Daftar Isi

 

 

Kata Pengantar………………………………………….. iii Sekapur Sirih …………………………………………….. vi Daftar Isi …………………………………………………. viii

  1. 1. Ikan Duyung Yang Terdampar …………………. 1

 

  1. 2. Karupet Anak Ikan Duyung …………………….. 7

 

  1. 3. Karupet Jatuh Cinta ……………………………… 14

 

  1. 4. Terhempas Ombak ………………………………… 25

 

  1. 5. Karupet dan Ajolo Membangun

 

Kehidupan Baru ……………………………………. 31

 

  1. 6. Meles Berubah Jadi Batu ……………………….. 38

 

Biodata Penulis …………………………………………. 53

 

Biodata Penyunting ……………………………………. 55

 

Biodata Ilustrator ……………………………………… 56

 

 

 

  1. 1. Ikan Duyung yang Terdampar

 

 

Konon, dikisahkan hidup seekor ikan duyung yang terdampar di Amza, wilayah Sorong, Papua Barat. Masyarakat Sorong menyebut ikan  duyung itu  dengan sebutan karupet.

Wilayah Amza, Sorong, Papua Barat terkenal dengan lautnya yang sangat indah dan bersih. Berbagai jenis ikan ada di wilayah ini, mulai dari ikan hias sampai dengan ikan-ikan yang dapat dikonsumsi manusia.

Pada suatu hari,  ikan duyung betina  yang sedang hamil terdampar  di pinggir  pantai  dekat permukiman warga. Ikan duyung yang sedang hamil itu pun diselamatkan oleh warga yang bernama Samawa. Samawa  adalah  seorang  janda  tua  yang  hidupnya hanya mengandalkan hasil laut.  Samawa bekerja membantu para nelayan menjualkan ikan-ikan hasil tangkapannya.  Suami Samawa telah  lama meninggal dunia karena sakit lepra. Samawa dan almarhum suaminya tidak memiliki keturunan.

 

 

Pagi itu,  ketika Samawa berangkat ke tempat penampungan ikan, dari kejauhan Samawa melihat seekor ikan duyung terdampar  di pinggir pantai. Kemudian, Samawa mendekati ikan tersebut. Tiba-tiba terdengar rintihan ikan duyung itu.

“Tolong aku!”  rintih si ikan duyung itu.

 

Samawa mengundurkan langkahnya. Ia tercengang karena ikan itu dapat berbicara.

“Tolong aku!”  suara itu kembali terdengar. Dengan  rasa  takut,   Samawa memberanikan  diri

untuk  bertanya  kepada ikan itu.  “Siapa  kau? Sedang apa kau di sini?” tanya Samawa dengan dilimputi rasa penasaran.

“Jangan  takut! Aku ikan duyung yang terdampar di pulau ini,”  jawab si ikan duyung itu. “Tolonglah  aku. Aku tidak berdaya, sebentar lagi aku akan melahirkan,” lanjut  si ikan duyung itu.

“Baiklah!” Samawa lalu mendekati ikan duyung itu. Ikan         duyung    itu            sedang    merasa            kesakitan, tubuhnya sedikit terluka  karena terkena batu karang. Perutnya  yang besar  membuat  ikan duyung terseok- seok dan sulit bergerak. Karena rasa kasihan, Samawa

 

 

ikan duyung itu pada sebuah kolam besar yang ada di samping rumahnya. Tidak beberapa lama kemudian, si ikan duyung itu merasakan perutnya sakit. Sepertinya, ikan duyung itu akan segera melahirkan.

Melihat kondisi  ikan duyung, Samawa mengambil beberapa perlengkapan dan obat-obatan untuk membantu ikan duyung melahirkan. Dengan peralatan yang seadanya, Samawa membantu  ikan duyung itu. Akhirnya,  bayi ikan duyung itu  lahir  dengan selamat. Terdengar jerit suara tangis bayi ikan duyung.

“Anakmu  sudah lahir!” seru Samawa pada ikan duyung tersebut.

“Syukurlah, terima kasih,” ucap ikan duyung itu kepada Samawa.

“Lihatlah!   Anakmu    sungguh    ajaib.    Anakmu lahir  dalam sesosok manusia yang sehat.” Samawa menerangkan keadaan bayi ikan duyung tersebut.

Si ikan duyung melihat anaknya dengan penuh gembira.  Tidak lama kemudian,  Samawa memberikan anak ikan duyung itu kepada induknya.

 

 

berbadan seperti manusia meskipun hampir seluruh tubuh bayi laki-laki itu bersisik seperti ikan. Bayi itu kemudian didekapnya.

Dipandanginya bayi itu dengan penuh kasih sayang. Namun sayang, keberadaan ibu dan anaknya ini tidak akan berlangsung lama karena ikan duyung itu harus kembali ke laut. Dengan berat hati, induk ikan duyung menitipkan buah hatinya kepada Samawa.

”Ibu Samawa, aku akan titipkan buah hatiku kepadamu. Tolong jaga dan bimbing dia menjadi anak yang baik.”

“Kau    akan    pergi    ke   mana?”    tanya            Samawa.

 

”Tinggallah  bersama kami!”

 

“Aku  harus  kembali  ke asalku.  Laut  adalah tempatku  untuk hidup. Aku tidak  akan bertahan  lama berada di daratan.  Tubuhku akan lemah dan akan mati secara berlahan-lahan,” kata si ikan duyung itu.

“Baiklah  jika itu yang terbaik  untuk hidupmu. Aku akan  merawat  anakmu  dengan  senang  hati. Tuhan telah mendengarkan doaku agar aku diberikan  teman

 

 

hidup.  Anakmu akan menjadi  teman  hidupku  di  usia senjaku ini,”  seru Samawa dengan mata berkaca-kaca.

Kemudian, si ikan duyung itu memeluk anaknya untuk terakhir kalinya. “Oh anakku, kau telah lahir  di dunia ini.  Maafkan ibumu  yang  tidak bisa  menjagamu dengan baik. Ibu  harus pergi kembali ke habitat Ibu, Nak. Jadilah anak yang baik, hormati dan berbaktilah kepada Ibu  Samawa,”  pesan ikan duyung itu  kepada anaknya. Lalu, diberikannya  bayi itu kepada Samawa.

Tidak  lama  kemudian  sang ikan  duyung  itu  pun pergi kembali ke habitat asalnya. Ia menyeburkan dirinya  ke laut dan tak lama kemudian menghilang tergulung  ombak.

Hari  terus   berlalu,   bayi   ikan   duyung   tumbuh menjadi bayi yang lucu. Bayi itu  diberi  nama Karupet seperti nama ibunya.

 

 

 

 

 

  1. 2. Karupet Anak

Ikan  Duyung

 

 

 

 

Seiring  berjalannya  waktu,  Karupet  tumbuh menjadi anak yang sehat meskipun kulitnya  bersisik seperti ikan. Ibu Samawa sering mengajarkan Karupet untuk selalu menjaga laut. Salah satunya adalah untuk tidak membuang sampah di laut dan tidak menangkap ikan dengan cara menyebarkan racun atau bahan peledak.

Di usianya yang masih anak-anak, Karupet  sudah berjuang membantu Samawa untuk berjualan di pasar. Karupet  juga suka ikut  menjala ikan di laut  bersama para nelayan yang lain.

Karena kulitnya yang bersisik, banyak teman Karupet   yang  enggan  bermain   dengannya.   Begitu juga dengan orang-orang  yang ada di Amza, mereka enggan untuk mendekati Karupet. Namun, itu tidak menjadikan Karupet rendah diri.

 

 

Terjadilah  peristiwa   yang  membuat  Karupet menjadi sangat bersedih. Ketika Karupet sedang berjalan, ia melihat segerombolan anak-anak sedang memburu seekor ular  yang  sedang melintas. Melihat hal itu, Karupet langsung menghalangi anak-anak itu untuk membunuh ular tersebut.

“Jangan!  Hentikan itu!” teriak  Karupet dari kejauhan.

Seketika segerombolan anak itu menghentikan tingkahnya dan mencari sumber suara itu.

“Oh,  rupanya dirimu,” kata  salah satu anak tersebut.

“Mengapa kau menghentikan kami memburu ular tersebut?  Lihatlah ular itu kini sudah kabur gara-gara mendengar teriakanmu  itu,” kata  seorang anak yang lain dengan nada yang sangat kesal.

“Maafkan jika tindakanku tidak berkenan. Aku menghentikan  kalian  karena  kalian  salah  telah memburu  ular  tersebut.  Ular itu  tidak  mengganggu kalian ‘kan?  Mengapa harus diburu? Biarkan ular itu hidup. Selama tidak mengganggu kita, biarkan hewan-

 

 

hewan  itu   menikmati   hidupnya.   Kita   harus  saling menyayangi sesama ciptaan Tuhan,” kata Karupet.

“Wah,  wah, wah, rupanya anak ini banyak bicara seperti pendeta saja menceramahi kita.”

“Iya,  sebaiknya  anak  ini   kita   beri   pelajaran,” kata salah satu anak yang lain. Namun, Karupet tidak memedulikan ancaman tersebut.

“Sudahlah,  tidak  perlu  pedulikan  dia”  kata  anak yang  lain.  “Mungkin dia  sedang membela saudaranya itu yang sama-sama bersisik. Lihatlah kulitnya  yang bersisik itu.  Sama seperti  ular  tadi.  Jangan-jangan memang dia keturunan  ular,” seru salah satu anak itu sambil tertawa lebar.

Mendengar hal itu,  Karupet menjadi bersedih. Kemudian, Karupet meninggalkan anak-anak tersebut dan melanjutkan  perjalanan. Sepanjang perjalanan,  ia terus memikirkan perkataan anak-anak tadi tentang dirinya  yang memiliki  sisik, tidak  sama seperti  anak- anak yang  lain.  Mengapa ia dilahirkan seperti itu?

Semua pertanyaan  harus ia ketahui  jawabannya. “Hanya  Ibu  Samawa yang mungkin dapat  menjawab pertanyaanku,” pikir Karupet.

 

 

Sesampai di rumah, Karupet menanyakan keadaan tubuhnya  yang bersisik  kepada Ibu  Samawa dengan rasa sedih. “Mengapa kulit tubuhku bersisik seperti ini, Bu? Tidak seperti teman-temanku  yang lain sehingga teman-temanku tidak ingin bermain denganku,” kata Karupet.

“Oh, anakku sayang, kau memang terlahir dengan kulit   yang  tidak  sempurna.  Namun,  jangan  jadikan hal ini sebagai penghalang dirimu untuk terus maju. Sayangilah teman-temanmu meskipun mereka kini memusuhimu. Suatu saat mereka akan berbaik hati kepadamu,”  jawab Ibu  Samawa sambil membelai rambut Karupet dengan lembut.

Samawa tidak  ingin menutupi  jati diri  Karupet. Dengan segala pertimbangan,  Samawa memutuskan untuk menceritakan jati diri Karupet yang sebenarnya. Lalu, diceritakanlah bahwa Karupet dilahirkan  oleh seekor ikan duyung.

“Sebaiknya Ibu harus berterus terang kepadamu,” kata  Samawa. “Ibu tidak  ingin  menutupi  jati dirimu yang sebenarnya, Nak.”

 

 

“Katakanlah kepadaku, Ibu.  Apa yang selama ini Ibu  rahasiakan?  Siapakah diriku  sebenarnya?”  tanya Karupet dengan tegas.

“Tetapi, Ibu mohon kau jangan marah dan bersedih bila mendengar kenyataan ini. Berjanjilah pada ibumu!” lanjut  Samawa.

“Baiklah,  Bu. Aku berjanji  tidak akan bersedih ataupun menangis.”

“Aku   bukanlah   ibu  kandungmu.  Ibumu   adalah seekor ikan duyung.” Samawa menceritakan  hal itu dengan suara terbata-bata.

Karupet tercengang mendengar perkataan ibunya. “Bagaimana   bisa  seperti   itu?   Lanjutkan,   Ibu,   aku ingin mendengarkan dari mana asal usulku ini,”  seru Karupet.

“Ibumu adalah seekor ikan duyung yang aku temukan sedang terdampar di pinggir pantai. Saat itu, ibumu dalam keadaan hamil. Lalu, aku merawat ibumu hingga ibumu melahirkanmu. Namun, setelah itu ibumu harus kembali ke habitatnya. Oleh karena itu,  ibumu menitipkan dirimu kepadaku.”

 

 

Karupet meneteskan air mata mendengar kisah hidupnya. “Sekarang aku tahu mengapa kulit  tubuhku bersisik seperti  ini. Ternyata  aku adalah anak seekor ikan.”

Samawa  mencoba   menenangkan   hati  Karupet agar tidak  larut  dalam kesedihan. “Jangan  bersedih, kau akan selalu menjadi anakku yang paling tampan. Meskipun   tidak    melahirkan   dirimu,   aku   sangat

 

 

sudah seperti anakku sendiri,” seru Samawa.

 

“Ibumu  berpesan  agar  kau  menjadi  anak  yang baik  dan  berguna  bagi  masyarakat.  Selain  itu,  kau juga harus menjaga laut dan tidak boleh merusak laut tempat  tinggal  ibumu. Kau juga tidak  boleh memburu ikan duyung,”  lanjut  Samawa.

“Baiklah,  aku akan mengingat pesan ibuku,”  jawab

 

Karupet.

 

Samawa memeluk Karupet  dengan sangat erat menunjukan   kasih   sayangnya   yang   begitu   besar. Begitu pula sebaliknya, Karupet juga memeluk ibu Samawa dengan erat sambil mengucapkan kata terima kasih karena telah  menjaga dan merawatnya  selama ini.  Mereka pun  saling berpelukan.

Karupet sangat menyayangi Ibu Samawa. Baginya, Ibu Samawa adalah penolang dan pelindung hidupnya. Ia  berjanji  akan berbakti  dan menuruti  nasihat  dari Ibu  Samawa. Ia  berharap  kelak  ia  dapat  membalas budi kebaikan Ibu  Samawa karena telah  merawatnya selama ini.

 

 

 

  1. 3. Karupet

Jatuh Cinta

 

 

 

 

Menjelang   usia    dewasa,   Karupet  jatuh   cinta kepada  seorang  gadis  yang  bernama  Ajolo.   Ajolo adalah  anak seorang nelayan  yang kaya raya. Ajolo juga gadis yang manis. Kulitnya  hitam manis berpadu dengan alis tebal, rambut keriting, mata bulat, dan hidung mancung. Kecantikan perempuan ini sungguh menarik hati Karupet.

Karupet mulai mengenal Ajolo ketika ada acara pesta di sebuah desa. Biasanya, penduduk pulau ini selalu membuat suatu pesta untuk menyambut datangnya musim kemarau. Hal ini dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur dan doa untuk meminta berkah agar Dewi Laut memberikan ikan yang berlimpah buat penduduk Amza.  Ritual   itu   seperti   sebuah  pesta  kecil  yang diadakan di pinggir Pantai Amza.  Mereka menyiapkan makanan dan buah-buahan yang ditumpuk menyerupai tumpeng.  Mereka juga   menyediakan beberapa  ekor

 

 

kerbau untuk  dipotong  dan kemudian dibuang ke laut sebagai seserahan yang harus diberikan  kepada Dewi Laut. Malamnya diadakan pesta dengan menampilkan tari dan musik. Laki-laki dan perempuan akan saling bertemu. Mereka akan menari dan  bernyanyi bersama- sama. Sebagian orang memanfaatkan ajang tersebut untuk mencari jodoh.

Pada  saat  pesta  itu,   Karupet   memainkan  alat musik  khas  Papua yang  bernama tifa.  Karupet sangat pandai memainkan alat musik  tifa  sehingga penduduk Amza terhibur dengan alunan  musik tersebut. Laki- laki dan perempuan saling berpasangan berjoget riang mengikuti irama musik yang dimainkan oleh Karupet.

Sambil memainkan alat musik, Karupet melirik seorang gadis yang sedang menari riang bersama teman-temannya. Gadis itu bernama Ajolo. Karupet terpesona  dengan  kecantikan  wajah  gadis  itu.  Saat itu  getar asmara menyelimuti  dirinya.  Karupet  hanya dapat memandangi gadis itu dari kejauhan. Namun, setelah   acara  berlalu,   Karupet   memberanikan   diri untuk berkenalan dengan gadis itu.

 

 

“Bolehkah   saya  berkenalan   denganmu?”   tanya

 

Karupet kepada Ajolo. “Iya,” jawab Ajolo.

“Nama saya Karupet. Saya tinggal di sebelah utara dari desa ini.”

“Nama   saya  Ajolo.”   Ajolo   menyambut   juluran tangan Karupet yang ingin memperkenalkan diri. “Saya tinggal di desa ini,”  lanjut  Ajolo menerangkan.

Sejak pertemuan dengan gadis itu, Karupet menjadi berubah. Ia menjadi pendiam dan sering melamun. Ibu Samawa menjadi bingung melihat perubahan pada anaknya itu. Lalu, ia bertanya kepada Karupet.

“Apa gerangan yang membuatmu seperti ini, Nak?”

 

tanya Ibu Samawa.

 

“Aku  sedang  memikirkan  gadis  yang  aku  temui pada saat pesta semalam,” jawab Karupet.

“Gadis yang mana?”

 

“Gadis yang bernama Ajolo itu, Ibu.”

 

“Oh,   anak  saudagar   nelayan   yang  kaya  itu!” seru Samawa. “Apakah  kau berkenalan  dengannya?” lanjutnya.

“Iya, Ibu. Dia gadis yang cantik.”

 

 

“Sepertinya kaujatuh cinta padanya.” Karupet pun tersipu  malu ketika ibunya mengatahui isi hatinya.

“Oh, anakku sayang, bukan Ibu tidak suka jika kau mencintai gadis itu, Ibu hanya takut nanti kau akan kecewa. Dia anak orang kaya, sedangkan hidup kita sangat sederhana.”

Karupet   pun  sedih  mendengar   nasihat   ibunya itu.  Namun, ia juga sadar bahwa dirinya  tidak  pantas bersama gadis itu. Dia juga tidak yakin Ajolo akan menyukai dirinya  jika tahu kulit tubuh Karupet yang bersisik.

Pada   suatu   hari,    Ajolo   sedang   pulang   dari pasar. Di dalam perjalanan, Ajolo bertemu dengan sekelompok pemuda. Karena melihat kecantikan Ajolo, para pemuda tersebut  mencoba menggoda Ajolo yang sedang berjalan sendirian.  Terbesit pikiran jahat di benak mereka.

Ajolo begitu takut ketika para pemuda itu menghampiri dirinya.  Salah seorang dari pemuda tersebut merampas tas milik Ajolo. Ajolo kemudian berteriak meminta bantuan.

“Tolong,  tolong, tolong!” teriak Ajolo.

 

 

Tidak jauh dari tempat kejadian,  Karupet  sedang membawa ikan-ikan untuk dijual ke pasar. Karupet melihat Ajolo sedang mendapatkan kesulitan.  Karupet menghampiri mereka.

Karupet segera menolong Ajolo dari serbuan para pemuda tersebut. Karupet memiliki keahlian ilmu bela diri.  Para pemuda tersebut  akhirnya  lari kocar-kacir karena tidak sanggup melawan Karupet.

Ajolo pun mengucapkan terima kasih kepada Karupet. Berkat Karupet, Ajolo selamat dari para pemuda yang ingin berbuat jahat kepada dirinya.

Setelah kejadian itu, Karupet dan Ajolo sering bertemu dan berbincang-bincang. Gayung pun bersambut, ternyata Ajolo juga memiliki rasa yang sama dengan Karupet. Ajolo melihat Karupet sebagai pria yang berhati baik. Ajolo tidak  peduli dengan keadaan fisik Karupet. Akhirnya, keduanya pun  menjalin kasih.

Kemudian, Karupet menunjukkan keseriusannya dengan Ajolo. Karupet memberanikan diri datang ke rumah Ajolo untuk bermaksud meminang Ajolo.

 

 

“Aku  akan  datang  ke  rumahmu  untuk  bertemu kedua orang tuamu dan sekaligus meminang dirimu untuk menjadi istriku!” seru Karupet.

Betapa bahagianya Ajolo mendengar perkataan Karupet tersebut. “Baiklah,  aku akan menunggumu di rumah,”  ujarnya.

Tak  lama  kemudian,   Karupet   datang   bersama Ibu  Samawa bertandang  ke rumah orang tua Ajolo. Seperti kebiasaan tradisi  masyarakat Papua, mereka membawa buah tangan berupa pinang sebagai simbol kekeluargaan.

Sesampai di rumah orang tua Ajolo, Karupet  dan Ibu  Samawa menyampaikan  maksud  kedatangannya ke rumah tersebut. “Mohan maaf  jika kedatangan kami mengganggu Ibu  dan Bapak. Perkenalkan nama saya Karupet  dan ini  ibu  saya, Ibu  Samawa. Kedatangan saya kemari ingin meminang putri  Bapak dan Ibu yang bernama Ajolo. Saya dan Ajolo sudah lama berkenalan dan  kami  saling  jatuh cinta,”  kata  Karupet  dengan tegas dan percaya diri.

Kedua  orang   tua   Ajolo   saling   berpandangan, seperti ada rasa tidak suka dengan lamaran ini. Selama

 

 

Ajolo dan Karupet. Namun, hal itu tidak diindahkannya karena mereka menganggap bahwa hubungan mereka tidaklah  serius. Lalu, sang ayah membuat suatu karangan cerita  untuk  menolak lamaran dari Karupet tersebut.

“Mohon  maaf, Ibu  Samawa dan  Karupet, selama ini, Ajolo sudah kami tunangkan dengan anak saudara kami.  Oleh karena itu,  kami  mohon maaf tidak bisa menerima lamaran ini,”  kata ayah Ajolo.

Ajolo  kaget  mendengar  hal tersebut. Selama ini, Ajolo tidak pernah mengetahui rencana orang tuanya untuk menjodohkan dirinya dengan orang lain. Ajolo berfirasat bahwa ini adalah akal-akalan orang tuanya untuk menolak lamaran Karupet.

Kedatangan  Karupet  tidak  disambut  dengan dengan baik oleh orang tua Ajolo. Orang tua Ajolo sepertinya sudah mengetahui rencana kedatangan Karupet  ke rumah mereka. Buah pinang yang dibawa oleh Karupet  tidak  disentuhnya  oleh orang tua Ajolo. Itu menandakan bahwa kedatangan mereka tidak diinginkan.

 

 

dengan rasa kecewa dan patah  hati atas lamarannya yang ditolak.  Ibu  Samawa pun membesarkan hati Karupet untuk tidak bersedih.

“Kau harus kuat, Nak. Jangan terlalu  bersedih dengan kejadian  ini.  Semoga kalian  diberikan  jalan keluar untuk menyelesaikan persoalan ini.”

“Baik, Ibu!  Saya tidak akan larut  dalam kesedihan ini,”  janji Karupet kepada Ibu Samawa.

Percintaan  mereka  ternyata tidak  direstui   oleh orang tua Ajolo. Orang tua Ajolo sangat tidak  setuju jika  putrinya  menikah  dengan  Karupet   karena  ibu Karupet   seekor  ikan  duyung.   “Orang   tuaku   tidak merestui hubungan kita,” seru Ajolo sambil menangis. “Saya             paham    mengapa              orang          tuamu    tidak mengizinkan  kita  bersama. Saya adalah  anak seekor ikan duyung. Orang tuamu akan malu memiliki menantu seperti saya ini. Sudah jangan menangis,” seru Karupet. “Semua terserah  padamu. Aku tidak  akan marah jika kau menuruti  orang tuamu. Berbaktilah  kepada orang tuamu.  Kita  tetap  akan menjadi  teman  selamanya,”

sambung Karupet.

 

 

kepadamu. Aku tidak peduli dari mana asalmu ataupun fisikmu  yang  tidak sempurna. Yang  kutahu kau  laki- laki yang baik dan penuh kasih sayang. Aku akan ikut dirimu ke mana pun kau pergi.”

“Apakah  kau serius dengan yang kauucapkan itu? Apakah nanti  kau tak menyesal dengan keputusanmu itu?”

“Tidak.  Keputusanku telah bulat.”

 

“Baiklah, jika itu sudah menjadi keputusanmu. Kita akan pergi dari desa ini.”

Karupet  berpamitan  kepada Ibu  Samawa dan menceritakan  niatnya  meninggalkan desa ini bersama Ajolo. Ibu  Samawa terkejut dengan rencana anaknya itu.  Namun, Ibu  Samawa sangat sayang terhadap anaknya sehingga merestui  keputusan anaknya untuk pergi. Meskipun berat hati karena harus berpisah, Ibu Samawa ingin melihat anaknya bahagia. Ibu  Samawa hanya   menasihati   anaknya   untuk   selalu   menjaga dirinya dan Ajolo.

Karupet  dan Ajolo  pun pergi  meninggalkan  desa

 

itu.  Mereka pergi ketika orang-orang  sudah tertidur

 

 

oleh Karupet.

 

Keesokan paginya, orang tua Ajolo mendapati sebuah surat yang ditinggalkan  Ajolo. Dalam surat tersebut dinyatakan tentang kepergiannya bersama Karupet.

Setelah membaca surat tersebut, orang tua Ajolo menangis tidak  henti-hentinya karena anak gadisnya meninggalkan rumah pergi bersama Karupet. Mereka pun menyesal karena telah menentang hubungan Ajolo dengan Karupet sehingga anaknya harus pergi dari rumah. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Anaknya sudah terlanjur melarikan diri bersama Karupet. Orang tuanya kini hanya bisa bersedih dan berdoa agar kelak Ajolo dapat kembali ke pangkuan mereka.

 

 

 

 

 

 

  1. 4. Terhempas Ombak

 

 

 

Dalam pengembarannya, Karupet dan Ajolo banyak menemui rintangan. Mereka terdampar dari  satu pulau ke pulau yang lain. Alam Papua Barat memang banyak dikelilingi   pulau.  Perahu  menjadi  alat  transportasi satu-satunya untuk melakukan perjalanan.

Perahu cadik yang dibuat oleh Karupet ternyata tidak mampu melawan kekuatan ombak yang menerjang hingga terjadilah bencana itu. Perahu yang ditumpangi Karupet dan Ajolo terhempas  ombak.

Ini pertama  kalinya  Ajolo  melakukan  perjalanan dengan perahu. Ia menjadi mual dan mabuk. Ajolo merasa takut  dengan terjangan  ombak yang besar.

“Aku sangat takut, Karupet,” kata Ajolo. “Aku mau muntah,” lanjut  Ajolo.

“Kau  mabuk!”  kata  Karupet.  “Ada  minyak gosok di dalam nokenku, ambillah!   Gosoklah ke perutmu, mudah-mudahan mualmu akan hilang.”

“Baiklah.”

 

 

Ajolo  kemudian  mengambil  minyak  yang ditunjukkan   oleh   Karupet.    Saat   ingin   mengambil minyak tersebut, terdengar teriakan  Ajolo yang memecah langit. Tiba-tiba  ombak menghantam perahu mereka. Dengan seketika perahu yang digunakan mereka terbalik. Perahu itu hancur berkeping-keping akibat  terjangan   ombak  yang  begitu   kuat.   Ombak telah menggulung mereka. Tak lama kemudian, suara Karupet terdengar memanggil-manggil Ajolo. Saat itu, Karupet berpegangan pada serpihan kayu dari bagian kayu yang telah hancur.

“Ajolo, di mana kau?” seru Karupet. Ajolo tidak tampak di antara lautan itu.

“Ajolo, di mana kau? Oh, Ajolo jangan mati. Jangan tinggalkan  aku.” Karupet  terus  memangil-manggil nama kekasihnya sambil bersedih. Namun, tak juga terdengar jawaban dari Ajolo.

Karupet   terus   berenang   menyusuri   laut   yang tak  bertepi   ini.  Semua barang  yang  ada  di  perahu hanyut   terbawa   ombak.   Karupet   mengira   bahwa Ajolo  telah  meninggal  dunia  karena  terseret ombak

 

 

atau tenggelam. Karupet  tahu bahwa Ajolo tidak  bisa berenang.

Ternyata dugaan Karupet salah. Ajolo yang sedang tidak  sadarkan diri  ditolong  oleh seekor ikan duyung. Pada saat itu ada seekor ikan duyung sedang melintas. Kemudian, ikan duyung itu menghampiri Alojo dan menolongnya. Dengan susah payah ikan duyung itu berusaha membawa Ajolo ke tepian pantai.

Setelah berhasil  membawa Ajolo  ke tepi  pantai, ikan duyung itu pun pergi dan kembali ke laut. Ikan duyung itu adalah ibunda Karupet.

Karupet  berhasil berenang sampai ke tepi pantai. Ia   pun   mengucapkan   rasa   syukur   karena   Tuhan masih melindungi dirinya  dari bencana itu. Karupet merebahkan dirinya  di dekat  pohon kelapa yang ada di pinggir pantai untuk menghilangkan rasa lelahnya karena telah berenang berhari-hari.

Karena rasa lelah yang berkepanjangan, Karupet pun tertidur. Dalam tidurnya itu, Karupet bermimpi bertemu dengan kekasihnya, Ajolo.

Ajolo sedang melambaikan tangannya meminta pertolongan  kepadanya. Kapupet pun berusaha untuk

 

 

menolongnya.   Namun,   Ajolo   tiba-tiba  lenyap   dari hadapannya. Ajolo terhentak dan bangun dari tidurnya. “Oh, ternyata aku bermimpi,” seru Karupet dalam

hati.

 

Karupet tidak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang. Kemudian, ia pun berjalan menyusuri pantai sambil memikirkan yang akan dilakukannya sekarang.

Dari  kejauhan,  Karupet   melihat   sesuatu  benda yang sangat besar. Ia pun menghampiri benda tersebut dan ternyata itu  adalah manusia. Lalu, saat Karupet melihatnya,  ia sangat terkejut. Ternyata,  yang ia lihat tadi adalah Ajolo, kekasihnya yang terpisah.

“Ajolo, Ajolo,  bangunlah!  Ini aku Karupet.” Karupet terus mengoyang-goyangkan tubuh Ajolo. Namun, Ajolo tetap bergeming. Kemudian, Karupet duduk lemas memandangi wajah kekasihnya itu. Ia begitu sedih dan tidak terasa air matanya pun menetes di wajah Ajolo yang tidak berdaya itu.

Saat Karupet membalikkan badannya, tiba-tiba terdengar  suara  rintihan.  Ajolo  ternyata  sadarkan diri. Betapa bahagianya Karupet melihat Ajolo telah siuman. Dipeluknya tubuh kekasihnya itu.

 

 

“Oh, syukurlah kauselamat,” seru Karupet.

 

“Iya, kau juga. Aku telah  diselamatkan  oleh ikan duyung  yang  membawaku  ke  tepi  pantai  ini,”   seru Ajolo. “Mungkin jika ikan itu tidak menyelamatkan aku, aku pasti sudah tiada,” lanjut  Ajolo.

Karupet pun jadi teringat akan ibunya yang merupakan seekor ikan duyung. Dalam hati ia berkata, “Terima  kasih, Ibu,  telah membantu kami.”

Lalu, mereka mengucapkan rasa syukur dan terima kasih kepada Tuhan karena telah menyelamatkan mereka dan mempertemukan mereka kembali.

Karupet dan  Ajolo pun  menikah. Mereka akhirnya memutuskan menetap di pulau itu.  Pulau itu bernama Pulau Waigeo. Salah satu pulau yang ada di Papua Barat.

 

 

 

 

 

  1. 5. Karupet dan Ajolo Membangun Kehidupan Baru

 

 

Pulau  Waigeo  merupakan   wilayah   pegunungan yang tinggi  dan luas di atas permukaan laut.  Pulau ini sangat  gersang dan tandus,  tidak  ada tanaman  apa- apa di pulau itu.  Kondisinya yang gundul sangat tidak memungkinkan untuk dihuni manusia.

Karupet dan Ajolo mencoba membangun kehidupan baru   di  wilayah   tandus   ini.   Dengan  rasa   sayang, Karupet  berusaha untuk  menyenangkan hati  istrinya. Ia  membuat gubuk kecil untuk  berteduh  agar istri  itu terhindar dari panas dan hujan.  Setiap hari  Karupet pergi turun  gunung untuk mengambil air. Karupet juga menanam beberapa tumbuhan yang bisa ditanam di daerah tandus, seperti keladi, ubi jalar, dan kacang- kacangan.

Sudah hampir lima tahun pernikahan mereka, istri Karupet, Ajolo, belum hamil jua. Namun, Karupet tetap sayang kepada istrinya tersebut. Ajolo adalah seorang istri  yang baik. Pagi-pagi buta, ketika matahari belum

 

 

terbit, Ajolo sudah sibuk di dapur untuk memasak ubi atau keladi. Tidak lupa, Ajolo mengeluarkan hewan- hewan peliharaannya,  seperti babi dan ayam untuk diberinya makan. Seperti kebiasaan perempuan- perempuan  Papua,  Ajolo  juga  melakukan  pekerjaan di ladang untuk membantu suaminya membersihkan ladang.

Karupet dan Ajolo setiap hari menghabiskan waktunya di ladang untuk menanam umbi-umbian, seperti ubi jalar. Wen yawu istilah untuk kebun ubi jalar yang terletak di lereng gunung. Selain itu, Karupet juga memangkur sagu untuk memenuhi kebutuhan makan mereka. Setelah memangkur sagu, Karupet menyadap air nira dengan bambu untuk dibuat tuak.

Pada suatu hari menjelang sore, Karupet  terkejut mendapati bambu yang digunakan untuk menyadap air nira telah kosong. “Siapa yang mengambil air niraku?” Karupet bertanya kepada diri  sendiri. “Mungkinkah istriku?  Namun,  tidaklah  mungkin  istriku  mengambil air nira tanpa seizinku. Pasti ini ada pencuri,” pikirnya. Kalau begitu, aku harus tahu siapa yang mencuri air niraku ini. Pada malam hari, Karupet duduk di pelepah

 

 

daun kelapa untuk menangkap pencuri air niranya. Hingga larut  malam si pencuri belum menampakkan batang hidungnya. Hal ini membuat Karupet kesal dan tak lama kemudian, Karupet  tertidur di bawah pohon kelapa tersebut.

Menjelang datangnya  pagi, Karupet dikagetkan oleh sesosok makhluk yang bersinar  terang  yang mendekati pohon kelapa tempat Karupet menunggu. Tidak lama kemudian, sesosok makhluk tersebut meminum air nira milik Karupet.

Kemudian, Karupet bergerak cepat untuk menangkap mahluk tersebut.  “Siapa engkau?” seru Karupet.

“Aku  Sampan si binatang  pagi,”  jawab makhluk tersebut.  “Lepaskan   aku  karena   matahari  hampir terbit,” pinta  si Sampan. Namun, Karupet  tidak  ingin segera melepaskan binatang tersebut.

“Mengapa kau  meminum nira   yang   susah payah

 

aku kumpulkan?” tanya Karupet.

 

Si Sampan memohon maaf karena telah meminum air  nira   Karupet.   Untuk   mengganti   air  nira   milik Karupet, si Sampan memberikan ramuan ajaib.

 

 

membuat istrimu  cepat hamil dan mendapatkan keturunan.” Karupet pun mengambil ramuan tersebut. “Semoga kalian segera diberikan keturunan,” seru Sampan. Tak lama kemudian, binatang Sampan lenyap terbang entah ke mana.

Setelah Ajolo meminum ramuan dari binatang Sampan tersebut, tidak  lama kemudian, Ajolo mengandung buah hati cintanya dengan Karupet. Karupet begitu bahagia menantikan kelahiran anaknya. Namun, perasaan cemas menghantui Karupet. Ia takut anaknya akan seperti dirinya yang memiliki sisik.

Saat kelahiran pun tiba. Dalam tradisi masyarakat Sorong,   Papua Barat, proses melahirkan dilakukan dengan cara membelah perut dengan menggunakan benda tajam. Setelah bayinya lahir,  perut sang ibu dioleskan ramuan obat-obatan yang terbuat dari beberapa tumbuhan yang ada di Papua Barat. Karupet pun pergi untuk mencari benda tajam itu dan dedaunan untuk proses kelahiran istrinya. Ketika sedang sibuk mencari  benda   tajam,   ia   mendengar   suara-suara aneh dari belakang  tubuhnya.  Alangkah  terkejutnya

 

 

Karupet ketika ia melihat seekor buaya raksasa berada di hadapannya. Ia sangat ketakutan  dan hampir pingsan.  Buaya raksasa itu  pelan-pelan  bergerak  ke arah Karupet.

Namun, saat Karupet hendak melarikan diri, buaya itu menyapanya dengan ramah dan bertanya apa yang sedang ia lakukan.

“Jangan takut!” seru sang buaya. “Siapa kau?” tanya Karupet.

Karupet  pun  terheran  dengan  sosok buaya tersebut. Ia bisa berbicara seperti manusia.

“Aku   penunggu  hutan   ini,”   jawab  sang  buaya. “Apa yang kau cari dalam hutan selebat ini?” tanya buaya lagi.

Karena keramahan sang buaya tersebut, Karupet akhirnya  menceritakan  apa  yang  sedang ia  lakukan dan juga tentang istrinya yang akan melahirkan.

“Istriku akan melahirkan,  aku harus mencari ramuan   obat-obatan  yang  akan  membantu   istriku dalam proses melahirkan.”

Buaya ajaib itu  pun berkata  bahwa ia akan menolong istri  Karupet untuk melahirkan.

“Aku akan membantu istrimu  melahirkan.”

 

 

Karupet sempat tidak percaya dengan apa yang dikatakan sang buaya.

“Apa sang buaya bisa membantu seseorang melahirkan? Itu mustahil,” kata Karupet.

“Percayalah  padaku, aku dapat membantu istrimu melahirkan. Aku adalah seekor buaya ajaib.” Sang buaya itu menjelaskan.

“Sekarang  pulanglah!  Aku  akan  menyusulmu nanti,” pinta sang buaya.

Kemudian,    Karupet    pulang    dan            menceritakan semua kejadian  saat  bertemu  dengan  seekor  buaya ajaib. Ajolo menjadi takut  mendengar cerita suaminya itu.   Malam   itu,   seperti yang   dijanjikan, buaya ajaib itu  pun memasuki rumah Karupet.  Dengan kekuatan ajaibnya,            buaya      itu   menolong  Ajolo            melahirkan. Kemudian, seorang bayi laki-laki  lahir dengan selamat. “Terima  kasih atas bantuan  Tuan,”  kata Karupet ketika mengetahui anaknya telah lahir dengan selamat. Sang buaya  pun  berkata,   “Kelak  anakmu  akan tumbuh  menjadi  pemuda  yang  hebat  dan  pemburu yang    andal.”      Sang      buaya            pun  berpesan   kepada Karupet.  “Aku  hanya  berpesan  kepada kalian  untuk tidak   membunuh  ataupun   memakan  daging  buaya.

 

 

Apabila kalian langgar, keluarga kalian akan mendapat bencana.”

“Baiklah,  Tuanku. Hamba akan ingat  pesan yang

 

Tuan berikan,” jawab Karupet.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. 6. Meles Berubah

Jadi Batu

 

 

 

 

Waktu terus berlalu, Karupet dan istrinya bersama anaknya hidup berbahagia. Anak mereka yang diberi nama Meles.  Karupet sangat bahagia, anaknya tidak seperti dirinya yang  memiliki  tubuh bersisik. Meles menjadi anak yang tumbuh sehat. Setelah remaja ia sering diajak ayahnya berburu di hutan. Diam-diam Males memiliki ketrampilan berburu yang andal. Setiap kali berburu, Meles  selalu mendapatkan binatang buruannya.

Pada suatu saat, Meles meminta izin kepada orang tuanya pergi ke hutan untuk berburu hewan. Saat berpamitan,  sang ibu merasakan suatu hal yang aneh, tidak  seperti  biasanya. Saat itu,  ibunya merasa berat melepaskan anaknya  untuk  pergi  berburu.  Saat  itu, Ajolo  melarang Meles   untuk berburu, tetapi  hal  itu tidak diindahkannya. Meles  tetap pergi berburu.

 

 

“Ibu, izinkan  aku pergi  ke hutan  untuk  berburu. Semoga hari ini  aku mendapatkan  hasil buruan  yang banyak,” kata Meles.

“Oh,   Nak,   Ibu   sepertinya  memiliki  firasat yang buruk  hari  ini.  Bisakah  hari ini  kau  tidak  pergi  ke hutan?” kata Ajolo sambil mengelus-eluskan kepala anaknya.

“Oh,  tidak, Ibu. Itu firasat Ibu  saja. Tenanglah, Ibu. Aku akan baik-baik saja.” Males  menyakinkan Ibunya  agar tidak cemas sambil tersenyum.

“Mengapa kau  tidak mendengar perkataan ibumu

 

ini? Ibu ingin kau tidak pergi,” pinta Ajolo.

 

“Maafkan aku, Ibu, tetapi  aku harus pergi. Aku sudah berjanji pada ayah untuk mendapatkan seekor kelinci hari ini.”

“Baiklah kalau begitu. Ibu tidak akan melarangmu pergi. Namun, kau harus menjaga dirimu baik-baik dan segeralah pulang.”

Meles  pun  berangkat pergi berburu dengan membawa alat buruannya. Ia berjalan dengan riang gembira  sambil  mengkhayalkan  seekor  kelinci  yang nanti  akan ia  tangkap.  Ibunya  pun  sedikit  memberi

 

 

bekal  makanan untuk Meles  agar dia  tidak kelaparan

 

di dalam hutan.

 

Tak   lama   kemudian  sampailah  Meles   di  dalam hutan. Sudah berjam-jam Meles  menunggu hewan buruannya melintas,  tetapi  tidak  ada satu pun hewan yang melintas  ataupun  yang tampak  di hadapannya. Hal ini membuat Meles  menjadi sangat kesal.

Hari pun menjelang sore, matahari meredupkan sinarnya, senja sebentar lagi akan tiba. Meles  pun segera pulang dengan tangan hampa. Dalam perjalan pulang, ia melintasi sebuah sungai yang  beriak. Meles memutuskan untuk beristirahat sejenak dan mencuci muka sekadar untuk mendingkan wajahnya dengan air yang  jernih dan  segar. Ketika  Meles  sedang membasuh mukanya, tampak dari kejauhan ia melihat sepasang buaya yang sedang bercengkrama. Ada niat yang tidak baik  yang  melintas di kepala Meles.  Meles  tidak ingin pulang dengan tangan yang kosong.

“Wah, ada dua ekor buaya di sana. Aku ingin mencoba  keberuntungannku   untuk   memburu  buaya itu,” kata Meles  berbicara sendiri. “Jika  aku  berhasil,

 

 

ayah  pasti  akan  senang  melihat                                                         anaknya  berhasil memburu buaya itu.”

Kemudian, Meles  mengambil anak panah  dari punggungnya. Ia pun melepaskan anak panah yang beracun itu dan mengenai buaya betina yang ada di sungai tersebut.

Sang buaya yang terkena  panah itu  pun meronta kesakitan.  Tidak lama kemudian, matilah  sang buaya betina itu.  Kematian buaya betina itu membuat buaya jantan menjadi murka.

“Ahk, ahk, ahk.” Jeritan suara buaya betina melingking menahan rasa sakit terkena panah beracun milik Meles.

“Oh, istriku,” kata sang buaya jantan.  “Apa  yang terjadi pada dirimu?” Sang buaya jantan  melihat punggung istrinya tertusuk sebuah panah. “Siapa gerangan yang melakukan ini?”

“Suamiku,  aku  sudah  tidak  kuat  lagi.  Aku  akan pergi dari dunia ini. Racun ini telah membunuhku. Jaga dirimu baik-baik,” kata buaya betina kepada suaminya. Tak lama kemudian, buaya betina itu pun mati. Buaya jantan  marah   tidak   terkendali.  Kemarahan   buaya

 

 

jantan itu membuat seisi hutan menjadi ketakutan. Burung-burung  beterbangan ke sana kemari, seperti menandakan bahwa akan ada bencana besar.

“Aku akan mencari tahu siapa yang tega melakukan ini kepada istriku,” kata buaya jantan. Dari kejauhan, buaya jantan melihat  sosok  Meles  sedang memegang panah.

“Rupanya dia yang telah membunuh istriku. Aku akan membuat perhitungan kepadanya.” Dengan geramnya sang buaya jantan hilang di antara derasnya arus sungai.

Meles  merasa ketakutan, ia  pun  langsung berlari pulang. Ia merasa bersalah dan menyesal telah membunuh buaya itu.  Sesampainya di rumah Meles langsung mengurung diri di kamar. Ia tidak mau makan dan minum. Karupet dan  Ajolo merasa heran melihat tingkah laku anaknya.

“Ada apa dengan dirimu, Nak?” tanya Ajolo. “Mengapa sepulangnya berburu kau  jadi  seperti ini? Tidak mau makan. Kau seperti ketakutan.  Ceritakanlah kepada Ibu. Apa yang telah kau alami.”

 

 

Meles  pun  langsung memeluk ibunya dan menceritakan apa yang telah ia lakukan. Ia merasa ketakutan dan bersalah dengan apa yang telah ia lakukan pada buaya itu.

“Aku telah membunuh seekor buaya di sungai, Ibu,” kata Meles  dengan raut wajah yang  penuh ketakutan. “Di  sana ada dua ekor buaya. Aku telah  membunuh salah satu  dari  buaya  itu.  Buaya yang satunya  lagi

 

 

 

 

 

 

begitu   marah   kepadaku.   Buaya  itu   mengeluarkan suara yang sangat menakutkan. Ibu, Ayah, aku sangat takut,” lanjut Meles.

Ayah dan ibunya terkejut mendengar cerita itu. Mereka teringat pesan yang  pernah disampaikan oleh buaya ajaib itu. Selama ini, ayahnya selalu menasihati warga sekitarnya  untuk  tidak  membunuh buaya yang ada di Sungai Warsamsung  itu.  Akan tetapi, aturan yang selama ini ia jaga, justru  anaknyalah yang telah melanggar aturan  itu.

“Meles, mengapa kaulakukan itu?” tanya sang ayah. “Bukankah aku telah berpesan untuk tidak memburu buaya ataupun binatang  yang ada di sungai itu?” Ayahnya menunjukkan kemarahannya kepada Meles.

“Maafkan aku, Ayah, aku khilaf melakukannya. Aku menyesal, Ayah. Tolong maafkan aku.” Meles  memeluk ayahnya sambil menangis.

“Tadi  pagi Ibu  sudah melarang  kau untuk  pergi karena punya firasat  yang   tidak baik.  Mengapa kau tidak mau mendengarkan perkataan ibumu?” sesal ibunya.

 

 

”Iya, Ibu.  Aku menyesal tidak  menuruti  nasihat

 

Ibu. Tolong ampuni aku.”

 

“Kita  akan celaka. Buaya itu akan membalas dendam kepada kita,” kata Karupet.

Karupet begitu marah kepada Meles,  sedangkan Ajolo hanya bisa menangis. Bersamaan dengan itu, muncullah angin kencang mengitari rumah Karupet. Mereka terkejut  dan   berpikir bahwa ini  tanda tidak baik.  Angin  itu  semakin  bertambah  kencang.  Tiba- tiba  berdirilah  sesosok makhluk  yang  tinggi   besar. Dia adalah jelmaan buaya ajaib yang dulu pernah membantu kelahiran Meles.  Buaya  itu datang untuk memberikan pelajaran  kepada  Meles   atas apa yang telah ia lakukan terhadap istrinya.

“Hai,  kau Karupet. Tahukah kau? Anakmu telah membunuh istriku.”

“Iya, Tuan Buaya. Hamba baru tahu jika anak hamba  telah   melakukan  kesalahan.  Tolong  ampuni anak hamba. Hamba mohon!”  pinta  Karupet  kepada sang buaya ajaib itu.

 

 

“Bukankah aku pernah berpesan kepadamu untuk tidak memburu binatang yang  ada di sungai. Mengapa sekarang anakmu melakukannya?”

“Mohon  ampun, Tuan. Hamba yang  salah karena

 

tidak mendidik anak hamba dengan baik.”

 

“Semua perbuatan anakmu itu harus dipertangungjawabkan. Sebagai gantinya, Meles harus aku bawa untuk mengabdi kepada kerajaan buaya yang ada di Sungai Warsamsung.”

“Jangan, Tuan. Jangan bawa anak hamba. Biarkan hamba yang akan menggantikan hukumannya. Bawalah hamba sebagai gantinya.”  Karupet  memohon kepada buaya ajaib itu sambil berlutut memohon ampun.

“Tidak,” jawab sang buaya. “Siapa yang bersalah dialah yang harus dihukum.”

“Namun,  dia anak hamba, Tuan. Hamba tidak bisa melihat anak hamba mati,” jawab Karupet.

“Tidak bisa. Aku tahu kau pasti akan menderita kehilangan anakmu. Akan tetapi, ini sudah takdir  yang harus anakmu jalani,” kata sang buaya ajaib itu.

Dengan sekejap sang buaya  ajaib  itu  membawa

 

Meles hilang lenyap di antara hembusan angin kencang.

 

 

Karupet dan  Ajolo tidak bisa  berbuat apa-apa. Mereka hanya bisa menangis melihat anaknya telah lenyap. Semua telah  terjadi.  Mereka hanya bisa  pasrah dan menyerahkan takdir kepada Yang Mahakuasa. Mereka juga  harus  mengiklaskan  anak  semata  wayangnya untuk dibawa oleh sang buaya.

Setelah kejadian itu, sepasang suami istri  ini tidak henti-hentinya bersedih,  terutama Ajolo yang sangat terpukul  kehilangan anaknya. Satu hari,  satu minggu, hingga satu bulan,  Ajolo  tidak  kunjung  keluar rumah karena meratapi kematian anaknya itu. Ia pun tidak berselera makan hingga badannya kurus kering.

Hal itu  membuat Karupet  jadi sedih dan bingung. Ia pun tidak ingin kehilangan istrinya hanya karena kesedihan yang berlarut-larut. “Sudahlah jangan bersedih seperti ini, sampai-sampai kau menderita seperti ini. Ikhlaskanlah kepergiannya. Kamu harus yakin kalau anak kita sudah ada di surga bersama Tuhan.”

Peristiwa  ini membuat Karupet  dan Ajolo merasa harus pergi dari tempat itu. Akhirnya,  mereka memutuskan  untuk  kembali  ke tempat  asal mereka,

 

 

di  Amza,  untuk   menyembuhkan  luka  karena  telah kehilangan anak semata wayang mereka.

“Kita  akan kembali ke Amza,” kata Karupet kepada istrinya.

“Mengapa kita mesti kembali? Apakah mereka mau menerima  kita?”  tanya  Ajolo.  Ada kecemasan dalam dirinya,   terutama  ketakutannya   dan  rasa  bersalah kepada orang tuanya. Meskipun di sisi lain,  Ajolo juga sangat rindu kepada ibu dan bapaknya itu.

“Kepergian Males  adalah hukuman untuk kita. Kita akan meminta maaf  kepada orang tuamu karena aku telah  membawamu  pergi  jauh. Pernikahan  kita  pun harus mendapat restu dari orang tuamu. Kita akan berjuang  terus  untuk  meluluhkan  hati orang  tuamu agar kehidupan kita dapat berjalan dengan baik. Saya yakin suatu saat orang tuamu akan luluh juga.”

“Iya, semoga saja  itu  dapat  terwujud. Aku juga sangat merindukan kedua orang tuaku. Semoga orang tuaku dapat  memaafkan kita,” jawab Ajolo  sambil memeluk suaminya.

Lalu, mereka bergegas menyiapkan segala keperluan  untuk  pulang ke Amza. Kematian  anaknya

 

 

menjadi  pembelajaran  yang berharga  untuk  Karupet dan Ajolo.

Di tempat yang lain, orang tua Ajolo sangat menantikan putrinya kembali. Sepanjang waktu mereka berdoa, kelak putrinya akan pulang ke rumah.

Sesampai di Amza, Karupet  dan Ajolo  menuju ke rumah orang tua Ajolo. Dari tampak kejauhan, Ajolo melihat ayahnya sedang menjemur ikan di teras rumah. Diliputi rasa takut  dan bahagia, Ajolo memberanikan diri memanggil ayahnya.

“Ayah!” Ayah Ajolo langsung menengok ke belakang mendengar  suara  itu.  Ketika  mereka saling  melihat, ada rasa tak percaya, senang, haru, dan bahagia.”

“Anakku!” “Ayah!”

Mereka saling berpelukan dan  menangis karena pertemuan itu. Kemudian, sang ibu pun keluar melihat anaknya sudah kembali ke rumah.

“Oh, Anakku! Akhirnya kau kembali juga, Nak.”

 

“Maafkan aku, Ayah, Ibu, karena aku telah menjadi

 

anak durhaka selama ini.”

 

 

orang tua Ajolo untuk memohon ampun dan sekaligus memohon restu atas pernikahan mereka.

“Ayah  sudah maafkan kalian. Yang    penting sekarang ayah dan ibumu dapat melihatmu kembali. Baiklah jika kalian memang tidak mungkin lagi dipisahkan,  saya akan merestui  kalian.  Namun, ingat pesanku! Kau, Karupet, tidak boleh menyakiti hati anakku,” kata ayah Ajolo sambil mengajak anak- anaknya untuk berdiri.

”Baiklah, Ayah, saya berjanji untuk tidak menyakiti hati istri  saya ini.”

Akhir   kisah,  Karupet   dan  Ajolo  hidup  bahagia di Amza. Lalu, mereka pun dikarunia seorang anak perempuan yang cantik.  Anak ini menjadi kebahagian dan pelipur kesedihan untuk mereka semua. Seiring waktu, Ajolo dapat mengikhlaskan kepergian anak pertamanya, Males.

Di tempat yang lain, di tengah Sungai Warsamsung terdapat sebuah batu yang bentuknya menyerupai manusia.    Masyarakat     setempat    meyakini   batu tersebut sebagai penjelmaan jasad Meles.  Oleh karena

 

 

saat itu pula, penduduk yang tinggal di sekitar Sungai Warsamsung,  tidak  berani  berburu  buaya untuk dimakan atau diambil  kulitnya. Masyarakat setempat memercayai   bahwa   buaya   adalah   binatang    yang

 

dilindungi.  Oleh  sebab  itu,   sangat   pantang   untuk membunuh atau memakan daging buaya.

Kepergian Males  menjadi pelajaran untuk masyarakat Amza agar tidak membunuh binatang secara sembarang. Cerita ini memberikan nasihat yang berharga bahwa sesama makhluk ciptaan Tuhan harus saling menjaga dan menyayangi.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *