DAFTAR ISI

 

 

Kata Pengantar ……………………………………………… iii Sekapur Sirih …………………………………………………    v Daftar isi………………………………………………………. vi Gunung Lokon dan Gunung Kalabat……………………..  1

Biodata Penulis………………………………………………  58

 

Biodata Penyunting………………………………………… 59

 

Biodata Ilustrator………………………………………….. 60

 

GUNUNG LOKON DAN GUNUNG KALABAT

 

 

 

 

 

 

 

Konon, bumi penuh dengan gunung dan pegunungan. Ada yang tinggi  menjulang dan  ada pula yang hanya menyerupai bukit. Keadaan pada zaman itu sangat damai dan tenang karena semua makhluk hidup tidak saling mengganggu. Mereka hidup rukun sehingga keadaan alam terpelihara dengan baik. Demikian pula daerah Minahasa. Daerah ini subur dan diliputi gunung- gunung yang tinggi dan rendah. Pada zaman itu, gunung dan pegunungan diberi nama sesuai dengan letak, keberadaan, dan     sifat yang  biasa terjadi di  gunung itu.  Misalnya,  Gunung Mahawu  diberi  nama demikian karena sifatnya sering mengeluarkan abu. Adakalanya gunung diberi nama sesuai dengan kebanyakan nama orang di tempat itu. Misalnya, karena kebanyakan orang bernama Soputan, gunung yang terletak di daerah itu diberi  nama Gunung Soputan. Ada pula nama gunung yang diberi sesuai dengan keadaan. Misalnya, karena gunung itu mirip dengan gunung yang lain, gunung itu diberi nama Gunung Dua Sudara.

 

Demikian juga gunung-gunung lain yang ada di daerah Minahasa diberi nama, antara lain Kalabat, Soputan, Lokon, Dua Sudara, Mahawu, Tampusu, Tolangko, Kaweng, Simbel, Lengkoan, Masarang, dan Kawatak. Pegunungan diberi nama pula, antara  lain Lembean, Kalawiran,  dan Kumelembuai. Dari semua gunung yang ada, Gunung Lokonlah yang terbesar, tertinggi, dan tertua. Sesuai dengan namanya,  Lokon mempunyai arti orang  yang sudah tua,  bahkan tertua dan berbadan besar. Dalam bahasa daerah Tombulu Lokon mengandung makna tua lokon  atau tou tua lokon artinya  orang yang sudah tua.

Pada zaman dahulu ada kepercayaan bahwa tiap- tiap gunung dan pegunungan itu ada penghuninya. Penghuni   tiap-tiap  gunung   memiliki   karakter    dan sifat  yang    berbeda.   Gunung     Lokon   dihuni   oleh seorang pria yang berperawakan tinggi dan besar, bernama Makawalang.  Ia  seorang pemuda yang rajin, pekerjaan sehari-harinya berburu  di hutan.  Jadi, tidak mengherankan kalau Makawalang keluar masuk hutan sampai berhari-hari lamanya.

Suatu ketika Makawalang pergi berburu di hutan yang  sangat  jauh.  Setelah  berhari-hari berjalan,  dia

 

naik-turun bukit. Tidak terasa jalan yang dia lalui semakin hari semakin menanjak. Pohon-pohon besar yang tumbuh dengan lebat dan tinggi kelihatan seperti rumput  saja. Akhirnya,  dia  berhenti  di  suatu  tempat yang cukup tinggi  dan sangat indah pemandangannya. Makawalang terkagum-kagum  dengan keindahan alam yang baru pertama kali dia lihat. Kelelahan yang dia rasakan berhari-hari tergantikan dengan pemandangan yang begitu indah. Dia bergumam dalam hati, “Rasanya ini tempat yang paling nyaman untuk dijadikan  tempat tinggal.” Makawalang menyandarkan tubuhnya di sebatang pohon. Makawalang tidak henti-hentinya memandang ke kiri dan ke kanan. Dia sangat terpesona dengan pemandangan yang ada di tempat yang baru dia temukan.

Makawalang  mengamat-amati  tempat  itu. Akhirnya,  Makawalang  tertidur pulas. Saat terbangun dari   tidurnya,  Makawalang   terkejut.  Dia  bertanya- tanya mengapa sampai berada dan tinggal di sebuah gunung yang tinggi dan besar ini? Dalam pikirannya, “Siapa yang membawa saya sehingga sampai di tempat ini? Atau, jangan-jangan saya ini bermimpi?”  Untuk meyakinkan     dirinya     Makawalang     mencubit-cubit

 

pipinya,  dan  bergumam,  “Ah…  sakit.” Ternyata   dia tidak sedang bermimpi, dia ada di alam nyata. Dia ada di  sebuah gunung  yang sangat  tinggi.  Kesadarannya juga muncul saat mendengar dentingan  air yang jatuh menerpa sebuah batu. Makawalang terhenyak saat melihat  di sisi kanannya ada tebing yang menjulang di tengahnya dan dialiri  air yang jatuh  seolah membatasi tebing yang satu dengan tebing yang lain.

Di sisi kanan, tumbuh pohon-pohon besar yang berbaris seolah diatur  sejajar dengan posisi berdirinya Makawalang.   Di  depan  tempat   dia   berdiri,  seluas mata memandang hamparan rumput  berwarna hijau membentang bagaikan permadani. Kicau burung yang saling bersahutan menambah suasana hati Makawalang semakin yakin untuk  tinggal  di tempat  itu.  “Tidak  ada tempat lain seindah dan senyaman ini,” ucap Makawalang pada dirinya sendiri sambil mengatur batu-batuan yang ada di sekitarnya. Keputusan Makawalang untuk tinggal di Gunung Lokon sudah bulat. “Kalau begitu saya harus membangun popo untuk tempat tinggal saya,” ucapnya sembari memandang ke kiri dan ke kanan mencari sesuatu. Dalam bahasa Tombulu, popo berarti pondok. Sambil   bersiul-siul   Makawalang    berkemas   untuk

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

5

 

membangun popo atau pondok sebelum malam datang. Untuk membangun popo, Makawalang harus mencari kayu yang cukup keras sebagai bahan utama. Selain itu, dia mencari daun pohon rumbia sebagai atap dan dinding popo.  Dengan cekatan, Makawalang menebang pohon yang akan dijadikan  penyangga popo. Dibersihkannya daun dan cabang pohon tersebut kemudian dipotong menjadi beberapa bagian. Bagian-bagian yang dipotong itulah  yang menjadi tiang. Sisanya dijadikan sebagai rangka untuk meletakkan daun rumbia sebagai atap. Selain sebagai atap, daun rumbia dijadikan sebagai dinding dan pintu.

Menjelang sore, popo itu selesai. Sambil tersenyum, Makawalang menggerak-gerakkan pintu untuk mencoba apakah pintu yang dibuatnya itu kuat atau tidak, seraya berkata, “Selesai juga popoku ini meskipun tidak sebagus dan sekuat popo yang terbuat dari kayu dan berdinding kayu. Yang paling pentung Makawalang dapat terhindar dari teriknya matahari dan dinginnya malam.”

Sambil beristirahat, Makawalang membuat api agar popo-nya  terasa  hangat  dan  nyamuk  pergi  sehingga saat  dia  tidur   nanti  tidak  ada  gigitan  nyamuk.  Hari

semakin sore, matahari  mulai kembali ke peraduannya,

 

 

 

6

 

dan langit pun mulai berwarna kuning keemasan. Makawalang bergegas membakar sisa daging binatang buruannya   untuk   dijadikan   makan  malam.  “Besok, saya harus berburu  dan mencari ubi-ubian  lagi karena persediaanku habis,” ucapnya.

Malam pun tiba, Makawalang selesai menyantap daging yang dibakarnya tadi. Dia merasa kenyang.  Dia lalu mengatur daun-daun dari pohon yang ditebang yang akan dijadikan alas tempat tidurnya nanti. Makawalang tidak dapat menahan rasa kantuk dan dia tertidur. Pagi- pagi benar Makawalang sudah bangun. Dia harus cepat pergi berburu dan mencari bahan-bahan lain sebagai persediaan makanan beberapa hari ke depan. Begitulah kehidupan Makawalang dari  hari ke hari semenjak dia berada di Gunung Lokon.

“Ah… saya jadi lelah kalau terus-terusan pergi berburu,” ucap Makawalang pada suatu sore, “Emm… barangkali    saya   menanam   jagung    dan   singkong saja agar tidak masuk-keluar hutan mencari bahan makanan.” Akhirnya, Makawalang memutuskan untuk menanam jagung dan singkong di sekitar tempat ia tinggal. Setiap hari Makawalang merawat tanamannya.

Dia membersihkan rumput-rumput liar yang tumbuh di

 

 

 

7

 

sekitar tanaman jagung dan singkongnya.  Makawalang juga   sangat    rajin    dan   tekun    mengurus   tempat tinggal dan tumbuh-tumbuhan di sekitarnya.  Seolah tumbuh-tumbuhan dan Makawalang sudah saling memahami.   Begitu   setianya   Makawalang   merawat dan mengurusnya. Tanpa terasa jagung dan singkong yang ditanamnya  sudah bisa dipanen. Kegiatan sehari- hari selanjutnya Makawalang menanam dan merawat tumbuh-tumbuhannya. Dengan menanam jagung dan singkong persediaan makanan Makawalang terpenuhi bahkan berlebih.

Kehidupan Makawalang sangat bahagia karena dia merasa aman dan tidak  ada gangguan dari  siapa pun. Selain menanam, Makawalang memelihara binatang yang bisa dijadikan  makanan agar dia tidak  perlu lagi mencari binatang  buruan di dalam hutan. Makawalang sangat menjaga kebersihan tempat tinggalnya walaupun dia hidup di tengah hutan. Pohon-pohon dan binatang- binatang yang ada di sekitarnya dirawatnya dengan baik seolah sudah menyatu dengannya. Tumbuh-tumbuhan dan binatang-binatang merasa nyaman seolah mereka

juga  merasakan  perhatian   dan  kasih  sayang  yang

 

 

 

 

 

8

 

diberikannya.   Makawalang   menganggap  mereka  itu adalah keluarganya yang patut  dirawat dan disayangi.

Begitulah kehidupan Makawalang sehari-hari. Dia begitu menikmati apa yang ada dan yang alam berikan kepadanya. Kehidupan Makawalang terus berlangsung, hari  berganti   hari,  minggu  berganti   minggu,  bahkan tahun berganti  tahun.

Makawalang    tetap    dengan   rutinitasnya, merawat tumbuh-tumbuhan dan binatang-binatang peliharaannya.   Daerah-daerah   yang  ada  di  sekitar

Gunung  Lokon  sudah  dihafalnya.  Bahkan tumbuhan-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

9

 

tumbuhan  yang ada di sekitarnya  sudah diberi nama sesuai dengan keinginannya.

Hidup yang dijalani Makawalang adalah hidup harmonis   dengan  alam.   Kehidupan   yang  harmonis ini berpengaruh juga bagi penghuni bumi yang ada di bawah Gunung Lokon. Mereka merasakan kedamaian dan kenyamanan. Penghuni bawah Gunung Lokon merasa senang karena gunung itu tidak pernah marah. Menurut   mereka,  jika  gunung  itu  marah  pasti  akan terjadi gempa. Hal ini akan mengakibatkan malapetaka bagi penghuni bumi yang ada di bawah gunung. Tempat yang mereka diami akan bergoyang dan batu-batuan serta tanah akan runtuh  menimpa mereka. Peristiwa- peristiwa  seperti ini sangat ditakuti oleh penghuni bumi yang ada di bawah Gunung Lokon.

Suatu ketika Makawalang melakukan kesalahan besar.   Makawalang   yang  dulunya   rajin   dan  tekun dalam pekerjaannya, kini suka bermalas-malasan. Makawalang   merasa  hasil  tanaman   dan  ternaknya sudah  banyak sehingga dia   hidup   berfoya-foya.  ”Ah

…, untuk apa saya menanam dan beternak,  kan sudah banyak yang saya siapkan, lebih baik saya tidur-tiduran

saja,”   ucap  Makawalang  pada  dirinya   sambil  tidur-

 

 

 

10

 

tiduran. Makawalang tidak lagi bertanam dan beternak. Dia berpikir  bahwa dia adalah penghuni pertama  yang mendiami Gunung Lokon. Tidak ada seorang pun yang berani mengusir dia walaupun melakukan kesalahan. Begitu yang dilakukan Makawalang sampai akhir persediaan makanannya habis. Akhirnya, tumbuh- tumbuhan yang biasa dirawatnya, kini tidak lagi.

Kehidupan Makawalang tidak teratur lagi. Dia mulai seenaknya menebang pohon dan berburu binatang. Tempat tinggalnya  yang semula dianggapnya sebagai surga,  kini  tidak  terurus  lagi.  Popo yang dibangunnya sebagai   tempat    beristirahat    sudah   roboh   karena tidak diurus dan dijaga. Sekarang hidup Makawalang berpindah-pindah, dari pohon yang satu ke pohon yang lain. Perilaku Makawalang yang hidup berpindah-pindah mengganggu ekosistem tumbuh-tumbuhan dan binatang- binatang yang ada di sekitar gunung.

Perbuatan  Makawalang  ini  membuat  kegaduhan di dalam hutan.  Binatang-binatang merasa terganggu dengan      ulah      Makawalang.      Tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohon seolah-olah ikut marah kepada Makawalang.   Kelakuan   Makawalang   ini   terdengar

sampai di  telinga  penghuni  bumi  yang ada di  bawah

 

 

 

11

 

Gunung Lokon. Mereka bersepakat mengutus Pinontoan dan istrinya, Ambilingan  untuk  menemui Makawalang. Mereka  mendesak  Makawalang   keluar   dari   Gunung Lokon karena sudah tidak layak lagi tinggal di situ. Perbuatannya sudah sangat keterlaluan. Mereka takut jika Gunung Lokon marah.

Atas desakan penghuni bumi yang ada di bawah Gunung Lokon, pergilah Pinontoan dan istrinya, Ambilingan ke Gunung Lokon untuk menemui Makawalang. Mereka mencari-cari tempat tinggal Makawalang.  Sudah  berhari-hari berjalan,   tetapi mereka belum juga bertemu dengan Makawalang.

“Bagaimana    ini    suamiku,    sudah   berhari-hari kita berjalan tetapi belum juga kita bertemu dengan Makawalang,” ujar Ambilingan kepada suaminya.

“Emm… saya juga bingung harus mencari ke mana

 

,istriku?” ucap Pinontoan.

 

“Bagaimana   kalau  kita  bertanya   pada  penghuni gunung ini, suamiku?” pinta Ambilingan kepada suaminya. “Istriku… istriku, gunung ini tidak ada penghuninya, kecuali                 Makawalang,”     jelas      Pinontoan      kepada Ambilingan.  Mereka  berdua  terdiam   sambil  berjalan

beriringan.

 

 

 

12

 

Malam pun tiba.  Pinontoan  dan istrinya terpaksa harus beristirahat di bawah sebuah pohon yang cukup lebat   sambil   menunggu  datangnya   pagi.   Tiba-tiba dari   kejauhan  mereka  melihat   ada  cahaya.  Cahaya yang mereka lihat diyakini dari perapian yang dibuat seseorang.

“Suamiku itu pasti cahaya api yang dibuat seseorang,   mari   kita   ke  sana!”   pinta   Ambilingan kepada Pinontoan. Lalu Pinontoan dan Ambilingan berjalan mengikuti arah cahaya tersebut. Dari kejauhan Pinontoan dan Ambilingan melihat bayangan seseorang yang bertubuh besar dan tinggi.

“Itu pasti  Makawalang,” bisik  Pinontoan  kepada istrinya.

“Bagaimana caranya menyampaikan maksud kita kepadanya?” tanya Ambilingan kepada Pinontoan.

“Kau tenang saja, biar saya yang akan mengatakannya  kepada Makawalang,” ujar  Pinontoan kepada Ambilingan.  Sampailah Pinontoan dan Ambilingan ke tempat Makawalang.

Tanpa    diketahui    Makawalang,    Pinontoan    dan

 

istrinya Ambilingan sudah berada di belakangnya. Saat

 

 

 

 

 

13

 

Pinontoan  menyapanya,  Makawalang  terkejut  karena ternyata ada penghuni juga di Gunung Lokon selain dia.

Makawalang merasa takut dan heran mengapa sampai Pinontoan dan istrinya, Ambilingan datang menemuinya. Sebelum Pinontoan dan istrinya menjelaskan apa maksud kedatangan mereka, Makawalang langsung bertanya kepada mereka.

“Apa maksud kedatangan kalian ke sini?”

“Kami ke sini untuk memberitahukan  kepadamu bahwa engkau harus pindah dari tempat ini,”  jawab Pinontoan kepada Makawalang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

14

 

“Mengapa  kalian  menyuruh  saya pindah?”  tanya

 

Makawalang dengan ketus.

 

“Kami sudah mengetahui perbuatanmu selama mendiami gunung ini. Kamu sudah tidak layak tinggal di sini,”  jelas Pinontoan kepada Makawalang.

“Saya kan penghuni pertama di gunung ini. Mengapa saya harus disuruh pindah?” tanya Makawalang dengan nada sedih.

“Ya… engkau memang harus pindah karena kami yang akan tinggal di sini,” tegas Pinontoan kepada Makawalang.

Makawalang tidak bisa berbuat apa-apa. Ia menyerah dengan hati sedih. Alasan untuk membela diri tidak mungkin didengar Pinontoan. Akhirnya, dengan sedih dan kecewa Makawalang mengambil keputusan untuk segera meninggalkan tempat itu.

“Saya  akan  meninggalkan  tempat   ini,  tapi  beri saya waktu  untuk  beristirahat karena sekarang sudah malam,” pinta Makawalang kepada Pinontoan.

“Ya,  silakan kamu beristirahat dulu karena sudah malam,” jawab Pinontoan bijaksana.

Makawalang      cepat-cepat       berdiri                          menjauhi

 

Pinontoan  dan Ambilingan.  Dia    mengambil beberapa

 

 

 

15

 

pelepah daun pisang alas tidur. Sementara itu, Pinontoan mengumpulkan kayu dan ranting  yang ada di sekitar mereka agar perapian agar tidak padam.

“Tidur saja suamiku… kamu sangat lelah, seharian kita  menempuh perjalanan,” pinta  Ambilingan  kepada suaminya.

“Ya…, kamu tidurlah lebih dahulu. Saya harus menjaga  perapian  ini  agar  tidak   padam,  nanti   kita bisa kedinginan,” jawab Pinontoan sambil mengatur perapian yang ada di hadapannya. Sambil menjaga perapian Pinontoan mencoba berpikir  tentang  rencana yang akan dilakukan besok saat Makawalang pergi dari tempat itu. Pinontoan akhirnya menyerah karena rasa kantuk datang menyerang. Dia tertidur pulas di samping istrinya.

Keesokan harinya,  pagi-pagi  benar Makawalang sudah bangun dan bersiap-siap akan pergi. Makawalang melihat  Pinontoan  dan istrinya masih tertidur  pulas. Dia enggan membangunkan mereka. Tanpa berpamitan kepada Pinontoan dan Ambilingan, Makawalang berjalan menerobos pohon-pohon  besar sambil menuruni  bukit

mencari tempat lain.

 

 

 

 

 

16

 

Pinontoan dan istrinya terbangun. Mereka mencari Makawalang, tetapi dia sudah tidak ada lagi. Mereka memanggil-manggil   Makawalang,  tetapi   sudah  tidak ada lagi sahutan.

“Mungkin Makawalang sudah pergi sejak subuh tadi,”

 

jelas Ambilingan kepada suaminya.

 

“Pasti Makawalang marah sehingga dia tidak berpamitan  lagi kepada kita,” ucap Pinontoan kepada istrinya.

“Lalu  Makawalang  akan pindah ke mana. Apakah dia akan tinggal  lagi di gunung ini?”  tanya Ambilingan kepada suaminya.

“Bisa saja dia masih tinggal di gunung ini, tetapi bukan dia lagi penghuni gunung ini. Kita sekarang yang menjadi penghuni gunung ini,”  jelas Pinontoan.

Pinontoan dan Ambilingan akhirnya bersepakat mencari  dan  memilih  tempat   untuk  mereka  jadikan tempat tinggal. Seperti halnya Makawalang memilih tempat yang indah dan nyaman, begitu juga dengan Pinontoan  dan  Ambilingan.   Mereka  memilih  tempat yang paling indah dan menyenangkan. Mereka berdua saling membantu mendirikan tempat tinggal. Pinontoan

dan Ambilingan  bersepakat  mendirikan  tempat  tinggal

 

 

 

17

 

dengan konsep popo yang  memakai loteng agar  ketika panen, hasil tanaman mereka dapat disimpan di loteng .

Perjalanan   Makawalang   mencari   tempat   yang baru  cukup  melelahkan.  Tiba-tiba  Makawalang berhenti.  Tampak olehnya sebuah gua yang besar. Ia pun masuk ke dalam gua itu  hingga jauh ke dalam. Di dalam gua itu Makawalang bingung harus berbuat apa. “Apakah  yang akan kuperbuat  di sini? Ah, lebih  baik aku dirikan rumah di sini,” pikir Makawalang. Akhirnya, Makawalang memutuskan tinggal di gua yang ada di bukit.

Makawalang menebang pohon yang kuat dan cocok untuk menjadi tiang penyangga. Ia menancapkan tiang- tiang besar penyangga tanah agar bumi tidak runtuh menimpanya. “Mmm… selesai juga tempat tinggalku yang baru,”  ucap Makawalang kepada diri sendiri. Makawalang menata dan mengatur sedemikian rupa sehingga gua itu layak untuk ditempati.

Seperti biasanya, Makawalang pergi mencari makanan ke hutan  sekaligus berburu.  Karena berburu sudah   menjadi   pekerjaan   sehari-hari,   Makawalang a  dengan  mudah  mendapatkan   buruannya.   Kali  ini

Makawalang   mendapat  dua  babi  hutan,   yang  satu

 

 

 

18

 

besar  dan  yang satu  lagi  masih kecil.  “Hasil  buruan ini akan saya bawa pulang untuk  dipelihara,” ujarnya dalam hati.  Makawalang memutuskan babi hutan hasil buruannya itu dipelihara.  Akhirnya, ia memelihara babi hutan itu.  Setiap hari babi hutan itu diberi  makan dan dirawat dengan baik, layaknya seorang anak.

Hiduplah   ia  dengan  bebas  dan  bahagia.  Tidak ada orang yang dapat mengusiknya lagi. Setiap hari pekerjaan   Makawalang   adalah   bercocok   tanam   di sekitar  gua tempat  tinggalnya.  Suasana ini tidak berlangsung   lama.  Makawalang   diliputi  rasa  cemas saat berada di hutan. Pikirnya, jangan-jangan  nanti dia bertemu dengan Pinontoan dan istrinya. Makawalang tidak mau lagi pergi ke hutan mencari makanan karena dia takut  bertemu  dengan mereka. Makawalang sadar kalau dia pergi mencari makanan di hutan bisa saja bertemu dengan mereka. Padahal dia sudah disuruh pindah atau disuruh meninggalkan gunung tersebut. Satu-satunya jalan bagi Makawalang adalah bercocok tanam  di  sekitar  gua dan  memberi  makan babi-babi hutan peliharaannya.  Makanan binatang peliharaannya

adalah buah-buahan yang tumbuh di sekitar gua.

 

 

 

 

 

19

 

“Seandainya buah-buahan ini tidak lagi mencukupi sebagai  makanan  binatang   peliharaanku,   apa  yang harus aku lakukan?”  gumam Makawalang pada dirinya sendiri.   “Oh…   iya,….  Saya  baru  ingat   kalau  buah- buahan ini habis, saya bisa menanam ubi-ubian sebagai pengganti  untuk  makanan  bintang  peliharaan  saya,” ucap Makawalang sambil tersenyum. Makawalang akhirnya menanam ubi-ubian yang didapatkan  di hutan di sekitar tempat tinggalnya.  Ubi-ubian itu ditanamnya di dekat gua. Makawalang memang harus menyediakan makanan yang cukup buat binatang peliharaannya.  Dia tahu kalau tidak memberi makan yang cukup, babi-babi hutan tersebut  akan marah.

Suatu   ketika   Makawalang   kehabisan   makanan untuk  babi-babi  hutannya.  Binatang peliharaannya mulai berulah dengan cara menggesek-gesekkan badannya pada tiang penyangga gua. Gesekan-gesekan babi-babi  hutan  itu  pada kayu-kayu  penyangga dalam gua menimbulkan gerakan. Gerakan-gerakan itu terasa sampai pada penghuni bumi di bawah Gunung Lokon.

Penghuni bumi di bawah Gunung Lokon beranggapan   gesekan-gesekan  babi-babi   hutan   itu

sebagai gempa bumi. Ini pertanda Gunung Lokon marah

 

 

 

20

 

dan akan meletus. Hal ini membuat penghuni bumi di bawah Gunung Lokon merasa takut karena  akan terjadi malapetaka bagi mereka. Hal ini sangat dipahami oleh Makawalang. Gerakan atau getaran bumi itu terjadi secara mendadak. Apabila babi hutan kecil yang menggosokkan badannya, gempa itu tidak begitu terasa karena gerakannya lemah. Sebaliknya, jika babi hutan besar  (kantong) menggosok badan, gerakan gempanya keras dan besar. Kantong adalah istilah  dalam bahasa Tombulu untuk babi betina yang besar.

Makawalang sangat takut.  Dia berusaha sekuat tenaga  memenuhi  makanan  binatang   peliharaannya agar tidak berulah lagi. Peristiwa ini pertama kali terjadi selama Makawalang memelihara babi-babi hutan itu. Makawalang menjadi semakin takut  karena dengan peristiwa  ini akan diketahui  kalau dia masih berada di Gunung Lokon. Oleh karena itu,  Makawalang berusaha keras memenuhi makanan binatang peliharaannya dengan menanam banyak ubi-ubian  lagi. Pekerjaan ini Makawalang lakukan dengan giat.  Siang hari dia tidak pernah beristirahat karena sibuk mengurus tanamannya agar  tumbuh  subur  dan  bisa  segera dipanen.  Setiap

hari  Makawalang  sibuk  menyediakan  makanan  yang

 

 

 

21

 

cukup  untuk   binatang   peliharaannya.   Semakin  hari porsi makanan babi-babi hutan ini makin bertambah. Makawalang kewalahan karena persediaan makanan babi-babi   hutan   ini   semakin  banyak.  “Saya   sudah banyak menanam ubi-ubian,  bahkan sekeliling gua ini sudah  dipenuhi  tanaman  ubi-ubian,   tetapi   mengapa masih kurang saja ya?” keluh Makawalang.

Makawalang tidak sadar bahwa babi -babi hutan peliharaannya itu semakin besar. Itu berarti  jumlah makanan mereka juga bertambah  banyak. Segala cara sudah dilakukan untuk memenuhi makanan binatang peliharaannya.   Bahkan  di  sekitar   gua  sudah  tidak ada daun-daun lagi karena setiap hari diambil untuk dijadikan bahan makanan binatang peliharaannya itu. Sekarang, yang membebani pikiran Makawalang adalah jangan sampai babi-babi hutan itu berulah lagi. Karena kalau berulah  lagi, akan terjadi gempa dan dirasakan oleh penghuni bumi yang ada di bawah Gunung Lokon. Hal ini akan mengancam keberadaan Makawalang di gunung itu.  Makawalang akan ketahuan masih berada dan tinggal  di  Gunung Lokon padahal  sudah disuruh

keluar oleh Pinontoan dan Ambilingan.

 

 

 

 

 

22

 

 

Hal yang ditakutkan Makawalang akhirnya terjadi. Babi-babi hutan itu berulah lagi karena makanan yang disiapkan Makawalang tidak cukup. Kali ini mereka tidak hanya menggesek-gesekkan badan mereka di tiang- tiang penyangga gua, tetapi  juga mengais-ngais tanah dengan mulut  mereka pada tanah  yang ada di dalam gua. Ini tentunya  akan menimbulkan goncangan yang sangat besar dan berdampak pada penghuni bumi yang ada di bawah gunung. Di bumi bisa terjadi kerusakan rumah   dan  jembatan,   bahkan  dapat   menyebabkan tanah longsor dan gelombang pasang. Penghuni- penghuni bumi kocar-kacir, berlari  ke sana kemari mencari tempat  yang aman untuk menyelamatkan diri. Mereka sudah tidak mempedulikan lagi harta benda mereka. Semua berusaha mencari cara agar terhindar dari tanah longsor yang datang sewaktu-waktu.

Peristiwa ini sangat mengganggu penghuni bumi. Mereka mencari tahu mengapa tiba-tiba terjadi gempa bumi yang cukup dahsyat. Goncangan yang sangat hebat ini dirasakan juga oleh Pinontoan dan Ambilingan.

“Mengapa gempa ini terjadi?” ujar Ambilingan kepada suaminya.

 

 

 

 

 

23

 

 

“Pasti  ada yang tidak  beres di dalam gunung ini,” ucap Pinontoan dengan nada keras. Pinontoan jadi penasaran dengan peristiwa  ini karena sebenarnya hanya ada dua jawaban atas terjadinya gempa ini. Pertama, orang yang mendiami gunung ini melakukan kesalahan sehingga gunung marah. Kedua, sudah waktunya gunung ini meletus. Untuk jawaban pertama, Pinontoan   dan  Ambilingan   sebagai  penghuni   tidak pernah melakukan kesalahan. Kedua, kalau memang sudah waktunya  meletus mengapa hal ini tidak  terjadi

terus-menerus  dan tiba-tiba saja gempa ini berhenti?

 

 

24

 

 

Sebagai satu-satunya penghuni di gunung ini, Pinontoan dan Ambilingan mencari tahu. Diam-diam mereka  berjalan   menuruni  bukit,   masuk  dan  keluar hutan menyelidiki apa penyebab gempa ini. Tiba-tiba mereka berhenti.

“Suamiku, coba dengar ada suara seperti suara binatang  dari  dalam gua itu,” ucap Ambilingan  sambil menarik tangan Pinontoan mendekat ke arah suara tersebut.

“Ssstt…,   jangan  terlalu   keras  suaramu  istriku, nanti  kita  ketahuan,” pinta  Pinontoan kepada istrinya sambil mengendap-endap mencari sumber suara tersebut. Pinontoan dan istrinya menghampiri gua yang menjadi sumber suara yang ditunjukkan istrinya. Betapa terkejutnya Pinontoan dan Ambilingan saat melihat babi

-babi hutan yang ada di dalam gua itu.

 

“Babi-babi hutan  ini  pasti  ada pemiliknya,” pikir Pinontoan. Tidak mungkin babi-babi hutan itu secara kebetulan mendiami gua ini. Muncul lagi pertanyaan dalam pikiran Pinontoan tentang siapa pemilik binatang ini.  Babi -babi  hutan  ini  terlihat terawat dan  cukup besar.

 

 

 

 

 

25

 

Saat  Pinontoan  berpikir  mengenai siapa  pemilik- nya, tiba-tiba sekelebat muncul bayangan manusia yang tinggi dan besar. Pinontoan menarik tangan istrinya sambil mencari tempat yang agak tersembunyi agar mereka tidak terlihat oleh Makawalang. Mereka sangat mengenal bayangan manusia itu karena memang mereka pernah bertemu dan hanya mereka bertiga  yang ada di gunung itu.

“Itu kan Makawalang,” tunjuk  Ambilingan kepada

 

Pinontoan.

 

“Iya…,  benar itu Makawalang,” tegas Pinontoan kepada istrinya, “Maka terjawab  sudah teka-teki siapa penyebab terjadinya gempa itu.  Ternyata  adalah babi- babi hutan milik Makawalang.”

Sekarang yang membuat Pinontoan bingung adalah bagaimana menjelaskan hal ini kepada penghuni bumi di bawah gunung ini. Pinontoan berpikir, pasti mereka akan  menyalahkan  kami  karena  mereka  tahu  bahwa kami yang tinggal di gunung ini. Pinontoan dan istrinya berdiskusi bagaimana menjelaskan kepada penghuni bumi. Akhirnya, Pinontoan menunjuk burung manguni untuk   menjelaskan  hal  ini   kepada  penghuni   bumi.

Mereka   menugasi  burung   manguni   karena   mereka

 

 

 

26

 

 

tidak  mungkin lagi turun  gunung untuk  menemui penghuni bumi. Berangkatlah  burung manguni ke bumi menyampaikan duduk persoalan sehingga terjadi gempa. Dengan bantuan burung manguni, penghuni bumi mengetahui bahwa babi-babi hutan milik Makawalang yang menyebabkan terjadinya gempa.

Tidak lama berselang terjadilah gempa yang cukup besar. Babi-babi hutan Makawalang sedang kelaparan. Mereka  mulai  menggesek-gesekkan  badan  ke  tiang- tiang penyangga gua dan mulai menyuir-nyuir tanah. Penghuni bumi sudah mengetahui bahwa gempa itu disebabkan  oleh  babi-babi   hutan   milik  Makawalang. Untuk  meredakan gempa bumi itu,  penghuni-penghuni di bumi harus membunyikan atau memukul tetengkoren (alat yang   dibuat dari   bambu, salah satu  sisi  dibuat lubang yang memanjang searah bambu), kayu, atau barang apa saja yang jika diketuk berbunyi. Mereka juga harus berseru, “Mangko! Tambah hebat lagi! Maksudnya untuk mengolok babi-babi hutan Makawalang supaya berhenti  menggesek-gesekkan badan mereka pada kayu penyangga dan menyuir-nyuir tanah yang ada di dalam gua.

 

 

 

 

 

27

 

Keadaan di bumi sangat kacau. Tempat mereka porak-poranda karena gempa: tanah longsor dan gelombang pasang. Banyak penghuni bumi yang mati tertimpa reruntuhan bangunan dan tanah longsor. Ada beberapa orang yang selamat dari peristiwa  ini. Mereka bersepakat menemui Pinontoan dan istrinya untuk meminta  Makawalang turun  dari gunung supaya tidak menciptakan masalah besar bagi penghuni bumi. Mereka menugasi Pinontoan sebagai penghuni Gunung Lokon. Niat beberapa orang ini akhirnya  disampaikan kepada Pinontoan. Mereka juga menegaskan kepada Pinontoan bahwa  sebagai  hukuman  kepada  Makawalang,  babi- babi hutan  miliknya  dibawa  serta  ke bumi agar tidak lagi mengganggu di gunung. Pinontoan berjanji  kepada penghuni bumi untuk menemui Makawalang dan meminta pertanggungjawabannya atas peristiwa  yang terjadi.

Keesokan harinya  Pinontoan dan istrinya pergi menemui Makawalang. Sementara itu, Makawalang ketakutan  dengan peristiwa  yang terjadi ini karena diketahui bahwa dia masih berada di gunung ini. Begitu terkejutnya Makawalang  saat  melihat  Pinontoan  dan

istrinya sudah berada di gua tempat tinggalnya.  “Pasti

 

 

 

 

 

28

 

mereka  datang  untuk  mengusir  saya karena  sayalah penyebab semua ini,”  batin Makawalang.

Sebagai penghuni Gunung Lokon yang sah, Pinontoan menjelaskan dengan arif  dan  bijaksana kepada Makawalang mengenai semua hal yag terjadi.

“Barangkali engkau sudah mengetahui maksud kedatangan kami ini,”  ucap Pinontoan sambil menatap Makawalang, “Saya dan Ambilingan ditugasi oleh penghuni bumi untuk menyampaikan hal ini kepadamu, yakni mereka meminta engkau harus keluar dari gunung ini dan kembali ke bumi,” jelas Pinontoan dengan sangat hati-hati kepada Makawalang.  Makawalang  diam dan menundukkan kepala karena merasa bersalah.

“Mereka  meminta juga babi-babi hutan ini dibawa turun ke bumi agar mereka tidak mengganggu dan tidak menyebabkan masalah lagi,”  jelas Pinontoan.  Dengan hati yang sedih Makawalang menuruti apa yang diminta oleh para penghuni bumi melalui Pinontoan dan istrinya. Makawalang berkemas-kemas, mengikat babi-babi hutannya dengan tali  agar memudahkan membawanya turun ke  bumi.  Akhirnya, Makawalang meminta maaf kepada Pinontoan dan Ambilingan sekaligus berpamitan

untuk turun  ke bumi.

 

 

 

29

 

 

Kehidupan Makawalang sebagai penghuni gunung sudah berakhir.  Sebagai hukuman Makawalang  harus turun ke bumi karena tidak dapat menjaga alam yang ada di Gunung Lokon dengan baik. Hukuman Makawalang bukan hanya itu.  Dia juga harus membersihkan puing- puing yang ada di bumi akibat gempa yang disebabkan oleh babi-babi hutannya. Makawalang dengan sedih menerima hukuman ini. Dia tidak  bisa menolak karena ini adalah kesalahannya. Makawalang berjanji dalam hatinya bahwa dia tidak akan lagi melakukan kesalahan seperti yang dia lakukan saat tinggal di Gunung Lokon. Dia bersyukur bahwa penghuni bumi masih menerimanya untuk   tinggal   di   bumi.   Siang  malam   Makawalang bekerja membersihkan puing-puing akibat gempa. Peluhnya menetes. Sesekali Makawalang berhenti sekadar menarik napas dan meregangkan tangan dan kakinya karena kelelahan bekerja sendirian. Akhirnya, dengan  perjuangan  yang  panjang  pekerjaannya selesai. Penghuni bumi kagum dengan hasil pekerjaan Makawalang. Mereka tidak menyangka Makawalang dapat menyelesaikan pekerjaan ini seorang diri.

“Ha…,    persoalan     satu    sudah    selesai,”              ucap

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

di bawah pohon beringin.   Persoalan yang dimaksud Makawalang adalah selesai membersihkan puing-puing saat  gempa.  Sekarang  tempat   para  penghuni  bumi sudah bersih.  Persoalan yang lain  adalah  bagaimana cara memelihara babi-babi hutannya yang dibawa dari Gunung Lokon. Lama dia berpikir  mencari jalan keluar dan akhirnya ditemukanlah  jawabannya.

“Saya harus menyembelih babi-babi hutan itu dan akan saya bagi kepada semua penghuni bumi. Anggap saja itu  sebagai tanda permintaan maaf saya,” gumam Makawalang sambil menatap daun-daun pohon beringin. Makawalang  bangun dari tidurnya dan menyampaikan hal ini kepada beberapa penghuni bumi. Mereka setuju dengan keputusan Makawalang.  Keesokan harinya Makawalang dan beberapa penghuni bumi menyembelih babi-babi  hutan tersebut  dan membagi-bagikan kepada seluruh penghuni bumi. Mereka sangat bersukacita dengan keputusan Makawalang dan menghargai niat dan usaha Makawalang untuk memulai hidup baru di bumi.

Dengan bantuan penghuni bumi, Makawalang boleh hidup   bersama-sama   dengan   mereka.   Makawalang hidup  secara wajar  sebagaimana penghuni  bumi, bekerja dan bersosialisasi.   Bahkan Makawalang boleh

 

menikah dan  memiliki  keturunan.   Hidup  Makawalang di bumi sangat bahagia dan tidak  ada satu orang pun yang dapat mengusiknya lagi karena dia sudah hidup menetap di bumi.

Kini yang menjadi penghuni Gunung Lokon adalah Pinontoan dan Ambilingan, istrinya. Tugas mereka adalah  menjaga,  merawat,  dan  menyelaraskan kehidupan semua makhluk yang ada di Gunung Lokon. Kehidupan Pinontoan dan Ambilingan sangat harmonis. Mereka  sangat  bahagia  dan  sangat  nyaman  tinggal di gunung ini. Tidak ada lagi yang dapat mengusik ketenteraman dan kebahagiaan Pinontoan dan Ambilingan.  Mereka sangat mencintai  semua makhluk yang ada di gunung. Hal ini terlihat dari semakin tinggi dan semakin kokohnya Gunung Lokon.

Kemegahan dan tingginya  Gunung Lokon sudah tersebar    ke   mana-mana.   Karena   tingginya,    jarak antara  puncak Gunung Lokon dengan langit hanya setangkai sendok. Hal ini membuat iri banyak gunung dan pegunungan yang ada di sekitarnya. Pinontoan dan Ambilingan  sangat senang mendengar hal itu.  Mereka tidak menjadi sombong, malahan mereka semakin berusaha menjaga dan merawat gunung tersebut. Tidak

 

ada gunung di Minahasa yang dapat menyainginya. Semua gunung yang ada di Minahasa mengakui akan keberadaan Gunung Lokon.

“Suamiku, saya mendengar banyak yang mengagumi gunung ini,”  ucap Ambilingan kepada suaminya pada suatu sore.

“Benar istriku, Gunung Lokon ini sangat tinggi dan besar,” jawab Pinontoan kepada istrinya.

“Ini berkat  usaha kita  merawat  dan menjaganya kan?” ujar Ambilingan.

“Kita    jangan   cepat   puas  dan   sombong.  Mari kita tetap menjaga dan merawat gunung ini,”  pinta Pinontoan dengan bijaksana kepada istrinya.

Keberadaan Gunung Lokon sudah tersebar  di seluruh Tanah Malesung (sekarang Minahasa). Ada gunung yang mengagumi, tetapi  ada juga gunung yang iri dengan ketinggian  dan kemegahannya. Mereka bertanya-tanya mengapa mereka tidak setinggi dan semegah Gunung Lokon? Mereka bahkan mencari tahu penyebab mengapa Gunung Lokon bisa seperti itu. Penghuni-penghuni gunung yang lain sempat berkumpul untuk menanyakan rahasia sehingga Gunung Lokon begitu tinggi dan besar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tersebutlah  Gunung Kalabat yang dahulu disebut Gunung Kalawat.  Gunung ini juga berada di Minahasa. Jika   dibandingkan   dengan   Gunung  Lokon,   gunung ini lebih rendah.   Gunung Kalabat adalah salah satu gunung yang merasa iri dengan ketinggian  Gunung Lokon. Penghuni-penghuni  Gunung Kalabat  merasa iri jika membandingkan Gunung Lokon dengan Gunung Kalabat. Atas dasar inilah penghuni Gunung Kalabat datang  memohon kepada  Pinontoan  dan  Ambilingan agar separuh puncak dari Gunung Lokon diberikan kepada mereka seingga Gunung Kalabat menjadi lebih tinggi.  Banyak alasan yang mereka kemukakan kepada Pinontoan dan Ambilingan agar menyetujui permintaan mereka. Para penghuni Gunung Kalabat pun mulai berandai-andai.

“Jika Pinontoan dan Ambilingan merelakan sebagian puncak Gunung Lokon ditambahkan pada Gunung Kalabat, Gunung Kalabat akan menjadi lebih tinggi dan kami bisa naik sampai ke langit,” ucap penghuni Gunung Kalabat kepada temannya.

Penghuni yang lain berkata, “Seandainya penghuni

 

Gunung Lokon memberikan tanah mereka untuk Gunung

 

Kalabat,   Gunung  Kalabatlah   yang  paling  tinggi   dan besar di seluruh Minahasa.”

Para penghuni Gunung Kalabat ingin menyampaikan pemikiran  mereka kepada Pinontoaan dan Ambilingan. Mereka sangat berharap Pinontoan dan Ambilingan mengabulkan permintaan mereka. Mereka menginginkan tempat tinggal mereka lebih tinggi daripada Gunung Lokon. Kemudian mereka pergi menjumpai dan memohon kepada Pinontoan dan Ambilingan agar sebagian tanah Gunung Lokon ditambahkan ke Gunung Kalabat.

Para utusan dari penghuni Gunung Kalabat datang menemui Pinontoan dan Ambilingan dan menyampaikan maksud mereka. Karena sangat murah hati dan tidak kikir,  Pinontoan  dan  Ambilingan  memberikannya. Mereka tidak  menyesal sebagian tanah  Gunung Lokon diberikan  kepada Gunung Kalabat.  Mendengar  hal ini seluruh penghuni Gunung Kalabat bersorak gembira. Gunung yang mereka cintai  sebentar lagi akan menjadi tinggi.   Para  utusan  dari   penghuni  Gunung  Kalabat pulang dan memberitahukan  berita  ini kepada seluruh penghuni gunung tersebut. Mereka lalu mengadakan pesta karena keinginan mereka hampir tercapai,   yakni sebentar lagi gunung mereka akan menjadi tinggi.

 

Selesai mengadakan pesta, para utusan penghuni Gunung Kalabat berunding untuk menentukan siapa saja yang akan pergi memotong dan memindahkan puncak Gunung Lokon ke Gunung Kalabat.  Pekerjaan ini tidak mudah. Mereka harus mengadakan upacara khusus meminta kepada Yang Mahakuasa agar pekerjaan memindahkan sebagian puncak Gunung Lokon ke Gunung Kalabat  diberi  kelancaran.  Juga agar mereka diberi petunjuk siapa-siapa yang dapat mengerjakan pekerjaan ini. Upacara pun dilakukan oleh penghuni Gunung  Kalabat.  Semua penghuni  diberi  tugas  oleh tetua  gunung itu untuk membawa beberapa benda dan bahan untuk upacara nanti.

“Saya diberi tugas oleh tetua membawa tobaku (bukan  rokok   batangan,  tidak  dibungkus dan   belum menggunakan filter),” ucap salah satu penghuni Gunung Kalabat.

“Kamu disuruh membawa apa?” tanya temannya yang lain.

“Oh… saya disuruh  membawa pinang  dan sirih,”

 

jawab teman yang di sampingnya.

 

“Kalau kamu disuruh membawa apa?” tanya teman yang di seberang sambil menunjuk temannya.

 

“Saya disuruh membawa sesajian,” jawab temannya sambil menundukkan kepala.

Semua penghuni  Gunung Kalabat  saling  mencari tahu tugas apa yang diberikan oleh tetua gunung untuk dibawa pada upacara nanti.  Tiap-tiap penghuni sudah tahu apa yang akan dibawa kalau ada upacara seperti ini. Ini sudah menjadi aturan  main dalam kelompok mereka dan sebetulnya tidak perlu lagi ditanya.

Esok harinya  upacara dilaksanakan.  Semua penghuni sudah berkumpul dengan memakai atribut upacara masing-masing. Pada upacara seperti ini akan ketahuan dari atribut yang dikenakan apakah penghuni Gunung Kalabat  itu  datang  dari  arah  utara,  selatan, timur,  atau barat.

Semua sudah siap dengan upacara adat yang akan dipimpin  oleh tetua  Gunung Kalabat. Sebelum tetua masuk di lokasi upacara, keadaan lokasi itu amat hening. Tidak satu pun yang bersuara. Kemudian tiba-tiba terdengar  bunyi tetengkoren.  Semua peserta  upacara mengambil posisi masing-masing. Bunyi itu pertanda tetua yang akan memimpin upacara sudah berada di tempat upacara.

 

Sumigi…,”   ucap  salah   seorang   tetua.   Sumigi dalam bahasa Tombulu  mempunyai arti  memberi hormat.  Semua yang hadir menundukkan kepala tanda menghormati  tetua.   Kemudian  tetua  menuju  tempat yang sudah disiapkan.  Di sana ada beberapa sesajian dan benda-benda sebagai syarat untuk mengadakan upacara.  Tetua yang memimpin upacara duduk persis di hadapan sesajian sambil mulutnya komat-kamit. Setelah itu dia mengambil beberapa sesajian kemudian menatanya dan meletakkan pada wadah yang sudah disiapkan   dan  ditambah   dengan  benda-benda   lain, seperti  tobaku  dan pinang.  Kemudian dia  mengambil air yang sudah disiapkan dalam wadah yang sudah dicampur    dengan   berbagai   wangi-wangian    bunga dan  diletakkan  di  sebelah sesajian.  Peserta  upacara yang hadir mengikuti seluruh prosesi upacara dengan khidmat.  Tidak  ada  satu  pun  yang  terlewatkan dari pandangan mata mereka.

“Atas petunjuk Yang Kuasa pekerjaan ini dapat kita lakukan,” ucap tetua yang memimpin upacara, “Sesajian yang saya sudah bagi ini nantinya  diletakkan  di puncak Gunung Lokon,” ucap tetua  memecah keheningan saat itu. “Yang akan membawa sesajian ini ke Gunung Lokon

 

adalah penghuni-penghuni Gunung Kalabat yang sudah saya tunjuk,” ucapnya lagi.

Tetengkoren  berbunyi sebanyak tiga kali pertanda upacara selesai. Kemudian tetua mengatakan kepada seluruh penghuni Gunung Kalabat bahwa pekerjaan memindahkan sebagian puncak Gunung Lokon ke Gunung Kalabat  direstui   oleh  Yang Mahakuasa.  Hal itu menunjukkan saat upacara tadi tidak ada halangan apa pun. Sesajian yang diatur  dan harus dibawa ke puncak Gunung Lokon itu  mengandung maksud untuk menghormati para leluhur dan penghuni Gunung Lokon agar saat pemindahan tidak  mengalami halangan. Orang-orang yang akan bekerja pun sudah direstui  oleh Yang Mahakuasa agar mereka dapat bekerja dengan baik. Jadi, yang akan berangkat bekerja adalah orang- orang pilihan yang sangat tangguh dan kuat bekerja.

Akhirnya, upacara selesai. Diputuskanlah bahwa mereka akan berangkat ke Gunung Lokon besok. Mereka harus mempersiapkan barang-barang  dan bekal yang akan dibawa ke gunung itu.  Keesokan harinya  para penghuni  Gunung Kalabat  berkumpul  untuk  melepas para pekerja yang akan pergi ke Gunung Lokon. Orang- orang yang sudah dipilih  untuk bekerja disuruh berdiri

 

di  depan  oleh  tetua.   Mereka   berbaris   menghadap para   penghuni   yang  lain.   Tetua   penghuni   Gunung Kalabat mengambil air ramuan yang diperoleh ketika melaksanakan  upacara  minta   restu   kemarin.   Tetua lalu menyiramkan air ramuan itu satu per satu kepada semua pekerja. Maksudnya agar mereka diberkati, terhindar dari segala gangguan dan halangan saat bekerja memindahkan sebagian puncak Gunung Lokon ke Gunung Kalabat.

Pergilah mereka ke Gunung Lokon  untuk menemui Pinontoan dan Ambilingan sekadar memberitahukan bahwa mereka akan memotong puncak gunung itu seperti yang  mereka  bicarakan  pada  waktu  lalu.  Pinontoan dan Ambilingan tidak lupa dengan janji mereka untuk memberikan sebagian puncak Gunung Lokon. Malah pada saat itu pula Pinontoan dan Ambilingan mempersilakan mereka memotong sebagian puncak gunung itu. Namun, sebelum mereka memotong Gunung Lokon, Pinontoan dan Ambilingan mengingatkan bahwa saat memotong tidak boleh ada yang merusak dan mengambil binatang dan tumbuhan yang ada di gunung itu.

“Dalam mengerjakan pekerjaan ini tidak ada yang merusak dan mengambil binatang  dan tumbuhan yang

 

ada di gunung ini. Jika ada yang melanggar, kami membatalkan janji kami untuk memberikan sebagian puncak Gunung Lokon kepada Gunung Kalabat,” ucap Pinontoan dengan lantang dan tegas.

Para pekerja dari Gunung Kalabat serentak menjawab, “Baik…, kami tidak  akan melanggar aturan dan berjanji  tidak  akan merusak dan mengambil apa pun, kecuali tanah yang ada di Gunung Lokon.”

PinontoandanAmbilingansangatsenangmendengar janji yang disampaikan oleh penghuni Gunung Kalabat. Akhirnya, dengan penuh semangat, penghuni Gunung Kalabat  memotong puncak Gunung Lokon. Agar tidak merasa begitu berat dalam melaksanakan tugas itu, mereka bekerja diiringi dengan musik tetengkoren  dan lagu-lagu  yang dilantunkan oleh para  wanita.  Tanah yang mereka ambil itu diangkut dan dibawa untuk menimbun  Gunung  Kalabat.   Begitu  bersemangatnya para  penghuni  Gunung  Kalabat  memotong  dan membawa tanah  dari  puncak gunung itu.  Akan tetapi, banyak tanah yang tercecer di sekeliling Gunung Lokon. Tanah yang tercecer  itu  membentuk gugusan gunung, seperti Gunung Kasehe, Gunung Tatawiran, dan Gunung Empung. Gugusan-gugusan gunung ini berdiri  kokoh di

 

samping Gunung Lokon. Kehadiran  ketiga  gunung  ini semakin menambah kemegahan Gunung Lokon.

Sebagai penghuni Gunung Lokon yang baik hati, Pinontoan dan Ambilingan hanya bisa mengamati pekerjaan mereka dari jauh. Pinontoan dan Ambilingan tidak mau ikut campur dengan pekerjaan mereka walaupun pekerjaan mereka tidak maksimal. Namun, Pinontoan  dan  Ambilingan  menyayangkan  banyak tanah dari Gunung Lokon yang tercecer.  Sebenarnya kalau mereka melakukan dengan baik pasti tidak  akan ada tanah yang jatuh  tercecer.  Selain itu,  tanah  yang terbuang  atau  tercecer  jika  dikumpulkan  sebetulnya dapat  menambah ketinggian Gunung Kalabat.

Posisi tanah Gunung Lokon lebih rendah daripada Gunung  Kalabat.   Akan  tetapi,   para   pekerja   sudah mulai kelelahan dan semangat mereka sudah mulai mengendur.   Oleh  karena   itu,   dalam   memindahkan tanah  dari  Gunung Lokon  ke Gunung Kalabat  mulai asal-asalan.  Banyak tanah  yang tercecer.  Tanah yang tercecer   itu membentuk gugusan-gugusan gunung. Gugusan-gugusan  gunung  itu   diberi   nama  Gunung Batu Angus dan Gunung Dua Sudara. Jika para pekerja dari  penghuni  Gunung Kalabat  bekerja  dengan  baik,

 

pasti  tidak  akan ada tanah  yang tercecer.  Sebetulnya ceceran tanah itu bisa menambah ketinggian Gunung Kalabat. Gugusan Gunung Batu Angus dan Gunung Dua Sudara berada dekat dengan Gunung Kalabat. Meskipun pekerjaan tidak terlalu baik, mereka merasa lega karena dapat juga memindahkan sebagian tanah dari  Gunung Lokon ke Gunung Kalabat.

Pekerjaan memindahkan sebagian puncak Gunung Lokon ke Gunung Kalabat sudah selesai. Para penghuni Gunung Kalabat sangat senang. Mereka melaporkan kepada  tetua   penghuni  Gunung  Kalabat  bahwa pekerjaan sudah selesai.

“Sampaikan kepada seluruh penghuni Gunung Kalabat  bahwa besok kita  akan mengadakan upacara sebagai ungkapan  syukur,”  ucap tetua  dengan suara yang nyaring dan berwibawa. Penyampaian ini disebarluaskan kepada seluruh penghuni yang lain. Esok harinya mereka sudah berkumpul untuk mengadakan upacara pengucapan syukur. Seperti halnya pada upacara meminta restu, pada upacara ini juga penghuni diwajibkan   untuk  membawa  dan  mengumpulkan beberapa sesajian. Para penghuni Gunung Kalabat dengan senang hati  membawa apa yang diminta  dan

 

ditugaskan kepada mereka. Bahan-bahan berupa makanan yang tidak diminta juga mereka kumpulkan karena senangnya. Ini pertanda  bahwa para penghuni sangat bersukacita dan bergembira karena rencana mereka tercapai.

Upacara  ucapan  syukur  pun  berlangsung. Penghuni Gunung Kalabat  yang datang  lebih  banyak jika dibandingkan  dengan pada saat upacara meminta restu. Tetua yang memimpin upacara begitu senang melihat kehadiran para penghuni Gunung Kalabat. Kembali tetengkoren dibunyikan pertanda upacara akan berlangsung. Tetua yang akan memimpin sudah berada di tempat upacara.

Sumigi…,”  terdengar   suara  dari  depan.  Semua yang hadir menundukkan kepala sebagai tanda memberi hormat.  Kemudian tetua  pemimpin upacara  masuk ke tempat upacara. Dia langsung menuju ke tempat sesajian itu disiapkan. Para penghuni yang akan mengikuti upacara langsung mengambil posisi dan berdiri berdasarkan tempat tinggal. Tetua pemimpin upacara mengambil salah satu sesajian dan mengangkatnya setinggi kepalanya. Dia menengadah ke atas sambil mulutnya komat-kamit. Setelah itu sesajian diturunkan

 

dan diletakkan kembali di tempat semula. Tetua berbalik kepada seluruh peserta upacara. Selanjutnya dia membagi-bagikan sesajian kepada beberapa penghuni Gunung Kalabat  yang berdiri  di dekatnya.  Ini sebagai tanda bahwa mereka sedang mengucap syukur atas penyertaan Yang Mahakuasa.

Selesai  tetua   membagikan  sesajian  kepada beberapa penghuni, semua penghuni yang hadir mengambil sesajian dan makan secara bersama-sama. Hal ini dimaksudkan bahwa dengan kerja sama yang terjalin , pekerjaan seberat apapun dapat diselesaikan.

Dalam upacara itu, tetua tidak lupa mengimbau seluruh penghuni Gunung Kalabat yang hadir untuk tetap menjaga persatuan dan kesatuan agar gunung yang mereka diami bisa kokoh dan tidak  terjadi malapetaka. Terlihat    pada   upacara   itu   para   penghuni   Gunung Kalabat sangat senang. Mereka tak henti-hentinya memandang gunung yang sudah lebih tinggi itu. Mereka menyadari selama ini mereka telah salah karena merasa iri terhadap  ketinggian  dan kemegahan Gunung Lokon. Mereka sangat berterima kasih ternyata Gunung Lokon begitu baik dan merelakan sebagian puncaknya dipotong dan  diambil.  Para  penghuni  Gunung Kalabat  kembali

 

menemui Pinontoan dan Ambilingan untuk mengucapkan terima kasih atas kebaikan dan kemurahan hati penghuni Gunung Lokon kepada Gunung Kalabat.

Penghuni Gunung Kalabat kembali beraktivitas seperti sediakala. Mereka hidup bahagia karena Gunung Kalabat yang mereka tinggali  sudah semakin tinggi. Mereka saling menjaga, memelihara, dan melindungi keseimbangan alam yang ada di gunung itu. Semua binatang dan tumbuh-tumbuhan yang hidup di situ dilindungi  dan dirawat dengan baik. Persatuan dan kesatuan seluruh penghuni Gunung Kalabat terdengar sampai ke telinga Pinontoan dan Ambilingan. Mereka sangat senang mendengar kabar tersebut. Artinya, pemindahan tanah Gunung Lokon ke Gunung Kalabat memberi pengaruh yang baik.

Semenjak pemindahan tanah Gunung Lokon ke Gunung Kalabat, Gunung Lokon merasa lebih baik. Tumbuhan yang ada di gunung itu semakin banyak dan tumbuh   subur.  Pohon-pohon  yang  tumbuh   semakin tinggi dan besar. Binatang-binatang semakin banyak dan berkembang biak. Pendek kata, Gunung Lokon semakin subur, kokoh, dan hijau. Penghuni Gunung Lokon, yakni Pinontoan  dan Ambilingan  juga dianugerahi  beberapa

 

anak sehingga hidup mereka semakin bahagia. Anak- anak  dari  Pinontoan  dan  Ambilingan  begitu  senang tinggal  di gunung itu.  Mereka mencontoh sikap orang tua mereka yang begitu baik, suka bekerja keras, rajin memelihara alam, dan lingkungan  yang ada di gunung itu.

Satu perbuatan baik dari Pinontoan dan Ambilingan adalah mengajarkan kepada anak-anak agar jangan merusak lingkungan apalagi dengan sengaja. Ajaran ini diingat terus oleh anak-anak Pinontoan dan Ambilingan. Bahkan ajaran ini mereka terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kehidupan Pinontoan dan Ambilingan terus berlanjut sampai keturunan  mereka beranak pinak. Dengan demikian, penghuni Gunung Lokon semakin bertambah. Bertambahnya penghuni Gunung Lokon tidak berarti mengubah semua aturan  yang sudah diajarkan dan dicontohkan oleh Pinontoan dan Ambilingan. Mereka tetap menjaga dan merawat kelestarian lingkungan alam yang ada di gunung tersebut.

Suatu sore Pinontoan dan Ambilingan bercakap- cakap mengenai perjalanan kehidupan mereka sampai mereka  memiliki  keturunan.   Tiba-tiba  Ambilingan berkata kepada suaminya.

 

“Suamiku, barangkali ini waktu yang tepat bagi kita untuk menyampaikan beberapa hal kepada penghuni gunung ini.”

“Mengapa  tiba-tiba engkau mengatakan hal ini?”

 

tanya Pinontoan kepada istrinya.

 

“Kita  ini sudah tua,  suamiku, saya merasa punya beban kalau belum menyampaikan hal ini kepada mereka,” jelas Ambilingan kepada suaminya. Pinontoan juga berpikir, benar juga kata Ambilingan.

“Besok kumpulkan mereka di sini, saya akan menyampaikan beberapa hal kepada mereka,” ucap Pinontoan kepada istrinya sambil memberi makan ayam peliharaannya.

Keesokan harinya  Ambilingan  menyuruh semua penghuni  berkumpul  di  tempat  tinggal  mereka. Informasi ini disampaikan dari  mulut ke mulut sehingga mereka tahu  semua. Setelah semua penghuni  gunung berkumpul mulailah Pinontoan berbicara.

“Anak-anakku, saya memanggil kalian  berkumpul di sini karena ada beberapa hal yang perlu  saya beri tahukan,” ucap Pinontoan dengan suara lantang. Semua penghuni saling berbisik-bisik.

 

“Apa gerangan yang akan disampaikan oleh Tetua

 

Gunung Lokon, ya?”

 

“Jangan-jangan ada yang melakukan kesalahan,”

 

ucap penghuni pria.

 

“Ada  mungkin yang merusak tumbuh-tumbuhan?” jawab penghuni wanita.  Kedengaran semua saling berbisik-bisik dan semakin gaduh saat Pinontoan melanjutkan pembicaraannya.

“Saya dan istri  saya sudah tua. Kami perlu menyampaikan kepada kalian agar menjaga dan merawat gunung ini dengan baik,” ucap Pinontoan sambil terbata- bata, “Kami tidak ingin peristiwa  beberapa puluh tahun yang lalu terjadi lagi.”

Para penghuni kembali berbisik-bisik dan bertanya apa yang terjadi sehingga Pinontoan dan Ambilingan begitu serius. Kembali Pinontoan menjelaskan bahwa beberapa puluh tahun yang lalu saat masih mendiami Gunung Lokon, Makawalang melakukan kesalahan. Makawalang tidak menjaga dan merawat lingkungan alam Gunung Lokon dengan baik. Dia merusak dan membiarkan tumbuh-tumbuhan dan binatang  sehingga banyak yang mati. Dia juga membiarkan binatang peliharaannya sehingga  terjadi gempa  di  bumi.  Mendengar  hal  itu

 

penghuni  gunung  terdiam   dan  menundukkan  kepala. Mereka merasa takut dengan penjelasan Pinontoan.

“Jadi,  tolong  hal  ini  dipahami  dan  diperhatikan anak-anakku,” pinta Pinontoan kepada seluruh penghuni Gunung Lokon. “Keberadaan  gunung ini sekarang ada di pundak kalian,  kalian yang akan melanjutkan  tugas kami kelak,” pinta Pinontoan dengan sedih.

Serentak    para    penghuni    menjawab,     “Ya…, kami akan menjaga dan melanjutkan tugas kalian.” Mendengar jawaban dari para penghuni Gunung Lokon, hati  Pinontoan  dan  Ambilingan  menjadi  lega.  Beban yang selama ini mereka pikul seolah terlepas semua.

“Suamiku,    aku    merasa    lega    sekarang,”    ucap

 

Ambilingan kepada suaminya.

 

”Benar istriku, aku pun merasa senang dapat mengatakan hal itu kepada mereka, paling tidak mereka sudah tahu,” timpal Pinontoan.

Harapan Pinontoan dan Ambilingan bagi para penghuni adalah menjaga gunung ini karena gunung ini adalah kebanggaan negeri Malesung atau Minahasa. Lebih dari  itu,  kelestarian  Gunung Lokon adalah juga kelestarian penghuni bumi karena gunung itu menjadi sumber mata air  dan sumber makanan bagi penghuni

 

 

 

 

 

 

 

 

 

bumi. Tugas Pinontoan dan Ambilingan pada waktu itu sangat berat karena mereka memegang janji kepada penghuni bumi untuk menjaga dan merawat Gunung Lokon.  Jadi,  sebetulnya   Pinontoan   dan  Ambilingan tidak    hanya    bertugas    menjaga    supaya    Gunung Lokon bisa berdiri  kokoh dan megah. Penghuni bumi mengamanatkan agar mereka dapat hidup melalui kelestarian  Gunung Lokon.

Para  penghuni  Gunung  Lokon  begitu  kagum kepada Pinontoan dan Ambilingan.  Selain baik, mereka berdua memiliki rasa tanggung jawab yang besar untuk kelangsungan hidup banyak orang, termasuk penghuni bumi dan segala makhluk yang ada di Gunung Lokon. Tidak hanya itu, Pinontoan juga merasa bertanggung jawab untuk melestarikan alam yang ada di Gunung Kasehe, Gunung Tatawiran, dan Gunung Empung. Ketiga gunung ini berdekatan dengan Gunung Lokon. Oleh karena  itu,   Pinontoan  menunjuk  tiga  orang  anaknya untuk menghuni ketiga gunung tersebut. Anak Pinontoan yang pertama ditugaskan menjaga Gunung Kasehe, anak kedua ditugaskan menjaga Gunung Tatawiran, dan anak ketiga  ditugaskan  menjaga  Gunung  Empung.  Dengan

 

hati yang sedih dan berat, Ambilingan merelakan ketiga anaknya untuk pergi menjaga ketiga gunung tersebut.

Keesokan harinya  ketiga anak Pinontoan dan Ambilingan berangkat menuju Gunung Kasehe, Tatawiran, dan Empung. Anak pertama Pinontoan akhirnya  dikenal oleh   penghuni   Gunung  Lokon   bernama   Tatawiran. Anak yang kedua, karena diberi  tugas menjaga Gunung Kasehe, dipanggil atau dikenal dengan nama Kasehe. Adapun anak yang ketiga, karena diberi tugas ke Gunung Empung, dikenal dan dipanggil Empung. Walaupun ketiga anak ini memiliki karakter  yang berbeda-beda, mereka tetap menjalankan tugas sesuai dengan prinsip yang diajarkan oleh orang tua mereka. Bertahun-tahun mereka menjalankan tugas di gunung masing-masing, keadaan gunung tetap terpelihara. Pinontoan dan Ambilingan merasa bahagia melihat hasil pekerjaan anak-anaknya. Ketiga gunung yang dijaga oleh anaknya semakin kokoh dan hijau jika dipandang dari kejauhan.

Gunung Lokon merasa senang karena gunung- gunung  kecil  yang  ada  di  dekatnya  bisa  dihuni  dan dirawat  oleh  anak-anak  Pinontoan  dan  Ambilingan. Jika tidak ada yang menghuni dan merawat maka kelestarian  gunung itu  dan kekokohannya tidak  dapat

 

bertahan lama. Sementara itu penghuni bumi yang ada di bawah gunung sangat mengharapkan kelestarian gunung-gunung tersebut. Ketika mereka mendengar bahwa  Gunung Tatawiran, Gunung Kasehe, dan Gunung Empung sudah ada penghuninya mereka sangat senang karena dari keempat gunung inilah mereka menggantungkan hidup mereka.

Kelestarian gunung tentunya  akan menyimpan sumber mata air dan sumber makanan. Hal inilah yang sangat   dibutuhkan    oleh   penghuni   bumi.   Penghuni bumi sangat berterima kasih kepada Pinontoan dan Ambilingan yang sudah mengatur semua ini. Berkat kebijaksanaan     mereka    terpeliharalah    kelestarian alam dan kehidupan umat manusia yang ada di bumi. Semenjak itu kehidupan Gunung Lokon, Tatawiran, Kasehe, dan Empung sangat rukun, harmonis, dan bahagia.  Kehidupan keempat gunung yang harmonis itu sangat dikagumi oleh gunung-gunung  lain yang ada di tanah Malesung atau Minahasa.

Semenjak puncak Gunung Lokon diambil dan ditambahkan   ke  Gunung  Kalabat,   gunung  itu   tidak pernah merasa marah atau jengkel. Gunung Lokon malah bersyukur   dapat  berbagi  dengan  gunung  yang  lain.

 

Begitu juga dengan penghuni Gunung Lokon. Mereka merasa bahagia bisa membantu Gunung Kalabat. Akhirnya, Gunung Lokon menjadi lebih rendah daripada Gunung Kalabat. Sekarang, puncak Gunung Lokon tidak ada lagi karena sering meletus dan menjadi rendah. Sebaliknya, Gunung Kalabat  sekarang ini menjadi gunung tertinggi di Minahasa.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *