Parikesit adalah ahli waris dari Pandawa yang mempunyai kegemaran berburu hewan. Saat kecil, Parikesit sering ikut berburu dengan kakek-kakeknya. Dia paling senang membuntuti Kakek Arjuna. Suka sekali dia memperhatikan bagaimana Arjuna mengintai buruannya, bagaimana Arjuna menandai bahwa buruannya melalui jalan tertentu. Dia ingat bagaimana kaki Arjuna seakan tidak menginjak ranting dan dengan cepat melesat mengejar buruannya. Pada waktu itu Parikesit membuntuti Arjuna yang sedang memburu seekor rusa berbadan besar. Dengan   hati-hati   dan   tanpa   suara,   Arjuna   memasang   anak panah di busurnya. Sekali bidik, rusa itu menggelepar tanpa sempat berlari dari hadapan Arjuna. Parikesit sangat mengagumi Arjuna. Dari Arjunalah Parikesit menjadi senang berburu. Setiap kesempatan luang digunakan untuk kesenangannya berburu rusa atau binatang lainnya di hutan belantara.

 

Pada suatu hari, Parikesit dan pengiringnya mengadakan perburuan ke hutan. Peralatan untuk menangkap dan membawa binatang buruan disiapkan oleh punggawa istana. Hari itu adalah hari yang sangat menyenangkan bagi Parikesit. Langit cerah dan berwarna biru. Angin berhembus pelan dan matahari bersinar cemerlang.

 

Semangat Parikesit menyala-nyala untuk segera mencari binatang buruan di hutan. Dia berjalan mengikuti cara jalan Arjuna yang seakan tidak menjejak tanah dan mematahkan ranting-ranting semak di hutan. Dengan membawa busur berjalanlah ia memasuki hutan belantara. Terlihat olehnya seekor kijang yang berbulu keemasan. Hati Parikesit begitu terpikat akan

 

kijang itu yang berlari lebih cepat dan lincah daripada Parikesit. Dengan napas yang terengah-engah dilompatinya semak-semak, ditebasnya ranting pohon yang menghalangi larinya. Namun, Parikesit sia-sia berlari kencang. Sampai akhirnya ia kehilangan jejak kijang. Dengan perlahan-lahan, Parikesit mengendap-endap mencari sosok kijang emas.

 

Langkah kakinya membawa Parikesit ke arah seorang brahmana yang sedang bertapa di hutan itu. Brahmana tersebut bernama Begawan Samiti. Begawan itu terlihat duduk di bawah pohon sepertinya kelelahan dan mengantuk. Bertanyalah Parikesit kepada brahmana yang sedang duduk bersila di tanah.

 

“Wahai Brahmana, aku Parikesit cucu Pandu, Raja Astina, apakah engkau melihat seekor kijang lewat di tempat ini? Ke mana arah kijang itu lari? Tunjukkanlah kepadaku!”

 

Begawan Samiti pada saat itu sedang bertapa bisu, melakukan tapa dengan berdiam diri ketika Parikesit menanyakan tentang kijang emas itu. Tak satu pun jawaban keluar dari mulutnya. Berulang kali Parikesit bertanya, tetapi Begawan Samiti tetap tidak menjawab.

 

Parikesit  sebagai  keturunan  bangsa  Kuru,  cucu  Pandu, dan Raja Agung Astina, pengganti tunggal Raja Yudistira merasa brahmana itu telah menghinanya karena tidak mau menjawab pertanyaannya. Parikesit tersinggung dan marah. Secara emosional dia melihat bangkai seekor ular tergeletak tidak jauh dari tempat brahmana itu duduk bersila. Parikesit mengambil bangkai ular dengan busurnya yang panjang. Kemudian, bangkai tersebut dikalungkan ke leher Begawan Samiti sambil berkata kasar penuh amarah.

 

“Terhadap penghinaanmu, inilah balasanku, wahai brahmana yang tidak tahu diri. Pertanyaan dari raja penguasa dunia tidak kau jawab sedikit pun. Aku muak melihan kebisuanmu. Sekarang rasakan bau busuk ular di lehermu sepuas hatimu. Inilah hukuman bagi brahmana yang tidak patuh pada rajanya!”

 

Setelah puas berteriak-teriak menyalurkan amarahnya kepada Begawan Samiti, Parikesit pun pergi. Hatinya sangat sedih karena belum pernah diperlakukan seperti itu oleh orang-orang yang pernah ditemuinya. Ia merasa sangat terhina. Hatinya sangat kesal kafrena ia gagal menangkap kijang berkulit emas.

 

Tanpa sepengetahuan Parikesit, tingkah laku Raja Parikesit kepada Bangsawan Samiti tersebut diketahui oleh seseorang dari balik gerumbul semak. Dia adalah teman Srenggi yang bernama Kresa. Srenggi adalah anak Begawan Samiti. Pada waktu itu Srenggi tidak ada di dekat ayahnya. Dia sedang berjalan- jalan mengunjungi ibunya di kahyangan kedewaan.

 

Bersamaan    dengan    perginya    Parikesit    dari    hutan itu, datanglah Srenggi dengan bersenandung sambil melihat pemandangan kanan kiri jalan yang dilewatinya. Sambil berjalan, tangannya   mematahkan   ranting-ranting   pohon   di   dekatnya. Jadi, di belakang punggung Kala Srenggi, semak-semak terlihat berantakan karena patahan dahan atau ranting yang dilakukannya. Suara   gaduh   dan   gemeretak   terdengar   dari   kejauhan   saat tubuh   Kala   Srenggi  belum   muncul.   Dengan  tergopoh-gopoh Kresa menghampiri kedatangan Srenggi dan tanpa basa-basi menceritakan peristiwa yang menimpa ayahnya, Begawan Samiti.

 

“Apa kau bilang?” teriak Srenggi mendengar cerita Kresna tentang sikap Raja Parikesit terhadap ayahnya.

 

“Kurang ajar, Raja Astina itu berani menghina ayahku!”

ucap Srenggi dengan geram.

 

“Coba ulangi lagi kata-katamu dan jangan mencoba membohongiku!” bentak Srenggi kepada Kresa.

 

“Iya, tadi kulihat Parikesit dengan pongah membentak- bentak Begawan Samiti. Tangannya menunjuk-nunjuk muka Begawan dan suaranya menggelegar sehingga binatang yang sedang berlalu di dekat situ lari terbirit-birit. Kemudian, Begawan Samiti mukanya dilempar ular oleh Parikesit. Itu di leher Begawan terjuntai ular yang mati,” kata Kresa menceritakan kejadian yang dilihatnya dengan ditambah-tambahi sehingga membuat Srenggi semakin marah.

 

Sambil berjalan-jalan terburu-buru ke arah ayahnya dia bersungut-sungut.

 

“Aku punya teman seekor naga yang sangat sakti. Biar! Aku akan minta tolong kepadanya untuk menghajarmu Parikesit,” kata Srenggi dengan suara bagaikan gelegar.

 

Sambil   terus   melangkah   diikuti   oleh   Kresa,   tangan Srenggi mematah-matahkan ranting pohon di kanan-kiri jalan yang  dia  lewati.  Dengan  tiba-tiba  dia  berhenti.  Diangkatnya kedua tangannya tinggi-tinggi. Sambil menengadahkan muka dia berseru.

 

“Wahai dewa di angkasa, kabulkanlah permintaanku ini! Dalam waktu tujuh hari, matilah Parikesit, raja kurang ajar, Naga Taksaka akan mengigitmu!”

 

Tiba-tiba petir dan guruh terdengar membelah langit, bumi bergetar hebat mendengar sumpahnya. Setelah bumi reda dengan getarannya, Srenggi meneruskan perjalanannya menuju ke tempat ayahnya berada. Kebetulan Begawan Samiti baru saja menyelesaikan tapanya. Tanpa bertanya-tanya mengenai keadaan ayahnya, Srenggi langsung bercerita.

 

“Ayah,    aku    tadi    menyumpahi    Parikesit    agar    mati digigit Naga Taksaka. Dia kurang ajar, Ayah, berani sekali dia menghinamu,” teriak Srenggi.

 

Begawan Samiti terkejut mendengar kata-kata Srenggi.

 

“Jagat dewa batara! Apa yang akan terjadi pada Kerajaan Astina? Srenggi! Tidak semestinya kau menyumpah-nyumpah tanpa mengetahui duduk persoalannya!” hardik Begawan Samiti dengan marahnya.

 

“Dari siapa kamu tahu perbuatan Parikesit terhadapku?”

tanya Begawan Samiti memandang anaknya.

 

“Ayah,  Kresa  melihat  peristiwa  itu  dari  balik  semak dan ketika aku datang dia langsung menceritakan hal tersebut kepadaku.” jawab Kala Srenggi.

 

“Oh, Kresa! Kresa! Rupanya engkau pengadu domba seperti musang layaknya,” kata Begawan Samiti tanpa sadar.

 

Dengan tiba-tiba Kresa yang berdiri di dekat Srenggi menjatuhkan dirinya dan berubah menjadi seekor musang. Dengan menguik-nguik musang itu mendekati kaki Begawan Samiti. Orang tua itu tertegun melihat hasil ucapan yang keluar dari mulutnya itu.

 

“Dewa penguasa dunia, ampunilah hambamu!” kata Begawan Samiti. Dia sangat menyesal telah mengatakan semacam kutukan kepada Kresa. Itu dilakukan karena Begawan Samiti merasa kaget bahwa anaknya Srenggi telah menyumpahi Parikesit. Lalu, dia berkata kepada musang jelmaan Kresa.

 

“Wahai Kresa, itu memang menjadi karmamu. Jika kamu ingin berubah menjadi manusia lagi, kamu harus bertapa. Tidak boleh makan unggas dan buah-buahan selama tiga tahun. Kelak jika semua itu engkau jalankan dengan kepasrahan diri serta ketenangan  hatimu,  akan  datang  seorang  anak  laki-laki  kecil yang akan memukulmu dengan ranting pohon dadap. Saat itulah engkau kembali menjadi manusia,” kata Begawan Samiti.

 

Musang itu kemudian berlari dengan cepat meninggalkan Begawan Samiti sambil mengui-nguik nyaring. Sepeninggal musang jelmaan Kresa itu, Begawan Samiti menasihati Srenggi agar mencabut sumpah serapahnya kepada Parikesit.

 

“Srenggi, kamu lihat sendiri bagaimana Kresa menderita karena kata-kataku yang terhambur tanpa kusadari. Seharusnya aku hati-hati, tetapi aku melakukan itu karena terkejut ketika mendengar tindakanmu menyumpahi Raja Parikesit. Sekarang coba cabut sumpahmu atas Raja Parikesit itu, Srenggi!” kata Begawan Samiti. Namun, Srenggi menolak permintaan itu.

 

“Aku pantang untuk menarik sumpah. Parikesit telah menghina ayah dan aku tidak dapat membiarkannya,” kata Srenggi kepada Ayahnya.

 

“Jika begitu, anakku,” kata Begawan Samiti, “pergilah engkau menghadap Raja Parikesit untuk memberitahukan kepadanya agar segera mencari alat penawar agar serapahmu tidak mengenai dirinya.”

 

“Tidak, Ayah, aku tidak mau pergi menghadap Parikesit,”

jawab Srenggi.

 

Akhirnya, Begawan Samiti menyuruh orang untuk memberitahu tentang sumpah serapah yang diucapkan Srenggi kepada Raja Parikesit. Begawan Samiti juga berpesan agar Parikesit mencari obat penawar untuk menghindari kutukan itu. Ketika utusan Begawan Samiti tiba dan menyampaikan pesan Begawan Samiti kepada Raja Parikesit, utusan itu mendapat marah dari Raja Parikesit. Ia merasa begawan itu telah menghinanya.

 

“Aku bukan peminta-minta. Aku adalah raja agung dari bangsa Kuru. Mengapa aku harus mencari obat penawar bisa ular? Aku dapat menyelamatkan diriku sendiri.”

 

Utusan Begawan Samiti akhirnya pulang ke pertapaan dan melaporkan kepada Begawan Samiti.

 

“Baik buruk hidup dan nasib manusia bergantung pada karmanya ketika hidup,” kata sang begawan.

 

Sementara itu, Parikesit memerintahkan untuk membangun sebuah menara yang tinggi. Para pekerja bergegas menyelesaikan menara yang akan digunakan sebagai tempat berlindung Parikesit dari gigitan ular.

 

Suatu hari kutukan Srenggi tiba, menara itu selesai dibangun. Dindingnya tinggi dan kukuh serta sukar dicapai manusia maupun ular. Parikesit naik ke menara. Dari atas menara itu dia dapat melihat pemandangan yang menakjubkan. Wilayah kerajaan tampak dari jendela menara. Gerumbul perkampungan yang saling dihubungkan oleh jalan setapak terlihat jelas.

 

Di atas cakrawala menggantung awan putih yang bergerak perlahan di dorong oleh hembusan angin. Perasaan Parikesit terasa ringan membayangkan dirinya berada di atas awan dan bergerak perlahan mengamati wilayah Kerajaan Astina yang dipimpinnya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *