Andini masih menatapi mulut eyang kakungnya yang bergerak- gerak saat menyampaikan cerita mengenai naga Taksaka yang menggigit Raja Agung Astina karena karmanya.

 

“Nah, begitulah kisah hidup manusia. Parikesit sebagai raja yang agung tidak akan menyangka bahwa ajalnya hanya karena digit oleh ular naga,” kata eyang kakung Andini.

 

“Manusia    itu    ternyata    sifatnya    bermacam-macam, ya, Eyang. Kasihan Parikesit! Hanya karena tidak dijawab pertanyaannya oleh Begawan Samiti, langsung marah.”

 

“Itulah, Andini,” eyang kakungnya kembali berkata, “barangsiapa   berbuat   baik,   kelak   akan   menerima   kebaikan pula. Demikian pula sebaliknya. Siapa yang menanamkan benih kejahatan akan memetik buahnya yang kurang menyenangkan,” tambah eyang kakung Andini.

 

“Oh, begitu, ya, Eyang!” jawab Andini.

 

“Ya, begitu, Andini. Nah, sudah sana kamu ke eyang putri. Kita sudah ditunggu untuk makan malam, yuk!” kata eyang kakung sambil menggamit tangan Andini menggandengnya masuk ke dalam rumah.

 

Malam itu, setelah makan, Andini duduk manis di dekat eyang putri dan ibunya. Dengan telaten, dijawabnya setiap pertanyaan yang dilontarkan oleh eyang putrinya. Pertanyaan itu berkisar tentang sekolah dan seputar teman sekolahnya. Mereka mengobrol hingga larut malam. Andini tidur terlalu malam sehingga esok harinya Andini bangun kesiangan. Eyang kakung

 

sudah pergi ke tempat pertemuan dengan teman-temannya. Andini lalu mandi dan sarapan menjelang tengah hari. Setelah makan, dia mencoba memunguti ulat-ulat di pohon kaca piring. Andini tidak dapat menahan rasa geli setiap melihat ulat itu menggeliat ketika  dia  tarik  dari  dedaunan  yang  sudah  separuh  dimakan ulat. Bosan dengan mencari ulat, Andini berjalan-jalan perlahan keluar halaman dan menyusuri jalan kompleks perumahan yang ditempati eyangnya.

 

Di belakang kompleks perumahan itu terbentang sawah yang luas sampai tepian gunung. Gunung itu tegak bagai raksasa. Nama gunung itu Slamet. Saat itu udara cerah dan langit biru. Sosok Gunung Slamet di kejauhan terlihat jelas. Jurang-jurang di gunung itu membentuk alur-alur gelap dan hutan seakan bercak hijau kebiruan. Beberapa tempat terlihat memerah. Kata eyang, tempat yang terlihat merah itu gundul tidak tumbuh tanaman. Andini menatapi gunung itu diam. Seakan gunung itu menyimpan misteri cerita yang membangkitkan keingintahuan orang untuk menyelidiki.

 

Andini teringat pada Parikesit yang terbunuh oleh naga Taksaka. Dia melihat seakan Parikesit mengambang dan berbaring nyaman di gumpalan awan putih yang perlahan-lahan bergerak di sekitar puncak Gunung Slamet. Awan itu bergerak pelan seperti mengapung di atas cakrawala. Selalu hati Andini tersentuh melihat awan itu. Ada keindahan, ada kepedihan, dan ada kekaguman.

 

Dia   membayangkan   Parikesit   itu   bagai   awan   putih. Dia adalah raja agung, raja besar, dan namanya termasyhur ke seluruh kerajaan-kerajaan lain selain Astina. Parikesit melayang dibawa angin. Kehidupan bagaikan angin yang mengambangkan

 

dan  memabukkan.  Parikesit  lupa  bahwa  hidup  berkuasa  itu tidak hanya untuk dirinya sendiri, dia tidak dapat berada di atas cakrawala, dia harus membumi.

 

“Awan itu indah, aku membayangkan seperti Parikesit. Entah mengapa setiap melihat awan menggumpal di langit dan berwarna putih, aku selalu ingat Parikesit,” kata Andini berkata sendiri.  “Ah, biarlah!   Parikesit, ya, Parikesit! Awan, ya, awan, tetap berada di atas cakrawala dan berwarna putih,” kata Andini kembali. “Aku tanyakan pada eyang kakung ah, mengapa awan putih selalu menarik jika dia bergumpal dan berjalan pelan di atas cakrawala,” kata Andini sambil berbalik menuju rumah eyangnya.

 

Kembali Andini mencari eyang kakungnya yang baru pulang dari pertemuan dengan teman-temannya. Andini selalu haus mendengar cerita dari eyangnya. Dia mendapat banyak pengalaman dari cerita-cerita yang didongengkan oleh eyang kakungnya itu. Masih beberapa hari lagi dia tinggal di rumah eyang. Ibu Andini sudah pulang ke Jakarta dan Andini akan dijemput oleh ibunya jika masa liburan telah selesai.

 

Eyang kakung dan eyang putri senang ada Andini bersama mereka. Ada teman berbincang-bincang bagi eyang putri dan ada orang yang akan memakan setiap makanan yang dimasaknya. Eyang kakung senang karena Andini tekun mendengar setiap ceritanya. Andini adalah cucu yang baik. Bagi kedua eyang itu, Andini bagai segumpal awan putih yang berjalan pelan di atas cakrawala dibantu oleh tiupan angin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *