Utari adalah istri Abimanyu. Ayah Abimanyu adalah Arjuna yang menikah dengan Sumbadra adik Kresna. Jadi, Kresna adalah adik ipar dari Arjuna dan Abimanyu keponakan Kresna.

 

Setelah selesai membantu Pandawa dalam perang di Padang Kurusetra, Kresna berpamitan kepada Yudistira untuk kembali ke kerajaannya, yaitu Dwaraka. Di kerajaan itulah Utari, istri Abimanyu tinggal bersama ibu mertuanya, Sumbadra.

 

Kresna tiba di istana dan disambut oleh Basudewa, Ayahanda Kresna. Ibunya tergopoh-gopoh menyuruh pelayan menyiapkan sajian untuk Kresna. Basudewa memeluk Kresna dengan   penuh   rasa   syukur   bahwa   dia   masih  selamat   dari perang  Kurusetra. Para  abdi  raja  segera  mencuci kaki  Kresna dan kemudian menghidangkan berbagai makanan kepadanya. Basudewa mengajukan berbagai pertanyaan tentang peristiwa yang terjadi dalam peperangan di Padang Kurusetra. Saat berbincang-bincang dengan Basudewa, Sumbadra dan Utari hadir menyongsong kedatangan Kresna.

 

“Yang Mahakuasa masih melindungimu, Kanda! Aku bersyukur engkau selamat dalam peperangan itu,” kata Sumbadra sambil memeluk Kresna.

 

“Ya,  Sumbadra.  Aku  selamat  karena  doamu,  doa  Ayah dan Ibu, serta doa dari rakyat Dwaraka. Bagaimana keadaanmu, Sumbadra?” kata Kresna kepada adiknya. Sambil terisak lirih Sumbadra berkata kepada kakaknya, Kresna.

 

“Kanda, ceritakan kepadaku, bagaimana putraku tewas?”

 

Kresna temangu-mangu dan dia bergerak mengulurkan tangannya mengambil minuman yang dihidangkan oleh pelayan. Air minum itu begitu sulit melewati kerongkongannya dan Kresna tersedak hingga terbatuk-batuk. Basudewa menimpali kata-kata Sumbadra.

 

“Kau terkenal sebagai orang yang selalu bicara tentang kebenaran, Kresna. Mengapa tidak kauceritakan sejujurnya tentang kematian Abimanyu, cucuku?”

 

Dengan menghela napas berat Kresna menjawab. “Jangan bersedih, Dinda Sumbadra!” kata Kresna. “Apa yang terjadi harus terjadi. Meskipun aku, suamimu Arjuna, Bima, atau Yudistira membantunya dan melindunginya, ia tetap terbunuh. Itu sudah tersurat dalam garis hidup manusia. Janganlah berlarut-larut dalam kedukaan! Lebih baik kita pikirkan Utari, istri Abimanyu, yang sedang hamil.”

 

“Aku sedih, Kanda,” kata Sumbadra.

 

“Utari tak henti-hentinya meratapi Abimanyu”

 

Kresna bangkit dan memeluk Sumbadra sambil berucap. “Sumbadra, kehidupan dan kematian itu sudah ditentukan. Kita boleh sedih, tetapi tidak boleh berlebihan. Kita juga boleh senang, tetapi jangan pula berlebihan! Kamu sebagai ibu dari Abimanyu hendaknya berbesar hati karena putramu gugur dalam membela kebenaran.  Kamu  juga  harus  membangkitkan  semangat  Utari dan membesarkan hatinya. Ingatkan padanya bahwa yang ada di dalam perutnya itu adalah anak dari seorang pahlawan besar pembela raja dan kerajaan.”

 

“Abimanyu adalah mustikaku, Kanda. Dia adalah gantungan hidupku satu-satunya.” kata Sumbadra sambil menyusuti air matanya.

 

Kresna berjalan ke arah Utari dan mengusap kepala Utari yang sejak tadi terus menerus menangis tanpa suara. Kresna berkata kepada Utari.

 

“Demi suamimu, Utari, berhentilah mengucurkan air mata, rawatlah baik-baik bayi dalam kandunganmu itu!”

 

Utari tidak berkata sedikit pun. Dari kedua matanya mengalir air mata bagaikan sungai tak henti-hentinya. Tubuhnya lemah lunglai tak berdaya. Hanya satu yang dapat membuatnya terus hidup, yaitu denyutan yang ada dalam perutnya. Cinta yang ditinggalkan  di  dalam  dirinya  adalah  gerak  halus  yang  selalu hadir di setiap waktu di dalam tubuhnya. Itu adalah satu-satunya kenangan dari suaminya untuk Utari.

 

Setelah beberapa hari beristirahat di Dwaraka, Kresna kembali ke Astina bersama Utari dan Sumabadra. Utari melahirkan di Astina ditunggui oleh Sumbadra, Kunti, dan Drupadi. Bayi yang lahir itu laki-laki. Namun, akibat kutukan Aswatama, bayi itu lahir meninggal.

 

Seluruh penghuni istana Astina meratapi bayi beku yang keluar dari rahim Utari. Kunti menangis tersedu-sedu sambil memanggil-manggil Kresna. Di belakang Kunti, berdiri Drupadi, Sumbadra, dan para kerabat Pandawa. Tangisan mereka begitu nyaring sehingga membuat Kresna segera berlari mendekat ke kamar Utari. Kunti berkata sambil menarik lengan Kresna.

 

“Selamatkanlah kami, Kresna. Hanya engkaulah yang dapat melakukannya,” kata Kunti sambil meratap. “Istri keponakanmu melahirkan bayi yang tidak bergerak. Hidupkan dia kembali. Ingatlah, engkau sudah berjanji untuk melakukannya ketika Aswatama mengubah daun rumput menjadi sebatang senjata brahma yang akan mematikan seluruh anak cucu Pandawa.”

 

“Tenanglah, Bibi Kunti, akan saya usahakan. Semoga dewata berkenan atas lakuku ini!” kata Kresna.

 

Ucapan Kresna memberikan semangat bagi seluruh penghuni istana Kerajaan Astina. Kresna masuk ke dalam kamar persalinan tempat Utari terbaring tak berdaya. Ia memerintahkan agar kamar itu disucikan dengan untaian-untaian bunga berwarna putih, pasu-pasu diisi air hingga penuh, serta pelita diletakkan di setiap sudut kamar.

 

Utari didudukkan oleh para dayang   di tempat tidur beralaskankan beberapa tilam untuk menyangga punggungnya. Wajahnya pucat tak berdarah dan ekspresinya mati tak ada harapan. Setiap orang yang memandangnya akan menangis melihat keadaan Utari. Dengan dibantu para dayang, ia merangkapkan kedua telapak tangannya dan dengan hormat menyembah Kresna yang berdiri di samping tempat tidurnya.

 

Kresna menyentuh air dalam pasu dan menawarkan kekuatan  senjata  brahma  Aswatama.  Tangan  raja  agung  itu meraih sesuatu dari mahkota yang ada di kepalanya. Tergeletak dengan warna biru dalam telapak tangannya sekuntum bunga wijaya kusuma. Setiap orang yang menyaksikan tergetar hatinya dan bagai terpaku menjejak bumi di tempat masing-masing. Tak ada terdengar helaan napas satu pun dari makhluk yang hidup

 

di kamar itu. Bunga itu adalah bunga sakti, bunga kehidupan. Tidak  setiap  orang  dapat  menyentuhnya  atau  membawanya dalam telapak tangan. Hanya Kresna satu-satunya manusia yang dapat mengenggam bunga itu. Kresna adalah titisan Dewa Wisnu, dewa kehidupan yang menguasai bumi. Sesaat kemudian Kresna mengucap mantra dengan suara dalam.

 

“Sang Hyang Widi pencipta jagad raya, kumohon hidupkanlah kembali anak ini karena aku mencintai darma, menghormati para brahmana, dan mohon hidupkanlah anak Abimanyu sebagai penerus keturunan Pandawa.”

 

Tidak lama kemudian, bayi laki-laki yang telah diusap dengan bunga pusaka wijaya kusuma dari ubun-ubun sampai dengan mata kaki sebanyak tiga kali itu, menggerakan lengan dan tungkai kakinya dengan samar. Suatu cahaya putih kemilau yang kuat menerangi kamar dan pecahlah tangisan dari mulut mungil bayi laki-laki tersebut. Suaranya menggema ke seluruh sudut istana dan membangkitkan senyum serta semangat hidup para tetua istana Astina.

 

Wajah Utari pelan-pelan merona merah dan air mata kebahagiaan jatuh menelusuri pipi yang semula pucat pasi itu. Kebahagiaan mendengar tangis bayi itu membuat semangat hidupnya bangkit. Dia harus berusaha untuk hidup. Dia harus hidup untuk cinta yang ditinggalkan oleh Abimanyu, cinta yang berwujud sesosok mungil bayi laki-laki. Sesaat Utari melihat bayangan sosok suaminya tersenyum kepadanya. Wajah itu terlihat bahagia dan bercahaya. Dengan pelan-pelan bayangan itu memudar dan diganti dengan tangisan bayi yang keras memompa

 

seluruh nadi di tubuh Utari. Dia bangkit dan menatap bayi yang menggerak-gerakkan kaki dan tangannya menggapai-gapai di udara. Itu adalah cinta Abimanyu untuknya.

 

Keluarga Pandawa kembali diliputi oleh perasaan sukacita. Mereka telah mendapatkan calon putra mahkota yang kelak akan menjadi Raja Astina menggantikan Prabu Yudistira. Bayi itu diberi nama Parikesit.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *