DAFTAR ISI

 

 

Burung Kekekow dan Gadis Miskin ………………………. 1

 

 

 

 

 

 

 

 

Alkisah di daerah Minahasa, Sulawesi Utara hiduplah seorang janda tua bersama dua orang anak gadisnya.   Mereka   tinggal    di   sebuah   gubuk   yang sudah  reyot  di  bawah  sebuah  pohon  yang  rindang dan  teduh.  Kehidupan  mereka  sangatlah  miskin  dan serba kekurangan. Namun, kemiskinan  tidak membuat mereka putus asa dalam menjalani kehidupan. Mereka tetap bersemangat mengisi hari-hari.

Janda tua dan kedua anaknya tidak pernah mengeluh dan menyesali kemiskinan mereka. Semuanya dijalani dengan tabah dan ikhlas. Kepada kedua anaknya, janda tua selalu menasihati agar jangan pernah menyesali hidup yang serba kekurangan. Dengan bekal nasihat inilah kedua anaknya pun menjalani kehidupan penuh dengan sukacita.

Cara hidup yang dilakoni oleh janda tua dan kedua anaknya terbilang unik.  Mereka  akan mencari  makan

 

 

 

pada waktu  jam makan tiba.  Ketika ingin makan pagi, mereka baru mencari makan pada pagi hari,  demikian pula  halnya  dengan makan siang dan makan malam. Jadi, saat lapar, tanpa kenal waktu mereka langsung masuk ke hutan untuk mencari buah atau sayur-mayur yang  dapat   diolah   menjadi   makanan.  Untung   saja di hutan tempat mereka mencari makanan tersedia berbagai  jenis  buah-buahan  dan  tanaman  hutan lainnya sehingga mereka tidak pusing dengan persoalan makanan.  Demikianlah  cara  mereka  mencari  makan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Pada suatu waktu,  musim buah-buahan di perkampungan mereka telah usai. Di hutan yang biasa mereka tempati untuk mencari makanan, tidak satu pun pohon yang menghasilkan buah, begitu pula dengan tanaman sayur-mayur. Bahkan, sungai kecil yang ada di dalam hutan tempat warga sekitar mengambil air untuk kebutuhan mandi dan air minum juga kering kerontang. Akibatnya, seluruh warga desa menjadi bingung.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3

 

 

 

“Anak-anak, ayo bangun. Hari sudah siang. Waktunya  mencari makan,” sang ibu membangunkan kedua anaknya.

“Ya, Bu,” sahut anak sulung sambil menggosok- gosok kedua matanya. Sebenarnya si sulung masih sangat  mengantuk  dan merasa kelelahan  karena kemarin mencari kayu bakar di hutan bersama adiknya. Namun, dia tidak  sampai hati  untuk  melanjutkan tidurnya karena ibunya sudah membangunkan untuk pergi mencari makan di hutan. Saat ia akan turun  dari tempat  tidurnya tiba-tiba dia menoleh ke samping dan melihat  adiknya masih terlelap.  Segera dibangunkan adiknya.

“Dik,  bangun, mari kita  segera mencari makan di hutan.  Kasihan Ibu  sudah menunggu sejak tadi,” sang kakak membangunkan adiknya sambil mengusap kepala sang adik. Mendengar suara kakaknya, adik pun segera bangkit dari pembaringan dan menuju ke ruang belakang tempat mereka biasanya mandi.

 

 

 

Tidak lama kemudian, kedua kakak beradik selesai berpakaian.  Mereka  langsung  berpamitan  kepada ibunya.

“Bu,  kami berangkat  mencari makanan di hutan,” berbarengan kedua kakak beradik berpamitan kepada ibunya.

“Ya, hati-hati di jalan, Nak,” pesan ibunya kepada kedua putrinya.

Setelah berpamitan,  berangkatlah kedua kakak beradik menuju hutan. Sepanjang jalan mereka berdua menyapa para warga kampung yang berpapasan di jalan. Warga kampung sangat mengenal keramahan kedua kakak beradik tersebut  sehingga banyak yang senang dengan keduanya. Di samping memiliki  sifat peramah, kedua kakak beradik juga terkenal  ringan tangan, suka membantu orang. Keduanya membantu dengan ikhlas tanpa mengharapkan pamrih.

Setelah berjalan  setengah jam, sampailah mereka di   hutan   tempat   mereka  biasa  mencari   makanan. Hutan yang setiap hari mereka datangi  untuk  mencari makanan  memang  letaknya   tidak   jauh  dari   tempat

 

 

 

tinggalnya sehingga waktu yang dipergunakan untuk menuju ke hutan tersebut  juga cukup singkat. Kedua kakak beradik  itu  pun segera masuk ke dalam hutan dan mulai berpencar untuk mencari buah-buahan dan sayuran untuk dijadikan makanan mereka. Namun, sampai  beberapa  kali  mengitari   hutan  tersebut, tak satu pun mereka temukan pohon yang berbuah ataupun sayur-mayur  yang dapat mereka olah untuk dijadikan makanan.  Rupanya  saat  itu   musim  buah-buahan  di hutan  tersebut  benar-benar  telah  usai sehingga tidak satu pun pohon yang menghasilkan buah. Meskipun kedua kakak beradik itu tetap berjalan menyusuri hutan dan berharap menemukan pohon yang berbuah,  usaha mereka tidak membuahkan hasil. Akhirnya, mereka memilih  untuk  beristirahat karena  merasa  lelah  dan perut  mereka perih menahan lapar sejak pagi. Mereka pun beristirahat di bawah sebuah pohon mangga yang rindang.

“Kak, rasanya perutku perih sekali,” kata sang adik dengan wajah memelas.

 

 

 

“Ya, Dik. Kakak juga merasakan hal yang sama denganmu,”  sahut sang kakak sambil menoleh ke arah adiknya. Sebenarnya sang kakak sangat kasihan dan merasa sedih melihat adiknya yang sejak tadi memegangi perutnya yang perih karena lapar. Namun, di depan adiknya dia berusaha untuk tidak memperlihatkan  raut wajah  yang sedih agar  adiknya  tidak  tahu  kesedihan sang kakak. Sementara itu, di dalam benaknya juga memikirkan ibunya yang sudah menunggu mereka dengan penuh harap. Tentu saja mengingat  semua itu membuatnya  sedih.  Sebagai anak tertua, dia  merasa harus  bertanggung  jawab  terhadap  ibu  dan adiknya, tetapi  dia berusaha menutupi kesedihan yang melanda jiwa dan pikirannya. Dalam hatinya dia terus berdoa dan berharap  semoga hari  ini  ada keajaiban  yang mereka dapat sehingga adik dan ibunya dapat makanan. Tiba- tiba sang kakak tersentak dari lamunan saat mendengar suara lirih adiknya.

“Ke mana lagi kita  akan mencari makan? Kasihan Ibu  di rumah  menunggu kedatangan  kita,” kata  sang adik sambil memegang perutnya.

 

 

 

“Entahlah, Dik, kakak juga bingung ke mana kita mencari   makanan.   Sepanjang  hari   kita   menyusuri hutan, tetapi tak satu pun pohon yang berbuah kita temukan,”   sahut  sang  kakak  dengan  wajah  muram karena membayangkan wajah sang ibu yang menanti kedatangan mereka. Saat sang kakak menoleh ke arah adiknya, terlihatlah wajah adiknya yang memelas. Sebagai seorang kakak, tidak tega rasanya memandangi wajah adik yang memegang perut karena perih menahan lapar. Akhirnya,  dengan penuh rasa kasih sayang sang kakak membelai adiknya sambil berkata, “Dik, sebaiknya kita tidur  dulu di bawah pohon ini dan saat  kita bangun rasa lapar yang kita rasakan ini pasti bisa hilang,” bujuknya.

Sang kakak lalu  lebih  mendekatkan  badannya  di samping adiknya, lalu dengan penuh kasih sayang kepala adiknya dibelai-belai sambil bernyanyi kecil berharap adiknya  segera  terlelap.   Namun,  karena  rasa  lapar yang mendera, adiknya tidak dapat memejamkan mata. Sejenak suasana menjadi hening karena mereka berdua terdiam dan hanyut dalam pikiran masing-masing.  Saat

 

 

 

keduanya  lagi  terdiam,   tiba-tiba  mereka  dikejutkan oleh sebuah benda yang berwarna kuning jatuh tepat di hadapan mereka. Sang adik yang lebih dahulu melihat benda  tersebut   segera  beranjak   dari   bawah  pohon sambil bertanya kepada kakaknya.

“Benda apa yang jatuh itu, Kak?” tanya sang adik. “Kakak  juga  tidak  tahu,  Dik.  Ayo kita  lihat  dari

dekat benda itu!” ajak sang kakak.

 

Keduanya pun segera beranjak lalu mendekati benda tersebut  sembari memandangi dan memegangnya.

“Dik,   rupanya   sesisir  pisang  emas,”  kata  sang kakak sambil menoleh ke arah adiknya.

“Iya benar,  Kak, sesisir pisang emas,”  sang adik menimpali ucapan kakaknya.

“Heran ya, Dik, mengapa buah pisang ini bisa jatuh tepat  di hadapan kita, padahal kita lagi beristirahat di bawah pohon mangga,” tanya sang kakak dengan wajah penuh  keheranan  sambil  memandangi  terus   pisang emas tersebut.

“Saya juga heran, Kak. Bagaimana mungkin pohon mangga berbuah  pisang, sementara  sekitar  sini tidak

 

 

 

ada pohon pisang,” sahut sang adik sambil memandang lurus  ke depan seolah-olah  mencari apakah di sekitar tempat mereka beristirahat terdapat pohon pisang.

“Atau …, jangan-jangan ada orang yang melempar pisang ini ke kita, Kak,” lanjut sang adik sambil menoleh ke arah kakaknya yang masih terus memandangi pisang emas.

”Ah  mana mungkinlah,  Dik,  di  sekitar  sini  sejak tadi  tidak  ada warga kampung yang lewat,  hanya kita berdua,” sang kakak menimpali.

“Atau bisa saja, Kak, ada orang di atas pohon mangga ini lalu melempar pisang ke arah kita,” kata sang adik sambil menengadah ke atas pohon mangga. Melihat sang adik menengadah, kakak pun ikut menengadah ke pohon mangga karena rasa penasaran mereka. Mata kedua kakak beradik ke sana kemari memperhatikan pohon mangga tersebut, tetapi  tidak ada orang di atas pohon  mangga.  Mereka   hanya  mendengar   kicauan merdu seekor burung kekekow.

“Keke kow keke kow keke kow keke kow,”  seperti itulah  nyanyian si burung kekekow sambil memandang

 

 

 

ke arah  kakak beradik  tersebut. Namun, kedua gadis itu  tidak  menyadari  kalau  mereka  lagi  diperhatikan oleh si burung kekekow. Rupanya burung kekekow sejak tadi sudah bertengger di dahan pohon mangga dan mendengarkan percakapan kedua kakak beradik itu. Burung kekekow sangat kasihan dan prihatin terhadap kedua kakak beradik itu karena belum mendapatkan makanan sepanjang hari, apalagi si burung kekekow juga mendengarkan bagaimana khawatirnya kedua kakak beradik  itu  memikirkan  ibunya yang juga kelaparan  di gubuk mereka. Akhirnya, burung kekekow melempar sesisir pisang emas ke arah  kedua kakak beradik  itu. Burung  kekekow  tidak  ingin  diketahui   bahwa  dialah yang memberikan pisang tersebut. Oleh karena itu,  si burung kekekow tidak menampakkan dirinya di hadapan kedua kakak beradik itu.

Kedua kakak beradik itu masih diliputi rasa kebingungan   karena   tidak    tahu    asal-usul    pisang emas yang ada di hadapan mereka. Belum hilang rasa bingungnya, tiba-tiba mereka dikejutkan  lagi dengan berbagai  macam buah-buahan  yang jatuh  berserakan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

12

 

di tanah dekat pohon mangga tempat mereka menyandarkan badan. Melihat  kejadian aneh tersebut, makin bertambah keheranan dan kebingungan kedua kakak beradik tersebut. Rasa lapar yang menggerayangi perut mereka tidak lagi terasa karena kedua bersaudara itu masih diliputi rasa heran dan terkejut dengan kejadian yang baru saja mereka alami. Padahal, di hadapan mereka berdua sudah banyak buah-buahan yang  siap  untuk  langsung  dimakan.  Namun,  mereka tidak langsung makan. Sebaliknya, kedua kakak beradik langsung berlari  meninggalkan pohon mangga menuju gubuk mereka yang tidak jauh dari pohon mangga.

Dari   kejauhan   tampak   sang  ibu   sudah  duduk gelisah  di  depan  pintu   menanti   kedatangan   kedua anak   gadisnya.   Sambil  duduk   melamun,   sang  ibu berpikir  seraya bergumam, ”Semoga kedua putriku  bisa mendapatkan  makanan untuk  hari  ini.”  Sang ibu yang masih  larut   dalam  lamunan  tiba-tiba melihat  kedua anak gadisnya berlari  tergopoh-gopoh  ke arahnya. Melihat hal ini, cepat-cepat sang ibu beranjak dari kursi

dan menyambut kedua anaknya.

 

 

 

13

 

 

 

“Ada apa, Nak? Mengapa kalian berlari  tergopog- gopoh? Apa ada yang mengejar atau mengganggu kalian? Ayo, katakan pada ibu, Nak,” selidik ibunya dengan  memberondongi  pertanyaan   terhadap   kedua anak gadisnya penuh kekhawatiran.

“Bukan, Bu, tidak ada yang mengganggu atau mengejar kami,” jawab sang kakak.

“Lalu,  mengapa kalian  berlari  tergopoh-gopoh?”

 

tanya ibunya.

 

“Begini  ceritanya, Bu. Tadi ketika  beristirahat  di bawah sebuah pohon mangga, kami mengalami kejadian aneh,” kata sang adik.

“Kejadian aneh bagaimana?” ibunya bertanya dengan penuh keheranan.

“Tadi,  Bu, setelah menyusuri hutan dan tidak menemukan satu pun pohon yang menghasilkan buah, kami memilih istirahat di bawah sebuah pohon mangga. Ketika  kami  beristirahat, tiba-tiba  di  hadapan  kami jatuh  dari  atas  pohon  mangga sesisir  pisang  emas,” sang kakak menjelaskan kepada ibunya.

 

 

 

“Nah, yang membuat heran, kami tidak tahu siapa yang melemparkan  sesisir  pisang emas itu,  Bu. Kami sudah mencari di sekitar pohon mangga bahkan sampai menengadah ke atas pohon, tetapi  tidak  ada seorang pun di sekitar pohon mangga tersebut,” sang adik menimpali penjelasan kakaknya.

“Lebih mengherankan lagi, Bu, rasa penasaran kami belum terjawab, eh, tiba-tiba dari atas pohon mangga berjatuhan  beraneka macam buah-buahan  di hadapan kami,” lanjut  sang kakak menjelaskan ke ibunya.

“Tetapi maaf, Bu, kami tidak berani mengambil buah-buahan  itu  karena  tidak  tahu  asalnya.  Seperti yang ibu sering ajarkan kepada kami bahwa tidak boleh mengambil sesuatu yang bukan milik kita,” jawab sang kakak.

“Iya, kamu benar, Nak. Sesusah apa pun kita jangan pernah mengambil sesuatu yang bukan milik kita,” sang ibu menimpali. Dalam hati sang ibu sangat senang dan bangga karena telah tertanam kejujuran dalam perilaku kedua putrinya.

 

 

 

“Bu, mari kita kembali ke pohon mangga untuk melihat apa yang terjadi di sana,” ajak sang adik.

“Iya betul, sebaiknya kita kembali ke pohon mangga tempat  kalian mengalami peristiwa  aneh,” kata ibunya setuju.

Setelah menutup  pintu  gubuk, berangkatlah  sang ibu dengan kedua anak gadisnya menuju ke pohon mangga. Tidak lama kemudian sampailah mereka bertiga di pohon mangga tersebut.  Sungguh terkejut ibunya melihat  beraneka jenis buah-buahan  yang berserakan di tanah, tepatnya di bawah pohon mangga.

“Wah, banyak sekali buah-buahan ini, Nak,” seru sang ibu.

“Iya, Bu, tetapi  bagaimana kita bisa makan, sementara kita tidak tahu siapa yang memberikan ini semua?” jawab adik.

“Begini saja, kita kumpulkan dulu semua buah- buahan ini, lalu kita berpencar dalam hutan ini untuk mencari  tahu  siapa kira-kira yang memberikan  buah- buahan ini,”  sang ibu memberikan saran kepada kedua putrinya. Lalu,  mereka bertiga  mengumpulkan semua

 

 

 

buah-buahan yang berserakan di bawah pohon mangga. Setelah semua buah-buahan  terkumpul,  mereka mulai berpencar untuk mencari siapa yang memberikan buah- buahan itu. Ternyata, sampai berapa lama mereka mencari tidak juga menemukan orang lain dalam hutan itu.  Ibu  dan  kedua anaknya  itu  benar-benar  merasa heran  karena  sekian  lama  mereka  menyusuri  hutan tak satu pun manusia yang mereka temui di hutan. Sementara  itu,  kedua anaknya  sudah terlihat  sangat letih  apalagi sang adik yang tampak masih memegangi perutnya.

“Kamu lapar ya, Nak?” tanya ibu kepada kedua anaknya.

Kedua  anaknya  meskipun  sudah  sangat   lapar, tetapi  tidak ingin menyusahkan ibunya serempak menjawab bahwa mereka belum lapar dan masih bisa menahan rasa lapar. Setelah mendengar jawaban kedua putrinya, sang ibu tersenyum.  Dalam hatinya  dia tahu bahwa kedua putrinya pasti berbohong hanya untuk menyenangkan hatinya  saja. Karena tidak  sampai hati melihat  kedua anaknya yang kelaparan,  sang ibu lalu

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

18

 

mengajak kedua putrinya untuk  beristirahat di bawah pohon mangga tempat buah-buahan yang telah mereka kumpulkan.  Akhirnya, karena kelelahan dan kelaparan, sang  ibu  mengajak  anaknya  untuk   makan  sebagian buah-buahan itu. Bertiga mereka duduk di bawah pohon mangga sambil menikmati buah-buahan yang sudah mereka kumpulkan. Setelah kenyang, ketiganya pun pulang ke gubuk mereka.

Keesokan harinya,  kedua anak gadis itu  kembali mencari  makanan di  hutan.  Seperti  kemarin,  mereka tidak   menemukan  pohon  yang  menghasilkan  buah. Sang  kakak   mengajak   adiknya   untuk   beristirahat di   bawah   pohon   mangga  yang   kemarin   membuat mereka mengalami peristiwa  aneh. Belum lagi mereka menyandarkan badan pada pohon mangga, tiba-tiba kedua kakak beradik ini mendengar kicauan merdu burung Kekekow yang sedang bernyanyi.

“Keke kow keke kow keke kow.”

Mendengar   kicauan   burung   kekekow,   seketika itu   pula  kedua  kakak  beradik  menengadah  ke  atas pohon mangga untuk melihat burung kekekow. Namun,

 

 

 

19

 

 

 

keduanya    tidak    melihat     burung                   kekekow,             hanya kicauannya yang terdengar.

“Keke kow keke kow keke kow keke kow.”

 

“Kak, mari kita pulang saja, sepertinya hari ini tidak ada lagi kejadian aneh seperti kemarin,”  ajak sang adik. “Baiklah,  Dik, mari kita pulang dan menemui Ibu,”

kata sang kakak seraya menggandeng tanggan adiknya.

 

Keduanya pun langsung beranjak dari bawah pohon mangga dan segera berjalan menuju gubuk mereka. Namun, belum lama mereka berjalan tiba-tiba terdengar suara memanggil mereka.

“Hai,   kalian   anak  gadis,   mendekatlah   kemari! Aku akan memberikan makanan untuk kalian seperti kemarin.”

Mendengar suara itu, kakak beradik langsung menoleh ke arah suara. Rupanya suara itu berasal dari pohon mangga tempat mereka melepas lelah. Keduanya pun langsung membalikkan badan berjalan kembali menuju pohon mangga. Saat keduanya sampai di bawah pohon mangga, seketika itu juga berjatuhanlah berbagai macam buah-buahan dari pohon mangga. Langsung saja

 

 

 

keduanya menengadahkan kepalanya ke atas pohon dan tampak oleh mereka seekor burung kekekow yang lagi bertengger di salah satu dahan pohon mangga tersebut. “Burung   kekekow,   apakah   engkau  yang   telah memberikan buah-buahan ini kepada kami?” tanya sang

kakak

 

“Iya, betul,  sejak kemarin  aku yang memberikan makanan ini untuk kalian,”  jawab burung kekekow.

“Mengapa engkau memberikan makanan untuk kami?” tanya sang adik kepada burung kekekow.

“Karena  secara tidak  sengaja saat bertengger di dahan ini, aku mendengarkan percakapan kalian berdua. Selain itu, aku juga beberapa kali saat terbang dan bertengger di pohon-pohon yang ada di perkampungan warga, aku sering melihat kalian membantu warga kampung yang kesusahan,” jawab burung kekekow dengan enteng.

“Kalau begitu, terima  kasih, burung kekekow yang baik hati.  Engkau telah  menolong kami sehingga kami tidak lagi merasa kelaparan,” jawab sang kakak.

 

 

 

“Iya, burung  kekekow, karena  engkau, meskipun musim buah usai, kami sekeluarga tidak kesulitan mencari makanan lagi. Terima kasih, burung kekekow,” jawab kedua gadis itu secara serempak.

“Iya, sebagai makhluk ciptaan  Tuhan, sudah selayaknya kita saling menolong,” ucap burung kekekow dengan penuh kebijaksanaan.

“Nah, ambillah semua buah-buahan yang berserakan di bawah pohon itu  dan bawa pulang ke gubuk kalian. Makanlah bertiga dengan ibumu,”  kata burung kekekow kepada kedua gadis itu.

Segera keduanya memungut semua buah-buahan yang berserakan di tanah. Betapa senangnya hati kedua anak gadis tersebut. Terbayang dalam benak mereka wajah sang ibu yang menunggu kedatangan anak-anaknya. Lebih senang lagi saat keduanya membayangkan senyuman merekah sang ibu nanti saat tahu bahwa yang memberikan buah-buahan  selama ini adalah seekor burung  kekekow yang baik hati. Setelah selesai keduanya memunguti semua buah-buahan, mereka segera berpamitan  kepada burung kekekow sambil tak henti-hentinya mengucapkan terima

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

23

 

 

 

kasih  atas  kebaikan  dan  kemurahan  burung  kekekow terhadap keluarga mereka.

“Burung kekekow, kami pamit ya. Terima kasih bantuannya.  Pasti ibu di rumah sudah menunggu kami dengan cemas,” kata sang kakak.

“Baiklah,  segeralah kalian pulang karena sebentar lagi  malam  tiba.  Mulai  sekarang  kita  berteman  dan kalian boleh setiap hari datang ke sini untuk mengambil makanan,” jawab burung kekekow.

Mendengar    perkataan    burung    kekekow,   hati kedua  kakak  beradik  sangat  senang  karena  mereka telah berteman dan bersahabat  dengan seekor burung yang baik hati dan selalu menolong mereka. Sambil melambaikan tangannya, kedua kakak beradik itu pun segera berlalu dari hadapan burung kekekow dan segera pulang menuju gubuk mereka.

Sang ibu yang sejak tadi  menunggu kedatangan kedua putrinya sangat gelisah sambil sesekali melihat ke  arah  luar  rumah.  Begitu  melihat  kedua  anaknya sudah di depan pintu halaman, segera ia menyongsong anak-anaknya.

 

 

 

“Ibu sejak tadi menunggu kalian. Ibu takut  terjadi apa-apa dengan kalian,”  kata ibunya sambil memegang tangan   kedua   putrinya  dan   mengajak   masuk   ke dalam gubuk mereka. Ibunya langsung menuju dapur mengambil air minum untuk kedua putrinya.

“Minumlah, Nak, tentu  kalian sangat letih  karena menyusuri hutan mencari makanan. Ceritakan apa yang kalian alami di hutan sana,” ujar sang ibu. Saat ibu meletakkan gelas di meja, tiba-tiba matanya tertumpu pada buah-buahan di lantai dengan jumlah yang sangat banyak.

“Ini buah-buahan  yang kalian  dapatkan  di hutan sana, Nak?” selidik ibunya.

“Iya, Bu. Buah-buahan itu kami dapatkan di hutan, tetapi  kami tidak perlu repot-repot menyusuri hutan untuk mendapatkan buah-buahan ini,” seru adik dengan muka yang berseri-seri.

“Lalu, bagaimana kalian bisa mendapatkan buah- buahan  sebanyak  ini  tanpa  perlu  menyusuri  hutan, Nak?” tanya ibunya penuh keheranan.

 

 

 

“Seperti  kemarin kejadiannya, Bu. Saat kami beristirahat di bawah pohon mangga, tiba-tiba ada buah-buahan  jatuh  dari  atas  pohon mangga. Setelah kami selidiki,  ternyata yang menolong kita selama dua hari ini adalah seekor burung kekekow,” sang kakak menjelaskan kepada ibunya.

“Burung kekekow?” sahut ibunya dengan penuh keheranan.

“Iya, Bu.  Burung  kekekow  itu  sangat  baik  dan kami sudah berteman  dengannya. Bu, malah si burung kekekow itu menyuruh kami untuk datang setiap hari mengambil makanan,” sang adik menimpali.

Setelah mendengar penjelasan kedua anak gadisnya itu,  hati  janda tua itu sangat senang bukan kepalang. Dia pun tak henti-hentinya mengucap syukur kepada Tuhan  karena   telah   diberikan   pertolongan   melalui seekor burung kekekow.

Sejak saat itu,  keluarga janda tua bersahabat dengan burung kekekow. Setiap hari kedua anak gadisnya pergi ke hutan untuk menemui burung kekekow. Mereka

 

 

 

bermain  bersama,  bercanda,   dan  saling  berkejaran dengan riangnya.

Burung kekekow juga sangat senang bersahabat dengan kedua kakak beradik itu. Apalagi kedua kakak beradik itu sering juga membagi makanan ke tetangga dan warga kampung yang hidupnya juga serba kekurangan. Burung kekekow tidak hanya membantu makanan, tetapi juga memberikan peralatan rumah tangga kepada keluarga janda tua tersebut. Bahkan, saat musim kemarau tiba  pun burung kekekow memberikan mereka air untuk keperluan sehari-hari.

Berkat pertolongan  burung kekekow itu kehidupan keluarga janda tua dan kedua anak gadisnya berangsur- angsur membaik dan tidak lagi miskin. Dulu mereka sangat miskin dan serba kekurangan. Sekarang mereka sudah berkecukupan.

Hal ini tidak membuat keluarga janda tua menjadi sombong.Sebaliknya,dengan peningkatanperekonomian yang  semakin  baik,  keluarga  ini  justru   tidak  segan- segan membantu  warga  kampung yang membutuhkan pertolongan   mereka.  Siapa  saja  yang  membutuhkan

 

 

 

pertolongan  mereka bertiga, ibu dan kedua anaknya sangat ringan tangan membantu. Hal inilah yang membuat burung kekekow tambah menyayangi keluarga janda tua tersebut. Burung kekekow sangat senang melihat kebaikan dan kemurahan hati keluarga janda beserta anaknya yang tidak menjadi sombong meskipun kehidupan mereka mulai membaik.

Perubahan kehidupan janda tua beserta kedua putrinya ini tentu saja menimbulkan keheranan sebagian warga kampung. Mereka tentu saja heran melihat peningkatan  perekonomian  keluarga  sang  janda. Mereka sebelumnya sangat tahu  bagaimana susahnya kehidupan  sang janda.  Bahkan, tidak  jarang  sebagian warga yang  memiliki sifat sombong itu  menghina janda beserta anaknya.

Warga kampung itu  merasa heran karena mereka berpikir  bagaimana mungkin dalam waktu yang singkat kehidupan keluarga janda tua itu mendadak serba berkecukupan. Tentu saja hal ini membuat warga kampung ada yang iri melihat peningkatan perekonomian keluarga janda tua dan kedua putrinya. Karena diliputi

 

 

 

rasa  cemburu,  sebagian  orang  tua  warga  kampung yang memiliki anak dan merupakan teman sepermainan kedua anak janda  tersebut  menyuruh  anaknya  untuk cari  tahu  sebab musabab perubahan  kehidupan  janda tua beserta anaknya.

Suatu hari ada beberapa orang teman sepermainan kedua anak gadis janda  tua  itu  diam-diam  mengikuti dan mengintai kedua kakak beradik saat menuju hutan. Alangkah terkejutnya mereka saat melihat  kedua anak gadis tersebut bermain dan bercanda dengan seekor burung kekekow. Mereka merasa heran melihat  seekor burung dapat berbicara dengan bahasa manusia. Lebih terkejut lagi saat mereka melihat  burung  kekekow itu memberikan  begitu   banyak  makanan  kepada  kedua kakak beradik itu. Bukan hanya itu, dengan mata kepala mereka melihat apa pun yang diminta  oleh kedua gadis tersebut  selalu dipenuhi dan dituruti oleh burung kekekow.

Kejadian ini tentu saja sangat mengejutkan mereka. Mereka menganggap burung kekekow itu jelmaan orang sakti.  Tanpa  menunggu  lama,  warga  kampung  yang

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

30

 

mengikuti kedua anak gadis tersebut  segera berlari menuju  perkampungan.  Mereka  pun  melaporkan kejadian yang baru saja mereka lihat kepada orang tua mereka. Setelah mendengar laporan anak-anak mereka, tentu saja mereka kaget dan menganggap kejadian yang dialami oleh kedua anak gadis janda tua itu sebagai kejadian langka dan aneh. Oleh karena itu, mereka pun memutuskan untuk melaporkan kejadian ini kepada kepala kampung.

Sesampainya di perkampungan,  mereka langsung menuju rumah kepala kampung untuk melaporkan kejadian yang baru saja mereka lihat.

“Ada  apa  kalian  beramai-ramai   datang  ke rumahku?” tanya kepala kampung.

Salah satu warga maju dan berkata,  ”Begini,  Pak. Kami semua di sini merasa heran dengan peningkatan perekonomian keluarga janda tua dan kedua anak gadisnya yang tinggal  di ujung  kampung dekat  hutan ini,”  sambil menunjuk gubuk yang letaknya paling ujung

di antara rumah-rumah yang ada di kampung mereka.

 

 

 

 

 

31

 

 

 

“Memangnya   ada  apa  dengan  kehidupan  janda tua dan kedua anak gadisnya?” tanya kepala kampung dengan mengernyitkan dahinya.

“Semua orang di kampung kita ini tahu bagaimana miskinnya kehidupan mereka, Pak. Namun, sekarang mereka sudah hidup berkecukupan, bahkan hidupnya lebih  baik  daripada  kita  semua,”  kata  salah seorang warga dengan suara yang keras dan menggebu-gebu.

“Bukannya kita harus bersyukur karena warga kampung yang tadinya miskin berangsur-angsur kehidupannya sudah membaik?” kata seorang warga kampung menimpali.

“Iya, tetapi  cara  mereka memperoleh kehidupan yang  lebih  layak  itu  tidak  benar,”   teriak  salah  satu warga yang ikut serta mengintai di hutan.

“Maksudnya   cara  tidak   benar?”   tanya  kepala kampung dengan raut muka sedikit bingung.

“Jadi,  begini Pak, kami tadi sempat mengikuti dan mengintai  kedua anak gadis janda tua itu saat menuju ke hutan.  Kami melihat  dengan  mata  kepala  sendiri

 

 

 

kejadiannya,”    sela   seorang    warga                          kampung            yang berusaha untuk meyakinkan kepala kampung.

“Iya, Pak, benar. Masa kami berbohong. Lagi pula apa untungnya  kalau kami menceritakan  sesuatu yang tidak betul kepada bapak?” seorang warga kampung menimpali.

“Pak,  kami melaporkan  kejadian  yang kami lihat ini karena tidak  ingin ada warga dari kampung kita ini memelihara makhluk jadi-jadian,” kata salah seorang warga kampung.

“Maksudmu    makhluk     jadi-jadian                      bagaimana?”

 

selidik kepala kampung sedikit bingung.

 

“Maksudnya, kita ini ‘kan warga kampung yang percaya dengan Tuhan. Coba Bapak bayangkan seandainya ada di antara warga kampung yang memelihara  makhluk  jadi-jadian.  Takutnya  nanti makhluk tersebut minta tumbal, Pak. Lalu, bisa saja ‘kan kita satu per satu dijadikan tumbal. Mengerikan, Pak. Iihhh,” kata salah satu warga kampung sambil bergidik membayangkan sesuatu yang mengerikan.

 

 

 

Mendengar     cerita     warga    kampung,    segera kepala kampung beranjak dari tempat duduknya dan memerintahkan ke seluruh warga kampung untuk segera menangkap burung kekekow yang ada di hutan.

“Baiklah,  setelah mendengar seluruh cerita kalian, saya perintahkan  seluruh warga kampung, saat ini juga segera kalian menuju hutan dan menangkap burung kekekow, lalu bawa ke hadapan saya. Namun,   ingat, jangan sampai burung itu mati. Jadi, tangkap hidup- hidup!” perintah  kepala kampung.

Mendengar perintah kepala kampung,  beramai- ramai   warga   kampung  menuju  hutan   dan  mencari burung  kekekow  di  atas  pohon  mangga.  Sementara itu,   di  dalam  hutan,   burung  kekekow  yang  merasa lelah setelah bermain bersama kedua kakak beradik itu langsung bertengger di dahan pohon mangga sambil berkicau merdu.

“Eh, sebentar. Apa kalian mendenga r kicauan burung?” tanya salah satu warga kampung yang ikut dalam rombongan pencarian burung kekekow.

 

 

 

“Iya,  saya  mendengar   kicauan   itu,   sepertinya suara dari balik pohon mangga yang besar itu,” jawab salah satu warga kampung.

Lalu warga kampung beramai-ramai menuju ke arah pohon mangga yang besar tempat kicauan burung yang mereka dengar.  Sesampainya di dekat  pohon mangga tersebut, mereka lalu menyusun strategi penangkapan burung kekekow.

Sementara itu, burung kekekow yang tidak menyadari adanya marabahaya yang akan menghampirinya terus saja berkicau dengan merdunya seolah-olah   menggambarkan   suasana  hatinya   yang lagi gembira setelah bermain bersama kedua sahabat barunya itu. Tiba-tiba saja burung kekekow terkejut saat badannya terasa dihimpit  oleh tangan yang besar. Saat burung kekekow memalingkan wajahnya ke samping, terlihat wajah-wajah  sangar dengan senyum sumringah menatap ke arah burung kekekow. Barulah saat itu burung  kekekow menyadari  bahwa  dirinya  ditangkap oleh manusia. Burung kekekow hanya diam dan pasrah,

 

 

 

tidak  dapat  melepaskan badannya  dari  cengkeraman kuat tangan manusia.

“Akhirnya, tertangkap juga burung  kekekow ini,” ujar   salah  seorang  warga   yang  memegangi  badan burung kekekow dengan kuat.

“Iya, ya, ternyata mudah untuk menangkapnya.” “Jangan terlalu                 kuat        kau                 mencengkeramnya.

Burung ini bisa mati,” warga lain mengingatkan. “Benar, ‘kan kepala kampung sudah mengingatkan

kita untuk membawa burung kekekow ini secara hidup- hidup,”  kata yang lain ikut mengingatkan.

“Iya, tenang saja, burung ini tidak akan mati. Saya pegang kuat agar tidak lepas saja,” bela warga yang mencengkeram burung kekekow.

“Kalau begitu, mari segera kita bawa burung ini ke hadapan kepala kampung, soalnya sebentar lagi hari mulai gelap,” kata salah seorang warga kampung.

Mereka pun segera keluar dari hutan dan langsung menuju rumah kepala kampung dengan membawa burung kekekow yang berhasil  mereka tangkap.  Sesampainya di  rumah  kepala  kampung,  mereka  disambut  dengan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

37

 

 

 

senyum sumringah oleh kepala kampung yang melihat kedatangan warganya dengan membawa burung kekekow hasil tangkapan mereka.

“Bagus kerja kalian,”  puji kepala kampung kepada warganya.

“Segera    masukkan    burung    kekekow    ini    ke dalam sangkar dan beri  makan. Besok pagi kita  akan membawanya ke balai desa,” kata kepala kampung.

Warga  kampung pun segera memasukkan burung kekekow ke dalam sebuah sangkar. Sungguh sedih hati burung kekekow. Badannya juga terasa sakit karena cengkeraman  tangan   yang  sangat  kuat   salah  satu warga.  Makanan  dan  minuman  yang  diberikan   oleh kepala kampung dan warga kampung tidak disentuhnya sama  sekali.  Burung  kekekow  berharap  bisa  segera keluar  dari  sangkar  yang  mengurungnya,  tetapi   apa daya sangkar itu terlalu  kuat baginya.

Keesokan pagi, kedua anak gadis janda tua itu seperti biasa menuju ke hutan tepatnya  di bawh pohon mangga tempat  burung kekekow bertengger.  Alangkah terkejutnya  kedua  kakak  beradik   itu   karena   tidak

 

 

sangat terkejut melihat banyaknya bulu burung kekekow berserakan di tanah.

“Kak, ke mana ya sahabat kita, burung kekekow?”

 

tanya sang adik.

 

“Entahlah, Dik. Kakak khawatir melihat bulu burung kekekow ini,”  sahut sang kakak dengan suara lirih.

“Iya ya, Kak, jangan-jangan ada pemburu yang masuk ke hutan dan menembak burung kekekow,” berkata sang adik sambil memungut bulu burung kekekow.

“Kalau  dugaan  kita  itu  benar,  sungguh  malang nasib sahabat kita. Burung kekekow begitu baik dan banyak membantu keluarga kita, Dik,” sahut sang kakak dengan wajah yang sedih.

“Kak, mari kita berdua berpencar di hutan ini untuk mencari  keberadaan  burung  kekekow,  sahabat  kita” ajak sang adik.

“Betul, Dik, mari kita sama-sama mencarinya, mungkin saja sahabat kita lagi bertengger di pohon lain yang ada dalam hutan ini,”  ujar sang kakak menimpali.

 

 

kekekow,  sahabat  mereka.  Namun,  setelah  beberapa jam menyusuri hutan, mereka tidak menemukan burung kekekow.  Keduanya  pun  kembali  bertemu  di  bawah pohon mangga yang besar tempat  mereka sering bermain dan bercanda bersama burung kekekow.

Kakak beradik  itu  lalu  menyandarkan  badan mereka ke batang pohon mangga sambil berpikir  apa yang sebenarnya terjadi pada burung kekekow sahabat mereka. Akhirnya,  kedua kakak beradik itu pun pulang ke rumah dan menceritakan kejadian itu kepada ibunya.

“Mengapa kalian sedih, Nak?” sapa ibunya

 

“Bu, tadi kami ke hutan dan menuju pohon mangga tempat burung kekekow biasanya bertengger,  tetapi sesampainya  kami  di   sana,  burung   kekekow  tidak ada. Malah kami menemukan bulu burung kekekow berserakan di tanah,” kata sang kakak.

“Apa? Burung kekekow sudah tidak  ada?” betapa terkejutnya sang ibu mendengar penjelasan kedua anak gadisnya.

 

 

burung kekekow yang baik hati itu?” Ibu berkata dengan suara lirih.

“Iya, Bu. Ke mana kita harus mencari burung kekekow itu?”  kata sang adik dengan nada sedih.

Sementara itu, warga kampung beramai-ramai membawa burung kekekow ke balai desa tempat biasanya  suatu  perkara  diputuskan.   Sesampainya di balai desa, kepala kampung memperlihatkan  sangkar yang di dalamnya ada burung kekekow.

“Warga kampung, saat ini di hadapan kita sudah ada seekor burung kekekow yang sakti. Saya katakan sakti karena burung ini akan memenuhi segala permintaan kita. Jadi, kalian boleh minta apa saja yang kalian inginkan,” seru kepala kampung di hadapan warganya dengan suara yang lantang.

Setelah mendengar perkataan kepala kampung, serentak warga beramai-ramai sampai berebutan meminta makanan kepada burung kekekow. Bahkan, bukan hanya makanan yang mereka minta. Peralatan rumah tangga sampai uang juga mereka minta kepada

 

 

para warga kampung yang meminta sesuatu dengan rakusnya, burung kekekow menjadi bertambah  geram. Burung kekekow hanya diam dan tidak memenuhi permintaan  warga kampung.

Kepala kampung pun mendekati burung kekekow dan berteriak. Dengan suara yang lantang kepala kampung menyuruh burung kekekow memenuhi seluruh permintaan warga kampung. Namun, burung kekekow tetap bergeming untuk mengabulkan permintaan warga kampung. Hal ini tentu saja membuat marah kepala kampung beserta warganya. Justru melihat kemarahan mereka burung kekekow memberikan rumput-rumput kering kepada warga kampung. Sikap dan perlakuan burung kekekow itu tentu saja membuat kepala kampung dan warga kampung semakin marah dan naik pitam.

“Dasar burung penipu! Kamu menghina kami, ya!”

 

bentak kepala kampung.

 

“Lenyapkan  saja burung itu!” teriak  salah satu warga kampung yang sangat marah terhadap perlakuan burung kekekow terhadap mereka.

 

 

seluruh warga kampung yang sedang kesal, marah, dan kecewa terhadap burung kekekow yang tidak memenuhi permintaan  mereka. Akhirnya,  seluruh warga kampung beserta kepala kampung bersepakat untuk melenyapkan burung kekekow tersebut.

Sementara itu, di rumah janda tua dan kedua anak gadisnya heran mendengar suara ribut-ribut dari arah balai desa.

“Dik, apakah kamu dengar sepertinya ada suara ribut-ribut di balai desa, ya?” tanya sang kakak sambil memandang ke arah balai desa.

“Iya, Kak, saya juga mendengarnya. Kira-kira ada apa ya?” balas sang adik.

“Entahlah, Dik,  mungkin  saja  ada  pencuri  atau ada warga kampung yang berselisih paham makanya di bawa ke balai desa,” jawab sang kakak.

“Tetapi, Kak, setahuku kampung kita ini sejak dulu aman. Tidak pernah terdengar ada pencuri atau pun orang yang berselisih paham,” jawab adiknya.

 

 

balai desa agar tahu apa yang sedang terjadi,” kata ibunya mengusulkan.

“Baik, Bu, kami berdua akan ke balai desa sekarang.” Kedua anak gadis itu  pun segera berlari  menuju

balai desa karena ingin mengetahui apa yang sedang terjadi. Alangkah terkejutnya saat melihat burung kekekow dalam sangkar. Ada warga yang siap untuk menyembelih burung kekekow.

Secepat kilat  kedua gadis tersebut  berlari  menuju rumahnya dan melaporkan kejadian yang menimpa burung kekekow. Setelah mendengar laporan anaknya, segera janda tua dan kedua anaknya  menuju ke balai desa.

Sesampainya di balai desa, mereka bertiga memohon kepada kepala kampung dan seluruh  warga kampung untuk tidak menyembelih burung kekekow. Bahkan,  ibu  dan  dua  anaknya  itu   rela  jika  warga kampung mengambil seluruh harta mereka asal burung kekekow jangan disembelih. Melihat kejadian ini, burung

 

 

sahabat yang rela berkorban demi dirinya.

 

Sayangnya, permintaan  ketiganya ditolak  oleh kepala kampung dan warga kampung. Ibu dan kedua anaknya itu berusaha agar burung kekekow itu tidak disembelih. Namun, apa daya mereka malah didorong dan ditendang oleh warga kampung.

Betapa sedih dan sakit hati janda tua dan kedua anaknya menyaksikan sahabat mereka, burung kekekow disembelih oleh warga kampung dengan sangat kejam.

Setelah  burung  kekekow  disembelih,  warga beramai-ramai mengambil dagingnya dan membuang tulang  belulang  burung  kekekow  di  belakang  rumah salah  satu  warga  kampung.  Mereka  makan  daging burung kekekow. Setelah memakan daging burung kekekow, warga kampung dan kepala kampung dengan senyum kemenangan pulang ke rumah masing-masing. Tinggallah janda tua dan kedua anak gadisnya di balai desa.

 

 

disembelih,”   kata  sang  adik  sambil  sesegukan  dan menghapus air matanya.

“Iya, Bu, tega sekali mereka dengan burung kekekow. Apa salah burung kekekow? Mereka tidak pernah diusik oleh burung kekekow. Malahan makanan yang biasa kita  berikan  ke warga kampung itu  semua pemberian dari burung kekekow,” kata sang kakak dengan sedihnya.

Melihat  kedua anaknya bersedih, sang ibu segera mengajak mereka pulang.

“Mari kita  pulang,  Nak. Kejadian  ini  memberikan kita pelajaran bahwa kita tidak bisa bersikap rakus terhadap sesuatu,”  ujar sang ibu.

“Maksudnya  rakus  seperti  apa, Bu?”  tanya  sang adik kepada ibunya.

“Seharusnya warga kampung dan kepala kampung tidak  meminta sesuatu dengan cara memaksa sebab semua makhluk ciptaan  Tuhan yang ada di muka bumi ini memiliki keterbatasan. Demikian pula halnya dengan burung   kekekow  juga   memiliki   keterbatasan.  Jadi,

 

 

tidak merepotkan makhluk lain.”  Sang ibu menjelaskan kepada kedua anak gadisnya.

“Mari, Nak, kita pulang. Namun, sebelum pulang, sebaiknya kita mengambil tulang belulang burung kekekow yang dibuang di belakang rumah salah satu warga kampung,” ajak sang ibu kepada kedua anak gadisnya.

Mereka bertiga segera menuju ke rumah salah satu warga kampung, yang belakang rumahnya untuk tempat membuang tulang belulang burung kekekow. Mereka bertiga  sangat berhati-hati memunguti  tulang  belulang burung kekekow dan membawanya pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, tulang belulang burung kekekow tersebut mereka bersihkan lalu mereka kuburkan di belakang rumah.

Setiap hari mereka membersihkan kuburan atau tempat  bersemayam tulang  belulang burung  kekekow. Mereka menyiram tanahnya lalu membersihkan. Setiap hari mereka dengan ikhlas melakukan itu. Meskipun burung kekekow sudah tidak ada lagi, kehidupan janda tua beserta kedua anaknya tidak kekurangan.

 

 

tersebut, kedua anak janda tua  tumbuh  menjadi gadis dewasa dengan memiliki paras yang sangat cantik. Kehidupan mereka pun tidak lagi sengsara karena semua pemberian burung kekekow mereka simpan dan rawat dengan baik.

Sementara itu, di atas kuburan burung kekekow tumbuh sebuah pohon yang besar dan tidak pernah berhenti  berbuah. Buah yang dihasilkan oleh pohon tersebut  menimbulkan aroma yang menyenangkan dan memiliki rasa yang sangat enak. Jika sang janda dan kedua anaknya merasa lapar,  mereka tinggal  memetik buah pohon tersebut. Janda tua dan kedua anak gadisnya tidak segan-segan membantu warga kampung yang kelaparan dengan memberikan buah dari pohon yang tumbuh  di  atas  kuburan  burung  kekekow yang telah disembelih oleh warga kampung itu sendiri.

“Bu, bersyukur ya kita dapat bersahabat dengan burung kekekow yang baik hati,” ucap sang kakak sambil membersihkan kuburan burung kekekow.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

49

 

 

kehidupan  kita  juga  berangsur-angsur  membaik, terlepas  dari  kesengsaraan,”  sahut  ibunya  yang juga turut membersihkan daun-daun  yang berguguran  dari pohon buah di atas kuburan burung kekekow.

“Bu, kita dapat merasakan kebaikan burung kekekow terhadap keluarga kita. Meskipun burung kekekow sudah tidak  lagi bersama kita,  kehidupan kita tetap  ditunjang olehnya,” kata sang kakak dengan perasaan haru.

“Maksud   kakak  bagaimana?”   tanya   sang  adik yang sedari tadi menyapu sekitar kuburan burung kekekow dan mendengarkan percakapan antara ibu dan kakaknya.

“Maksudnya,  sewaktu burung kekekow hidup, kita dibantu berupa makanan, peralatan rumah tangga, sampai air  untuk  kebutuhan  sehari-hari. Nah, setelah burung kekekow mati pun tetap kehidupan kita ditunjang olehnya. Buktinya,  di atas kuburan burung kekekow ini tumbuh pohon besar yang menghasilkan buah yang rasanya  sangat  enak.  Tentu  ini  suatu  bukti   bahwa burung  kekekow tetap  memperhatikan  kita  dan tidak

 

 

menjelaskan kepada adiknya dengan panjang lebar. “Benar  sekali  apa yang Kakak katakan.  Bahkan,

bukan hanya kehidupan kita saja yang ditunjang  oleh burung kekekow, melainkan juga kehidupan warga kampung yang kelaparan. Buktinya, kita memberikan buah dari pohon yang ada di atas kuburan burung kekekow  kepada  warga   kampung  yang  kelaparan,” jawab sang adik dengan penuh semangat.

“Nah, itu artinya  burung kekekow tetap menginginkan kita selalu berbuat baik terhadap sesama dan saling menolong, serta tidak boleh dendam, Nak. Sejahat apa pun  perlakuan orang, tetap kita  maafkan. Biarkan semuanya diatur  oleh Yang Mahakuasa,” jawab sang ibu terhadap anaknya.

“Iya, Bu, karena Tuhan itu  adil, tidak  akan membiarkan makhluknya menderita secara terus- menerus. Yang penting  kita  selalu mau berusaha dan berjalan  sesuai dengan aturan  Tuhan pasti  kehidupan kita akan baik,” tanggap sang kakak dengan bijaknya.

 

dan kita jadikan sebagai pelajaran dalam melakoni kehidupan,”   ujar   sang  ibu   sambil   memeluk  kedua anak gadisnya. Dalam hati janda tua tersebut sangat bersyukur   karena  memiliki  anak-anak  yang  memiliki hati yang baik sebaik burung kekekow, sahabat sejati mereka dan tidak melupakan budi baik burung kekekow. Saat alam pun memisahkan mereka dengan burung kekekow, jalinan persahabatan mereka tidak pernah putus karena saling mengingatkan untuk selalu berbuat baik terhadap sesama makhluk ciptaan Tuhan.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *