Daftar Isi

  1. Kelahiran Putra Mahkota……………………….. 1
  2. Berkemah di Hutan…………………………………. 10
  3. Aziz dan Azizah……………………………………….. 17
  4. Surat Azizah……………………………………………… 22
  5. Saputangan Sayyidatuddunia……………… 26
  6. Berdagang di Istana…………………………………. 33
  7. Saat yang Paling Dinanti…………………………. 43

 

 

 

 

 

 

Di suatu zaman yang sangat makmur, hiduplah seorang  nenek  bersama  cucunya,  Kirana.  Mereka  hidup di perbatasan sebuah desa dengan beberapa tetangga di sekitar rumahnya. Setiap hari, sepulang sekolah, Kirana selalu membantu neneknya menjaga padi di sawah. Sebentar lagi nenek Kirana akan panen sehingga padi-padi itu harus dijaga dari serangan burung. Bekal makanan seadanya selalu dibawanya. Selepas senja mereka baru sampai di rumah. Setiap menjelang tidur Kirana selalu meminta neneknya bercerita.

 

”Malam ini akan bercerita tentang apa, Nek?” tanya

Kirana kepada neneknya.

 

 

”Wah tentang apa, ya? Coba pilih, cerita tentang kancil, peri, atau tentang putri cantik yang baik hati?” jawab nenek.

 

”Nek, kata Bu Guru, negeri kita ini kaya akan cerita- cerita tentang kehidupan raja-raja zaman dahulu.”

 

”O, Nenek ingat. Nenek mempunyai sebuah cerita tentang kehidupan seorang putra raja. Cerita ini berjudul Kisah Tajul Muluk.

 

 

 

lagi.

”Ayo, Nek, ceritakan,” kata Kirana sudah tidak sabar

 

 

”Begini ceritanya.”

 

 

Zaman dahulu ada sebuah kerajaan yang sangat makmur.  Kerajaan  itu  dipimpin  oleh  seorang  raja  muda yang sangat bijaksana. Ia memerintah dengan adil sehingga kehidupan rakyat negeri itu rukun dan damai. Mereka hidup saling menolong dan saling menghargai.

 

”Nama raja negeri itu siapa, Nek?” tanya Kirana.

 

 

”Nama raja negeri itu adalah Malik Sulaiman Syah.”

 

 

”Wah, pasti Raja Malik ini sangat gagah, ya, Nek.”

 

 

”Ya, betul. Raja Malik ini sangat gagah lagi berani.”

 

 

Di balik gemerlap dan kemakmuran kerajaan, ternyata ada sebersit duka di hati sang raja, yaitu ia belum mempunyai seorang pendamping hidup. Telah sekian lama Raja Malik Sulaiman Syah mencari seorang permaisuri, tetapi belum juga mendapatkan yang sesuai dengan keinginan hatinya. Hingga suatu malam sang Raja meminta kepada seorang perdana menterinya untuk menemui sang pertapa.

 

”Hamba menghadap, Paduka,” kata Perdana Menteri.

 

 

”Paman, temuilah sang Pertapa di goa di gunung paling

 

utara negeri ini. Katakan kepadanya tentang keinginanku ini,” kata Baginda.

 

”Baiklah, akan hamba laksanakan perintah Baginda.”

 

 

”Berangkatlah secepatnya, Paman.”

 

 

Keesokan harinya, pagi-pagi buta perdana menteri pergi ke goa. Dengan bekal seperlunya ia pergi seorang diri dengan mengendarai kuda hitamnya. Kuda ia pacu dengan kencangnya. Surai kuda tergerai-gerai seirama dengan kecepatan pacuan kuda perdana menteri. Secepat kilat kuda itu melesat menuju arah utara negeri, tepatnya di gunung yang telah ditentukan oleh Raja Malik.

 

Menjelang senja perdana menteri sampai di kaki gunung. Kuda berputar-putar di bawah kendali perdana menteri. Perdana menteri meloncat turun dari kudanya. Ia melongok ke kanan dan ke kiri mencari-cari mulut goa. Tiba- tiba….

 

”Mencari siapa, Anak Muda?”

 

 

”Maaf, Kek, hamba mencari seorang pertapa. Pertapa itu tinggal di goa, kaki gunung ini. Apakah Kakek mengetahui keberadaan pertapa itu?”

 

”Ada perlu apa kamu mencari pertapa?”

 

 

”Hamba  disuruh oleh  raja  hamba  untuk  menemui

 

pertapa tersebut dan menanyakan jodoh sang raja.”

 

 

”O, begitu. Baiklah. Ayo, masuk ke goa ini, nanti saya jelaskan.”

 

”Lho, apakah Kakek ini sang Pertapa itu?” perdana

menteri bengong.

 

 

”Ya, sayalah pertapa yang kau cari. Apakah rajamu

benar-benar sudah berniat mencari jodohnya?”

 

 

”Betul, Kek. Oleh sebab itu, hamba diutus kemari untuk minta petunjuk Kakek.”

 

”Ya, ya, sebenarnya, Malik Sulaiman Syah itu sudah dijodohkan dengan putri Raja Malik Zaharsyah dari negeri jiran. Datanglah ke sana.”

 

”Kalau begitu hamba mohon izin. Hamba harus segera memberi kabar gembira kepada Paduka Raja, Kek.”

 

Tidak terasa hari telah menjelang malam. Malam merambat kian larut. Suasana malam makin mencekam dengan bunyi burung hantu. Perdana menteri sulit memejamkan matanya. Ia ingin malam cepat berganti pagi. Dalam benaknya sudah terbayang wajah sang raja yang gembira mendengar kabar baik yang ia bawa.

 

Pagi-pagi buta perdana menteri minta izin kepada pertapa. Kuda hitam yang selalu siap mengantar tuannya

 

masih berdiri tegak di samping pertapaan. Pelananya telah dirapikan oleh perdana menteri. Surai menggerai rapi di lehernya, menambah gagah sang kuda.

 

”Sampaikan salam saya untuk Malik Sulaiman Syah.”

 

 

”Baik, Kek. Akan saya sampaikan. Permisi, Kek.”

 

 

”Selamat jalan. Hati-hati di jalan.”

 

 

Tanpa menunggu lama perdana menteri meloncat menaiki kuda dan menarik talinya. Kuda melesat mengikuti kendali perdana menteri. Meski gerimis sedikit mengiringi, kuda itu tetap melaju tanpa henti. Pikiran perdana menteri sudah sampai di kerajaan, mendahului langkah kudanya. Ia membayangkan wajah sang raja yang berseri-seri.

 

”Apakah sang putri menerima pinangan Raja Malik

Sulaiman Syah?” tanya Kirana penasaran.

”Tunggu dulu, begini cerita selanjutnya,” jawab Nenek. Sesampai    di    istana    perdana    menteri    langsung

menyampaikan berita bahagia itu kepada raja.

 

 

”Bagaimana, Perdana Menteri? Apakah    kamu membawa kabar baik?”

 

”Betul, Paduka. Kata sang Pertapa, ternyata Paduka telah dijodohkan dengan putri raja dari kerajaan jiran.”

 

”Putri raja kerajaan jiran?” raja tidak percaya.

 

 

”Begitulah yang dikatakan sang Pertapa.”

 

 

”Baiklah, siapkan pasukan secukupnya. Kita segera menuju kerajaan jiran.”

 

Keesokan  harinya  seratus  pasukan  berkuda  siap di halaman istana kerajaan. Mereka akan mengiringi dan menjaga Raja Malik Sulaiman Syah menuju kerajaan jiran. Ringkik kuda yang saling bersahut menambah riuhnya suasana pagi itu. Prajurit istana telah siap setia menunggu munculnya sang raja di halaman istana.

 

Setibanya di kerajaan jiran, rombongan Raja Muda Malik Sulaiman Syah disambut dengan ramah oleh Baginda Raja.

 

”Tidak biasanya, Ananda   datang tanpa memberi kabar seperti ini,” tanya Baginda Raja penuh heran.

 

”Paman Patih, tolong sampaikan niat kedatangan kita

ini,” kata Raja Malik menoleh ke patihnya.

 

 

”Baiklah. Begini, Baginda. Jika diperkenankan, Paduka

Raja hamba ini bermaksud meminang putri Baginda Raja,”

 

”Hm, begitu ceritanya. Pinangan ini akan saya sampaikan kepada putrinda. Keputusan ada di tangannya.”

 

Baginda Raja meminta seorang dayang untuk memanggil putrinya yang sedang di taman sari. Setelah putrinya datang menghadap, Baginda Raja langsung menanyakan pinangan Raja Malik.

 

”Hamba bersedia, Ayah.”

 

 

Putri Baginda Raja tidak membantah sedikit pun. Setelah mendengar sendiri jawaban putri, hati Raja Malik sangat gembira.

 

”Terima kasih, Baginda. Hamba segera kembali ke kerajaan untuk mempersiapkan segala keperluan untuk pernikahan.”

 

Sebulan kemudian pesta pernikahan Raja Malik dengan   putri   diselenggarakan   dengan   sangat   meriah. Raja Malik Sulaiman Syah duduk bersanding dengan sang permaisuri di pelaminan yang bertatahkan emas. Bunga beraneka warna menghiasi singgasana pengantin. Kerlap- kerlip lampu hias menambah semarak suasana pesta itu. Satu tahun kemudian mereka dikaruniai seorang putra. Bayi laki-laki itu diberi nama Tajul Muluk.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

8

 

Kelahiran putra raja itu sangat dinantikan oleh raja, permaisuri, dan seluruh pegawai istana. Belum lengkap rasanya jika sebuah keluarga belum mempunyai putra mahkota.

 

”Kirana sudah mengantuk?” tanya nenek.

 

 

”Ehm, sudah, Nek,” kata Kirana sambil menguap.

”Masih panjang kan ceritanya, Nek.”

 

 

”Masih, tetapi untuk malam ini sampai di sini dulu ya… kita lanjutkan besok malam.”

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *