Dua anak tangga dilompati Andini dengan napas yang tersenggal-senggal. Dalam hati dia menyalahkan dirinya sendiri. Bukanlah ibunya telah membangunkannya berkali-kali agar segera bergegas menyiapkan diri. Andini waktu itu hanya membuka matanya sebelah, mengintip jarum jam yang berada di kamarnya.

 

“Ah. Masih pukul 04.00. Masih lama,” gerutunya sambil kembali memeluk guling dan menghadap ke tembok.

 

Itulah kesalahannya. Andini terpaksa harus tergesa-gesa ketika ibunya sudah siap berangkat dan meneriaki dirinya yang masih asyik memeluk guling. Perjalanan dari rumah ke Stasiun Gambir memerlukan waktu yang lama, yaitu sekitar satu setengah jam. Itu pun jika tidak pada saat orang-orang akan berangkat bekerja. Akan tetapi, syukurlah walau dengan degup jantung memburu, Andini dan ibunya sampai juga di Stasiun Gambir tepat sepuluh menit sebelum keberangkatan kereta Taksaka menuju Yogyakarta. Ia dan ibunya akan turun di Purwokerto, stasiun sebelum Yogyakarta, tepatnya di daerah kaki Gunung Slamet.

 

Gunung Slamet terletak di barat laut Kota Purbalingga, dengan jarak sekitar 30 km. Gunung ini terletak di posisi 7°14,30‘ LS dan 109°12,30‘ BT. Keseluruhan kawasan gunung ini masuk ke dalam perbatasan lima kabupaten, yaitu Kabupaten Banyumas, Kabupaten Pemalang, Kabupaten Banjarnegara, Kabupaten Brebes, dan Kabupaten Purbalingga di Provinsi Jawa Tengah, Indonesia.  Di kaki Gunung Slamet terdapat kawasan wisata yang cukup terkenal di Jawa Tengah, yaitu objek wisata Batu Raden dan

 

Pemandian Air Panas Guci. Objek wisata ini sangat luas karena di dalamnya juga terdapat beberapa wisata lain yang juga menarik untuk dikunjungi, di antaranya Taman Botani, Curug Gede, Pancuran Pitu, Pancuran Telu, Wana Wisata, Telaga Sunyi, dan Taman Kaloka Widya Mandala.

 

Gunung di tempat eyangnya itu mempunyai banyak cerita. Andini selalu merindukan dongeng yang diceritakan eyangnya tentang gunung Slamet. Misteri Gunung Slamet yang paling terkenal adalah adanya dua pohon besar yang berjejer di jalur pendakian Bambangan sehingga seperti membentuk sebuah pintu masuk yang dikaitkan dengan pintu masuk menuju kerajaan gaib Gunung Slamet. Di jalur pendakian Bambangan juga akan ditemui sebuah pos yang dinamakan Pos Samarantu yang disebut-sebut sebagai tempat paling angker di jalur Bambangan.  Sedangkan apabila mendaki melewati jalur Guci, eyang pernah bercerita bahwa sering muncul makhluk kerdil di sekitar plawangan Gunung Slamet. Makhluk kerdil ini disebut-sebut bahwa dulunya adalah seorang pendaki yang tersesat dan terjebak di hutan hingga tak bisa kembali. Saat ada pendaki yang bermalam di plawangan Gunung Slamet dan meninggalkan makanan di luar tenda, makhluk kerdil ini akan mengambil makanan tersebut tanpa disadari oleh empunya makanan. Aneh-aneh cerita yang berkembang di masyarakat daerah itu. Andini pernah mendengar cerita itu dari eyang. Kerinduan untuk segera bertemu dengan eyang sangat mengusiknya.

 

Ke rumah eyang, yang paling praktis adalah naik kereta api. Ada juga kendaraan bus, tetapi melewati jalan berkelok-kelok dan kadang macet karena akan melewati sejumlah lintasan kereta api.

 

Stasiun Purwokerto sebuah stasiun kereta api yang terletak di pinggir pusat Kota Purwokerto, Kabupaten Banyumas, tepatnya di Kelurahan Kober, Kecamatan Purwokerto Barat, yang berada dalam pengelolaan Daerah Operasi V Purwokerto. Sebagai stasiun terbesar, hampir seluruh kereta api yang melewati jalur selatan arah Jakarta berhenti di stasiun ini. Stasiun ini dilengkapi dengan   depot   lokomotif   yang   sangat   bersih   yang   menjadi depot kereta api terbaik di Jawa Tengah. Stasiun Purwokerto dibangun pada tahun 1917–1918 oleh perusahaan kereta api Staatsspoorwegen (SS). Stasiun yang lebih tua di Purwokerto berada di tengah kota Purwokerto, yang dibangun oleh Serajoedal Stoomtram Maatschappij pada tahun 1893–1896. Stasiun ini dibangun pada jalur Cirebon-Kroya dan pada tahun 1923. Stasiun Purwokerto terhubung dengan Stasiun Purwokerto Timur, sehingga memungkinkan  perjalanan  dari Jakarta  menyambung ke Wonosobo atau Purbalingga. Namun, sayang pada tahun 1980 jalur Serajoedal Stoomtram Maatschappij sudah dinon-aktifkan.

 

Purwokerto kota yang sangat indah. Purwokerto adalah ibu kota Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Indonesia. Berbagai julukan disandang kota di jalur selatan Jawa Tengah ini dari kota wisata, kota kripik, kota transit, kota pendidikan sampai dengan kota pensiunan karena begitu banyaknya pejabat-pejabat negara yang pensiun dan akhirnya menetap di kota ini. Di kota ini pula terdapat museum Bank Rakyat Indonesia karena bank pertama kali berdiri ada di sini dan pendiri bank ini adalah Raden Bei Aria Wirjaatmadja putra daerah Purwokerto. Eyang Andini dulu menjadi salah satu pejabat di bank itu.

 

Andini adalah  cucu  semata  wayang  eyang  dari  ibunya. Ia seperti ibunya, anak tunggal, tidak beradik dan berkakak, sedangkan dari Ayah, Andini mempunyai banyak saudara sepupu. Ayahnya adalah anak keenam dari sembilan saudara yang semuanya laki-laki dan rata-rata mereka mempunyai anak lebih dari tiga. Ayahnya berasal dari Semarang. Kedua orang tua ayah Andini sudah lama meninggal. Kini ia hanya bereyang pada orang tua ibunya.

 

Eyang kakung, begitulah sapaan Andini kepada kakeknya, sangat memanjakannya. Eyang Andini sudah pensiun. Beliau memilih tinggal di luar kota Purwokerto, yaitu Purbalingga. Kota itu tidak begitu jauh dari Purwokerto. Kakek Andini mempunyai kebun cengkih dan ladang nanas yang amat luas. Belum lagi beberapa  hektar  sawah  yang  selalu  menghasilkan  berton-ton padi jika panen, serta kebun kelapa yang terletak di kaki Gunung Slamet. Andini sangat senang jika eyang kakungnya mengajak ke kebun cengkih. Apalagi, jika pohon cengkih dipenuhi oleh bunga. Dia akan berlari ke sana kemari memungut bunga cengkih yang berjatuhan dan aroma bunga cengkih seakan membuat Andini terbuai di daratan yang tenang dan damai yang dapat melupakan kesumpekan kehidupan yang selalu ia lihat di Jakarta. Pohon cengkih   merupakan   tanaman   tahunan   yang   dapat   tumbuh dengan tinggi 10–20 m, mempunyai daun berbentuk lonjong yang berbunga pada pucuk-pucuknya. Tangkai buah pada awalnya berwarna hijau, dan berwarna merah jika bunga sudah mekar. Cengkih akan dipanen jika sudah mencapai panjang 1,5–2 cm. Cengkih dapat digunakan sebagai bumbu, baik dalam bentuknya yang utuh maupun dalam bentuk bubuk. Bumbu ini digunakan di  Eropa  dan  Asia. Terutama  di  Indonesia, cengkih digunakan

 

sebagai bahan rokok kretek. Cengkih juga digunakan sebagai bahan dupa di Tiongkok dan Jepang. Minyak cengkih digunakan sebagai aromaterapi dan juga untuk mengobati sakit gigi. Daun cengkih kering yang ditumbuk halus dapat digunakan sebagai pestisida nabati dan efektif untuk mengendalikan penyakit busuk batang fusarium dengan memberikan 50–100 gram daun cengkih kering per tanaman.

 

Eyang kakung Andini pernah bercerita tentang sejarah cengkih. Pada abad keempat, pemimpin Dinasti Han dari Tiongkok memerintahkan setiap orang yang mendekatinya sebelumnya menguyah cengkih agar harumlah napasnya. Eyang juga pernah bercerita tentang cengkih. Andini ingat cerita itu. Pada zaman dahulu  kala,  ada  sebuah  kerajaan  yang  cukup  makmur  dan besar. Rakyat mereka hidup dengan kaya dari hasil panen padi dan tanaman lain yang melimpah. Sayang, penduduk tidak tahu berterima kasih pada alam yang telah memberi mereka makanan dan kecukupan kebutuhan hidup yang berlimpah. Mereka tidak menjaga kebersihan dan senang merusak alam. Mereka menebangi pohon semaunya dan tidak menanam kembali. Pada suatu hari, Tuhan mengirim wabah kepada mereka dengan membuat napas mereka menjadi sangat bau. Hal tersebut tentu membuat mereka sangat malu untuk berbicara satu sama lain. Wabah itu juga mengenai keluarga kerajaan. Sang raja dan para puteri kerajaan terkena wabah. Mereka kebingungan bagaimana menanggulangi penyakit tersebut. Kerajaan menjadi sunyi senyap seperti kota mati. Tidak ada percakapan, tidak ada canda, atau teriakan yang menandakan adanya kehidupan. Kerajaan itu seperti wilayah yang tak berpenghuni karena tidak ada suara. Para penduduk hanya menggunakan bahasa isyarat untuk saling bertegur sapa dan hanya

 

berbicara jika memang bener-benar terdesak. Ketika seseorang mencoba mengeluarkan suara, orang lain akan menjauh karena mencium bau dari mulut yang membuat orang mau muntah.

 

Sang raja merasa tidak berdaya. Ia mencoba untuk mencari pengobatan agar bau mulut itu hilang. Raja mengumpulkan para pejabat, cendekiawan, dan para ilmuwan kerajaan untuk mencari obat yang dapat menyembuhkan penyakit itu. Mereka tak dapat apa pun karena semua orang yang ada di ruangan tidak berani mengucapkan sepatah kata pun karena malu dari bau mulut yang mereka miliki. Ketika sang raja hampir putus asa, tiba-tiba sang raja disadarkan bahwa itu merupakan balasan Tuhan karena kelalaian mereka dalam menjaga alam dan kebersihan. Pada suatu hari raja berdoa agar Tuhan mau memaafkan semua kesalahannya dan semua rakyatnya. Raja berjanji untuk memperbaiki kesalahan- kesalahanya di masa silam. Dia meminta agar Tuhan mengirimkan obat untuk dapat menyembuhkan mereka. Tuhan yang Maha Pengasih dan Pemurah mengabulkan doa sang raja. Pada suatu pagi yang cerah, sang putri ingin jalan-jalan ke luar istana untuk dapat menikmati udara segar. Sampailah sang putri yang ditemani oleh para pelayannya di sebuah taman. Tiba-tiba ada seekor burung yang hinggap di ranting pohon. Burung itu bernyanyi dengan indahnya. Dia berkicau memamerkan suara merdunya pada dunia dan setiap orang yang mendengarnya. Sang putri hanya dapat melihat burung itu dengan pandangan takjub. Lalu, burung itu pun kembali terbang membumbung tinggi ke angkasa, tetapi  sebelum  dia  pergi,  burung  itu  menjatuhkan  setangkai bunga yang cukup mungil. Oleh karena merasa tertarik, sang putri pun mengambil bunga itu. Dia tergoda pada aroma bunga itu yang begitu segar dan ahirnya, dia memakannya. Tiba-tiba keajaiban

 

terjadi. Beberapa hari setelah sang putri memakan bunga itu, napasnya tak lagi menjadi bau. Napasnya kini berubah menjadi harum dan sangat segar. Menyadari akan hal itu, sang putri pun bercerita kepada ayahnya. Sang raja lalu memerintahkan para pengawal untuk mencari bunga yang sama seperti yang dimakan oleh sang putri. Para pengawal pun mencari bunga itu sebanyak- banyaknya dan membagi ke seluruh negeri. Wabah penyakit bau napas tersebut menjadi hilang. Akhirnya, sang raja memerintahkan seluruh rakyatnya untuk menanam bunga itu. Bunga itu dijual ke berbagai negeri tetangga. Bunga itu adalah bunga cengkeh.

 

Eyang kakung Andini sebetulnya bukan orang asli Banyumas  atau  Purwokerto,  tetapi  berasal  dari  sebuah  desa kecil di wilayah Solo. Beliau senang tinggal di daerah Banyumas karena    alamnya    indah,    tanahnya    subur,    dan    suasananya tenang untuk hidup sebagai seorang pensiunan. Eyang kakung Andini mempunyai hobi mendongeng. Andini dari kecil sudah mendengar bermacam-macam dongeng dari eyangnya. Ini yang membuat Andini selalu menunggu dengan tidak sabar hari-hari liburan sekolah untuk mendengar dongeng eyangnya yang selalu menambah pengalaman hidupnya.

 

“Bu, papa nanti menyusul kita ke rumah eyang, nggak, ya?” tanya Andini kepada ibunya ketika kereta mulai bergerak meninggalkan Stasiun Gambir.

 

“Rasanya tidak, An. Papa sibuk sekali,” jawab ibunya. Mungkin ibunya juga tidak dapat berlama-lama di rumah eyang. Jika menjemput Andini nanti, ibunya berjanji akan membujuk papa Andini untuk ikut.

 

“Bu, eyang pasti sudah tidak sabar menunggu kita, ya?”

 

“Iya, kamu tidak lupa membawa bingkisan roti mantou untuk eyang?”

 

“Enggak, Bu!” jawab Andini sambil menengok ke luar jendela. Stasiun Manggarai baru saja dilewati dan sebentar lagi akan sampai di Stasiun Jatinegara. Taksaka juga tidak berhenti di sana.

 

Perjalanan liburan memang selalu menyenangkan bagi Andini. Dia melihat situasi yang berbeda pada kota-kota atau daerah yang dilewatinya. Dia dapat memandang dari kaca jendela kereta api. Dusun-dusun dengan segala aktivitas penghuninya memulai  kehidupan  pada  pagi  hari.  Hal  yang  paling  disukai Andini adalah awan-awan yang seakan menggantung di langit mengikutinya bergerak sepanjang jalan. Tiang-tiang yang berbaris di pinggir rel kereta api bergerak lari meninggalkannya. Demikian pula, pepohonan yang berjajar rapi di sepanjang rel kereta. Ada gerak yang bergegas seakan waktu tak memberi kesempatan untuk sekadar memperlihatkan pucuk daun yang baru tumbuh kepada Andini. Itu suasana yang selalu dinikmatinya ketika naik kereta api.

 

Pengalaman tersebut selalu diceritakan kepada eyangnya ketika Andini tiba di rumah eyangnya. Sang eyang dengan sabar mendengarkan  celoteh  si  cucu.  Dengan  bersemangat  Andini akan menceritakan kepada eyangnya bagaimana pohon dadap yang tegak di areal persawahan di sekitar bukit yang tampak, seakan telanjang tak berdaun, hanya tinggal tulang-tulang batang pohonnya. Dari pucuk-pucuk ranting menyembul kelopak merah membara menjadikan pohon dadap itu seakan bercahaya dari kejauhan.

 

Eyang Andini akan membawa Andini berjalan-jalan sambil bercerita atau menunjukkan nama-nama pohon atau apa pun yang belum diketahui Andini.  Tahun   lalu,   Andini   dan   eyang kakung berjalan-jalan di perdesaan di sekitar Gunung Slamet. Beberapa dusun di daerah pegunungan memang mengesankan. Di sana terdapat rumah-rumah kecil berdinding bambu setengah berdinding papan dan atapnya terbuat dari seng. Jika hujan, curahnya nyaring terdengar menimpa atap tersebut. Di sekitar halaman terdapat beberapa ekor ayam sedang mengais-ngais tanah mencari cacing atau serangga yang dapat dimakannya. Di pinggiran jalan setapak beberapa ekor kambing ditambat dengan tiang pancang yang ditancapkan di tanah. Kambing itu memakan rumput yang tumbuh di sepanjang pinggiran jalan setapak tersebut. Tali pengikat kambing sengaja dibuat tidak terlalu panjang. Hal itu dilakukan agar kambing tidak terlibat-libat oleh tali tambatannya.

 

Andini dengan eyang kakungnya melihat pedagang mengangkuti bergunung-gunung buah nanas ke dalam truk untuk dibawa ke pasar-pasar kota. Sementara itu, buruh pemetik buah nanas masih mondar-mandir antara tepi jalan dan ladang nanas dengan membawa bakul berisi buah-buah nanas.

 

Perjalanannya dengan sang eyang membawanya ke arah timur laut. Dari daerah itu tampak jurang-jurang memaparkan suatu pemandangan yang indah sekali. Ladang-ladang luas terhampar dibatasi oleh lereng gunung. Sebuah sungai besar turun dari bukit dan mengalir menuju sela-sela jurang dan muncul kembali di lembah yang jauh di bawah bukit.

 

Sebuah dusun terlihat di lembah di tengah-tengah antara punggung bukit. Beberapa bangunan rumah terpampang, atapnya berkilauan karena terbuat dari seng.  Akan tetapi, tidak semua rumah beratapkan seng. Beberapa rumah menggunakan atap rumbia, atap yang terbuat dari anyaman daun rumbia yang dijepit dengan bambu.   Gumpalan-gumpalan asap keluar dari rumah- rumah itu meninggalkan bekasnya di langit. Balai desa dapat ditandai dari adanya pohon banyan yang besar. Di seberangnya terbentang sawah-sawah dengan pematangnya yang kelihatan jelas dan tajam. Di belakang balai desa itu terdapat rumah-rumah penduduk  yang  halamannya  saling  berdekatan,  rapi  berderet, dan  pohon-pohon  kelapa  menjulang  dari  balik  rumah-rumah yang diselimuti kabut tipis. Sayap-sayap burung kuntul berkilau ketika mereka terbang di atas sawah, samar-samar kelihatan dari jauh di tengah-tengah awan, kemudian mereka lenyap, terlebur dalam kabut dan tidak terlihat lagi. Kenangan seperti itu yang membuat Andini selalu ingin kembali ke tempat eyangnya. Awan- awan menggantung tepat di tentang matanya berbatasan dengan cakrawala, seperti pemandangan yang dijumpainya di kereta api, selalu awan putih menggumpal dan indah yang dilihatnya.

 

Pukul 12.15 sampailah Taksaka di Stasiun Purwokerto. Andini membantu ibunya menurunkan tas dari bagasi. Kemudian, ia berjalan di belakang ibunya sambil menenteng tas berisi kue mantou.  Dengan  menghirup  dalam-dalam  udara  yang  segar, dia turun dari pintu kereta. Dari jauh dilihatnya eyang kakung melambai-lambaikan koran. Ingin berlari Andini ke arah eyang, tetapi ditahannya. Kasihan ibu yang kelihatan capai sambil menenteng tas harus ikut berlarian di belakangnya nanti.

 

Ciuman eyang kakung menghujani pipi dan ubun-ubunnya. Ibu menyalami eyang dan mencium tangannya dengan hormat. Wajah-wajah penuh rindu saling bertatapan. Segera Andini bergegas menuju tempat parkir.

 

“Kereta apa yang kamu naiki tadi, Andini?” tanya eyang kakungnya sambil memukul lembut kepalanya dengan gulungan koran.

 

“Kereta Taksaka, Eyang! Enak, deh! Tidak terasa guncangannya, tahu-tahu sudah sampai Purwokerto,” jawab Andini sambil menggamit tangan eyangnya.

 

“Kamu tahu apa arti Taksaka itu?” tanya eyangnya. “Apa, ya? Andini nggak tahu, Eyang.”

“Itu nama seekor naga yang besar sekali.”

 

“Naga? Eyang, Eyang ceritakan dong …!” kata Andini. “Andini! Nanti saja, ya!” cegah ibu Andini.

“Memang kenapa, Bu?” tanya Andini.

 

“Ya,  nanti.  Kita  juga  belum  ketemu  Eyang  Putri, ‘kan?”

jawab ibunya.

 

“Eyang  Kakung  janji,  ya!  Nanti  akan  cerita  mengenai

Taksaka, ‘kan?” tanya Andini kepada eyangnya.

 

“Iya, iya! Kamu selalu tidak sabar jika mendengar sebuah cerita,” jawab eyang Andini.

 

Andini berlari memutari mobil eyangnya dan membuka pintu depan untuk duduk. Perjalanan dari stasiun menuju ke rumah eyang sekitar tiga puluh menit. Andini merasa senang menghirup udara desa tempat eyangnya bermukim.

 

Akhirnya, mereka sampai juga di rumah yang terletak di pinggir jalan sebuah kota kecil. Rumah kecil dan asri. Halaman belakangnya luas ditanami berbagai pohon buah. Jambu biji, mangga, rambutan, dan beberapa pohon bunga seperti pohon cempaka, kenanga, kaca piring, kamboja jepang, kemuning jepang, melati, dan menur. Semuanya ada di sana.

 

Ketika sampai di rumah eyangnya, ia segera berlari mencari eyang putrinya. Dengan berteriak-teriak kegirangan Andini menyerahkan roti mantou kesukaan eyang putrinya.

 

Rupanya eyang putri Andini sudah menyiapkan makanan kesukaan Andini, kue klepon yang terbuat dari tepung ketan ditaburi dengan kelapa parut. Betapa senangnya Andini. Mulutnya penuh dengan kue klepon. Eyangnya juga menyiapkan makan siang berupa sroto, makanan khas Banyumas, dengan lauk rempela ati bacem, serta mendoan.

 

Andini beristirahat sambil berceloteh kepada eyang putrinya hingga tanpa sadar akhirnya ia tertidur kecapaian. Eyang putrinya membiarkan Andini tidur di sofa tengah rumah. Dengan berjingkat dia masuk ke ruang belakang dan berbincang-bincang dengan ibu Andini.

 

Sore hari, Andini bangun dengan perasaan segar. Setelah mandi, dia duduk di luar rumah mendekati eyang kakungnya yang sedang meneliti daun bunga kaca piring. Eyang tidak suka jika ada

 

ulat bertelur di daun bunga itu. Pasti daunnya akan gundul dan hanya akan terlihat tangkai bunga yang berwarna coklat. Gersang kesannya.

 

“Tidak elok,” kata eyang.

 

“Eyang, katanya mau cerita ular naga Taksaka. Bagaimana, Eyang?” kata Andini sambil berdiri di dekat eyangnya.

 

“Ya, sebentar,” kata eyangnya dengan suara lembut.

 

“Sini Andini, ikut Eyang,” eyang kakung mengajak Andini ke kursi kesayangannya di teras.

 

“Begini ceritanya,” katanya sambil meluruskan kakinya ke bawah meja.

 

“Taksaka itu seekor naga raksasa yang telah membunuh seorang raja bernama Parikesit.”

 

“Mengapa raja itu dibunuh, Eyang?” tanya Andini menyelidik.

 

“Ya, karena raja itu terkena sebuah kutukan,” jawab eyang

Andini sambil mengelus kepala Andini.

 

“Kutukan itu apa, Eyang?” tanya Andini kembali.

 

“Kutukan itu adalah sumpah yang diucapkan oleh seseorang karena dia dendam atau sakit hati kepada orang lain,” jawab eyang Andini.

 

“Mengapa Raja Parikesit sampai dikutuk orang, ya, Eyang?” Andini mengerutkan keningnya.

 

“Karena dia menyakiti orang lain, orang yang disakiti itu dendam dan kemudian mengutuknya.”

 

“Jadi, kalau disakiti orang, kita harus mengutuk orang itu, ya, Eyang?” tanya Andini lagi.

 

“Ya, tidak, Andini, tidak! Jika disakiti oleh orang lain, sebisa-bisa kita memaafkan orang yang menyakiti kita itu. Kita tidak boleh dendam dan jaga diri kita agar jangan sampai kita mengutuknya!” kata eyang Andini.

 

“Mengapa begitu, Eyang?” tanya Andini.

 

“Ya, agar kita tidak akan seperti Raja Parikesit yang akhirnya harus meninggal karena sebuah kutukan.”

 

“Siapa sih, Eyang, Raja Parikesit?” tanya Andini ingin tahu. “Dia keturunan dari Raja Astina. Beginilah ceritanya.

Dahulu ada sebuah keluarga yang memimpin Kerajaan Astina. Nama keluarga itu adalah Kuru. Mereka mempunyai keturunan bernama Destarata dan Pandu,” jelas eyang Andini.

 

Lalu,  si  Eyang  bercerita mengenai  kehidupan Pandawa dan Kurawa. Mereka adalah saudara sepupu yang tidak rukun. Ayah  mereka  adalah  dua  orang  bersaudara  Putra  Maharaja Astina. Putra sulung bernama Destarata dan adiknya bernama Pandu Dewanata. Sejak lahir, Destarata buta. Oleh karena itu, ia tidak dapat dinobatkan menjadi raja sebagai pengganti ayahnya. Akhirnya, Pandu Dewanatalah yang dinobatkan menjadi raja menggantikan ayahnya.

 

Destarata menikah dengan Dewi Gendari. Mereka mempunyai seratus orang putra, yang kemudian terkenal sebagai keluarga Kurawa. Putra yang sulung bernama Duryudana. Adik- adiknya semua laki-laki, hanya satu yang perempuan, namanya Dushala. Destarata juga mempunyai anak laki-laki dari dayangnya yang diberi nama Yuyutsu.

 

Adapun Pandu, ia menikah dengan Kunti dan berputra tiga orang, yaitu Yudistira, Bima, dan Arjuna. Pandu juga mempunyai istri yang lain, Dewi Madrim namanya. Dari Dewi Madrim, Pandu mendapatkan putra bernama Nakula dan Sadewa, mereka kembar. Anak-anak Pandu ini kemudian terkenal dengan sebutan keluarga Pandawa Lima.

 

Kedua keluarga itu tinggal di Kerajaan Astina. Karena mereka cucu Raja Astina, selayaknyalah mendapat pendidikan dari seorang guru besar. Guru yang mendidik mereka dalam keahlian perang dan pemerintahan adalah Dorna. Ketika kecil, mereka bersama-sama dididik olah tubuh dan juga olah pikir. Namun, Pandawa Lima mempunyai kemampuan yang lebih unggul dari Kurawa.

 

Perselisihan di antara mereka sering terjadi karena rasa iri hati. Anak-anak Kurawa merasa iri karena keterampilan Pandawa lebih hebat daripada mereka.

 

Pandawa Lima sejak kecil sudah tidak berayah. Pandu Dewanata meninggal karena terkena kutukan ketika sedang berjalan-jalan dengan Dewi Madrim di hutan. Pandu pernah berburu sepasang rusa yang sedang berkasih-kasihan. Pandu tidak tahu bahwa rusa yang sedang berkasih-kasihan itu adalah jelmaan dewa dari kahyangan. Dewa dan dewi itu sedang turun

 

dari kahyangan menjadikan dirinya sebagai rusa untuk berkasih- kasihan, tetapi Pandu memburunya. Saat itu Pandu dikutuk, dia akan meninggal saat sedang berkasih-kasihan denga istrinya. Akhirnya, Pandu meninggal oleh kutukan itu, saat berkasih- kasihan  dengan  Dewi  Madrim  di  hutan  dan  Dewi  Madrim ikut menghilangkan nyawanya. Kerajaan Astina sementara dikendalikan oleh Destarata menunggu hingga para Pandawa Lima dewasa.

 

Dewi Gendari, Ibu dari Kurawa merasa sangat takut jika Yudistira, anak pertama dari Pandawa Lima, kelak menggantikan kepemimpinan Destarata. Gendari berharap anak-anaknya dapat lebih pandai dari Pandawa Lima, tetapi tak satu pun dari seratus anaknya mampu menyaingi kelebihan Pandawa Lima.

 

Kebencian sang Ibu menular kepada anak-anaknya, Kurawa. Dengan berbagai jalan ibu dan anak berusaha untuk menyingkirkan kehidupan Pandawa Lima. Dengan cara apa pun, Pandawa Lima dibantu Ibu Kunti dapat mempertahankan dirinya.

 

Ketika   Yudistira   dewasa,   dia   diangkat   menjadi   Raja Astina. Kebijaksanaan dan kebajikan Yudistira dalam memerintah kerajaan menimbulkan iri hati dan dengki di antara anak-anak Destarata, terutama Duryudana. Ia mengusir Yudistira dan adik- adiknya dari Kerajaan Astina dengan mengadakan permainan dadu yang membuat Pandawa kalah.

 

Pandawa  dihukum  lima  tahun  atas  kekalahannya bermain dadu. Mereka harus tinggal di hutan belantara tanpa memperlihatkan diri. Ketika hukuman selesai dalam lima tahun, Pandawa meminta untuk memegang tampuk pemerintahan kerajaan kembali.   Permintaan itu ditolak. Pandawa Lima tetap

 

bersabar dan mereka tidak mau memaksakan kehendak untuk meminta kembali Kerajaan Astina. Pandawa hanya minta izin untuk mengelola kerajaan di suatu wilayah yang dinamakan Indraprasta dan diakui keberadaanya. Akan tetapi, permintaan itu juga ditolak. Kurawa mengusir keluarga Pandawa untuk segera menyingkir dari Kerajaan Astina. Pandawa merasa diperlakukan tidak adil. Akhirnya, muncullah perlawanan kepada saudaranya sendiri. Terjadilah pertempuran di sebuah padang bernama Kurusetra. Kuru adalah nama nenek moyang dari Pandawa dan Kurawa, sedangkan Setra adalah nama padang yang sangat luas.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *