Pagi itu cuaca bersinar aneh. Matahari yang muncul dari ufuk timur menyemburatkan warna merah biji saga. Kesannya bukan indah, tetapi sangat mengerikan. Angin yang berhembus serasa menusuk tulang. Pagi yang aneh yang seharusnya dapat membangkitkan semangat manusia untuk memulai kehidupan malah terkesan menyeramkan. Sepertinya udara dipenuhi bau kematian. Orang- orang malas keluar rumah. Badan mereka seakan meriang tertusuk angin. Banyak penduduk keluar rumah menggunakan selimut dari kain sarung untuk melindungi kulit dari hembusan udara dingin dan menutupi muka dari butiran pasir yang diterbangkan angin.

 

Di sebuah tempat mengarah ke Kerajaan Astina, berjalanlah seorang brahmana bernama Kasyapa. Dia akan menghadap Raja Astina untuk menolong Raja Parikesit dari kutukan Srenggi. Kasyapa mendengar kutukan itu. Kasyapa setiap hari berjalan berkelana ke pelosok-pelosok daerah Kerajaan Astina. Di tengah jalan, Kasyapa bertemu dengan naga Taksaka, tetapi Kasyapa belum pernah mengenal naga itu. Lalu, Kasyapa menyapa, “Siapakah engkau yang melewati jalanku?”

 

“Hai Brahmana, hendak ke mana jalanmu?” tanya Taksaka.

 

“Aku Kasyapa,” jawab brahmana itu, “Aku akan ke Istana Raja Parikesit. Tidak tahukah kamu bahwa Srenggi hari ini mengutuk  Parikesit akan mati digigit oleh seekor naga?” jelas Kasyapa.

 

“Wahai Brahmana, memangnya engkau mampu menolong Parikesit menghindari kutukan itu? Apa kesaktianmu, coba tunjukkan padaku!” tantang Taksaka.

 

Lalu, beradu tandinglah Taksaka dengan Kasyapa. Beberapa kesaktian Kasyapa dan Taksaka silih berganti diperlihatkan. Sebuah pohon beringin yang diserang Taksaka terbakar dan hangus menjadi abu. Kasyapa membaca mantra dan menghidupkan pohon itu kembali. Mantra itu hanya dapat digunakan satu kali saja, sehingga setelah pameran kesaktian itu, Kasyapa tidak dapat menghidupkan sesuatu yang telah mati. Mantra itu sebetulnya merupakan andalan Kasyapa untuk menolong Parikesit. Oleh karena Kasyapa sombong dan senang disanjung, kesaktian yang seharusnya tidak digunakan di tempat itu malah sudah digunakan. Kasyapa tidak mundur niatnya menolong Raja Parikesit. Hatinya mengatakan masih ada beberapa kesaktian lagi yang belum dikeluarkan. Kesaktian Kasyapa membuat takjub Taksaka. Taktik Taksaka berhasil memusnahkan beberapa kesaktian Kasyapa. Taksaka memuji dan menyembah Begawan Kasyapa karena telah mengeluarkan beberapa kesaktian. Dada Kasyapa mengembang karena mabuk pujian. Akhirnya, mereka berpisah masing-masing menuju Astina.

 

Naga Taksaka mengubah dirinya menjadi seorang brahmana  dengan  membawa  sekeranjang  jambu  yang  segar dan menarik selera. Ia berjalan melalui jalan pintas mendahului Kasyapa menuju Astinapura.

 

Pada hari itu yang menurut ramalan Srenggi sebagai hari ajal Parikesit. Penjagaan ke arah puncak menara dijaga ketat. Brahmana dan pendeta kerajaan tidak habis-habisnya berdoa agar Raja Astina selamat dari kutukan Srenggi anak Begawan Samiti.

 

Menjelang sore, tidak ada tanda-tanda datangnya naga Taksaka. Doa-doa tetap terdengar di seluruh penjuru istana. Ketika itu, datang lagi seorang brahmana membawa jambu segar yang berwarna merah dalam keranjang. Brahmana itu bergabung dengan brahmana lainnya, setelah menyerahkan keranjang pada punggawa istana. Kata brahmana kepada punggawa istana.

 

“Jambu ini saya hadiahkan untuk Raja Parikesit sebagai salah satu penolak bala. Semoga dapat diterima oleh junjunganku,” kata brahmana itu sambil menyembah. Setelah menyerahkan jambu tersebut, brahmana itu lalu menghilang. Ternyata brahmana itu adalah jelmaan  dari Taksaka yang kemudian diam- diam menyusup ke buah jambu dalam keranjang yang dibawa oleh punggawa kerajaan itu.

 

Punggawa kerajaan membawa keranjang itu ke atas menara. Dengan perlahan-lahan dia menapaki tangga menara menuju pintu. Setelah mengetuk pintu, punggawa itu menyembah sambil berkata.

 

“Raja yang agung, ini ada persembahan dari seorang brahmana sebagai salah satu penolak bala bagi paduka,” kata punggawa itu sambil menundukkan kepala. Parikesit membuka pintu menara dan menerima sekeranjang jambu berwarna merah segar, kesegaran jambu itu menarik selera Parikesit.

 

Pada waktu menjelang senja, ketika merasa sudah hampir tidak ada ancaman lagi yang berkaitan dengan kutukan Srenggi, Parikesit mengambil jambu merah untuk dimakan. Ketika jambu akan digigit, dari dalam jambu yang segar dan menggiurkan itu keluar ulat kecil yang menakutkan. Ulat itu melompat ke kaki Parikesit dan berubah menjadi seekor ular naga raksasa. Lidah

 

ular itu terjulur dan matanya merah menyala. Taring ular itu berkilat-kilat. Mata ular itu memancarkan kilau yang langsung melemaskan tulang belulang manusia yang menatapnya. Parikesit melihat seleret sinar putih memasuki ruangan.

 

“Jika demikian, ajalku telah sampai. Kutukan itu terjadi juga karena aku menghina brahmana. Aku harus menerima karma ini!”

 

Parikesit lalu menarik napas dalam-dalam dan mulai membentuk sikap menghadapkan badan ke arah timur. Secepat kilat, naga yang lidahnya bercabang itu menancapkan taringnya ke tubuh Parikesit. Setelah itu, naga tersebut menghilang perlahan- lahan tak berwujud.

 

Langit menjadi redup. Terdengar suara kidung sayup- sayup dan bunga-bunga mengeluarkan aroma. Bunga cempaka jatuh dari tangkai bagai gerimis. Parikesit menatap alam sekitar dari puncak menara. Badannya menggigil antara panas dan dingin. Dengan tersenyum dipandangilah awan-awan yang menggantung di atas cakrawala. Awan putih berarah bergumpal-gumpal mendekat ke menara. Seakan menyiapkan sarana bagi Parikesit untuk berbaring. Putih berkilau bergumpal-gumpal. Parikesit mulai merasakan tubuhnya terangkat, seakan melayang. Dia mulai menyadari bahwa segala sesuatu tidak abadi. Apa yang diciptakan akan dihancurkan, apa yang terbang tinggi akan jatuh ke bawah. Maut tidak membenci atau mencintai seseorang. Karmalah yang menentukan kehidupan. Parikesit masih melihat awan bergerak perlahan menjauhi cakrawala, tetap mengambang menggantung. Kemudian, jatuhlah tubuh Parikesit ke atas pembaringan dengan senyum. Seluruh Astina dan rakyatnya berkabung karena raja agung meninggal dalam kutukan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

57

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *