Cerita Rakyat Kalimantan Utara

BETAWOL

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ditulis  oleh

 

Suwanti

 

BETAWOL

Penulis          : Suwanti

Penyunting    : Rini Adiati  Ekoputranti Ilustrator      : Pandu Dharma W Penata Letak             : Desman

 

 

Diterbitkan pada tahun 2016 oleh

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Jalan Daksinapati Barat IV Rawamangun

Jakarta Timur

 

Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang

 

Isi buku ini, baik sebagian maupun seluruhnya, dilarang diperbanyak dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari penerbit,  kecuali dalam hal pengutipan untuk keperluan penulisan artikel  atau karangan ilmiah.

 

Kata Pengantar

 

 

Karya sastra tidak hanya rangkaian kata demi kata, tetapi  berbicara tentang kehidupan, baik secara realitas ada maupun hanya dalam gagasan atau cita-cita manusia. Apabila berdasarkan  realitas yang ada, biasanya karya sastra  berisi  pengalaman  hidup,  teladan,  dan  hikmah yang telah mendapatkan berbagai bumbu, ramuan, gaya, dan imajinasi. Sementara itu, apabila berdasarkan pada gagasan atau  cita-cita hidup,  biasanya  karya  sastra berisi ajaran moral, budi pekerti, nasihat, simbol-simbol filsafat (pandangan hidup), budaya, dan  hal  lain  yang berkaitan  dengan kehidupan manusia. Kehidupan itu sendiri keberadaannya sangat beragam, bervariasi,  dan penuh berbagai persoalan serta  konflik  yang  dihadapi oleh manusia. Keberagaman dalam kehidupan itu berimbas pula pada keberagaman dalam karya sastra karena isinya tidak terpisahkan  dari kehidupan manusia yang beradab dan bermartabat.

Karya sastra yang berbicara tentang kehidupan tersebut      menggunakan     bahasa     sebagai     media

penyampaiannya  dan    seni    imajinatif  sebagai   lahan

 

 

 

 

III

 

budayanya. Atas  dasar media bahasa dan  seni imajinatif itu,  sastra bersifat multidimensi dan  multiinterpretasi. Dengan menggunakan media  bahasa,  seni   imajinatif, dan matra  budaya, sastra  menyampaikan pesan untuk (dapat) ditinjau, ditelaah, dan  dikaji  ataupun dianalisis dari   berbagai   sudut   pandang.  Hasil  pandangan  itu sangat bergantung pada siapa yang meninjau, siapa yang menelaah, menganalisis, dan siapa yang mengkajinya dengan latar belakang sosial-budaya serta pengetahuan yang beraneka ragam. Adakala seorang penelaah sastra berangkat dari  sudut pandang metafora, mitos, simbol, kekuasaan, ideologi, ekonomi, politik, dan budaya, dapat dibantah penelaah lain dari sudut bunyi, referen, maupun ironi. Meskipun demikian, kata Heraclitus,  “Betapa  pun berlawanan  mereka bekerja  sama, dan dari arah yang berbeda, muncul harmoni paling indah”.

Banyak pelajaran yang dapat kita peroleh dari membaca karya sastra,  salah satunya  membaca cerita rakyat yang disadur atau diolah kembali menjadi cerita anak. Hasil membaca karya sastra selalu menginspirasi dan memotivasi  pembaca untuk  berkreasi  menemukan

sesuatu   yang   baru.  Membaca  karya   sastra   dapat

 

 

 

IV

 

memicu  imajinasi  lebih  lanjut,   membuka pencerahan, dan menambah wawasan. Untuk itu, kepada pengolah kembali  cerita   ini  kami  ucapkan  terima   kasih.  Kami juga menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih kepada Kepala Pusat Pembinaan, Kepala Bidang Pembelajaran, serta Kepala Subbidang Modul dan Bahan Ajar dan  staf atas segala upaya dan  kerja keras yang dilakukan sampai dengan terwujudnya buku ini.

Semoga buku  cerita ini tidak hanya bermanfaat sebagai bahan bacaan bagi siswa dan masyarakat untuk menumbuhkan budaya literasi  melalui  program Gerakan Literasi  Nasional,  tetapi   juga    bermanfaat   sebagai bahan pengayaan pengetahuan kita tentang kehidupan masa lalu  yang   dapat  dimanfaatkan dalam menyikapi perkembangan kehidupan masa kini dan masa depan.

 

 

Jakarta,     Juni 2016

 

Salam kami,

 

 

 

Prof. Dr. Dadang Sunendar, M.Hum.

 

 

 

 

 

 

 

V

 

 

Sekapur Sirih

 

 

Betawol adalah kisah seorang pemuda bernama Betawol yang artinya gagah dan tampan. Walau miskin, pemuda itu selalu semangat, tekun, dan bekerja keras untuk menafkahi kedua orang tuanya yang renta. Suatu hari pemuda itu melihat tujuh bidadari yang sedang mandi di danau. Satu bidadari bernama Dedari gagal kembali ke kayangan karena pakaiannya tidak ditemukan. Betawol memperistri Dedari. Semenjak itu, keluarga Betawol hidup bahagia dan makmur, bahkan padi di lumbung tidak pernah habis walau dimakan setiap hari. Semenjak  itu,  pula Betawol sering membuat irau/birau (pesta) untuk mensyukuri kejayaan itu.

Setiap irau, para undangan kagum pada kecantikan Dedari sehingga Betawol memaksa  Dedari untuk menari demi menghibur para tamu. Dedari menari menggunakan baju kayangan yang dicuri dan disimpan Betawol. Seiring dengan lengkingan gamelan tubuh  Dedari melayang ke langit. Tepatnya, di atas Sungai Sibuku, di Gunung Batu kawasan Tawau, Sabah, atau perbatasan Indonesia dengan Malaysia yang dipercayai sebagai wilayah asal suku Tidung.

Betawol dan anaknya mengejar Dedari dan terjerumus dalam

 

 

VI

 

 

gelombang tujuh (pertemuan arus sungai dan derasnya gelombang laut).  Atas izin Yang Mahakuasa,  anak Betawol selamat dan Betawol tidak dapat diselamatkan.

Terima kasih saya sampaikan kepada Badan Bahasa, para narasumber, ilustrator,  penyunting, pengatak, dan seluruh panitia yang bekerja keras memfasilitasi penerbitan buku ini. Semoga cerita ini bermanfaat dan menjadi tuntunan bagi para pecinta sastra, khususnya para siswa. Mudah- mudahan, penulisan ini  sekaligus sebagai penyelamatan cerita rakyat Kalimantan Utara yang berjudul Betawol.

 

 

Suwanti

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

VII

 

DAFTAR ISI

 

 

Kata Pengantar……………………………………….. iii Sekapur Sirih ………………………………………….. vi Daftar Isi ………………………………………………. viii

  1. 1. Betawol…….. ……………………………………… 1

 

Biodata Penulis ……………………………………….. 49

 

Biodata Penyunting ………………………………….. 50

 

Biodata Ilustrator ……………………………………. 51

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

VIII

 

 

 

 

 

Betawol

 

 

 

 

Siapakah orang itu? Dari manakah asalnya? Banyak orang yang membicarakan dan banyak pula yang penasaran dengannya. Pemuda Tidung itu tinggal  di sebuah desa, tepatnya di tepi Sungai Sibuku, daerah sekitar Tawau. Ia dikenal karena ketampanan dan kegagahannya. Itulah sebabnya ia dinamai Betawol yang berarti laki-laki, atau tepatnya pemuda tampan dan gagah.

Selain itu, ia dikenal karena kepandaian- nya mencari ikan, udang, damar, dan rotan. Walau dikenal gagah, ia hidup kekurangan sehingga harus bekerja keras membanting tulang   untuk   memenuhi  kebutuhan   kedua

orang tuanya.

 

 

 

 

 

1

 

 

 

 

 

 

Karena        berkekurangan,         pemuda itu sering dihina orang sekampungnya. Penghinaan demi penghinaan menjadi makanan sehari-hari bagi keluarganya.

Makin dihina,  ia makin terdorong untuk semangat dan bekerja keras.

Sejak remaja, ia ditempa kedua orang tuanya untuk bekerja di hutan dan di sungai. Ia sadar  bahwa dirinya tulang punggung keluarga. Orang tuanya  sudah tua dan tidak mungkin bekerja keras.

Ketika ayam belum berkokok, ia sudah berlari menembus hutan  untuk  berburu sambil  mencari  damar  dan  rotan.   Kakinya yang telanjang  dibawanya berlari hingga sering tertusuk duri dan terhantam sembulan

akar pepohonan raksasa.

 

 

 

 

 

 

 

2

 

 

 

 

 

 

Betawol  lari  pontang-panting saat berangkat dan pulang dari dan menuju hutan. Saat mencari damar dan rotan, luka dan amis darah di kaki menjadi santapan lintah  hingga lintah  menggendut dan berjatuhan setelah kenyang. Pontang-panting ia bekerja dari gelap  sampai gelap.  Lelah letih  tak  dirasa. Yang  ia  tahu hanya bekerja demi  menafkahi orang  tua  yang  renta.  Pertarungan   hidup yang dahsyat membentuknya menjadi pribadi yang keras dan kuat.

Perjalanan pulang dari hutan, mempertemukannya  dengan kakek tua seorang guru ilmu bela diri. Betawol mengisahkan perjalanan hidupnya yang keras kepada  sang  kakek.  Kakek  memahami  dan

menerima Betawol sebagai murid.

 

 

 

 

 

 

 

3

 

 

0-  ‘

 

 

 

 

 

 

Bertahun-tahun lamanya berguru, membuat Betawol menguasai banyak ilmu. Ia tumbuh menjadi laki-laki  yang lebih gagah, tampan, dan dewasa. Semenjak itu, namanya makin dikenal orang.

Betawol bekerja sepanjang hari hingga kelelahan dan tertidur di rimbun  pepohonan gisok (pohon kayu berukuran besar di wilayah pedalaman). Saat itu  terdengar suara gaduh luar biasa.  Antara  terjaga  dan  mengantuk, ia terpaksa bangkit dari tidurnya. Ketika kesadarannya belum penuh, ia mengira kegaduhan  bersumber   dari  makhluk  halus yang sering memunculkan suara-suara  aneh di hutan.

Hujan    lebat    mengguyur    bumi,    petir

 

bersahutan dan kilat menyambar tiada henti.

 

 

 

 

 

 

 

5

 

 

 

 

 

0

. .

.

 

 

 

 

 

 

Saat kesadarannya mulai utuh, Betawol ingin memastikan bahwa suara gaduh bukanlah suara makhluk halus penghuni hutan.  Betawol jalan berjingkat menuju sumber suara. Ia mengendap-endap ketika suara makin dekat. Rupanya,  suara  berasal  dari   danau  besar yang indahnya menyerupai surga.

Betawol  celingukan.  Ia  menoleh ke kanan-kiri serta terus mengendap-endap hingga tubuhnya terbungkuk-bungkuk. Matanya  menyisir  danau yang indah meyerupai taman surga.

“Astaga!” Ia terkejut sekaligus terpesona. Danau dipenuhi enam bidadari cantik yang berasal dari kayangan. Mereka bercanda,   tertawa-tawa,  dan   bersenang-

senang  sambil  berendam  di  danau.  Ketika

 

 

 

 

 

 

 

 

7

 

 

 

 

 

 

0

– –

 

 

 

 

 

 

 

menjelang  sore,  Betawol  kembali  melihat seorang bidadari yang turun  dari kayangan melalui tangga sinar pelangi berwarna tujuh, yakni   warna   merah,   jingga,   kuning,   hijau, biru,  nila, dan ungu. Tangga pelangi itu  segera menghilang   setelah   sang  bidadari  menapak ke bumi. Betawol    mengamati bidadari itu. Ternyata,  ia lebih cantik  jika dibandingkan dengan enam bidadari yang dilihat sebelumnya.

Sebelum berendam di danau, bidadari bungsu berganti  pakaian dan menempatkannya di tempat  berbeda dengan keenam kakaknya. Ketika  menjelang  sore  dan  hampir  gelap, keenam kakaknya mulai berganti  pakaian dan menuju tangga pelangi untuk bersiap kembali ke kayangan. Tak lama berselang, bidadari bungsu yang biasa dipanggil dengan sebutan Dedari itu

berteriak kebingungan.

 

 

 

 

 

 

9

 

 

 

 

 

 

G

.

 

 

 

 

 

 

 

“Aduh!  Di  mana  baju  gantiku?”   ucap

 

Dedari sambil celingukan.

 

“Kau simpan di mana?” ucap salah satu kakak yang mendengar suara Dedari.

“Kusimpan di sini. Aku tidak lupa!” ucap

 

Dedari dengan suara keras.

 

“Kalau tersimpan di situ pasti akan ada. Kami lalu-lalang  di sekitar itu sejak tadi,” bantah kakak yang lain.

“Aku tidak bohong dan buat apa berbohong,”  bantah Dedari mulai kesal.

“Habis bagaimana lagi? Mana mungkin kau  terbang  ke  kayangan  tanpa  baju  itu,” jawab kakak yang lain memastikan.

“Duh,  bagaimana ini?”  rintih Dedari mulai terdengar.

“Kalau      bajumu      tidak      ditemukan,

 

terpaksa kami tinggal,” ucap kakak tertua.

 

 

 

 

 

 

11

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

12

 

 

 

 

 

 

“Aduh,   jangan  tinggalkan   aku,”   ucap

 

Dedari merajuk.

 

“Tidak ada cara lain. Kau memang harus ditinggal,” ucap kakak kedua.

“Aduh!  Di  mana  baju  gantiku,”  ucap

 

Dedari sambil celingukkan.

 

“Kau simpan di mana?” ucap salah satu kakak yang mendengar suara Dedari.

“Kusimpan di sini. Aku tidak lupa!” ucap

 

Dedari dengan suara keras.

 

“Tunggu!    Tunggu   dulu,   Kak!”   teriak

 

Dedari makin keras.

 

“Tunggu apa lagi,”  ucap kakak kelima. “Aku   tidak   mau  di  hutan   sendirian,”

bantah Dedari berkaca-kaca.

“Hari makin gelap, Dik. Kami tidak mungkin menunggu sampai bajumu ditemukan,” ucap kakak keempat.

 

 

 

 

 

 

13

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

0   @

 

0

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Iya,  sayang.  Ketika  matahari tenggelam, kami tidak mungkin dapat terbang ke kayangan,”  ucap kakak tertua lembut.

“Berarti, aku benar-benar  sendirian di hutan,” ucap Dedari mulai meremas-remas kedua tangannya.

“Iya, cantik. Kalau kami terlambat naik, kita bertujuh  akan menjadi manusia bumi,” ucap kakak keempat.

“Ih…, tidak mau,” jawab keenam kakaknya hampir bersamaan.

“Jadi, kalian benar-benar  tega padaku,”

 

jawab Dedari mulai kesal.

 

“Tidak   ada  cara  lain,   cantik,”  jawab kakak tertua sambil menahan buliran  bening di ujung matanya.

“Masih   ada  waktu   sebelum  matahari

 

terbenam.   Kalau   bajumu   ditemukan,   kita

 

 

 

 

 

 

15

 

 

 

 

 

berangkat bersama ke kayangan,” ucap kakak kedua meyakinkan.

Dedari berlari ke belakang sambil menyibak rimbun dedaunan dan ongok bebatuan  di  beberapa  titik. Hasilnya  nihil. Ia melangkah gontai dan tersungkur  sambil mengusap buliran  bening yang makin membanjiri matanya.

“Waktu hampir habis, Dik!”  ucap para bidadari hampir serempak.

“Berarti  kita   harus   berpisah,”    ucap kakak  keempat.

“Baik-baiklah kau di hutan,” ucap kakak kedua.

“Carilah tempat yang terlindung dan aman.” Kakak keenam menambahkan.

“Menurutku, keluarlah  dari hutan  ini,”

 

ujar kakak pertama mengkhawatirkan.

 

 

 

 

 

 

 

16

 

 

 

 

 

“Carilah    tempat    yang    berpenghuni,”

 

kakak ketiga menambahkan.

 

“Ya, tetapi tetap  berhati-hati  dan waspada,” ucap kakak kelima dengan mata merah.

“Selamat tinggal,  adikku,”  ucap para bidadari hampir bersamaan.

“Adikku,  jaga diri baik-baik,” ujar kakak tertua sambil mengusap buliran  bening di matanya.

Dedari menengadah ke arah kakaknya yang melayang-layang di angkasa. Para bidadari melambaikan tangan sambil sesenggukan. Tak lama kemudian, keenam bidadari terbang melalui tangga pelangi. Tangga itu perlahan menghilang bersamaan dengan lenyapnya  bidadari dari pandangan

mata.

 

 

 

 

 

 

 

17

 

 

 

 

 

 

 

Dedari    bersimpuh    sambil    tergugu- gugu.  Ia   merasa  tidak   punya  siapa-siapa. Ia dicekam gelap. Ia diserang takut akan berbagai hal. Ia takut  tiba-tiba diserang binatang buas. Ia juga takut  makhluk halus mengeroyoknya.  Saat  itu,  ular berseliweran di atas pepohonan raksasa. “Ampun Tuhan, jangan-jangan umurku  tidak  lama  lagi,” gumam Dedari dalam hati.

Ia  takut  membuka mata,  ia  takut bergerak    karena    khawatir     mengundang para makhluk hutan.  Bersamaan dengan itu, perlahan Betawol menghampiri Dedari.

“Hai  gadis!  Apa yang kamu rasakan?”

 

tanya Betawol berulang kali.

 

“Tidak!  Jangan  ganggu   aku!”   teriak

 

Dedari histeris.

 

 

 

 

 

 

 

18

 

 

 

 

 

 

 

“Aku  tidak  akan  mengganggumu,” Betawol meyakinkan.

“Jangan!   Jangan  mendekat!”  teriak gadis itu makin histeris.

“Tolong!  Jangan dekati aku,” pinta sang gadis makin histeris.

“Kalau tidak mendekat, bagaimana mungkin aku  menolongmu,” bantah Betawol.

Dedari makin meringkuk saat Betawol mendekat. Karena penasaran, gadis itu membuka ekor matanya. Di hadapannya tampak sesosok laki-laki  berbadan tinggi besar. Gadis itu makin tersedu dan meringkuk ketakutan.

“Bukalah   matamu!”  perintah   Betawol

 

lembut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

19

 

 

 

 

 

“Tidak! Aku takut  dengan isi hutan ini,”

 

ucap gadis itu sesenggukan.

 

“Memang  kau pikir  isinya apa?” bentak

 

Betawol mulai kesal.

 

“Aku belum lihat, tetapi  aku merasa ngeri,” bantah gadis itu masih sesenggukan.

“Terserah! Kalau begitu, kau akan kutinggal  dan  terserah  kalau  diterkam macan!” ancam Betawol kesal.

Seketika  itu,  Dedari  membelalakkan mata. Ia membayangkan kalau ia sendiri di hutan dan benar-benar diterkam macan.

“Jangan!  Jangan tinggalkan  aku!”  ucap

 

Dedari memohon.

“Aku ikut kamu. Aku tidak mau diterkam macan,” jawab Dedari menghiba.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

20

 

 

 

 

 

“Kalau begitu, kita segera keluar dari hutan ini. Tidak baik malam gelap berada di hutan lebat,” ajak Betawol.

Dedari melangkah mengikuti Betawol. Dengan  kecepatan  tinggi   pemuda  itu berjalan   meninggalkan   hutan.   Walau terseok-seok, Dedari mengikutinya dari belakang. Sesampainya di tepi hutan, mereka beristirahat sejenak.

“Yakin,  kau  akan ikut  aku ke  rumah?”

 

tanya Betawol berulang kali.

 

“Iya, sekarang aku yakin,” jawab Dedari mantap.

“Rumahku masih sangat jauh,” Betawol meyakinkan.

“Tidak  apa-apa, yang penting aku tidak diterkam   macan,”   jawab  gadis  itu   dengan

nada lembut.

 

 

 

 

 

 

21

 

 

 

 

 

“Berjalan     jauh     kuat    tidak?”     tanya

 

Betawol menyelidik.

 

“Kuusahakan kuat,” janji gadis itu bersemangat.

“Sekarang,  perjalanan  kita  lanjutkan,”

 

ajak Betawol tegas.

 

“Mengapa harus sekarang?” tanya gadis itu sambil meringis.

“Karena takut dikejar macan,” jawab Betawol bergurau. Mereka melanjutkan perjalanan  penuh semangat. Setelah dua jam berjalan,  sampailah mereka di tepian  Sungai Sibuku dan satu jam berikutnya  sampailah ia di rumah Betawol.

“Ibu! Ayah!”  teriak  Betawol sambil mencium telapak tangan keduanya.

“Anakku,  Betawol.  Lama sekali  kau  di

 

hutan,” ucap ibu bernada khawatir.

 

 

 

 

 

 

 

22

 

 

 

 

“Maaf, Bu. Saya telah membuat khawatir Ayah dan Ibu,” ucap Betawol bernada menyesal.

“Tidak mengapa, yang penting kau telah sampai dengan selamat,” jawab ayah dengan bijak.

“Ini siapa?”  tanya  ibu  sambil  mencuri pandang dan mengamati Dedari.

“Saya mendapatinya sedang menangis sendirian di hutan,” jawab pemuda itu dengan perasaan malu pada ibunya.

“Mengapa  sendirian  di tengah  hutan?”

 

tanya ayah penasaran.

 

“Ceritanya panjang, Pak,” jawab Dedari tersipu.

“Sebenarnya saya bukan makhluk bumi,”

 

jawab gadis itu polos.

 

“Lalu,     siapa     kamu    sesungguhnya?”

 

tanya ibu khawatir.

 

 

 

 

 

23

 

 

 

 

 

 

“Saya orang kayangan, Bu,” jawab gadis itu perlahan.

“Lho, kok bisa begitu?”  ucap ayah kebingungan.

“Saya dan keenam kakak saya bermain ke bumi untuk mandi di danau yang indahnya menyerupai surga,” tutur gadis itu.

“Lalu, mengapa kau jadi sendirian di hutan?”  tanya ibu bingung.

“Ketika  turun  ke bumi saya telat, Bu!”

 

ucap gadis itu lugu.

 

“Mengapa bisa begitu?” tanya ayah bertambah bingung.

“Saya tidak cekatan seperti kakak-kakak saya,” aku gadis itu jujur.

“Mengapa bisa begitu?”  tanya ibu mulai

 

sedikit pusing.

 

 

 

 

 

 

 

 

24

 

 

 

 

 

 

“Keenam kakak saya bangun lebih pagi dibanding saya. Jadi, saya tertinggal dalam acara  mandi  di  bumi,”   jawab  sang  gadis dengan polos.

“Lalu, apa hubungannya dengan kesendirianmu  di hutan?”  tanya  ibu bertambah pusing.

“Ketika  diajak segera ke bumi, saya mengabaikan nasihat kakak,” jawab gadis itu dengan mata basah.

“Mengabaikan?  Maksudnya?” tanya bapak ikut pusing.

“Ketika mereka mengajak dan menaiki tangga pelangi, saya jawab nanti saja, gampang!” ucap gadis itu tergugu-gugu.

“Terus,  apa masalahnya?”  tanya  bapak

 

tambah pusing.

 

 

 

 

 

 

 

 

25

 

 

 

 

 

 

“Akhirnya, saya telat ke bumi dan di hu- tan sendirian,” ucap gadis itu mempersalahkan

diri.

 

“Pulangnya mengapa tidak bersama- sama?” tanya ibu sambil memegangi kepala.

“Karena   baju  ganti  saya  hilang.  Jadi, saya tidak dapat kembali ke kayangan,” jawab gadis itu sesenggukan.

“Lalu,  mengapa? Bukankah sementara bisa memakai daun-daun lebar yang ada di hutan?”  tanya ibu penasaran.

“Karena tanpa baju itu, kami tidak dapat kembali ke kayangan.” Gadis itu terdiam  dan terus mengusap matanya yang basah.

“Sekarang      urusannya      bagaimana?”

 

tanya bapak kebingungan.

“Sekarang  saya  dikutuk  menjadi manusia  bumi  dan  tidak  dapat  kembali  ke

 

 

 

 

 

 

26

 

 

 

 

 

 

kayangan selama baju itu belum ditemukan,” ucap gadis itu sambil meledakkan tangis yang gagal ditahan.

“Lalu,   kami  harus  bagaimana?”  tanya ibu bertambah bingung.

“Terserah    Bapak    Ibu    saja?”    jawab

 

Dedari singkat.

 

“Ini  bukan  masalah  terserah,   tetapi masalah nyawa,” jawab ayah masih bingung. “Hah, nyawa?” tanya Betawol gelagapan.

“Iya,    nyawa!    Nyawa    temanmu    itu,”

 

bentak ayah tegas.

 

“Siapa  nama temanmu  itu?”  tanya  ibu mulai melembut.

“Dedari, Bu!”  jawab perempuan  muda itu perlahan.

“Kini  kau tahu keadaan kami sekeluarga

 

yang serba kekurangan,”  ucap ibu merendah.

 

 

 

 

 

 

27

 

 

 

 

 

 

“Iya, Bu! Saya paham,”  jawab Dedari berhati-hati.

“Kalau sudah paham, kau harus memutuskan untuk tinggal di sini atau keluar dari rumah ini?” tanya Betawol tegas.

“Apa pun yang terjadi, aku tetap tinggal di sini,”  jawab Dedari pasrah.

“Silakan   bila  mau,  tetapi   hidup  kami serba seadanya,” ucap ibu.

“Terima  kasih, dengan senang hati tawaran  Ibu  saya terima,” jawab Dedari mantap.

Semenjak beberapa  hari  tinggal  di rumah Betawol, Dedari menjadi pusat perhatian. Rumah pemuda itu jadi ramai dikunjungi para penduduk. Rata-rata, mereka penasaran   dan  ingin   menyaksikan  betapa

cantiknya  putri  Dedari yang diributkan para

 

 

 

 

 

 

28

 

 

 

 

 

 

tetangga Betawol. Makin hari penduduk yang berdatangan makin banyak. Bahkan, sebagian berasal dari negeri yang sangat jauh. Bahkan, Betawol didatangi  tetua adat.

“Assalamualaikum!” teriak tetua adat yang sering dipanggil dengan sebutan Dato.

“Wa alaikum salam!” balas ayah Betawol sambil bergegas membukakan pintu.

“Silakan    masuk,    Dato!”    sambut    ibu

 

Betawol dengan ramah.

 

“Ada   apa,   Dato?   Tumben   pagi-pagi sudah sampai di sini!” sapa ayah tak kalah ramah.

“Kudengar ada gadis yang menginap di sini?” tanya Dato berhati-hati.

“Betul, Dato. Kami mau laporkan kepada

Dato, tetapi  belum sempat,” kata ayah tak kalah hati-hati.

 

 

 

 

 

 

29

 

 

 

 

 

 

“Sebaiknya, segera dilaporkan,  tetapi ditunggu-tunggu tak kunjung melapor,”  balas Dato.

“Mohon   maaf, Dato. Beberapa hari   ini

kami  kelelahan,”  jawab  ibu  masih membela diri.

“Memang habis bekerja apa? Sepertinya sibuk sekali!” ucap Dato menyelidik.

“Tidak bekerja apa-apa!” bantah ayah. “Iya,  kami  kelelahan   karena   diserbu

tamu dari berbagai desa yang ingin berkenalan dengan gadis itu,” jawab ibu polos.

“Tidak  masalah. Sebagai tetua  adat, bolehkah saya berpendapat?” tanya Dato dengan tegas.

“Silakan!  Dengan senang hati kami akan

 

mendengarkan,”  jawab ayah dengan santun.

 

 

 

 

 

 

 

 

30

 

 

 

 

 

 

“Sebenarnya, seseorang menginap di rumah  orang  lain  bukanlah  masalah,”  ucap Dato tak kalah santun.

“Lalu,  mengapa harus  dibahas?”  tanya

 

Betawol.

 

“Permasalahannya, yang menginap seorang gadis,” ucap Dato lembut.

“Lalu,      mengapa     dipermasalahkan?”

 

tambah Betawol.

 

“Permasalahannya    lagi,    yang    punya rumah seorang pemuda,” ucap Dato perlahan. “Lalu,   permasalahannya   apa?”   tanya

Betawol keheranan.

 

“Permasalahan     sesungguhnya,     gadis dan pemuda yang bukan muhrimnya dilarang tinggal satu rumah,”  jawab tetua adat tegas. “Kami tidur              berbeda           kamar,”         ucap

Dedari perlahan.

 

 

 

 

 

 

31

 

 

 

 

 

 

“Saya  mengerti,   tetapi   orang  di  luar sana tidak mengerti itu.” Dato menjelaskan.

“Yang     penting     kami     tidur     terpisah

 

kamar,” ucap Betawol membantah.

 

“Tetapi, orang tidak mengerti dan menimbulkan fitnah untuk kalian,” bantah Dato geram.

“Memang ada  yang   memfitnah  kami?”

 

tanya Dedari murung.

 

“Banyak!” jawab Dato singkat.

 

“Oleh  karena  itu,   kalau  kalian  saling suka, sebaiknya kalian menikah,”  saran Dato tetua adat.

“Bagaimana pendapat kalian?” tanya tetua itu.

“Terserah  mereka,”  ucap ayah dan ibu

 

hampir bersamaan.

 

 

 

 

 

 

 

 

32

 

 

 

 

 

 

“Bagaimana, Dedari? Apakah kalian bersedia kunikahkan?” tanya tetua adat.

“Tidak  punya pilihan lain sebab ingin ke kayangan tidak mungkin tanpa baju bidadari,” jawab Dedari pasrah.

“Kalau Ayah dan Ibu merestui, aku bersedia,” jawab Betawol sambil mengalihkan pandangan ke orang tuanya.

“Asal  kau suka, Ayah merestui  kalian,”

 

ucap ayah perlahan.

 

“Ibu merestui,  asal kalian  tulus,” ucap ibu menambahkan.

“Kalau tidak menikah, salah satu dari kalian  harus  keluar  dari  rumah  ini,”   ucap Dato tetua adat tegas.

“Aku  tidak  mungkin keluar dari  rumah-

 

ku,” ucap Betawol dengan wajah mendung.

 

 

 

 

 

 

 

 

33

 

 

 

 

 

 

“Aku juga tidak mungkin keluar dari rumah ini sebab aku tidak punya siapa-siapa di bumi,” ucap Dedari dengan wajah pasrah.

“Dengan restu  orang tua dan izin tetua adat, kalian akan segera kunikahkan,”  ucap sang Dato dengan wajah lega.

Hari yang ditentukan tiba.  Betawol dan Dedari   dinikahkan   secara  adat   oleh  Dato tetua  adat. Pernikahan berjalan khidmat dan iraw/birau (pesta)   berjalan sangat meriah. Tamu yang datang terlihat gembira menikmati hidangan dan alunan gamelan tradisional.

Sembilan bulan setelah menikah, mereka dikarunia  anak laki-laki  yang ketampanannya mengalahkan sang  ayah. Semenjak menikah dengan Dedari,  Betawol  hidup  makmur  dan

tidak pernah kekurangan.

 

 

 

 

 

 

 

 

34

 

 

 

 

 

Padi di lumbung selalu penuh seolah tak pernah terpakai.  Padahal, padi itu setiap hari dimakan terus  tanpa henti.  Bahkan, Betawol bertambah  kaya dan terkenal  hingga banyak penduduk yang berdatangan untuk kembali membuktikan     kekayaan    dan    kecantikan istri  Betawol. Semenjak itu,  Betawol sering membuat iraw,  pesta syukuran  hingga tujuh hari tujuh malam.

Setelah panen padi, Betawol kembali membuat iraw sekaligus merayakan kelahiran anak yang belum sempat dilakukannya. Penduduk kembali berdatangan untuk merayakan pesta itu. Musik bersahutan dan makanan berlimpah ruah. Semua yang datang bergembira   dan   Betawol   memperkenalkan

istrinya     kepada  para  tamu.  Banyak  tamu

 

 

 

 

 

 

 

 

 

35

 

 

 

 

 

 

yang terkejut melihat kecantikan Dedari yang melebihi dari sebelumnya.

Para tamu meminta agar Dedari menari untuk  para  tamu  undangan.  Wanita  itu menolak untuk  menari. Akan tetapi,  Betawol memaksa terus.

Saat pesta, Betawol ingin menunjukkan kepada tamu undangan bahwa selain cantik, istrinya juga pandai menari. Berkali-kali sang istri menolak permintaan suaminya untuk menari, tetapi  berkali-kali pula pula Betawol memaksa istrinya untuk  menari. Akhirnya, Dedari bersedia menari asalkan memakai pakaian kayangan yang pernah hilang.

“Suamiku,  aku bersedia  menari,  tetapi ada syaratnya,” pinta Dedari.

“Apa   syaratnya,   katakanlah,”      jawab

 

Betawol menantang.

 

 

 

 

 

 

36

 

 

 

 

 

 

“Asalkan memakai baju kayangan milikku yang pernah hilang,”  pinta Dedari dengan wajah murung.

“Baiklah,  akan kuikuti  permintaanmu,”

 

jawab Betawol tertantang.

 

Betawol ke belakang sejenak. Ia menuju ke lumbung padi. Sebagian padi disingkirkan secepatnya, lalu ia menarik kain alas lumbung padi dan membawanya ke hadapan sang istri. “Istriku, ini  bajumu  yang hilang  dulu,”

ucap Betawol dengan tegas.

 

“Mengapa  baju ini ada padamu?” tanya sang istri  dengan suara gemetar.

“Yah,   baju   ini  aku  yang   menyimpan,”

 

ucap Betawol sekenanya.

 

“Dari  mana  kau  dapatkan   baju  itu?”

 

tanya sang istri  dengan mata berkaca-kaca.

 

 

 

 

 

 

 

 

37

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

e

.

 

 

 

 

 

“Dari pinggiran  danau,”  jawab Betawol jujur.

“Jadi,  kau yang selama ini menyembunyikan bajuku,”  ucap Dedari bersamaan dengan ledakan tangisnya.

“Benar,  tetapi  nasi  sudah  menjadi bubur. Sudah telanjur. Mau diapakan lagi,” ucap Betawol.

“Baiklah,  akan kupakai  baju ini,”  ucap

 

Dedari dengan wajah mendung.

 

Sambil terburu-buru Dedari memakai baju kayangan itu. Lalu, ia kembali ke tengah- tengah tamu undangan. Seperti janjinya kepada Betawol, ia pun menari untuk para tamu.  Ketika itu,  suara gamelan melengking di udara.

Dedari menari dengan  lembut.  Musik dan  tarian   makin  lama  makin  keras  dan

telapak kaki Dedari mulai terangkat perlahan

 

 

 

 

 

39

 

 

 

 

dari  tanah,  makin  lama  makin  tinggi,   dan sampailah di atas genting.

“Selamat tinggal, suamiku,” ucap Dedari hampir tak terdengar.

“Tidak,  istriku! Aku tidak ingin berpisah darimu,”  balas  Betawol  dengan  suara bergetar.

“Tidak,  suamiku! Kita memang harus berpisah,” ucap Dedari dengan suara lirih.

“Tidak mungkin! Kita tidak mungkin terpisahkan!” bantah Betawol.

“Kini,  dunia kita sudah berbeda,” jawab

 

Dedari perlahan.

 

“Apanya  yang berbeda? Selama ini kita hidup bersama tanpa ada perbedaan,” bantah laki-laki  itu.

“Kau    makhluk    bumi,    sedangkan    aku

 

makhluk langit,” balas Dedari mulai tegas.

 

 

 

 

 

 

 

40

 

 

 

 

“Nyatanya, selama ini kita bisa hidup bersama,” bantah Betawol.

“Akan tetapi, aku harus kembali ke asalku,” Dedari menegaskan.

“Tidak, kau tidak boleh kembali ke sana,”

 

bantah Betawol makin gencar.

 

“Tidak ada seorang pun yang boleh menghalangiku,” bantah Dedari.

“Bagaimana dengan anak kita?”  ucap Betawol   sambil   terus   mengusap  matanya yang basah.

“Anak    kita    tidak    mungkin    kubawa sebab dunianya berbeda denganku,”  Dedari menjelaskan.

“Akan tetapi,  ia masih sangat membutuhkanmu,”  bantah Betawol.

“Aku   tahu   itu,   tetapi   tidak   mungkin kami bersatu,” jawab  Dedari dengan wajah

memerah.

 

 

 

 

 

41

 

 

 

 

“Si   kecil   akan  merindukanmu,”  ucap

 

Betawol melemah.

 

“Sama,  aku  pun  akan  merindukan kalian,” ucap Dedari dengan mata basah.

“Oleh karena itu,  janganlah  kau pergi,”

 

ucap Betawol ingin mencegah.

 

“Aku harus pergi. Waktunya telah tiba. Selamat tinggal suamiku dan kecup sayang untuk anakku,” ucap Dedari sambil terus melayang di angkasa.

Para  tamu  undangan  menghambur  ke arah   Betawol.   Sementara   Betawol   berlari dan terus  mengikuti  jejak Dedari di angkasa hingga sampai ke Gunung Batu.

Dedari   melayang-layang   di   atas Gunung Batu  dan  Betawol  tetap  mengikuti di bawah gunung itu. Secara tidak sengaja, Betawol    terus    memegangi   kampak   yang

sejak tadi  berada  di  genggamannya.  Kapak

 

 

 

 

 

42

 

 

 

 

itu  digunakannya  untuk  mengampaki  Gunung Batu hingga gunung itu meruncing pada bagian bawahnya.

Betawol sadar bahwa   sang istri  akan kembali ke asalnya. Sambil terus mengusap buliran bening di kedua  ekor matanya, Betawol terus mengejar istrinya yang terus melayang menuju pusat Gunung Batu di kawasan Tawau, Sabah, tepatnya  di daerah perbatasan antara Indonesia dan Malaysia.

Sesampainya di gunung itu,  Betawol memohon agar sang istri  memaafkan dirinya dan bersedia turun serta kembali padanya. Karena tidak  dipenuhi   permintaannya, Betawol marah dan kembali mengampaki Gunung Batu hingga gunung itu benar-benar runcing di bagian bawahnya dan rubuh pada bagian atasnya. Walaupun  demikian,  Betawol  tetap   mengejar

kembali istrinya.

 

 

 

 

 

43

 

 

 

 

 

“Pulanglah, suamiku! Janganlah kau mengikutiku  terus,” ucap Dedari mulai kesal.

“Sampai kapan pun aku akan terus mengikutimu,” bantah Betawol terengah- engah.

“Setelah ini, kau tidak akan lagi dapat mengikutiku,” balas Dedari.

“Mengapa  begitu?”   tanya  Betawol dengan wajah bodoh.

“Karena   aku  akan  benar-benar   hilang dan  tak  terlihat  lagi,”   ujar  Dedari dengan mata basah.

“Kalau  begitu,  apa pesanmu untuk  anak kita?”

Rawat dan didiklah agar kelak menjadi orang berguna bagi sesama,” pinta Dedari sambil membasuh cairan bening di ujung matanya.

“Itu pasti  kulakukan,”   jawab  Betawol

 

dengan mata merah.

 

 

44

 

 

 

 

 

“Ayah!  Ayah! Ibu di mana Ayah?” tanya anak Betawol.

“Ibu di  langit,  sayang,”  jawab  Betawol menahan haru.

“Di langit  mana, Ayah!”  tanya bocah itu penasaran.

“Di  atas pelangi,”  jawab sang ayah singkat.

“Ayah,   aku  diantar  kakek  dan  nenek untuk menemui Ibu,” ujar bocah polos itu.

“Anakku! Jaga dirimu  baik-baik,” ucap Dedari sambil mendekat dan memeluk anaknya sejenak.

“Baik, Bu,” ucap bocah itu spontan. “Patuhilah                     ayah,    nenek,    dan    kakek.

Jangan  pernah  membantah  mereka,”   ucap

Dedari sambil berkaca-kaca. “Baik, Bu!” jawab bocah itu.

 

 

 

 

 

 

45

 

 

 

 

 

 

“Sebentar lagi purnama tiba. Pada masa  itu,   para  bidadari   akan  turun   ke bumi. Apabila ingin bertemu denganku, bawalah putra  tercinta ke muara Sungai Sibuku di antara Sungai Sumbol dan Tidong Patag, tetapi  seminggu sebelum purnama persiapkanlah tempat pertemuan berupa mahligai untuk mengetahui posisimu dan putra kita berada,” pinta Dedari kepada Betawol.

Saat yang ditentukan tiba. Betawol menyiapkan mahligai untuk istrinya. Sang istri bergabung dengan enam bidadari yang merupakan saudara kandungnya. Mereka datang melalui tujuh tangga pelangi. Bersamaan   dengan   itu,    datang    tujuh

gelombang  disertai   bayangan  istrinya  di

 

 

 

 

 

 

 

 

46

 

 

 

 

 

 

tengah sungai. Saat itu,  Betawol bersama anaknya terjun  ke tengah sungai menuju bayangan yang disertai gemuruh gelombang tujuh serta dahsyatnya goncangan bumi. Betawol  tidak   dapat   diselamatkan,   atas izin Yang  Mahakuasa putranya dapat diselamatkan.

Ketika dewasa, putra Betawol menikah dengan penduduk setempat hingga beranak cucu sebagai cikal bakal atau asal mula suku Tidung Sibuku. Untuk mengenang kakek moyang suku Tidung Sibuku yang bernama Yaki Betawol atau Aki Betawol yang  berarti Kakek Betawol dan untuk mengenang nenek moyang mereka yang bernama Dedari atau Bidadari  Bungsu  (bidadari  terakhir   dari

tujuh   bersaudara),    ditulislah  asal-usul

 

 

 

 

 

 

 

 

47

 

 

 

 

suku  Tidung  Sibuku,  bahkan     pernah  ada yang  membuatkan   syairnya   dengan  judul

Putri Batu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

48

 

Biodata Penulis

 

 

Nama                 : Suwanti

Pos-el                 : wantiisdi@yahoo.co.id

Bidang Keahlian : Kepenulisan

 

 

Riwayat Pekerjaan

Staf  Subbidang Revitalisasi Badan Pengembangan dan  Pembinaan Bahasa (1993–sekarang)

 

Riwayat Pendidikan

Fakultas Sastra Universitas  Sebelas Maret,  Solo

(1991)

 

 

Judul Buku dan Tahun Terbit:

  1. 1. Hasil Sebuah Perjuangan (2000)
  2. 2. Cerita remaja Pengadilan Abu Syahmah (2008)
  3. 3. “Titisan Sumur Bandung” (2007)
  4. 4. “Lintah Raksasa dan Dewi Gangga”;“Bayi Lintah”;

dan“Mencari Ayah” (2012 dan  2014)

 

 

Informasi Lain:

 

Lahir di Solo, Jawa Tengah, 17 Agustus 1964

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

49

 

Biodata Penyunting

 

 

Nama                 : Dra. Rini Adiati Ekoputranti, M.M. Pos-el                          : riniae@gmail.com

Bidang Keahlian : Penyuntingan

 

 

Riwayat Pekerjaan

Peneliti  Pusat Pembinaan, Badan Pengembangan dan

Pembinaan Bahasa

 

 

Riwayat Pendidikan

  1. S-1 Bahasa dan Sastra Indonesia
  2. S-2 Manajemen
  3. S-2 Pendidikan Bahasa Indonesia

 

 

Informasi Lain

Lahir di Bandung pada tanggal 21 Juli 1957. Sepuluh tahun terakhir Rini telah menyunting modul untuk Lemhanas dan lampiran  pidato  presiden di Bappenas. Ia juga menyunting  naskah dinas pilkada di Mahkamah Konstitusi, di samping aktif menyunting seri penyuluhan dan cerita  rakyat  di Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

50

 

Biodata Ilustrator

 

 

Nama                 : Pandu Dharma W

Pos-el                : pandudharma1980@gmail.com

Bidang Keahlian: Ilustrator

 

 

Judul Buku dan Tahun Terbitan

  1. Seri Aku Senang (Zikrul Kids)
  2. Seri Fabel Islami (Anak Kita)
  3. Seri Kisah 25 Nabi (Zikrul Bestari)

 

 

Informasi Lain

Lahir di Bogor pada tanggal 25 Agustus. Mengawali kariernya  sebagai animator  dan  beralih  menjadi ilustrator lepas pada tahun 2005. Hingga sekarang, kurang lebih sudah terbit sekitar lima puluh buku yang diilustratori oleh Pandu Dharma.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

51

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *