DAFTAR ISI

 

 

 

 

 

 

 

Kata Pengantar ……………………………………………… iii

Sekapur Sirih …………………………………………………    v

Daftar isi ………………………………………………………. vi

Indrasakti Raja Alai yang Perkasa ……………………….  1

Biodata Penulis ……………………………………………… 51

 

Biodata Penyunting………………………………………… 53

 

Biodata Ilustrator………………………………………….. 54

 

 

 

 

INDRASAKTI RAJA ALAI YANG PERKASA

 

Dahulu kala di daerah pesisir pantai timur  banyak terdapat kerajaan kecil. Salah satu di antaranya  adalah Kerajaan Pagurawan. Kerajaan ini cukup makmur. Kerajaan Pagurawan ini  bertahta di  Bandar Khalifah, yaitu suatu daerah yang sekarang terletak di Kabupaten Batubara, berbatasan dengan Kabupaten Serdang Bedagai Sumatera Utara. Baginda raja memiliki seorang permaisuri   yang  sangat  cantik   bernama  Permaisuri Putri Halimah.

Pasangan raja  dan permaisuri  ini   dikarunia  dua orang  putri  yang cantik  bernama  Putri  Khalsum dan Putri Laila, serta seorang putra yang gagah dan tampan bernama Indrasakti. Sebagai putra  satu-satunya, Indrasakti menjadi tumpuan harapan ayahnya. Ia menjadi sosok yang istimewa di kerajaan. Keistimewaan itu  tercermin  dalam ungkapan ‘bagai ditiup  anak malaikat,  bagai dituntun anak bidadari.’  Kelahirannya dirayakan secara besar-besaran karena baginda raja merasa senang atas kelahiran putranya tersebut.

 

 

 

 

Pada saat upacara  penabalan nama, dipanggillah kelompok marhaban  yang membacakan syair-syair pujian dan nasihat terhadap  sang bayi. Sebelum melantunkan  syair-syair, kelompok  marhaban  ini terlebih    dahulu   membawakan   nyanyian   marhaban dan barjanzi. Mereka menyanyikannya dengan cara berdiri. Pada saat itu Permaisuri Putri Halimah didampingi oleh baginda raja menggendong pangeran Indrasakti  berkeliling   mendatangi  setiap  orang kelompok marhaban itu. Saat berkeliling itu, ada dua orang dayang mendampingi yang bertugas membawa baki untuk tempat  gunting  dan satu orang lagi khusus membawa baki yang di atasnya ada buah kelapa muda yang diukir sebagai tempat rambut sang pangeran yang telah dipotong. Di dalam buah kelapa muda itu terdapat air dengan beberapa bunga mawar. Setiap anggota kelompok marhaban yang dihampiri harus memotong sedikit rambut  sang pangeran, lalu memasukkannya ke dalam buah kelapa muda. Setelah semuanya mendapat giliran, ditunjuklah bidan kerajaan untuk membersihkan rambut sang pangeran yang belum habis dipotong.

Setelah     rambutnya     selesai    dipotong,                 tubuh

 

Pangeran     Indrasakti     dibersihkan     lalu                    diberikan

 

 

 

 

pakaian yang baru. Baginda raja dan permaisuri  duduk dekat   ayunan   sang  pangeran.   Pangeran   dipangku oleh baginda  raja.  Kemudian dilanjutkan  dengan upacara tepung tawar  oleh para sanak keluarga,  para pembesar kerajaan, dan undangan lainnya. Sementara itu, kelompok marhaban masih dalam posisi berdiri menyanyikan barjanzi.

Sehabis upacara tepung tawar, kelompok marhaban pun selesai menyanyikan barjanzi.  Acara dilanjutkan dengan penabalan nama secara resmi dan diiringi pembacaan doa oleh ustaz kerajaan. Selesai penabalan nama dan pembacaan doa, sang pangeran dimasukkan ke  dalam  buaian  atau  ayunan.  Namun,  sebelumnya sang   pangeran   diberi    ASI   dulu   oleh   permaisuri. Saat pangeran sudah mulai mengantuk, barulah ia dimasukkan ke dalam buaian. Ayunan pangeran ini terbuat dari rotan  dan dihiasi dengan berbagai hiasan warna-warni.

Pada saat  sang pangeran  di  dalam buaian, kelompok marhaban kembali berdiri  sembari memegang tali  buaian  dan mengayunnya  secara  perlahan.  Pada saat  inilah  syair-syair dinyanyikan  secara  bergiliran oleh  kelompok  marhaban.  Pada  baris  pertama   dan

 

 

 

 

kedua  syair   dinyanyikan   secara   solo,   tetapi   pada baris ketiga  dan keempat, semua kelompok marhaban menyanyikannya.  Bahkan,  terkadang   para  undangan dan keluarga  juga  ikut  menyahutinya.  Adapun  syair- syair yang didendangkan itu sebagai berikut.

 

Dengan bismillah kami mulai Alhamdulillah shalawatnya nabi Dengan takdir  allah urobbi Sampailah maksud yang dicintai

 

Bismillah itu mula pertama Zat dan  sifat ada bersama Keadaan zat menyertakan sama Qidam dan baqa sedialah nama

 

Setelah turun rahim bapakmu

 

Ke dalam batin rahim ibumu

 

Empat puluh  hari  nattefah namamu

 

Di situ dimulai pantang ibumu

 

 

Setelah sampai delapan puluh hari

 

Alkah namamu pula diberi

 

Sehingga sampai seratus dua puluh hari

 

Alkolah pula konon dinamai

 

 

 

 

Empat bulan sampailah tuan Sudah menjadi kaki dan tangan Cukuplah dengan sifat sekalian Nyawanya lagi belum didatangkan

 

Setelah sampai saat dan waktu

 

Datanglah nyawa lalu bersatu

 

Di dalam tubuh tempat nyawa itu

 

Hawa dan  nafsu sudah berlaku

 

 

Dikandungkan ibumu sembilan bulan Nasi dan air tiada tertelan Memperanakkan engkau berapa kesakitan Kadang bercerai nyawa di badan

 

Tatkala engkau jatuh ke lantai Dengan segera bidan mencapai Sudah dimandikan lalu dipakai Tinggal ibumu lemah gemulai

 

Sudah dipakai lalu diazan atau dikomat

 

Mintalah doa supaya selamat Ingatlah pesan Nabi Muhammad Di atas dunia mengerjakan syariat

 

 

 

 

Seorang anak cinta yang lama Sekarang sudah kami terima Seorang anak diberi nama Kami ayunkan bersama-sama

 

Emas dan perak kami ayunkan Anak ditaruh di dalam ayunan Tali ayunan kami pegangkan Emas dan perak kami nyanyikan

 

Kusmangat putraku tuan

 

Jangan termamang dalam ayunan

 

Dipanggil kami orang sekalian

 

Ibu bapakmu minta ayunkan

 

 

Dipanggil kami orang sekalian

 

Oleh ibu bapakmu tuan

 

Serta diberi minum dan makan

 

Menyertakan syukur kepada Tuhan

 

 

Syukur kepada Allah Taala Karena mendapat intan gemala Memberi sedekah beberapa pula Dengan sekadar ada segala

 

 

 

 

Dipanggil sekalian kaum kerabat Serta sekalian handai sahabat Segala jiran kawan berdekat Semuanya datang dengan selamat

 

Jauh dan dekat datang sekalian

 

Besar dan kecil, laki-laki dan perempuan Setengahnya datang ada yang berjalan Setengahnya berjalan berpayung awan

 

Ingatlah kami datang bertalu Mengunjungi engkau hilir dan ulu Mengayun engkau maksud begitu Karena niat ibu bapakmu

 

Jika panjang sudah umurmu Jasa mereka balas olehmu Wahai anakku pikir olehmu Besarlah hati ibu bapakmu

 

Ayuhai anak jangan dibantah

 

Ibumu memeliharakan terlalu  susah Dialih ke kiri ke kanan pun basah Habis berlumur kencing dan muntah

 

 

 

 

Ibu bapakmu mari dengarkan Anak diayun kami nyanyikan Bersama-sama kita doakan Harap Allah minta perkenan

 

Ayuhai anakku sudah bangsawan Pengajaran ibumu jangan dilawan Dipelihara dari ribut dan topan Takut terkena penyakit setan

 

Dilabuhkan tirai semut pun lalu Pelita dipasang dalam kelambu Sembur dan barut datang bertalu Minta jauhkan setan dan hantu

 

Kalau datang petir dan ribut Ramuan dibakar engkau dibarut Di dalam hati terlalu  takut

Memeliharakan engkau jangan terkejut

 

 

Ada pun anak masa kecilnya Harum-haruman ibu bapaknya Hingga sampai masa umurnya Tujuh tahun genap bilangannya

 

 

 

 

Tujuh tahun sampai kiraan Umur anak muda bangsawan Inilah anak jadi perhiasan Kepada ibu bapakmu tuan

 

Sehingga sampai umurnya tuan Sepuluh tahun cukup bilangan Ketika itu menjadi tulan

Atau seteru menjadi lawan

 

 

Demikianlah anak kami khabarkan Ibu bapakmu minta pikirkan Carilah ilmu janganlah segan

Memeliharakan anak serta pelajaran

 

 

Dipeliharakan oleh ibu bapakmu Sehingga sampai sudah umurmu Serahkan mengaji ke hilir ke ulu Karena besar niat ibumu

 

Jikalau engkau tamat mengaji

 

Hati ibumu besar sekali Tiada diberi ke sana sini Sehingga kitab mulai dikaji

 

 

 

 

Jikalau engkau pandai berkitab Bahasa jawi dengannya arab Baru ibumu hatinya tetap

Makan dan minum barulah sedap

 

Kitab quran dibaca qori Disuruh pula pergi ke haji Pergi memijak tanah yang suci

Supaya terbuang kelakuan yang keji

 

Jika besar cahayanya mata Ajarkan ilmu agama kita Jika ilmu tak ada di kita

Serahkan kepada alim pendeta

 

Demikianlah anak supaya berilmu Baik dan jahat nyata di situ Dengan sebab demikian itu Jadilah baik sebarang perilaku

 

Jikalau anak tanda bahagia

 

Di mana pesan dipegangnya juga Walaupun miskin walaupun kaya Obatnya juga sehabis daya

 

 

 

 

Jika sudah engkau nan besar Pengajaran ibumu hendaklah dengar Perkataan bapakmu hendaklah dengar Itu menjadi kata nan benar

 

Pengajaran bapakmu diikut-ikut Engkau masukan ke dalam perut Bawa olehmu pergi menuntut Mudah mendapat apa-apa maksud

 

Jikalau menuntut engkau mendapat Terpujilah engkau dunia akhirat Berhimpun sekalian handai sahabat Mana yang jauh bertambah dekat

 

Jika dapat ilmu yang setia

 

Serta engkau yakin percaya

 

Di dalam akhirat tanah yang mulia

 

Duduk di dalam pangkuan aulia

 

Jikalau mendapat ilmu yang teguh Engkau amalkan bersungguh-sungguh Tertutuplah pintu neraka yang tujuh Teranglah jalan seperti suluh

 

 

 

 

Jikalau engkau pandai mengaji Barulah engkau bersuka hati Kepada tuhan engkau terpuji

Mendapatlah engkau surga yang tinggi

 

Jikalau tidak demikian peri Tentulah anak tidak mengerti Jadilah anak buta dan tuli Baik dan jahat sama sekali

 

Jika anak tiada pelajaran Halal dan haram diserupakan Bersifat salah tidak berpengetahuan Akhirnya anak menjadi lawan

 

Anak melawan sudahlah pasti

 

Ibu bapak tidak peduli

 

Sebab tidak kita ajari

 

Dunia dan akhirat kita nan rugi

 

Betapa tidak rugi demikian Dari kecilnya kita peliharakan Beberapa belanja harta dihabiskan Sudahlah besar menjadi lawan

 

 

 

 

Di dalam dunia demikian peri Di akhirat azab diterima  lagi Pelajaran ada tidak peduli Anak dibiarkan bersuka hati

 

Nyata kerugian ibu dan bapak Karena tidak mengajar anak Sebab itu janganlah tidak

Ikhtiarkan sungguh pelajaran anak

 

Dengan sebenarnya pelajaran itu Bolehlah baik tingkah dan laku Jadilah anak orang nomor satu Dunia akhirat boleh membantu

 

Anak demikian jikalau didapat Laksana penyakit menjadi obat Demikianlah tuan mula ibarat Maklumlah tuan karena makrifat

 

Jikalau anak tiada mengikut Nazar ibunya mukanya kerut Masa mau mati ia terkejut

Di dalam quran sudah tersebut

 

 

 

 

Wahai anakku hendaklah ingat Jangan diikut iblis laknat Kerjakan olehmu amal yang taat Engkau jauhkan sekalian maksiat

 

Wahai anakku muda cemerlang Neraka itu hangat bukan kepalang Tersentuh ke daging sampai ke tulang Jerit dan tangis diulang-ulang

 

Ayuhai ibu ayuhai bapak Demikian nasihat kami serentak Harap perkenan janganlah tidak Mudahlah sampai barang kehendak

 

Wahai anakku dalam ayunan Kami berpesan engkau ingatkan Di atas kepala engkau junjungkan Di dalam hati engkau taruhkan

 

Kami mengayun terlalu  banyak Supaya tidurmu  bertambah nyenyak Engkau masukan ke dalam otak Dibawa berjalan jangan tercampak

 

 

 

 

Wahai anak muda jauhari Pesanan kami engkau ingati Engkau masukan ke dalam hati Jangan ditaruh di ibu kaki

 

Wahai anak muda cemerlang Engkau doakan malam dan siang Sembahyang itu jangan dibuang Dosanya besar bukan kepalang

 

Ya Allah malaikul ufrah

 

Anaknya ini besarkan tuah

 

Siang dan malam makin bertambah

 

Sehingga sampai ia bertuah

 

Sehingga itu berhati sudah Mengayun anak nazam ditambah Harap selamat berhati sudah Supaya ibumu janganlah gundah

 

Wahai anak muda kami ayunkan

 

Engkaulah ini kami doakan

 

Umur yang pendek minta panjangkan

 

Rezeki yang halal minta murahkan

 

 

 

 

Ya Allah malikul robbi Limpahkan makmur sehari-hari Sehatkan badan terangkan hati Anaklah ini murahkan rezeki

 

Ya Allah malikul zabar

 

Anaklah ini lekaslah besar

 

Jauhkan dari neraka yang mungkar

 

Dunia akhirat supaya terbesar

 

Ya Allah malikul robbi

 

Anaklah ini tetapkan hati

 

Minta kurnia pangkat yang tinggi

 

Di akhirat boleh engkau terpuji

 

Ya Allah malikul rahman Anaklah ini tetapkan iman Amal ibadat minta kuatkan Setan dan iblis minta jauhkan

 

Ya Allah malikul manan

 

Doalah kami minta perkenan

 

Siang dan malam sepanjang zaman

 

Bala dan  fitnah mohon dijauhkan

 

 

 

 

Ya Allah kholikul bakhri

 

Beri petunjuk sekalian kami Iman dan taat jadikan kami Dunia akhirat minta disenangi

 

Wahai anakku segeralah tidur Lekaslah besar supaya termasyur Jika anakku tidaklah tidur

Ibu bapakmu menjadi hibur

 

Ayuhai anak ingat olehmu Harap dibalas jasa ibumu Serta pula jasa bapakmu

Kemudian pula handai sahabatmu

 

Sehingga ini berarti mudah Mengayun anak nazam ditambah Nazam dimulai dengan bismillah Disudahi pula dengan Alhamdulillah

 

Tamatlah sudah anak diayun Sanak saudara yang ada sekalian Serta meminta kita doakan Supaya tenang anak budiman

 

 

 

 

Telah selesai kami nyanyikan

 

Kami meminta serta diselamatkan Kami bersyair jangan dimudahkan Syair seumur hidup anak ingatkan

 

Habislah nasihat tamatlah kalam Syair Fatimah yang punya salam Salah perkataan tersebut kalam Jangan disimpan di hati dalam

 

Tamatlah syair yang hamba bacakan Sekadar inilah yang didapatkan Entah ia entah pun bukan

Tiadalah dapat hamba ceritakan

 

Desa lalang kampung mulia Di situlah rumah senantiasa Ditolong allah tuhan yang esa Tamatlah syair selamat sentosa

 

Makdum konon nama yang nyata Mengarang syair belum biasa Duduk di rumah senantiasa Karena hamba sudahlah tua

 

 

 

 

Jikalau ada jarum yang patah Jangan disimpan di dalam peti Jikalau ada perkataan yang salah Jangan disimpan di dalam hati

 

 

Dalam  upacara  penabalan  nama  bagi  sang pangeran ini disediakan pula berbagai makanan untuk para tamu yang hadir di balairung istana. Berbagai makanan tradisional tersedia,  seperti  kue pacis,  kue kara, tengguli durian, kue dadar ketayap, kue gading galuh, kue talam ubi, kue paria, bubur pedas, dan berbagai juadah lainnya. Masyarakat berjubel di alun- alun untuk  merayakan kebahagiaan sang baginda raja mereka dan turut menikmati berbagai macam makanan yang disediakan oleh kerajaan.

Suasana Kerajaan Pagurawan di bawah kepemimpinan sang baginda cukup makmur. Beliau memimpin cukup bijaksana dan adil sehingga seluruh rakyatnya mencintai sang baginda raja.

Sebagai orang Melayu, baginda raja memegang teguh prinsip  orang Melayu, yaitu  berturai, bergagan, bersyahadat. Berturai bermakna mempunyai sopan santun, baik bahasa maupun perbuatan dan memegang

 

 

 

 

teguh   adat   resam,   serta   menghargai   orang   yang datang.  Konsep ini  tertuang dalam ungkapan Melayu “Usul menunjukkan asal, bahasa menunjukkan bangsa. Taat pada petuah, setia pada sumpah. Mati pada janji, melarat  karena budi. Hidup dalam pekerti,  mati dalam budi. Tak cukup telapak  tangan,  nyiru  kami tadahkan. Apabila  meraut   selodang  buluh,  siapkan  lidi   buang miang-nya.   Apabila  menjemput  orang  jauh,  siapkan nasi dengan hidangannya. Sekali air bah, sekali tepian berubah.”

Ber-gagan bermakna keberanian dan kesanggupan menghadapi tantangan,  harga diri, dan kepiawaian. Petuah ini tertuang dalam ungkapan “Kalau sudah dimabuk  pinang,  daripada  ke mulut,  biarlah  ke hati. Kalau sudah maju ke gelanggang, berpantang surut biarlah mati. Bermula dari hulu, haruslah berujung pula ke hilir.  Apa tanda  si anak melayu, matinya  di tengah gelanggang, tidurnya di puncak gelombang, makannya di tebing panjang, langkahnya menghantam bumi, lenggangnya menghempas semak, tangisnya terbang ke langit, isaknya ditelan bumi, yang tak kenalkan airmata, yang tak kenalkan tunduk kulai”.

 

 

 

 

Ber-sahadat bermakna Orang Melayu disebut Melayu jika sudah mengucap kalimat syahadat, yaitu mengakui Allah sebagai Tuhan dan Muhammad sebagai Rasul anutan.  Dalam konsep perilaku orang Melayu disebutkan “Bergantung kepada satu, berpegang kepada yang Esa. Untuk apa meramu samak, kalau tidak dengan pangkalnya, untuk apa berilmu banyak, kalau tidak dengan amalnya. Anak Jambi sedang menampi, alahai anak tinggal sanggulnya, banyak jampi perkara jampi Allah jua letak kabulnya”.

Dalam  memimpin,   sang  baginda   raja   teringat pesan  ayahandanya  pada  saat  sang  baginda  masih kecil.  “Kalau  hendak tahu  pemimpin sejati,  tengoklah ia memimpin negeri: memerintahnya di jalan Allah, memerintahnya dengan petuah amanah, memerintah tidak    semena-mena,   memerintah    tidak    mengada- ada, memerintah  dengan berlapang dada, memerintah dengan akal budinya, memerintah dengan bermanis muka, memerintah dengan berlembut lidah, memerintah dengan  adilnya,  berkuasa  tidak  membinasakan,  kuat tidak   mematahkan,   besar  tidak   mengecilkan,  tinggi tidak merendahkan, kaya tidak menistakan”.

 

 

 

Kerajaan   Pagurawan   di   bawah   kepemimpinan sang baginda raja sangat maju, ramai dengan aktivitas perdagangan,   dan  kaya  akan  sumber  alam.   Tidak heran banyak kerajaan lainnya yang cemburu terhadap kerajaan ini. Akhirnya, kebahagiaan sang raja dan rakyatnya tidak dapat dipertahankan.

 

***

 

Di daerah  pesisir  pantai  berdiri  banyak kerajaan kecil  yang sebenarnya  bertetangga. Akan tetapi, karena  ada  keserakahan  serta   rasa  cemburu  para rajanya  terhadap   kerajaan  tetangganya,   pada  tiap- tiap   kerajaan   tersebut   sering   terjadi   perperangan untuk memperluas wilayah kekuasaan. Salah satunya adalah Kerajaan Inderapura. Raja Inderapura yang bersemayam di Inderapura pada suatu ketika tiba-tiba menyerang Kerajaan Pagurawan dan menyiksa para rakyat  Negeri Pagurawan yang mencoba melawan atas kehadiran pasukan Raja Inderapura.

Pada saat peperangan itu sedang berkecamuk, Raja Pagurawan berkesempatan menyembunyikan putra- putrinya, dan kembali menentang Raja Inderapura. Namun, kekuatannya tidak sepadan. Kerajaan Pagurawan takluk oleh pasukan Raja Inderapura. Raja

 

 

 

 

Pagurawan dan permaisuri disandera dan keduanya dibawa ke Kerajaan Inderapura sebagai tawanan mereka.

Semenjak peristiwa penyerangan oleh Raja Indera- pura  tersebut, keberadaan  keluarga  Raja Pagurawan pun kucar-kacir. Anak-anaknya yang disembunyikan masing-masing menyelamatkan diri dan berpencar- pencar. Para dayang dan pengawal entah ke mana perginya. Ada juga yang tewas dalam peperangan itu.

Setelah beberapa hari usai peperangan itu,  ketika diketahui  bahwa kedua orang tuanya  telah  disandera oleh Raja Inderapura, Putri Khalsum sebagai anak tertua merasa mempunyai kewajiban untuk menyelamatkan kedua orang tuanya. Ia berangkat mencari kedua orang tuanya. Setelah berjalan dengan susah payah dalam beberapa hari, akhirnya ia sampai ke wilayah Kerajaan Gambus.

Ketika  sampai di wilayah  Kerajaan  Gambus Putri Khalsum kebingungan, hendak ke mana langkah kaki menuju. Ia  tidak  memiliki sanak keluarga dan kenalan di wilayah itu. Akan tetapi,  karena Allah masih melindunginya  dalam kebingungan itu,  ia bertemu dengan seorang perempuan tua.

 

 

 

 

“Wahai  cucuku, hendak ke manakah tujuan engkau?” sapa nenek kepada Putri Khalsum.

Dengan tergugup Putri Khalsum menjawab, “Entahlah, Nek. hamba tidak  tahu  mau ke mana arah dituju, tidak ada sanak keluarga yang hendak menjamu. Hamba hanya menurut  arah angin dan ayunan langkah saja, Nek!”

Mendengar  dan  melihat  kebingungan  Putri Khalsum, akhirnya sang nenek jatuh kasihan dan membawa sang putri ke rumahnya.

“Kalau  Cucunda tidak  keberatan,  marilah  tinggal di gubuk nenek!” sembari menunjuk sebuah rumah yang tidak  jauh dari  tempat  mereka bertemu.  Dengan rasa syukur, Putri Khalsum tidak kuasa berkata. Ia hanya mengangguk setuju  untuk  tinggal  di rumah nenek itu. Akhirnya,  Putri Khalsum ditampung  dan diangkat  anak oleh nenek tersebut. Nenek itu  adalah seorang janda bernama Kasihan.

Suatu ketika  Raja Gambus berkeliling  ke wilayah kekuasaannya untuk  melihat  kondisi  rakyatnya.  Tiba- tiba beliau melihat Putri Khalsum dan langsung tertarik. Di dalam hatinya, sang raja berkata, “Aku belum pernah melihat gadis secantik putri  ini. Pasti gadis ini bukanlah

 

orang yang berasal dari  kampung ini.”  Sekembali dari kegiatan berkeliling melihat kondisi rakyatnya, Raja Gambus memanggil seorang pengawal dan menyuruhnya

 

 

 

 

untuk menyelidiki siapa gerangan gadis yang dilihatnya tadi siang itu.

Esok harinya,  si pengawal langsung menyelidiki keberadaan gadis yang dimaksud oleh rajanya itu. Setelah diselidiki  oleh pengawal   raja, diketahui  siapa sebenarnya sang gadis yang telah memikat hati Raja Gambus itu. Singkat cerita,  Raja Gambus pun meminang sang putri. Pernikahan mereka dirayakan besar-besaran. Semua rakyat  diundang.  Memang, Raja  Gambus tidak memiliki permaisuri. Permaisurinya telah meninggal beberapa tahun yang lalu.

 

***

 

Di lain kisah, Putri Khalsum telah pergi mencari kedua orang tuanya dan sudah sekian lama tidak  juga kembali. Putri Laila pun tidak mau tinggal seorang diri. Ia  juga berangkat  mencari sanak saudaranya. Setelah beberapa  hari   berjalan   tanpa   ditemani   siapa  pun, akhirnya sampai juga ia di wilayah Kerajaan Gambus. Nasibnya  pun  sama seperti  kakaknya.  Ia  berangkat ke tempat  yang asing, tanpa ada tempat  tujuan  pasti. Namun, karena niatnya untuk menyelamatkan kedua orang tuanya,  Allah selalu melindunginya.

 

 

 

 

Putri  Laila bertemu  dengan sepasang suami istri yang sedang mencari kayu. Melihat  ada seorang anak gadis berjalan  kebingungan di hutan,  sepasang suami istri  itu menyapanya,“Wahai Ananda, hendak ke manakah engkau di dalam hutan ini. Siapa temanmu berjalan?”

Setelah  menceritakan   segala  hal  yang  dialami oleh keluarganya,  sepasang suami istri  itu  mengajak Putri  Laila ke rumah mereka. Kebetulan mereka belum dikaruniai seorang anak pun. Putri Laila diangkat anak oleh sepasang suami istri yang miskin itu.

Suatu ketika,  atas kehendak Allah,  Putri  Khalsum yang telah  menjadi  permaisuri  Raja Gambus melihat Putri  Laila.  Ia  langsung  mengenali  bahwa  gadis  itu adalah  adiknya  karena  kalung  yang  menggantung  di leher gadis itu sama dengan kalung yang dipakai Putri Laila.

“Wahai  Adinda,  siapakah  namamu dan  dari manakah asalmu?” tanya Putri Khalsum. Mendengar sapaan itu, Putri Laila melihat kepada orang yang menyapanya.  Betapa  terkejut saat  ia  melihat  orang yang menyapa itu.  Akan tetapi,  ia masih belum yakin

 

 

 

 

bahwa orang itu adalah kakaknya. Apalagi wanita yang menyapanya itu adalah permaisuri raja.

“Ampun, Tuan Permaisuri. Nama hamba adalah Laila,  asal  hamba  dari  Pagurawan!”  Mendengar jawaban itu,  Putri  Khalsum memandang lekat-lekat ke arah Laila. Ia  belum yakin bahwa itu  adalah adiknya. Akan tetapi,  saat ujung matanya melihat kalung yang dipakai oleh Laila, ia yakin Laila adalah adiknya. Putri Khalsum langsung memeluk adiknya. Mereka saling bertangisan,  saling melepas rindu karena sudah sekian lama tidak bertemu.

Setelah   pertemuan    itu,    disepakatilah    mereka akan mencari adiknya yang bungsu, yaitu Indrasakti. Akhirnya  permaisuri  dan Raja Gambus pergi ke Pagurawan. Akan tetapi,   ternyata Indrasakti sudah berangkat meninggalkan negerinya.

Dalam pengembaraannya, Indrasakti berjalan di hutan rimba hingga sampai di rumah Nenek Maimunah. Ia bercerita  tentang asal-usul dan kedatangannya di daerah tersebut. Mendengar kisah itu, Nenek Maimunah mengangkatnya sebagai anak dan memberitahu  bahwa Putri Laila telah diculik oleh Raja Simalungun.

 

 

 

 

Sebenarnya,  Raja  Simalungun  datang  ke  negeri Raja  Gambus untuk meminang Putri Syarifah. Namun, saat itu  Raja Gambus sedang berada di Pagurawan bersama permaisuri,  sedang mencari Indrasakti. Oleh karena  itu,  empat  orang  menteri  yang  bertanggung jawab terhadap kerajaan tidak bisa menerima pinangan tersebut. Raja Simalungun menjadi murka dan marah, Kemudian,  empat  menteri  Kerajaan  Gambus tersebut ditawan dan Putri Laila dibawa pulang oleh Raja Simalungun ke negerinya.

Di lain pihak dalam petualangannya, Indrasakti berguru   ilmu-ilmu   kesaktian   serta   berbagai  aturan budi  bahasa  kepada  Nenek  Syaidah.  Setelah  itu,   ia pergi mencari kakaknya yang diculik  Raja Simalungun. Di tengah perjalanan,  Indrasakti juga berguru  kepada Tuan Syeh Zein.

Selanjutnya,   Indrasakti  kembali  ke  Pagurawan dan diakui sebagai saudara oleh seorang anak miskin, yang  bernama  Sulaiman.  Mereka  berdua   kemudian pergi  ke istana  Raja Pagurawan. Pada waktu  itu  pula Raja Simalungun datang menyerang Negeri Pagurawan sehingga terjadilah peperangan dahsyat antara  kedua belah  pihak  hingga  malam  hari.  Pada waktu  tengah

 

 

dan semua orang tertidur, Indrasakti masuk ke markas pasukan Raja Simalungun dan memperagakan ilmu kesaktiannya.  Orang  Simalungun  ketakutan.  Pada malam itu pula ia pulang ke negerinya.

Ketika pagi menjelang, Raja Gambus heran karena musuhnya sudah lari.  Raja Gambus kemudian bertekad mengejar Raja Simalungun tersebut. Indrasakti sadar bahwa Raja Gambus tidak  akan mampu melawan Raja Simalungun. Oleh sebab itu, agar Raja Gambus tidak bisa mengejar Raja Simalungun, kuda-kuda Raja Gambus dilepaskan   dari   kandangnya.   Kemudian,   Indrasakti yang bisa mengubah dirinya  menjadi makhluk gaib dan burung garuda itu sendiri yang berangkat ke negeri Simalungun   untuk   menyelamatkan   kakaknya,   Putri Laila. Ketika sampai di Simalungun, rakyat  Simalungun disirapnya, Kemudian, peti yang digunakan untuk menawan Putri Laila ia bawa kembali ke Pagurawan. Sesampai di Pagurawan, tidak  ada seorang pun yang mampu menggerakkan, apalagi membuka peti itu.

Ketika  melihat  peti  yang  berisi  Putri  Laila  telah dicuri,  Raja Simalungun kembali menyerang Kerajaan Pagurawan.  Saat  itu,  Raja  Gambus masih  berada  di

 

Pagurawan dan kembali berhadapan dengan Raja Simalungun. Indrasakti kemudian muncul untuk menghadapi Raja Simalungun. Peti yang berisi Putri Laila diangkat dan dibukanya  sehingga Putri  Laila terbebas. Raja Simalungun memohon maaf karena  ia  tidak tahu yang   ia  culik  itu   bukanlah Putri  Syarifah,  melainkan Putri Laila. Akhirnya, Raja Simalungun berdamai dengan Indrasakti. Indrasakti kembali tampil  dengan rupa seperti  semula dan memperkenalkan diri.  Raja Gambus selanjutnya    dinobatkan    sebagai   Raja   Pagurawan,

 

 

 

 

sedangkan  seorang  hulubalang  tua  diangkat  sebagai pengganti di negeri asalnya, Kerajaan Gambus.

Putri  Laila makin besar dan cantik.  Banyak anak raja   yang  datang   meminangnya.   Namun,   ia   tidak bersedia menikah sebelum bertemu  lagi dengan kedua orang tuanya. Indrasakti bersemedi dan mengimbau guru-gurunya, Nenek Syaidah dan Tuan Syeh Zein agar mengajarkan ilmu dan aturan baru kepadanya untuk bekal  mencari  orang  tuanya.   Setelah  tirakat  empat puluh hari di dalam hutan, datanglah penjaga pintu Inderapura, Datuk Zainuddin. Ia menjemput Indrasakti untk dibawanya ke Inderapura untuk dipertemukan dengan orang tuanya. Saat itu, Indrasakti juga belajar ilmu baru kepada Datuk Zainuddin.

Indrasakti kemudian berperang dengan Raja Inderapura dan berhasil mengalahkannya. Namun, akhirnya   mereka  menjadi   saudara   angkat.   Setelah itu,     Indrasakti   membawa    kedua    orang    tuanya kembali ke Pagurawan. Akhirnya, seluruh keluarga berkumpul  kembali.  Raja  Pagurawan  tampil   kembali di depan rakyatnya.  Beliau kemudian menunjuk Raja Gambus sebagai penggantinya  untuk  menduduki tahta kerajaan  dan  memberikan  berbagai  nasihat  tentang

 

 

 

 

pemerintahan.   Negeri  Pagurawan  makin  ramai  dan makmur.

Suatu ketika, datanglah Raja Kualuh dari Kerajaan Kualuh untuk meminang Putri Laila. Setelah para menteri kedua pihak berunding, pinangan pun disepakati dan pesta perkawinan dilangsungkan. Setahun kemudian, barulah Raja Kualuh mohon diri dari Pagurawan.

Raja Pagurawan kemudian memberikan berbagai petuah  kepada  menantunya  tentang  sifat  manusia yang  luhur  serta  adat  membuka  negeri.  Sementara itu,   ibunda Permaisuri Halimah memberikan nasihat kepada Putri Laila selaku istri Raja Kualuh dalam bentuk pantun.

 

Menjadi bini karena adat

 

Untung malangnya tergantung kodrat

 

Nasib baik membawa manfaat

 

Nasib buruk hidup melarat

 

Menjadi bini ia amanah

 

Iman teguh taat ibadah

 

Kepada keluarga kasih tercurah

 

Suami disanjung anak dijaga

 

 

 

 

Menjadi bini ianya elok Perangai mulia rupa tak buruk Bekerja rajin tak sempat duduk Memelihara keluarga mau berteruk

 

 

Menjadi bini ia idaman Budi mulia dada beriman Elok manis barang kelakuan

Lidah lembut bercakap sopan

 

Menjadi bini ianya kaya Kaya budi ataupun harta  Nasib baik elok perangainya Benasib buruk datanglah bala

 

Menjadi bini ianya rajin

 

Bekerja sungguh tak main-main Memelihara keluarga mau berlenjin Dijadikan bini hidup terjamin

 

Sempurna lahir dengan batinnya Sempurna akal dengan budinya Sempurna iman dengan taqwanya Dijadikan bini sempurna hidupnya

 

 

 

 

Menjadi bini membawa tuah Hati ikhlas bermanis madah Suami dijunjung anak dipelihara

Bekerja keras pantang membantah

 

 

 

Bekerja keras pantang membantah Tahan bersakit mau bersusah Ditimpa cobaan hatinya tabah Dijadikan bini hidup sakinah

 

Menjadi bini ia berfaham Dadanya lapang ilmu pun dalam Rajin bekerja tak mau diam Orang memuji luar dan dalam

 

Kepada suami penuh pengabdian Kepada anak belas kasihan Kesanak saudara berkasih-kasihan Kepada sahabat ia teladan

 

Menjadi bini ianya patut Budinya manis lidah pun lembut Ditunjuk diajar ia mengikut Dijadikan bini tuah menyambut

 

 

 

 

Menjadi bini mulia pekerti Imannya teguh marwah pun tinggi Taat setia kepada laki

Dijadikan bini bercerai mati

 

 

 

Menjadi bini ia teladan

 

Elok laku sempurna iman

 

Hidup berkeluarga berkasih-kasihan

 

Dijadikan bini diberkahi Tuhan

 

 

 

Raja Kualuh berangkat bersama dengan Putri Laila dan ditemani oleh Indrasakti. Ketika sampai di Kualuh, mereka dielu-elukan oleh rakyatnya dan ibunda raja mengadakan perayaan tujuh hari tujuh malam.

Beberapa tahun kemudian, Indrasakti berangkat bersama  menteri  dan  hulubalang  tua  untuk  melihat- lihat Laut Sialang sambil memperdalam ilmunya. Daerah pertama yang mereka kunjungi sangat indah dan sentosa, berkat  kebijaksanaan  penghulu,  yang  memerintah menurut adat dan keadilan. Sebaliknya, daerah kedua yang mereka lihat miskin dan kacau balau, karena diperintah oleh Raja Panjang yang tamak dan zalim.

 

Indrasakti kemudian berperang dengan raja itu dan berhasil menaklukannya. Menteri  tua yang bersamanya ditunjuk  dan  dilantik  untuk   memerintah   di  daerah itu. Sementara itu, Indrasakti kembali melanjutkan perjalanannya.

 

 

 

 

Indrasakti sampai  ke  negeri  Raja  Cermin.  Saat itu, banyak anak raja dari negeri lain datang untuk meminang putri  Raja Cermin yang bernama Putri Sri Delima. Ada tujuh orang anak raja lain yang ditolak pinangannya. Karena pinangan ditolak, mereka bermaksud hendak membalas dendam dan membunuh Raja Cermin. Indrasakti kemudian menolong Raja Cermin dan berhasil mengalahkan mereka semua, yaitu ketujuh  anak raja lain tersebut  dan menyuruh mereka pulang ke negerinya masing-masing.

Ketika       Indrasakti      berhasil       mengalahkan ketujuh putra  raja, Raja Cermin berkeinginan untuk menjodohkan Putri Sri Delima kepadanya. Tetapi,  saat itu Indrasakti sendiri belum bersedia memperistri  Putri Sri Delima dan memilih untuk melanjutkan  perjalanan. Dalam perjalanan,  Indrasakti bertemu  dengan sebuah kapal yang besar sekali di Selat Melaka, yang diperintah oleh seorang raja zalim, bernama Raja Garang. Raja Garang memaksakan kehendaknya kepada setiap kapal yang lewat di Selat Melaka.

Sebelum  melanjutkan   perjalanan,   Indrasakti terlebih    dahulu   menumpas  pasukan   Raja  Garang,

 

 

 

 

sehingga kondisi Selat Melaka menjadi aman, tidak ada lagi perompak.

Beberapa tahun kemudian, Indrasakti telah menjadi seseorang laki-laki  yang berilmu dan berpengalaman. Dalam perjalanannya,  ia sampai ke negeri Raja Percut. Saat itu,  negeri Raja Percut sedang diserang oleh Raja Kampai yang ingin mengawini putri  raja bernama Putri Halimah Pinang, tetapi  lamarannya ditolak.  Indrasakti menantang Raja Kampai dan berhasil mengalahkannya setelah  berperang   selama  tujuh   hari   tujuh   malam. Untuk membalas jasa Indrasakti, Raja Percut kemudian mengangkatnya sebagai anak.

Indrasakti berlayar  lagi dan mencapai sebuah tempat  yang sangat indah dan subur, yang dinamakan Alai (sekarang Kuala Tanjung, sebagai lokasi berdirinya pabrik aluminium,  PT. Inalum). Tempat-tempat lain di sekitar daerah itu kemudian ia beri nama sebagai tanda akan  dibukanya  sebuah  negeri  di  daerah  tersebut. Nama-nama daerah baru tersebut  adalah Sono, Dusun Lalang, Sungai Padang, Tasak, Tanjung Kopi, Sungai Rindam dan Pandau.

Indrasakti yang memiliki ilmu sangat tinggi, namun ia   merasa  belum  juga   puas.   Akhirnya,   Indrasakti

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

..

 

sampai ke  negeri orang Bunian   (makhluk halus  yang orang awam tidak bisa melihatnya,  hanya orang yang berilmu tinggi yang mampu melihatnya)  dan Indrasakti lama tinggal  dan berdiam bersama mereka. Indrasakti berkenalan dengan segala jenis makhluk gaib dan menjadi saudara angkat Raja Bunian. Mereka bertukar ilmu dan kesaktian. Setelah beberapa tahun di negeri Bunian, Indrasakti kembali ke Sono dan melakukan upacara  membuka negeri.  Hulubalang  tua  disuruhnya mendirikan  kampung di daerah tersebut, sedangkan ia sendiri kembali ke Laut Sialang dan Pagurawan.

Dalam perjalanan pulang, Raja Indrasakti teringat akan  Putri  Halimah  Pinang,  putri   Raja  Percut  yang cantik  jelita.  Dalam khayalannya,  terbersit  beberapa bait  pantun  sebagai  ungkapan  kerinduannya  kepada Putri Halimah Pinang.

 

Malam-malam berlayang-layang

 

Putus tali tak kelihatan

 

Siang malam terbayang-bayang

 

Putri Halimah sang pujaan

 

Inikah namanya pohon randu

 

Tanam berbaris di ujung hulu

 

 

 

Beginikah rasanya rindu

 

Bagai terhiris pisau sembilu

 

Randu di alam memanglah randu Bukan pualam bukanlah batu Siang kurindu malam kurindu Mogalah kita dapat bersatu

 

 

Jangan pernah bermain dadu Nanti nasib menjadi malang Tak kuat menahan rindu

kanda datang untukmu sayang

 

 

 

Begitulah gejolak asmara Indrasakti saat hendak menuju negeri Percut. Dia berharap akan bertemu Putri Halimah Pinang. Ada keinginannya untuk meminang sang putri. Akhirnya, sampai jugalah dia di negeri Raja Percut dan disambut oleh raja dan para pembesar kerajaan.

“Wahai panglima perkasa, ananda kami Raja Indrasakti, sangatlah senang hati hamba menerima kedatangan ananda ke negeri hamba ini!” sambut Raja Percut penuh kegembiraan. Kemudian dilanjutkan baginda raja dengan upacara penerimaan tamu kehormatan  sebagai  adat  istiadat setempat:  “Kalau

 

 

 

 

tidak ada berada, tidak akan tempua bersarang rendah, kalaulah boleh hamba bertanya,  apakah gerangan ananda singgah ke negeri kami ini?”

“Kami sangat senang dan bahagia sekali jikalau ananda sudi kiranya berlama-lama tinggal di negeri hamba ini, bahkan jika berkenan menetap di negeri ini,” ujar  Raja Percut,  “Negeri  dan rakyat  seantero  Percut ini dengan suka cita  menerima kedatangan ananda ke sini!”

Dengan merasa malu-malu,  Indrasakti langsung menjawab pertanyaan  sang baginda raja.  “Maaf Paduka, beribu maaf, ampun patik jika  salah, apabila ananda lancang berkata!” sembah Indrasakti.

Dengan senyum penuh wibawa dan sikap kebapakan, baginda Raja menjawab, “Anakku Indrasakti, engkau sudah kami anggap keluarga kami, jadi tidak  ada yang harus  dimaafkan, justru  kamilah yang   paling   banyak berhutang budi kepada ananda!”

“Baiklah, Baginda. Ibarat daun bidara si daun pinang, ditanam  orang dekat karang, hajat anaknda singgah ke negeri Baginda ini, sebenarnya ingin meminang si Putri Halimah.  Itupun apabila  Baginda dan Adinda  Halimah

 

 

 

 

berkenan menerima hamba atau jika belum ada kumbang yang hinggap, mengisap madu dara jelita!”

Mendengar perkataan dan permohonan Indrasakti tersebut, semua yang hadir pada upacara penyambutan itu  saling pandang dan ada rasa takut.  Mereka semua tahu, kalau Putri Halimah Pinang sudah bersuami. Mereka takut, Indrasakti yang sakti itu akan marah dan terjadi perperangan.

Baginda Raja mendekati Indrasakti sembari memegang pundaknya, “Anakku,  semenjak peristiwa penyerangan dari Raja Kampai dahulu yang hendak meminang si Halimah dan akhirnya ananda yang membantu kami. Semenjak itu  pula, sebenarnya hamba sudah  sangat  berkeinginan  menjodohkan  ananda dengan anak hamba bahkan Putri Halimah pun sangat menyukai Ananda Pangeran Indrasakti!” Baginda Raja berkata  terbata-bata dan tertunduk sebentar, lalu melanjutkannya.

“Bertahun-tahun putri hamba merindukan ananda. Berharap ananda datang meminang. Terkadang dalam tidurnya, dia  mengigau menyebut  nama ananda. Berhari-hari dia melihat laut, mana tahu ada kapal yang berlabuh dan di dalamnya ada ananda. Dia sempat jatuh

 

 

 

 

sakit, karena memendam rindu pada diri ananda. Akan tetapi,  kabar berita tiada dia dapati, akhirnya kami menjodohkannya dengan orang lain. Maafkan hamba!”

Indrasakti   termangu,    dia   berusaha   menahan air matanya untuk tidak jatuh. Ada rasa sedih dan penyesalan dalam hatinya.  Karena akibat dirinya,  Putri Halimah Pinang telah menderita.

Indrasakti lalu mendekati baginda raja, sembari berkata,  “Tidak,  bukan salah baginda, tetapi  ini semua salah ananda. Ananda yang tidak dapat memberi khabar kepada adinda Putri Halimah. Tetapi percayalah, walau ananda tidak jadi menjadi menantu baginda, kita tetap menjadi saudara. Bukankah, rezeki, pertemuan,  jodoh, dan maut  itu  Allah  yang menentukan.  Ananda ikhlas dan berdoa, semoga adinda Putri Halimah mendapatkan suami yang baik dan dapat melindunginya!” Akhirnya mereka saling berpelukan.  Semua yang hadir  pada upacara penyambutan itu merasa kagum dan bangga dengan sikap Indrasakti yang begitu mulia.

Sebenarnya dalam diri Indrasakti ada rasa kecewa dan sedih di dalam hatinya,  sempat ia kumandangkan dalam rangkaian pantun untuk dirinya sendiri:

 

 

 

 

Bayang-bayang menimpa loyang Loyang jatuh menimpa arang Siang kusayang malam kusayang yang disayang diambil orang

 

Badan kurus tinggal tulang Coba memakan nasi serantang Nasib badan amat malang gadis pujaan tak bisa dipinang

 

Mangga gedong mangga kueni Diambil oleh para dayang Bagaimana nasibku ini

Pujaan hilang ingatanku melayang

 

Pergi ke Arab menunggang onta

 

Lewatnya jalan tanpa rawa Tak mengapa putus cinta Asal jangan putus nyawa

 

 

Akan tetapi  Indrasakti sadar dan teringat nasihat guru-gurunya, “Apabila  patah hati,  usah berduka usah bermuram   durja,   dunia  ini  sementara,   begitu   juga dengan segenap lara.  Patah hati  membuat luka.  Biar luka tersimpan  di sana. Agar engkau selalu terkenang.

 

 

 

 

Bahwa engkau kuat tidak tertentang. Putus cinta memanglah sakit.  Tapi tak usah engkau menjerit. Bila dunia tak selamanya. Bersabar itu lebih utama.”

Setelah beberapa hari tinggal di negeri Percut. Bahkan  ia   juga   sempat   berkenalan   dengan  suami Putri  Halimah Pinang dan memberi nasehat dan pesan untuk menjaga Putri Halimah dengan baik. Indrasakti juga bertemu dengan pujaan hatinya yang tidak jadi terwujud.

“Walau   kita   tiada   berjodoh,   tetapi   anggaplah diri hamba ini saudara adinda. Kita bersaudara sebagaimana Baginda Raja sudah menganggap hamba sebagai anaknya,”  ujar Indrasakti pada saat hendak meninggalkan Kerajaan Percut.

Sebenarnya dalam kegalauan hati, Indrasakti melanjutkan petualangannya. Ia berangkat menuju ke Kerajaan Cermin. Di negeri ini beberapa tahun yang lalu pernah dibantunya, saat kerajaan ini diserang oleh para putra raja yang hendak meminang putri  raja, tetapi pinangannya  ditolak  oleh sang putri. Berkat  bantuan Indrasakti, ketujuh putra  raja itu dapat menerima kekalahan mereka dan pulang ke negerinya masing- masing.

 

 

 

 

Di saat itu  pun, Indrasakti tahu,  bahwa Putri  Sri Delima sangat menyukai dirinya,  akan tetapi  pada saat itu dia masih ingin menuntut ilmu. Indrasakti tidak memberi harapan kepada sang putri.

Saat dalam perjalanan menuju negeri Cermin itu. Indrasakti berusaha dan mencoba melupakan kegalauan hatinya.  Ia  ingin  berpindah  hati. Indrasakti berharap di dalam sanubarinya,  semoga Putri  Sri Delima belum berjodoh dengan orang lain, sehingga ia dapat meminang sang putri. Namun apabila sudah berjodoh, seperti Putri Halimah Pinang, maka dia juga dengan pasrah menerima nasibnya ini. Walaupun dalam hatinya, dia tidak ingin mengalami untuk yang kedua kalinya.

 

Jatuh cinta tiada mengapa, Karena cinta adalah anugerah, Jatuh cinta bermekar rasa, Jangan takut jatuh patah.

 

 

Lalu  dalam  pikiran   Indrasakti  teringat  pantun teman-temannya yang cukup romantis. Ingin dihafalnya agar waktu bertemu Putri Sri Delima nanti akan diucapkannya:

 

 

 

 

Beribu-ribu pohon beringin hanya satu si pohon randu saat malam terasa dingin

hanya wajah adinda yang kanda rindu

 

 

 

Indrasakti  tersenyum  simpul  sendiri,   saat menghafal  pantun  itu.    Dalam    pikirannya, terus bergelayut  semoga Putri Sri Delima belum berjodoh. Setiap shalatnya  juga Indrasakti berdoa, jika memang jodohnya adalah Putri Sri Delima, maka pertemukanlah kami.

Setelah melewati beberapa negeri, akhirnya sampailah Indrasakti ke Kerajaan Cermin. Kedatangannya disambut dengan meriah oleh Baginda Raja dan segenap pembesar-pembesar kerajaan. Persis sama ketika Indrasakti sampai di Kerajaan Percut. Indrasakti yang banyak jasanya di Kerajaan Cermin ini mendapat perhatian  yang istimewa  oleh Baginda Raja dan para rakyatnya.  Kedatangannya dielu-elukan oleh rakyat yang melihatnya.

Saat sampai di istana, Permaisuri beserta dayang- dayang   menyambutnya   dengan   gembira.   Di   balik pintu  sebuah kamar, seorang gadis mengintip,  dengan

 

 

 

hati  yang  berdebar  bercampur  gembira  dialah  Putri Sri Delima. Kehadiran Indrasakti di istana ini sudah sekian  lama  dinanti-nantinya. Hampir  setiap  waktu, dia berdoa, berharap Pangeran Indrasakti datang ke negerinya untuk meminang dirinya. Walau tiada khabar berita, tetapi ia yakin, jika Pangeran Indrasakti memang jodohnya, pasti Allah akan mempertemukannya kembali.

Sebenarnya ia ingin sekali ikut menyambut kedatangan Pangeran Indrasakti, tetapi  menurut  adat tradisi, tidaklah  pantas seorang dara menyambut kedatangan seorang pejaka. Ia patuh pada adat tradisi negerinya itu,  walaupun dalam hatinya bergelora ingin bertemu dengan pujaan hatinya yang sudah sekian lama dirindukannya.

Putri Sri Delima sangatlah cantik, orang-orang melukiskannya dengan pujian:

 

Parasnya terlalu  amat elok, alis lentik mengekor siar, anak rambut memagar air,

lentik di ujung patah menggunang, bulu mata menongkat kening,

bibir manis limau seulas, merahnya delima merekah,

 

 

 

 

menguntum senyum mengandung madu, cahaya muka purnama empat belas,

gigi putih membiji rapat,  putihnya asmara asmaradanta,  hidung mancung menangkai bunga, jari halus menyugin landak,

luncir bagai dian digiling,  leher jenjang gading dilarik,  makan pinang kaca-kacaan, menelan air sirih berbinar-binar, kelihatan dari luar,

mata jeli bintang timur, menjeling manja hati terhibur, pipi licin pauh dilayang, pinggang ramping sejengkal kiri,

rambut panjang mayang mengurai,

 

bersanggul pisang sesikat teripas bergantung, telinga kecil telipuk layu,

tubuh bidang sampiran kain, tumit  betis menelur burung, orang elok bertambah elok, orang gawai bertambah gawai, seperti orang naik mempelai,

 

 

 

 

berbaju labuh kilat ditangkas, bertabur dengan cencawi besar, bercincin pusaka turun-temurun, sinarnya panjut-memanjut, berdokoh labuh sehari bulan, serbang di dahi emas sekati, berbinar-binar cahaya nilakandi, bergelang keroncong sebelah satu, berkain panjang kilat di tambing, bertabur dengan cencawi damit,

berpending panjang sembilan tujuh setali, kesepuluh dengan rumbainya,

tujuh intan di karang,

 

sesandang di dada seribu jingga, berkisi dengan pancabicara, bersubang mutiara teluk bayu.”

 

 

Setelah bermalam di Kerajaan Cermin, lalu esok harinya sehabis perjamuan makan malam bersama keluarga kerajaan, Indrasakti mengungkapkan niatnya datang  ke Kerajaan  Cermin itu.  Sebenarnya, saat dia sampai ke kerajaan tersebut, sudah ingin diucapkan niatnya  itu.  Tetapi,  dia takut  seperti  kejadian  saat di

 

 

 

 

Kerajaan Percut. Oleh sebab itu,  dia selidiki terlebih dahulu, apakah Putri Sri Delima sudah menikah atau sudah  ada  yang  meminang.  Setelah  yakin,   bahwa Putri Sri Delima belum menikah dan belum ada yang meminang.  Maka diutarakanlah niat  hatinya  itu  pada saat perjamuan makan malam ini.

“Mohon  maaf Baginda dan  Bunda Permaisuri! Kalaulah  boleh hamba bertanya,  apakah adinda  Putri Sri  Delima  sudah  ada  yang  punya?”  ujar  Indrasakti malu-malu.

“Tentu  sudah ada yang punya ananda, semenjak dahulu, yaitu  hamba dan permaisuri  hamba ini!” jawab Baginda Raja sambil bercanda. Saat itu Indrasakti sempat terkejut, tetapi  ketika mendengar ujung perkataan Baginda Raja, ia akhirnya tersenyum simpul, lalu dengan memberanikan diri ia melanjutkan perkataannya.

“Jikalau  Baginda Raja dan Bunda Permaisuri  juga adinda Putri Sri Delima berkenan dan tidak keberatan, hamba berkeinginan  untuk  meminang Putri  Sri Delima untuk menjadi istri hamba!”

Mendengar  ucapan Indrasakti, Baginda Raja dan permaisuri sangat senangnya, terlebih lagi Putri Sri Delima yang saat  itu  ikut  bersama dalam penjamuan

 

 

 

 

makan itu. Wajahnya berseri-seri mendengar apa yang diucapkan oleh Indrasakti. Kedua orang tuanya melirik ke putri   tersayangnya,  tetapi   yang  dilirik  menunduk malu.  Namun  sikap  yang  demikian  itu  adalah  tanda yang sudah dipahami oleh kedua orang tuanya,  bahwa putri mereka menerima pinangan Indrasakti.

“Hamba dan permaisuri  hamba sangat senang menerima  pinangan  ananda  Indrasakti, tetapi   perlu pula hamba bertanya kepada yang punya badan. Apakah ia mau menerima pinangan ananda ini?”  lalu Baginda Raja melirik putrinya, dan berkata, “Bagaimana ananda kusayang? Apakah engkau mau menerima pinangan dari ananda Indrasakti ini?”

Putri Sri Delima tidak menjawab, malah mencubit Baginda Raja dan dengan senyum terkulum  dan hati yang berbunga-bunga, ia mengangguk setuju.

“Alhamdulillah!”, serempak semuanya berucap syukur.

 

 

***

 

Saat itu,  negeri Kualuh sedang diserang oleh Raja Besar Hidung yang hendak menuntut balas atas kematian adiknya,   Raja  Panjang  Hidung.   Raja   Besar   Hidung

 

 

 

 

berhasil  mengalahkan Raja Kualuh dengan mudah, dan Putri Laila hendak diculiknya. Indrasakti mengetahui secara gaib kejadian tersebut, dan segera ke Kualuh untuk pergi dengan cara terbang, karena ia menjelma menjadi burung garuda untuk menolong kakaknya. Akhirnya, Raja Besar Hidung berhasil ia kalahkan.

Kakaknya, Putri  Laila sudah memiliki anak seorang laki-laki, oleh Indrasakti diberi nama Kelana Jaya. Kemudian, Indrasakti pergi ke Pagurawan bersama Putri Laila dan putranya. Akhirnya,  ketiga kakak beradik dan orang tua mereka, Raja Pagurawan kembali berkumpul.

Setelah   beberapa   waktu,   Indrasakti  kemudian pergi ke negeri Raja Cermin untuk mempersunting Putri Sri Delima yang sudah dipinangnya. Sebelum ke negeri Raja Cermin, Indrasakti terlebih  dulu mengantar  Putri Laila ke kerajaan suaminya. Sebelum pergi, ibu mereka yaitu Putri Halimah memberikan beberapa nasehat kepada putrinya tentang prilaku seorang istri yang baik. Indrasakti dan Putri Laila tiba di Kualuh.

Tiga  bulan   kemudian,   datang   pula   orang   tua mereka,  Raja Pagurawan  dan Putri  Halimah,  beserta Putri  Khalsum dan Raja Gambus. Untuk  pertama  kali, mereka saat itu berjumpa dengan ibunda Raja Kualuh.

 

Beberapa waktu kemudian, semuanya berangkat lagi menuju negeri Raja Cermin dengan menggunakan tujuh kapal, untuk menghadiri pesta perkawinan Indrasakti dengan Putri Sri Delima. Setelah menteri Kerajaan Pagurawan  dan  menteri  Kerajaan  Cermin  berunding

 

 

 

 

panjang, akhirnya disepakatilah hari pesta perkawinan. Pada hari pesta perkawinan tersebut, diadakan perhelatan besar-besaran. Saat itu, Indrasakti juga mengundang semua gurunya, Raja Percut, Putri Halimah Pinang bersama suaminya, dan raja-raja lainnya.

Pada perhelatan  pesta  pernikahan  itu,  Pangeran Indrasakti dan Putri Sri Delima duduk di pelaminan. Berbagai acara pun dilaksanakan. Hiburan rakyat diadakan di alun-alun  istana, semua rakyat  ikut bergembira memeriahkan pesta itu. Pesta diadakan selama tujuh hari tujuh malam. Pujian atas ketampanan dan kecantikan dua mempelai datang silih berganti.

asam kandis asam belimbing buat menggulai ikan sembilang hitam manis duduk bersanding macamlah bulan dipagar bintang

 

 

Selanjutnya seorang ulama Kerajaan Cermin memimpin doa untuk kedua mempelai. Doa-doa itu dirangkainya dalam bentuk syair yang indah,

”ya Allah Tuhan yang satu

 

Nabi Muhammad pesuruh-nya tentu

 

 

 

 

rahmat syafaat setiapnya waktu

 

panjangkan umur pengantin itu

 

ya Allah Tuhan yang rahman tetapkan olehmu taatkan iman sehatkan badan di dalam aman pengantin ini tambahkan iman

 

ya Allah Tuhan yang rahman

 

Nabi Muhammad yang akhir zaman rahmat syafaat sepanjang zaman kepada pengantin usul budiman

 

ya Allah Tuhan yang khodrat wahai junjungan nabi muhammad pengantin ini beri selamat

dari dunia sampai akhirat

 

ya Allah malikhul rabbi pengantin ini tetapkan hati

minta kurnia pangkat yang tinggi di akhirat boleh engkau terpuji

 

ya Allah malikhul rahman pengantin ini tetapkan iman

 

 

 

 

amal ibadat minta kuatkan setan dan iblis minta jauhkan

 

wahai pengantin muda cemerlang kami doakan malam dan siang sembahyang itu jangan dibuang dosanya besar bukan kepalang

 

 

Di tengah-tengah perayaan pesta perkawinannya, datanglah Datuk Jembalang Api, bersama tiga pendamping dan bala tentaranya untuk menuntut balas atas  kematian  kedua  muridnya,   Raja  Besar  Hidung dan Raja Panjang Hidung, yang telah ditaklukan  oleh Indrasakti. Ketiga pendamping tersebut  bertarung dengan tiga datuk dari pihak Indrasakti, sementara Indrasakti sendiri  bertarung dengan Datuk Jembalang Api. Pertarungan itu sangat dahsyat dan terjadi di angkasa, sehingga tidak bisa dilihat oleh manusia biasa. Akhirnya,   Datuk  Jembalang  Api  berhasil  dikalahkan oleh Indrasakti. Indrasakti kemudian berdamai dengan musuh yang baru dikalahkannya itu. Saat itu, Indrasakti dipuji   oleh   guru-gurunya  karena   sudah   mencapai tingkat  ilmu yang tertinggi.

 

 

 

 

***

 

Beberapa bulan kemudian, Raja Pagurawan dan keluarganya pulang ke Kualuh dan Pagurawan. Pada waktu berpisah, mereka satu per satu memberikan berbagai nasehat dan petuah tentang hidup berumah tangga    dan   pendidikan    anak   kepada   Indrasakti dan istrinya. Di saat itu juga ayahanda Indrasakti memberikan petuah sebagai pemimpin yang amanah kepada putranya Indrasakti dalam bentuk pantun.

 

Berhati keras berlembut lidah Bercakap berisi petuah amanah Bekerja tekun pada yang berfaedah Dalam bergaul membawa berkah

 

 

Hati bersih pikiran jernih Bergaul tidak memilih kasih Memegang yang hak pantang beralih Melaksanakan tugas berpenat letih

 

Mau bersusah menjemput senang Mau mendengar nasehat orang Mau hidup membanting tulang

Mau mati menjalankan undang-undang

 

 

 

 

Taat memegang titah  perintah

 

Taat memegang keputusan musyawarah

 

 

 

Taat memelihara tuan dan marwah

 

Taat menjaga negeri dan rakyatnya

 

Taat dan taqwa kepada Allah Taat kepada janji dan sumpah Taat memegang petuah amanah Taat memegang suruh dan tegah

 

Amanat rakyat yang dipegang Dunia akhirat siap ditagih Meski hanya sehalus benang Jelaskan kemana ia dialih

 

 

Pemikul beban pembayar utang Penutup aib muka balakang Penebus sumpah pemenuh janji Pemegang amanah hidup dan mati

 

 

Setelah menyampaikan petuah tentang pemimpin yang amanah, ayahanda Indrasakti juga menyampaikan petuah pemimpin yang adil.

 

 

 

 

Bercakap lurus berkata benar Pantang sekali berlaku kasar Ramah kepada kecil dan besar Tahu menimbang bijak menakar

 

Kalau hendak memilih kain

 

Pilih kain bertapak catur

 

Kalau hendak memilih pemimpin

 

Pilihlah pemimpin berakhlak jujur

 

Berlaku adil menyukat menimbang Angguknya sama muka belakang Pantang memilih membedakan orang Tegaknya kokoh di atas undang-undang

 

Ujian pertama calon pemimpin Dalam keluarga sanak famili Bila lulus teruslah main

Kalau gagal, lubang digali

 

Kerja memimpin siap menderita Bukannya lahan profesi spesialis Jangan dimohon diminta-minta Atau dijadikan ladang bisnis

 

 

 

 

Tiba di perut pantang dikempis Kena di mata tak dipicingkan Terhadap diri atau pengemis

Adil menimbang saat memutuskan

 

 

 

“Anakku,     ingatlah     yang    disebut     pemimpin, ialah orang yang didahulukan selangkah ditinggikan seranting,  bagaikan pohon di tengah padang, yang jauh mula nampak, yang dekat mula bersua, rimbun daunnya tempat berteduh, kuat dahannya tempat bergantung, besar batangnya tempat bersandar, kokoh akarnya tempat bersila.”

Setelah  menikah  dengan  Putri  Sri  Delima, Indrasakti dan istrinya pindah ke Alai yang telah menjadi negeri yang ramai dan makmur. Di Alai, Indrasakti dinobatkan  dan diangkat  sebagai raja. Selama kepemimpinan Indrasakti negeri itu bertambah makmur dan sentosa. Rakyatnya aman tenteram, hidup rukun  dan damai,  tiada  lagi  ancaman. Kerajaan  Alai ini hidup berdampingkan dengan kerajaan-kerajaan lainya,  seperti  Inderapura, Pagurawan, Gambus dan menginduk kepada Kerajaan Limalaras. Di samping itu kerajaan  ini  juga  mendapat  sokongan  dari  berbagai

 

kerajaan yang pernah dibantunya,  seperti Kerajaan Percut, Kerajaan Cermin, Kerajaan Kualuh, serta beberapa kedatuan yang pernah ditaklukkannya,  yang

 

 

 

 

sekarang   dijabat   oleh   orang-orang    yang  langsung diangkat oleh Indrasakti.

Kerajaan  Alai  ini  langsung  berhadapan  dengan Selat Melaka yang merupakan selat yang paling ramai dilewati  oleh para pedagang. Untuk menciptakan keamanan bagi rakyat dan para pedagang yang datang ke negerinya melalui Selat Melaka, Indrasakti kemudian melayari Selat Malaka untuk menumpas penyamun dan perompak.

Indrasakti juga membuka hubungan diplomatik dengan kerajaan-kerajaan yang ada di semenanjung Melayu, seperti Negeri Melaka, Negeri Pahang, Negeri Selangor,  dan  Negeri  Sembilan.  Semua kerajaan tersebut bertahta di sekitar Selat Melaka.

Indrasakti terus bertahta di Alai bersama Permaisuri Sri Delima. Mereka hidup penuh cinta kasih, saling sayang menyanyangi. Permaisuri Sri Delima pun sangat dekat dengan para rakyatnya,  sehingga rakyat negeri Alai sangat menyayanginya.

Kecantikan dan keramah-tamahan Permaisuri Sri Delima yang memancarkan aura kasih sayang kepada semua rakyatnya,  seperti bunyi pantun

 

 

 

Bukan titik yang membuat tinta, tapi tinta yang membuat titik. bukan cantik yang membuat cinta, tapi cinta yang membuat cantik.

Akhir kisah, menurut empunya kisah. Sayangnya konon pasangan Raja Indrasakti dan Permaisuri Sri Delima tidak dikaruniai keturunan.  Namun demikian, keluarga  ini  tetap   hidup  bahagia  sebagai  sepasang suami istri sampai ajalnya.

 

TAMAT

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *