mengenai

 

badannya. Walaupun api itu tidak mengenainya, ia dapat merasakan panasnya api itu. Setelah serangan pertama naga sakti, Jaka Budug makin berhati-hati dalam bergerak.

 

Jaka Budug memperhatikan gerak-gerik naga sakti dengan saksama. Tampaknya Naga Sakti sangat tertarik dengan cahaya obor yang dibawa Jaka Budug. Pandangan matanya  selalu  mengikuti  gerak-gerik  obor  yang  dibawa Jaka Budug. Jaka Budug akan memanfaatkan cahaya itu untuk menarik perhatian naga sakti. Ia melihat ke sekeliling gua. Ada sebuah lubang di dinding gua dekat dari tempatnya berdiri. Lubang itu ada di bagian yang agak lebih tinggi dari badannya. Diletakkannya obor itu di lubang dinding itu. Naga sakti mengikuti cahaya obor itu. Kepalanya bergerak agak ke atas. Jaka Budug menyiapkan kerisnya. Dengan gerakan cepat, ia lalu menancapkan kerisnya ke leher naga sakti.

 

“Grrrroooooooaaaaaaarrrrrrrr!!!!”

 

Naga sakti mengamuk. Ia menggerakkan kepalanya agak memutar ke atas. Mulutnya terbuka lebar. Lalu, naga itu menyemburkan api. Semburan api itu tak terarah dan tidak mengenai Jaka Budug. Tampaknya tancapan keris Jaka Budug membuat naga sakti marah. Jaka Budug tak menyia- nyiakan kesempatan. Ia kembali menancapkan kerisnya ke kaki kanan naga sakti. Naga sakti kembali mengamuk. Kali ini ia mengarahkan kepalanya ke arah Jaka Budug.

 

Naga sakti menyemburkan api ke arah Jaka Budug. Jaka Budug berlari ke belakang untuk menghindari semburan api. Setelah semburan api hilang, Jaka Budug kembali berlari ke depan dan kali ini mengincar kaki kiri naga sakti. Keris pun berhasil ditancapkan di kaki kiri naga sakti. Naga sakti bergerak. Kali ini ia tidak hanya menggerakkan kepala. Ia menggerakkan kakinya. Kaki kiri naga sakti terangkat. Jaka Budug berada tepat di bawahnya. Jaka Budug melihat ke atas. Secepatnya ia berlari ke kanan lalu melompat.

 

“Buummmmm!!!!”

 

Kaki naga sakti menyentuh tanah. Nyaris saja. Jaka Budug terjatuh tepat di sebelah kaki kiri naga sakti. Napasnya tersengal-sengal. Wajahnya menyentuh tanah. Cepat-cepat ia berdiri. Ia memegang kerisnya erat-erat. Naga sakti kembali mengangkat kakinya. Kali ini ia mengangkat kaki kanannya. Ketika kaki kanan naga sakti terangkat, Jaka Budug berlari cepat ke bawah kaki naga sakti. Ia kembali menancapkan kerisnya ke telapak kaki kanan naga sakti. Naga sakti yang kesakitan menggerakkan kakinya yang masih terangkat ke kanan dan ke kiri. Jaka Budug yang belum sempat menarik kerisnya ikut terangkat dan terayun kencang ke kanan dan ke kiri. Naga sakti lalu menyepakkan kakinya ke depan. Jaka Budug terayun ke depan dan tiba-tiba kerisnya terlepas dari telapak kaki naga sakti. Jaka Budug pun terlempar ke depan.

 

Badan Jaka Budug terhempas ke tanah. Ia meringis kesakitan. Ia merasakan sakit terutama di punggungnya yang langsung mengenai tanah ketika terhempas tadi. Cukup lama ia terbaring di atas tanah. Napasnya tersengal-sengal. Ia berusaha berdiri. Bajunya penuh dengan tanah dan keringat. Ia lantas berdiri sambil meringis dan memegangi punggungnya. Sakitnya masih terasa, tetapi ia harus tetap berjuang demi Putri Kemuning.

 

Setelah berhasil berdiri tegak, Jaka Budug melangkah ke depan dan kembali berhadapan dengan naga sakti. Baru saja ia berhasil berdiri tegak, dilihatnya mata naga sakti melihat tepat ke arahnya. Mulut naga sakti yang besar itu agak terbuka. Kepala besar itu lalu bergerak sedikit ke belakang. Tampaknya naga sakti sedang mengambil napas panjang. Jaka Budug hanya mengamati. Tiba-tiba “Wooooosh!!!!” Naga sakti menyemburkan api. Jaka Budug bergerak menjauh ke kanan dengan cepat. Kepala naga sakti bergerak ke kanan mengikuti  Jaka  Budug.  Semburan  api  kedua  menyerang Jaka Budug. Api mengenai ujung bajunya. Napasnya kembali tersengal-sengal. Jantungnya berdetak cepat. Ia tak mengira naga sakti akan menyemburkan api langsung kepadanya. Panasnya semburan api naga sakti membuat Jaka Budug berkeringat. Hawa di dalam gua semakin panas.

 

Jaka Budug berlari ke kanan, ke kiri, ke depan, dan ke belakang untuk menghindari serangan dan semburan api naga sakti. Ia sempat menggores badan naga sakti, tetapi

 

goresan itu tidak berarti apa-apa. Goresan itu hanya membuat naga sakti semakin mengejarnya. Ia lelah. Sudah hampir setengah hari Jaka Budug bertarung tanpa henti dengan naga sakti, tetapi hingga saat ini ia belum menemukan celah untuk dapat mengalahkannya.

 

“Apa yang harus kulakukan? Naga ini terlalu hebat. Aku harus mencari cara lain untuk mengalahkannya,” batin Jaka Budug sambil berusaha mengatur napasnya.

 

Hawa di dalam gua semakin panas. Keringat di badan Jaka Budug mengucur deras. Jaka Budug kelelahan. Ia juga kehausan. Karena kelelahan dan hawa panas gua yang menyengat, Jaka Budug akhirnya memutuskan untuk keluar gua dan beristirahat. Di lantai gua ia melihat sebuah obor tergeletak. Obor itu milik salah satu peserta sayembara yang telah bertarung dengan naga sakti. Ketika naga sakti lengah, perlahan-lahan Jaka Budug bergerak mengambil obor itu tanpa menyalakannya. Kemudian ia melangkah mundur perlahan-lahan. Setelah dirasa cukup jauh dari tempat naga sakti, Jaka Budug menyalakan obornya lalu berjalan keluar gua.

 

Suasana di luar gua sangat berbeda dengan suasana di dalam gua. Tampak Gunung Arga Dumadi yang tinggi dan bukit-bukit di kaki gunung. Di bawah tampak hamparan sawah hijau yang luas dan menyejukkan mata. Jaka Budug duduk di atas sebuah batu besar sambil meneguk minuman

 

yang dibawanya dari rumah. Dinginnya air mengaliri tenggorokannya yang kering dan panas akibat pertarungan dan hawa panas gua. Sambil beristirahat, ia tetap memikirkan cara-cara lain yang dapat dilakukan untuk mengalahkan naga sakti.

 

“Benar-benar pertarungan yang melelahkan. Naga itu memang sakti. Ia tidak dapat dikalahkan hanya dengan keris. Aku harus memutar otak untuk mengalahkannya,” batin Jaka Budug.

 

Sambil beristirahat, Jaka Budug melihat daerah sekitar  gua.  Angin  berhembus  pelan.  Keringat  di  kening Jaka Budug perlahan-lahan menghilang. Terbuai dengan angin dan pemandangan sekitar yang menyejukkan, Jaka Budug   memutuskan   untuk   memejamkan   mata   sejenak untuk memulihkan tenaganya yang habis terkuras dalam pertarungan melawan naga sakti. Ia akan mencari cara lain mengalahkan naga sakti setelah bangun nanti.

 

Sementara  itu  di  Kerajaan  Ringin  Anom  tampak Putri Kemuning sedang termenung di dalam kamarnya. Ia merenungi nasibnya yang tak pasti. Nasibnya kini sepenuhnya ada di tangan Jaka Budug. Jaka Budug yang berpenyakit, tetapi bertekad kuat. Jaka Budug yang berpenyakit, tetapi berani. Jaka Budug yang berpenyakit, tetapi bermata menarik. Mata yang kukenal. Sorot mata yang teduh dan tenang. Mata yang membuatnya bertanya-tanya. Mata yang mampu membuat jantungnya serasa berhenti berdetak sejenak.

 

“Tidak! Tidak! Mengapa aku memikirkan Jaka Budug? Mengapa   aku   memikirkan   mata   itu?   Mengapa?”   batin Putri Kemuning sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Putri Kemuning tak bisa memungkiri perasaannya yang tertarik kepada sosok Jaka Budug. Ia tak bisa menahan segala pertanyaan yang muncul di kepalanya tentang siapa Jaka Budug dan mata Jaka Budug yang selalu membuatnya penasaran. Ia terlena dengan sosok dan mata misterius Jaka Budug.

 

Matahari beranjak turun. Hari mulai sore. Perlahan- lahan Jaka Budug membuka matanya. Istirahat yang sebentar tadi sangat membantu Jaka Budug. Tenaganya kini sudah pulih kembali. Rasa sakit di punggungnya masih terasa. Ia berusaha berdiri sambil meringis menahan rasa sakit. Sambil berusaha meluruskan punggungnya, Jaka Budug melihat ke sekeliling. Pandangannya mengitari daerah sekeliling gua dan tiba-tiba berhenti di satu arah. Jaka Budug tersenyum. Wajahnya tampak senang. Ia sudah menemukan cara yang mungkin akan dapat mengalahkan naga sakti. Ia bernapas lega. Ia segera bersiap melaksanakan rencana yang telah disusunnya untuk mengalahkan naga sakti.

 

Jaka Budug menyiapkan obor dan kerisnya. Setelah siap,  ia  berjalan  menuju  bukit  yang  berada  tepat  di  atas gua. Sesampainya di bukit, Jaka Budug melihat sekeliling dan menemukan sebuah batang pohon tergeletak di samping  sebuah  pohon  besar.  Batang  itu  cukup  besar.

 

Ia mengambilnya dan mulai menggali tanah di tengah- tengah bukit. Ia menggali terus tanpa kenal lelah. Sesekali ia beristirahat sambil menikmati bekal yang dibawanya. Setelah beristirahat sebentar, ia melanjutkan menggali.

 

Matahari telah tenggelam. Jaka Budug tetap terlihat sedang menggali. Tampak obor dinyalakan untuk menerangi bagian yang sedang ia gali. Galian itu sudah cukup besar dan dalam, tetapi belum terlalu dalam bagi Jaka Budug. Galian itu sangat penting bagi Jaka Budug untuk menjalankan rencananya mengalahkan naga sakti.

 

Setelah dirasa cukup, Jaka Budug pun berhenti menggali. Tak terasa hari sudah akan berganti. Lelah menggali, Jaka Budug beristirahat sebentar sambil kembali menyiapkan kerisnya. Setelah keris siap dan tenaganya pulih, Jaka Budug mulai masuk ke dalam galian. Keris diselipkan di pinggangnya. Tak lupa ia membawa obor. Perlahan-lahan Jaka Budug bergerak masuk ke dalam galian. Ia bergerak dengan sangat hati-hati.

 

Sesampainya ia di bagian terdalam galian, ia berhenti dan mengambil napas panjang. Jantungnya berdetak lebih cepat. Inilah saatnya. Ini kesempatan terakhir baginya untuk mengalahkan naga sakti. Satu, dua, tiga!

 

Jaka Budug meluncur ke dalam lubang galian. Ternyata lubang galian itu tembus hingga ke dalam gua. Jaka Budug pun meluncur cepat. “Bukkk!!!” Jaka Budug jatuh tepat di

 

atas kepala naga sakti. Naga sakti yang sedang tertidur pun terbangun. Matanya terbuka. Sebelum sempat terlihat oleh naga sakti, Jaka Budug menancapkan kerisnya ke tengkuk naga sakti. Badan Jaka Budug terciprati darah naga sakti.

 

“Grrrrooooooaaaaaarrrrr!”

 

Naga sakti marah. Ia lalu menggerakkan kepalanya ke depan dan ke belakang. Jaka Budug ikut terayun ke depan dan ke belakang. Ia memegang erat salah satu tanduk kecil di kepala naga sakti. Saat terayun, Jaka Budug kembali menancapkan kerisnya ke tengkuk naga sakti. Naga sakti yang kesakitan kembali memutar-mutar kepalanya dan menyemburkan api ke segala arah. Jaka Budug mempererat pegangannya   pada   tanduk   naga   sakti.   Tancapan   keris yang ketiga pun dilakukan. Naga sakti mengamuk. Darah naga sakti makin deras mengalir. Badan dan kepalanya bergerak ke sana kemari. Jaka Budug tetap dalam posisi mencengkeram tanduk naga sakti. Lama kelamaan gerakan badan dan kepala naga sakti melemah. Tiba-tiba kepala itu terhempas ke tanah.

 

Badan dan kepala naga sakti terkulai lemah di tanah. Jaka Budug masih memegang erat tanduk naga sakti tanpa menyadari bahwa naga sakti telah terluka parah akibat tancapan kerisnya. Setelah beberapa lama menunggu, naga sakti tetap tak bergerak. Jaka Budug pun akhirnya menyadari bahwa  ia  telah  mengalahkan  naga  sakti.  Ia  melepaskan

 

pegangannya dari tanduk naga sakti dan mengamati naga sakti  dari  dekat.  Setelah  benar-benar  yakin  bahwa  naga sakti telah ia kalahkan, Jaka Budug pun mengambil obor yang sebelumnya ia letakkan di lubang dinding gua. Ia lalu melangkah masuk ke bagian lebih dalam gua.

 

Tak jauh dari tempat naga sakti, Jaka Budug melihat kumpulan tanaman tinggi berdaun lebat. Tanaman itu memiliki bunga yang indah berwarna kuning. Daunnya berukuran cukup lebar dan berwarna hijau tua. Tanaman itulah yang bernama sirna ganda. Tanaman itu hanya bisa tumbuh subur di dalam gua. Jaka Budug tersenyum melihat tanaman itu. Ia pun mengambil beberapa lembar daun sirna ganda untuk dibawa pulang ke istana.

 

“Aku berhasil mengalahkan naga sakti. Sekarang aku akan membawa daun ini kembali ke istana. Setelah memakan daun ini, Putri Kemuning akan sembuh. Kami akan menikah dan hidup bahagia,” batin Jaka Budug. Senyumnya melebar.

 

Setelah mengambil beberapa lembar daun sirna ganda,  Jaka  Budug  pun  keluar  gua.  Matahari  bersinar terang. Tak terasa sudah hampir dua hari ia bertarung melawan naga sakti. Di luar gua ia melihat badannya yang penuh dengan cipratan darah naga sakti. Jaka Budug pun memutuskan  untuk  membersihkan  diri  sebelum  kembali ke istana. Ia berjalan menuruni kaki Gunung Arga Dumadi menuju sumber air yang ada di dekat persawahan.

 

Sesampainya di sumber air, Jaka Budug segera melepas bajunya dan masuk ke dalam sungai. Ia membasuh wajah, dada, dan tangannya yang terkena cipratan darah naga sakti. Tiba-tiba matanya membelalak. “Tanganku!” teriaknya. “Tanganku sembuh!” teriaknya lagi sambil tertawa. Tangan Jaka Budug bersih. Tidak tampak borok-borok yang biasanya ada. Ia melihat dadanya. Bersih juga. Ia lalu mencoba melihat wajahnya di air sambil dipegang-pegangnya dahi, pipi, dan dagunya. Tidak tampak dan terasa borok-borok di wajahnya. “Aku sembuh!” teriaknya lebih keras sambil mengangkat tangannya, lalu tertawa. “Darah naga sakti ternyata adalah obat untuk penyakitku. Dulu aku hanya bisa pasrah dan berdoa untuk kesembuhanku. Ternyata Tuhan mengabulkan doaku,” batin Jaka Budug. Ia sangat bersyukur. Ia tersenyum lebar. Selesai mandi, Jaka Budug langsung berangkat menuju istana Ringin Anom. Ia sudah tidak sabar untuk bertemu Putri Kemuning.

 

Sementara   itu,   di   istana   Ringin   Anom   suasana tampak muram. Kemuraman ini disebabkan oleh tidak ada berita baik yang datang dari kaki Gunung Arga Dumadi. Jaka Budug  yang  diharapkan  mampu  mengalahkan  naga  sakti dan  membawa  daun  sirna  ganda  tak  juga  datang.  Prabu Arya Seta bersedih. Ia memikirkan nasib putrinya yang akan selamanya tak bisa keluar rumah dan hilang keceriaannya. Penduduk Kerajaan Ringin Anom pun tetap menanti. Mereka menunggu  datangnya  salah  satu  peserta  sayembara  yang

 

 

 

dapat membawa obat penyembuh buat Putri Kemuning mereka. Saat ini harapan semua orang hanya bertumpu kepada Jaka Budug.

 

Hari kedua setelah keberangkatan Jaka Budug hampir usai. Matahari hampir tenggelam. Prabu Arya Seta dan Putri Kemuning mulai kehilangan harapan. Mereka telah mengira Jaka Budug tidak berhasil mengalahkan naga sakti. Ketika sedang berusaha menerima kenyataan Jaka Budug tidak berhasil, pintu kamar Prabu Arya Seta tiba-tiba diketuk dan salah seorang penjaga masuk untuk melaporkan kedatangan Patih Kebo Rejeng. Setelah dipersilakan, Patih pun masuk dan berlutut di hadapan Prabu Arya Seta.

 

“Tuanku,” kata Patih.

 

“Patih. Ada apa?” tanya Prabu Arya Seta.

 

 

 

 

Tuan.”

“Ada  seorang  pemuda  yang  datang  ingin  bertemu

 

 

“Seorang pemuda? Ada urusan apa ia ingin bertemu denganku?”

 

“Hamba     tidak     tahu,     Tuan.     Namun,     pemuda itu mengatakan ingin bertemu Tuan karena ia ingin menyampaikan berita dari kaki Gunung Arga Dumadi.”

 

 

 

“Apa? Apakah ia salah satu peserta sayembara?” “Bukan, Tuan. Ia bukan salah satu peserta sayembara.”

“Bukan? Lalu, siapa dia?” tanya Prabu Arya Seta penasaran. “Baiklah. Persilakan ia masuk,” lanjut Prabu Arya Seta.

 

Patih melangkah keluar. Tak berapa lama kemudian masuklah seorang pemuda yang tinggi dan gagah. Ia membawa gembolan pakaian. Kulitnya sawo matang. Wajahnya terlihat lelah, tetapi bahagia. Ia seorang pemuda yang tampan. Rahangnya yang kuat memperlihatkan sosok pemuda yang gagah dan pemberani. Melihat wajah pemuda itu, kening Prabu Arya Seta berkerut. Ia merasa mengenali wajah pemuda itu.

 

“Tuanku,” kata pemuda itu sambil berlutut.

 

“Anak Muda, Patih mengatakan kau ingin menemuiku dan ingin menyampaikan berita dari kaki Gunung Arga Dumadi. Namun, jika engkau bukan salah satu peserta sayembara, berita apa yang ingin kau sampaikan?” tanya Prabu Arya Seta.

 

“Maafkan kelancangan hamba, Tuan. Hamba adalah salah satu peserta sayembara,” jawab pemuda itu.

 

 

 

 

“Benarkah?   Namun,   mengapa   Patih   mengatakan kau bukan salah satu peserta sayembara? Apakah Patih membohongiku?” tanya Prabu Arya Seta yang penasaran.

 

“Tidak, Tuan. Patih tidak membohongi Tuan. Patih dan Tuan hanya tidak mengenali hamba. Hamba Jaka Budug, Tuan,” jawab pemuda itu.

 

“Jaka Budug? Tidak mungkin! Engkau tidak mungkin Jaka Budug. Jaka Budug memiliki borok di sekujur tubuhnya, sedangkan engkau …”

 

Prabu Arya Seta tidak dapat meneruskan perkataannya. Ia hanya bisa mengamati pemuda itu dengan saksama. Raut wajah yang sepertinya ia kenal.

 

“Hamba benar Jaka Budug, Tuan. Hamba dulu pernah kemari meminta izin Tuan untuk mengikuti sayembara. Hamba juga meminta izin kepada Tuan untuk melihat keadaan Tuan Putri. Apakah Tuan masih ingat?”

 

“Pemuda ini. Dari mana ia tahu tentang Jaka Budug yang meminta izin untuk melihat keadaan putrinya? Selain aku, Patih, dan putriku, tidak ada orang lain yang tahu tentang ini. Apakah dia memang Jaka Budug? Aku seperti mengenal wajah itu. Namun, benarkah ia Jaka Budug? Bagaimana dengan penyakitnya? Bagaimana penyakit itu bisa sembuh?”

 

Pikiran Prabu Arya Seta dipenuhi segala pertanyaan. Melihat  Prabu  Arya  Seta  yang  kebingungan,  pemuda  itu lalu menceritakan seluruh kisah perjuangannya untuk mendapatkan obat penyembuh bagi Putri Kemuning. Ia bercerita dari awal pertemuannya dengan Prabu Arya Seta untuk meminta izin mengikuti sayembara hingga akhirnya ia berhasil mengalahkan naga sakti. Prabu Arya Seta hanya bisa terkesima mendengar cerita pemuda itu. Kisah yang diceritakan benar-benar terperinci. Hanya Jaka Budug sendiri yang bisa menceritakan hal-hal sedemikian terperinci. Kini Prabu Arya Seta percaya bahwa Jaka Buduglah yang berada di hadapannya.

 

“Engkau benar Jaka Budug! Aku tidak percaya! Engkau berhasil!” kata Prabu Arya Seta bahagia.

 

“Namun, bagaimana penyakitmu bisa hilang tanpa bekas?” tanya Prabu Arya Seta heran.

 

“Ketika hamba bertarung dengan naga sakti, secara tidak sengaja, badan hamba terkena cipratan darah naga sakti. Ketika pertarungan selesai, hamba masih tidak menyadari hilangnya penyakit hamba. Ketika hamba membersihkan badan hamba dari cipratan darah itu, tiba-tiba hamba merasakan  kulit  hamba  menjadi  halus  kembali.  Borok- borok menjijikkan itu hilang, luruh dengan cipratan darah itu. Hamba rasa, darah naga sakti adalah obat penyembuh penyakit hamba,” jawab Jaka Budug.

 

 

 

“Benarkah? Jadi, darah naga sakti adalah obat bagi penyakitmu. Benar-benar suatu kejadian yang luar biasa. Engkau yang berusaha untuk mendapatkan obat bagi putriku ternyata juga mendapatkan obat bagi dirimu sendiri. Luar biasa! Benar-benar luar biasa! Hahahaha…” kata Prabu Arya Seta.

 

“Tuan, hamba ingin memberikan ini kepada Tuan,” kata Jaka Budug sambil menyerahkan beberapa lembar daun. Ia melanjutkan “Semoga daun sirna ganda ini mampu menyembuhkan penyakit Tuan Putri.”

 

Prabu  Arya  Seta  menerima  lembaran-lembaran daun itu lalu berkata “Terima kasih, Jaka Budug. Engkau benar-benar menjadi penolong bagi putriku. Semoga daun ini mampu menyembuhkan penyakit putriku. Sekali lagi kuucapkan terima kasih. Sambil menunggu kemanjuran daun ini, aku ingin kau tinggal di istana. Izinkan aku menjamumu sebagai ucapan terima kasih.”

 

“Baik, Tuanku. Hamba akan menerima jamuan Tuan. Namun sebelum itu, bolehkah hamba menemui Tuan Putri?” tanya Jaka Budug.

 

“Engkau ingin bertemu putriku? Hmmm, baiklah.” “Terima kasih, Tuan.”

 

 

Jaka Budug ditemani oleh Prabu Arya Seta dan Patih Kebo Rejeng bertamu ke kamar Putri Kemuning. Prabu Arya Seta yang merasa sangat bahagia langsung menyampaikan kepada Putri Kemuning tentang keberhasilan Jaka Budug membawa daun sirna ganda yang dapat menyembuhkan penyakit Putri Kemuning. Putri pun turut merasa bahagia, tetapi di pihak lain ia harus pasrah menghadapi kenyataan akan dinikahkan dengan Jaka Budug.

 

“Putriku, Jaka Budug ingin menemuimu,” kata Prabu

Arya Seta.

 

“Baiklah, Ayah. Persilakan ia masuk. Aku ingin berterima kasih padanya,” kata Putri Kemuning dengan senyuman yang dipaksakan.

 

Jaka Budug pun masuk ke dalam ruang tidur Putri Kemuning. Putri Kemuning terkejut memandangi Jaka Budug. Ia terkesima dengan ketampanan Jaka Budug saat ini. Mata itu mata yang dikenalnya.

 

“Engkau… Engkau siapa?” tanya Putri Kemuning. “Hamba Jaka Budug, Tuan Putri,” jawab Jaka Budug. “Tidak. Engkau bukan Jaka Budug.”

“Penyakit hamba telah sembuh, Tuan Putri. Obat penyakit hamba adalah darah naga sakti.”

 

 

“Benarkah? Engkau telah sembuh?” “Benar, Tuan Putri.”

“Jadi, engkau Jaka Budug?” “Benar, Tuan Putri.”

Putri Kemuning tersenyum. Jaka Budug pun tersenyum.

 

“Senyum itu! Mata itu! Aku mengenalnya!” batin Putri

Kemuning.

 

Karena penasaran, Putri Kemuning lalu bertanya “Eeeh…, apakah kita pernah bertemu sebelumnya? Aku seperti mengenalmu.”

 

Jaka Budug hanya tersenyum.

 

“Kita  pernah  bertemu  sebelumnya?”  ulang  Putri

Kemuning.

 

“Ya. Kita pernah bertemu, Tuan Putri. Kita berteman baik. Hamba adalah cucu salah satu pelayan Tuan Putri. Dulu kita sering bermain bersama di alun-alun.”

 

“Engkau! Ya! Aku ingat sekarang!” Putri Kemuning tersenyum bahagia. Ia mengingat pertemanannya dengan Jaka  Budug  ketika  mereka  masih  kecil.  Mereka  sering

 

 

bermain bersama. Tak disangka kini mereka akan menikah. Kebahagiaan meliputi hati Jaka Budug dan Putri Kemuning.

 

Daun   sirna   ganda  yang  telah  dibawa  oleh  Jaka Budug  kemudian  dibuat  ramuan  oleh  para  tabib  istana. Putri Kemuning meminum ramuan itu selama seminggu. Seminggu kemudian penyakit Putri Kemuning sembuh. Setelah   penyakit   Putri   Kemuning   sembuh,   Prabu   Arya Seta segera menikahkan putri yang bernama lengkap Ayu Rara Kemuning itu dengan Jaka Budug. Prabu Arya Seta mengadakan pesta pernikahan selama seminggu penuh. Kebahagiaan tak hanya dimiliki keluarga kerajaan, tetapi juga semua penduduk Kerajaan Ringin Anom.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *