Lima belas tahun para Pandawa memerintah Kerajaan Astina. Lima belas tahun setelah perang Kurusetra yang menyebabkan ibu kehilangan anak, istri kehilangan suami, anak kehilangan bapak, dan seseorang kehilangan kekasih. Dalam menjalankan pemerintahan itu, Yudistira selalu bertindak atas nasihat Dastarata. Yudistira memperlakukan pamannya, yang menjadi ayah dari Kurawa itu dengan baik. Hadiah-hadiah yang mahal selalu diberikan kepada raja yang buta itu. Yudistira telah memerintahkan punggawanya untuk membuat bahagia Dastarata dan Gendari yang telah kehilangan seratus putra Kurawanya di medan Kurusetra. Setiap raja taklukan akan memberikan upeti kepada Raja Yudistira diusahakan untuk menghadap Dastarata dan Gendari terlebih dahulu guna memberi penghormatan.

 

Keadaan kerajaan setelah Yudistira menjadi raja berubah. Rakyat merasakan ketenteraman dan kecukupan dalam hal sandang serta pangan. Pajak rakyat rendah. Raja taklukan Astina selalu mengirimkan upeti dengan perasaan senang tanpa dipaksa. Mereka menyerahkan barang-barang berharga seperti emas, berlian, hasil pertanian, atau hasil kriya dari rakyatnya. Tidak ada satu pun kerajaan taklukan yang memberontak karena Yudistira adalah raja yang adil dan bijaksana.

 

Pada suatu hari, Dastarata, Gandari, dan Kunti memohon izin kepada Yudistira untuk meninggalkan istana menuju hutan belantara.

 

“Dengarkan   kata-kata   kami,   Yudistira.   Kami   berkahi kau  karena  membuat  kami  bahagia  selama  lima  belas  tahun. Kini  kami  minta  izinmu  untuk  mengundurkan  diri  ke  dalam

 

hutan,  mengenakan  pakaian  dari  kulit  kayu,  menyucikan  diri dari dosa. Kami akan menghabiskan hidup kami di sana sambil memberkahimu.”

 

Yudistira menyetujui permintaan Dastarata untuk pergi ke hutan. Itu memang perbuatan yang harus dilakukan oleh seorang raja yang usianya sudah tua, yaitu menjauhkan diri dari kehidupan dunia. Raja itu harus menjalani penebusan dosa di hutan dengan jalan memasrahkan diri kepada alam. Mereka mengendalikan pikiran, perkataan, dan perbuatan mereka dengan bersemadi. Setelah Yudistira memberi izin,   Dastarata, Gendari, dan Kunti menyiapkan diri untuk melakukan perjalanan ke hutan. Pada waktu yang telah ditentukan, Yudistira memanggil adik-adiknya untuk memberitahu keinginan ibu, paman, dan bibinya itu.

 

“Adik-adikku, ibu kita serta paman dan bibi kita akan pergi dari kerajaan ini untuk melakukan darma mereka sebelum ajal mereka sampai,” kata Yudistira kepada adik-adiknya.

 

“Apakah menjalankan darma itu harus dengan pergi ke hutan untuk menyiksa diri, Kanda?” tanya Bima kepada Yudistira.

 

“Bima, kamu sebetulnya sudah tahu syarat-syarat melakukan darma di hari tua. Ya, memang harus begitu. Itu adalah keinginan dari orang tua kita” jawab Yudistira.

 

“Iya Kanda Yudistira, aku juga sudah tahu. Apa mungkin syarat-syarat itu tidak harus dikerjakan dengan menyiksa diri pergi ke hutan. Tapi, baiklah kalau itu memang keinginan dari orang tua kita,” jawab Bima.

 

“Ya, sudah kalau begitu. Adik-adikku, hari ini orang tua kita akan berangkat ke hutan tempat mereka melakukan darma. Mari kita bersama-sama mengantar mereka,” kata Yudistira.

 

Keinginan Yudistira untuk mengantar ke hutan tempat mereka melakukan darma ditolak oleh Dastarata, Gendari, dan Kunti. Mereka tidak mau diantar. Dengan berjalan kaki mereka keluar dari istana yang megah. Baju kerajaan yang biasa mereka kenakan sudah ditanggalkan.

 

Dastarata, Gandari, dan Kunti akhirnya hidup di hutan dengan mengenakan pakaian dari kulit kayu dan berpuasa untuk tidak makan dan minum. Dastarata memasukkan kerikil ke dalam mulutnya dan hanya hidup dari udara. Ia tidak mau berbicara sepatah kata pun dengan orang lain. Gandari hidup dengan minum air saja, sementara Kunti masih makan satu kali sebulan. Ketika hutan terbakar, Dastarata, Gandari, dan Kunti duduk menghadap ke timur, memusatkan daya pikirnya dengan diam seperti tiang- tiang kayu. Mereka musnah terbakar api.

 

Lima belas tahun kemudian, yaitu tiga puluh lima tahun sesudah perang di Padang Kurusetra, Yudistira memutuskan untuk menjauhkan diri dari dunia mengikuti jejak Dastarata, Gendari, dan Kunti.

 

“Sudah saatnya kita meninggalkan istana.”

 

Bima, Arjuna, Nakula, Sadewa, dan Drupadi setuju. Yudistira kemudian menobatkan Parikesit, anak Abimanyu, menggantikan dirinya menjadi raja. Kata Yudistira kepada Sumbadra.

 

“Parikesit, cucumu akan menjadi penerus raja bangsa Kuru. Ia akan memerintah Astinapura. Rawatlah dia! Jaga agar dia tidak bertindak bertentangan dengan darma!”

 

“Aku  tidak  boleh  ikut  Kanda  Arjuna  ke  hutan?”  tanya

Sumbadra.

 

“Tidak, istriku, kamu harus menjaga Parikesit agar dia tidak merasa kehilangan kita,” jawab Arjuna.

 

“Maafkan aku Kanda, jika aku memikirkan kepentingan diriku sendiri, itu karena rasa cintaku yang besar kepada Kanda,” jawab Sumbadra.

 

“Doakan kami agar kami kuat melakukan darma ini, Dinda

Sumbadra!” Kata Arjuna kembali.

 

“Iya, Kanda. Doaku akan kulantunkan selalu untuk Kanda Yudistira, Bima, Arjuna, dan adik-adikku Nakula, Sadewa, serta Drupadi,” jawab Sumbadra.

 

Yudistira kemudian mengundang rakyatnya untuk memberitahukan keputusannya yang akan menjauhkan diri dari hal-hal yang bersifat keduniaan. Yudistira melepaskan semua perhiasan kerajaan yang dikenakan dan mengenakan pakaian yang terbuat dari kulit kayu. Demikian pula Bima, Arjuna, Nakula, Sadewa, dan Drupadi.

 

Teguh maksud dan tujuannya, para Pandawa ini melakukan perjalanan melalui banyak negara dan menyeberangi lautan serta sungai. Yudistira memimpin rombongan. Di belakangnya Bima,

 

Arjuna, Nakula, Sadewa, Drupadi, dan seekor anjing. Mereka tiba di laut yang airnya berwarna merah. Arjuna membuang busur panah dan tempat panahnya ke dalam ombak laut merah itu.

 

Para Pandawa itu kemudian berbelok ke selatan. Ketika mereka tiba di pantai utara laut garam, mereka bergerak maju menuju ke barat daya dan sampailah di bekas Kerajaan Dwaraka yang sudah musnah terendam di bawah samudra karena perang saudara. Mereka kemudian berbelok ke utara dan berjalan terus ke arah itu. Akhirnya, mereka dapat mendaki Gunung Himawan dan kemudian menuruninya hingga berhadapan dengan daratan pasir yang luas membentang. Di kejauhan mereka melihat puncak tertinggi, puncak Gunung Meru tempat perjalanan terakhir yang mereka inginkan.

 

Raden Parikesit dilahirkan sesudah perang Baratayudha. Dia  benar-benar  sangat  disayangi  oleh  kelima  Pandawa.  Pada saat ia  bayi selalu dicari oleh Aswatama untuk dibunuh lantaran Parikesitlah  yang  pada  masa  akan  datang  bakal  menguasai negeri Astinapura. Secara tidak sengaja, Parikesit menendang panah yang ditaruh untuk menjaganya dan seketika mengenai Aswatama. Tersungkurlah Aswatama hingga menemui ajal terakhirnya. Lalu, Parikesit bertakhta sebagai raja di Astinapura, dengan nama Prabu Kresnadipayana, seperti nama buyut, Prabu Kresnadipayana (Abyasa).

 

Ketika Parikesit belum lahir, Abimanyu memperoleh wahyu jayaningrat anugerah dari Yang Mahatunggal melalui beberapa dewa di kayangan. Konon, siapa saja yang memperoleh wahyu ini, anak keturunannya akan memperoleh keluhuran serta kejayaan dalam hidupnya. Saat berita bakal turunnya wahyu ini

 

menyebar,  beberapa kesatria berupaya dengan semua daya serta kemampuan yang dimilikinya untuk memperoleh wahyu itu. Tak terkecuali Lesmana Mandrakumara anak Kurupati, Samba anak Kresna, serta Abimanyu putra Harjuna. Beragam halangan serta godaan mesti mereka hadapi. Godaan itu untuk menguji fisik berbentuk ketangkasan, siksaan batin dengan bertapa berbulan- bulan dapat dimenangkan Abimanyu. Akan tetapi, Abimanyu gugur dalam perang Bharatayuda lantaran melindungi Puntadewa yang diserang oleh pasukan Kurawa. Puntadewa merasa sangat bersalah, sedih luar biasa atas tewasnya Abimanyu. Dalam penyesalan yang amat dalam itu, dia bersumpah di hadapan seluruh jagad raya bahwa kelak setelah perang itu selesai dan jika Pandawa menang, tiada lain yang patut naik takhta kerajaan dengan keluhuran dan kejayaan kecuali keturunan Abimanyu. Sumpah  ini  didengar  seluruh  jagad  dan  direstui  Gusti  Yang Maha Menentukan. Hak akan takhta  berpindah ke tangan putra Abimanyu, yang kebetulan lahir bertepatan dengan usai perang Bharatayuda. Sesaat tampuk pimpinan kerajaan Astina ada di tangan Puntadewa, Prabu Baladewa atau  Begawan Curiganata ditugaskan untuk mendidik serta membina Parikesit sebagai putra mahkota.

 

Sepeninggal Pandawa, Parikesit menata kembali pemerintahan Kerajaan Astina. Parikesit adalah raja muda yang pandai. Ia menguasai sastra dan ilmu perang. Ia memerintah dengan bijaksana. Kebijaksanaannya sampai ke ujung dunia. Pertanian dan perkebunan semakin maju. Beberapa perbaikan irigasi  dilakukan  pada  bangunan-bangunan  jalan  air  yang sudah tua. Perdagangan meningkat. Kesenian dan kesusastraan berkembang pesat.

 

Kekayaan Kerajaan Astina terpancar dari bangunan istananya yang indah. Balairung istana dihiasi dengan taburan emas manikam, berkilau-kilauan jika tertimpa sinar pelita atau bulan pada malam hari. Kereta-kereta kerajaan dibuat dari emas. Baju kuda disulam dengan emas. Kekayaan itu sebanding dengan kebijaksanaan Parikesit dalam memerintah Kerajaan Astina.

 

Parikesit dikaruniai seorang putra bernama Janamejaya. Hidupnya bahagia dikelilingi oleh punggawa-punggawa kerajaan yang cakap.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *