Prabu Yudistira dengan dibantu empat saudaranya, Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa, memerintah Kerajaan Astina. Pajak rakyat yang semula tinggi diturunkan. Pengolahan lahan pertanian diperhatikan oleh  punggawa  kerajaan  sehingga pembagian irigasi yang semula tidak merata menjadi merata. Perkebunan ditingkatkan perawatannya sehingga hasil kebun seperti kopi, cengkih,  dan  rempah-rempah  berlimpah.  Jalan-jalan  ke  desa- desa diperbaiki dan pembangunan rumah peribadatan dilakukan dengan bergotong-royong. Jalan-jalan perlu diperbaiki untuk mempermudah rakyat desa jika akan pergi ke ibu kota kerajaan.

 

Ketenteraman dapat dirasakan oleh rakyat kecil dan tidak ada ketimpangan dalam hal kekayaan. Semua mendapatkan hasil yang mencukupi untuk keperluan hidup. Pencuri hampir tidak ada, apalagi perampokan. Keamanan dijaga oleh prajurit istana hingga ke pelosok-pelosok desa. Rakyat merasa aman tanpa rasa takut.

 

Sebelum terjadi peperangan saudara itu, anak Arjuna yang bernama Abimanyu dicalonkan sebagai ahli waris takhta Kerajaan Astina. Namun, Abimanyu gugur bersama pahlawan Pandawa lainnya. Kematian Abimanyu begitu menyedihkan. Arjuna, sang Ayah, ketika itu tidak ada di dekat Abimanyu untuk menolongnya. Pada saat-saat terakhir, tanpa busur dan tanpa kereta kuda, Abimanyu melawan para pengeroyok dari Kurawa itu sendirian. Dengan bersenjatakan pedang dan perisai dia melompat ke sana kemari untuk menangkis serangan. Abimanyu kelihatan seperti burung garuda yang melayang menyambar lawan di kanan dan kirinya.  Oleh  karena  tidak  ada  yang  membantunya,  kekuatan

 

Abimanyu terkuras habis. Para prajurit Kurawa dan panglimanya tidak malu-malu mengeroyok Abimanyu hingga akhirnya jatuh terbaring mati di tengah medan Kurusetra yang saat itu seperti samudra yang kekeringan.

 

Ketika ajal Abimanyu tiba, serigala-serigala melolong dan matahari pucat terbenam dengan cepat di langit barat. Angin terhenti bertiup dan suasana tiba-tiba menjadi sunyi saat serigala berhenti melolong. Prajurit-prajurit Pandawa berdukacita karena salah satu generasi muda yang dianggap pandai dan tangkas telah gugur, berperang dan berjuang sendiri tanpa bantuan siapa pun. Mereka kembali ke perkemahan dengan tertunduk lesu. Mereka duduk membisu dan tidak berani mengangkat muka melihat kedatangan Arjuna dan Kresna.

 

Ketika itu Arjuna bertanya “Wajah kalian aneh? Mengapa

Abimanyu tidak terlihat? Biasanya ia datang menyambutku!”

 

Tidak seorang pun menjawab pertanyaan Arjuna, sedangkan Kresna yang mendampingi Arjuna terlihat sudah mengetahui bahwa ada sesuatu yang menimpa keluarga Pandawa. Akhirnya, Kresna memberitahu Arjuna bahwa Abimanyu telah gugur di medan perang Kurusetra.

 

“Setiap orang akan mati, Adikku. Dia adalah pahlawan yang tidak mau mundur dalam pertempuran dan dikeroyok oleh musuh yang tidah tahu etika perang.” Dengan sedih Arjuna berkata kepada saudara-saudaranya.

 

“Aku akan membalas kematian anakku. Kalian semua prajurit yang gagah berani, mengapa tidak dapat melindungi anakku di medan laga? Apakah kalian sudah menjadi pengecut?”

 

Arjuna terengah-engah mengucapkan kata-kata penuh kesedihan itu dan akhirnya terkulai jatuh di samping Kresna. Tangannya masih memegang busur dan pedang.

 

“Esok aku akan menghabisi Jayadrata. Dia yang telah menghilangkan nyawa anakku. Aku bersumpah, sebelum matahari tenggelam aku telah menyelesaikannya,” Arjuna berkata dengan garang.

 

Arjuna mengambil busur panahnya dan merentangkan kuat-kuat dengan kedua tangannya. Dentang busur itu bergemuruh di seluruh langit. Kresna mengikuti tindakan Arjuna dengan meniup terompet panjangnya yang bernama pancajaya. Arjuna merentangkan dewadata. Suaranya luar biasa keras memenuhi keempat penjuru alam semesta dan menggetarkan hati musuh yang mendengarnya. Juga Jayadrata yang telah menghabisi Abimanyu. Dia sangat takut mendengar nada kemarahan Arjuna dari tiupan terompet itu.

 

Pada keesokan harinya, Arjuna melaksanakan niat hatinya untuk membalas kematian Abimanyu. Dia berperang dengan dahsyat. Korban banyak berjatuhan di pihak Kurawa. Ketika senja mulai turun, Kresna mengingatkan Arjuna tentang sumpahnya untuk menghabisi Jayadrata sebelum matahari terbenam.

 

“Jayadrata dilindungi oleh enam orang raja yang gagah berani. Tanpa mengalahkan raja-raja tersebut, kamu tak akan dapat menangkapnya. Aku akan menggunakan mantra agar matahari kelihatan sudah terbenam. Dengan demikian, Jayadrata akan mengira sudah aman dari incaranmu dan dia akan lengah,” kata Kresna kepada Arjuna.

 

“Baiklah,” jawab Arjuna.

 

Mantra Kresna menebarkan kegelapan di sekitar matahari. Seakan-akan matahari terbenam. Prajurit-prajurit Kurawa menjulurkan kepala mereka untuk memandang matahari saat masuk ke ufuk barat. Jayadrata juga bersikap demikian. Kresna segera mengingatkan Arjuna.

 

“Adik Arjuna! Itu Jayadrata memandang matahari. Sekarang saatnya! Panah lehernya dan jaga agar kepalanya tidak menyentuh tanah. Jika kepalanya menyentuh tanah, kepalamu sendiri juga akan berantakan menjadi ratusan pecahan. Hal itu sudah ditentukan oleh kutukan,” kata Kresna.

 

Dengan membaca mantra di dalam hati, Arjuna mengangkat busur panahnya dengan pelan-pelan. Sebatang panah yang diberi doa dengan pembakaran kemenyan dan bunga-bunga dilepaskan dengan kuat oleh Arjuna. Panah itu meluncur dengan cepatnya dan mengenai kepala Jayadrata semudah pisau mengiris buah semangka. Arjuna terus menerus melepaskan anak panah ke arah kepala itu sehingga membuat kepala Jayadrata terbang melintasi udara sampai jatuh ke pangkuan Raja Wridaksatra, Ayah Jayadrata.

 

Raja Wridaksatra saat itu sedang bersemedi di sebuah hutan dekat dengan Padang Kurusetra. Pada waktu lampau, Wridaksatra mengucapkan suatu kutukan karena merasa sedih mendengar sabda halus yang meramalkan kematian anaknya kelak. Waktu Jayadrata lahir, Wridaksatra mendengar sabda gaib dalam  tidurnya  bahwa  bayi  ini  akan  mencapai  kemahsyuran dan kebesaran, serta akan tewas dalam pertempuran, dihabisi oleh musuhnya sehingga dia meninggal sebagai pahlawan dan

 

amalnya diterima baik di alam baka. Jayadrata akan tewas dengan kepala tersungkur di tanah. Sabda tersebut membuat kesedihan yang mendalam bagi Wridaksastra. Dia kemudian mengutuk barangsiapa yang menyebabkan kepala Jayadrata jatuh ke tanah, dia akan menemui ajalnya dengan kepala tersungkur ke tanah.

 

Saat kepala Jayadrata jatuh ke pangkuannya, Raja Wridaksatra sedang bersemedi sehingga dia tidak sadar ada kepala anaknya di pangkuan. Sewaktu berdiri dari bersemedi, kepala Jayadrata jatuh dari pangkuannya dan berada di atas tanah. Seketika kutukan yang pernah diucapkan oleh Wridaksatra terjadi mengenai dirinya sendiri. Kepala Wridaksatra tersungkur di atas tanah dan ajalnya tiba.

 

Akhirnya, Arjuna dapat melaksanakan keinginannya untuk membalas kematian Abimanyu dengan membunuh Jayadrata. Abimanyu gugur sebagai pahlawan di medan perang meninggalkan seorang istri bernama Utari. Ketika itu, Utari sedang mengandung anak Abimanyu.

 

Pandawa begitu sedih karena kehamilan itu telah dikutuk oleh Aswatama anak pendeta Dorna dari Kurawa. Aswatama mengutuk seluruh bayi anak Pandawa yang masih ada di dalam kandungan, kelak jika lahir akan mati.

 

Sebelum mengucapkan kutukan itu, Aswatama menghabisi keluarga Pandawa. Putra, sahabat, dan penasihat Pandawa dibunuh dengan cara yang mengerikan. Setelah menghabisi seluruh anak- cucu dan keluarga Pandawa pada malam hari, Aswatama melarikan diri dan bersembunyi dengan menyamar menjadi murid Abyasa di

 

tepi Sungai Gangga. Aswatama mengenakan pakaian yang terbuat dari rumput, berselimut debu, dan badannya dibalur minyak kerbau.

 

Ketika Bima melihat Aswatama berada di antara murid- murid Abyasa, diangkatlah busurnya. Ia akan tancapkan busur itu pada diri Aswatama. Aswatama mengucapkan mantra yang diberikan oleh Ayahnya, Resi Dorna. Di tangan kirinya ia pegang rumput yang dimantrai sehingga berubah menjadi senjata dewa yang mengerikan. Aswatama berdoa.

 

“Semoga senjata ini menghancurkan Pandawa!”

 

Dan seketika itu keluarlah api yang menyambar-nyambar dari daun rumput itu. Bima yang sudah menduga gerak-gerik Aswatama segera berkata kepada Arjuna.

 

“Arjuna! Cepat lepaskan senjata pemusnahmu! Hancurkan kekuatan Aswatama yang diberikan oleh Resi Dorna!”

 

“Semoga Brahmastra ini dapat menghancurkan kekuatan Aswatama!” bisik Arjuna sambil merentangkan busur dengan sebuah anak panah.

 

Panah Arjuna meledak dan berubah menjadi gumpalan api yang besar dan membuat panas suasana di sekelilingnya. Rumput-rumput    terbakar,    pohon-pohon    melayu    daunnya. Kuda-kuda meringkik kesakitan karena kulitnya terbakar dan akhirnya terguling mati terpanggang oleh panas senjata Arjuna. Senjata Arjuna dan senjata Aswatama berhadapan dan akan menghancurkan seluruh isi bumi. Saat dua senjata itu akan dilepaskan, muncullah begawan Abyasa memisahkan mereka.

 

“Apa yang kalian lakukan?” Abyasa berkata, “pahlawan lain yang kini sudah terbaring terbujur kaku juga mempunyai senjata dahsyat seperti kalian, tetapi mereka tidak menggunakannya karena   mereka   tahu   akibat   penggunaan   senjata   itu.   Pasti akan merusak isi bumi ini,” hardik Abyasa kepada Arjuna dan Aswatama. Arjuna menyimpan kembali senjata panah Brahmastra yang terkenal itu dan mengatakan bahwa Aswatama juga harus menyerahkan permata yang menjadikan dirinya kebal.

 

Aswatama berkata. “Kuberikan permata ini, tetapi rumput pemusnahku sebagai penghancur keturunan keluarga Pandawa tidak dapat ditarik kembali”

 

“Biarlah rumput itu memasuki rahim putri-putri Pandawa, tetapi serahkan permata itu kepada Arjuna,” kata Begawan Abyasa.

 

“Permata ini mempunyai makna yang lebih besar bagiku daripada   harta   dunia.   Permata   ini   melindungi   pemakainya dari semua senjata, penyakit, dan kelaparan. Aku tidak dapat melepaskannya. Oleh karena Begawan Abyasa yang meminta, ambillah! Namun, senjata rumputku tidak dapat ditarik kembali setelah dilepaskan. Senjata ini akan memasuki rahim putri-putri Pandawa”.

 

Setelah Aswatama menyerahkan permatanya, hilanglah kekuatannya dari berbagai senjata dan penyakit. Aswatama akhirnya pergi mengembara keluar masuk hutan tanpa seorang teman dan tanpa ada orang yang dapat diajak bicara. Tubuhnya mengeluarkan bau busuk yang keluar dari nanah dan darah. Semua penyakit yang menyerang manusia ada di tubuh Aswatama. Namun, Aswatama merasa puas telah menghancurkan keturunan Pandawa.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

31

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *