Daftar Isi

 

  1. Burung Bayan ………………………………………………………………………..     1

 

  1. Bayan Ditangkap Orang Tua Penjual Burung …………………      2

 

  1. Burung Bayan Dipelihara Saudagar …………………………………      5

 

  1. Saudagar Pergi Berlayar ……………………………………………………..      13

 

  1. Bayan Bercerita tentang Istri yang Salihah ……………………       24

 

  1. Putra Raja Datang ke Rumah Khoja Maimun …………………      41

 

  1. Bayan Bercerita tentang Seorang Istri Durhaka …………..       45

 

  1. Bayan Bercerita tentang Saudara yang Berkhianat ……..       56

 

 

 

BURUNG BAYAN

 

 

 

 

Dalam cerita ini disebutlah nama Bayan yang budiman. Bayan adalah nama burung yang dapat berbicara, baik hati, dan memiliki sifat-sifat terpuji seperti layaknya manusia. Ia pun pandai bercerita tentang segala hal yang mengandung hikmah bagi siapa pun yang mendengarnya. Isi ceritanya biasanya berupa nasihat yang bermanfaat, khususnya bagi manusia, seperti cerita tentang anak yang harus berbakti kepada kedua orang tuanya, istri yang harus setia kepada suaminya, dan manusia yang harus selalu berdoa memohon pertolongan Allah, Tuhan semesta alam ini. Ia tidak mau berbuat jahat, keji, dan berbicara yang tidak ada manfaatnya. Oleh karena itulah, ia disebut burung bayan yang budiman.

 

Pada suatu hari sekawanan burung bayan asyik berterbangan dengan bebas. Mereka berkejar-kejaran dan hinggap di satu pohon dan berpindah ke pohon yang lain dengan sukacitanya. Namun, kebebasan mereka tiba-tiba terhenti karena ketika mereka hinggap di salah satu pohon yang sangat besar, sayap-sayap mereka lengket di daun dan ranting pohon itu sehingga mereka pun tidak dapat lagi terbang ke sana kemari.

 

Kawanan   burung   bayan   itu   berjumlah   seratus   ekor, salah satunya adalah Raja Bayan. Sebagai pemimpin, Raja Bayan menyampaikan idenya kepada bayan-bayan yang lain, “Kawan- kawan, ketahuilah bahwa kita terkena jebakan manusia, tetapi kita harus tetap tenang. Hari sudah malam dan besok pagi manusia yang menjebak kita pasti datang. Ketika dia datang, kita semua harus berpura-pura mati. Tahan napas kalian dan jangan sampai ada yang bergerak. Dia pasti akan mengambil kita satu per satu dan menjatuhkan kita ke tanah. Siapa pun di antara kita yang terlebih dahulu dijatuhkan ke tanah harus tetap diam dan jangan langsung terbang sebelum semuanya jatuh ke tanah.” Bayan- bayan yang lain pun mengerti dan berjanji akan menaati perintah raja mereka.

 

BAYAN DITANGKAP ORANG TUA PENJUAL BURUNG

 

 

 

Di suatu negeri, hiduplah seorang tua bersama keluarganya. Pekerjaan orang tua itu sehari-hari adalah menangkap burung dan ayam di hutan. Ayam dan burung hasil tangkapannya lalu dijual di pasar. Uang hasil menjual ayam dan burung itulah yang dipakai untuk menghidupi keluarganya.

 

Seperti biasanya, pada pagi hari orang tua itu bergegas pergi ke hutan.

 

“Aku ikut, Ayah,” pinta anak orang tua itu. “Jangan, Nak!,” jawab orang tua itu.

“Aku ingin membantu Ayah menangkap ayam dan burung,”

kata anaknya.

 

Orang tua itu tersenyum sambil mengelus kepala anaknya yang sudah remaja itu, lalu berkata, “Kau di rumah saja menemani ibumu. Ayah hanya pergi sebentar saja karena ayah tidak lagi mencari-cari burung  atau  ayam  yang  akan  ditangkap.  Kali  ini ayah pergi ke hutan hanya untuk mengambil burung-burung yang sudah melekat di dahan-dahan dan ranting pohon.”

 

“Maksud  Ayah  burung-burung  itu  sudah  pasti  ada  di

pohon itu?” tanya si anak.

 

Ayahnya menjawab, “Ya, Nak. Kemarin siang ayah sudah mengolesi daun dan ranting dengan lem perekat di pohon yang paling besar. Burung-burung itu sekarang pasti sudah lengket di pohon itu. Jadi, pagi ini ayah tinggal mengambilnya saja.”

 

”Wah, pasti banyak burung yang Ayah bawa pulang nanti”, kata anaknya dengan mata berbinar-binar.

 

“Ya, kita lihat nanti. Sekarang ayah berangkat dulu, ya?”

 

Ketika sampai di hutan, orang tua itu langsung menuju sebuah pohon yang paling besar. Dilihatnya banyak burung bayan menempel di daun-daun dan ranting pohon itu. Ia segera melepas bajunya, lalu sambil membawa golok ia memanjat pohon besar itu. Sesampai di atas, ia melihat burung-burung itu diam seperti sudah tak bernyawa, lalu diambilnya satu per satu dan dijatuhkannya ke tanah.

 

Dalam   waktu   yang   tidak   lama,   sudah   ada   99   ekor burung bayan yang dijatuhkannya ke tanah. Ia melihat tinggal seekor lagi yang belum diambilnya karena burung yang satu itu menempel pada dahan yang lebih tinggi. Tatkala orang tua itu akan menjangkau burung itu, tiba-tiba golok yang dia selipkan di celananya terjatuh.

 

Burung bayan yang sudah berada di tanah mengira yang jatuh itu adalah temannya yang tinggal seekor lagi. Lalu, sesuai dengan rencana apabila sudah genap seratus yang dijatuhkan ke tanah, burung-burung bayan itu segera terbang bersama-sama. Bayan yang berjumlah 99 itu tidak tahu bahwa suara benda jatuh itu adalah sebuah golok, bukan temannya.

 

Alangkah terkejutnya orang tua itu mendengar dan melihat burung-burung bayan yang berjumlah 99 itu tiba-tiba berhamburan terbang menjauh. Ia merasa telah diperdaya oleh kawanan burung itu. Tinggallah seekor burung lagi yang masih menempel di daun. Karena tidak ingin tertipu lagi, burung bayan itu tidak dijatuhkannya ke tanah. Burung itu terus digenggamnya sampai ia turun dari pohon besar itu.

 

Sesampainya di bawah, ia berkata kepada burung itu, “Bangunlah, wahai, burung! Aku tahu kau hanya berpura-pura mati.” Burung yang tinggal seekor itu ternyata Raja Bayan. Burung itu membuka matanya tanpa berkata apa pun.

 

Dalam perjalanan pulang, orang tua penangkap burung itu sedih hatinya karena membayangkan wajah anak dan istrinya yang kecewa akan hasil tangkapannya hari ini. Ia hanya dapat membawa pulang seekor burung. Padahal, burung yang terkena jebakannya sangat banyak.

 

Sesampainya di rumah, ia disambut anak istrinya. Benar dugaannya, anak dan istrinya tampak keheranan melihatnya pulang dengan hanya membawa seekor burung. Diperlihatkannya burung itu kepada anaknya.

 

“Bagus sekali burung ini, Ayah! Janganlah dijual burung ini. Lebih baik kita pelihara saja,” pinta anaknya.

 

Orang tua itu berkata, “Burung itu akan kita bawa ke pasar untuk dijual. Kita tidak bisa memeliharanya. Untuk makan kita sehari-hari saja tidak cukup.”

 

Keesokan harinya dibawanya burung itu ke pasar. Tiba- tiba ada seorang saudagar menghampirinya, lalu berkata, ”Berapa kaujual burung itu?”

 

 

 

tua itu.

“Terserah berapa saja Tuan menghargainya,” jawab orang

 

 

Saudagar itu merogoh sakunya dan mengeluarkan beberapa keping uang tanpa dihitungnya, lalu diserahkannya kepada orang tua itu. Setelah itu, saudagar itu pergi meninggalkannya sambil membawa burung itu. Orang tua itu kemudian menghitung uang yang diterimanya dari saudagar itu. Ia sangat terkejut dan hampir tak percaya pada sejumlah uang yang ada dalam genggamannya. “Enam ratus dinar. Wah, banyak sekali,” bisiknya dalam hati. Kemudian, dengan perasaan gembira, ia bergegas pulang.

 

BURUNG BAYAN DIPELIHARA SAUDAGAR

 

 

 

 

 

Saudagar yang membeli burung bayan di pasar itu bernama Khoja Maimun. Saudagar itu membeli burung bayan tidak karena ia senang memelihara burung, tetapi karena rasa kasihannya kepada binatang yang terus dikurung. Biarlah burung itu bebas terbang, begitu pikirnya. Oleh karena itu, dalam perjalanan pulang ke rumahnya, Khoja Maimun melepas burung itu.

 

Namun, burung itu keluar dari sangkarnya dan terbang rendah    mengiringi  langkah-langkah  saudagar  itu.  Tentu  saja hal itu membuat Khoja Maimun merasa heran. Terus diusirnya burung itu, tetapi burung itu tetap terus terbang dekat dengannya. Khoja Maimun mengusirnya kembali. Burung itu lalu terbang menghilang dari pandangan Khoja Maimun.

 

Tak lama kemudian saudagar itu sampai di rumahnya. Belum sampai membuka pintu, ia dikejutkan oleh suara, “Assalamualaikum, Tuan.”

 

Khoja Maimun melihat di sekelilingnya tidak ada manusia. “Lalu siapakah yang mengucapkan salam kepadaku?” bisiknya dalam hati.

 

“Assalamualaikum, Tuan,” suara itu kembali terdengar.

 

Khoja  Maimun  mencari  asal  suara  itu  dan  ia  melihat ke atas pohon. Betapa lebih terkejutnya ia ketika di dahan itu ia melihat burung yang tadi dilepasnya dan telah diusirnya kini berada di dahan pohon di pekarangan rumahnya. Ia pun hampir tidak percaya karena burung itu bisa berbicara seperti layaknya manusia.

 

Raja Bayan terbang mendekat sambil berkata, “Tuan, maaf hamba telah mengejutkan Tuan. Perkenalkan nama hamba Bayan. Hamba ingin Tuan bisa menerima hamba untuk tinggal di rumah Tuan.”

 

“Hai, Bayan. Aku senang berkenalan denganmu. Akan tetapi, bukankah aku sudah melepaskanmu dan menyuruhmu terbang bebas? Mengapa kau kemari dan tidak terbang bersama teman-temanmu?” tanya Khoja Maimun heran.

 

“Izinkan hamba mengabdi kepada Tuan. Tuan adalah orang yang baik hati karena telah membebaskan hamba. Hamba sangat berterima kasih kepada Tuan. Sebagai ungkapan rasa terima kasih itu, hamba ingin mengabdikan diri hamba kepada Tuan.”

 

Khoja Maimun tersenyum sambil tangannya membelai burung itu. Ia benar-benar terharu mendengar permohonan burung itu. Ia membuka pintu rumahnya dan menyuruh burung itu masuk. Burung itu diperkenalkannya kepada istrinya.

 

Istri Khoja Maimun tampak keheranan melihat suaminya pulang bersama seekor burung. Keheranannya pun bertambah lagi ketika mengetahui burung itu bisa berbicara seperti layaknya manusia. Khoja Maimun dan istrinya sangat senang dengan kedatangan burung bayan itu.

 

Burung bayan itu lalu bercerita di hadapan suami-istri itu. “Tuanku berdua, ketahuilah bahwa hamba adalah burung yang selain bisa berbicara, juga mempunyai perasaan seperti manusia. Tuanku perempuan belum tahu asal mula hamba ingin mengabdi kepada Tuanku berdua di sini. Izinkan hamba bercerita, Tuanku perempuan.”

 

Khoja Maimun dan istrinya bertambah rasa senangnya karena akan mendapat cerita dari burung bayan itu. Istri khoja Maimun berkata, “Hai, Bayan, rasanya sudah tak sabar lagi aku mendengar ceritamu. Cepatlah ceritakan kepada kami perasaanmu itu.”

 

Burung bayan itu memulai ceritanya, “Tuanku berdua, ketahuilah bahwa mulanya hamba tidak sendirian seperti ini. Hamba bersama teman-teman hamba yang berjumlah seratus ekor hidup bebas. Namun, kami terperangkap dalam jebakan seorang  penangkap  burung.  Kemudian,  teman-teman  hamba

 

yang berjumlah 99 ekor bisa meloloskan diri dan terbang entah ke mana. Tinggallah hamba sendiri yang berhasil ditangkap oleh orang itu. Keesokan harinya orang itu menjual hamba di pasar dan Tuan laki-laki inilah yang membeli hamba. Setelah membeli hamba, Tuan laki-laki ini membebaskan hamba. Ia mengeluarkan hamba dari sangkar. Namun, hamba bukanlah termasuk burung yang tidak tahu berterima kasih kepada orang yang telah berbuat baik kepada hamba. Hamba sangat berterima kasih kepada Tuan laki-laki. Sebagai ungkapan rasa terima kasih hamba, izinkan hamba mengabdi kepada Tuan berdua.”

 

Istri Khoja Maimun terharu bercampur senang mendengar cerita burung bayan. Lalu ia berkata, “Tuan Bayan, kami sangat senang kamu mau tinggal bersama kami di rumah ini. Rumah ini sepi. Kebetulan kami tak mempunyai anak. Jadi, keberadaanmu bisa meramaikan rumah ini.”

 

Khoja Maimun berkata, “Bayan, kau burung yang baik. Kami senang kau tinggal di sini. Jarang ada burung sepertimu. Mudah-mudahan kau nyaman tinggal bersama kami.”

 

“Wahai,  Tuanku  laki-laki.  Hamba  adalah  burung bayan yang berbeda dengan burung-burung yang lain, burung cemperling, misalnya. Hamba mempunyai cerita tentang burung cemperling, Tuan. Maukah Tuan berdua mendengarkan cerita hamba ini?” tanya Bayan.

 

“Tentu  saja  kami  mau  mendengarkannya,  Bayan.”  kata

Khoja Maimun.

 

Bayan pun mulai bercerita.

 

Ada anak raja sedang berjalan-jalan ke hutan bersama para dayangnya. Di sana anak raja itu belajar berburu. Di sana pun banyak anak-anak bermain. Mereka saling berkejar-kejaran.

 

Anak raja itu sangat senang. Pada saat ia sedang memandang anak-anak berlarian, tiba-tiba jatuh di hadapannya anak burung yang masih sangat kecil. Anak raja itu pun menyuruh para dayangnya untuk mencari di mana sarang burung itu.

 

“Tuanku, sarang burung itu tak jauh dari sini. Itu, dekat pohon besar itu,” kata dayangnya.

 

Hai, Dayang, mengapa jauh sekali anak burung ini jatuh dari sarangnya?” tanya anak raja itu.

 

Dayangnya menjawab, “Tuanku, anak-anak itu memanjat pohon beramai-ramai sehingga pohon pun bergoyang dan jatuhlah anak burung itu. Hamba sudah menemukan sarangnya dan ternyata yang ini hanya salah satu anaknya.”

 

“Jadi, ada berapa anak burung lagi di dalam sarangnya, Dayang?” tanya anak raja itu.

 

Dayangnya menjawab, “Hamba melihat ada satu lagi anak burung yang masih berada di dalam sarangnya, Tuan.”

 

Anak raja itu merasa kasihan kepada anak burung itu, lalu disuruhnya para dayangnya untuk mengambil anak burung yang masih berada di sarangnya. Anak raja itu ingin membawa pulang keduanya untuk dipelihara.

 

Salah seorang dayang segera memanjat pohon dan mengambil satu lagi anak burung yang berada di dalam sarang. Setelah itu, anak raja itu mengajak para dayangnya pulang kembali ke istana karena khawatir anak-anak burung itu mati jika terlalu lama tidak diberi makan.

 

Di istana, Raja dan Permaisuri sangat gelisah menanti kedatangan putranya. Raja bertanya kepada dayang istana, “Dayang, apakah sudah ada kabar dari anakku kapan ia akan pulang? Aku sudah sangat merindukannya.”

 

“Siap, Paduka. Akan hamba tanyakan kepada dayang- dayang yang lain,” jawab dayang itu.

 

Tak lama kemudian dua orang dayang datang menghadap raja memberi kabar bahwa putranya akan segera tiba di istana. Raja dan Permaisuri bergegas berjalan menuju pelataran menyambut kedatangan putranya. Ketika melihat putranya dari

 

kejauhan, Permaisuri tidak kuasa menahan gejolak rindunya. Ia pun berlari menuju putranya lalu mendekapnya serta menciumi kedua pipinya.

 

Anak raja itu menghadap ayahandanya dengan diiringi ibunda permaisuri. Sampai di hadapan ayahandanya, ia berlutut memberi hormat.

 

“Anakku, ayah sudah sangat rindu kepadamu. Ke manakah kau pergi bermain, Nak?” tanya Raja.

 

“Ayah, ananda bermain sampai ke gunung dan di sana ananda belajar berburu.”

 

“Adakah hasil buruanmu, Nak?” tanya Raja.

 

“Ananda tidak membawa hasil buruan, Ayah. Akan tetapi, ada yang ananda bawa pulang, yaitu dua ekor anak burung.”

 

Raja membelalakkan mata dan bertanya, “Burung? Burung apakah yang Ananda bawa pulang?”

 

“Kata para dayang itu mereka adalah anak burung cemperling, Ayah,” sahut Anak Raja.

 

“Ananda suruh pelihara kedua anak burung itu karena ananda merasa kasihan melihatnya terlantar tanpa induknya.”

 

Raja dan Permaisuri mengangguk-anggukkan kepala sambil tersenyum.

 

Anak Raja menyuruh para dayangnya membuatkan sangkar untuk kedua anak burung itu. Setelah selesai dibuat, sangkar burung itu tampak sangat mewah karena terbuat dari perak bertahtakan emas dan mutu manikam. Anak burung itu diberi makan yang enak-enak. Keduanya makan dengan lahapnya. Anak raja itu merasa senang melihat tingkah kedua anak burung itu. Dalam hatinya, ia berkata, “Sangatlah pantas kedua burung itu berada di dalam sangkarnya yang mewah itu.”

 

Pada suatu hari Raja mengadakan jamuan santap malam bersama seluruh menteri, petinggi kerajaan, para prajurit, dan dayang, serta beberapa tamu undangan dari kerajaan lain. Seluruh anggota kerajaan menjadi sibuk mengatur dan mempersiapkannya. Berbagai hidangan yang lezat-lezat diletakkan di meja panjang. Para tamu diperbolehkan makan hingga kenyang. Beberapa tamu sudah mulai berdatangan.

 

Anak Raja mengeluarkan anak burung cemperling dari sangkarnya. Keduanya diletakkannya di atas permadani. Anak- anak   cemperling   itu   sangat   senang.   Mereka   bermain-main sambil melompat-lompat di atas permadani. Banyak tamu yang menonton tingkah laku lucu kedua anak burung dan mereka pun sangat senang. Siapa pun yang melihat aksi kedua anak burung itu pastilah tertawa. Mereka merasa terhibur. Anak Raja mengetahui hal itu. Ia sangat bangga dengan keduanya.

 

Para tamu sudah semakin banyak yang berdatangan. Jamuan makan pun segera dimulai. Suara hiruk-pikuk mulai ramai terdengar. Para tamu sudah mulai menyantap hidangan yang sudah tersedia. Sementara itu, Anak Raja yang sangat bangga terhadap tingkah kedua anak burung itu sibuk memindahkan keduanya ke permadani yang lebih bagus. Anak Raja mengharapkan semua tamu yang hadir dapat menonton aksi kedua anak burung itu sambil menyantap hidangan.

 

Burung cemperling itu memang tidak tahu berterima kasih. Mereka sangat jahat. Seharusnya mereka menyenangkan hati tuannya dengan turut menghibur para tamu. Namun, justru yang terjadi sebaliknya. Anak burung cemperling itu tiba-tiba membuang kotoran yang banyak sekali di atas permadani yang mewah itu pada saat seluruh tamu sedang terpusat perhatiannya kepada mereka. Setelah itu keduanya terbang jauh dan tidak kembali lagi.

 

Hal itu tentu membuat Anak Raja kecewa bercampur malu. Bukan hanya Anak Raja yang merasa malu, melainkan juga kedua orang tuanya, Raja dan Permaisuri.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

11

 

 

 

“Itulah, Tuan, cerita hamba tentang perilaku burung cemperling yang jahat dan tidak tahu berterima kasih kepada tuannya. Berbeda dengan hamba ini. Hamba sangat berterima kasih  kepada  Tuan  laki-laki  yang  telah  membebaskan  hamba. Oleh sebab itu, hamba ingin membalas kebaikan Tuanku. Izinkan hamba mengabdi kepada Tuan berdua.”

 

Khoja Maimun dan istrinya baru mengetahui tentang halnya burung bayan. Ternyata sifat-sifat dan perilaku burung bayan sangat jauh berbeda dengan burung cemperling. “Bagus sekali ceritamu itu, Tuan Bayan. Jika Tuan tidak bercerita tentang burung cemperling, tentu kami tidak tahu sifat-sifatnya yang tidak baik,” kata istri Khoja Maimun.

 

SAUDAGAR PERGI BERLAYAR

 

 

 

Khoja Maimun bersiap-siap akan pergi berlayar. Sebagai saudagar, ia akan menjual barang dagangannya ke negeri Yaman. Hal itu sudah dibicarakannya dengan istrinya.

 

Istri Khoja Maimun membantu suaminya menyiapkan segala perlengkapan yang akan dibawa suaminya. Apalagi, ia tahu suaminya akan pergi meninggalkannya dalam waktu yang agak lama.

 

Pagi-pagi sekali Khoja Maimun meninggalkan rumahnya. Namun, sebelumnya ia berpamitan dengan istrinya dan tidak lupa ia pun berpamitan kepada Bayan. Bahkan, ia berpesan kepada Bayan, “Hai, Bayan, aku hendak pergi berdagang ke suatu negeri yang  jauh.  Kepergianku  cukup  lama.  Untuk  mencapai  negeri itu aku harus berlayar beberapa hari lamanya. Untuk itu, aku menitipkan istriku padamu. Temani dan jagalah istriku, Bayan.”

 

Bayan sangatlah senang mendapat tugas dan sekaligus mendapat kepercayaan dari tuannya untuk menjaga istrinya. Dengan begitu ia membalas kebaikan tuannya. “Baiklah, Tuan. Insya Allah akan hamba jaga tuanku perempuan. Dalam perjalanan nanti, jangan lupa Tuan terus berdoa kepada Allah agar Tuan selamat sampai di tujuan.”

 

Setelah itu, Khoja Maimun pergi meninggalkan rumahnya. Kini tinggallah istri Khoja Maimun dan burung bayan di dalam rumah itu.

 

Pada suatu hari kampung tempat tinggal Khoja Maimun ramai. Hampir semua warga kampung itu keluar rumah. Kampung mereka sedang kedatangan iring-iringan berkuda warga istana kerajaan. Putra mahkota kerajaan beserta para abdi dalemnya melintas di perkampungan mereka. Rombongan istana kerajaan itu disambut dengan senang hati oleh warga kampung. Mereka ingin  sekali  memandang  Putra  Raja  mereka  dari  jarak  dekat.

 

Malam itu Putra Raja tampak murung. Para dayang lalu bertanya, “Mengapa Tuan tampak murung malam ini? Padahal, tadi sore hamba lihat Tuan sangat gembira.”

 

Putra Raja menoleh kepada salah seorang dayang yang bertanya lalu ia pun tersenyum walaupun tampak dipaksakan. “Tidak ada apa-apa, kepalaku sedikit pusing. Mungkin kelelahan.”

 

“Jika  begitu,  ada  baiknya  Tuan  beristirahat  saja,”  kata salah seorang dayang. Di dalam tendanya Putra Raja terus teringat kepada istri Khoja Maimun. Hatinya telah terkena panah asmara. Semalaman ia sulit memejamkan matanya.

 

Ayam  sudah  mulai  berkokok.  Semua  dayang  dan pengawal  masih  tidur  pulas.  Putra  raja  keluar  dari  tendanya, lalu membangunkan salah seorang dayangnya, “Hai, Dayang. Bangunlah!  Persiapkan perbekalan dan  kita  kembali  ke  istana pagi ini.”

 

Tentu saja para dayang merasa ada aneh melihat tingkah Putra Raja dengan mendadak mengajak kembali ke istana.Dalam perjalanan pulang, Putra Raja memerintahkan para dayang untuk melewati kampung itu lagi. Ia berharap bisa melihat kembali wajah cantik istri Khoja Maimun. Para dayang mengarahkan iring- iringan berkuda warga istana menuju kampung. Hati Putra Raja tiba-tiba berdegup keras saat melewati kampung itu. Ia melihat banyak orang di kampung itu memberi hormat kepadanya. Ia pun mengumbar senyumnya kepada warga sambil matanya mencari- cari sosok perempuan yang telah mengganggu pikirannya sejak kemarin. Namun, ternyata sosok perempuan itu tidak tampak.

 

Karena desakan hatinya yang begitu kuat ingin bertemu dengan perempuan itu, ia pun menyuruh dayangnya menghampiri sebuah rumah tempat tinggal perempuan itu. Putra Raja turun dari kudanya lalu berjalan menuju rumah Khoja Maimun.

 

“Assalamualaikum”, sapanya kepada si empunya rumah.

 

“Waalaikumsalam”, jawab yang empunya rumah. Tak lama kemudian pintu terbuka dan muncullah wajah perempuan yang sedang dirindukannya itu.

 

Istri Khoja Maimun tampak gugup. Ia sangat terkejut melihat  putra  raja  yang  berdiri  di  hadapannya.  Sungguh  ia tak pernah membayangkan akan kedatangan putra rajanya di rumahnya yang sederhana itu. Istri Khoja Maimun langsung mempersilakan tamunya untuk duduk, lalu berkata, “Maaf, Tuan. Ada apa gerangan Tuan bertandang ke rumah hamba?”

 

Putra Raja tersenyum lalu berkata, “Seharusnya akulah yang memohon maaf karena membuatmu terganggu akan kedatanganku. Ketahuilah bahwa ketika aku melihatmu untuk pertama kalimanya kemarin, aku tak dapat melupakan wajahmu. Maafkan jika aku pun terlalu lancang mengatakan aku telah jatuh cinta kepadamu. Maukah kau kuajak ke istana malam ini?” tanya Putra Raja kepada istri Khoja Maimun.

 

Istri Khoja Maimun tampak tersipu-sipu karena merasa tersanjung. Dalam hatinya ia pun tertarik akan ketampanan Putra Raja. Namun, ia merasa tidak pantas membalas cintanya. Ia pun menjawab, “Tuan, hamba sudah bersuami. Suami hamba sedang pergi berlayar. Hamba merasa tidak pantas menerima cinta Tuan. Hamba mohon maaf, Tuan.”

 

Putra Raja agak terkejut karena baru kali ini ada wanita menolak cintanya. Setelah itu, dengan perasaan kecewa, ia pun pamit dan kembali menunggang kudanya untuk meneruskan perjalanan pulang ke istana.

 

Sesampainya di istana, Putra Raja langsung disambut kedua orang tuanya. Raja dan permaisuri sangat senang putranya telah kembali dengan selamat. Namun, sang putra tidaklah demikian. Ia tak banyak berbicara. Setelah sungkem kepada ayah dan ibunya, ia pamit hendak kembali ke istananya untuk beristirahat. Ia tidak mau  terlalu  lama  berhadapan  dengan  kedua  orang  tuanya.  Ia malu keduanya akan melihat jelas perubahan air mukanya yang sedang memendam rasa rindu dendam kepada perempuan yang

 

ditemuinya di perkampungan. Walaupun dirasakan ada keanehan akan perilaku putranya, Raja dan Permaisuri mengizinkan putranya berlalu.

 

Berbeda halnya dengan istri Khoja Maimun, setelah berpisah dengan Putra Raja, perempuan itu merasa heran yang tak terhingga mengapa Putra Raja yang berwajah tampan dan baik hati itu jatuh cinta kepadanya. Ia merasa dirinya hanyalah warga kampung. Selain itu, ia telah bersuami. Sementara itu, di luar sana banyak perempuan yang jauh lebih muda dan cantik daripada dirinya.

 

Suara Bayan mengejutkannya, “Tuanku perempuan tidak usah Tuan memikirkannya.” Istri Khoja Maimun menoleh ke arah Bayan. Di dalam hatinya, ia membenarkan kata-kata Bayan bahwa ia memang sedang memikirkan putra raja. Bayan berkata lagi, “Sudah biasa sifat laki-laki seperti itu, Tuan. Padahal, mungkin ia pun sudah beristri atau mempunyai kekasih. Akan tetapi, apabila melihat perempuan lain yang cantik di mana pun, ia pun akan tertarik, lalu jatuh cinta. Jangan hiraukan kata-kata manis Putra Raja, Tuan. Tuan akan berdosa dan mendapat murka Allah subhanahu wa taala apabila Tuanku menuruti permintaan Putra Raja.”

 

Setelah mendengar nasihat Bayan, istri Khoja Maimun tersadar bahwa tindakannya salah. Tidak sepantasnya ia menerima tamu laki-laki di rumahnya pada saat suaminya tak ada di rumah, apalagi menerima cinta dari laki-laki lain. Ia segera beristigfar, lalu memohon ampun kepada Allah subhanahu wa taala.

 

Di istana kecilnya Putra Raja masih terus melamun. Rasa rindu kepada istri Khoja Maimun tak kuasa ditahannya lagi. Ia memanggil dayangnya berkata, “Hai, Dayang, tolong panggilkan Mak Inang dan suruh dia menghadapku sekarang.”

 

“Baik, Tuanku,” jawab dayang. Mak Inang adalah dayang perempuan yang sudah tua. Ia adalah pengasuh Putra Raja ketika masih kecil dulu. Bahkan, Putra Raja kerap memanggilnya dengan sebutan “Ibu”.

 

Tidak  lama  kemudian  dayang  itu  datang  bersama  Mak

Inang. “Tuanku, ini Mak Inang. Hamba mohon diri, Tuan.”

 

“Baiklah,  Dayang.  Terima  kasih  sudah  membawa  Mak

Inang ke hadapanku.”

 

Mak Inang berlutut di hadapan Putra Raja, lalu berkata, “Ada perlu apa Tuan Muda memanggil hamba kemari?”

 

“Ibuku, duduklah di sini di dekatku.” Mak Inang berpindah

tempat dan duduk di sebelah Putra Raja.

 

Putra Raja mulai menyampaikan isi hatinya kepada Mak Inang. “Ibuku, ada hal penting yang akan kusampaikan kepadamu. Ini masalah perasaanku saat ini. Aku mencintai seorang perempuan warga kampung. Wajahnya sangat cantik. Tubuhnya pun indah dipandang mata. Sudah beberapa hari ini aku memendam rasa rindu yang mendalam terhadapnya. Namun, ketika kudatangi rumahnya dan kusampaikan maksud kedatanganku, ia menolakku. Celakanya, sampai hari ini aku tidak dapat melupakannya. Aku hendak menikahinya. Bagaimana menurut pendapat Ibu akan masalahku ini?”

 

“Sebaiknya, Tuan Muda jangan gegabah menemuinya sebelum  Tuan yakin perempuan itu mau menerima Tuan Muda,” kata Mak Inang. “Maksudku, biarlah Ibu yang menemuinya dan menyampaikan maksudku ini. Jika perempuan itu sudah bersedia menerimaku, aku yang akan datang menemuinya,” kata Putra Raja.

 

“Baiklah, Tuanku. Akan tetapi, hamba tidak tahu di mana rumah perempuan itu.”

 

Putra Raja memanggil beberapa dayang laki-laki yang pernah mengawalnya ketika itu. Tak lama kemudian dua orang dayang datang menghadapnya. “Hai, dayang! Masih ingatkah kalian rumah perempuan yang pernah kita singgahi ketika kita pulang dari hutan?”

 

“Ya, hamba masih ingat, Tuan,” jawab kedua dayang itu serentak.

 

“Sekarang pergilah kalian ke rumah perempuan itu lagi untuk menemani Mak Inang. Biarlah Mak Inang yang berbicara dengan perempuan itu. Ajaklah beberapa dayang lainnya.”

 

“Baik,  Tuan.  Kami  siap  melaksanakan  perintah  Tuan,”

jawab kedua dayang itu.

 

Setelah kedua dayang itu menghilang, Mak Inang mohon

permisi meninggalkan tuannya untuk berkemas-kemas.

 

Suasana kampung terasa sepi. Tidak banyak orang berlalu lalang. Hanya suara burung yang berkejar-kejaran di angkasa yang terdengar. Rumah Khoja Maimun juga tampak lengang. Istri Khoja Maimun saat itu baru selesai memasak. Ia pun menyediakan makananan buat burung bayan yang setia menemaninya.

 

Beberapa   saat   kemudian   istri   Khoja   Maimun   tiba- tiba dikejutkan oleh suara orang mengetuk pintu rumahnya. “Assalamualaikum, … assalamualaikum ….”

 

Perempuan itu setengah berlari menuju pintu, lalu membukanya. Di depan pintu dilihatnya seorang perempuan setengah tua dan beberapa orang laki-laki muda. Lalu, ia menjawab,  “Waalaikumsalam, mari silakan masuk, Ibunda.”

 

Mak Inang memberi hormat dengan membungkukkan badannya  kepada  istri  Khoja  Maimun,  lalu  masuk  ke  rumah. Para dayang laki-laki disuruhnya tetap berada di luar. Mak Inang memandang wajah istri Khoja Maimun. “Hem, memang cantik sekali perempuan ini,” begitu bisiknya di dalam hati. “Pantaslah Tuan Muda jatuh cinta kepada perempuan ini.”

 

“Ada perlu apakah Ibunda datang kemari?” tanya istri Khoja Maimun dengan suara lembut. Ia tersipu malu karena ditatap Mak Inang dengan tajam. Mak Inang pun baru tersadar bahwa ia terlalu lama memandang wajah perempuan yang berada di hadapannya itu. Segera diceritakannya perihal perasaan Putra Raja kepada perempuan itu. “Anakku, kedatanganku kemari karena  disuruh  Putra  Raja  menemuimu.  Ia  sedang  menaruh

 

hati kepadamu. Setiap hari Putra Raja gelisah dan tidak pernah berhenti memikirkanmu. Ia ingin bertemu denganmu. Maukah sekarang kau pergi bersamaku ke istana?”

 

Istri Khoja Maimun tampak bingung. Hatinya pun ada perasaan tertarik kepada Putra Raja, tetapi di sisi lain ia sadar bahwa ia sudah bersuami. Katanya kemudian, “Ibundaku, sampaikan kepada Putra Raja bahwa aku ini hanyalah wanita kampung yang miskin. Rasanya tidak sepantasnya aku bertemu dengan Putra Raja. Bukankah banyak perempuan-perempuan yang lebih muda, cantik, dan orang kaya. Tidak adakah perempuan anak perdana menteri atau anak perempuan orang terkemuka? Lagi pula aku ini perempuan yang sudah bersuami.”

 

Mak Inang masih terus membujuk istri Khoja Maimun, “Anakku, tuanku tidak mempermasalahkan keadaanmu. Ia laki- laki yang baik. Tidak pernah membedakan orang. Ayolah, Nak, ikut aku. Temui dia walau hanya sebentar saja.”

 

Istri Khoja Maimun tetap teguh pada pendiriannya. Ia takut akan murka Allah subhanahu wa taala. Dianggapnya ini suatu  cobaan  dari  Allah  Taala. “Maafkan aku, Ibunda.  Aku  tak bisa memenuhi keinginan Putra Raja. Sampaikanlah permohonan maafku ini.”

 

Mak Inang merasa perempuan itu sulit dibujuk lagi. Ia merasa akan sia-sia upayanya jika ia masih terus berada di sini. Sementara itu, hari sudah hampir gelap. Akhirnya, mak Inang permisi pulang. Istri Khoja Maimun mengantarnya sampai ke depan pintu.

 

Bayan yang mendengarkan percakapan Istri Khoja Maimun dan Mak Inang sejak awal mulai bicara. “Tuanku perempuan, duduklah. Hamba sangat kagum akan jawaban Tuanku kepada perempuan tua itu. Memang sudah seharusnya Tuan menolak ajakannya. Bukankah tidak pantas seorang perempuan mendatangi seorang laki-laki meskipun ia seorang anak petinggi di negeri ini. Hamba bangga dengan keteguhan pendirian Tuan.”

 

Istri khoja Maimun menjawab, “Tuan Bayan sangat baik kepadaku. Benar apa yang Tuan Bayan katakan tadi. Sekarang aku akan beristirahat.”

 

Sementara itu, Putra Raja sibuk berbenah diri. Ia mandi dengan air yang sudah ditaburi bunga-bungaan. Setelah selesai mandi, ia menyemprotkan wewangian ke seluruh tubuhnya, kemudian memilih pakaian yang paling bagus. Di depan kaca ia melihat dirinya yang tampan dengan bajunya yang bagus. Semua itu dilakukannya untuk menyambut kedatangan perempuan yang selama ini menghuni hatinya.

 

Kedatangan Mak Inang di istananya malam itu disambutnya dengan lesu. Dilihatnya Mak Inang datang sendirian. Mak Inang tak membawa serta perempuan pujaan hatinya. Mak Inang berlutut di hadapan anak raja itu sambil menyembah, “Maaf beribu-ribu maaf, Tuan. Hamba tak berhasil membawa perempuan yang Tuan maksud kemari. Ia sangat keras hati. Hamba sudah berupaya membujuknya, tetapi ia tetap tak mau memenuhi permintaan hamba,” kata Mak Inang.

 

Putra Raja menghampirinya dan membimbingnya duduk di dekatnya. “Lalu upaya apa lagi yang akan kita lakukan, Ibu? Aku sangat mencintainya. Aku sudah tak kuat menahan rinduku kepada perempuan itu,” kata Putra Raja seolah minta belas kasih.

 

Mak Inang merasa kasihan kepada Putra Raja, lalu tiba-tiba terpikir olehnya untuk menggunakan jasa orang yang “pintar”. Ia berkata kepada Putra Raja, “Tuan Muda, segala upaya sudah kita lakukan, tetapi semuanya tidak ada hasilnya. Perempuan itu keras pendiriannya. Masih ada satu upaya lagi yang bisa kita lakukan, Tuan. Kita minta pertolongan kepada orang yang mengetahui ilmu hikmah.”

 

“Aku setuju apa pun saran Ibu asal pada akhirnya aku bisa mendapatkan perempuan itu. Apakah Ibu tahu di mana tempat tinggal orang yang memiliki ilmu hikmah itu?”

 

“Ya, tentu. Hamba tahu rumah orang itu. Hamba akan menyuruhnya menghadap Tuan.”

 

“Biarlah aku yang akan menemuinya sendiri ke rumah orang itu. Ibu mendampingiku saja.” kata Putra Raja.

 

“Akan tetapi, Tuan, ada sesuatu yang harus Tuan berikan

kepada orang berilmu itu,” kata Mak Inang lagi.

 

Putra Raja menjawab, “Aku akan memberikan emas dan perak kepadanya jika ia mau membantuku.”

 

Keesokan harinya, Putra Raja yang didampingi Mak Inang dan beberapa dayang pengawalnya berangkat menuju orang berilmu itu. Sesampainya  di rumah orang itu, pada awalnya, Mak Inanglah yang masuk terlebih dahulu menemui orang berilmu itu. Sementara itu, Putra Raja menunggu di luar.

 

Ketika melihat Mak Inang datang, orang itu langsung menyapanya, “Selamat datang, Inangku. Ada apa gerangan Inang datang menemuiku?”

 

Mak  Inang  pun  menjawab,  “Ibuku,  aku  datang  tidak

sendirian. Aku datang bersama Putra Raja. Dia ada di luar, Ibu.”

 

Orang  berilmu  itu  terkejut,  lalu  meminta  agar  segera Mak Inang mempersilakannya masuk. Mak Inang keluar dan mempersilakan Putra Raja masuk ke dalam rumah.

 

Ketika melihat Putra Raja berdiri di hadapannya, orang berilmu itu lalu berlutut memberi penghormatan, lalu berkata, “Tuan, hamba merasa tersanjung sekali akan kedatangan Tuan di rumahku. Tampaknya ada hal penting yang hendak Tuanku sampaikan kepadaku.”

 

“Benar,  Ibu.  aku  membutuhkan  pertolonganmu,”  jawab

Putra Raja.

 

“Hal  apakah  itu,  Tuan?  Mudah-mudahan  hamba  bisa

membantu Tuan,” tanya orang itu.

 

Putra Raja tampak agak malu untuk menceritakan halnya kepada orang tua itu. Melihat gelagat seperti itu, Mak Inang lalu berkata, “Ibu, biarlah aku yang akan menyampaikan hal tuanku

 

ini kepadamu. Tuanku ini sedang merasakan kekecewaan yang luar biasa terhadap seorang perempuan dari kalangan rakyat biasa. Perempuan itu cantik dan lemah lembut tutur katanya. Tuanku ini sangat mencintainya. Namun, perempuan itu menolak cinta tuanku ini. Kedatangan kami kemari adalah untuk meminta pertolongan Ibu agar perempuan itu berubah pikiran dan bisa membalas cinta tuanku ini.”

 

Orang tua itu tersenyum-senyum mendengar cerita Mak

Inang seolah ia paham masalah anak muda.

 

Mak  Inang  berkata  lagi,  “Ibu,  tolonglah  tuanku  ini.  Ia

datang kemari membawa emas dan perak untuk Ibuku.”

 

Wajah  orang  tua  itu  mendadak  berbinar-binar  setelah

mendengar perkataan Mak Inang.

 

Tanpa banyak bertanya lagi ia diam sejenak sambil memejamkan   matanya   dan   tak   lama   kemudian  ia   berkata, “Tuan, ada syarat-syarat tertentu yang harus Tuan laksanakan untuk mencapai tujuan Tuan itu. Apakah nanti Tuan bersedia melaksanakannya?” tanya orang tua itu masih dengan mata terpejam.

 

 

 

Ibu.”

Putra  Raja  menjawab,  “Ya,  aku  siap  melaksanakannya,

 

 

Setelah itu orang tua itu membuka matanya dan dengan tajam ia memandang wajah Putra Raja, lalu berkata, “Tuan, ini ada doa yang harus Tuan baca selama tiga hari tiga malam terus- menerus. Nanti genap tiga hari Tuan membaca doa itu, perempuan itu akan datang mencari-cari Tuan, lalu dia akan berlutut di kaki Tuan sambil menangis memohon cinta Tuan kepadanya.”

 

Ketika mendengar perkataan orang tua itu, Putra Raja sangat senang hatinya. Ia bertekad akan melaksanakan syarat yang diajukan orang tua itu. “Baik, Ibu. Kiranya sudah cukup aku memahami maksud Ibu. Apakah masih ada syarat lainnya, Ibu?” tanya Putra Raja.

 

Orang tua itu menggelengkan kepala dan berkata, “Hanya itu saja, Tuan. Tidak ada lagi syarat lainnya.”

 

Putra Raja memanggil para pengawalnya seraya memberi isyarat. Dua orang pengawalnya mendekat sambil membawa bingkisan    berisi    emas    dan    perak,    lalu    menyerahkannya kepada Putra Raja. Putra Raja menerima bingkisan itu, lalu menyerahkannya kepada orang tua itu sambil berkata, “Ibu, terimalah bingkisan ini sebagai ungkapan rasa terima kasihku kepada Ibu.”

 

Orang tua itu menerima bingkisan itu dengan perasaan yang sangat senang. “Terima kasih banyak, Tuan. Hamba anggap ini suatu karunia Tuan yang sangat luar biasa.”

 

Setelah itu, Putra Raja memberi isyarat kepada Mak Inang dan Mak Inang pun berkata, “Ibu, izinkan kami pamit pulang. Terima kasih atas bantuan Ibu.”

 

Setelah itu, mereka semua berdiri, lalu berjalan keluar dari rumah orang tua itu.

 

Mereka sampai di istana sudah larut malam. Mak Inang langsung pamit undur diri sesampainya di istana. Putra Raja pun kembali ke istananya dikawal oleh beberapa dayang.

 

 

BAYAN BERCERITA TENTANG ISTRI YANG SALIHAH

 

 

 

Genap sudah tiga hari tiga malam Putra Raja melaksanakan ilmu hikmah. Ia memanggil Mak Inang dan memerintahkannya untuk menjenguk istri Khoja Maimun. Putra Raja sudah tidak sabar lagi segera ingin membuktikan kata-kata orang tua yang memiliki ilmu hikmah.

 

Ketika Mak Inang sudah berada di hadapannya, ia berkata, “Ibuku, sudah genaplah aku berdoa sesuai dengan apa yang diminta orang tua itu. Sekarang pergilah ke rumah perempuan itu dan sampaikan kepadanya bahwa nanti malam aku akan datang ke rumahnya.”

 

Mak Inang menjawab, “Tuan, hamba tidak setuju jika Tuan akan pergi ke rumah perempuan itu. Hamba khawatir Tuan akan mendapat malu jika itu Tuan lakukan. Tuan adalah anak seorang raja. Tentu bisa Tuan bayangkan malam hari anak seorang raja menyusup ke rumah seorang perempuan kampung lalu penduduk kampung itu ada yang melihat Tuan. Hamba kira bukan hanya Tuan yang mendapat malu, melainkan ayah dan bunda Tuan pun mendapat malu yang luar biasa.”

 

Putra Raja menyimak dengan saksama perkataan Mak Inang, lalu berkata, “Benar juga pendapat Ibuku. Aku tidak mau mendapat  malu,  apalagi  masalah  ini  aku  rahasiakan  kepada ayah dan bundaku. Jangan sampai mereka tahu hal ini apalagi sampai mereka mendapat malu karena ulahku ini, Ibuku.” Putra Raja bertanya kepada Mak Inang, “Ibu, bagaimana aku tahu jika perempuan itu sudah mau menerimaku?”

 

“Biarlah hamba datangi rumah perempuan itu dan akan kusampaikan salam Tuan. Aku akan melihat bagaimana reaksinya,” jawab Mak Inang.

 

Mak  Inang  memohon  pamit  dari  hadapan  Putra  Raja. Ia berjalan meninggalkan tuannya. Putra Raja memandangnya hingga Mak Inang menjauh. Ia berharap-harap cemas menanti Mak Inang kembali.

 

Pada suatu hari di rumahnya, istri Khoja Maimun tampak melamun. Sudah tiga hari ia tidak ada gairah makan. Ia pun merasa heran mengapa tiba-tiba ia teringat kepada Putra Raja. Hatinya sangat rindu kepada Putra Raja. Setiap hari ia termangu duduk di pelataran rumahnya mengharapkan Mak Inang melintasi rumahnya. Jika ia melihat Mak Inang, akan dipanggilnya mampir ke rumahnya dan akan diceritakannya perihal perasaannya terhadap Putra Raja.

 

Mak Inang berjalan seorang diri menuju rumah Khoja Maimun. Sengaja ia tidak diiringi seorang pengawal pun karena perbuatan  ini  sangatlah  rahasia.  Tidak  terasa  perjalanannya sudah hampir sampai ke tujuan. Namun, tatkala ia baru sampai di ujung jalan di perkampungan itu, tiba-tiba ia mendengar suara orang memanggil-manggil namanya. Ia pun mencari asal suara itu. Alangkah terkejutnya dan juga bercampur gembira hatinya melihat seorang perempuan melambai-lambaikan tangannya ke arahnya. Perempuan itu sudah ia kenal sebelumnya. Pucuk dicinta ulam tiba, begitu bisiknya dalam hati. Ia berjalan setengah berlari menghampiri istri Khoja Maimun.

 

Mereka saling berpelukan, lalu istri Khoja Maimun menggiringnya masuk ke dalam rumahnya. Mak Inang sempat mengamati perilaku perempuan itu sangat berbeda dengan perilakunya beberapa waktu yang lalu ketika ia pertama kali mendatanginya.

 

Ia tampak gembira dan berkali-kali perempuan itu menciuminya. Saat duduk pun tangan perempuan itu terus menggenggamnya. Dengan mengiba perempuan itu berkata, “Ibuku,  di  manakah  Putra  Raja?  Aku  sangat  rindu  kepadanya. Aku ingin menemuinya. Menyesal sekali aku telah menolaknya

 

beberapa waktu lalu. Apakah Putra Raja masih mempunyai hasrat denganku, Ibu? Aku sudah tak tahan menanggung perasaan seperti ini terlalu lama.”

 

Mak Inang tampak tetap tenang walaupun hatinya penuh dengan kegembiraan. Ia membayangkan betapa tuannya senang mendengar ceritanya nanti. Ia berkata kepada perempuan itu, “Anakku, tentu saja Putra Raja masih mencintaimu. Kini ia sedang menantikanmu di istana. Sebaiknya, nanti malam saja kau temui dia.”

 

Ketika mendengar perkataan Mak Inang, senanglah hati istri Khoja Maimun. Tingkahnya seperti kanak-kanak. Ia melepas genggamannya dan berdiri, lalu melompat-lompat sambil tertawa kegirangan. Mak Inang pun memandangnya dengan senang. Tak lama kemudian, Mak Inang memohon pamit untuk kembali ke istana menemui Putra Raja.

 

Sebelum Mak Inang meninggalkan rumah Khoja Maimun, istri Khoja Maimun berpesan kepada Mak Inang, “Ibuku, sampaikan salam hormat dan kasih sayangku kepada Putra Raja. Beri tahukan kepadanya untuk menungguku nanti malam.” Mak Inang hanya tersenyum dan segera berlalu.

 

Sepeninggal Mak Inang, istri Khoja Maimun bebenah diri. Ia  mengenakan  lulur  yang  dioleskannya  ke  seluruh  tubuhnya, lalu mengusapnya perlahan-lahan agar semua kotoran-kotoran yang melekat pada tubuhnya hilang. Rambutnya pun diberi ramuan bunga mawar agar lembut dan harum. Kuku-kukunya dipotong, dibentuk, dan diberi warna agar tampak indah. Ia mengerjakan semua itu dengan hati yang riang gembira. Hatinya sedang berbunga-bunga karena akan bertemu dengan pangeran pujaan hatinya. Setelah selesai semua, ia memilih pakaian yang paling bagus untuk dikenakannya saat bertemu Putra Raja. Disemprotkannya minyak wangi sekujur tubuhnya. Ia sudah tidak sabar menanti waktu malam.

 

Malam pun tiba. Namun, istri Khoja Maimun tak juga berangkat ke istana. Ia masih mematut diri. Ia akan berangkat apabila waktu malam sudah pekat dan sudah tidak ada lagi orang berlalu lalang. Ia tak ingin ada orang yang tahu kepergiannya menemui Putra Raja.

 

Malam pun kian larut. Istri Khoja Maimun melihat dari balik jendela, keadaan sudah sangat sepi. Dipanggilnya Bayan, “Tuan Bayan, aku hendak pergi ke istana untuk menemui Putra Raja malam ini. Tinggallah engkau menunggu rumah ini. Aku akan berangkat sekarang. Aku sudah tak sabar lagi ingin bertemu Putra Raja. Ia pun pasti sudah menungguku di istana.”

 

Ketika mendengar perkataan tuannya, Bayan sangat marah. Namun, kemarahannya itu ditahannya jangan sampai tuannya tahu. Hal itu tentu akan sangat menyinggung perasaan tuannya. Dengan tutur katanya yang halus dan sopan, Bayan berkata, “Tuan adalah seorang perempuan. Sangat tidak pantas seorang perempuan menemui laki-laki pada malam hari begini. Apakah Tuan tidak takut kepada Allah subhanahu wa taala dan malu kepada Rasulullah salallahu alaihi wasalam? Ingatlah Tuan, hukuman Allah itu sangat keras terhadap orang yang melakukan zina. Zina itu termasuk dosa besar, Tuan. Perbuatan itu sangat diharamkan Allah subhanahu wa taala.”

 

Setelah mendengar perkataan burung bayan, Istri Khoja Maimun tampak gelisah. Di dalam hatinya ia membenarkan perkataan burung bayan. Akan tetapi, ia pun tak mampu menutupi perasaannya yang selalu merindukan Putra Raja. Ia berkata, “Tuan Bayan yang budiman, bagaimanakah cara mengobati hatiku ini. Aku sudah telanjur mencintai Putra Raja. Sulit rasanya untuk melupakannya.”

 

Bayan menjawab, “Turutilah kata-kata hamba, Tuanku perempuan. Niscaya Tuan bisa melupakan Putra Raja. Apakah Tuan tidak takut jika hal ini diketahui Tuan laki-laki. Jika Tuan laki-laki tahu perbuatan Tuan perempuan, pasti ia akan marah besar  dan  bahkan  mungkin  ia  akan  membunuh  Tuan.  Jangan Tuan percaya akan cinta Putra Raja. Percayalah kepada hamba, Tuan. Cinta Putra Raja tak akan bertahan lama. Suatu hari kelak jika ada perempuan lain, ia pun akan mengobral cintanya kepada perempuan itu dan hilanglah cintanya kepada Tuan. Oleh karena itu, lupakanlah Putra Raja. Tuan laki-laki adalah suami yang baik. Ia pergi berdagang sampai jauh ke negeri orang untuk mencari nafkah buat Tuanku. Ia rela berlayar berhari-hari, terombang- ambing ombak di laut demi keluarga. Ingatlah itu, Tuan.”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

28

 

Istri Khoja Maimun termangu-mangu mendengar nasihat Bayan. Semua yang dikatakan burung bayan meresap ke dalam hatinya. Ada perasaan malu kepada burung itu. Bagaimana bisa binatang  seperti burung  bayan  mempunyai  pikiran jernih dan bisa berpikir panjang seperti itu. Sementara itu, manusia seperti dirinya tidak dapat berpikir panjang dan hanya menuruti hawa nafsu belaka.

 

Burung bayan melihat tuannya diam saja. Ia bertanya kepada istri Khoja Maimun, “Tuan, mengapa Tuan diam saja? Apakah ada kata-kata hamba yang membuat Tuan tidak berkenan?”

 

Istri Khoja Maimun terkejut. Ia terlena dengan perkataan seekor burung yang sangat bijaksana itu. Ia menjawab, “Oh, Tuan Bayan yang bijaksana, sama sekali tidak ada satu perkataanmu yang terdengar buruk di telingaku. Justru aku sangat berterima kasih kepadamu, Bayan. Aku senang mendengar nasihatmu.”

 

“Masih maukah Tuan mendengar ceritaku?” tanya Bayan lagi kepada istri Khoja Maimun.

 

“Tentu saja, Tuan Bayan. Ayo, berceritalah sampai malam habis sehingga aku tak lagi punya keinginan pergi ke istana menemui Putra Raja,” jawab istri Khoja Maimun.

 

“Baiklah, kali ini aku akan bercerita tentang siksaan yang akan didapat oleh orang yang berbuat zina,” kata Bayan.

 

Pada saat datangnya malaikat maut mengambil nyawa perempuan yang berbuat zina itu, kulitnya seperti ditarik dengan sangat kuat hingga terkelupas. Betapa perih dan sakitnya siksaan itu. Setelah mati, perempuan itu dimasukkan ke dalam kubur. Beberapa saat berada di dalam kubur, jasad perempuan itu didatangi malaikat Munkar dan Nakir.

 

Salah seorang malaikat itu bertanya kepada perempuan itu, “Hai, perempuan, apa saja kerjamu ketika masih hidup di dunia?”

 

Malaikat itu bertanya sambil tangannya memegang alat pemukul yang sangat besar. Suaranya pun seperti suara halilintar disertai api yang menyala-nyala keluar dari dalam mulutnya. Orang perempuan itu pun tak dapat menjawab. Seluruh anggota badannya gemetar, lalu perempuan itu dipukulnya berulang kali.

 

Selepas perempuan itu mendapat siksa kubur, terdengarlah firman Allah subhanahu wa taala memerintahkan malaikat Zabaniah, “Hai, Malaikat, masukkanlah perempuan celaka itu ke dalam neraka.” Oleh malaikat Zabaniah perempuan itu dimasukkan ke neraka.

 

Setelah mendapat siksaan, para penghuni neraka itu dimasukkan  ke  dalam  telaga.  Di  sana  pun  banyak  binatang buas yang siap menggigiti tubuh mereka. Penghuni neraka itu berteriak-teriak mohon ampunan Allah. Malaikat pun datang dan berkata, “Hai, perempuan durhaka, jika kau berdosa kepada Allah, Allah akan mengampuni dosamu. Akan tetapi, kau berdosa kepada suamimu.”

 

Setelah lima ribu tahun lamanya ia disiksa di neraka, barulah Allah mengangkatnya dan mempertemukannya dengan suaminya. Suaminya tengah berada di surga ditemani para bidadari. Kemudian Allah mengaruniakan ingatan kepada mereka masing-masing. Akhirnya, mereka teringat kembali bahwa mereka pernah menjadi suami istri ketika hidup di dunia.

 

Perempuan itu dipersilakan meminta kepada suaminya agar suaminya memohonkan ampunan Allah untuknya. Suaminya pun memohon kepada Allah, “Ya Ilahirabi, keluarkanlah istri hamba dari dalam neraka.”

 

Allah    berfirman    kepada    malaikat,     “Hai,    Malaikat,

keluarkanlah hamba-Ku dari dalam neraka.”

 

Malaikat pun mengeluarkan perempuan itu dari dalam neraka, lalu dibawanya ke Sungai Kalkausar untuk mandi. Setelah mandi, perempuan itu diserahkan kepada suaminya sehingga mereka dapat hidup bersama kembali di dalam surga.

 

“Tuanku, begitulah cerita hamba tentang balasan Allah terhadap perempuan yang berzina,” kata Bayan kepada istri Khoja Maimun.

 

Perempuan itu menjawab, “Bayan, engkaulah pengganti ibu-bapakku. Engkau telah mengingatkanku akan dosa berzina. Bisa kubayangkan jika saat seperti ini aku tidak bersamamu, Bayan. Pasti aku sudah terjerumus ke dalam dosa itu. Terima kasih, Bayan yang budiman, atas nasihatmu.”

 

Bayan merasa senang karena pada akhirnya tuannya mengurungkan niatnya menemui Putra Raja. Tuannya lebih memilih mendengarkan ceritanya. Kemudian ia berkata lagi, “Jika Tuan masih belum mengantuk, masih maukah Tuan mendengarkan lagi ceritaku?”

 

Istri Khoja Maimun menjawab, “Aku masih belum mengantuk, Bayan. Biarlah malam ini akan kuhabiskan waktu hingga pagi untuk mendengarkan ceritamu. Apa yang akan kau ceritakan kepadaku, Bayan?”

 

“Ini cerita bagus, Tuan. Hamba akan bercerita tentang seorang istri yang salihah,” kata Bayan dengan bersemangat.

 

“Cepatlah ceritakan kepadaku, Bayan,” pinta istri Khoja

Maimun tak sabar.

 

“Baiklah, Tuan. Beginilah ceritanya.”

 

Pada zaman dahulu, ada seorang perempuan bernama Sabariah. Orang-orang di sekitarnya biasa memanggilnya dengan sebutan Bibi Sabariah. Ia tinggal hanya berdua dengan suaminya, Khoja Iskandariah, di suatu perkampungan. Mereka berdua saling mencintai sekalipun usia mereka sudah tidak muda lagi.”

 

Pernah suatu hari, ketika mereka berdua sedang berada di kebunnya, Khoja Iskandariah bertanya kepada istrinya, “Istriku, jika suatu saat nanti Allah memanggilku lebih dahulu, apakah kau akan tetap setia pada cinta kita? Maksudku, jika nanti aku tiada lagi di dunia ini dan ada seorang laki-laki mendekatimu, apakah kau akan menikah lagi?”

 

Ketika mendengar pertanyaan suaminya, Bibi Sabariah langsung memeluk suaminya dan menciuminya, lalu berkata, “Jangan kau ragu akan cintaku, Kanda. Aku tak bisa mencintai laki-laki lain sekalipun ia lebih tampan dan kaya raya. Hatiku hanya kupersembahkan kepadamu, Kanda. Jika nanti Allah taala memanggilmu lebih dahulu, cintaku akan terkubur bersama jasadmu dan sudah tak bersisa lagi cinta di hatiku ini.”

 

Setelah mendengar jawaban istrinya, Khoja Iskandariah tersenyum. Karena merasa heran dengan senyuman suaminya, Bibi Sabariah bertanya, “Mengapa Kanda tersenyum mendengar jawabanku?”

 

Khoja Iskandariah memegang tangan istrinya. Matanya memandang istrinya lalu berkata, “Dinda, yang kuketahui selama ini ada banyak perempuan yang sudah ditinggal mati suaminya ia akan menerima cinta dari laki-laki lain. Bahkan, banyak perempuan yang belum lagi empat puluh hari kematian suaminya ia menikah lagi dengan laki-laki lain. Banyak wanita tidak mempunyai pendirian yang kuat. Begitulah perempuan sekarang ini, Dinda.” Sorot mata Khoja Iskandariah meredup. Ia tampak sedih.

 

Ketika  melihat  hal  itu,  Bibi  Sabariah  segera  memeluk erat suaminya dan menciuminya. Bibi Sabariah itu berkata lagi,

”Kanda, aku berani bersumpah atas nama Tuhan. Demi Tuhan yang memiliki tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi, jika Kanda lebih dahulu berpulang ke Rahmatullah, aku haramkan diriku ini mencintai laki-laki lain. Jika nanti ada laki-laki yang mendekatiku, dia akan kujadikan ayah jikalau ia sudah tua  dan kujadikan anak jikalau ia masih muda.”

 

Setelah mendengar perkataan istrinya, Khoja Iskandariah tersenyum. Bergantian kini dialah yang memeluk istrinya sambil berkata, “Terima kasih, Dinda. Aku tak meragukan cintamu lagi. Aku pun akan melakukan hal yang sama dengan Adinda jikalau Allah taala memanggilmu lebih dahulu.”

 

Beberapa bulan setelah mereka saling menyatakan sumpah setia di kebun, Khoja Iskandariah sakit keras. Beberapa hari kemudian ia meninggal dunia. Alangkah sedihnya Bibi Sabariah kehilangan suaminya. Ia menyuruh orang-orang di sekitarnya untuk menguburkan suaminya di kebunnya. Beberapa hari kemudian di dekat kubur Khoja Iskandariah dibangun musala lengkap dengan kamar kecil dan pancuran air untuk mengambil air sembahyang. Di kebun itu pula Bibi Sabariah menanam berbagai macam bunga dan buah-buahan. Setiap hari ia sibuk mengurusi kebunnya.

 

Kematian Khoja Iskandariah sudah lama berlalu. Berbagai bunga  dan  buah-buah  pun  tumbuh  subur  dan  bahkan  sudah bisa dinikmati hasilnya. Banyak orang penduduk di kampung itu yang mengetahuinya dan bahkan membeli bunga dan buah dari kebun Bibi Sabariah. Seiring dengan berjalannya waktu, kebun bunga dan buah Bibi Sabariah mendapat sorotan banyak orang. Pelanggan bunga dan buah pun bertambah banyak. Bibi Sabariah sudah semakin sibuk menerima pesanan. Untuk itu, ia akhirnya mempekerjakan beberapa orang untuk merangkai bunga.

 

Berita  tentang  bunga  dan  buah  hasil  kebun  Bibi Sabariah akhirnya sampai ke istana raja. Pada suatu hari, Bibi Sabariah kedatangan banyak orang. Saat itu ia baru saja selesai melaksanakan salat zuhur. Ketika mendengar ramai orang di luar sana, ia membuka jendela rumahnya. Tampak olehnya banyak orang berkumpul di depan rumahnya. Ia segera melipat kain salatnya dan bergegas keluar. Dari jarak yang tak begitu jauh, ia bertanya, “Kalian siapa? Ada perlu apakah kalian datang kemari?”

 

Salah seorang di antara mereka menghampirinya dan berkata, “Kami rombongan dari kerajaan, Nyai. Terimalah kedatangan Tuan Putri Ratnadewi, istri raja di negeri ini.”

 

Bibi Sabariah bergegas mendekati Tuan Putri Ratnadewi, lalu memberi hormat kepadanya.

 

Ia mempersilakan Tuan Putri itu masuk ke rumahnya, “Silakan masuk, Tuan Putri. Selamat datang di bilik hamba yang fakir ini.”

 

Tuan  Putri  Ratnadewi  masuk  ke  rumah  Bibi  Sabariah, lalu duduk berhadapan dengan Bibi Sabariah. “Sungguh, hamba merasa tersanjung sekali atas kedatangan anggota kerajaan. Padahal, hamba tak pernah bermimpi hal ini. Apakah yang bisa hamba lakukan untuk Tuan Putri?” tanya Bibi Sabariah.

 

Tuan Putri Ratnadewi tersenyum dan berkata, “Hai, Saudaraku, janganlah terlalu menyanjungku. Bukankah kita ini sama? Kita sama-sama hamba Allah subhanahu wa taala. Adapun

 

kedatanganku kemari hendak melihat langsung isi kebunmu. Sudah banyak orang, termasuk para pembatu istanaku yang mengatakan bahwa ada berbagai macam bunga dan buah-buahan yang tumbuh subur di kebunmu.”

 

Bibi Sabariah menjawab dengan senang hati, “Silakan, Tuan melihat-lihat kebun hamba.”

 

Diam-diam   Putri    Ratnadewi    memperhatikan    wajah dan  perilaku  Bibi  Sabariah  yang  tampak  sangat  santun.  Di dalam  hatinya  ia  berkata,  “Alangkah  sempurnanya perempuan di hadapanku ini. Wajahnya cantik dan lembut. Tutur katanya sangat halus.” Tiba-tiba sang Putri membayangkan apabila sang Raja, suaminya sekarang berada pada posisinya seperti ini, pasti baginda akan tertarik kepada perempuan ini.

 

Bibi   Sabariah   agak   tersipu-sipu.   Tampaknya   ia   tahu Tuan Putri sedang memandangnya begitu lama. Ia berusaha mengalihkan perhatiannya dengan mempersilakan tamunya itu untuk mencicipi hidangan yang sudah disediakan. “Silakan Tuan mencoba hidangan sederhana ini,” kata Bibi Sabariah.

 

Sang Putri pun makan hidangan itu sambil bertanya, “Sudah berapa lamakah Saudaraku ini mengurusi kebun?”

 

“Sudah lama sekali, Tuan, sudah sejak suami hamba meninggal dan dikuburkan di kebun ini. Hamba sendiri yang mengurusi kebun ini supaya hamba merasa terus dekat dengan almarhum suami hamba.”

 

Putri Ratnadewi bertambah kagum terhadap Bibi Sabariah yang selalu ingin berdekatan dengan suaminya sekalipun suaminya sudah meninggal dunia. Ia pun bertanya lagi kepada Bibi Sabariah, “Saudaraku, bukankah orang yang sudah mati itu tak akan kembali? Mengapa kau masih mau menungguinya? Apakah kau tidak ingin bersuami lagi, Saudaraku?”

 

Bibi Sabariah menggelengkan kepalanya dan berkata, “Tuanku, di kebun inilah hamba dulu pernah bersumpah apabila suami hamba meninggal dunia, hamba tak akan pernah bersuami

 

lagi. Hamba pegang terus sumpah hamba ini, Tuan. Sampai kapan pun hamba tak akan menikah lagi. Lagi pula dalam keseharian hamba ini sudah disibukkan dengan pekerjaan hamba sekarang ini. Pelanggan bunga dan buah-buahan hamba kian banyak. Hamba tak punya kesempatan lagi memikirkan pengganti suami hamba yang telah meninggal.”

 

Putri Ratnadewi berkata lagi, “Saudaraku, tidak baik seorang perempuan terlalu lama menjanda. Hal itu akan menimbulkan fitnah. Apalagi kau memiliki paras yang cantik dan belum terlalu tua. Alangkah baiknya kau menikah lagi, Saudaraku.”

 

Bibi Sabariah tetap pada pendiriannya dan jawabnya, “Mohon ampun, Tuan. Bukan hamba tidak mau menuruti perkataan Tuan. Akan tetapi, sungguh hamba takut melanggar sumpah hamba. Sumpah hamba didengar Allah subhanahu wa taala. Jika Hamba melanggarnya, pasti Allah akan murka kepada hamba, lalu dimasukkannya hamba ke dalam api neraka. Hamba takut, Tuan.”

 

Ketika mendengar perkataan Bibi Sabariah, wajah Tuan Putri Ratnadewi seketika berubah. Ia tampak kecewa. Perubahan pada wajah sang Putri tertangkap oleh Bibi Sabariah yang berkata, “Sebenarnya ada apa Tuan bicara seperti ini? Apakah Tuan tak berkenan dengan perkataan hamba ini? Jika demikian, maafkan hamba, Tuan.”

 

“Hai, Saudaraku, Bibi Sabariah, ketahuilah bahwa sesungguhnya aku datang kemari karena ada hal penting yang ingin kusampaikan kepadamu. Suamiku, raja di negeri ini, menaruh hati kepadamu. Dia hendak menjadikanmu sebagai istrinya. Aku sangat mengharapkan kau bersedia memenuhi permintaannya. Kita berdua akan hidup di istananya sebagai saudara. Percayalah, Saudaraku. Raja itu sangat tampan, muda, dan bijaksana. Jika kau melihatnya, pasti kau senang,” kata Putri Ratnadewi.

 

Bibi Sabariah tersenyum, laluberkata, “Tidak, Tuan. Hamba sudah tak lagi memikirkan untuk bersuami, insya Allah sampai ajal menjemput hamba kelak. Hamba tak mau mengingkari

 

janji hamba, apalagi janji kepada orang yang sudah tiada. Tuanku, walaupun raja itu setampan Nabi Yusuf atau sekaya Nabi Sulaiman pun hamba tetap pada pendirian hamba. Hamba sudah tak mau bersuami lagi. Lagi pula, raja itu suami tuanku. Bagaimanakah perasaan Tuan jika melihat hamba yang sahaya ini duduk bersama suami Tuan. Hamba mohon maaf, beribu-ribu maaf, Tuan. Hamba tak dapat memenuhi permintaan Tuan untuk menikah lagi dengan laki-laki mana pun, apalagi laki-laki itu suami Tuan.”

 

Tuan Putri Ratnadewi akhirnya dapat memaklumi alasan Bibi Sabariah untuk tidak menikah lagi, termasuk menikah dengan suaminya, raja di negeri itu. Ia lalu tersenyum dan mohon pamit kepada Bibi Sabariah hendak kembali ke istana.

 

“Tunggu, Tuanku. Hamba izin ke belakang sebentar”, kata Bibi Sabariah. Tidak lama kemudian ia kembali dengan membawa bingkisan berisi buah-buahan dan memberikannya kepada Putri Ratnadewi sambil berkata, “Bawalah ini, Tuan, hasil kebun hamba. Hanya inilah yang bisa hamba persembahkan kepada Tuan. Sampaikan pula salam hormat hamba kepada Raja.”

 

Putri Ratnadewi dan segenap pengawalnya meninggalkan rumah Bibi Sabariah. Beberapa lama kemudian, ia sampai di istana. Ia bergegas menemui Raja yang sudah lama menantinya. “Hai, Adinda, apakah sudah melihat kebun orang salihah itu? Bagaimana kebunnya? Tentu menyenangkan hati Adinda selama berada di sana,” sapa Raja.

 

Putri Ratnadewi duduk di sebelah suaminya, lalu berkata, “Hem, kebunnya luas dan bagus sekali karena berhiaskan bunga yang beraneka ragam dan buah-buahan yang siap dipetik. Tadi perempuan itu pun memberiku buah-buahan untuk kubawa pulang ke istana. Ia pun memberi salam kepadamu, Kanda.”

 

“Bagaimana kabar perempuan itu? Apakah sudah Adinda sampaikan pesanku dan bagaimana pendapatnya?”

 

“Kanda, aku membawa berita yang tak Kanda harapkan. Perempuan itu mengatakan kepadaku bahwa ia sudah tak ingin bersuami lagi semur hidupnya. Perempuan itu memiliki cinta sejati

 

kepada suaminya walaupun suaminya itu sudah tiada. Bisa Kanda bayangkan setiap hari perempuan itu berada di kebunnya karena di situlah suaminya itu dikuburkan. Berbagai bunga dan buah- buahan baginya hanya sebagai pekerjaan untuk mengisi waktu saja. Kanda, aku sarankan cobalah Kanda sendiri yang datang ke sana menemuinya. Perempuan itu terlalu teguh pendiriannya. Aku sudah lelah membujuknya. Ya, barangkali jika nanti berhadapan langsung dengan Kanda, hatinya akan luluh. Bukankah lebih enak berbicara langsung, Kanda.”

 

“Baiklah kalau begitu, Dinda. Aku akan menuruti saranmu. Kupikir memang jika nanti kami sudah berhadapan langsung, ia akan berubah pikiran. Besok aku akan berangkat menemuinya.” kata Raja.

 

Keesokan harinya, setelah salat subuh, Raja mengenakan pakaian lengkap kebesaran kerajaan dan berangkat bersama para menteri dan para dayang. Payung warna kuning pun dibentangkan. Mereka semua berkuda menuju kebun Bibi Sabariah.

 

Beberapa lama dalam perjalanan, akhirnya sampailah mereka di depan pintu kebun Bibi Sabariah. Raja memerintahkan dayangnya untuk meminta orang yang menjaga kebun itu membukakan pintu kebun. Dayang itu lalu berteriak untuk dibukakan pintu. Akan tetapi, tidak ada seorang pun yang menyahut. Kemudian dayang berteriak berulang kali dan kali ini dengan suara yang lebih keras. Teriakan itu didengar oleh Bibi Sabariah. Bibi Sabariah mengintip siapakah gerangan tamu yang datang dari balik jendela rumahnya. Alangkah terkejutnya tatkala dilihatnya yang datang itu Raja dan para para menterinya. Ia sangat ketakutan. Sementara dayang raja itu masih berteriak keras di luar sana. Akhirnya ia menyuruh pembantunya membukakan pintu kebun itu dan berpesan kepada pembantunya itu agar pembantunya itu mengaku sebagai Bibi Sabariah.

 

Pembantu Bibi Sabariah keluar dan membukakan pintu kebun. Kemudian dengan ramahnya ia mempersilakan raja dan para menterinya masuk ke dalam kebun.

 

Raja menanyainya, “Mana Bibi Sabariah?”

 

Pembantu  Bibi  Sabariah  itu  menjawab,  “Hamba  adalah

Bibi Sabariah.”

 

Raja tak percaya, lalu berkata, “Tidak mungkin kau Bibi Sabariah.  Menurut  berita  yang  kudengar  orang  yang  bernama Bibi Sabariah itu muda dan cantik. Sementara, kau?” Raja tidak meneruskan kata-katanya karena khawatir menyinggung perasaan orang itu.

 

“Benar, Tuan. Hambalah Sabariah yang Tuan maksudkan. Jika hamba bukan Bibi Sabariah, mengapa hamba berada di sini?” kata pembantu itu.

 

Raja tak memedulikan perkataan pembantu Bibi Sabariah. Ia turun dari kudanya, lalu masuk ke dalam rumah. Bibi Sabariah terus mengintipnya. Ketika melihat Raja sudah mulai masuk ke dalam rumahnya, ia segera berlari menuju kubur suaminya dan ia bersembunyi di sana. Raja terus berkeliling rumah mencari Bibi Sabariah.

 

Setelah  mencari  ke  sana  kemari  tak  ditemukan  juga Bibi Sabariah, akhirnya, ia berteriak, “Bibi Sabariah, jangan kau takut kepadaku. Keluarlah! Aku bersumpah akan menjadikanmu sebagai ibuku, baik di dunia maupun di akhirat kelak.”

 

Sumpah raja itu terdengar oleh Bibi Sabariah. Ia mengangkat tangannya dan mengucapkan syukur alhamdulillah kepada Allah taala yang berkuasa membolak-balikkan hati hamba- Nya. Kedatangan Raja yang semula hendak membujuknya agar mau menjadi istrinya telah berubah. Raja akhirnya bersumpah akan menjadikan Bibi Sabariah sebagai ibunya. Tak lama sesudah itu, keluarlah Bibi Sabariah dari persembunyiannya, lalu menghadap Raja yang masih berdiri dengan tegapnya di halaman kebunnya.

 

“Assalamualaikum, wahai Raja yang budiman,” sapanya. “Waalaikumsalam,” jawab Raja.

 

Bibi Sabariah lalu memegang tangan raja itu dan membimbingnya duduk di sebelahnya, lalu berkata, “Kini anggaplah aku sebagai ibumu. Rumahku ini selalu terbuka menerima kedatanganmu setiap saat kau inginkan. Silakan bermain-mainlah di kebun.”

 

Raja itu tertunduk malu. Ia baru menyadari bahwa tak semua perempuan mau dijadikan istrinya. Ia sangat mengagumi keteguhan hati perempuan yang kini berada di sampingnya. Ia sangat bijaksana dan lebih pantas menjadi ibu daripada menjadi istri. Setelah itu, Raja mohon izin Bibi Sabariah untuk berkeliling melihat-lihat kebun sebelum ia pulang.

 

Beberapa hari kemudian datanglah orang suruhan Raja menghadap Bibi Sabariah. Suruhan itu berkata, “Tuanku, Baginda Raja memerintahkan hamba datang kemari dan membawa beberapa orang suruhan untuk membangun pagar kebun Tuan.”

 

Bertambah senanglah hati Bibi Sabariah mendengar perkataan pesuruh raja itu.

 

Setelah   pagar   itu   selesai,   Bibi   Sabariah   dikejutkan oleh kedatangan Raja bersama Putri Ratnadewi, istrinya. Ia mempersilakan mereka masuk ke dalam rumah dan menjamunya makan bersama di rumah itu.

 

“Itulah cerita hamba, Tuanku perempuan, tentang istri yang salihah. Ia sangat berbakti kepada suaminya. Ia sangat tekun beribadah dan mengikuti perilaku pendahulunya, Siti Fatimah, putri  Rasulullah.  Ia  termasuk  orang  yang  mendapat  hidayah dari Allah subhanahu wa taala. Perempuan seperti itulah calon penghuni surganya Allah taala.”

 

Setelah mendengar cerita Bayan, istri Khoja Maimun itu insyaf. Ia pun menyadari bahwa jika Bayan tidak mencegahnya, ia pasti sudah terjerumus pada perbuatan zina. Ia hampir saja melakukan dosa besar itu.

 

Hari pun berganti. Suara ayam berkokok terdengar bersahut-sahutan. Istri Khoja Maimun akhirnya memutuskan untuk mengurungkan niatnya bertemu anak raja itu. Ia beranjak dari tempat duduknya, lalu masuk ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian sehari-harinya di rumah.

 

PUTRA RAJA DATANG KE RUMAH KHOJA MAIMUN

 

 

 

Di istana yang megah, Putra Raja tampak sangat kecewa. Semalaman ia menanati kedatangan istri Khoja Maimun. Namun, perempuan yang dinantikannya itu tidak juga datang hingga pagi. Ia memanggil pembantunya dan memerintahkannya untuk pergi ke rumah Mak Inang.

 

Ketika datang menghadap Putra Raja, Mak Inang bertanya, “Ada apakah Tuan pagi-pagi begini memanggil hamba? Apakah Tuan akan bercerita tentang pertemuan Tuan dengan perempuan itu semalam? Wah, hamba sudah siap mendengarkannya, Tuan.”

 

“Ibuku, perempuan itu mengingkari janjinya. Aku sudah menunggunya semalaman hingga pagi ini, tetapi ia tetap tak menepati   janjinya.   Itulah   sebabnya   aku   memanggilmu.   Ibu, aku mohon kembali kebaikan hati Ibu untuk pergi ke rumah perempuan itu. Tanyakan kepadanya mengapa ia tak jadi menemuiku semalam.”

 

Mak Inang pun terkejut mendengarnya. Hampir ia tak percaya perkataan Tuannya bahwa perempuan itu tidak jadi menemui tuannya semalam. Ia melihatnya sendiri perempuan itu sudah sangat tergila-gila kepada Putra Raja. Seharusnya ia segera menemui tuannya karena sudah tak tahan lagi menanggung rasa rindunya. Akan tetapi, ini adalah perintah tuannya yang harus dilaksanakannya. “Baiklah, Tuan. Hamba akan berangkat sekarang juga menemui perempuan itu,” katanya. Ia pun mohon pamit kepada Putra Raja.

 

Hari pun semakin siang. Mak Inang sampai di depan pintu rumah Khoja Maimun. Ia mengetuk pintu rumah itu. Istri Khoja Maimun sendiri yang membukakan pintu, lalu disapanya dengan lembut tamunya, “Ibunda datang lagi ke rumahku. Sungguh aku sangat senang. Mari, Ibu, silakan duduk. Ada perlu apakah Ibu datang kemari?”

 

Mak Inang pun menjawab, “Aku diperintah oleh Tuanku, Putra Raja di negeri ini, kemari untuk menanyakan kepadamu mengapa semalam kau tak jadi datang ke istana menemuinya? Ketahuilah bahwa Putra Raja masih terus menanti kedatanganmu hingga sekarang.”

 

“Ibu, mohon maaf beribu maaf. Semalam aku tertidur hingga  pagi  tadi.  Sampaikan  permohonan  maafku  ini  kepada Putra Raja, Ibu. Aku merasa benar-benar merasa bersalah telah mengingkari janjiku.”

 

“Bagaimana jika malam nanti kau datang ke istana menemuinya?” tanya Mak Inang kemudian. “Ibu, setelah kupikirkan, rasanya tak baik seorang perempuan berjalan sendirian menghampir seorang laki-laki. Aku takut akan cemoohan orang kepadaku. Aku malu, Ibu. Jika Putra Raja ingin bertemu denganku, biarlah ia datang kemari.”

 

Mak Inang menyetujuinya dan berkata lagi, “Baiklah, akan kusampaikan pesanmu ini kepada tuanku nanti. Aku rasa sudah tak ada lagi yang perlu dibicarakan. Aku mohon pamit.”

 

Setelah Mak Inang lenyap dari pandangan mata istri Khoja Maimun, perempuan itu berlari menemui Bayan. “Hai, Tuan Bayan, baru saja aku kedatangan Mak Inang utusan Putra Raja. Ia masih juga menungguku dan ingin bertemu denganku. Malam ini Putra Raja akan datang ke rumah ini. Bagaimana pendapatmu?”

 

“Tuanku perempuan, aku mempunyai akal agar Putra Raja hilang rasa cintanya kepada Tuan dan Tuan pun tidak merasa ketakutan melihatnya. Nanti apabila ia datang kemari, sambutlah kedatangannya.”

 

Malam pun tiba. Putra Raja benar-benar datang menepati janjinya. Ia mengetuk pintu rumah Khoja Maimun. Sementara itu, Bayan yang sudah siap berada di luar segera terbang ke suatu tempat hingga ia mendapatkan nila. Dicelupkannya sayapnya ke kubangan nila itu lalu dalam sekejab ia pun sudah sampai kembali ke rumah Khoja Maimun. Ia bertengger di atas pintu. Ketika pintu itu dibuka oleh istri Khoja Maimun, Bayan segera mengepakkan

 

sayangnya  dan  jatuhlah  nila  itu  mengenai  wajah  Putra  Raja. Putra Raja mengira yang mengenai wajahnya itu hanya setetes air sehingga diusapkannya ke seluruh wajahnya hingga wajahnya berwarna hitam.

 

Istri Khoja Maimun membukakan pintu dan Putra Raja dipersilakannya  masuk.  Putra  Raja  bertanya,  “Mengapa  rumah ini gelap? Tidak adakah lampu yang meneranginya? Aku tak bisa melihat apa-apa.”

 

“Tetaplah berdiri di situ, Tuan. Aku akan mengambil lilin di dalam.” Tak lama kemudian istri Khoja Maimun kembali ke ruang tamu dengan membawa lilin yang sudah dinyalakannya. Samar-samar, melalui cahaya lilin, perempuan itu melihat wajah Putra Raja dan sangat takutlah ia. Putra Raja bermuka hitam dan menakutkan. Tampak seperti orang yang akan berbuat jahat. Lalu istri Khoja Maimun berlari menjauh dari Putra Raja. Tinggallah Putra Raja kebingungan. Ia lalu duduk dan tak dapat berbuat apa- apa.

 

Tiba-tiba  Putra  Raja  dikejutkan oleh suara yang  ia  tak tahu dari mana berasal karena dilihatnya di sekelilingnya tak ada seorang pun.

 

“Assalamualaikum, Tuan.” Suara Bayan yang berada di bubungan rumah menyapa Putra Raja. Sungguh ia tak dapat melihat dengan jelas keberadaan burung itu karena ruangan itu hanya diterangi sebuah lilin.

 

Bayan berkata lagi, “Hai, Putra Raja, kau datang kemari ini sesungguhnya merupakan perbuatan yang tidak pantas. Kau datang ke rumah seorang perempuan yang hidup sendirian. Apakah yang hendak kau perbuat? Perbuatanmu ini bisa menimbulkan fitnah jika ada orang di sekitar sini yang mengetahuinya. Apakah kau tidak takut akan hukuman Allah subhanahu wa taala kepada orang yang berbuat dosa? Tuan, ingatlah siapa diri Tuan ini. Tuan adalah putra seorang raja yang sangat adil dan bijaksana. Baginda raja adalah orang yang baik dan terlalu cinta kepada rakyatnya. Suatu saat kelak Tuan akan menggantikan kedudukan baginda raja. Bagaimana jika orang mengetahui kelakuan Tuan yang tidak

 

baik? Janganlah Tuan berlaku seperti orang yang zalim. Orang zalim itu adalah orang yang tidak dapat melihat dengan matanya, tidak dapat mendengar dengan telinganya, dan tidak mengetahui ilmu firman Allah dalam Alquran.”

 

Istri Khoja Maimun tiba-tiba berkata, “Tuan dengar suara itu, bukan? Hamba pun baru mendengar suara itu. Sungguh hamba menjadi takut kepada Allah karena Allah pasti melihat segala apa yang kita perbuat. Tentu kita tak ingin mendapat murka Allah. Oleh karena itu, sekarang hamba sarankan sebaiknya Tuan segera kembali ke istana dan jangan lupa memohon ampunan Allah sebelum datang siksa-Nya.”

 

“Benar, Dinda. Seumur hidupku aku baru mendengar perkataan seperti itu. Aku sangat takut. Kalau begitu izinkan Kanda kembali ke istana sekarang. Maafkan, Kanda.”

 

Dari  bubungan  rumah,  Bayan  berkata  lagi,  “Hai,  Putra Raja yang lalim, cepatlah pergi dari sini! Jika Tuan tidak segera meninggalkan rumah ini akan aku binasakan badan Tuan atas izin Allah subhanahu wa taala.”

 

Tanpa berpamitan kepada istri Khoja Maimun, Putra Raja segera keluar dari rumah itu. Ia berjalan pulang dengan cepat sekali karena sangat ketakutan. Bayan terbang mengikuti langkah- langkahnya. Dipukullah kepala Putra Raja dengan sayapnya. Putra Raja semakin takut dan semakin mempercepat langkahnya.

 

Setelah sampai di istana, Putra Raja dihantui rasa takut. Apalagi kepalanya pun baru terasa sakit karena dipukul Bayan. Di dalam hatinya, ia berkata, “Untung aku segera pergi dari rumah itu.  Kalau tidak, bisa tamatlah riwayatku.”

 

Setelah Putra Raja pergi, tinggallah istri Khoja Maimun sendiri dengan ditemani Bayan. Istri Khoja Maimun berkata, “Hai, Tuan Bayan, sekarang tenanglah hatiku ini. Aku merasa terlepas dari beban berat yang selama ini kurasakan. Aku berjanji akan menuruti kata-katamu untuk selalu mengingat Allah taala agar terhindar dari segala fitnah dan azabnya.”

 

BAYAN BERCERITA TENTANG SEORANG ISTRI DURHAKA

 

 

“Bayan, kini tibalah saatnya aku membalas kebaikanmu. Engkau aku bebaskan pulang ke rumahmu untuk menemui anak dan istrimu. Esok boleh kau tinggalkan rumah ini. Biar nanti jika suamiku kembali, akan aku sampaikan halmu kepadanya.”

 

“Wahai, Tuanku perempuan, hamba hormati perkataan Tuanku hendak membalas kebaikan hamba. Namun, hamba tak punya keluarga seperti Tuanku. Hamba belum beristri. Hamba masih  bebas  menentukan  ke  mana  hamba  pergi.  Hamba  tak punya keinginan pergi dari rumah Tuan. Biarkanlah hamba di sini selamanya ikut dengan Tuanku berdua,” jawab Bayan.

 

Istri Khoja Maimun merasa iba mendengar perkataan Bayan. Akan tetapi, di sisi lain, ia pun heran kepada burung itu. Dari cara bicaranya ia seperti manusia, tetapi mengapa keinginannya membangun rumah tangga seperti manusia umumnya tidak dilakukannya, katanya dalam hati. Ia pun bertanya kepada Bayan, “Hai, Tuan Bayan, maukah engkau kuberi istri?”

 

Burung itu tertawa, lalu menjawab pertanyaan tuannya, “Ya, Tuanku perempuan, tidaklah mudah menjadi seorang suami. Menurut hukum agama, suami wajib memberi nafkah kepada istrinya.  Banyak  laki-laki  yang  belum  bisa  memberi  nafkah kepada istrinya, tetapi ia sudah berani menikah. Tentu hal seperti itu dilarang agama. Berdosalah seorang laki-laki yang tak bisa menafkahi istrinya. Kebiasaan laki-laki itu, jika sudah mempunyai seorang istri, ia merasa kurang. Lalu ia mengambil perempuan lain untuk dijadikannya istri yang kedua, ketiga, dan seterusnya. Agama membolehkan seorang suami beristri empat. Tidak boleh lebih. Dengan empat orang istri, suami harus bersikap adil. Jika tidak, ia akan mendapat laknat dari Allah subhanahu wa taala. Ia akan mendapat dosa besar. Tuan, sangatlah berat tugas suami itu. itulah sebabnya hamba belum berani beristri. Hamba masih merasa belum mampu menjalankan kewajiban menjadi seorang suami.”

 

Istri Khoja Maimun termangu-mangu mendengar perkataan Bayan. Ia  sangat  takjub  terhadap burung  yang satu ini. Ia benar-benar burung saleh yang taat kepada aturan agama. Namun, ia merasa kasihan kepada burung bayan itu jika terlalu lama hidup sendirian.

 

“Mengapa Tuanku melamun? Tuan tak perlu memikirkan hamba apakah hamba akan beristri atau tidak. Hamba percaya kepada Allah taala jika tiba saatnya Allah memberi jodoh kepada hamba, tentu hamba akan menikah.”

 

“Hai, Bayan, jika kelak engkau beristri, perempuan seperti apakah yang engkau idam-idamkan? Apakah harus cantik, pintar, dan sayang kepada keluarga?” tanya istri Khoja Maimun ingin tahu.

 

Bayan tertawa mendengar pertanyaan tuannya. Ia menjawab, “Jika dikaruniai Allah jodoh kelak, hamba berharap Allah memberiku perempuan yang salihah dan setia kepada suaminya. Oh, ya, Tuanku. Hamba mempunyai cerita tentang seorang laki-laki muda. Maukah Tuan mendengarkannya?”

 

“Tentu saja, Bayan. Aku ingin sekali mendengarkan ceritamu tentang laki-laki muda itu. Ayo, cepat berceritalah!” jawab istri Khoja Maimun tak sabar.

 

Bayan pun mulai bercerita.

 

Ada seorang laki-laki muda yang sangat mencintai istrinya. Pada suatu hari si istri dihinggapi suatu penyakit. Laki- laki muda itu kebingungan. Ia pergi dari kampung ke kampung untuk mencari obat. Namun, semua obat yang ia bawa tidak dapat menyembuhkan istrinya. Suatu hari istrinya akhirnya meninggal dunia. Laki-laki itu sangat bersedih hati. Karena sangat cinta kepada istrinya, ia tak ingin berpisah dengan jasad istrinya. Berhari-hari kaum kerabatnya membujuknya agar ia segera menguburkan istrinya, tetapi ia tetap mempertahankan jasad itu.

 

“Jika kalian ingin menguburkan istriku, kuburkan pula aku bersamanya,” begitu katanya kepada kerabatnya.

 

Siang dan malam terus-menerus ia menunggui istrinya yang sudah tak bernyawa lagi itu. Kerabatnya pun terus membujuknya agar ia mau melepas jasad istrinya. Namun, semua itu sia-sia. Bahkan, laki-laki muda itu berkata, “Jika kalian ingin menolongku, tolong buatkan aku rakit biar kubawa istriku ini pergi jauh dari kampung ini. Dengan begitu kalian tak akan melihatku lagi. Aku akan berlayar jauh bersama istriku.”

 

Saudara dan kerabatnya memenuhi permintaannya. Mereka   bersama-sama   membuat   rakit.   Setelah   jadi,   rakit itu diserahkan kepada laki-laki muda itu. Laki-laki muda itu mengangkat jasad istrinya dan meletakkannya di rakit dengan dibantu oleh beberapa orang saudaranya. Setelah itu, laki-laki muda itu menjalankan rakitnya ke tengah laut. Semua saudara dan kerabatnya melepas kepergiannya dengan perasaan heran.

 

Di atas rakit itu ia hanya berdua dengan jasad istrinya. Ia pun tak tahu harus pergi ke mana. Ia hanya menuruti ke mana rakit itu mengapung mengikuti arus. Dengan demikian, ia merasa tidak ada lagi yang bisa memisahkannya dengan istrinya.

 

Beberapa  hari  terombang-ambing  ombak  di  laut,  tiba- tiba ia mendengar suara, “Hai, anak muda! Apakah kau benar- benar mencintai istrimu? Jika benar-benar kau mencintai istrimu, maukah kau membagi dua sisa umurmu? Misalnya, sisa umurmu itu tinggal 40 tahun. Jika dibagi dua berarti umurmu tinggal 20 tahun. Dan, yang 20 tahun lagi untuk istrimu. Apakah kau bersedia membagi umurmu untuk istrimu?”

 

Laki-laki muda itu langsung menyahut, “Ya, tentu saja aku mau membagi umurku kepada istriku. Tolonglah hamba ini, Tuan. Berilah aku kesempatan sekali lagi untuk hidup bersama istriku.”

 

Tak lama kemudian suara itu menghilang dan bersamaan dengan itu ia melihat tubuh istrinya mulai bergerak. Ia sangat senang istrinya bisa hidup kembali. Dipeluk dan diciuminya istrinya. Istrinya tampak keheranan karena berada di atas sebuah rakit. Ia bertanya kepada suaminya, “Hai, Kanda, akan ke manakah kita? Perutku sudah lapar sekali. Adakah makanan di sekitar sini?”

 

Laki-laki muda itu semakin senang karena sudah bisa mendengarkan  kembali  suara  istrinya.  Didayungnya  rakit  itu ke suatu pulau. Setelah sampai di pulau itu, mereka turun dari rakitnya dan berkeliling pulau mencari makanan dan minuman.

 

Pulau itu sangat sepi dan tak berpenghuni. Konon, menurut cerita, pulau itu sangat angker karena hanya dihuni oleh makhluk halus. Jika ada manusia yang datang, mereka hanya singgah sebentar.  Memang  banyak  kapal-kapal  besar  singgah  di  pulau itu. Para awak kapal-kapal itu hanya mengambil air sebentar, lalu pergi berlayar lagi.

 

Kedua suami istri itu tak menemukan makanan di pulau itu. Mereka terus berjalan hingga sampailah mereka di sebuah telaga. Laki-laki muda itu berkata kepada istrinya, “Dinda, aku merasa tak kuat lagi meneruskan perjalanan. Aku terlalu lelah dan mengantuk. Izinkan aku tidur dulu.”

 

Istrinya pun lalu duduk. Laki-laki muda itu menyandarkan kepalanya di pangkuan istrinya. Sang istri terus-menerus mengelus kepala suaminya hingga laki-laki muda itu tertidur.

 

Beberapa saat kemudian, istri laki-laki muda itu dikejutkan oleh suara langkah-langkah orang mendekati mereka. Mereka adalah para awak kapal yang akan mengambil air di telaga itu. perempuan itu terus mengamati mereka tanpa berkata-kata. Para awak kapal itu pun demikian. Mereka semua heran mengapa ada perempuan di pulau itu. Mereka pun tak mau menyapa perempuan itu karena mereka tidak percaya itu manusia. Mereka tampak bergegas mengambil air, lalu kembali ke kapal.

 

Sampai di kapal para awak kapal itu melaporkan apa yang telah dilihatnya di pinggir telaga, “Tuan Nakhoda, tadi kami melihat ada seorang perempuan cantik di pinggir telaga sedang mengelus- elus kepala seorang laki-laki yang tidur di pangkuannya.”

 

Nakhoda itu bertanya, “Mengapa tidak kau tanya mengapa

mereka berada di situ?”

 

“Kami takut, Tuan Nakhoda. Jangan-jangan perempuan itu bukan manusia. Bukankah selama ini kita tak pernah melihat ada manusia di pulau ini?”

 

Setelah  mendengar laporan  para  awak  kapal,  nakhoda itu turun dari kapalnya dan memerintahkan anak buahnya untuk ikut melihat perempuan itu. Sesampai di tepi danau, ia melihat seorang perempuan seperti yang telah diceritakan anak buahnya. Ia mendekati perempuan itu dan bertanya, “Hai, perempuan! Mengapa kau berada di pulau ini? Tidakkah kau tahu bahwa pulau ini sangat angker. Tidak seorang manusia pun yang berani tinggal di pulau ini. Siapakah laki-laki yang tidur di pangkuanmu itu?”

 

Istri  laki-laki   muda  itu  menjawab,  “Kami  terdampar di pulau ini dan laki-laki yang tidur di pangkuanku ini adalah suamiku. Ia terlalu lelah dan mengantuk dan akhirnya ia tertidur.”

 

Nakhoda itu berpikir sejenak mengagumi kecantikan perempuan  itu.  Ia  lalu  berkata,  “Sebaiknya,  tinggalkan  tempat ini. Pergilah bersamaku. Biarkan suamimu tidur di situ. Aku akan membawamu berkeliling dunia dengan kapalku. Jika kau lapar, kau bisa makan sekenyangmu karena di dalam kapal banyak sekali makanan.”

“Lalu bagaimana dengan suamiku?” tanya perempuan itu. Nakhoda  itu  berkata  lagi,  “Tinggalkan  ia  di  pulau  ini.

Dia terlalu buruk menjadi suamimu. Kau perempuan cantik tak

sepantasnya mempunyai suami yang buruk rupa seperti itu. Ayo, tunggu apa lagi? Pergilah bersamaku sekarang.”

 

Istri laki-laki muda itu ternyata tak kuat iman. Ia pun berpikir bahwa apa yang dikatakan nakhoda itu benar. Buat apa ia menunggu suaminya terbangun. Tanpa berpikir panjang lagi diangkatnya kepala suaminya dan disandarkannya di atas batu. Perempuan itu lalu berdiri dan berjalan mengikuti nakhoda menuju kapal.

 

Begitu teganya perempuan itu meninggalkan suaminya yang  tengah  lelap  dalam  tidurnya.  Ia  bergandengan  tangan dengan nakhoda itu, lalu masuk kapal. Nakhoda itu langsung mengemudikan kapal meninggalkan pulau itu.

 

Laki-laki muda itu terbangun karena merasa sakit di bagian kepalanya. Ia duduk sambil memegangi bagian kepalanya yang sakit. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri dan tidak dilihatnya istrinya. Ia pun berteriak-teriak memanggil-manggil istrinya, tetapi tak ada jawaban. Kemudian ia berjalan sampai ke tepi pantai. Dalam perjalanannya menuju tepi pantai, ia melihat bekas telapak kaki banyak orang yang datang ke pulau itu. Sesampai di tepi pantai,    ia melihat  sebuah kapal yang sedang berlayar menjauh dari pulau itu. Ia menduga pasti istrinya berada di kapal itu. Ia kembali berjalan ke tepi danau. Ia duduk di sana sambil menangis menyebut-nyebut nama istrinya.

 

Dua hari kemudian, ada kapal yang datang. Beberapa orang turun dari kapal itu. Mereka singgah hendak mengambil air di telaga. Ketika sampai di telaga, mereka melihat ada seorang laki-laki muda sedang menangis di tepi telaga. Nakhoda kapal bertanya, “Hai, orang muda, mengapa engkau menangis?”

 

Laki-laki muda itu segera mengusap air matanya ketika mendengar suara itu. Kemudian ia menjawab, “Tuan Nakhoda, tolonglah aku. Istriku dibawa orang di saat aku tertidur. Tadi aku melihat ada kapal yang datang. Mereka membawa istriku.”

 

Pada saat anak buahnya mengambil air di telaga, nakhoda itu berupaya menenangkan hati pemuda itu. Ia berkata, “Orang muda, marilah ikut denganku. Kita akan berlayar sambil kita cari kapal yang membawa istrimu.”

 

Alangkah senangnya hati pemuda itu mendapatkan pertolongan nakhoda itu. Mereka pun naik ke atas kapal, lalu bergeraklah kapal itu menjauh dari pulau.

 

Beberapa hari mereka berlayar, sampailah mereka di negeri Hindustan. Laki-laki muda itu melihat sebuah kapal yang sama persis dengan kapal yang dilihatnya di tepi pantai sedang

 

menepi di pelabuhan. Kini kedua kapal itu sama-sama berada di pelabuhan. Ia berkata kepada nakhoda, “Tuan, itulah kapal yang membawa istriku.”

 

Nakhoda itu lalu menyuruh beberapa anak buahnya melihat-lihat dengan teliti kemungkinan ada perempuan di dalam kapal itu. Setelah dilihat ternyata benar, anak buahnya melihat ada seorang perempuan di kapal itu dan melaporkannya kepada nakhoda. “Baiklah, jika begitu, kita laporkan saja ke Syahbandar,” kata nakhoda kepada laki-laki muda itu.

 

Laki-laki muda itu diantar oleh nakhoda menghadap Syahbandar, lalu berkata, “Tuanku Syahbandar, hamba datang hendak melaporkan bahwa istri hamba dibawa lari orang yang membawa kapal itu.” Setelah mendengar pengaduan orang muda itu, Syahbandar memerintahkan anak buahnya untuk memanggil nakhoda kapal yang membawa istri orang muda itu.

 

Tak lama kemudian, datanglah nakhoda itu menghadap

Syahbandar, lalu berkata, “Ada apa Tuan memanggilku?”

 

Syahbandar menjawab, “Lihatlah orang muda ini mengatakan kepadaku bahwa ia telah kehilangan istrinya. Ia menduga kapalmulah yang membawa istrinya.”

 

Nakhoda itu menjawab, “Tidak mungkin aku membawa lari istri orang. Perempuan yang berada di dalam kapal bersamaku itu adalah istriku.”

 

“Orang muda, kau dengar sendiri, bukan? Yang dibawa nakhoda itu adalah istrinya sendiri, bukan istrimu,” kata Syahbandar kepada laki-laki muda itu.

 

Laki-laki muda itu berkata lagi, “Tuan, sebaiknya Tuan suruh nakhoda itu membawa perempuan itu kemari. Biarlah aku yang berkata-kata kepadanya.”

 

Syahbandar menyetujui permintaan laki-laki muda itu dan berkata, “Tuan nakhoda, bawalah perempuan itu menghadapku esok.” Karena hari telah semakin gelap, Syahbandar menyuruh mereka semua pulang dan kembali lagi keesokan harinya.

 

Ketika kembali ke kapal, nakhoda itu menemui perempuan istri orang muda itu, lalu berkata, “Dinda, tadi aku dipanggil Syahbandar. Ternyata di sana sudah ada laki-laki yang mengaku ia suamimu. Aku dituduh melarikan istri orang. Akan tetapi, segera aku jawab kau adalah istriku sejak dulu. Aku telah berbohong kepada mereka. Persoalan ini belum selesai. Besok pagi aku harus membawamu ke Balai Syahbandar itu untuk dihadapkan dengan laki-laki itu. Dinda, aku harap besok, jika kau ditanya Syahbandar itu, mengakulah bahwa kau adalah istriku. Aku harap jawaban kita sama, Dinda.”

 

Di Balai Syahbandar pada pagi hari sudah ramai. Syahbandar sudah berada di balai pagi-pagi sekali sesuai dengan janjinya kemarin. Ia ingin segera menyelesaikan permasalahan yang dihadapi orang muda itu. Ia pun membawa serta seorang hakim. Tak lama kemudian mereka datang. Orang muda itu datang bersama nakhoda yang membawanya dari pulau dan nakhoda kapal yang membawa istri pemuda itu. Mereka duduk saling berhadapan.

 

Syahbandar mulai menanyai mereka satu per satu, “Hai, orang muda, benarkah perempuan ini istrimu?”

Laki-laki muda itu menjawab, “Benar, Tuan, dia istriku.” Syahbandar berganti menanyai perempuan yang dibawa

nakhoda kapal, “Hai, perempuan, apakah benar kau istri orang

muda ini?”

 

Perempuan itu menjawab, “Bukan, Tuan. Aku ini istri nakhoda yang membawaku kemari. Sungguh aku tak mengenal laki-laki itu, Tuan.”

 

“Orang muda, kau dengar sendiri bahwa perempuan itu menyatakan bukan istrimu,” kata Syahbandar kepada laki-laki muda itu.

 

Setelah itu, hakim angkat bicara. Dengan bijaksananya, ia menyuruh laki-laki muda itu bercerita tentang semua yang terjadi yang menimpa dirinya itu. Selanjutnya, mulailah laki-laki muda itu bercerita dengan jujur.

 

“Tuanku, sebenarnya, istri hamba ini telah meninggal dunia. Dengan kekuasaan dan izin Allah taala ia hidup kembali. Hamba telah membagi sisa umur hamba kepadanya, yaitu 20 tahun. Oleh karena itulah, ia hidup kembali.”

 

Semua yang hadir di situ tertawa. Mereka tak percaya orang yang sudah mati bisa hidup kembali. Lalu perempuan itu berkata, “Tuan Hakim, sudah jelas sekali laki-laki ini berbohong. Mana ada orang mati bisa hidup kembali. Jadi, dia hanya mengaku- ngaku saja sebagai suami hamba.”

 

Nakhoda yang membawa istri orang muda itu pun ikut berbicara, “Tuan Hakim. Masih percayakah Tuan dengan cerita orang muda ini? Sudah jelas ia berdusta. Apakah ada umur seseorang bisa dibagi-bagi kepada orang lain?”

 

Laki-laki   muda   itu   lalu   berdoa   memohon   petunjuk kepada Allah taala, “Ya Allah, Engkaulah yang maha mengetahui hambamu ini berada dalam kesulitan. Tolonglah hamba-Mu ini. Kembalikanlah umur hamba yang telah hamba berikan kepada perempuan itu, ya Allah.”

 

Laki-laki muda itu berdiri dan berjalan menuju tempat duduk istrinya. Setelah berhadapan dengan perempuan itu, ia berkata, “Hai, perempuan tak tahu diuntung! Kembalikan umurku. Aku tak rela membagi umurku kepadamu.”

 

Kata perempuan itu, “Hai, laki-laki pendusta, jika benar begitu, ambillah kembali umurmu yang kau berikan kepadaku. Semua ini sama sekali bukan kemauanku.”

 

Setelah berkata begitu, dengan kodrat iradat Allah subhanahu wa taala, perempuan itu mati seketika. Semua orang yang hadir terkejut dan merasa heran. Hakim yang bijaksana itu berkata, “Tuan-tuan,  ketahuilah bahwa apa yang menurut  kita tak mungkin, itu sangat mungkin jika Allah sudah berkehendak. Lihatlah perempuan ini akhirnya mati. Berarti benar apa yang dikatakan pemuda ini bahwa perempuan itu telah mendapat tambahan umur dari suaminya. Benarlah perempuan itu istri orang muda ini.”

 

Ketika melihat kejadian itu, nakhoda yang membawa istri orang muda itu merasa ketakutan. Syahbandar berkata, “Tuan Nakhoda telah berdusta kepada kami. Orang muda itu benar perkataannya. Sebentar lagi Tuan akan menerima balasan atas dosa yang Tuan perbuat.”

 

Menurut hakim, nakhoda itu telah berbuat dua kesalahan. Pertama, ia membawa lari istri orang. Hukuman bagi orang yang melarikan istri orang adalah ia harus menyerahkan seluruh hartanya. Kedua, ia telah melakukan perzinaan. Hukuman bagi orang yang berzina adalah ia harus dirajam.

 

Nakhoda itu tak dapat berbuat apa-apa lagi. Dengan pasrah ia menyerahkan seluruh hartanya termasuk kapal miliknya kepada Syahbandar. Ia pun harus menyerahkan dirinya untuk dihukum rajam. Karena tak tahan akan siksaan itu, nakhoda itu akhirnya meninggal dunia.

 

Jasad nakhoda itu lalu dikuburkan dan hartanya dibagi dua, sebagian buat hakim dan sebagian lagi diberikan kepada orang muda itu.

 

“Demikianlah cerita perempuan celaka itu. Ia dilaknat Allah taala,” kata Bayan kepada istri Khoja Maimun. Istri Khoja Maimun bersyukur sekali ia terlepas dari perbuatan dosa. Ia sangat berterima kasih kepada Bayan yang selalu mengingatkannya dalam bentuk cerita.

 

Akhirnya, istri Khoja Maimun memahami mengapa Bayan tak mau beristri. Ternyata banyak sekali para perempuan yang tidak setia dan bahkan berkhianat kepada suaminya. Ia berpikir kembali untuk membalas kebaikan Bayan. Lalu ia berkata, “Tuan Bayan, jika engkau tak mau kuberi istri, engkau akan kujadikan saudaraku saja.”

 

Bayan berkata, “Tuanku perempuan, untuk menjadi saudara  itu   pun   tak   mudah.   Banyak   orang   yang   dijadikan saudara ternyata justru ia berkhianat. Hamba juga mempunyai cerita tentang seseorang yang sudah dianggap saudara, tetapi ia melakukan pengkhianatan.”

 

“Tuan Bayan banyak sekali mempunyai cerita. Coba sekarang ceritakan kepadaku tentang seorang saudara yang berkhianat,” kata istri Khoja Maimun.

 

“Baiklah,  Tuan.  Hamba  akan  menceritakannya  kepada

Tuanku,” kata Bayan.

 

BAYAN BERCERITA TENTANG SAUDARA YANG BERKHIANAT

 

 

 

Di negeri Babil, terdapat sebuah kerajaan besar. Negeri itu dipimpin oleh Raja Syahrazin Ziran. Ia adalah seorang raja yang baik hati, adil, dan sangat bijaksana. Ia mempunyai seorang istri bernama Putri Komariah. Namun, sang istri tak berumur panjang. Ia wafat setelah menderita suatu penyakit.

 

Sepeninggal istrinya, Raja sangat kesepian. Namun, beruntung ia mempunyai menteri bernama Kiasi yang sangat setia kepadanya. Kiasi selalu menghibur Raja dan selalu memberikan pelayanan  yang  baik  kepada  Raja.  Akhirnya,  Raja  menjadikan Kiasi menjadi saudaranya.

 

Pada suatu hari karena merasa sangat kesepian sejak kematian istrinya, ia mengajak Kiasi dan beberapa menteri serta hulubalang untuk berburu ke hutan. Perjalanan mereka memakan waktu sepuluh hari.

 

Sesampai mereka di hutan Raja melihat seekor anak kijang yang masih kecil. Tampaknya anak kijang itu masih menyusu kepada induknya. Akan tetapi, induk kijang itu tak tampak di dekat  anaknya.  Raja  merasa  iba  melihat  anak  kijang  itu.  Lalu ia menyuruh menteri Kiasi mencarinya. Raja berencana akan memelihara kijang dan anaknya itu.

 

Menteri Kiasi sampai mencari induk kijang itu, tetapi sudah berhari-hari ia tak berhasil menemukannya. Sementara itu, perjalannya kian jauh hingga ia tak tahu lagi jalan pulang. Hingga suatu hari ia melihat sebuah pertapaan. Ia mendatangi pertapaan itu. Di sana ia bertemu dengan seorang syekh. Syekh itu sangat sakti. Kiasi tahu akan hal itu, maka ia meminta ilmu dari syekh itu. Syekh itu berkata, “Anakku, ketahuilah ilmuku ini adalah ilmu yang bisa memindahkan nyawa, baik nyawa manusia maupun nyawa  binatang.  Namun,  syaratnya  sangat  berat.  Orang  yang

 

mempunyai ilmu itu harus seumur hidupnya berbuat baik kepada siapa pun. Dia tak boleh berkhianat apalagi kepada orang yang pernah berjasa kepadanya. Jika hal itu tidak mampu dipenuhinya, ilmu itu akan hilang dengan sendirinya.”

 

Menteri Kiasi berjanji ingin mendapatkan ilmu itu dan akan menjaga ilmunya itu dengan baik. Mulailah syekh itu memberi ilmu pemindahan nyawa kepada Kiasi.

 

Setelah  ia  mendapatkan  ilmu  itu,  Kiasi  segera  mohon diri. Ia pamit akan meneruskan perjalanan mencari induk kijang. Syekh itu mengizinkannya, tetapi ia berpesan kepada Kiasi agar ia singgah dulu di sebuah negeri yang letaknya sangat jauh. Negeri itu diperintah oleh seorang perempuan yang cantik dan sangat dermawan. Menteri Kiasi bersedia menuruti pesan syekh itu. Ia berjalan meninggalkan tempat syekh itu.

 

Setelah  beberapa  hari  perjalanan,  sampailah  Menteri Kiasi ke istana yang dimaksud oleh syekh itu. Di sana ia bertemu langsung dengan Ratu Komariah yang memimpin negeri itu. Setelah dijamu dengan bermacam-macam hidangan, Menteri Kiasi mohon diri dan juga mohon petunjuk Ratu supaya biasa segera sampai di negeri Babil.

 

Setelah sampai di negeri Babil, Menteri Kiasi langsung menghadap Raja. Semua pengalamannya berminggu-minggu di tengah hutan diceritakannya kepada Raja. Setelah mendengar cerita Menteri itu, Raja sangat tertarik ingin bertemu dengan Syekh dan juga Ratu Komariah.

 

Keesokan harinya Raja dan Menteri Kiasi memulai perjalanan ke hutan. Kepergiannya kali ini tanpa pengawalan. Mereka hanya pergi berdua. Sampai di tempat Syekh, Menteri Kiasi menyampaikan maksud kedatangannya bersama Raja yang ingin juga memiliki ilmu memindahkan nyawa seperti dirinya. Dengan senang hati Syekh memberikan ilmunya kepada Raja serta menjelaskan pula pantangan yang harus dipatuhinya. Setelah beberapa hari tinggal di rumah Syekh, keduanya mohon pamit kepada Syekh.

 

Mereka melanjutkan perjalannya ke istana Ratu Komariah. Di sana keduanya diterima dengan baik oleh sang Ratu. Begitu memandang Raja, di dalam hatinya, Ratu Komariah berkata, “Mungkinkah ini jodohku?” Ratu Komariah tiba-tiba ingat akan mimpinya beberapa waktu yang lalu. Dalam mimpi itu ia berjodoh dengan Raja. Raja pun begitu pula. Ketika melihat Ratu Komariah, ia  merasa  sangat  tertarik  dan  ingin  menjadikannya  istrinya. Sang Raja lalu berkata kepada menterinya untuk menyampaikan hasratnya kepada Ratu. Ternyata ia tak bertepuk sebelah tangan. Keinginannya itu diterima dengan senang hati oleh Ratu Komariah.

 

Oleh Ratu Komariah, Raja diperkenalkan kepada ayah dan bundanya. Ratu pun menyampaikan maksud Raja menghadap kedua orang tuanya untuk melamarnya. Kedua orang tua Ratu pun setuju dan mereka menginginkan segera diadakan upacara pernikahan. Selanjutnya, semuanya keperluan dipersiapkan dengan cepat karena setelah selesai acara pernikahan, Raja akan segera kembali ke negeri Babil sekalian membawa Ratu Komariah.

 

Setelah beberapa hari kemudian sampailah mereka di negeri Babil. Raja dan Ratu disambut meriah oleh para menteri, hulubalang, dan seluruh rakyatnya. Mereka sangat bersukacita.

 

Beberapa bulan kemudian Ratu Komariah hamil. Ia minta buah yang asam kepada Raja. Raja sendiri yang pergi mencari buah asam itu. Sesampai di hutan, ia menemukan jasad kera. Raja berpikir dengan jasad kera itu akan lebih mudah untuk mencari buah asam. Lalu dengan ilmunya, ia memindahkan nyawanya ke jasad kera itu. Setelah itu, ia dapat melompat dari pohon ke pohon.

 

Sementara itu, di istana Ratu sangat gelisah karena Raja belum juga kembali dari mencari buah asam. Ratu memerintahkan Menteri Kiasi untuk menyusulnya ke hutan. Menteri

 

Kiasi pun berangkat ke hutan. Di sana yang pertama kali dilihat  adalah  raga  Raja.  Pikirnya, raga  siapakah  yang  dipakai Raja saat ini? Tiba-tiba muncul pikiran buruknya. Ia pindahkan nyawanya ke raga Raja, lalu ia pun kembali ke istana. Sampai di istana ia katakan kepada Ratu bahwa ia tak menemukan buah asam itu.

 

Sementara itu, di hutan Raja yang memakai raga kera akhirnya dapat menemukan buah asam. Akan tetapi, alangkah geramnya ia melihat raganya sudah tak ada. Yang ada adalah raga Kiasi. Raja merasa dikhianati oleh menterinya sendiri.

 

Menteri Kiasi yang kini menggunakan raga Raja memerintahkan kepada seluruh rakyat di negeri itu untuk memelihara domba. Setiap hari kerja menteri itu mengadu domba dengan taruhan. Domba siapa yang menang dalam pertarungan, maka pemiliknya akan memperoleh separuh harta kerajaan berupa emas dan perak. Ketika domba hulubalangnya kalah dan mati, muncul pula pikiran serakahnya. Ia pindahkan nyawanya ke raga domba yang mati itu agar domba itu selalu menang dan ia memperoleh sebagian harta kerajaan. Ketika melihat hal itu, Raja yang menggunakan raga kera tak menyia-nyiakan kesempatan itu. dengan cepat ia pindahkan nyawanya kembali ke raganya sendiri.

 

Setelah kembali ke raganya, Raja menceritakan kejadian itu kepada istri dan seluruh rakyatnya. Sebagai hukuman orang yang berkhianat, menteri itu akhirnya menjadi domba selamanya karena jasadnya masih berada di hutan.

 

“Selesailah  sudah  cerita  itu,  Tuanku  perempuan,”  kata

Bayan kepada istri Khoja Maimun.

 

Istri Khoja Maimun sangat senang mendengarkan cerita itu. Ia pun berkata, “Bagus sekali ceritamu itu, Bayan. Jika kau masih mempunyai cerita yang lain, ceritakanlah kepadaku.”

 

Setelah itu, terdengarlah suara orang mengucap salam di luar sana. Istri Khoja Maimun sangat hafal suara itu. Ia pun segera beranjak dari kursinya dan berjalan menuju pintu. Dibukanya pintu rumahnya. Tiba-tiba ia berucap, “Kanda!”

 

Khoja  Maimun  berdiri tegak di balik pintu itu. Mereka

saling berpelukan untuk melepas rindu.

 

Bayan menyambut kedatangan tuannya, “Selamat datang Tuanku, Khoja Maimun. Alhamdulillah, Tuan selamat dalam perjalanan.”

 

Khoja Maimun memandang Bayan sambil tersenyum. Seperti biasa dibelainya kepala burung itu dan katanya, “Berkat doamu Bayan, aku banyak mendapat peruntungan. Alhamdulillah.”

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *